Agen Bola Terminal Bandar Bola Terpercaya
LAPAKDEWA LAPAKPOKER

Tua Bangka Part 2

Part 1Part 2Part 3Part 4Part 5
Part 6Part 7Part 8Part 9Part 10
SERANGAN PARA PRIA TUA

Pak Hasan adalah mertua Lidya dan ayah kandung Andi. Usianya sudah menjelang 60 tahun, bertubuh gemuk, botak dan sudah menduda sejak 12 tahun terakhir. Setelah kehilangan rumahnya yang berada di desa karena tidak bisa membayar hutang yang menumpuk. Pak Hasan sedianya akan ditampung sementara oleh Andi dan menantunya Lidya sebelum nantinya mendapat rumah kontrakan yang baru.

Pak Hasan berdiri di depan pintu masuk rumah anaknya dengan pandangan malas. Sebenarnya dia tidak ingin merepotkan Andi. Dia bukan laki-laki yang suka tinggal dengan anak dan menantunya, malu rasanya. Tapi Lidya itu… hmm… bagaimana mengatakannya ya?

Pak Hasan mengetuk pintu depan dan menantunya yang ayu segera menyambutnya. Si seksi itu hanya mengenakan daster tipis yang menerawang, khas baju ibu-ibu rumah tangga. Tentu saja saat Lidya mengenakan baju itu, ia jadi terlihat sangat menggairahkan – begitu sangat cantik dan segar.

“Lho? Bapak? Aku pikir bapak datangnya besok lusa? Mari masuk dulu, aduh maaf baru bersih-bersih.” kata Lidya sambil memutar badan dan mempersilahkan mertuanya masuk ke dalam.

Walau tertutup daster, tapi Pak Hasan bisa melihat jelas lekuk pantat sempurna milik Lidya yang menerawang di balik daster. Lidya – seperti juga kakak-kakaknya memiliki kecantikan natural yang sempurna.

Banyak orang bilang kecantikan hati lebih unggul dari kecantikan fisik, secara teori memang begitu, namun meski menantu Pak Hasan itu memiliki sifat yang baik, manis, ceria dan suka bercanda, tetap saja sosok ayu dan seksinya yang membuat setiap lelaki ingin menidurinya.

“Mas Andi belum pulang, Pak. Sepertinya macet di kota. Tapi sebentar lagi pasti datang. Bapak naik apa ke sini?”

“Tadi aku naik bis yang sore, lalu naik ojek online sampai depan rumah.” kata Pak Hasan sambil mencari sofa untuk duduk, sementara Lidya menyiapkan teh hangat dengan teh celup dan air hangat dari dispenser. Setahu dia Pak Hasan tidak begitu suka gula.

“Ya ampun, tahu begitu tadi dijemput Mas Andi, Pak. Kan kalau pulang dia lewat terminal juga.”

“Ah, tidak apa-apa. Tidak mau merepotkan.”

“Istirahat dulu ya, Pak. Anggap saja rumah sendiri.” Jawab Lidya sambil membungkuk untuk meletakkan cangkir teh dan cemilan di meja yang ada di depan Pak Hasan. Karena daster yang dipakai Lidya sangat longgar, gerakan ini membuat Pak Hasan bisa mengintip celah buah dada putih ranum yang menggiurkan di balik BH Lidya.

Melihat keseksian menantunya, kemaluan Pak Hasan langsung mengeras. Mertua Lidya itu segera menyembunyikan tonjolan di selangkangannya karena malu. Setelah menata meja, Lidya duduk di depan Pak Hasan dan menyilangkan kakinya, seakan memamerkan kakinya yang putih, mulus dan jenjang dengan bulu-bulu halus yang menggairahkan. Pak Hasan harus konsentrasi penuh untuk mendengarkan pertanyaan Lidya, ia hanya dapat membatin dalam hati.

Bangsat menantuku ini. Moleknya gak kira-kira.

“Jadi bagaimana perjalanannya? Capek yah, Pak?”

“Lumayan melelahkan. Lima jam perjalanan.”

Mata Pak Hasan bergerak menelusuri seluruh lekuk tubuh Lidya, dari atas sampai bawah, dari ujung kepala sampai ke ujung kaki. Hampir 5 tahun sudah Pak Hasan tidak melakukan kegiatan seksual. Setelah kematian istrinya, Pak Hasan sering memanggil pelacur saat masih tinggal di desa. Tapi kemudian berhenti karena hutang-hutangnya kian bertumpuk dan dia tidak bisa membayar seorang pelacurpun.

Melihat arah mata sang pria tua, Lidya mulai sedikit rikuh dengan tatapan mata Pak Hasan yang seakan menelanjanginya.

“Aku naik dulu ke kamar ya, Pak. Mau mandi sebentar, terus nanti akan aku siapkan makan malam. Bapak pasti sudah lapar kan?” kata Lidya sambil menaiki tangga. “Anggap aja rumah sendiri ya, Pak. Kalau butuh apa-apa ambil aja.”

Mata Pak Hasan tidak lepas dari goyangan pantat menantunya yang aduhai sampai ke atas tangga. Walaupun sudah uzur, tapi Pak Hasan tetap laki-laki normal, dia butuh melepaskan hasrat birahinya. Pak Hasan menggelengkan kepala.

Gawat, mesti coli nih buat lepasin nafsu.

Saat itu juga telepon rumah berbunyi, rumah ini mungkin salah satu rumah klasik yang masih menggunakan telepon konvensional. Karena Lidya sepertinya tidak mungkin turun dari lantai atas dengan cepat, Pak Hasan pun mengangkatnya telepon itu.

“Halo?”

“Halo. Ini Bapak ya?”, tanya suara di ujung, yang rupanya suara Andi.

“Iya, ini Bapak, Ndi,” kata Pak Hasan. “Aku baru saja sampai.”

“Iya Pak. Ini tadi Lidya whatsapp katanya Bapak sudah datang. Aduh aku minta maaf hari ini tidak bisa pulang ke rumah. Mendadak harus audit cabang di luar kota dan pulangnya sekitar Minggu sore. Ini mendadak banget dan tidak bisa ditunda. Maaf ya Pak belum bisa ketemu Bapak hari ini.”

“Ah tidak apa-apa, Ndi. Bapak maklum.”

“Iya, Pak. Ya sudah, anggap saja rumah sendiri, nanti biar Lidya yang bantuin apa-apanya. Tolong pamitin ke Lidya ya,Pak. Pesawatnya sudah hampir berangkat, aku tidak bisa lama-lama. Aku telpon kalau sudah sampai di sana nanti.”

“Baik, Ndi. Nanti Bapak sampaikan.”

Setelah mengucapkan salam perpisahan, Pak Hasan menutup telepon.

Berdua saja dengan Lidya ya.

Pria tua itu mengangkat bahunya dan sejenak kemudian menaiki tangga dengan perlahan, berniat untuk membawa tas-tasnya yang berisi baju ke kamar atas. Ia terhenti saat melewati kamar utama — tempat tidur Lidya dan Andi. Terdengar deru suara air mengalir dari kamar mandi yang terletak di dalam kamar utama. Pak Hasan meletakkan tasnya di depan pintu kamar.

Terdiam cukup lama, laki-laki tua itu dengan langkah tanpa suara memutuskan untuk memasuki kamar tidur utama pasangan Andi dan Lidya.

Di atas ranjang terdapat celana jeans dan atasan kaos putih. Saat mengambil kaos itu Pak Hasan mendapati BH dan celana dalam tipis yang juga berwarna putih. Pak Hasan benar-benar tidak kuat lagi menahan birahinya.

Diambilnya celana dalam Lidya, dibukanya celananya sendiri, dan mulailah ayah mertua Lidya itu coli dengan menggesekkan celdam Lidya di kontolnya yang mulai keriput.

Detak jantung Pak Hasan makin cepat karena ia tahu menantunya sedang mandi sementara dia coli menggunakan celana dalam yang akan dipakai Lidya. Gerakan Pak Hasan makin meningkat cepat karena saat coli Pak Hasan membayangkan enaknya menikmati tubuh Lidya di ranjang dan bagaimana rasanya memeluk menantunya yang cantik itu. Pak Hasan membayangkan asyiknya melihat tubuh molek Lidya terhentak-hentak didera sodokan penisnya.

Ah, ini tidak cukup. Mesti liat orisinilnya.

Pak Hasan beringsut perlahan dan saat melihat pintu kamar mandi ternyata tidak ditutup sempurna, lelaki tua itu tersenyum girang. Ia pun mengintip sedikit ke kamar mandi. Lidya rupanya lalai dan membiarkan pintu kamar mandi terbuka, memudahkan akses bagi mertuanya mengintip. Pak Hasan mendapati Lidya sedang menyabuni buah dadanya yang besar dan kenyal.

Asem. Lihat itu, tubuh menantuku memang bener-bener indah, seksi banget. Kalau saja bisa masuk ke sana dan ngentotin dia sekarang.

Batin Pak Hasan yang terpukau tubuh aduhai Lidya. Laki-laki tua itu pun meneruskan colinya di celdam Lidya saat menantunya itu membungkuk untuk menyabuni kakinya yang jenjang dan pahanya yang mulus.

Tak lama kemudian, Lidya bersandar pada dinding sementara air shower membilas tubuhnya yang putih mulus. Tangan kiri Lidya menangkup buah dadanya yang indah. Jari jemarinya mulai mengelus dan menowel-nowel ujung puting susunya.

Pak Hasan terpana melihat menantunya itu memainkan payudaranya. Tangan kanan Lidya menuruni perutnya yang langsing dan masuk ke selangkangannya.

“Aaaaahhhhhh,” Lidya mendesah kecil.

Tangan kiri Lidya yang penuh gelembung sabun itu kini memilin dan meremas-remas pentil payudaranya hingga mengeras, lalu meremas buah dadanya bergantian. Tangan kanan Lidya masih berada di selangkangannya.

Semakin mencondongkan tubuhnya ke belakang, Lidya membentangkan kakinya sedikit. Pak Hasan bisa melihat jari jemari lentik tangan menantunya keluar masuk memeknya sendiri. Pak Hasan terpesona melihat si cantik Lidya menggunakan jempolnya untuk menggosok dan menggerakkan daging menonjol yang ada di ujung atas bibir vaginanya.

Ngapain dia? Masturbasi? Wah ini lebih mantep lagi!

Pak Hasan makin terpuaskan.

“Ah! Ah! Ah! Ehm! Ehm! Ooooohhh!!!”

Kaki Lidya melengkung saat si jelita itu melenguh perlahan. Akhirnya tangan kirinya turun lemas ke samping badannya, sementara jari-jarinya tangan kanannya berhenti bergerak, namun tetap berada di dalam liang vaginanya.

Pak Hasan merasakan air maninya membanjir. Tangannya belepotan sperma dan ia membersihkannya menggunakan celana dalam Lidya. Terdengar suara shower dimatikan dan Lidya sepertinya sudah akan keluar dari shower.

Secepat kilat Pak Hasan meletakkan celdam Lidya seperti sediakala dan meninggalkan kamar itu. Pak Hasan menutup pintu kamar, namun masih membuka sedikit celah. Saat sudah beranjak meninggalkan tempat itu, terlihat Lidya keluar dari kamar mandi hanya mengenakan handuk yang terlilit di tubuhnya yang indah.

Nggak perlu coli, lihat tubuh indahnya saja sudah bisa langsung orgasme.

Pak Hasan geleng-geleng melihat keindahan tubuh Lidya yang setengah telanjang dan hanya mengenakan handuk. Apalagi sesaat kemudian Lidya berbuat teledor. Memang dasarnya beruntung, mertua mesum itu makin terbelalak saat secara tak sengaja Lidya menjatuhkan handuknya ke lantai.

Tanpa sepengetahuan sang wanita ayu itu, Pak Hasan yang nafsu birahinya sedang memuncak ada di luar kamar sedang mengawasi tiap gerak-geriknya yang molek. Karena memunggungi pintu, Pak Hasan bisa menyaksikan pantat putih mulus Lidya yang sempurna.

Perlahan-lahan Lidya berbalik dan Pak Hasan hampir tak kuat menahan nafsu. Baru kali inilah dia menyaksikan keindahan tubuh Lidya secara langsung tanpa sehelai benangpun. Rambut di atas kemaluan Lidya terlihat terawat karena dipotong rapi dan sangat lembut, sementara payudara Lidya yang montok sangat ranum dan besar.

Si molek itu mengambil handuk lalu mengeringkan rambutnya yang dikeramas. Karena bergerak cepat, buah dada Lidya bergoyang ke kanan dan ke kiri secara erotis. Pak Hasan meletakkan satu tas yang dibawanya dan mulai mengocok kontolnya lagi.

Asem, kalau begini caranya aku harus coli lagi.

Saat Lidya usai mengeringkan rambut, istri Andi itu mengambil celana dalamnya dengan sedikit membungkuk. Tentu saja Pak Hasan makin puas karena bisa melihat lebih jelas ke arah lubang anus sang menantu yang mungil dan mekar.

Untung saja Pak Hasan kuat menahan diri, bisa saja ia masuk ke dalam dan menyetubuhi Lidya dari belakang dengan paksa. Warna merah muda anus mungil milik menantunya itu sangat mengundang selera sang pria tua.

Pak Hasan berandai-andai apakah anaknya si Andi pernah menyodomi istrinya. Lidya mulai mengenakan celana jeansnya dan kembali payudara si cantik itu bergoyang-goyang. Pemandangan erotis ini makin lama makin memuaskan Pak Hasan.

Arrrghhhh!!

Tak perlu waktu lama, sperma pria tua itu akhirnya meledak keluar. Ia pun terengah-engah dan harus menyandar ke tembok.

Pak Hasan mengambil semua tasnya dan berjalan kembali ke kamar untuk berganti pakaian. Ia melangkah dengan gontai dan lemas. Ia menarik tissue dari meja yang ada di sebuah meja dan membersihkan tangannya.

Situasinya jadi lebih menarik kalau begini.

Batin laki-laki tua itu sambil mengatur strategi dan tersenyum culas.

Beberapa hari ke depan, aku bakal tinggal sendirian di rumah ini hanya berdua dengan menantuku yang cantik dan seksi itu! Gak boleh lama-lama, aku harus bisa mendapatkan tubuhnya! Aku harus bisa ngentotin menantuku!

Entah apa yang akan dilakukan Andi seandainya dia mengetahui rencana ayah kandung pada istri yang dicintainya.

.::..::..::..::.

Setelah hampir setengah jam menonton TV dan menghabiskan rokok, Pak Bejo mencolek Alya yang terlelap lemas di atas karpet. Ibu muda yang cantik jelita itu masih tak mengenakan apa-apa. Tubuh indahnya tak mengenakan sehelai benang pun.

“Sudah waktunya. Ayo.”

“Kemana?” tanya Alya dengan berat.

“Sini. Jongkok di depanku sini.” Perintah Pak Bejo sambil membuka kakinya, tentu saja minta disepong.

Alya sudah tidak tahan lagi. “Ya Tuhan, Pak Bejo! Sudah yang begituan kenapa sih?! Saya mohon, jangan suruh saya melakukan hal itu lag, Paki! Saya jijik dengan yang seperti itu! Saya mau muntah!”

“Oke deh. Oke.” kata Pak Bejo. Pria tua itu sepertinya memahami dan mendekati Alya.

Awalnya Alya tidak tahu apa yang akan dilakukan oleh Pak Bejo, namun sedetik kemudian ia menyadari apa niat jahat dari pria tua yang telah menodainya itu ketika melihat tangan Pak Bejo terangkat. Ibu muda itu bahkan tidak punya kesempatan mengelak saat kemudian tangan Pak Bejo mengayun deras dan menampar pipinya dengan keras.

PLAKKK!!

Alya pun menangis tersedu-sedu. Belum pernah seumur-umur dia diperlakukan dengan kasar oleh seorang pria seperti ini. Bedebah busuk ini memang kurang ajar sekali! Airmata wanita cantik itu meleleh dan isak tangisnya terdengar hingga beberapa saat.

Pak Bejo kembali duduk di hadapan Alya.

“Makanya dibilangin itu didengerin. Berapa kali aku harus ngomong sama Mbak Alya kalau Mbak Alya sudah tidak punya pilihan? Dengerin semua perintahku, diikutin aja ga usah banyak pertanyaan. Daripada sakit begini kan Mbak Alya sebaiknya mulai menikmati.

Aku juga kasihan lihat Mbak Alya cantik-cantik ditampar terus. Turuti aja apa yang aku perintahkan ya, sayang? Daripada meracau ga jelas bikin semuanya jadi tambah lama dan aku tambah emosi. Aku orangnya ga sabaran, Mbak. Oke? Sekarang merangkak ke sini dan jangan membantah lagi.” ancam Pak Bejo.

Kali ini tidak ada ulangan perintah. Dengan penuh kepasrahan, Alya membuka mulutnya dan mulai melakukan blowjob pada batang kejantanan tetangganya yang mesum dan berusaha menahan diri agar kali ini dia tidak mual lagi.

Pak Bejo melenguh keenakan dan sesekali tertawa terbahak-bahak menikmati enaknya disepong wanita secantik Alya. Ibu muda yang cantik itu memang bukan juara dunia blowjob, hisapannya amatir dan malu-malu. Namun justru dibalik rasa malu-malu itu tersimpan potensi binal yang cukup tinggi. Pak Bejo sudah hapal dengan tipe-tipe seperti ini.

Setelah usai menyepong, Alya duduk di lantai. Ia masih berada di daerah selangkangan Pak Bejo. Wajahnya yang jelita hanya beberapa centimeter saja dari kontol besar Pak Bejo. Si cantik itu bahkan sudah tidak lagi takut atau malu untuk berada di dekat kontol kebanggaan tetangganya itu.

Pak Bejo tahu dia sudah menaklukan wanita cantik bertubuh indah ini.

Alya melihat ke arah jam dinding dan langsung kaget. Opi sebentar lagi pulang! Dengan buru-buru Alya melepaskan diri dari pelukan mesra Pak Bejo dan berdiri.

“Pak Bejo, anda harus pergi sekarang. Opi sebentar lagi pulang dan…”

“Cium aku sekali lagi.” Kata Pak Bejo sembari melihat ke selangkangan Alya dengan pandangan nafsu.

Alya mendekatkan tubuhnya ke Pak Bejo dan merenggangkan kakinya, memberikan akses penuh pada pria tua itu untuk bisa mencium bibir kemaluannya. Pak Bejo menurunkan kepala dan segera mengeluarkan lidahnya untuk menikmati bibir vagina Alya dengan buas.

Alya merem melek dan melenguh tak henti-henti, ia tak mau mengakuinya, namun gila – lidah Pak Bejo begitu lihai bermain di liang cintanya. Kenikmatan bercampur rasa bersalah menguasai istri Hendra itu.

Setelah beberapa saat menjilat, Pak Bejo bangkit. Pria tua itu mulai berpakaian. Alya merasa aneh karena kini dirinya mulai terbiasa dan tidak merasa malu lagi telanjang bulat di hadapan pria tua ini.

“Aku akan kembali lagi. Mungkin besok, waktu yang sama. Saat membuka pintu, aku harap Mbak Alya tidak mengenakan sehelai benang pun. Besok aku akan memberikanmu kenikmatan yang terhebat dan aku akan mengambil lubang keperawananmu yang tersisa.”

Alya mengangguk. Bodo amat lah mau bilang apa juga. Ia hanya berharap pria tua brengsek ini segera meninggalkan rumahnya. Setelah berpamitan dan meremas-remas dada Alya, Pak Bejo pun pergi. Alya menutup pintu rumah sambil menangis tersedu-sedu. Dia ambruk ke kasur dan bertanya-tanya dalam hati.

Maksudnya apa ya? Lubang perawan yang tersisa?

Tapi karena Opi hampir pulang, Alya memaksakan diri untuk bangun dan tidak memikirkan peristiwa yang baru saja terjadi. Opi tidak boleh tahu apapun. Alya mandi dan menggosok seluruh tubuhnya yang kotor. Dia telah dijilati oleh lidah seorang pria yang tidak pernah ia bayangkan sebelumnya. Ia tidak pernah membayangkan akan disetubuhi oleh Pak Bejo.

Alya membersihkan tubuhnya dan mandi lebih lama dari biasanya. Saat membersihkan bagian bokongnya, Alya pun sadar.

Bodoh! Dasar bodoh! Jangan-jangan yang dimaksud Pak Bejo itu lubang anus? Gila! Itu pasti akan menyakitkan!!

Jari jemarinya yang lembut menelusuri bagian belakang tubuhnya, mengitari pantatnya yang bulat. Dia meremas pantatnya sendiri dan menangis sejadi-jadinya. Tidak… jangan… jangan sampai ini semua terjadi.

Pasti akan sangat menyakitkan.

.::..::..::..::.

Setelah mandi dan membersihkan diri, Pak Hasan kembali turun ke ruang keluarga. Dia duduk di sofa dan menonton berita di televisi, berharap bisa sejenak melepaskan hasrat birahinya yang liar kepada menantunya sendiri. Tidak lama kemudian, Pak Hasan mendengar suara lembut dari atas tangga.

“Pak, siapa tadi yang telepon?”

“Oh, itu si Andi dari bandara,” jawab Pak Hasan. “Katanya dia harus langsung lembur dan berangkat ke luar kota malam ini juga. Baru pulang hari Minggu sore. Untuk keperluan bisnis atau yang lain, Bapak kurang paham.”

Pak Hasan mendengar gerutu kecil dari Lidya tentang kebiasaan Andi yang jarang pulang dan lain sebagainya. Tak lama kemudian Lidya turun ke ruang keluarga. Pak Hasan hanya bisa menatap takjub penampilan menantunya yang jelita.

Lidya memakai kaus putih tanpa lengan yang membuat buah dadanya yang besar terlihat menonjol menantang dan celana jeans yang hampir-hampir tidak sampai ke pinggulnya. Dari belakang, Pak Hasan bisa mencuri pandang belahan pantat Lidya.

Pak Hasan mulai terangsang lagi saat membayangkan Lidya menggunakan celdam yang tadi digunakan oleh Pak Hasan untuk coli. Rambut indah panjang Lidya diikat kucir kuda dan membuat si cantik itu tampak lebih muda. Pak Hasan menahan diri dan kembali menatap layar televisi.

Lidya mulai menyiapkan makan malam sementara Pak Hasan menyusulnya ke dapur untuk melihat apakah dia bisa membantu Lidya. Sekitar dua puluh menit memasak dan bercakap-cakap, makanan pun siap.

Tak disadari oleh Lidya kalau sedari tadi Pak Hasan memanjakan matanya dengan mengamati setiap lekuk tubuh Lidya dari atas sampai bawah sementara Lidya memasak. Pantatnya yang bulat dan montok itu makin terlihat sempurna karena ketatnya celana jeans yang dikenakan.

Saat mengambil bumbu di atas lemari, celana dalam putih yang dipakai Lidya sedikit terangkat dan terlihat oleh Pak Hasan. Lelaki tua itu puas melihat menantunya memakai celdam yang sama yang dia gunakan untuk coli.

Pak Hasan langsung membayangkan nikmatnya menubruk tubuh Lidya, membungkukkan tubuh si cantik itu ke depan, dan melesakkan kontolnya ke dalam memek Lidya sementara tangannya meremas-remas susunya.

Lamunan itu sirna begitu Lidya berbalik dan menghidangkan makan malam.

.::..::..::..::.

Tangan Dina bergetar hebat saat dia melepaskan kancing bajunya. Pandangan mata Pak Pramono tidak lepas dari payudara Dina yang masih tertutup kemeja, menunggu dengan penuh harap untuk menyaksikan susu Dina dalam kondisi tidak tertutup sehelai benang pun.

Dina ingin berhenti, tapi terus membuka kancing dan melepas bajunya. Bh dan isinya yang putih mulus dan montok menjadi perhatian utama Pak Pramono. Dina meraih kancing BH di belakang dan melepaskannya. Saat BH itu menggantung di atas payudaranya, Dina mulai ragu-ragu dan berusaha menggunakannya menutup buah dadanya. Dina melepaskan celananya sambil masih memegang BH.

Pak Pramono jelas menikmati pertunjukan ala striptease ini. Sudah jelas bagi pria tua itu bagaimana malunya perasaan Dina, yang tentu malah menambah nikmat rangsangannya. Saat buah dada Dina keluar dari BH, Pak Pramono bisa melihat pentil payudara Dina sudah membesar, tentu karena udara dingin.

Saat melepas celana panjang, Pak Pramono memperhatikan celana dalam yang dipakai Dina. Celana dalam putih biasa saja. Hal ini justru menambah minat Pak Pram. Lebih jelas lagi kalau Dina adalah seorang ibu rumah tangga yang sederhana dan mungkin orang yang pernah melihat Dina dalam kondisi setengah telanjang hanyalah Anton dan dirinya sendiri.

Dina menggigil ketakutan. Wanita cantik itu berdiri setengah telanjang di hadapan pria asing yang juga bos dari suaminya. Satu tangan mengapit BH yang sudah hampir copot agar tetap menutupi payudara dan tangan yang satu lagi menangkup selangkangannya.

Dengan satu gerakan dilemparkannya BH ke samping sehingga Pak Pramono bisa menyaksikan tubuh bugil istri pegawainya.

Pak Pramono menatap si cantik Dina dan menikmati ketidaknyamanan wanita itu. Tapi dia kemudian menjadi tidak sabar. Pak Pramono membuka tasnya dan melambaikan amplop manila ke arah Dina. Istri Anton itu tahu apa yang dimaksud Pak Pramono dan mengambil napas sekaligus keberanian ganda.

Dina menarik celana dalamnya ke bawah secepat mungkin dan langsung menutup selangkangannya kembali dengan tangannya. Dina kini sudah berdiri tanpa sehelai benangpun di hadapan Pak Pramono, dan berusaha keras menutupi payudara dan vaginanya.

“Letakkan tanganmu di samping,” kata Pak Pramono dingin.

Dina tahu inilah saatnya. Saat-saat penentuan. Apakah dia akan menunjukkan tubuh telanjangnya pada laki-laki di hadapannya ini? Setelah mempertimbangkan resiko tidak melakukannya, Dina menarik napas panjang dan menyerah.

Berdiri tegap dan bergetar hebat, Dina akhirnya mempersembahkan keindahan tubuh telanjangnya yang luar biasa mempesona pada pria selain suaminya. Dina membenci pandangan asusila Pak Pramono pada dirinya, dia membenci pandangan laki-laki tua yang sedang memuaskan diri dengan menjelajahi sekujur tubuh Dina.

“Berbaliklah… perlahan,” kata Pak Pramono.

Dina menurut, dia berbalik memutar badan. Pantatnya yang mulus terangkat merangsang di hadapan Pak Pramono. Dina terus memutar sampai dia kembali berhadapan dengan Pak Pramono.

“Aku tadi bilang berbalik. Bukan memutar,” kata Pak Pramono galak.

Sekali lagi Dina memutar badan, tapi kali ini dia berhenti saat pantatnya berada di depan Pak Pramono. Ruangan itu menjadi sunyi dan bagi Dina semuanya menjadi lebih parah karena tidak bisa melihat ke arah Pak Pramono.

Dia tidak tahu apa yang sedang dilakukan laki-laki tua itu. Bagi ibu muda yang cantik dan sederhana itu, kesunyian ini seakan berlangsung amat lama.

“Renggangkan kakimu,” suruh Pak Pramono. “Bagus. Sekarang membungkuklah dan lihat kemari melalui sela-sela kakimu.”

Dina menahan napas saat dia melihat ke arah Pak Pramono di antara sela-sela kakinya. Celana panjang sekaligus celana dalam Pak Pramono sudah copot dan penisnya yang mengeras bagaikan menantang langit.

Tidak hanya keras, sepertinya kontol Pak Pramono juga lebih besar – lebih besar dan panjang – daripada milik Anton. Dina juga sadar kalau memeknya bisa dilihat jelas oleh Pak Pramono. Angin semilir membelai bibir vaginanya yang terbuka menantang. Sebelum ini belum ada satu orangpun yang pernah menyaksikan liang kemaluannya seperti ini, bahkan suaminya sendiripun belum pernah.

Saat Pak Pramono memintanya mendekat, Dina berdiri tegak dan menarik napas lega. Tapi ketika dia berdiri di samping bos Anton itu dengan bertelanjang bulat, wajah cantik Dina langsung memerah karena malu. Dina melompat mundur ketika jari jemari Pak Pramono mengelus bagian dalam paha mulusnya.

“Kembali ke sini dan buka kakimu lebar-lebar!”

Dina berjalan gontai ke arah kursi tempat Pak Pramono duduk dan memejamkan mata saat jari jemari Pak Pramono masuk ke vaginanya. Kali ini walaupun tubuhnya menggigil, Dina tidak beranjak seinci pun.

“Memekmu kering. Aku pengen memekmu basah, aku tidak mau tahu bagaimana caranya, pokoknya aku mau memekmu itu basah dulu dulu!”

Dina tidak tahu seberapa jauh lagi dia bisa menahan malu. Bos suaminya tengah memasukkan sebuah jari ke dalam memeknya dan menyuruhnya bermasturbasi. Dina pertama kali bermasturbasi saat dia masih remaja. Dina tahu perbuatan ini tidak baik untuk pertumbuhan mental sehingga dia berhenti melakukannya.

Tapi kini seorang pria asing memerintahkannya untuk bermasturbasi langsung di hadapannya.

Dina mencari lubang kemaluannya dengan jari tengah dan menggosoknya dengan gerakan pelan. Wanita cantik yang dipermalukan itu kemudian merasakan desakan jari jemari Pak Pramono di dalam memeknya pada saat dia bermasturbasi.

Dina tidak tahu mana yang lebih memalukan – saat mata Pak Pramono menatap jari tengahnya atau wajahnya. Kini jari jemari Pak Pramono makin bebas keluar masuk liang vagina Dina karena cairan pelumas dinding vaginanya mulai mengalir.

Pak Pramono mencabut jari jemarinya dan berkata. “Duduk di pangkuanku.”

Dina lega saat Pak Pramono menarik jemarinya sehingga Dina bisa berhenti bermasturbasi. Dina mencoba duduk di pangkuan Pak Pramono dengan sesopan mungkin, dia berusaha menutup kedua kakinya dengan rapat.

Tapi Pak Pramono menggeleng dan kaki Dina segera dibuka lebar-lebar. Wanita cantik itu mencoba berdiri ketika melihat penis Pak Pramono berdiri tegak menantang.

Pak Pramono tersenyum saat melihat Dina memalingkan wajah dan berkata, “Masukkan ini ke dalam memekmu.”

“Aku mohon, Pak Pramono! Aku tidak bisa melakukan ini! Aku sudah menikah! Ini- ini akan menjadi skandal! Ini zinah!” Dina merengek.

“Masukkan ini ke dalam memekmu, atau…”

Dina tahu dia tidak punya pilihan lain. Duduk di pangkuan Pak Pramono, Dina mencoba melesakkan penis laki-laki mesum itu ke dalam memeknya tanpa menyentuh batang kemaluan bos Anton itu. Tapi usaha Dina gagal.

Ibu rumahtangga yang cantik itu mendesah kecewa dan dengan tertunduk malu meraih batang zakar Pak Pramono dan menaikkannya ke atas. Dina memposisikan vaginanya di atas kontol yang sudah menghadap ke atas lalu perlahan melesakkannya sambil duduk di pangkuan Pak Pramono.

Dina bisa merasakan kontol yang besar dan gemuk itu meraja di liang rahimnya. Dina dan Pak Pramono saling bertatapan saat kontol Pak Pramono melesak seluruhnya ke dalam memek Dina.

Tangan Pak Pramono meraih buah dada Dina. Dielus dan diremasnya buah dada putih mulus, molek dan montok itu. Jemarinya menjepit pentil susu Dina dan memutar-mutarnya dengan kasar. Dina merasa sangat malu saat pentil itu mulai membesar.

Dina berusaha keras menahan dirinya agar tidak terangsang dengan remasan dan perlakuan Pak Pramono pada buah dadanya, tapi gagal. Payudara Dina menegang dan pentilnya membesar.

Tangan Pak Pramono melepaskan buah dada Dina, tapi kini giliran mulutnya yang nyosor ke susu putih mulus si Dina. Saat Pak Pramono mengelamuti satu pentilnya, Dina bisa merasakan jari jemari Pak Pramono menangkup bulat pantat Dina.

Diangkat, lalu diturunkan, lalu diangkat lagi, berulang-ulang. Pak Pramono bergeser ke pentilnya yang lain, lalu menikmatinya untuk beberapa saat.

Setelah bosan, Pak Pramono menyandarkan kepala ke belakang dengan menggunakan lengan sebagai bantalannya. Dengan posisi relaks, Pak Pramono tersenyum sinis.

“Sekarang genjot!” perintah Pak Pramono.

Mulut Dina menganga tak percaya, dia telah dilecehkan, dihina dan diperdaya. Tapi wanita jelita itu melakukan apa yang diminta oleh Pak Pram. Karena membutuhkan sandaran, Dina meraih pundak Pak Pram dan perlahan mengangkat tubuhnya.

Saat seluruh penis Pak Pram hampir keluar dari memeknya, Dina menghentakkan tubuh ke bawah dan kembali ke pangkuan Pak Pram. Lalu Dina naik lagi, lalu turun, lalu naik, turun, naik turun, naik turun berulang-ulang.

Akhirnya Dina ngentotin Pak Pramono, bosnya Anton. Si cantik itulah yang bergerak naik turun, meskipun Pak Pram sesekali menggoyang pinggulnya untuk membalas gerakan turun tubuh Dina, tapi ibu muda itulah yang bekerja keras.

Dinalah yang saat ini sedang menyetubuhi Pak Pram. Meskipun hal itu saja sudah memalukan, tapi Dina kian tak punya muka saat merasakan kehangatan yang nikmat merajai liang vaginanya. Penis Pak Pram yang jauh lebih besar dari penis suaminya menjejal liangnya yang sempit dan memenuhinya dengan nikmat. Gerakan naik turunnya menjadi lebih cepat.

Pak Pramono mulai melihat perubahan pada wajah Dina. Pada awalnya, Dina bersetubuh dengan perasaan malu dan sakit hati, tapi kemudian perasaan itu berubah menjadi birahi. Pak Pram tahu Dina mulai menikmati dientoti oleh pria tua itu.

Bukan maksud hati Dina untuk bersetubuh dengan Pak Pramono, tapi tubuh Dina mengkhianatinya karena lama kelamaan ibu muda yang cantik itu mulai merasa kenikmatan yang tiada tara walaupun awalnya dia dipaksa untuk melayani bandot tua ini.

Pak Pramono mulai menelusuri tubuh istri Anton dengan satu tangan dan akhirnya mencapai ujung kelentit kemaluan Dina. Saat Pak Pramono menggosok klitoris Dina, mata istri Anton itu terbelalak dan menatap Pak Pram tak percaya.

Tapi Dina tetap meneruskan gerakannya, naik turun dan membiarkan kontol Pak Pram menusuk tiap jengkal ruas liang kemaluannya. Pak Pram tidak berhenti menggosok klitoris Dina. Tak lama kemudian, Pak Pramono merasakan kuku jari Dina menancap makin dalam di pundaknya.

Gerakan Dina makin lama makin cepat hingga Pak Prampun tidak sanggup lagi merangsang klitoris Dina. Dina melepaskan lenguhan keras dan tubuhnya bergetar hebat sebelum akhirnya berhenti. Dia sudah mencapai klimaks.

Pak Pramono menunggu Dina sampai si cantik itu membuka matanya. Wajah Dina yang dilanda kepuasan memerah karena malu. Pak Pramono menganggukkan kepalanya sebagai tanda agar Dina meneruskan pekerjaannya.

Maka wanita cantik itu kembali menggunakan memeknya untuk memeras penis Pak Pramono. Dina kembali menyetubuhi pria tua yang telah membuatnya orgasme. Tadi Pak Pramono memang ingin memuaskan Dina agar ibu muda yang cantik itu malu, tapi kini Pak Pramono hanya menginginkan kepuasannya saja.

Pak Pramono menarik bokong Dina dan membimbing tubuhnya naik turun batang kemaluannya dengan lebih cepat. Dia mendorong tubuh Dina turun ke pangkuannya dengan kasar sementara pinggulnya bergerak sembari menggoyang si manis itu. Makin lama makin cepat. Pak Pramono makin tersengal-sengal karena keenakan.

Tak lama kemudian Pak Pramono orgasme. Dina duduk di pangkuan Pak Pramono saat pejuh pria tua itu membanjiri liang senggamanya. Dina merasa malu, dia merasa dirinya sangat rapuh karena menyerah pada Pak Pramono.

Dina merasa diperkosa, tapi lebih malu lagi, karena Dina merasa dirinyapun telah mencapai titik klimaks yang belum pernah dirasakannya selama ini. Walaupun awalnya terpaksa, Dina kini juga merasa bersalah pada Anton. Dia merasa dirinya telah ternoda dan bersalah karena mencapai orgasme.

Dina duduk terdiam penuh rasa malu pada diri sendiri saat Pak Pramono kembali sadar dari kenikmatan puncaknya. Perempuan molek itu itu bisa merasakan penis Pak Pramono mengecil dan keluar perlahan dari memeknya sementara dia duduk di paha sang pria tua.

Dengan posisi kaki terbentang, Dina bisa merasakan pula cairan mani Pak Pramono meleleh keluar dari liang cintanya. Dina tidak bergerak sama sekali karena takut pada pria tua yang bengis itu.

Pak Pramono membuka matanya dan tersenyum puas. Dia mendorong tubuh Dina ke samping. “Kamu minum pil KB?”

Dina mengangguk.

Mengambil napas dalam-dalam, Pak Pramono berkata. “Terimakasih atas kerja samanya. Selama kamu terus menerus memberikan kepuasan padaku, maka aku jamin Anton aman, tidak akan pernah disentuh oleh pihak yang berwajib. Besok, datang ke Hotel XXX di Jalan XXX jam dua siang dan masuk ke kamar 224. Aku akan menunggu Mbak Dina untuk kesepakatan kita selanjutnya.”

Dina hanya memandang diam ke arah Pak Pramono saat pimpinan Anton itu mengenakan baju kerjanya dan bangkit. Dina duduk di ranjang tanpa berkeinginan untuk menutupi ketelanjangannya.

Untuk apa? Dia baru saja bersenggama dengan pria tua ini dan Pak Pramono sudah melepaskan pejuh di dalam rahimnya. Apa akan ada perbedaan berarti kalau sekarang Pak Pram melihatnya bugil?

Tanpa mengeluarkan sepatah katapun, Pak Pramono meletakkan amplop dan celana dalam milik Dina ke dalam tas kerja lalu berjalan pergi meninggalkan rumah Anton dan Dina.

.::..::..::..::.

Lidya sudah hampir terlelap ketika dirasakannya angin semilir masuk melalui selimutnya yang tebal. Baru disadarinya ternyata selimut itu diangkat oleh seseorang. Lidya yang masih terpejam tersenyum gembira, ternyata Andi tidak jadi berangkat ke luar kota.

Saat membalikkan badan, barulah disadari bahwa bukan Andi melainkan Pak Hasan yang berada di samping tubuhnya! Karena sangat mengantuk, Lidya lambat bereaksi, dan dengan cekatan Pak Hasan langsung memeluk tubuh menantunya.

Gesekan tubuh telanjang mereka menyadarkan Lidya akan gawatnya situasi yang sedang dihadapi. Lidya pun segera mendorong tubuh Pak Hasan dan berusaha melepaskan diri dari pelukannya.

Pak Hasan hanya tersenyum sinis dan menelikung tangan Lidya hingga dia tidak bisa berkutik. Tubuh keriput Pak Hasan menindih tubuh mulus Lidya sehingga istri Andi itu terengah-engah. Semakin Lidya memberontak dan mencoba melepaskan diri sergapannya, semakin Pak Hasan terangsang.

“Bapak! Lepaskan aku! Apa yang bapak lakukan di sini?” tanya Lidya.

.::..::..::..::.

Malam itu, rasa bersalah yang amat besar membuat Alya tidak bisa tidur. Dia tidak pernah bisa memaafkan dirinya karena memiliki nafsu birahi liar yang tersembunyi di balik kesetiaannya. Dia tidak pernah memaafkan dirinya sendiri yang menjadi hamba nafsu dan terlena oleh perkosaan yang dilakukan Pak Bejo.

Awalnya dia mengira itu semua terjadi karena rasa takut, tapi perasaan nikmat itu tidak bisa ia bohongi. Seluruh kejadian bersama Pak Bejo terulang bagaikan adegan video Youtube yang diputar looping di benak Alya.

Apakah dia seorang korban yang pasrah? Saat itu dia teringat kalimat yang pernah diucapkan oleh Bu Bejo. Mbak Alya belum mengerti apa-apa.

Saat ini Alya baru sadar kenapa Bu Bejo bertahan walaupun didera semua penyiksaan fisik yang dilakukan oleh Pak Bejo. Pak Bejo memberikan kenikmatan seksual yang tidak ada bandingannya walaupun ia melakukannya dengan kasar. Itu sebabnya Bu Bejo pasrah oleh perlakuan sang suami.

Bahkan sama aku pun dia kasar sekali.

Suara batin Alya membuatnya terayun pilu. Seperti halnya Bu Bejo, Alya ternyata harus melalui siksaan fisik luar biasa sebelum akhirnya menikmati puncak nafsu liarnya yang terpendam.

Dinginnya malam tak tertahankan. Alya melangkah keluar dari kamar dan duduk termenung sendirian di ruang depan. Berusaha menenangkan pikirannya yang kalut. Bagaimana mungkin Alya mengkhianati Hendra demi nafsu birahi sesaat? Ibu rumah tangga yang cantik itu tidak bisa membayangkan hidupnya tanpa Hendra.

Mereka saling mencintai satu sama lain. Hendra sangat mencintai Alya. Tapi apa yang bisa diharapkan Hendra dari istrinya sekarang? Alya telah diperkosa oleh tetangga mereka yang bejat dan berhati busuk.

Dia pasti akan sangat shock jika tahu apa yang telah terjadi. Alya berusaha keras agar tidak menangis. Dia tidak akan mengijinkan Pak Bejo melakukan apapun pada tubuhnya lagi. Alya adalah milik Hendra. Istri sah Hendra. Alya tidak mau dirinya berakhir sebagai istri simpanan atau bahkan budak seks laki-laki busuk seperti Pak Bejo.

“Maafkan aku, Mas Hendra. Aku berharap Mas mau memaafkan aku. Aku berjanji tidak akan mengkhianati kepercayaan Mas Hendra lagi.” Gumam Alya pada dirinya sendiri.

Dia berharap bisa menyelesaikan urusan dengan Pak Bejo besok. Dia akan menutup pintu rumahnya kuat-kuat supaya lelaki busuk itu tidak akan bisa masuk dan menodainya lagi. Dia ingin Pak Bejo tahu apa yang mereka lakukan kemarin tidak ada artinya bagi Alya. Usai membulatkan tekad, istri Hendra itu merasakan beban yang ia pikul perlahan-lahan terangkat.

.::..::..::..::.

“Pertanyaan bodoh, nduk cah ayu,” Kata Pak Hasan sambil tersenyum lebar. “Kurasa kamu tahu pasti apa yang sedang aku lakukan ini. Aku lagi nafsu banget, ga ada pelampiasan, dan aku bosan coli sendiri. Aku pengen memek yang enak, seger, dan legit. Jadi aku masuk ke sini, mumpung tersedia.”

“Gila!! Aku ini menantumu!!” protes Lidya. “Ini tidak bis… ! Bapak tidak bisa…”

“Memangnya siapa yang bakal menghentikan aku?” tanya Pak Hasan. “Tidak ada orang lain di sini. Kamu boleh jerit-jerit sampai suaramu habis kalau mau tapi aku yakin tidak akan ada orang yang akan masuk dan menjebol tembok cuma buat menyelamatkan kamu. Apalagi sudah kamu lihat sendiri, aku juga jauh lebih kuat daripada kamu.”

“Kalau bapak memperkosaku, aku akan lapor pada polisi!” ancam Lidya.

“Ya bisa saja. Tapi menurutmu, bagaimana perasaan Andi?”

“Apa maksud bapak?”

“Seandainya kamu berani pergi ke polisi dan mengaku diperkosa oleh ayah mertuamu sendiri, Andi pasti bakal hilang ingatan. Istrinya yang cantik dan mempesona diperkosa oleh ayahnya sendiri.

Apalagi coba kamu bayangin kalau aku mengarang suatu cerita seru dan menceritakan pada anakku yang bodoh itu kalau istrinya yang molek – si Lidya yang cantik jelita, berani merayu ayah mertuanya karena lama sudah tidak punya anak.

“Bahkan kalau dia mencoba untuk tidak percaya sama ceritaku, dia tetep ga akan bakal percaya lagi sama kamu. Dia ga akan yakin yang mana cerita yang bener. Aku sih simpel, aku bakal ceritain bagaimana enaknya ngentotin kamu dan bikin kamu muncrat.

Semua detail bakal aku ceritain. Semua kenikmatan yang tidak pernah bisa dia berikan kepadamu. Nduk cah ayu, kalau kamu sampai cerita sama Andi atau polisi tentang perkosaan ini, kamu sendiri yang bakal bikin dia gila.”

Lidya terdiam dan tak bisa berkata apa-apa. Mulutnya menganga lebar karena tiap perkataan Pak Hasan ada benarnya.

“Bapak tidak peduli sama Mas Andi? Apa yang akan dirasakannya kalau tahu Bapak berbuat nista semacam ini?” tanya Lidya dengan lirih. “Bapak benar-benar ingin menyakiti putra bapak sendiri?”

“Kan tadi udah aku bilang. Bukan aku yang akan menyakiti dia, justru kamu yang akan menyakiti perasaannya. Aku kan cuma pengen ngentotin kamu aja. Kalau kamu tidak cerita apa-apa sama dia, semua beres. Semua menang, semua senang. Tidak ada masalah, tidak ada yang dirugikan.”

“Kecuali aku.”

“Oh, kalau sampai kamu tidak puas bercinta denganku, namaku bukan Hasan.” Kata lelaki tua itu dengan bangga. Dengan berani dia mencium bibir Lidya.

Ciuman yang disosorkan oleh Pak Hasan bukanlah ciuman mesra seperti yang biasa diberikan oleh Andi pada Lidya. Ciuman Pak Hasan sangat kasar dan penuh nafsu, dengan buas Pak Hasan memaksa lidahnya masuk ke mulut Lidya, lalu mengeluarmasukkan lidahnya dengan cepat.

Gerakan lidah Pak Hasan seirama dengan gerakan pinggulnya yang mendorong ke depan.

Sekali lagi Lidya berusaha mendorong tubuh Pak Hasan. Kali ini usahanya hampir berhasil. Pak Hasan yang tidak siap terdorong mundur. Namun saat Lidya berusaha lari dari ranjang, Pak Hasan menarik kaki sang menantu dan merentangkannya lebar-lebar. Pria tua yang sudah kehilangan akhlak itu menarik lutut Lidya dan menjepitkan pinggangnya di antara dua paha Lidya.

Si cantik itu bisa merasakan jembut kasar Pak Hasan menyentuh bibir kemaluannya. Memek Lidya yang lama kelamaan basah bisa dirasakan oleh kulit Pak Hasan yang langsung menyentuh selangkangan Lidya. Istri Andi itu berusaha mendorong mundur mertuanya. Tak henti-hentinya Lidya memukul dan menampar Pak Hasan, tapi apa daya seorang wanita lemah?

Pak Hasan tidak mempedulikan perlakuan Lidya dan meremas payudara sang menantu. Pria tua itu tidak lagi berlaku lembut pada buah dada Lidya. Dengan kasar diremas-remas dan dipelintirnya pentil susu Lidya. Lidya merasa malu saat kemudian puting susunya malah makin mengeras.

Pak Hasan tidak melewatkan hal ini dan memelintir pentil Lidya dengan jari-jari tangannya. Lidya tidak berkutik, sambil merem melek dia melenguh keras. Pak Hasan mencium pentil Lidya dan menjilatinya dengan penuh nafsu.

Hangatnya mulut Pak Hasan terasa begitu nikmat sehingga Lidya lupa melawan. Dengan sadis Pak Hasan memangsa buah dada Lidya dengan lidahnya, sesuatu yang sudah dia idam-idamkan sejak lama.

Pak Hasan menjilati pentil Lidya lalu menciumi buah dadanya. Kenikmatan yang dirasakan oleh Lidya begitu tinggi sehingga istri Andi itu melenguh keras dan menjambak rambut Pak Hasan. Dengan wajah senang dan puas, Pak Hasan tertawa terbahak-bahak penuh kemenangan.

“Susumu apik tenan, nduk.” kata Pak Hasan. “Aku selalu memperhatikan buah dadamu dan bertanya-tanya bagaimana rasanya kalau dijilati. Tidak begitu besar dan tidak terlalu kecil. Cukupan. Sempurna. Pentilnya juga mempesona, mancung.”

Lidya yang tersinggung oleh ejekan itu mulai melawan Pak Hasan lagi, kali ini si cantik itu bahkan berteriak-teriak meminta tolong. Sia-sia saja, tidak ada yang mendengar teriakan Lidya. Pak Hasan tertawa-tawa dan terus meremas payudara Lidya.

Dijilati dan digigitinya susu putih Lidya, pria tua yang sangat nafsu itu berusaha menelan seluruh buah dada Lidya ke dalam mulutnya. Dia bahkan meremas payudara Lidya dan berusaha menelan keduanya bersama-sama. Walaupun tindakannya kasar, tapi Lidya mulai merasakan sensasi kenikmatan yang aneh dan kesulitan menolak Pak Hasan.

Pak Hasan mengagetkan Lidya saat mertuanya itu berbalik dan berlutut di atas tubuhnya. Kepala Pak Hasan menghilang di antara paha Lidya dan kontol Pak Hasan bergelantung di atas wajah cantiknya. Penis Pak Hasan sangat berbeda dengan milik Andi.

Milik Pak Hasan jauh lebih pendek dan tebal, warnanya juga lebih hitam kemerahan. Lidya bergidik saat membayangkan kontol Pak Hasan memasuki tubuhnya. Rasa ngeri dan ketakutan membuat Lidya mengeluarkan cairan pelumas yang membanjir di selangkangannya.

Lidya menggigit bibirnya saat tiba-tiba saja mulut Pak Hasan menjelajahi selangkangannya yang basah. Pak Hasan mulai mencium, menjilat dan menghisap memek sang menantu. Tangan Pak Hasan merenggangkan kaki jenjang Lidya supaya mendapatkan akses bebas ke vaginanya. Direntangkannya lebar-lebar sehingga Lidya tidak bisa menolak perlakuan ini.

Pak Hasan dengan mahir menggunakan lidahnya menjilati klitoris Lidya, lalu pada bibir vagina dan akhirnya lidah Pak Hasan menjelajah ke dalam liang cinta Lidya. Ia menjilat dengan gerakan memutar dan menusuk, membuat Lidya menggelinjang keenakan.

Pak Hasan bahkan menggunakan giginya untuk menggigit-gigit kecil klitoris Lidya. Istri Andi itu masih terus berteriak dan melawan, bergerak mengelilingi tempat tidur dengan sekuat tenaga. Tapi Lidya sudah tidak tahu lagi, apakah teriakannya itu teriakan takut atau teriakan penuh nikmat.

Tiba-tiba saja Lidya mengalami orgasme. Kenikmatan menguasai tubuh indahnya, Lidya bergetar hebat saat mencapai puncak. Sebuah kenikmatan yang sebelumnya tidak pernah ia rasakan. Tubuh Lidya tergolek lemas. Tapi bahkan saat orgasme itu sudah menghilang, Pak Hasan belum selesai menikmati tubuh molek Lidya.

Pak Hasan membalikkan badan dan sambil menarik pinggul Lidya, dilesakkannya kontolnya yang besar ke dalam vagina sang menantu. Lidya merem melek karena tidak bisa menahan kenikmatan yang diberikan oleh mertuanya. Dia tidak ingin mengakuinya, sungguh dia tidak ingin mengakui. Tapi ini enak sekali.

Ya Tuhan. Maafkan aku, Mas. Maafkan aku…

Seluruh memek Lidya seakan terulur sampai batas dan terisi penuh oleh batang kejantanan sang mertua. Lidya bisa merasakan denyutan demi denyutan penis sang mertua di dalam liang cintanya. Vaginanya terus memeras penis sang mertua yang keluar masuk dengan cepat.

Tiap kali digerakkan, seakan tusukan Pak Hasan makin ke dalam, membuat Lidya mendesah-desah karena tak tahan. Desahan si cantik itu membuat Pak Hasan makin cepat memompa vagina Lidya.

Akhirnya Lidya mencapai puncaknya lagi, tubuhnya yang sempurna melejit karena mengeluarkan cairan cinta. Lidya bisa merasakan air mani Pak Hasan juga tumpah di dalam rahimnya.

Pak Hasan jatuh menimpa Lidya, tubuh mereka bermandikan keringat yang tercampur dengan cairan cinta. Keduanya terengah-engah karena kelelahan. Yang satu bermandikan emosi karena terlalu girang, yang satu karena terlalu shock.

Akhirnya Pak Hasan berdiri dan keluar dengan santai dari kamar Lidya, meninggalkan istri Andi itu terlentang telanjang di kasur, pria tua itu beranjak ke kamar tamu – tempatnya tidur, dan terlelap dengan nyenyaknya. Terdengar suara dengkurannya memenuhi rumah.

Saat Pak Hasan akhirnya tertidur, Lidya memutuskan untuk mandi dan keramas. Ia pun bekerja ekstra dengan mengganti seprei yang baru saja dipakainya untuk melayani nafsu ayah mertuanya. Dia mencoba melupakan apa yang terjadi tapi getaran yang terasa di tubuhnya tak kunjung menghilang.

Lidya tahu dia tidak mungkin mengatakan sejujurnya apa yang telah terjadi pada Andi ataupun pada pihak yang berwajib. Lidya tak punya bukti apapun dan dia takut kalau Andi bertanya padanya apakah Lidya menikmati bersetubuh dengan ayah mertuanya.

Andi selalu tahu saat Lidya berbohong jadi dia pasti tahu kalau Lidya mendapatkan sensasi kenikmatan lain saat bersetubuh dengan Pak Hasan. Lidya tidak akan menceritakan apapun pada suaminya.

Saat membersihkan kamar keesokan paginya, Lidya menemukan sepucuk kertas di atas meja riasnya. Tulisan jeleknya menunjukkan kalau surat itu berasal dari mertuanya. Siapa lagi kalau bukan dia? Mereka hanya berdua di rumah ini.

Aku pengen kelon sama kamu lagi, sayang. Nanti kalau aku sudah istirahat dan tidak kecapekan lagi, ya. Bayangin tubuh indah kamu saja udah bikin aku nafsu. Janjiku bakal luwih rosa.

Walaupun Lidya berharap Pak Hasan hanya mengancam, tapi dia tahu mertuanya itu bersungguh-sungguh. Istri Andi itu gemetar ngeri. Dia membayangkan ayah mertuanya akan menyetubuhinya lagi setiap ada kesempatan dan tidak ada satupun yang bisa dilakukan si cantik itu untuk menghentikannya.

Lidya menggigil ketakutan.

.::..::..::..::.

Dina menempelkan kartu hotel dan membuka pintu kamar nomor 224. Sesuai dengan petunjuk yang ia dapat dari Pak Pramono. Lampu kamar langsung menyala saat ia memasukkan kartu ke slot listrik.

Dina lalu meletakkan outer dan tas jinjing yang ia bawa ke dalam lemari pakaian. Memperhatikan ruangan kamar hotel yang masih kosong, Dina tahu dia datang lebih awal daripada Pak Pramono.

Dina melangkah ke arah jendela dan memperhatikan mobil-mobil yang berlalu-lalang di jalan dengan perasaan yang campur aduk. Cukup lama si cantik itu memperhatikan pemandangan, sampai-sampai ia tidak sadar ada seseorang yang masuk ke kamar dan mengamatinya.

“Kupikir kamu tidak jadi datang.”

Dina kaget dan hampir melompat saat suara berat di belakangnya terdengar. Dina tidak perlu membalikkan badan untuk tahu siapa yang datang.

“Aku tidak punya pilihan lain.”

“Siapa bilang? Jalan hidup kita selalu ditentukan oleh pilihan. Makan siang mau makan nasi telur atau nasi padang? Pulang kerja mau naik kendaraan online atau naik trans? Semua ada pilihannya.” Kata pria yang sangat percaya diri itu sambil memasukkan tas dan jaket ke dalam lemari.

Dia meredupkan cahaya lampu supaya lebih temaram dan romantis, “dan kamu memilih datang kemari.”

Dina melirik ke arah jari jemarinya. Cincin emas putih yang melingkar di jari manis sebagai lambang pernikahannya dengan Anton membuatnya merinding. Demi cinta dan kesetiaan. Dina membalikkan badan. Tangannya memeluk pinggang sendiri seakan hendak menghangatkan badan yang kedinginan.

“Tidak ada yang memaksa Mbak Dina datang kemari. Ingat itu baik-baik.” Kata Pak Pramono sambil mendekati istri Anton. Sekitar satu meter jarak mereka, Pak Pram berhenti. Dina berusaha menantang pandangan tajam Pak Pramono, namun dia tidak sanggup. Pandangan mata Dina turun ke lantai.

“Aku sudah datang. Apalagi sekarang?”

“Mbak Dina tahu apa yang aku inginkan.”

“Dasar busuk!” desis Dina sengit.

“Bencilah aku sesukamu, sayang. Aku malah lebih suka kamu benci daripada kamu cintai.” Dengan jarinya yang hitam Pak Pramono mengelus pipi dan rahang Dina yang halus mulus. “Aku akan sangat menikmati meruntuhkan dinding tebal kebencianmu itu dan membuatmu menghamba padaku. Kamu cantik sekali… sangat sempurna…”

Dina menarik wajahnya dan mundur ke belakang. Tapi Pak Pramono segera menahan Dina dengan menarik kembali bagian belakang leher Dina, mendekatkan tubuh moleknya ke depan.

“Aku sudah menginginkanmu sejak pertama kali kita bertemu, Mbak Dina. Begitu tenang, sopan, penuh percaya diri. Tapi aku bisa melihat watak aslimu.”

“Watak asli?”

“Aku tahu sejak pertama kita kali bertemu, kalau kamu sampai bermimpi ingin tidur denganku. Kamu ingin aku menusukkan batang penisku dalam-dalam di liang cintamu yang sempit itu. Kamu ingin menelan kontolku yang besar dan panjang lalu menelan semua pejuhku. Iya kan, sayang?”

“Gila. Jangan halu anda.” Kata Dina sambil mencoba menjauh. “Pikiran busuk macam apa itu.”

“Gila?” Pak Pram membiarkan Dina menjauh hingga jarak mereka ada sekitar dua meter. “Mungkin aku gila, tapi aku gila karenamu. Apalagi saat ini aku yang pegang kendali. Tubuhmu yang indah itu adalah milikku.” Kata Pak Pramono sambil tersenyum penuh kemenangan.

Dina mendesah, “Pak Pramono, saya mohon pertimbangkan lagi semua ini. Apakah anda tidak membayangkan bagaimana perasaan keluarga anda, keluarga saya? Perasaan Mas Anton?”

“Anton? Apa menurutmu dia memikirkan kami saat dia mencuri uang perusahaan?”

Dina terdiam tak berdaya.

“Jelas dia tidak pernah memikirkan kami saat dia mencuri. Jadi ajarin saja aku, Mbak Dina tersayang, apa menurutmu aku harus menghentikan tindakanku ini?”

“Seharusnya. Ini perbuatan terkutuk.”

“Bah! Tidak akan! Dia sudah mencuri dariku, jadi aku akan mengambil miliknya yang paling berharga! Istrinya yang cantik jelita! Darah dibalas darah!”

“Anda akan merahasiakan semua ini pada Mas Anton?” tanya Dina.

“Tergantung. Menurutmu apa yang akan terjadi jika dia mengetahui istri yang cantik dan seksi sudah membuka lebar-lebar selangkangannya untuk melayani bosnya sendiri bermain cinta?”

“Dia pasti minta cerai.”

“Apa Mbak Dina mencintai Pak Anton?”

“Sangat. Mohon pertimbang…”

“Aku kan sudah bilang. Mbak Dina harus menuruti semua perintahku kalau ingin semua ini berakhir dengan baik bagi semua pihak. Anton tidak akan dipecat dan tidak akan masuk penjara. Aku dapat hiburan gratis dari seorang wanita yang cantik jelita dan molek, sedangkan Mbak Dina sendiri siapa tahu akan mendapatkan seorang keturunan yang berasal dari spermaku.”

Dina menundukkan kepala, matanya berkaca-kaca, apakah tidak ada jalan keluar?

“Semudah itu perjanjiannya.” Pak Pramono tersenyum. “Aku menginginkan tubuh Mbak Dina. Tiap kali aku butuh, aku akan telpon atau sms. Mbak Dina tinggal melakukan apa yang aku minta, dan Anton tidak perlu tahu apa yang kita lakukan.”

“A-aku menjadi budak seks Pak Pramono?”

“Huh, itu kata-kata yang kasar. Bisa lebih lembut lagi, kok. Aku ingin kamu melayaniku, sayang. Aku ingin kamu menerima apa saja yang ingin aku lakukan pada tubuhmu yang lezat itu selama aku belum bosan.” Pak Pramono berkacak pinggang, “Setelah bosan, aku berjanji akan melepaskanmu dan Anton.”

“Aku tidak bisa melakukannya.”

“Tentu saja bisa.”

“Aku belum pernah mengkhianati suamiku.”

Pak Pramono tersenyum sinis dan mengingatkan Dina. “Belum pernah? Lalu yang kemarin kita lakukan itu apa? Main gundu? Wah-wah, anda benar-benar seorang istri yang sempurna. Cantik, setia dan baik hati pula. Sama sekali belum pernah disentuh oleh pria lain.”

Air mata semakin menggenang di pipi Dina. Sindiran sarkas Pak Pram mengena di perasaannya.

“Kemarilah, sayang.”

Perlahan Dina bergerak mendekati Pak Pramono. Airmata mulai deras menuruni pipi ibu muda yang cantik itu. Dengan mata berkaca-kaca Dina menatap Pak Pramono yang kini duduk di tepian ranjang.

“Cium aku.”

Dina membungkuk dan mencium bibir Pak Pramono.

“Canggung sekali. Seperti mencium karton. Kamu bisa lebih baik dari itu.” sungut Pak Pram tak puas saat Dina mundur.

Sambil meletakkan tangan di pundak Pak Pram, Dina membungkuk sekali lagi dan menangkup bibir hitam Pak Pram dengan bibirnya yang merah mungil. Dina bisa merasakan bibir Pak Pramono membuka dan lidahnya menjelajah ke dalam mulut Dina.

Tangan Pak Pram memeluk pinggang langsingnya dan menarik tubuh Dina agar lebih mendekat. Lidah mereka beradu dan Dina memejamkan mata.

Beberapa saat kemudian ciuman itu berakhir. Dina merasa mulutnya sudah sangat ternoda.

“Boleh juga.” Kata Pak Pramono sambil duduk di ranjang. “Sekarang buka bajumu. Aku ingin melihatmu bugil.”

Dina memang sudah pernah telanjang di hadapan pria ini, satu-satunya lelaki yang pernah menidurinya selain suaminya sendiri. Kepalanya sudah buntu, ia tidak lagi melihat jalan keluar kecuali menuruti semua permintaannya.

Tangan Dina segera membuka kancing bajunya. Satu persatu pakaian Dina melorot ke lantai. Baju, rok, sepatu dan rok dalam sudah dilepas oleh sang bidadari jelita. Kini di hadapan Pak Pramono berdiri seorang ibu rumahtangga yang amat molek yang hanya mengenakan celana dalam dan BH.

“Tubuhmu memang benar-benar seksi.” Kata Pak Pramono, matanya nanar ingin segera melahap tubuh Dina. “Aku sudah sering meniduri banyak wanita, tapi tubuhmu adalah yang paling indah yang pernah aku entoti.”

Dina mencoba menutupi ketelanjangannya karena risih. Tangannya menutup buah dada dan selangkangannya.

“Bukankah aku sudah bilang aku ingin melihatmu bugil? Buka semuanya.”

Dina mendesah pasrah dan mulai melepas BHnya. Perlahan-lahan Dina meloloskan BH melalui kedua lengannya dan melemparkannya ke dekat pakaian di lantai. Dina membungkuk dan melepas celana dalamnya.

“Lemparkan celdamnya.” Kata Pak Pramono.

Dina melempar celdamnya ke tangan Pak Pramono. Pria tua itu segera mencium dan menghirup bau memek Dina yang masih tertinggal di celana dalamnya.

“Hmmmmm… harumnya.” Kata Pak Pramono sambil memasukkan celana dalam Dina ke kantong celananya sendiri.

“Pak Pramono… aku…”

Tanpa banyak bicara Pak Pram kembali menganggukkan kepala ke arah Dina. Dia masih duduk di pinggir ranjang. “Berlutut di depanku, Mbak Dina.”

Dina berjalan perlahan ke arah Pak Pramono dan duduk berlutut di hadapannya. Dina tidak pernah menikmati oral seks. Anton sering menyuruhnya tapi Dina selalu menolak dengan berbagai alasan. Dina tidak pernah mau menelan sperma suaminya. Sekarang dia malah sepertinya harus mengoral laki-laki lain yang bukan suaminya sendiri!

“Keluarkan burungku dari sarang, Mbak Dina. Aku kok ingin lihat kontolku diciumi oleh bibir semerah bibir anda.”

Dina membuka celana Pak Pram dan menarik semua ke bawah berikut celana dalamnya. Kontol Pak Pram langsung terbebas dan berdiri tegak di depan wajah Dina. Walaupun sudah pernah melihatnya, Dina selalu terkejut melihat kontol Pak Pram. Penis ini memang Pak pram begitu panjang, besar dan bertonjolan urat halus.

“Pak Pram……”

“Sudah pernah kan?”

“Sudah. Hanya untuk Mas Anton. Tidak suka.”

“Sayang sekali. Mulutmu terlalu indah untuk dibiarkan menganggur. Sesudah melakukannya denganku, Mbak Dina tidak akan ragu lagi untuk melakukan oral seks.”

Dina terus memperhatikan penis Pak Pram. Dia hanya pernah memasukkan satu penis ke dalam mulutnya dan itu adalah milik suaminya sendiri. Tapi hari ini, sambil berlutut di hadapan penis Pak Pramono, istri yang tadinya setia itu harus melayani nafsu hewani sang pria tua.

Dina mengeluarkan lidah dan menjilat ujung gundul kontol Pak Pram, merasakan lendir yang keluar dari rekahan dengan lidahnya. Perlahan-lahan, ditelannya seluruh kontol Pak Pram.

“Ah, enak…” desis Pak Pram. Tangannya meraih rambut Dina dan menguntainya lembut. Dia mendorong penisnya lebih jauh ke dalam mulut Dina.

Dina menutup mata dan mencoba menahan diri agar tidak tersedak oleh desakan kontol Pak Pram yang terus didorong masuk ke tenggorokan. Si cantik itu berusaha keras agar bisa bernapas saat Pak Pram mulai mendorong pinggulnya agar batang kejantanannya terbenam dalam di mulut Dina.

Tangan Pak Pram memegang kepala Dina dan membimbingnya agar bisa mengocok penis Pak Pram dengan mulutnya yang mungil. Tiap kali menarik kepala Dina, hidung si cantik itu terbenam sampai ke dalam rambut kemaluan keriting milik Pak Pram.

“Terus sayang. Enak banget disepong istri orang!” kata Pak Pram sambil terus menggerakkan kepala Dina pada kontolnya.

Dina meletakkan tangannya di paha Pak Pram agar bisa meraih keseimbangan. Jari jemari Dina bisa merasakan sentuhan bulu-bulu kaki Pak Pram yang keriting.

“Pakai lidah.” Perintah Pak Pram sambil memompa lebih kencang.

Dina menggunakan lidahnya untuk memijat seluruh batang penis Pak Pram. Suara berkecap mulut Dina memenuhi ruangan yang sepi. Dina memejamkan mata, dia tidak ingin melihat dirinya sendiri menelan kontol Pak Pram.

“Arrrghhhh… Mbak Dinaaaa! Enagghhhk banget! Aku mau keluaaaaar! Ahhhh!!”

Dina berusaha menarik mulutnya, tapi Pak Pram menjambak rambut Dina dan memaksanya terus menelan kontolnya yang besar. Dina menggelengkan kepala dan berusaha melepaskan diri dari tangan Pak Pram. Dina tidak mau Pak Pram muncrat di dalam mulutnya. Namun usahanya sia-sia belaka.

Si cantik itu bisa mendengar suara tawa Pak Pram ketika akhirnya ujung gundul batang kejantanan pria tua itu meledakkan muntahan pejuh di dalam mulut Dina.

“Telan.” Kata Pak Pram dengan penuh kuasa, kontolnya dilesakkan sampai ke ujung.

Dina tidak bisa menahan lagi, rasanya sudah ingin muntah, dan dengan terpaksa ia menelan semuanya dalam satu tegukan. Semua muntahan sperma Pak Pramono masuk ke tenggorokan sang ibu muda jelita itu.

“Pinter banget.” Kata Pak Pramono sambil mengendurkan pegangannya dan membiarkan Dina jatuh ke lantai dengan lemas.

Dina menundukkan kepala, dia tidak bisa menghentikan air mata yang terus jatuh menuruni pipinya yang putih mulus. Bibirnya memar dan mulutnya terasa sakit usai mengoral penis Pak Pramono.

Tenggorokan Dina terasa kaku karena dipaksa menelan kontol besar sampai ke ujung. Dina menunggu sampai Pak Pramono menyuruhnya mengenakan baju. Dia ingin segera pergi meninggalkan kamar ini. Pulang ke rumah, mandi besar lalu tidur.

Dina ingin segera meninggalkan semua mimpi buruk ini.

Jari jemari Pak Pramono mengelus dagu Dina dan mengangkat wajahnya.

“Kenapa menangis? Tidak suka blowjob?”

“Tidak.” Kata Dina pelan.

“Mbak Dina pintar sekali nyepong kontol. Seharusnya bangga lho bukannya malah menangis, tidak semua orang punya kemampuan itu. Nikmat banget rasanya. Bikin aku cepet banget orgasme.”

Dina tidak peduli. “Bolehkah saya pergi sekarang?”

“Pakai bajumu dulu.”

Wajah pria itu berubah menjadi sopan. Dina segera berdiri dan mengenakan pakaiannya.

“Pak Pram, celana dalam saya?” tanya Dina yang sudah bersiap mengenakan rok.

“Buat aku saja, sayang. Kamu beli yang baru.”

Dina tidak ingin berdebat dengannya. Setelah usai mengenakan pakaian, Dina langsung bergegas berdiri dan mengambil tas serta jaketnya di lemari. Dina sudah membuka pintu saat Pak Pramono memanggilnya.

“Mbak Dina.”

Dina terhenti di koridor. Dia menoleh sedikit ke belakang.

“Aku akan menghubungimu lagi.”

Dina tidak mengatakan apa-apa dan segera melangkah pergi meninggalkan Pak Pramono dengan hati yang berdebar kencang dan badan lemas. Dia amat bersyukur Pak Pram tidak menidurinya hari ini.

Bersambung