Agen Bola Terminal Bandar Bola Terpercaya
LAPAKDEWA LAPAKPOKER

Rahasia Pribadi Part 30

Part 1Part 2Part 3Part 4Part 5Part 6Part 7Part 8
Part 9Part 10Part 11Part 12Part 13Part 14Part 15Part 16
Part 17Part 18Part 19Part 20Part 21Part 22Part 23Part 24
Part 25Part 26Part 27Part 28Part 29Part 30Part 31Part 32
Part 33Part 34Part 35Part 36Part 37Part 38Part 39Part 40
Part 41Part 42 END

Rahasia Pribadi Part 30

Start Rahasia Pribadi Part 30 | Rahasia Pribadi Part 30 Start

Didalam sebuah ruangan, yang terlihat begitu rapih, bersih terlihat seorang pria dengan berpenampilan elegan namun sedikit cuek sedang duduk di sofa sambil mengangkat ke dua kakinya yang diletakkan di atas meja. Ruangan Marketing Direktur, Nostra sedang duduk santai memegang soft drink di tangan kanannya dan sekilas wajahnya sedang memikirkan sesuatu. Jam dinding yang terletak di atas dinding sejajar dengan LCD TV didalam ruangan menunjukkan pukul 12.30 WIB, saatnya jam makan siang. Namun, sepertinya Nostra enggan untuk meninggalkan ruangannya saat ini.

Kemudian Nostra beranjak dari sofa menuju meja kerjanya, lalu melihat di layar laptopnya foto-foto hubungan Hellen dengan salah satu pria yang juga dikenalnya sedang bermesraan di beberapa tempat. Foto itu diberikan oleh Ichi, salah satu karyawan bagian finance di 3MP. Seringai senyuman terlukis diwajah Nostra, lalu ia mulai mengambil sebuah catatan kecil untuk menuliskan beberapa plan kedepan yang akan dia lakukan.

“Ok neng, sudah waktunya.” Gumam Nostra pelan saat selesai menuliskan beberapa rencana di buku catatan kecilnya.

Nos kemudian meraih HPnya lalu menelfon seseorang yang akan masuk dalam rencananya kali ini.

“Halo, lagi dimana neng,?” Tanya Nostra saat orang yang ditelfon mengangkat telfonnya diseberang.

“Nih masih dikampus A, ada apa yah nelfon neng? Lagi kangen yah… hihi,” jawab orang itu yang ternyata Hellen tunangan Nostra.

‘Kampus birahi kali nyet!’, Gumam Nostra dalam hati dengan senyum sinis tersungging di wajahnya.

“Oh gitu…Aa ganggu gak?” Tanya Nostra.

“Gak kok A, nih neng juga lagi nyantai… kan minggu depan udah libur semester” jawab Hellen membuat Nostra berfikir bahwa saatnya sudah tepat.

“Kebetulan tuh Neng, hemm… minggu depan aa mau ngajakin neng liburan. Mau gak?” Ujar Nostra.

“Mau…mau a’, hehehehe emangnya mau ngajakin neng kemana a?” tanya Hellen dengan suara riangnya dari seberang. Nos hanya tersenyum sinis sambil ngangguk-nganggu karena rencananya mulus tanpa ada hambatan.

“Ada deh, yang jelas neng bakalan senang kok… aa juga lagi suntuk ama kerjaan, makanya pengen liburan dulu lah.” Jawab Nostra.

“Yah udah neng ikut aja, terserah aa mau ngajakin neng kemana… mendaki kenikmatan juga neng ikut. Upsss maaf a becanda” ujar Hellen membuat Nos geleng-geleng kepala.

“Hussss…ngawur ah. Yah udah nanti aa kabarin lagi yah waktunya kapan kita berangkat.” Ujar Nostra.

“Oce deh aa ku yang paling ganteng… muachhh muachhh.” ujar Hellen sok manja di telfon.

“Hehe… pasti lagi ada maunya nih?”

“Hihihi…aa tau aja. Sangunya a, udah habis yang minggu lalu.” jawab Hellen.

“Oke, ya udah habis tutup telfon aa langsung transferin yah. Byeee.” Jawab Nostra lalu menutup telfonnya dan membuka Mobile Banking dilayar HPnya untuk mentransferkan sejumlah uang ke rekening Hellen.

“Silahkan menghabiskan duit yang gue kirim nyet. Lu kira gue rela apa. Hahahaha” Gumam Nostra kembali dalam hati saat selesai melakukan transfer dana.

~•○●○•~​

Beberapa saat yang lalu…

Seorang gadis di depan layar monitor komputer dimeja front line lantai satu 3MP, sedang gelisah sambil matanya tak hentinya melirik jam dinding di depannya. Ada rasa kangen dan rasa aneh saat seharian ini tak mendapatkan kabar dari seseorang yang selama ini sudah menyentil isi relung hatinya. Kadang juga matanya sesekali melirik sebuah rantang yang ia letakkan di bawah kursinya. Rantang yang dia bawa dari rumahnya yang memang spesial akan ia berikan ke pria yang seharian gak ada kabar ataupun sekedar basa-basi menghubunginya seperti biasa.

Bahkan jam dinding sudah menunjukkan waktu makan siang, namun sosok yang ditunggu tak kunjung terlihat batang hidungnya keluar dari lift direksi. Ada apa yah dengannya? Pikirannya berkecamuk mengingat hari ini ada yang berbeda dari pria itu yang tak lain adalah Nostra.

Yah, Elsya sedari tadi antara mau menelfon Mr.Nostra atau sekalian nunggu orangnya turun untuk makan siang, baru dia memberikan rantang yang sudah dilengkapi dengan lauk pauk spesial bikinan gadis itu. Namun, yang dinanti tak kunjung datang.

Seorang pria memakai seragam ISC (Jasa Cleaning Company) sedang masuk dari pintu lobby dan sepertinya akan naik ke lantai direksi. Senyum sumpul tersungging diwajah Elsya, saat bertemu pandang dengan pria itu.

“Eh eneng Elsya, kok senyam-senyum sendiri sih? Jangan bilang jatuh cinta ama akang?” Tanya pria itu saat menghampiri meja Elsya.

“Ihhhh Kang Paidi PD banget deh… hihi, hemmm. Elsya pengen minta tolong sih ama Kang Pai. Boleh gak?” Jawab Elsya membuat pria itu yang bernama lengkap Paidikage mengangkat sebelah alisnya.

“Wuih, untuk nona cantik kayak neng Elsya. Disuruh nyebur di lautan pun atau disuruh tabrak keretapun akang rela dah. Hehe,” ujar Paidi sok nge-gombal.

“Ihhh apaan sih Kang, udah deh gombalnya. Basi banget,” ujar Elsya sambil senyam senyum melihat tinglah supervisor CS tersebut.

“Kali aja nengnya tergoda… hihihi,” jawab Paidi sambil cengingisan.

“Gak banget deh Kang, Elsya gak mau jadi bini ke tiganya kang Pai. Enak aja, mending nyari yang bujang.” Jawab Elsya menyinggung si Paidi yang memang sudah mempunyai dua istri.

“Busyet dah… hahahaha ya udah mau minta tolong apaan nih ama akang? Selama akang bisa bantu, pasti akang laksanakan amanah neng Elsya dengan sebaik-baiknya.” Ujar Paidi.

“Hihi… ini sih Kang, Elsya pengen nitip ngasih ke ruangan Pak Nostra.” Jawab Elsya sambil memperlihatkan rantang yang tadi.

“Ohhhhhh… hemmm hemm. Udah ada kemajuan nih hihi. Lanjutkan neng.” Ledek Paidi karena memang dia sudah mengetahui apa yang terjadi antara Elsya dan Nos. Secara kan dia selalu lalu lalang di daerah lobby karyawan dan selalu mencuri-curi pandang kegiatan para direktur dikantor 3MP.

“Ihhh dasar tukang gosip. Mau bantuin gak nih Kang?” Cibir Elsya.

“Oke… sini, kebetulan akang juga mau naik keruangan Bos Nostra. Sekalian aja kan.” Ujar Paidi dan Elsya memberikan rantangan itu ke Paidi.

“Makasih sebelumnya yah Kang.”

“Sami-sami neng. Ya udah akang tinggal dulu yah.” Balas Paidi dan akhirnya pria itu meninggalkan Elsya sendiri dengan berbagai macam perasaan aneh dibenaknya.

Gak sabar apakah Nostra akan menyukai makanannya? Atau bahkan Nostra hanya membiarkan rantangnya di ruangannya tanpa menyentuhnya sedikitpun. Was-was di pikirannya. Apakah Nostra masih sama dengan Nostra yang dikenalnya? Entah lah. Karena mengingat seharian pria itu tak sedikitpun mengabarinya.

Waktu telah berlalu kurang-lebih setengah jam, tapi berbeda dengan Elsya yang merasa waktu berjalan terasa sangat lama. Tak sabar ingin mendengar komentar dari Nostra, tentang makanannya yang memang baru kali ini Elsya memberikan perhatian penuh terhadap pria itu.

Walau lambung sudah keroncongan, namun Elsya sepertinya masih menunggu respon dari Nostra dan masih duduk diam di mejanya saat ini.

Beberapa temannya yang lalu lalang untuk istirahat makan siang dikantin belakang mengajaknya untuk istirahat. Tapi Elsya menolaknya karena masih ingin menunggu pria itu.

“Duhh, lama banget yah. Jangan-jangan si aa masih sibuk dengan kerjaannya,” gumam Elsya pelan.

Gadis itu menoleh kembali ke jam dinding, yang ternyata 45 menit telah lewat namun belum ada tanda-tanda respon dari Nostra.

“Ada apa yah? Tumben banget si aa gak ada kabar sama sekali.”

Elsya makin tak sabar menunggu kabar dari Nostra, lalu dengan inisiatifnya akhirnya mencoba menghubungi HP pria itu.

——​

Kembali di ruangan MD, setelah menutup telfonnya. Tiba-tiba pintu ruangan diketuk oleh seseorang.

Tok…tok…tok! “Masuk,” teriak Nostra yang sedang duduk dimeja kerjanya sambil masih fokus menatap layar laptopnya.

“Siang Pak, ada titipan dari Pak Paidi. Aku taruh di sini aja yah pak.” Ujar Sekertaris pribadinya, dan Nostra hanya mengangguk tanpa menoleh sedikitpun ke sekertarisnya yang meletakkan rantangan dari Elsya di atas meja didepan sofa.

“Permisi pak.” Ujar sekertarisnya lagi memohon pamit untuk keluar ruangan.

“Hemm…” jawab Nostra berdehem tanpa menoleh sedikitpun dan juga tak bertanya, apa titipan dari Paidi tadi.

Sepertinya memang Nostra saat ini sedang sibuk mengerjakan beberapa report strategy plannya untuk quartal depan. Karena terlihat tak sedikitpun ia menoleh ke arah rantangan di atas meja dalam ruangannya yang berjarak kurang lebih 2 meteran dari meja kerjanya saat ini.

Beberapa saat kemudian, dering HPnya mengagetkan pria itu dari kesibukannya barusan. Ia pun mengernyitkan keningnya, saat melihat nama Elsya di layar Hpnya.

“Yah Neng.” Jawab Nostra tersenyum saat mengangkat telfon dari Elsya.

“Pak, jangan lupa makan yah. Jaga kesehatan,” ujar Elsya ditelfon.

“Iya neng, bentar lagi gue turun ke bawah untuk makan siang. Lu dah makan belum?” Tanya Nostra tapi tatapannya masih di layar laptopnya.

“Gak perlu repot-repot turun Pak, kan tadi neng titipin ama Pak Paidi. Emangnya belum sampai yah pak di ruangan? Padahal udah sejam yang lalu loh.”

“Ups…” ujar Nostra menyadari sesuatu, kemudian ia melihat titipan dari Paidi yang ada di atas meja. “Astaga! Maaf neng, itu kamu yang titip?” Lanjutnya kemudian beranjak dari kursi kerjanya untuk mengambil rantangan di atas meja.

“Jadi bapak dari tadi gak tau kalo itu dari Elsya? Ya udah deh, Elsya minta maaf pak kalo sudah mengganggu kesibukan bapak.” ujar Elsya terdengar nada suara kekecewaan dirinya terhadap pria itu.

“Eh bukan gitu neng… widih, yummyyy… pasti enak nih” jawab Nostra mengalihkan pembicaraan karena sudah membuka rantangan dari Elsya yang didalamnya sudah terdapat ayam goreng kecap, telor balado, sayur asam dan beberapa tempe dan tahu yang sengaja ia masak demi pria itu. Walau sederhana, tapi terlihat Nostra senang atas perhatian yang diberikan oleh Elsya.

“Kalo gak enak, simpan aja pak. Biar nanti di ambil kembali ama Pak Pai” Ujar Elsya.

“Ini Nengnya yang masak? Enak banget…nyammm…kriukkkk” ujar Nostra sambil mengunyah makanannya.

“Iya Pak, ya udah maaf kalo udah mengganggu.”

“Eits… yang nyuruh neng nutup telfon siapa? Sok naik aja ke atas. Gue nunggu di ruangan yah.” Ujar Nostra menyuruh Elsya untuk naik keruangannya.

“Gak baik pak, bawahan seperti saya naik ke ruangan bapak kalo gak ada kepentingan”

“Eh yang bilang gak ada kepentingan siapa? Ini perintah! gak pake alasan. Daaaahhh gue tutup yah. Gue tunggu disini. Kita makan bareng” ujar Nostra lalu menutup telfonnya sepihak sebelum Elsya melanjutkan perkataannya.

Setelah menutup telfon, terlihat sebuah senyuman diwajah Nostra mengingat tingkah gadis itu yang selama ini memang sudah mengalihkan perhatiannya dari Hellen. Sejenak, pria itu melupakan masalahnya saat ini yang sudah didepan mata. Tergantikan dengan sebuah senyuman indah dari gadis yang baru saja terlintas dibenaknya saat ini.

Ia akuin saat ini, dirinya telah jatuh cinta terhadap gadis yang bernama lengkap Elsya Kirana. Ada sesuatu yang dimiliki oleh gadis itu yang membuat Nostra harus bertekuk lutut dihadapannya. Namun, bukan Nostra namanya kalo tak mampu menyembunyikan perasaannya terhadap lawan jenisnya.

Sambil mengunyah se-sendok makanannya, pikirannya melayang mengenang beberapa kejadian yang di anggapnya cukup berbekas dihatinya. Senyuman, keluguan gadis itu dan juga perhatiannya secara tidak langsung terhadap Nostra sudah cukup membuat pria itu tersenyum sendiri.

Tok…tok…tok! Suara ketukan dipintu membuyarkan lamunannya, lalu ia beranjak untuk membukakan pintu karena jelas ia mengetahui siapa yang mengetuk dibalik pintu ruangannya.

Senyuman yang menawan, sambil menggembungkan kedua pipinya. Elsya, sudah berdiri didepan Nostra saat pria itu membukakan pintunya.

“Masuk gih.” Ujar Nostra mempersilahkan gadis itu masuk kedalam ruangannya. “Ti, kalo ada yang nyariin gue, kecuali si boss. Bilang gue lagi sibuk yah.” Lanjut Nostra memberitahukan kepada sekertaris pribadinya dan dijawab dengan sekali anggukan oleh wanita yang sudah 2 tahun menjadi sekertaris MD di 3MP.

“Makasih Pak,” balas Elsya saat berada didalam ruangan.

“Just Aa.” Ujar Nostra sambil tersenyum.

“Kan masih dikantor Pak.” Jawab Elsya tersipu sambil wajahnya dibuat cemberut.

“Ini perintah… gak terima? Kalo iya gue bakalan nyium lu neng.hihihi,” ujar Nostra membuat Elsya geleng-geleng kepala sambil melangkah ke sofa.

“Yuk, pasti neng belom makan kan?” Ujar Nostra mengajak Elsya untuk makan bareng.

“Ehmm…belum sih, kan Elsya nungguin aa makan dulu.” Jawaban tulus dari Elsya benar-benar membuat Nostra menjadi semakin kagum dengan kepribadian Elsya, hingga membuatnya tanpa sadar menatap wajah cantik Elsya tanpa berkedip.

“Ihhh aa kok ngeliatin Elsya ampe gitu banget sih? Ayo di makan atuh a makanannya,” ujar Elsya dengan wajah yang merona merah, menahan malu karena ditatap oleh Nostra.

“Hehehe. Gak kok. Yuk kita makan dulu neng.” Ajak Nostra. Dan Elsya pun kemudian mulai menikmati hidangan makan siangnya bersama dengan Nostra di sofa, berhadapan dengan LCD TV dalam ruangan Nostra itu.

“Hmm…a…maaf ya kalo Elsya salah. Elsya cuma pengen tanya, aa emang lagi ada masalah apa sih?” Elsya tiba-tiba bertanya kepada Nostra saat mereka berdua sudah selesai menyantap makan siang yang khusus disiapkan Elsya itu, dan membereskan sisa makanannya.

“Kenapa neng nanya kaya gitu?” Nostra malah bertanya balik kepada Elsya.

“Habisnya… aa nya hari ini aneh deh. Gak ada kabar sedikitpun dari pagi tadi. Gak seperti aa yang biasanya,” ujar Elsya.

“Ohh…cuma lagi banyak kerjaan aja sih neng. Kalo gak percaya, sok liat aja tuh di laptop aa.”

“Iya a, Elsya percaya kok. Ehmm…Elsya salah gak sih kalau Elsya nanya kenapa hari ini gak ada kabar gitu?” Tanya Elsya lagi.

“Gak salah kok neng. Neng cuci tangan di toilet aja, westafel ada di toilet.” Ujar Nostra menunjuk toilet dalam ruangannya dan Elsya pun beranjak masuk kedalam toilet untuk mencuci tangannya dari bekas makanan.

Tak lama Elsya kembali ke sofa dan membereskan semua rantang, menyeka meja dengan tissue lalu setelah bersih, ia pun duduk di sofa kembali bersebelahan dengan Nostra.

“Oh iya, minggu depan Aa ada schedule keluar negeri. Ada kerjaan dadakan soalnya disana. Neng gak apa-apa kan, kalo aa tinggal dulu seminggu?” Tanya Nos saat mereka lagi santai.

“Gak apa-apa kali a, namanya juga kerjaan. Masa iya Elsya harus ngelarang. Lagian, Elsya siapa sih mau ngelarang-ngelarang aa nya tuk pergi?” Ujar Elsya dengan wajah cemberut namun terlihat manis didepan Nostra.

“Elah nih anak… lu itu adalah calon istri aa. Masa iya harus berulang-ulang kali aa harus bilang?” Jawab pria yang duduk disebelah gadis itu. Nostra menarik lengan kirinya lalu menggenggam jemari gadis itu.

“Bercandanya jangan keterlaluan atuh a, emangnya aa gak kasihan ama Elsya kalo nanti Elsya mengharapkan semuanya menjadi kenyataan, sementara aa hanya bercanda.” Jawab Elsya membuat Nostra hanya menatapnya dengan tatapan sedikit jahil.

“Jadi, sekarang nengnya belum percaya ama aa?” Tanya Nostra dan Elsya hanya menunduk sambil mengangguk. Namun, di hati Elsya yang paling dalam seperti merasakan sebuah keseriusan dari pria itu.

“Ya sudah, kalo udah waktunya. Neng bakalan jadi istri aa. Asal, neng jangan selingkuh yah. Awas kalo aa tau, aa gak bakalan memaafkan sedikitpun apa yang neng lakuin. Ingat, sekali berbuat salah. Pantang bagi Nostra untuk memaafkan.” Ujar Nostra menatap wajah Elsya dengan tatapan tajamnya membuat Elsya bergidik. Baru kali ini, gadis itu melihat sebuah keseriusan di wajah Mr.Nostra. tidak seperti biasanya.

“Iya A, neng akan jaga amanah aa. Dan, aa gak bakalan menyesal nantinya.” Jawab Elsya tersenyum.

“Amiiinnnn… ya udah, berarti sekarang nengnya percaya kan ama aa?” Tanya Nostra dan dijawab dengan anggukan oleh gadis itu.

“Dikit, hihihihi.” Jawab Elsya membuat Nos gemes terhadapnya, lalu Nos mengucek-ucek rambutnya. “Aihhhh, kan terbongkar deh rambut Elsya. Aa sih jahil banget” lanjutnya sambil membetulkan kembali rambutnya yang sempat acak-acakan.

Setelah membetulkan rambutnya, Elsya menoleh kesamping dan sedikit terkejut karena Nos sudah mendekatkan wajahnya ke wajah gadis itu. Perlahan tapi pasti Nos mulai memegang dagu Elsya. Lalu tinggal berjarak 1 centi…

Kriek! Pintu ruangan terbuka, membuat Nos dan Elsya gelagapan.

“Ups, busyet dah lu Nos…mesum dikantor lu.” Ujar L yang ternyata baru saja membuka pintu ruangan Nos bersama Al.

“Ck…ck…ck, nyari hotel gih kang. Malu-maluin aja,” Al menimpali sambil tertawa.

“Eh, ma…maaf Mr.L dan Pak Al,” ujar Elsya yang sudah berdiri sambil menunduk memberi hormat.

“Elah, kebiasaan lu berdua yah… masuk ruangan kagak pake ngetuk segala.” Ujar Nos yang sudah berdiri dan mendekat ke arah L dan Al yang juga sudah masuk kedalam ruangan.

“Sengaja ncuk, kali aje gue bisa nangkap basah lu lagi coli. Hahahahaha,” ledek L membuat Elsya hanya senyam-senyum melihat ke-akraban ketiga pria dihadapannya.

“Cabut yuk Nos,” ujar L. Sementara Al hanya menggerakkan kepalanya untuk mengajak Nostra pergi.

“Hemmm… ya udah yuk,” jawab Nos lalu menoleh ke belakang melihat Elsya masih berdiri. “Ya udah Neng, aa mau keluar dulu ya. Neng lanjut kerja aja dulu yah.” Lanjut Nos.

“Iya Pak, kalo begitu Elsya pamit dulu mau ke bawah,”

“Ok sayang,” jawab Nos.

“Mr.L dan Pak Al, Elsya pamit yah.” Ujar Elsya lagi sambil melangkah untuk keluar ruangan dan pamitan terhadap L dan Al.

“Tenang Sya, akang Nos bakalan gue jagain biar gak bandel diluar… hahahahaha” celetuk L membuat Elsya makin tersipu sambil berjalan menunduk.

“Ngehe lu,” balas Nos.

Ketiganya pun tertawa dan Elsya akhirnya meninggalkan ruangan untuk kembali melanjutkan kerjaannya.

“Ya udah yuk cabut,” ajak L lalu ketiganya pun beranjak dari ruangan untuk keluar kantor.

~•○●○•~​

Angin berhembus dengan pelan, udara di kota Bandung yang sejuk bersama iringan lagu merdu dari suara gemericit burung saling bersahutan dan dibawah pohon yang rindang seorang pria sedang duduk bersama seorang gadis dikampus terkenal di kota pahrayangan.

Keduanya memandang para mahasiswa yang lalu lalang di sekitaran mereka, tatapan kosong karena dibenal mereka saat ini sedang berfikir tentang hubungan mereka yang sampai saat ini masih disembunyikan. Walaupun beberapa teman kampusnya maupun orang-orang terdekatnya sudah mengetahui hubungan mereka. Nick dan Hellen, mereka berdua saling menyelami pikiran masing-masing.

Terlihat sore ini Hellen tampak bimbang dan menjadi pendiam, Nick pun mengerti posisi gadis itu sekarang dipenuhi rasa dilema. Walaupun Nick sadar bahwa ia telah mencintai calon istri orang selama ini, tapi dibenaknya dia ingin tetap bersama dengan gadis itu.

Beberapa mahasiswa yang menyaksikan mereka tidak seberapa jauh, ada yang mencibir adapula yang hanya terkesan tersenyum dipaksa. Yah, karena beberapa temannya yang mengetahui bahwa Hellen mempunyai tunangan di Jakarta, sementara ia malah bermain serong dibelakang tunangannya itu .

“tu anak-anak kok ngeliat kita gitu sih!” kata Hellen agak kesal membuka obrolannya.

“ah biarin aja, mang knpa?” jawab Nick.

“Nggak enak aja tau, diliatin terus kaya gini, emang nya kita lagi ngapain sih? Kan cuman duduk-duduk aja. Kecuali kita lagi mesum-mesumanan, nah baru deh wajar mereka ngelihatin kita kek gitu” jawab Hellen sedikit cemberut.

“Hemm, jadi, minggu depan kamu udah berangkat bareng tunangan kamu?” tanya Nick yang mengingat tujuan mereka untuk bertemu hari ini, tanpa merespon keluhan Hellen barusan.

Hellen terdiam beberapa saat…

“Yah, dan hari ini aku pengen ngomong sesuatu ama kamu Nick….” jawab Hellen.

“Ngomong apaan?” Tanya Nick sedikit bingung.

“Kita sudahi saja hubungan kita yah, karena mulai detik ini Hellen pengen fokus menjaga cinta aa Nos terhadapku.” Jawab Hellen menunduk.

Berat sekali Nick mendengar semuanya, memang ia sadar bahwa Hellen akan kembali kepelukan Nostra. Namun, dibenaknya tetap tak rela melepaskan gadis itu. Semua nya belum terlambat. Tarikan nafas panjang dari pria itu membuat Hellen menoleh kesamping. Sejujurnya, gadis itupun tak rela kehilangan seseorang yang selama ini telah menemaninya, memberikan kasih sayang yang tak pernah ia dapatkan dari seorang Nostra. Dan tentu saja telah menemani hari-harinya beberapa bulan terakhir. jiwa raganya kan menjauh dan hanya kenangan yang tersisa. pintu sudah mulai tertutup rapat tak mungkin terbuka lagi, harapan Nick pun telah sirna sudah tenggelam bersama badai hati yang kini melandanya.

“Aku sakit hati Hel, kenapa secepat ini” desah Nick menahan emosinya. “kenapa begini akhirnya?” Lanjut Nick kemudian Hellen menatapnya, sorot mata yang menusuk hati pria itu.

“Apakah aku tidak punya kesempatan lagi untuk membuktikan bahwa aku jauh lebih baik dari tunanganmu itu?” Ujar Nick lagi yang membalas tatapan gadis itu. Kekecewaan melanda pria itu, ingin segera meluapkan semua emosinya. Namun, ia sadar bahwa situasi dan kondisi tidak memungkinkan.

“Maaf,” hanya kata itu yang terucap di mulut gadis itu. Hellen merasa sangat sulit menjelaskan dengan kata-kata. Hanya bisa menunduk dan mencoba menahan isak tangisnya.

“Tapi, tidak harus seperti itu kan,”

Daun-daun berjatuhan, bersama jatuh nya perasaan Nick, semua nya menjadi rumit seperti lilitan tali yang pagujud berserakan tak beraturan. Cinta di dunia ini beragam sekali dan begitu mengagumkan bila kita renungkan, mungkin bukan mereka saja yang mengalami hal seperti ini, dimana Nick harus menerima perempuan yang ia sayangi pergi dengan orang lain, mungkin ia tidak sendiri dan sangat menyadari dari awal akan seperti ini akhirnya. Ia berusaha menahan gejolak hati yang tidak menentu.

“Maaf, mungkin ini salah Hellen karena sudah berbagi cinta dengan kamu,” jawab Hellen yang sudah meneteskan air matanya.

“Sudahlah kita tidak perlu saling menyalahkan, karena tidak ada yang bisa mengubah segalanya” ujar Nick, mengingat ketidakmungkinan yang membayanginya saat ini. Nick kembali terdiam.

Tentu saja ia ingin sekali mempertahankan cintanya terhadap Hellen. Namun, ia sadar apalah artinya dia dimata Hellen jika dibandingkan dengan tunangan gadis itu. Seorang pria kaya raya yang mempunyai masa depan cemerlang.

Ingin sekali Nick memuaskan hasratnya yang terpendam. Ingin mengganti hari-harinya yang terlewat dengan percuma. Dan yang terakhir, ia ingin melupakan gadis itu. Gadis yang telah membuatnya merasakan kepedihan cinta.

“Ya sudah, kalo gitu Hellen pamit dulu yah Nick. Lupain Hellen. Lupain semua yang udah kita laluin selama ini ya Nick.” Ujar Hellen mengulangi maksudnya saat ini untuk berpisah dengan pria itu.

“Hemm, Yah sudah…mungkin…emang belum jodoh buat kita.” Desah Nick sambil menoleh kesamping.

“Semoga kamu bisa mendapatkan cewek yang lebih baik dari Hellen yah.” Hellen beranjak meninggalkan Nick yang masih duduk sendiri dengan berbagai pikiran di tempurung kepalanya.

“Kamu seenaknya aja mempermainkan aku. Kamu lihat saja nanti Hel, aku akan membalasmu melalui sahabat kamu, Elsya. Tunggu tanggal mainnya.” Gumam Nick dalam hati, matanya menatap kepergian Hellen yang makin menjauh dari tempatnya saat ini.

Ada perasaan dendam dari pria itu yang ingin membalas rasa sakitnya terhadap Hellen melalui sahabat gadis itu yaitu Elsya. Seuntas senyuman sinis terlukis diwajah Nick. Dia yakin bahwa Elsya akan bertekuk di hadapannya. Apalagi ia mempunyai senjata bahwa Nostra yang saat ini sedang dekat dengan Elsya, adalah seorang pria yang menjadi tunangan Hellen. Yang selama ini menjadi sahabatnya sejak kecil. Nick pun mulai merencanakan sesuatu, dimana ia akan memulai berangkat ke Jakarta.

~•○●○•~​

Kota Jakarta malam ini lumayan macet. JEEP GC kesayangan Al saat ini sedang merayap dikemacetan. Mencoba menembus perlahan-lahan ditengah jalan tol menuju suatu tempat. Yah, sore tadi Al mendapatkan telfon dari seorang gadis yang mengundangnya untuk bertamu di kontrakan barunya.

Diah, gadis yang beberapa hari yang lalu tinggal dirumah Al. Sekarang, atas bantuan pria itu akhirnya Diah bisa tinggal dirumah kontrakan yang tentu saja dibiayai oleh Al. Seluruh hutangnya telah selesai.

Akhirnya setelah bergerilya dengan kemacetan, JEEP Al tiba juga di depan kontrakan Diah yang terletak di daerah jakarta timur.

—​

Beberapa saat yang lalu…

Diah tak sabar menunggu di pintu rumahnya, mengingat saat ini pria yang sudah mengetuk isi hatinya akan berkunjung di rumah kontrakannya.

Berdiri lama selama hampir setengah jam membuat kaki Diah terasa pegal. Namun, ia seakan tak sabar akan kedatangan Al saat ini. Beberapa kali ia mondar-mandir didalam rumahnya. Tapi yang ditunggu tak kunjung datang. Beberapa kali pun ia menggerutu, karena sudah hampir jam 8 pria itu belum juga datang.

Beberapa saat kemudian, sebuah mobil JEEP hitam mengkilap berhenti di depan rumahnya. Seuntas senyuman kelegaaan dari gadis itu mengetahui siapa yang datang. Seorang pria berperawakan tinggi turun dari mobil itu, berjalan masuk ke dalam rumah dengan senyuman. Diah berlari mendekati orang itu, memaksa kakinya yang mulai tak nyaman dan lelah.

“Kak Al, kirain gak jadi datang” ujar Diah tersenyum sambil menyalim tangan pria itu.

“Tadi agak macet,” jawab Al singkat.

Beberapa saat digunakan Diah untuk mengatur napasnya, “Iya Kak, Diah ngerti kok…”

“Gak diajak masuk?” tanya Al membuat Diah mengangguk lalu mempersilahkan Al untuk masuk kedalam rumah.

Saat didalam rumah, dimana Al duduk di sofa panjang diruang tamu. Diah juga duduk di sofa yang berhadapan dengan Al. Ada perasaan tak menentu yang dirasakan oleh gadis itu. Tatapan Al membuatnya tak berdaya.

Tapi Al justru tersenyum, ia mengetahui apa yang ada dipikiran gadis itu. Namun Al saat ini teringat akan Reva yang menunggunya selama ini. Agar tidak terjadi sesuatu yang tidak di inginkan, berdua bersama Diah di rumah kontrakan gadis itu. Ada baiknya Al mengajak gadis itu sekedar menemaninya makan malam. Yah, itulah yang saat ini dipikirkan oleh pria itu.

“Sebaiknya kamu ganti baju gih, temani aku makan malam.” Ujar Al membuat Diah sedikit mengangguk, namun masih belum sepenuhnya sadar dari lamunannya.

“Hei, kok melamun?” Al membuyarkan lamunan gadis itu.

“Eh gak kok kak Al, kalo mau makan. Biar Diah masakin aja.” Ujar Diah namun Al menggeleng menolak tawaran gadis itu.

“Udah! aku gak mau ngerepotin kamu. Mending makan diluar aja kan, tinggal pesen trus makan. Ya udah kamu buruan ganti baju gih sana.” Jawaban Al membuat Diah hanya mengangguk, sambil memaksakan untuk tersenyum, walau hatinya sebenarnya enggan untuk memenuhi ajakan Al tersebut. Namun Diah tidak ingin mengecewakan pria yang sudah membuat hatinya bergetar itu.

—​

Resto yang gak begitu besar, dan tak jauh dari perumahan tempat Diah tinggal. Menjadi pilihan Al dan Diah untuk makan malam bersama.

Diah memilih duduk berdampingan dengan Al, lalu mencoba bersikap semenarik mungkin dihadapan pria itu. Sambil menunggu pesanan mereka datang, Al mencoba mengajak ngobrol.

“Jadi gimana kontrakan baru kamu? Betah?” ujar Al.

“Lumayan sih kak. Hihihi, Diah makasih banyak loh ama kakak. Udah mau menolong Diah.” Jawab Diah menoleh ke Al.

“Iya, sama-sama.”

“Hihihi, kak. Hemmm… pengen banget dengar Kak Al manggil nama Diah.” Ujar Diah membuat Al menaikkan satu alisnya.

“Lah, kan aku sering manggil nama kamu. Kok permintaan kamu aneh gini?” Ujar Al merasa heran terhadap gadis disebelahnya.

“Gak Kak,” jawab Diah sambil menggelengkan kepalanya mengartikan bahwa apa yang di ucapkan Al adalah salah. Pria itu tak sadar bahwa ia selama ini gak pernah memanggil nama gadis itu. “Kakak gak pernah manggil nama Diah sama sekali.”

“Masa sih? Ya udah Diah, gak usah mikirin aneh-aneh yah. Hehehe” ujar Al memanggil nama Diah, namun terlihat diwajah gadis itu sedikit rasa kekecewaan.

Entah mengapa Al tak pernah menyebut namanya sama sekali. Walau bagi Al mungkin memanggil nama Diah adalah sesuatu yang sederhana, tapi bagi Diah kata-kata itu merupakan kata-kata yang sangat di tunggu selama ini .

“Maafkan Diah yah Kak, sudah terlalu banyak minta ke Kakak.” ujar Diah penuh penyesalan. Wajahnya menunduk, sedang memikirkan sesuatu.

Diah menghela napas pelan, kakinya terasa lemas. Entah mengapa gadis itu seperti kehilangan tenaganya. Wajahnya berubah masam, menyadari bahwa ada sesuatu yang aneh terhadap pria disampingnya.

Al memberikan tatapan penuh tanya terhadap gadis itu. Justru yang terlihat aneh saat ini adalah gadis itu. Kemudian Al mulai mengusap rambut gadis itu, memberikan sedikit rasa nyaman.

“Ada apa? Kok kamu jadi aneh malam ini?” Ujar Al membuat Diah tersenyum sambil menggelengkan kepalanya.

“Cerita aja, mungkin kakak bisa membantu.”

“Gak kok Kak, lagian kakak udah banyak membantu sih. Masa iya Diah merepotkan Kak Al lagi untuk kesekian kalinya?” Ujar Diah membuat Al hanya tersenyum.

“Kak, hemmm… ada yang pengen Diah katakan mah Kakak,” ujar Diah kembali.

“Sok aja,”

“Kak, apakah kak Al udah punya cewek?” Tanya Diah sedikit bergetar bibirnya mengucapkan pertanyaannya barusan.

“Iya, hehehe. Kenapa gitu?” Sebuah jawaban singkat serta sebuah pertanyaan balik yang sederhana, namun bagi Diah, jawaban singkat itu seolah membuat jantungnya serasa berhenti berdetak. Sebuah rasa kekecewaan yang pedih langsung menusuk di hatinya.

“Gak kok Kak, aku cuma nanya doank.”

“Tapi dia di Makassar,” ujar Al membuat Diah tersenyum.

“Ohhh, jadi dia di Makassar yah. Pasti bahagia banget yah punya pacar kayak Kak Al.”

Al mengangguk pelan tapi diiringi dengan sikap acuhnya, “Tapi aku gak tau apa ia bahagia denganku atau tidak! Aku hanya bisa menjalaninya saja.”

Diah menggeleng-geleng mantap, “Wanita bodoh yang gak bahagia jika punya cowok seperti kakak.”

“Apakah aku gak punya kesempatan untuk memilikimu Kak? Apakah dia wanita yang memang telah kakak pilih untuk menjadi istri kakak kelak?” Pertanyaan itu terus saja muncul dalam kepala Diah. Sosok pria yang benar-benar telah membuatnya jatuh cinta untuk kedua kalinya. Dia berbeda, tidak seperti layaknya pria lain dengan karakter hidung belang yang menginginkan wanita-wanita untuk menemaninya tidur di ranjang. Pria itu terkesan sopan dan gentle. Pria itu mengeluarkan aroma maskulin yang begitu kental. Benak Diah berkecamuk memikirkan tentang Al di sampingnya.

Tanpa disadari Diah telah terpesona pada pada pria yang telah menjadi sebab kegelisahan hidupnya beberapa hari belakangan, dan tentunya Diah sadar statusnya saat ini yang gak se-level dengan pria itu.

“Ehemm…”

Keheningan di antara mereka terhenti setelah Al berdehem lembut memecah kesunyian. Al tersenyum tipis melihat Diah yang masih diam terpukau.

Tak lama akhirnya makanan yang mereka pesan tiba diantarkan oleh salah satu waitress. Kemudian Al dan Diahpun larut bersama sambil mengobrol santai menikmati makan malam mereka.

Namun, satu yang saat ini Diah pikirkan. Sebelum janur kuning terhias indah. Maka semua wanita masih berkesempatan untuk memilikinya. “Baiklah kak, aku gak akan menyerah sebelum kakak mengucapkan ijab kabul bersamanya.”

Still Continued

END – Rahasia Pribadi Part 30 | Rahasia Pribadi Part 30 – END

(Rahasia Pribadi Part 29)Sebelumnya | Selanjutnya(Rahasia Pribadi Part 31)