Agen Bola Terminal Bandar Bola Terpercaya
LAPAKDEWA LAPAKPOKER

Petualanganku Seorang Diri Part 23

Part 1Part 2Part 3Part 4Part 5
Part 6Part 7Part 8Part 9Part 10
Part 11Part 12Part 13Part 14Part 15
Part 16Part 17Part 18Part 19Part 20
Part 21Part 22Part 23Part 24Part 25
Part 26TamaT

Hari telah masuk pukul 5 kurang 10 menit. Pasien sudah habis sejak jam 4 tadi, dan rekap hasil praktek hari ini plus data-data obat juga perlengkapan habis yang perlu di mintakan lagi ke rumah sakit pun telah di disiapkan, kurir dari RSUD pun telah menjemput nya beberapa saat lalu.

Nampak Aryo, Mila dan pak Asep masih berbincang. Amih telah minta diri untuk pulang lebih awal 30 menit sebab anak balita nya sedang agak demam. Setelah diberi obat oleh Mila, Amih pamit pulang mengendarai motor matic jenis bebek nya.

“Dok.. Saya nanti izin pulang ke kampung bahari. Saya sudah waktunya pulang sejak kemarin belum pulang. Besok pagi aku kembali ke sini…”

Iya mas, ga papa. Mobil biar aja disini. Besok kamu aja yang pulangin ke rumah di Pandeglang yah. Disini aman kok. Ya kan pak Asep..?”

“Aman.. Aman dok. Nanti si Ujang ponakan saya itu saya pesanin khusus. Biar aja dok parkir di depan pintu, biar keliatan. Nanti pagar di kunci dari dalam…”

“Jangan dikunci pak, jangan.. Cukup di tutup dan di buka sedikit. Puskesmas harus buka terus, 24 jam.”

“Oke pak, siap.. ”

“Dok.. Pulang sendiri ini..?”

“Iya lah.. Kan kamu gak bisa antar…”

“Biasanya di jemput Arifin…”

Gak.. Aku gak mau jadi perempuan lemah. Aku harus mulai merubah diri jadi lebih kuat. Masa apa-apa di antar jemput. Nggak usah mas, toh aku tadi pagi juga jalan sendiri. Aku mulai menyukai kegiatan ini mas, dulu.. yah.. bulan lalu lah.. Aku masih terpaksa melakukannya. Tapi setelah pandangan ku soal pengabdian dan melayani itu muncul dan bertumbuh, aku jadi enjoy melakukannya. Bahkan, jika ada tindakan darurat pun yang mengharuskan aku menginap di sini, aku pasti lakukan dengan sepenuh hati. Semua karena kamu mas.. Karena kamu…”

Jawab Mila serius tapi lembut.

Pak Asep yang melihat nya, tersenyum tipis. Ia melihat perubahan yang drastis dari dr. Kamila. Dari dokter yang jutek, cetus, angkuh dan sombong, menjadi sosok sabar, ramah, peduli dan paling penting, bertanggung jawab akan tugas dan fungsi nya..

Pak Asep paham betul, siapa yang berperan penting merubah ini semua..

Pak Asep memandang pada Aryo.

Terlihat Aryo memandang Mila dan tersenyum tipis juga mengangguk.

Pukul 5 sore lebih 5 menit, mobil CRV putih Mila sudah meluncur meninggalkan Puskesmas.

Aryo pun pamit meninggalkan Puskesmas dan berjalan kaki menuju perkampungan nelayan.

Lewat 15 menit berjalan, dia sudah mulai masuk wilayah desa nelayan itu.

Cuaca masih cukup terang dan cerah.

Tapi ada pemandangan yang tak biasa. Terlihat desa yang biasanya ramai, saat ini sepi. Tak terlihat orang lalu lalang. Warung pun di biarkan terbuka tanpa ada yang jaga.

Perasaan Aryo tak enak, dia mempercepat langkah nya di jalan tanah itu, menuju rumah Mira.

Beberapa puluh langkah dia dapat melihat kerumunan warga di depan sebuah rumah yang dia kenal.

Ya…

Rumah Mira Kusumawati….

Tiba-tiba dari belakang nya meluncur 2 mobil avanza hitam melewati nya.

Mobil berhenti beberapa puluh meter dari rumah itu dan tidak dapat maju lagi sebab banyak nya warga berkerumun.

8 orang lelaki berbaju preman keluar dari ke dua mobil iru sambil menghunus pistol.

Saudara-saudara, mundur.. Ini polisi.. Mundur…”

Seorang dari mereka berteriak lantang.

Warga yang melihat kedatangan petugas, segera mundur dan membuka jalan. Tapi setelah petugas lewat, warga segera kembali menyemut dan ingin melihat apa yang terjadi…

Polisi segera masuk pekarangan rumah itu.

Di halaman yang tak luas itu, terlihat seseorang lekaki keluar.

Pak.. Tolong.. Tolong… Teteh sekarat… Tolong…. “

Sape’i teriak gusar..

Polisi segera menghambur ke dalam…

Aryo yang melihat itu pun menerobos masuk…

Tapi seorang polisi menahan dadanya…

Diam… Jangan maju… Kamu siapa…?”

“Pe’i… Apa yang terjadi…?”

Aryo teriak ke Pe’i

Mas… Teteh mas… Teteh… Dia di tusuk dan di bacok lelaki penjahat…”

“Ah.. Pak polisi saya mau lihat kondisi Mira..”

Kamu siapa nya..?”

“Dia calon kakak ipar saya pak…”

Pe’i yang menjawab…

Pak Polisi sekilas melihat Aryo lagi dan menurunkan tangan nya dan bergerak kesamping…

Aryo pun melesat ke dalam rumah…

Dia melihat beberapa polisi mencoba memapah kepala Mira yang terkulai, sedang perut nya robek juga leher kiri nya luka menganga dan darah mengucur laksana air tumpah dan membasahi lantai…

“Miraaa… Ini Aryo Mir… Jangan tinggalin aku Mir… Pak.. Tolong pak, ambulance pak.. Tolong… Aaahh…. Sayang… Kamu harus kuat..”

Aryo mencoba meminta ke polisi yang memapah kepala Mira untuk menggantikan posisi nya…

Mata Mira terbuka… Dan memandang Aryo..

Seketika air mata Mira keluar dan membanjiri pipi nya…

Maaf kan Mira mas.. Maafkan Mira.. Mira yang salah.. Tidak seharusnya Mira menerima lelaki itu masuk rumah ini dan menolong nya.. Padahal… Mira sudah jadi calon mu… Mira mohon maaf mas…”

“Apa yang terjadi..?”

Kemarin malam ada seseorang lelaki terluka tertembak yang tergeletak di luar pagar mas… Kebetulan teteh pulang mengaji dan menemukannya, lalu teteh tolong di dalam sini dan dia di rawat sama teteh.. Sampai dia sudah bisa bangun dan berjalan.. Tapi.. Tadi sore itu… Tepat sebelum maghrib, ada dua orang kakek masuk ke sini. Dan.. Dan… aku yang sedang di sebelah itu mendengar teriakan… Dan.. Aku lari kesini… Teteh lagi di sandera lelaki yang di tolong nya sedang dua kakek itu mencoba menyerang dia. Si Lelaki itu di panggil Yudi sama salah seorang kakek kaos putih. Yudhi menyeret teteh ke pintu belakang, dan saat terakhir, dia menusuk teteh dan menyabet leher teteh melempar kesini dan menghambur ke luar ke arah jembatan, dan sesaat kakek itu menolong teteh tapi setelah aku datang, ke dua kakek menyerahkan pada aku dan melesat secepat angin ke luar…”

“Ah… Doni.. Lihat kebelakang…”

Teriak salah satu polisi, yang pemimpin di grup itu..”

Sudah ndan.. Ada jembatan kayu yang menuju ke laut.. Sepi tak ada siapapun saya periksa sampai ujung jembatan…”

“Perkiraan saya pak, si lelaki yang di panggil Yudi itu pasti menggunakan perahu saya yang saya ikat di ujung jembatan… Dan ke dua kakek itu, kemana yah, tidak ada jalan lain selain kelaut dan jarak dengan jembatan tetangga sekitar dari 10m, apa kakek bisa melompat sejauh itu..?”

“Ah.. Ayo pak.. Kita bawa korban, nanti saja periksanya….”

Saya sudah menghubungi ambulance puskesmas.. Sedang perjalanan kesini…”

Tepat setelah polisi bicara… Seseorang wanita masuk ke dalam…

Saya dokter… Biar saya periksa…”

“Mila…”

Mas Aryo….

Polisi menyingkir, dan.. yang datang memang dokter Kamila…

“Mira.. Mil.. Mira… Dia…”

“Sudah Mas.. Ayo tunggu apa lagi…?”

Tiba-tiba sebuah tangan memegang tangan kiri Aryo yang memangku kepala Mira…

Sudah Mas.. sudah… Aku su.. dah gak ku.. at… Aku.. gak usah… di bawa.. bi.. ar aku diss.. sini…. saja...”

“Tidak Mira.. Kamu harus kuat.. Harus kuat sayang… Harus kuaat… Ayo..”

Masss.. sudahh.. aku.. aku yang salah…”

“Nggak.. Kamu gak salah.. Enggak salah apapun… Hati mu seperti emas, hati mu tak tega melihat orang lain menderita.. Kamu juga yang tolong aku 2minggu lalu, izin kan aku tolong kamu… ”

Aku tau mas… Tapi.. Aku.. udah selesai.. Waktu aku… Habisss…”

“Jangan omong gitu.. Aku dokter, aku harus selamatin kamu…”

Dokter Mila… Dok.. Mira.. tau.. se.. karang.. Ternyata.. yang di.. bilang mas Aryo be.. nar ten… tang dokter…”

“Teh.. Panggil Mila aja.. Maafin Mila teh… Mila malu…”

Mila berlutut disamping Mira di hadapan Aryo dan menangis, air mata mengalir di kedua pipinya…

Mila… Mas Aryo su.. dah.. cerita ama Mi.. ra soal Mila.. Dan.. Baru sa.. at i.. ni Mira bi.. ssa li.. hat lang… sung dan… dan.. Mira lega…”

“Udah teh.. Ayo kita ke rumah sakit.. Ini udah kelamaan…”

“Mila.. teteh titip mas Aryo yah.. Teteh gak bi.. sa.. la.. gihh… rawat mas mu… bi.. arr.. Mila.. a.. jahh.. yang ra.. wat mas mu yah…”

“Jangan omong gitu teh.. Mila yang datang belakangan, Mila tau diri, Mila akan mundur asal teteh sembuh… Pliss teh.. Teteh harus sembuhhh…”

Mila bicara sambil berlinang air mata…

Mira tersenyum dan memandang ke Aryo…

Mas.. aku.. titip Pe’i yah.. dia.. su.. dah tak pu… nya siapa.. pun… Ajari dia.. agar bi.. sa mandiri, sudah… cukup bagi aku.. dan.. Aku ikhlas kamu.. sama Milaaa…”

Mata Mira menutup dan kepala nya terkulai ke kanan…

Mira.. Telah pergi…

MIRAAAA…. TIDAAAKKK…”

Aryo memeluk Mira sekuat nya, dan mengguncang-guncang tubuh Mira…

Pe’i terduduk berlutut, Mila menutup matanya dengan ke dua tangan yang basah oleh air matanya….

Aryo terdiam, kepala menunduk, tapi pipi nya telah basah membanjir air mata.. dia sangat kehilangan…

Harapan nya, curahan hati nya, kesayangan nya…

Telah pergi selamanya….

Hancur hati berkeping-keping….

Mila pun menangis, terisak, sangat sedih…

Pe’i bangkit dari duduk nya dan masuk kamar nya di belakang. Kesedihan dan kerapuhan yang sangat dia alami saat ini..

Tak lama kemudian, dua orang lelaki pertengahan 50 an muncul dari pintu belakang…

Assalamualaikum…. “

Banyak mata berpaling ke asal suara itu…

Seorang perwira polisi bergerak medekati dua lelaki tua itu…

Maaf pak.. Bapak berdua ini apa yang tadi mengepung dan mengejar si buronan itu..?”

“Iya pak polisi.. Saya dan adik saya yang memergoki penjahat itu, tapi dia sangat licik dan terlatih. Maaf pak, saya bisa jelaskan semua di kantor, karena biar kita tidak mengganggu suasana ini. Kami berdua sangat menyesalkan kejadian ini. Dan.. Si Yudi itu berhasil lolos dengan perahu mesin yang tertambat tadi di ujung dermaga… Kami sudah mengejar dengan segala kemampuan kami, dia tetap terlalu jauh untuk di kejar…”

“Kakek Raga… Kakek Mat Rojak… Kek… Aku akhirmya paham omongan kakek tadi siang di Pandeglang…”

Aryo bangkit dan maju setindak…

“Maaf kan kami dok.. Kami si orang tua ini terlambat memahami situasi… Si Saiman dan si Abidin ini padahal telah di beri kabar oleh…”

Kakek Raga menjelaskan tapi terputus… Seakan menimbang…

“Sudah kek… Saya paham… Nanti saja kek… Aryo menghaturkan terimakasih dan hormat pada kakek berdua…”

Aryo menundukkan diri…

Tapi Kek Saiman menahan tubuh Aryo..

Jangan… Ini tugas kami… Dan.. Belom selesai… Belum…. Aku akan kejar kemanapun dia lari di wilayah Banten ini… Aku bersumpah.. Dia sudah menusuk aku dari belakang…”

“Sebentar… Bapak berdua.. Apa benar saya berhadapan dengan Si Raga dan Mat Rozak yang legendaris itu..?”

Komandan polisi menyela pembicaraan…

Kakek Saiman dan Kakek Abidin terdiam…

Semua yang hadir pun menjadi terdiam, memandang pada dua kakek itu…

Kakek Saiman memandang ke polisi itu…

Iya pak… Kami berdua…”

Ooohhh….

Seruan tertahan terdengar di ruangan itu…

Maaf pak polisi, maaf… Kami berdua terlambat… Kami siap memberi keterangan di kantor bapak…”

“Abdul… Amankan TKP.. beri garis polisi. Pemeriksaan di teruskan oleh INAFIS.. Saya minta semua yang tak berkepentingan keluar dari rumah ini.. Untuk kakek berdua, kami minta kerjasamanya memberi keterangan di kantor polisi…”

Tiga anggota polisi berpakaian preman segera meminta para orang keluar, di dalam itu hanya tertinggal dokter Mira, Aryo, dan dua kakek. Pe’i tadi nya ingin di beri dispensasi, tapi mengingat juga penting nya tugas polisi, Pe’i pun secara sadar keluar dan duduk termenung di depan teras rumah tetangga. Tak ada yang berani menegur nya…

Sampai akhirnya, Aryo datang dan menegur..

“Dik… Ini aku Aryo… Dik… Izinkan aku ikut duduk yah…”

Pe’i mengangguk pelan tanpa melihat Aryo…

***

Setelah lewat 8 hari dari kejadian yang mengerikan itu. Hari ke 9, Aryo berencana mulai kembali beraktivitas seperti biasa.
Saat masa-masa berkabung itu, Aryo terus mencoba menguatkan Pe’i yang sangat terpukul.

Dan…

Mila pun ikut juga membantu di rumah setiap hari saat ada acara doa 7 hari, tahlilan untuk mendoakan almarhumah. Semua kebutuhan di penuhi oleh Mila. Dan Mila pun mulai pelan-pelan di terima oleh masyarakat. Stigma dokter sombong dan angkuh secara perlahan mulai terkikis, menjadi seorang dokter yang ramah dan membaur.

Pe’i pun lambat laun mulai bisa menerima kenyataan. Tapi dia masih tetap menaruh geram dan amarah pada si pelaku pembunuhan pada kakaknya tercinta itu, Yudhi Pratomo. Yang sampai saat ini masih menjadi buron aparat penegak hukum.

Tepat pada hari ke 9 itu, pagi-pagi tak di sangka Mila telah datang di rumah itu. Padahal tadi malam, jam 10 malam dia baru pergi meninggalkan rumah tersebut. Hanya hari ini dia bersama dengan Arifin sebagai supir nya.

Assalamualikum….”

“Wa”alaikumsalam… Eh dokter Mila.. ”

“Panggil kakak atau teteh aja… Udah jangan gitu dong.. Pe’i maukan..?”

“Eh.. Iya dok… Eh teteh dok…”

“Aku lagi gak praktek… Aku disini bukan mau ngobatin orang lho…”

“Eh iya yah… Maaf ya teh.. Belum biasa, takut teteh nya tersinggung. Tapi kalo mau nya gitu, ya udah deh. Hehehe…”

“Nah gitu dong… Teteh seneng kamu udah mulai bisa tertawa lagi..”

“Makasih ya teh… Udah mau peduli ama almarhumah dan juga Pe’i. Pe’i jadi tau sekarang ternyata teteh itu…”

“Kok diam..? Aku ternyata kenapa?”

“Eeh… Teteh ternyata orang baik, ramah dan gak sombong.. Jauh dari bayangan aku dan dari omongan orang-orang….”

“Oh… Memang kok… Aku orang sombong, angkuh, jutek, juga gak mau peduli sama orang lain. Apalagi orang kampung.. Huh.. Aku geli kalo harus periksa orang miskin…”

“Hahhh…”

Pe’i terkejut dan tidak menyangkan jawaban dari Mila….

Mila menatap Pe’i tajam…

Pe’i menatap tak percaya… Mulut nya setengah menganga…

Apa ini…?

Mila tetap menatap tajam mata Pe’i dengan mimik tegas dan sangat serius…

“Itu dulu…. Sekarang nggak… Aku gak mau lagi begitu…”

Mila menjawab lembut, lalu mata nya melembut dan senyum terbentuk di wajah nya…

“Aahh… ”

Pe’i hanya merespon sebuah seruan.. Seruan kelegaan…

“Aku disadarkan oleh seseorang, oleh suatu cinta dan harapan… Aku akhirnya tau.. Aku siapa… Aku ini pelayan masyarakat. Aku seorang dokter. Dokter itu tugas kemanusiaan, bukan seorang boss, bukan juga seorang juragan. Dan dokter hanya berguna jika dia melayani sesama. Tanpa itu, dokter tak ada gunanya. Dan teteh gak mau jadi dokter yang tak berguna.. Gak..”

Pe’i diam, tapi senyum lebar terkembang di bibir nya…

“Pe’i seneng bisa kenal ama teteh.. Teteh jangan berubah lagi ya teh… Hehehe…”

“Iya dik.. Teteh mau seperti ini seterusnya.. Malah jiwa teteh jadi lega, seneng rasanya lihat kita di terima dengan baik. Dulu teteh berpikir, dengan kekayaan, jabatan dan menjaga jarak, akan membuat kita akan di hormati dan ditakuti. Halah.. Ternyata ngawur, orang malah benci dan berprasangka buruk ama kita. Mereka makin gak respek dan gak peduli, karena mereka pikir, tanpa kita pun mereka bisa hidup. Padahal, kita hidup itu masih perlu bantuan orang lain. Itu pasti…”

“Iya teh. Bener…”

“Seperti kejadian yang kemarin ini.. Teteh liat sendiri, bagaimana warga kampung dengan sukarela membantu dan bersama-sama mengatur semua acara ini. Bahkan sejak kejadian itu, warga telah sepenuh hati ingin ikut menolong. Dan setelah kejadian itu, teteh lihat sendiri bagaimana warga lebih peduli dan lebih lagi saling menjaga satu sama lain.. Ini yang teteh gak pernah dapatkan seumur hidup teteh sebelum nya. Teteh hidup di lingkungan tertutup, penuh pengawal dan petugas keamanan yang menjaga sekitar rumah dan aktivitas teteh. Kami hanya berharap dan percaya pada petugas keamanan yang dibayar mahal dan tak tahu isi hati yang sebenarnya. Kami selalu curiga pada orang lain dan ketakutan kalo mendengar ada orang yang berniat jahat dan mengintai. Kami khawatir selalu. Tapi… Disini…, gak tau kenapa, teteh merasa sangat aman. Teteh merasa dijaga, dilindungi, diperhatikan, disapa dan… Dannn… Semua dilakukan dengan ikhlas dan ramah… Aaahh… Apalagi yang bisa lebih baik dari itu?”

“Tapi disini kampung teh.. Semua serba terbatas.. Serba minim, gak seperti ditempat teteh yang serba tersedia kan…?”

“Justru teteh menikmati situasi yang serba terbatas ini. Kenapa? Karena keterbatasan itu, warga saling melengkapi sebisa nya.. Lihat dik.. Tikar untuk warga duduk, bersumber dari tiga orang ibu, piring dan gelas pun dari beberapa rumah, makanan pun didatangkan oleh beberapa ibu, tenda itu di pasang oleh para anak muda, yang bapak nya ikut membuka jalan, mengundang kyai, menyumbang kayu bakar saat kompor terpakai, ikan pun dapat dari beberapa orang, nasi dan lauk semua gotong royong. Aaahhh… Ya Allah.. Teteh sampai gak bisa omong lagi dik… “

Pe’i tersenyum dan ikut terharu…

Pe”i pun secara langsung saat ini pun kembali diingatkan oleh Mila, bahwa hidup di desa nya masih sangat hangat.

“Makasih ya teh atas semua nya… Hanya itu saat ini yang Pe’i bisa sampaikan.. Pe’i masih belum bisa membalas kebaikan teteh dan juga warga kampung sini. Biar TUHAN yang membalas nya ya teh..”

“Amin.. Amin… Yang penting Pe’i harus bangkit dan kembali berjalan mengarungi kehidupan ini yah….”

“Iya teh… “

Tapi Pe’i kemudian terdiam dan menunduk. Ia menyadari keadaan nya saat ini. Seorang diri, dan tak ada pekerjaan, tak ada saudara juga keluarga tempat nya bersandar, saat usianya masih semuda ini. Tapi.. Dia bertekat tidak akan cengeng, dia akan maju, dan berjuang menghadapi hidup nya..

Hal itu juga di lihat oleh Mila…

Dik…”

“Ya teh…”

jawab Pe’i sambil menoleh ke Mila..

Dik Pe’i jangan tersinggung yah…”

“Gak berani teh… Teteh udah baik kok… Apa nih teh…?”

“Dik mau kan ikut teteh kerja di puskesmas? Teteh masih perlu satu lagi tenaga lelaki untuk menjadi asisten perawat dan merangkap bagian pemeliharaan..?”

Pe’i melongo, seakan gak percaya…

Beberapa detik hening…

Kok diam.. Mau apa nggak nih..?”

“Mau teh.. Mau… Eh… Tapi.. Pe’i gak punya keahlian jadi asisten perawat teh.. Sekolah Pe’i cuma SMK tekhnik…”

“Halah… Itu bisa di ajarin kaaann… Yang penting kamu nya mau, dan teteh percaya nya sama kamu dik…”

“Bener teh… Sungguhan…?”

“Sungguhan lah… Dan ini inisiatif teteh sendiri, mas Aryo pun belum tau…”

“Ah.. Ya Allah… Akhirnya impian aku punya pekerjaan yang jelas jadi terwujud. Aku jadi gak perlu luntang-lantung lagi cari penghasilan… Eh… Makasih ya teh.. Makasih… “

Pe’i bangkit berdiri dan menuju ke depan Mila, menunduk dan memajukan tangan kanan nya mengajak Mila salaman.

Mila menyambut tangan Pe’i dengan tangan kanan nya.

Pe’i pegang tangan kanan Mila, menyalaminya dan membawa nya ke keningnya. Menyalim tangan Mila. Mila membiarkan saja. Sambil tersenyum…

Pe’i menegakkan badannya lagi, dan mengusap kedua tangan nya ke muka.

Suatu rasa bersyukur di rasakan Pe’i saat ini..

Jadi.. Kapan Pe’i bisa mulai teh..?”

“Hari ini pun bisa… Tapi seingat teteh, yang buat shift malam yang kurang satu. Pe’i gak keberatan kan jika kerja shift malam, mulai maghrib sampai pagi. Tapi itu nanti gantian kok gak seterusnya malam…”

“Nggak teh, gak ada masalah sama sekali. Kan aku kalo melaut pun malam, pulangnya pagi. Tapi ini gak perlu lagi ke laut, kena angin malam, kadang hujan dan badai menghadang. Jika cuma harus berjaga sambil bergadang, hah.. ga ada masalah teh.. Teteh bisa percaya ama Pe’i..”

“Hahaha… Teteh senang banget melihat rasa optimis kamu mulai tumbuh. Selamat kerja ya dik…?”

“Alhamdulillah… Makasih banyak ya teh…”

Saat ini hari telah merambat siang…

Rumah itu telah kembali bersih seperti sedia kala. Aryo belum kelihatan sejak tadi…

Mas Aryo kemana dik..?”

“Tadi bilang nya mau ke pak RT juga RW mau urus surat-surat nya almarhumah teh.. Gak lama lagi juga balik kaya nya teh…”

Tiba-tiba seorang ibu berjalan di muka rumah itu sambil menuntun seorang bocah balita wanita dan seorang bayi yang menangis..

Nampak wajah yang khawatir, berbaju sederhana menggendong bayi dengan selendang usang, dan tergesa-gesa berjalan sambil menuntun bocah wanita tanpa sendal.

Saat tepat didepan rumah, si ibu sempat berpaling dan melihat pada Mila dan Pe’i yang masih duduk di kursi plastik di teras rumah itu.

“Selamat pagi bu dokter… Eh.. Ibu dokter di sini..?”

BERSAMBUNG