Agen Bola Terminal Bandar Bola Terpercaya
LAPAKDEWA LAPAKPOKER

Our Story Part 11

Part 1Part 2Part 3Part 4Part 5
Part 6Part 7Part 8Part 9Part 10
Part 11Part 12Part 13
Siapa?

Ola-

Suasana kali ini serba putih, dan hanya cahaya putih dari setiap sisi. Dimana aku berada, apakah di suatu tempat yang tidak ku ketahui.

Aku mengikut satu cahaya, cahaya yang lebih terang di banding lainnya, apa aku sudah meninggal atau semacamnya. Entah kenapa aku merasa begitu. Walau terang tetapi sunyi.

Aku melangkah semakin cepat ke arah cahaya itu, dan langsung melangkah masuk ke dalam cahaya itu.

Rasa terangnya sungguh menyilaukan mata sampai akhirnya aku menutup mata sampai cahaya itu mulai redup.

Aku buka mataku dikit demi sedikit, dan aku sadar berada di suatu ruangan, dengan lampu yang sangat terang.

“Kamu sudah sadar?” tanya seseorang dengan pakaian putih, dan mungkin itu dokter, dan aku sekarang berada di rumah sakit kah?, aku melihat dengan samar-samar.

“ini berapa?” tanyanya menunjukan satu jari.

“satu,”

“tiga,”

“dua”

“empat” dia langsung memeriksa kondisi kepala dan terasa perih di belakang kepalaku.

Dan tak lama masuk dua orang, setelah dokter memberitahukannya, “ola kamu udah sadar sayang?” kata perempuan setengah baya, dia memanggilku ola. Tetapi aku gak ingat sama sekali dengan mereka dan hanya menatap dengan tatapan bingung,

“viola, mengalami amnesia, ingatannya 75 persen hilang, yang tersisa hanya ingatan basic, seperti mengenal jenis benda, warna, angka, dan lainnya tetapi tidak ingat siapa dirinya, sekaligus yang lainnya”

“Bisa di bilang ingatan ola seperti kaca yang pecah, ingatannya terpecah-pecah” kata dokter itu

Ucapan dokter itu benar, aku tidak ingat dengan mereka, dan juga dokter itu. Yang jelas kepala aku terasa sakit, dan kaki aku juga tak bisa di gerakan karena tertutup gulungan putih.

“Jangan gerak dulu sayang” kata wanita itu, langsung merebahkan tubuhku.

“untuk tulang rusuk ola, dan kakinya tak terlalu parah sampai patah, hanya sedikit retak dan harus beristirahat sampai pulih” ucap dokter itu.

Kedua orang itu, menjelaskan aku hilang ingatan, dan mereka adalah orang tua kandungku, aku hanya tersenyum walau tak ingat, tetapi dari pelukannya terasa hangat yang meyakinkan aku, kalau mereka orang tua kandung aku.

Aku tak sadarkan diri karena kecelakaan selama satu minggu, dan luka di kepala belakang itu bekas jahitan operasi.

Pantas aja sakit, rasanya perih bila di pegang. Mereka tak menjelaskan detail kejadian itu terjadi, dan kali ini aku harus beristirahat.

Memang rasanya lelah, lelah berlari mengejar cahaya itu, dan aku tersadar di tempat ini, memang aneh rasanya.

Apa tadi itu sebuah mimpi, mimpi yang sangat panjang.

***​

Mama dan papa, aku memanggil mereka sekarang seperti itu, dia menemani ku selama di rumah sakit. Entah berapa lama aku hanya bisa duduk di tempat tidur dan di kursi roda, tiba-tiba ada suara kaki langkah masuk,

Seseorang lelaki, bertubuh tinggi putih dan memakai kacamata, dia datang tak sendiri melainkan bersama papa mama aku.

“hi ola gimana keadaan kamu?” tanya lelaki itu,

“baik” kataku singkat, dan dia siapa lagi sok kenal denganku.

“ini pacar kamu, namanya Edward” kata mama, aku langsung terkejut.

“apa itu pacar? Apa itu sejenis makanan?” tanyaku

“itu acar ola” sambung papa tersenyum.

“pacar itu, pasangan dari wanita,” ucap lekaki yang bernama Edward itu,

“ouh, jadi aku pasangan dia?” angguk mereka bertiga bersama. Aku hanya mengangguk-angguk.

Papa dan mama membiarkan aku dan Edward berbincang, dan menjelaskan kalau aku panggil dia dengan kakak,

Dia juga menjelaskan aku kuliah di kampus yang sama dengannya, dan dia menjadi dosen. Aku aja gak ingat, tetapi dia hebat ingat semua yang tidak aku ingat.

Dan dia juga bilang, aku cewek yang sangat feminism, baik, pintar, suka makan, dan penurut. Entah kenapa aku senang ternyata aku tipe cewek seperti itu,

Kak Edward pegang tangan aku dan langsung cium lembut di bibir, “apa itu?” tanyaku

“ungakapan kasih sayang, “ katanya tersenyum,

Lelaki yang baik, aku beruntung punya pacar seperti dirinya, dan sepertinya papa dan mama menyukainya. Begitu pun aku menyukai lelaki lembut seperti dia. Walau aku tak ingat. Aku bersyukur akan hal itu.

Kak Edward langsung mengajak ku jalan keluar kamar, kebetulan suasana di kamar sangat membosankan, hanya melihat orang dalam kotak, yang mereka menyebutnya tv.

“Olaaaaa!!” teriak seseorang lelaki dari jauh saat aku dan kak edward berjalan-jalan di taman rumah sakit. Aku langsung menoleh kearahnya, dia langsung di cegah oleh satpam rumah sakit, Wajahnya terlihat banyak luka, seperti habis di pukuli, atau terjatuh.

“Siapa dia?” tanya ku ke kak Edward berbisik, karena takut dia mendengarnya.

“Dia yang bikin kamu celaka, dia yang dorong kamu sampai ke tabrak” jelas kak Edward, oh jadi dia yang membuat aku celaka sampai seperti itu.

Kalau begitu, aku tidak mau menemuinya, seperti kak Edward tahu akan hal itu, dia segera mendorong kursi roda menjauh dan memilih kembali ke kamar.

Rasanya jadi kesal karena harus kembali ke kamar lagi, dan itu semua gara-gara orang itu.

tetapi wajah orang itu seperti tak asing, tetapi aku tak mengenalnya, kak Edward juga bilang aku harus hati-hati dari dirinya, dia sangat berbahaya. Suatu saat dia akan membuat bahaya bagi ku lagi.

Oke kalau begitu, tetapi untuk kali ini aku aman, setiap hari ada kak Edward yang mendampingi dan juga papa mama aku juga. Dia tak akan berani macem-macem denganku.

Keinginan ku di kabulkan kak Edward, aku ingin segera pulang, karena kak Edward sedang berdiskusi dengan dokternya. Dan akhirnya dokter izinin aku pulang Karena sudah satu minggu lebih, satu minggu di rumah sakit rasanya seperti satu hari lama nya.

***​

Rasanya nyaman sampai di rumah, perjalanan cukup jauh dari rumah sakit ke rumah. Karena tadi naik burung terbang yang cukup lama. Dan juga roda empat membuat pantatku sangat pegal.

Tetapi tak terasa karena papa mama dan kak Edward menemani perjalanan aku sampai rumah. Aku tak ingat tetapi suasana rumah yang sederhana ini membuat nyaman.

Papa menunjukan kamar aku yang udah tertata rapih, dengan cat warna biru muda, papa bilang aku suka dengan warna itu, aku juga suka warna itu.

Tanpa bantuan aku berusaha bangun dari kursi roda ke tempat tidur, rasanya seperti rindu tak melihat kamar ku.

“aku pulang dulu yah, bulan depan aku balik lagi,” katanya,

“bulan depan berapa hari?” tanyaku.

“tiga puluh hari, tapi untuk kamu menjadi 25 lima hari” kata kak edward, langsung buat aku tersenyum dan mengangguk pelan.

Aku tahu kesibukan kak Edward, karena dia baru saja berkerja di perusahaan ternama, dan dia tidak berkerja di kampus lagi. Dia cerita ke aku selama di rumah sakit.

Tidak masalah, aku akan terus tunggu sampai aku pulih dan bisa ke sekolah seperti biasa, aku tak sabar untuk itu. Walau dia hanya mampir di rumah aku sebentar saja.

Di kamar rasanya ada yang berbeda atau bisa di bilang terlalu rapih, aku langsung bongkar lemari di meja rias, dan ada kardus yang tetutup rapat.

Aku lihat itu album foto, dan ada foto yang di kasih kandang ( maksudnya bingkai ), “itu bukannya orang itu yah?” gumam aku melihat si penyebab aku kecelakan foto bersama dengan diriku.

“ola kamu ngapain?” tanya mama dan papa masuk ke kamar.

“ini foto aku sama cowok yang buat aku celaka kan pa ma?” tanya ku menunjukan foto aku waktu SD dengan seragam putih abu-abu,

“bukan lagi, dia yang bikin kamu hampir mati, dia jahat ke kamu, “ mama langsung peluk aku, dan seperti nangis.

“Mati?”

“iah, dia yang buat kamu hilang nyawa, “

Papa dan mama langsung mengambil album foto itu dan kandang foto itu juga, mereka bilang ingatan jelek gak harusnya di ingat.

Tetapi aku merasa dia orang baik di lihat pas waktu SD, walau aku sadar dia jahat ke aku sampai papa dan mama menyuruh aku tak mengigatnya.

Gak usah di ingat, aku aja gak ingat siapa dia sekarang, cuman hanya ingin tahu.

***​

Pagi ini aku tidak memakai kursi roda, aku memakai tongkat penyangga yang baru papa beli, aku tidak betah kalau terus duduk, walau kaki kananku masih belum sembuh, tetapi kaki kiriku masih kuat untuk menopang tubuhku sendiri. dan sedikit perih di belakang kepalaku.

“PERRGGIIIII, UDAH DI BILANG JANGAN TEMUIN OLA LAGI!!!” suara teriakan papa dari halaman rumah, itu bikin aku penasaran langsung mengintip dari pintu depan,

Dan ternyata cowok itu lagi, kenapa dia bisa sampai disini, apa dia berenang ikutin aku sampai sini? Apa dia beli burung besi kesini. Atau naik burung besi juga bersama aku kemarin.

“Om, aku bisa jelasin semua om, itu salah paham, ola selamatin aku om, plis jangan denger dari satu pihak” ucap cowok itu sambil memohon-mohon,

“Kamu gak sadar, ha? Dulu pernah buat ola kecebur di kali, gara-gara kamu kagetin?:” papa ngomel lagi, cowok itu langsung diam.

“dan lebih baik kamu gak usah ketemu lagi, percuma dia gak akan ingat kamu!” kata papa, aku setuju dengan papa. Lebih baik aku tidak menemuinya.

“tapi om,”

“pergi gak??!!, saya pukul sama sapu lidi!” ancam papa sambil membawa sapu lidi.

“om sekali ini aja” cowok itu merengek kayak anak kecil, papa gak hirauin dan langsung pukul cowok itu dengan sapu lidi, tetapi cowok itu terus menghindar sambil terus memohon bertemu aku. Sampai akhirnya papa sama cowok itu saling kerjar satu sama lain.

“hahahahahahahaaa” aku tertawa kencang, melihat hal itu, seperti kartun tom and jerry. Lucu melihat seperti itu.

“ola ketawa kenapa?” tanya mama pas aku ketawa sambil pukul-pukul pintu. Aku gak jawab dan tunjuk ke arah papa yang mengejar cowok itu dan akhirnya cowok itu keluar dari halaman rumah.

Mama cuman senyum sambil ajak aku kembali ke dalam, “aku aneh ya ma?” tanya aku saat mama tatap ke mata aku dalam-dalam.

“gak kok, justru menjadi wanita sesungguhnya” mama kembali senyum sambil peluk, rasanya nyaman di peluk seperti ini.

“Ma aku boleh tanya?” mama cuman mengangguk pelan.

“Aku merasa cowok itu gak jahat ke aku ma, dan apa dia sejahat itu? Aku dengar aku hampir tenggelam di sungai sama dia?” tanyaku penasaran.

“kamu boleh merasa begitu, tapi hasilnya mama sama papa hampir kehilangan karena dia, kalau gitu bukan jahat namanya?”

Benar juga sih, kalau dia gak jahat gak mungkin buat aku celaka, dan kalau begitu aku akan jauh-jauh sama dia.

Aku mengangguk pelan, ternyata banyak orang seperti dia, pura-pura baik di depanku. Walau kata mama aku sudah kenal dia sejak lama.

Tetap saja rasanya aneh, ada rasa tidak nyaman melihatnya, apa lagi mengingatnya.

***​

Malam ini kak Edward telepon aku, dia bilang udah sampai. Hebat juga yah tuh burung besi antar kak Edward mirip film di indosiar.

Dia bilang focus kesembuhan kaki dulu, dan luka jahitaan di belakang kepala aku, senyumnya bikin aku susah tidur. Kalau ketemu sama dia nanti aku tanya gimana aku bisa jatuh cinta ke kak Edward.

Aku gak bisa tidur, kak Edward kirimin aku galeri foto, dia kasih tau aku kalau kita memang udah lama pacaran.

Rasanya mau ketawa sendiri pas lihat foto bareng dia, “ha aku sama kak Edward sejauh ini kah?” semakin lama foto itu memuncul kan foto aku dan kak Edward berciuman mesra, reflek aku langsung pegang bibir,

Aku masih terkejut kak Edward sengaja foto aku dan dirinya sedang berciuman dan tangannya remas gunungku.

Semakin kesini foto itu semakin vulgar ia mencium buah dada ku tanpa malu, wajahku terasa sangat malu melihatnya.

Apa kak Edward sengaja melakukannya atau memang aku sama dia suka foto seperti ini, andai papa sama mama tahu foto ini, bisa gawat.

Dan foto terkahir membuat aku tertegun foto aku sedang melahap sesuatu di selangkannya, entah kenapa aku tau itu namanya penis. Alat kelaminnya kak Edward.

Aku lihat penisnya di taruh dimuka ku dengan cairan yang keluar, rasa aneh langsung menjulur ke seluruh tubuh, dan ternyata aku sudah melakukan hal itu selama ini. Tetap saja aku tak ingat seperti itu.

“kamu ingat ?” kak Edward kirim satu video dengan durasi satu menit, disitu dengan jelas aku sedang mengemut penisnya keluar masuk dengan keadaan telanjang bulat.

“apa kita sampai situ kak?” tanya gue masih gak percaya,

“yup, kita sering melakukannya, aku kirim foto itu buat yakinin kamu kalau aku dan kamu memang pacaran.” aku hanya menghela nafas. Dan tidak bisa berkata apa-apa. karena aku tidak ingat.

“selamat malam I love you.” kata kak Edward mengakhiri obrolan malamini, dan dia kasih foto wajah ku dengan penuh cairan putih. Aneh rasanya aku tak tahu perasaan apa yang menjalar di tubuh aku melihat video dan foto seperti itu.

Tetap saja mataku tak terpejam, aku kembali teringat kejadian tadi siang, dimana cowok itu masih nekat temui aku padahal dia udah jahat.

Rasa penasran masih belum hilang, aku kembali buka lemari, dan temuin foto yang di kandang, foto aku masih kecil bersama satu cowok, aku yakin cowok itu. Dan penasaran nama cowok itu.

Mama dan papa sengaja tak kasih tau nama dia, karena dia orang jahat, dan lagi mereka bilang orang jahat tak usah di ingat namanya.

***

Pagi-pagi aku sering latih berjalan, karena kaki kanan yang di perban terasa banyak semutnya. Dan tentunya di temani papa, mama lagi sibuk pilih ikan lele yang gak ada kumisnya,

Katanya kalau lele ada kumisnya itu ikan lele udah tua. dan besok-besok aku cari ikan lele yang tak ada kumisnya.

Aku duduk di kursi roda lagi dan papa dorong aku, padahal seperti aku bisa berjalan dengan tongkat, tetapi papa menolak. kata papa jangan terlalu di paksa.

Dan lagi cowok itu, papa langsung dekatin sambil bawa kantong plastic yang berisi ikan lele yang tadi mama beli.

“ha?” aku gak percaya papa lempar kantong plastic ke wajah dia,

“yuk masuk” ajak mama agar aku tak melihat pertengkaran mereka, rasa nya kasihan sekaligus benci juga. Atau bisa di bilang kesal.

Papa sepertinya udah habis kesabarannya. Andai aku jadi papa, aku udah hajar dia sampai kapok. Kalau bisa sampai bonyok,

Dan Sejak hari itu, cowok itu gak terlihat lagi. Ternyata perlakuan papa kemarin membuatnya jera, dengan begitu aku bisa latihan berjalan sampai kak Edward jemput aku, dan siap sekolah lagi.

Bersambung