Agen Bola Terminal Bandar Bola Terpercaya
LAPAKDEWA LAPAKPOKER

Natalie’s Story Part 25

Part 1Part 2Part 3Part 4Part 5
Part 6Part 7Part 8Part 9Part 10
Part 11Part 12Part 13Part 14Part 15
Part 16Part 17Part 18Part 19Part 20
Part 21Part 22Part 23Part 24Part 25
Part 26Part 27Part 28Part 29
Mengencani Istrinya

POV Orang Ketiga

Tidak berapa lama setelah menutup telepon dari Natalie, Anggoro segera mempercepat laju mobil yang dikendarainya menuju rumah kediaman Natalie. Dalam hatinya merasa sudah tidak sabar untuk bertemu dengan wanita yang pernah menjadi kekasihnya itu.

Apalagi setelah pertemuan terakhirnya ketika yang secara tak sengaja dan berakhir dengan persetubuhan panas antara dirinya dan Natalie. Awalnya dia agak bingung dengan sosok keberadaan Ricko yang saat itu bersama Natalie, dengan bagaimana hubungan Natalie dan pria itu.

Sehingga waktu itu dia bahkan bisa bercinta dengan Natalie dengan ‘seijin’ Ricko. Namun Anggoro saat itu tidak mau ambil pusing karena lebih begitu besar rasa kegembiraan dihatinya ketika bisa mendapatkan kesempatan untuk kembali bernostalgia menikmati kembali tubuh Natalie yang pernah memberikan kepuasan padanya dulu.

Dan hari ini setelah beberapa bulan tak bertemu Natalie dan hanya berkomunikasi biasa lewat WhatsApp. Terkadang diselingi chatsex juga phonesex seperti semalam. Justru Natalie sendiri yang mengundang dirinya datang kerumahnya untuk berkencan karena Natalie bilang suaminya akan seharian ini tidak berada di rumah.

Dan kesempatan itu tidak disia-siakan olehnya, walaupun dalam hatinya ada sedikit keraguan untuk memenuhi undangan Natalie awalnya. Tapi Anggoro memutuskan untuk tetap datang karena didorong keinginan untuk bercinta dengannya.

Memang setelah persetubuhan antara Anggoro dan Natalie dirumahnya waktu itu, dia masih berhubungan dengan Natalie maupun Ricko lewat pesan singkat. Dari Ricko sendiri akhirnya dia mengetahui jika ternyata Natalie di belakang suaminya, menjalin hubungan birahi dengan Ricko.

Dan mengapa Ricko seakan mengijinkan Anggoro untuk bercinta dengan Natalie, adalah karena Ricko melihat ada hubungan spesial antara Natalie dan dirinya, dan itu benar. Hanya saja Ricko memberikan syarat kepadanya untuk supaya menjaga agar Nicko tidak mengetahui jika dirinya pernah bercinta dan masih berhubungan dengan istri dari Nicko. Dan Ricko akan menjaga rahasia tersebut.

Anggoro jelas menyanggupi syarat tersebut, karena dalam hatinya dia sudah merasa begitu senang dan bahagia punya kesempatan menjalin kasih dengan Natalie. Selain itu dia juga sudah menetapkan hati tidak ingin merusak hubungan suami istri antara Nicko dan Natalie. Jika pun nanti dia harus mundur karena ketahuan oleh Nicko, dia juga akan melakukannya dengan tanpa paksaan.

Sementara Natalie menunggu di ruang tamu menanti kedatangan Anggoro dengan perasaan tak sabar membayangkan petualangan birahi yang akan dilakukannya hari ini telah membuat hatinya excited bukan kepalang. Bercinta dengan mantan kekasihnya di rumah ini dengan suaminya jelas mengetahui dan mengijinkan hal tersebut terjadi, sungguh membuat dirinya merasa menjadi seorang wanita dan istri yang binal.

Namun inilah yang diinginkan suaminya, dia merasa beruntung mengetahui kenyataan tersebut. Dan dia sudah menetapkan dari awal juga akan ikut menikmati petualangan-petualangan birahi hanya dengan pria-pria yang diketahui dan diijinkan suaminya, dan tidak akan mencari pria baru yang suaminya tidak tau ataupun tidak mengijinkan. Dia juga hanya ingin melakukan ini untuk memuaskan fantasi seks suaminya yang pernah dibahas berdua dengan suaminya tersebut.

Nicko sendiri saat ini sedang merasakan situasi yang membuatnya aneh. Setelah pagi tadi dirinya mendapatkan hukuman dari istrinya dengan mengunci kontolnya dengan sebuah botol plastik yang dibuat istrinya. Dirinya sebenarnya begitu bersemangat mengetahui sesaat lagi akan melihat sendiri istrinya beradu birahi dengan seorang pria yang dia ketahui pernah mempunyai hubungan sangat spesial dengan istrinya.

Libidonya yang terlecut dengan kenyataan itu, berbanding terbalik dengan kondisi kontolnya yang ngaceng namun dalam kondisi terkurung alat yang dipasangkan istrinya di kontolnya. Terjebak antara birahi dan ketidakmampuan kontolnya untuk ereksi maksimal menimbulkan sensasi tersendiri dalam birahi Nicko, sehingga dadanya selalu bergemuruh dari pagi sampai saat ini. Sesekali dia harus menekan libidonya supaya dia tidak tersiksa dengan sensasi aneh ini.

 

POV Anggoro

“Aku sebentar lagi sampe yaa..”

“………”

“Oke!”

Aku menelepon kembali Natalie untuk mengabarkan jika posisiku sudah dekat, setelah berbelok masuk ke gang arah rumahnya aku justru melihat di depan rumah berwarna hijau dengan pagar coklat itu terparkir sebuah kendaraan roda empat yang aku tau adalah milik keluarga muda ini.

Aku menjadi ragu karena semalam dan barusan Natalie bilang kepadaku jika Nicko suaminya sedang pergi luar kota sedari pagi. Aku memutuskan untuk berhenti sejenak dan meneleponnya lagi.

“Haloo dek, ini aku udah di gang rumahmu. Itu kok mobilmu ada parkir di depan sih? Katanya mas Nicko pergi?”

“……….”

“Serius aman nih?”

“Yaudah mas kesana ya. Langsung parkir depan rumah aja kan?”

“……..”

“Ya ntar mas parkir di belakang mobilmu”

Setelah mendapatkan keyakinan jika situasi aman, dan Natalie mengatakan jika suaminya pagi tadi pergi dengan dijemput oleh rekannya untuk pergi ke Solo, aku menjadi lebih rileks karena aku jujur ini pengalaman pertamaku mengunjungi istri orang walaupun istri orang ini adalah mantan kekasihku sendiri.

Sesampainya aku di depan rumah Natalie, aku segera memposisikan mobilku di tempat yang sesuai dan tak menghalangi jalan supaya aku tidak perlu lagi keluar rumah untuk memindahkan posisi mobilku lagi, karena sungguh beresiko jika ketahuan oleh tetangga-tetangga dekatnya.

Beruntungnya aku kondisi pagi ini sudah cukup sepi karena orang-orang sudah sibuk dengan urusan dan pekerjaannya masing-masing sehingga aku bisa meminimalkan berpapasan dengan orang lain.

Aku langsung berjalan membuka pintu pagar rumah Natalie karena tadi dia berpesan supaya aku langsung masuk ke dalam karena memang pintu pagar tidak dikuncinya supaya aku bisa masuk tanpa dia keluar untuk membuka gerbang ketika aku datang.

Tak lupa aku menggembok kembali pagar rumah ini sebelum aku beranjak masuk ke teras dan menuju pintu masuk rumah pasangan suami-istri ini yang akan menjadi tempatku berselingkuh dengan mantan kekasihku Natalie.

Tanpa mengetuk lagi, aku langsung membuka pintu dan segera masuk tanpa melepaskan sepatu yang kukenakan karena untuk mengurangi kecurigaan oleh orang lain. Sampai di dalam aku melihat Natalie sedang berjalan ke arahku menyambut kedatanganku, aku cukup terpesona dengan apa yang kulihat. Walaupun jujur dari terakhir dia bersamaku dulu dia lebih gemuk sekarang, namun justru malah membuat dia terlihat lebih seksi di mataku.

Pakaian satin merah dengan motif bunga yang dikenakannya saat menyambutku ini membuatnya menawan dan muncul kesan bitchy dari sosok wanita ini begitu saja. Mengetahui kenyataan jika dia sedang bersamaku yang bukan siapa-siapanya, berselingkuh lebih tepatnya karena suaminya sedang tak di rumah, justru membuat pikiran liarku merasuki ku saat ini.

Adrenalin berselingkuh dengan istri orang membuat libidoku perlahan langsung beranjak naik karena ini pertama kalinya untukku.

“Eh, udah nyampe mas?” Sapa Natalie padaku dengan lembutnya seperti benar-benar menyambut seorang kekasih ataupun suami. Aku merasa dianggap spesial oleh wanita ini dengan sapaan lembutnya ini.

“Iya dek..” jawabku singkat sambil membuka sepatuku.

“Taro situ aja mas sepatunya ya, mas Anggo udah sarapan? Nih aku siapin sarapan tadi, roti bakar aja gapapa kan buat ganjel-ganjel kalo belum sarapan. Nanti kalo mau makan lagi, pesen aja kita ya.” Ucap Natalie padaku.

“Wah disiapin sarapan segala nih, kayak siapa aja. Iya gampang nanti dek.” Sahutku merasa senang merasa disambut baik kedatanganku bahkan Natalie sampai memikirkan untuk menyiapkan sarapan untukku, aku merasa seperti menjadi kekasihnya lagi.

“Yaa harus dong, siapa tau kan mas Anggo belum makan. Masa mantan pacarnya dateng nggak dilayanin dengan baik sih. Hehehe” ucap Natalie lagi dengan lembut nan menggoda.

“Hehehe bisa aja kamu dek.” Ucapku tersipu.

“Sini mas, makan dulu rotinya sambil duduk sini.” Ajak Natalie padaku sambil dirinya duduk di kursi sofa yang menghadap ke arah televisi yang sedang menyala menayangkan berita gosip tentang selebritis yang aku tidak begitu tau.

“Mas sambil ngerokok ya?” Tanyaku padanya sesaat aku mengambil posisi duduk persis di sebelahnya.

“Iya mas.”

“Eh, mas Anggo mau dibikin kopi juga ndak?”

“Aku bikinin sebentar ya.” Katanya padaku.

“Iya, boleh dek.” Sahutku.

Lalu Natalie beranjak ke arah belakang setelah sebelumnya mengambilkan asbak rokok untukku. Aku memintanya membuatkanku kopi hanya semata karena supaya aku bisa sebentar memberi waktu pada diriku sendiri untuk menguasai diri, karena aku masih merasa canggung berada di sini berduaan saja bersama Natalie dan juga sikapnya yang lembut seperti memperlakukanku sebagai kekasihnya barusan. Betul-betul service oriented ucapku dalam hati.

“Nih mas kopinya.” Ucap Natalie ketika datang membawa segelas kopi untukku

“Ahh mantep nih ngobrol sambil ngopi gini kan.” Sahutku bergurau.

“Loh dateng sini cuma mau ngobrol sambil ngopi doang nih jadinya?” Jawabnya dengan ekspresi cemberut yang dibuat-buat.

“Hehehehe…” aku hanya terkekeh melihat sikapnya.

“Mas Nicko nggak tau kan dek aku kesini?” Tanyaku sambil menghembuskan asap putih dari sebatang rokok yang kuhisap.

“Ih mas nih tanya-tanya mulu dari tadi kan aku dah bilang.”

“Apa ini aku telpon mas Nicko aja kasih tau kalo mas Anggo lagi ngapelin aku?” Ucap Natalie sambil menatapku.

“Yaa jangan dong, kan aku nggak mau nanti malah ngerusak rumah tangga kalian” jawabku asal.

“Apaan tuh?? Nggak mau ngerusak tapi istri orang diapelin. Wuuu.” Ucap Natalie.

“Hehehe…” aku hanya tertawa ringan mendengar ocehannya.

“Mas….” Ucap Natalie lirih dengan pandangan sayu. Aku tau jika inilah saat memulainya.

“Sini dek duduk deketan lagi. Mas kangen..” jawabku merespon kode dari Natalie.

Natalie langsung berpindah tempat duduk ke kursi sofa tempatku yang lebih panjang dan menempelkan tubuhnya ke tubuhku sambil menyelipkan tangannya di belakang pinggangku. Aku pun melakukan hal yang sama, merengkuh erat tubuhnya namun sengaja belum melakukan tindakan yang lebih jauh aku ingin membangun chemistry terlebih dahulu antara dirinya dan diriku.

Aku ingin membuatnya nyaman dengan keberadaanku lebih dulu. Karena walau bagaimanapun aku tidak ingin terkesan seperti hanya ingin menikmati tubuhnya saja, aku ingin dia juga menerima kehadiranku sebagai pria selain suaminya. Aku ingin dia tau bahwa aku juga ingin melayani dan memuaskan serta menyayanginya mantan kekasihku ini seperti kekasihku sendiri.

Selama kami saling berangkulan erat di sofa ini, kami hanya mengobrol disertai gurauan-gurauan ringan sehingga perasaan canggung yang tadi sempat ada, perlahan mulai hilang dan kulihat Natalie juga sudah mulai terlihat nyaman berada dalam pelukanku. Suasana mesra ini membawaku teringat akan suasana ketika dulu kami masih berpacaran.

Setelah yakin jika perasaan nyaman antara kami ini sudah terbentuk, aku berinisiatif mengecup bibirnya lembut dan perlahan. Kulihat Natalie memejamkan mata seakan meresapi bertemunya bibir kami berdua. Hisapan lembut kuberikan dan direspon balik olehnya membuat perasaan ini perlahan ikut terhanyut dengan kehangatan ini.

“Mas Anggo sayang aku nggak?” Pertanyaan Natalie terlontar ketika kutarik bibirku dan menatap matanya.

“Sayang dong..” jawabku atas pertanyaannya

“Puasin aku hari ini, suami aku dah lama gak muasin aku “

“Lakukan apa yang pengen mas Anggo lakukan ke aku. Hari ini aku milik mas Anggo.”

“Iyaa sayang, mas akan puasin kamu sampe kamu lemes!”

“Aaachh…Muaacch” racau Natalie di pelukanku dan seketika desahannya menggema karena dengan begitu bernafsu langsung kulumat bibirnya serta langsung kuremasi payudaranya. Lumatanku dibalasnya sehingga ciuman kami kali ini bertambah panas semakin melecut gairah pada diri kami berdua.

Sambil memejamkan mataku, kuresapi kehangatan bibir dan tubuhnya, meremasi kedua payudara indah miliknya itu yang sedari awal tadi memang tak dilindungi oleh bra, sehingga aku bisa merasakan kelembutannya langsung dengan tanganku.

Natalie tidak tinggal diam, sambil terus mendesah dia menggenggam tengkuk leherku dan menggeliatkan tubuhnya di pelukanku. Aku merasa kami sudah berada di titik birahi yang menuntut untuk segera dilepaskan. Pikiranku sudah tak mampu bercabang lagi, yang ada di otakku adalah memuaskan dan menikmati tubuh wanita yang kusayang ini, wanita yang saat ini telah menjadi istri orang.

Desahan kami berdua semakin bersahutan memainkan melodi indah dalam balutan alunan birahi. Gerakan tubuh kami berdua sudah bergerak dengan luwes seperti menari mengikuti irama hawa nafsu yang mengalun semakin meningkat temponya.

“Muachh…sluurphhss..smoochh…aaachh”

“Haaaasshh…yeaassh… aaahh maaash”

“Hssshhhaahh… ohhh… mas buka yaa dek.” Ucapku lirih dan hanya dibalasnya dengan anggukan dengan mata yang sangat jelas menatap dengan birahi.

Lalu tanggalah sudah kain yang tersemat di tubuhnya dan kuangkat perlahan pakaian yang menutupi tubuhnya dengan bantuannya juga sehingga tubuh polosnya terlihat jelas indah di hadapanku siap untuk disantap.

Rahangku sampai terasa ngilu menahan gairah yang terus menerus menerjang jiwaku sampai air liurku terkumpul lebih banyak di mulutku yang akhirnya kuberikan kepada Natalie dan langsung disambutnya dengan membuka lebar mulutnya menerima air liurku berpindah dari mulutku semua masuk ke dalam mulutnya.

“Buka mulut kamu!” Perintahku padanya dan setelah mulutnya terbuka langsung kualiri air liurku kedalam mulutnya.

“Gluck..aahh”

“Lagiiih maashh…” ucap Natalie sambil menatapku harap dengan pandangan penuh kehausan akan kepuasan.

“Nihh lagii…” ucapku memenuhi permintaannya sambil kembali mengumpulkan liurku dan kuteteskan di mulutnya kembali yang terbuka. Aku melakukannya sambil menggenggam lehernya mengarahkan kepalanya mendekat padaku.

Setelah selesai melakukannya, saat ini Natalie yang berinisiatif membuka seluruh pakaianku tanpa tersisa. Aku merasa cukup takjub dengan sikapnya dalam foreplay ini, begitu terlihat menikmati dan mengesankan.

“Iniii diaa… Kangeen dah lama gak ketemu ini nih..” ucapnya sambil menggenggam dan sedikit mengurut kontolku.

“Dicium dong kalo kangen.” Pancingku padanya. Lalu dengan tetap memasang tatapan menggoda seakan penuh kehausan akan kenikmatan Natalie mulai memasukkan ujung kontolku dan pelan namun pasti dibenamkannya kontolku masuk kedalam mulutnya yang hangat itu.

“Aaashhh yeeeah.. enaak sayang ahh” desahku meresapi nikmatnya servis oralnya itu.

Kugenggam rambutnya yang terurai sambil perlahan kuatir temponya ketika mulutnya bekerja di kontolku. Natalie menghisap kontolku tersebut sambil berlutut di depanku yang terduduk nikmat di sofa ini selama beberapa menit sampai aku menghentikannya karena aku ingin gantian menikmati memeknya dengan mulutku.

Kutarik kedua tangannya dan kuposisikan tubuhnya merangkak diatas sofa dengan tangannya menopang di sisi sandaran sofa ini sehingga pantatnya menungging, semakin sempurna menggodaku untuk menggarapnya.

Awal kujilati permukaan pantatnya yang terpampang di depan wajahku, walaupun di seluruh permukaannya terdapat selulit, namun tidak menjadi hal yang berarti bahkan kulit pantat dan paha yang dihiasi tekstur khas selulit itu seperti memberikanku sensasi tersendiri.

Ketika lidahku merambah bagian belahan memeknya, Natalie kembali mendesah dengan liarnya. Aku terus menjilati lebih fokus pada memek dan klitorisnya dengan kedua tanganku memegang erat kedua pahanya sehingga memeknya mulai becek dibanjiri cairan cintanya. Beberapa kali aku menelan cairan yang terus keluar itu, aku menjadi semakin haus untuk meneguk cairan yang keluar dari memek Natalie itu.

“Ooohhh maaassss…aaahhh” tiba-tiba Natalie mendesah sambil pinggulnya yang berada di atas wajahku itu bergetar hebat, dia mendapatkan orgasmenya namun aku terus tidak menghentikan lidahku menjilati bahkan menyedot memeknya itu sampai Natalie mencoba menarik paksa memeknya dari serbuan mulutku dan merebahkan tubuhnya bersandar pada pinggiran sofa ini.

Aku hanya memperhatikan wajahnya yang tampak seperti kelelahan dengan nafas memburu namun terpancar kepuasan sambil mengurut pelan kontolku sendiri. Sungguh pemandangan yang aku sangat menyukainya.

“Ayooo masukiiinn..” ucapnya manja sambil tersenyum kepadaku yang masih saja memandanginya dan membuka kedua kakinya lebar-lebar mempertontonkan bagian intimnya di hadapanku yang saat ini menjadi pejantannya seperti meminta untuk segera digarap.

Tak menunggu lama, aku segera memposisikan kontolku diujung lubang kenikmatan itu, Natalie memberikanku akses yang selebar-lebarnya dengan membuka pahanya supaya aku bisa memasukinya dengan lancar. Kedua tangannya diletakkan merangkul tengkuk ku dan kedua kakinya langsung mengunci pinggulku setelah aku berhasil membenamkan seluruh kontolku masuk kedalam tubuhnya.

“Aaashhh… yaaa… ahhh mass pelaanhh.” Rintihnya mendesah dibarengi dorongan pinggulku secara maksimal menghimpit memeknya dan menahannya sementara.

“Muaacch…sluurphhss…slurrpss…” aku dan Natalie sambil mengecup dan melumat bibir dan berlilit lidah sementara kontolku masih bersarang dengan nyamannya merasakan kehangatan dinding leher rahimnya.

“Mas genjot yaa sayang…?” Tanyaku padanya.

“Genjot mas, pelan dulu tapi. Memek aku masih geli.” Sahut Natalie lalu memindahkan tangannya di pinggangku.

Perlahan sesuai permintaannya aku menggerakkan pinggulku maju mundur dengan perlahan, sehingga batang kontolku mampu menjelajahi setiap sentimeter lubang memeknya dengan syahdu. Selama beberapa saat aku masih menggerakkan pinggulku dengan kecepatan perlahan sambil kupercepat sedikit demi sedikit.

“Ahhh… mas sayang kamu… yeeeash” ucapku sambil mempercepat genjotanku.

“Akuu jugaa masku sayang… cepetan lagi mas.. Muaacch sluurps…” sahutnya sambil meraih mulutku yang terbuka dan menghisapi lidahku.

Di hari yang bahkan belum beranjak siang ini, desahan kami berdua menggema memenuhi ruang tamu rumah ini. Wanita pemilik rumah ini yang dulu berstatus sebagai kekasihku, dan saat ini merupakan seorang istri dari seorang pria beruntung karena berhasil memperistrinya, sedang mendesah dan meracau nikmat di bawah himpitan tubuhku.

Keringatku dan keringatnya mulai bercampur baur menjadi satu menimbulkan aroma birahi yang menyengat. Kontolku terus bermanuver lancar di memeknya cukup lama. Aku begitu menikmati apa yang kulakukan saat ini, dan kuharap Natalie juga menikmati hal yang sama.

“Aahhh enaak mass…daleeem bangeet enaak…” racaunya sambil menekan-nekan pinggulku merapat di tubuhnya.

“Kamu suka, hah? Kamu suka kontolku nggak? Aaashhh…” tanyaku memancingnya.

“Suka mass….enaak kontolnya… besaar panjaaang… ooughhhss… mauu teruss akuuh..” ucapnya diikuti desahan yang terus keluar dari mulutnya.

Aku yang mendengar racaunya dan desahannya itu semakin terlecut birahiku sehingga aku menggenjotnya dengan lebih cepat dan terkesan kasar karena terpancing oleh racauannya itu.

“Ooooouuwwwghh masss…maaassss… gateeeel massss…. Aahhh ahhh ahhh… hmpppphhsss..”

“Kamu sekarang doyan kenthu ya?”
“Kamu ketagihan kontolku sayang?” Racaunya sambil terus menggempur memeknya.

“Aaashhh iyaaah… kontol masss Anggo Ssshhh… enaaakh…”

“Kenthu aku masss… aahhh teruss… ooughhhss…” Natalie meracau balik dibawah sana sembari meliuk-liukkan pinggulnya semakin melancarkan desakan kontolku di memeknya.

Sepertinya Natalie sebentar lagi akan meraih orgasme keduanya, aku lalu menurunkan tubuhku mempererat dekapanku sambil terus menjaga gerakan konstan pinggulku menggempur memeknya.

“Aaashhh massssssss……” desahnya sedikit teriak dibarengi dengan kedutan-kedutan nikmat di memeknya yang terasa di sekujur batang kontolku.

Natalie memeluk tubuhku yang menghimpit di atasnya dengan cukup kencang meresapi kenikmatan yang baru saja diraihnya. Hampir saja aku hilang kontrol dan bisa menahan orgasmeku sendiri tadi dan tidak keluar bareng bersamanya. Kalau tidak, pasti spermaku sudah berpindah tempat memenuhi liang memeknya.

Kulihat matanya masih terpejam namun pelukannya sudah mulai mengendur, perlahan aku menarik batang kontolku yang terlihat mengkilat diselimuti cairan cinta hasil pertempuran tadi keluar dari memeknya dan terduduk di sisi sofa sebelahnya.

“Hssshhhaahh….haaah…haah… mas belum yaa??” Tanya nya dengan nafas ngos-ngosan.

“Hehehe iyaaa nih… Lanjut yaa?” Jawabku singkat.

Lalu Natalie perlahan bangkit dari posisinya dan bergerak naik menunggangi pahaku dan langsung memposisikan batang kontolku masuk kembali ke dalam memeknya yang nikmat itu.

“Duhh iki kontol awet banget sih gak muncrat-muncrat.” Katanya ketika posisi kontolku sudah terbenam sempurna di memeknya.

“Nanti kalo mau keluar jangan di dalem ya mas, di mulut apa di susuku aja ya..” ucapnya memperingatiku sebelum Natalie menggerakkan tubuhnya naik-turun diatas pinggulku, kontolku serasa diurut-urut karena eratnya jepitan memeknya itu.

“Kamu mau mandi pejuh aku yaa pagi-pagi gini?” Jawabku sambil mengangguk pelan sambil memejamkan mataku menikmati servisnya ini.

Natalie tak menjawab namun terus bergerak memanjakan kontolku ditambah gerakan kegel yang semakin memberikanku rasa nikmat yang tak ada taranya. Aku menikmatinya sambil sesekali meremasi dan menghisapi kedua toketnya yang bergelantungan dan memantul liar seiring dengan gerakannya itu.

Sampai pada saatnya aku merasa akan sampai ke puncak orgasmeku sendiri. Aku masih berusaha menahan supaya kenikmatan ini tak segera berakhir, namun ternyata seberapapun usahaku menahannya, spermaku sudah mengumpul semua siap untuk ditembakkan.

“Aku mau keluar sayang…” ucapku memberitahu Natalie sambil menahan menghentikan pinggulnya, dan dia langsung bergerak turun dan berlutut di lantai. Aku langsung berdiri dan mengocok mengarahkan kontolku ke wajahnya yang tepat berada di depan selangkanganku karena sebelumnya Natalie juga bergegas mengambil posisi berlutut di depan kontolku menanti curahan pejuhku.

“Sini aku mandiin kamu pake pejuh!!”

“Aaaaahh!!! Yeeeasssh… “

“Crooott….crooottt..croootttss…”

“Terima nihhh..!!” desahku meracau nikmat dibarengi dengan beberapa semprotan kental pejuh dari lubang kontolku menyirami sebagian wajah, mulut, dan banyak yang jatuh tercurah di kedua toketnya.

Aku terus mengocok dan memeras seluruh cairan yang ada di kantong kontolku keluar dan tercurah di tubuh Natalie. Kemudian Natalie meraih tanganku dan menggantikanku meremasi kontolku ini dan diakhiri dengan hisapan dan jilatan mulutnya membersihkan seluruh cairan cinta kami yang melumuri kontolku itu.

Aku sangat menikmati pandangan mataku saat ini, istri orang ini sedang berlutut di depanku bermandikan pejuh dan sedang menghisap membersihkan dan mencari tetesan terakhir dari pejuhku.

“Haaassshhh…haaaah…haaaah..” aku langsung duduk tersandar di sofa ini sambil mengatur nafasku yang kacau akibat orgasme hebat yang baru kuraih bersama Natalie barusan.

“Pejuhnya banyaak bangeet… hehehe… kentel banget lagi nih… “ ucap Natalie sambil mengusap pejuhku yang melumuri tubuhnya seperti sedang meratakannya ke seluruh dada dan lehernya. Aku tak menjawab perkataannya, hanya menikmati pemandangan indah dan binal di hadapanku saat ini.

“Cupph.. Makasih yaa sayang. Tadi enak banget” Ucapku sambil meraih dan mengecup keningnya.

“Iyaaa masku sayang… Sampe badan aku lengket disiram pejuh begini yaa..” jawabnya dengan manja.

“Tadi katanya minta dimandiin pejuh?”

“Hehehe… Tapi kayaknya istrinya mas nicko ini suka deh disemprotin pejuh kayak gini.” Godaku.

“Hushh… Awas lho nanti kedengaran orangnya lho.”

“Nakal yaa nyemprotin istrinya orang pake pejuh lengket banyak banget kayak gini.” Katanya lagi.

“Hahaha…”

“Eh, kalo mas Nicko tau aku lagi mengencani istrinya gini gimana nih?” Ucapku padanya.

“Mengencani… Bahasamu mas…”

“Ngenthuuuu kaliiii…. Hahahaha” jawabnya sambil tertawa lepas

“Hahaha iyaa deng… Lagi ngenthu istrinya..!! hahaha” ucapku lagi

“Iyaa kamu tuh mas, ngentot aja bilangnya kencan.. Wuuu..”

“Hehehe… Maap yaa mas, istrinya tak kenthu barusan..”

“hahaha pake minta maaf segala. Udah dientot juga, baru minta maap.”

“Abis istrinya napsuin banget sih.”

“Iyaa dong, istrinya siapa duluu…”

“Beruntung banget yaa mas Nicko punya istri kayak kamu nih, jago sekarang urusan kenthu mah.”

“Makanya cari istri sana, biar nggak ngentotin istrinya orang kayak tadi.”

“Hehehehe… maunya sih kamu aja yang jadi istri aku..”

“Weeek… Izin dulu dong sama yang punya”

“Hehehee… Iyaa ntar mas minta izin sama mas Nicko deh supaya bisa ngentotin dan muasin istrinya.”

“Kayaknya bakal dikasih izin deh, soalnya kan mas Nicko jarang banget bisa bikin aku puas. Beda sama mas Anggo kontolnya lebih setrooong…”

“Hahahahha bisa aja kamu dek!”

Natalie di mataku sekarang benar-benar lebih matang dalam urusan seks, sikap manja dan binalnya benar-benar memuaskan keinginan atau birahi si pria namun tanpa terkesan murahan, sama sekali tidak. Justru aku merasa ketika mengentotnya barusan seperti sedang bercinta dengan kekasih sendiri saja. Kurasa aku ketagihan dengannya.

“Lagii yook!” Ucapku.

“Heh!! Barusan nyemprot udah mau nambah lagi mas nih…”

“Eh, kontolnya kok udah keras lagi aja nih” ucapnya terkejut karena melihat kontolku kembali mengeras karena kembali birahi.

“Hehehehe… Siapa yang nggak tahan sih sama kamu, pengennya seharian ngentot aja bawaannya tau, hahaha” jawabku tergelak.

“Hihihi dasar..”
Yaudah, nanti lanjut di dalem kamar aja ya… Disini kurang nyaman tempatnya.” Katanya padaku.

“Hah.. Kamar mana?” Tanyaku bingung karena Natalie barusan mengajakku untuk melanjutkan ronde berikutnya di dalam kamar. Apa yang dimaksud adalah kamar yang digunakannya bersama suaminya?

“Ituu kamar aku, disitu.” Ucapnya sambil menunjuk ke salah satu kamar dari dua kamar yang ada di rumah ini.

“Ya udah, aku bersihin ini dulu.”

“Kamu langsung kesana aja yaa..”

“Tunggu aku sambil rebahan di kasur aja sana.” Ucapnya sambil berdiri dan berjalan ke arah kulkas. Aku lalu juga ikut berdiri dan berjalan ke arah kamar yang ditunjuknya tadi.

“Nih bawa minum mas. Taruh di kamar sekalian.” Katanya sambil menyerahkan dua botol minum kepadaku yang kuterima dan langsung kubawa masuk ke dalam kamar itu.

Setelah aku masuk ke dalam kamar pribadi Natalie dan suaminya, aku langsung merebahkan tubuh telanjangku di atas ranjang mereka ini. Sekilas aku menyapukan pandanganku ke seluruh sudut kamar ini, hal wajar yang dilakukan seseorang ketika berada di tempat yang baru melakukan hal seperti ini. Aku bisa melihat tatanan kamar yang cukup rapi dari kamar ini, hanya ada beberapa sedikit benda yang tercecer tak diletakkan semestinya.

Karena aku lupa membawa masuk ponselku, aku memutuskan untuk mengambilnya ke depan di ruang tamu tempat kami bertarung birahi tadi. Namun ketika aku perlahan membuka pintu kamar ini, aku melihat sesuatu hal yang sangat mengejutkan diriku sendiri.

Bersambung