Agen Bola Terminal Bandar Bola Terpercaya
LAPAKDEWA LAPAKPOKER

Menjaga Keperawanan Adikku Part 8

Part 1Part 2Part 3Part 4Part 5
Part 6Part 7Part 8Tamat

Suara deburan ombak terdengar semakin gemuruh, di langit sana bulan bersinar terang tak hanya memancarkan cahaya hangat, namun juga memberi gravitasi agar laut semakin pasang demi menggerus daratan. Di antara batas lautan & daratan itulah kami berjalan-jalan.

Alas kaki sengaja kami lepas demi merasakan lembutnya pasir pantai & air pantai. Malam ini bulan bersinar hangat hingga cahaya temaramnya cukup membuat pandangan kami jelas tanpa bantuan lampu sekalipun, jejak-jejak kaki yg kami buat tersapu jilatan ombak.

Andai saja kami adalah sepasang kekasih, tentu sudah kuraih tangannya & kupagut mesra bibirnya sejak tadi. Suasana romantis memang selalu mudah mengundang nafsu.

Kami berjalan menyusuri pantai melewanti warung-warung makanan, & perahu-perahu nelayan yg tertambat. Tujuan kami adalah batu karang besar diujung sana yg sejak tadi terlihat menggoda dari hotel.

Sejak tadi Hp ku terus bergetar, pasti Yunda, namun aku tak perdulikan dulu. Saat ini Hana yg ada didepanku, aku takut dia curiga kalau aku terlalu sering memainkan Hp, untung tadi sempat ku senyapkan.

Sepanjang jalan adikku menceritakan kondisi keluarga ibuku di Solo, serta pengalamannya seminggu menjalani berbagai proses rekrutmen. Dalam ceritanya dia sangat yakin yg terbaik dalam test TPA serta psikotest.

Namun apadaya nasib baik belum berpihak padanya. Aku sendiri hanya termenung, perasaanku tentang kegelisahan hubunganku dengan Hana muncul lagi dalam benakku. Sebelumnya aku menunda karena beralasan mencari waktu yg tepat untuk mendiskusikan ini, & sekarang kami hanya berdua.

Jauh dari keramaian, ditepi pantai bertemani deburan ombak, menurutku bila ingin bicara inilah saatnya.

Namun nurani ku menolak, adikku baru saja terhibur dari rasa sedihnya, tegakah aku merusak kesenangannya ditempat & suasana yg indah ini. Memikirkan itu membuatku sedih & gamang.

Ternyata butuh setengah jam buat kami untuk mencapai karang raksasa tersebut. Karang tersebut berdiri kokoh ditepi pantai, tingginya melebihi rumah kami, tampaknya bisa dinaiki karena ku lihat sekilas ada jalan setapak.

Namun kami mengurungkan keinginan kami karena ini bukan wilayah kami, kami takut terjadi hal yg tidak di inginkan. Disampng adikku masih trauma dengan hal berbau mistis, dia benar-benar terbayang dengan kejadian horor di Sekolahnya dulu.

Sampai disana Hana hanya memintaku untuk mengabadikan momen ini dalam ponselnya. Setelah itu kami memilih duduk di perahu nelayan yg tertambat ditepi pantai, pemiliknya tak tampak disitu, namun sepertinya tak keberatan bila kami duduk disitu. Sunyi beberapa saat, kami seperti asik dengan pikiran kami, atau mungkin sedang menikmati suasana malam ditepi pantai.

“Aku udah tau Mas.. kemaren ibu cerita” aku terlonjak, jantungku seperti lepas. Walau aku sudah nyaris tau apa maksud perkataan tadi namun tetap saja secara reflek aku bertanya pada Hana.

“maksud kamu dek??”

“soal perjodohan kamu sama Yunda mas” adikku menjawab sambil memandangi kakinya yg penuh pasir pantai.

Mendengarnya jelas menciutkan ku. Saat ini yg terbaik buatku adalah diam, untuk bersiap menerima amarah adikku. Namun dia masih duduk anteng, hanya memandangi kakinya sambil sesekali membuang pandangannya ke laut lepas. Aku hanya menunduk kaku, dia melirik ke arahku. Lalu tersenyum tipis.

“Mas aku gak marah kok.. aku tau bakal dateng saatnya juga kok kita mesti ngobrolin ini. & waktu aku denger rencana perjodohan mas sama mbak Yunda, menurutku ini jadi waktu yg pas buat kita ngebahasnya..” seluruh tubuhku dingin sekali, dilanda rasa gelisah & bersalah.

“mas tau gak, sebenernya aku udah lama ngerasa mau sampai kapan kita kaya gini. Kita berdua tau kalo ini tabu, gak wajar, & jelas… dosa..” ketika menyebut kata dosa suara adikku bergetar, sepertinya air mata siap tumpah. Akupun mau tak mau semakin menciut di tempatku.

“Maaf ya mas.. tapi jujur aku nikmatin saat-saat itu. Aku juga sempet larut, walau sebenernya kadang aku mau banget nolak kalo mas ngajak aku. Tapi gak tau kenapa aku gak bisa, aku sayang banget sama kamu Mas..

Lama-lama aku tau kalo perasaan ini nih udah gak wajar buat kita. Mau gimana juga kita ini adek kakak..” Hana berbicara sambil menangis tertahan. Walau dengan temaram cahaya bulan, aku bisa melihat pipinya yg tirus telah basah.

“Jadi menurutku mas, karena sekarang udah ada Yunda buat kamu… ini saatnya buat kita nge-akhirin ini..” Kini aku tak bisa lagi menahan air mataku sendiri untuk jatuh.

“Maafin mas dek..” hanya itu kata yang bisa aku ucapkan dengan bergetar.

Mendengar kata-kataku adikku menatapku, lalu dia memeluk tubuhku.

“Kita berdua yang salah Mas” kata adikku sambil mendekapkan tubuhnya ke tubuhku. Pelukannya terasa hangat, seolah seluruh jiwaku damai dalam pelukannya.

“Yunda datang ke hidup kamu jg bukan salah siapa-siapa, emang udah takdirnya begini mas. menurutku ini waktu yg pas buat kita jadi adek kakak normal lagi” Aku sendiri hanya bisa menangis tertahan dalam pelukannya.

Sesungguhnya aku terkejut atas kebesaran hati adikku. Harusnya saat ini hatinya sedang terluka, sudah sepantasnya dia memaki & menghina ku karena tak menceritakan perjodohan ku dengan Yunda, namun adikku justru melihatnya dari sisi yg lain, dia benar-benar melihat bahwa hubungan kami memang akan tiba saatnya untuk berakhir.

Hatiku sendiri benar-benar hancur, andai aku bisa setegar adikku saat ini. Dalam hati aku mengutuki takdir kami, kenapa aku & Hana harus terlahir sebagai saudara sekandung? Mengapa aku tak bisa memiliki hatinya, mengapa aku tak bisa memiliki cinta adikku? Bukankah kamu sudah memilik Yunda Ar? Kamu jangan egois, nanti kamu semakin menyakiti Hana.

Yah!! Aku memang egois. Namun sungguh aku tak ingin menyakiti siapapun sama sekali. Andai saja Hana bukan adikku, lalu dia & Yunda datang bersamaan dihadapanku & aku harus memilih diantar mereka berdua, maafkan aku Yunda aku sudah pasti memilih Hana sebagai pendamping hidupku.

Bukan, bukan karena Hana lebih baik dari Yunda. Mereka berdua sama-sama wanita yg baik, punya keunggulan masing-masing yang sudah jelas masuk dalam kriteria pria manapun bila mencari pendamping hidup terbaik.

Secara face memang Yunda jelas lebih unggul dari Hana, namun ini bukan soal itu. Entah kenapa nuraniku lebih memilih Hana. Hanya sekali lagi dinding terbesar yg tak mungkin dirobohkan adalah fakta bahwa kami berdua adalah saudara kandung.

Maka karena hal itulah Yunda menjadi yg terbaik buatku. Walau demikian aku masih merasa bahwa kenyataan ini terasa begitu pahit. Aku masih tergugu dalam dekapan adikku, kurasakakan juga pundakku basah oleh air mata Hana.

“Mungkin kita masih bisa ngelakuinnya sekali lagi mas, untuk yg terakhir kalinya..” Kata Hana berbisik sesenggukan ditelinga ku.

“Cam, hari minggu jangan lupa ya. Kamu ati-ati pulangnya, see u on Sunday. Love u so much my cami” pesan Yunda yang tertera pada layar Hp ku, dia mengingatkan agenda kami, aku hanya menjawab singkat “Ok”, semoga dia paham aku sedang sibuk.

Aku baru selesai membereskan kontrak pihak ketiga saat ini. Mataku terasa panas menatap layar monitor delapan jam nonstop & hanya sekali diselingi istirahat makan. Langsung saja aku pecah menjadi tiga file, kurapikan menjadi satu folder & siap kuberikan kepada pak Najib atasanku. Aku ketuk pintu ruangan beliau & langsung saja kuberikan data kontrak tersebut melalui flashdisk.

“semua udah pak, di cek aja dulu. Kalo ada yg kurang telpon saya aja ya pak. Maaf sy mau langsung pulang nih”

Pak Najib menerima Fd ku, beliau memeriksa sebentar, lalu berkata “Ok nanti sy cek lagi Ar. Kamu buru-buru amat mau pulang. Udah kangen sama calon istri mu ya. Heheheh” kata pak Najib sambil tersenyum.

“hehehehe. Iya pak, minggu ini ada yg harus disiapin. Mohon do’anya ya pak supaya lancer”

“iya nak tenang aja. Semoga lancer sampai hari akad mu ya. Eh ngomong-ngomong kalo udah ditentuin hari-H nya, langsung kabarin saya ya. Biar sy langsung kabarin sekantor. Hehe”

“oh iya pak, tentu. Nanti segera saya kabarkan”

“okeeh.. sy tunggu kabar baiknya yah nak. Kamu hati-hati dijalan kalo gitu”

Yah, setelah agenda kantor kami di Anyer pertengahan bulan lalu aku, ibu serta Yunda & keluarga bu Vera resmi mengakhiri kerahasiaan perjodohan kami. Ayahku setelah diceritakan mengenai keseriusanku pada Yunda menyambut baik niatku, beliau bilang asal aku sudah mantap & yakin pasti di dukung.

Ayahku percaya aku sudah bukan anak-anak lagi, jadi mampu menentukan pilihan terbaik buat masa depanku. Memang selama ini aku tidak pernah mengecewakan beliau, jadi mudah bagiku mendapatkan kepercayaannya.

Selain itu keluarga kami juga sudah mengenal baik om Deden serta bu Vera sehingga memudahkan persetujuan dari Ayahku. Setelah menyetujui keseriusanku, ayah langsung merencanakan lamaran resmi untuk keluarga om deden, beliau bahkan ingin agar lamaran dilaksanakan secepat mungkin.

“kalau bisa bulan ini kita sudah pinang Yunda Ar” kata Ayahku.

Maka setelah lobby-lobby dari kedua keluarga, disepakati acara lamaran pada pertengahan Oktober.
Karena itulah hari minggu nanti aku & Yunda sepakat mencari baju yg sesuai & kalau bisa satu warna untuk acara lamaran nanti.

Rekan-rekan kantorku menyambut baik & ikut gembira ketika ku ceritakan perihal rencana lamaranku. Mereka menyambut hangat & siap turut serta meramaikan pernikahan ku nanti.

“mau dibeliin apa Ar buat hadiah kamu nanti? Lemari, kulkas, springbed atau kompor gas?” celetuk Bu Erni penuh semangat.

Ketika kuperlihatkan foto Yunda, reaksi mereka semakin bergairah. Mereka memuji kecantikan Yunda. Aku jadi semakin semangat & mantap. Namun sayangnya bukan persiapan perjodohan ku yg membuatku semangat pulang, namun ada sebuah janji dari adikku, bahwa kami akan melakukan permainan cinta kami untuk terakhir kalinya.

Ternyata adikku sudah dari jauh-jauh hari mengetahui rencana ibu ku untuk pergi ke rumah nenek kami di Kudus. Ibu ku hendak bersilaturrahmi kepada keluarga disana sekalian mengabarkan & minta restu dari nenek perihal perjodohan kami. Ibu akan berangkat bersama Ayahku.

Sebenarnya ibu juga mengajak Hana, namun dia menolak dengan alasan ada acara bersama temannya. Padahal yg sebenarnya terjadi saat Ibu & Ayah tak ada dirumah inilah dia menyiapkan “perpisahannya” denganku.

Hana sendiri semenjak pulang dari Anyer dia Nampak datar, biasa, atau berusaha cuek. Tak ada gurat sedih di wajahnya, bahkan ketika keluarga kami mengobrol tentang perjodohanku & lamaran yg dibahas untuk Yunda, aku sendiri tak bisa menebak apa yg ada dalam benak adikku saat ini.

Sejak obrolan kami terakhir kali di tepi pantai itu perhatiannya padaku jadi jauh berkurang, baju-baju daster menggodanya yg dulu sering ia pakai kini berganti menjadi training panjang serta kaus oblong, walau tetap saja itu tak bisa menutupi keindahan pantat & payudaranya.

***

Aku bangun pukul setengah Sembilan pagi. Ibu & Ayah telah berangkat sejak shubuh tadi meninggalkan aku & adikku di rumah. “ibu tinggal ya Ar” hanya itu kata-kata yg ku ingat dari ibuku shubuh tadi, aku mendengarnya dalam keadaan setengah sadar.

Dengan malas aku bangkit meraih handuk untuk bergegas mandi. Begitu keluar kamar aku melihat keadaan rumah sepi, entah ada dimana adikku.

“Deeek..” aku memanggil Hana, namun tak ada jawaban.
“lagi ke minimarket apa yah?” kataku dalam hati.

Disamping aku juga sungguh menanti kapan perpisahan yg dia janjikan. Aku bergegas mandi agar saat Hana siap aku juga dalam keadaan yg terbaik. Selesai mandi aku kembali k kamarku, menyalakan laptop bersiap main game online.

Ohiya, sedikit cerita saja, sebenarnya Yunda agak kurang suka dengan game, menurutnya itu hanya menumpulkan otak & membuat orang jadi anti-sosial. Dia sendiri memintaku untuk mengurangi hobby ku bermain game online. Agak menyebalkan sih, tapi menurutku disinilah awalnya kami saling mempelajari & menerima perbedaan di antara kami.

Yunda berpikir seperti itu wajar, dia adalah tipe orang disiplin, jarang mau menghabiskan waktu untuk hal-hal remeh & tidak bermanfaat menurutnya. Tapi aku melihat sisi positifnya, sifat disiplin luar biasa tersebut akan bermanfaat buat keluarga kedepannya, walau kadang menurutku Yunda agak over hingga memaksakan kehendak baik untuk dirinya maupun kpd orang lain, namun disitulah aku menjadi rem & pengingat buatnya. Untungnya Yunda bukan orang bebal yg sulit di ingatkan.

Tak terasa waktu sudah menunjukan pukul tengah hari, perutku sudah terasa sangat lapar. Aku lupa tadi tidak sarapan pagi, jadi kuputuskan untuk mencari makan di dapur. Ketika aku keluar kamar aku kaget karena keadaan ruang tengah sangat gelap, begitu juga dengan ruang tamu & dapur. Ternyata semua gorden tertutup rapat. aku bingung siapa yg melakukan ini? Apa mungkin adikku? Tapi memang iya untuk apa? Lagipula dimana adikku.

“Deek.. kamu dimanasih?” kataku memanggilnya agak berteriak, namun lagi-lagi tak ada jawaban.

Masih dalam keadaan bingung aku menuju dapur, membuka kulkas untuk mencari apapapun yg bisa ku olah atau ku makan. Lagipula lampu ricecooker menyala kuning, tanda ada nasi tanak didalamnya. Setelah aku mengambil beberapa sayuran, bumbu nasi goreng & telur, aku dua sendok nasi untuk aku goreng.

Namun baru saja aku menyalakan kompor tiba-tiba ku dengar pintu terbuka, aku reflek menengok ke arah ruang tengah. Terlihat Hana adikku memakai tank top serta celana street ketat. Otomatis aku melongo bego, menelan ludah karena tubuh adikku yg indah tercetak sempurna dalam balutan pakaian super ketat tersebut. Belum lagi rambutnya yg dikuncir tinggi membuat leher adikku terlihat menggoda.

Yang membuatku bertambah kaget adalah pakaian tersebut merupakan pakaian Hana ketika kami mengawali permainan cinta kami pada februari lalu. Namun terlihat kali ini tubuhnya semakin semok, mungkin karena sudah menghabiskan banyak waktu dirumah & tidak terlalu banyak kegiatan sehingga aku merasa tubuhnya pantat serta lengannya tambah berisi.

“Laper mas? Sini aku aja yg masakin” kata adikku tersenyum, aku cuma bisa melongo.

“ini gorden kenapa pada ditutup dek?” aku mencoba menyembunyikan kegugupan ku.

“Mas duduk aja, sini biar aku yg masak” katanya penuh otoritas.

****

Aku duduk dimeja makan sementara adikku Hana memaasak nasi goreng buatan kami berdua. Mataku benar-benar dimanjakan melihat pantat serta punggung adikku yg sedang memasak, walau masih tertutup oleh pakaiannnya namun sekali lagi itu tak mampu menyembunyikan tubuhnya, apalagi kait bra’a yg tercetak dipunggung adikku.

Tak lama kemudian nasi goreng ayam pedas tersaji didepan kami. Aku mencoba makan walau sesekali mataku menatap belahan dada adikku yg terlihat jelas didepan mataku. Sungguh aku tak mampu menikmati lezatnya nasi goreng buatan Hana ini. Belum lagi suasana dapur & seluruh rumah yg remang-remang.

Selesai makan Hana menyajikan teh madu untuk kami. Keluargaku memang penyuka madu, aku & Hana sering mencampur madu dengan susu atau roti saat kami sekolah dulu, bahkan adikku masih suka sampai sekarang. Ibu suka meminumnya langsung, sedang ayah kadang mencampurnya dengan jamu kadang mencampurnya dengan telur ayam kampung.

Kami meminum teh dengan tenang. Aku sendiri masih bingung mengapa adikku menutup gorden rumah kami. “Dek, ini kamu yang nutup gorden semuanya?” adikku hanya mengangguk sambil menyeruput teh nya.

“buat apa dek?” aku mencoba bertanya lagi.

“Abisin teh nya mas” dia mengacuhkan aku.

Selesai menghabiskan teh kami tiba-tiba adikku berdiri lalu menuju jendela dapur kami, sekilas dia tampak memeriksa kerapatan gordennya, lalu dia berbalik menghadap ke arahku.

“Mas, aku udah janji mau ngasih kamu yg terakhir kalinya..” kata adikku sambil wajahnya menunduk namun tampak merona merah.

“Karena ini yg terakhir aku pengen ini berkesan buat kita berdua… jadi bisa gak aku sama mas seharian ini….. di rumah & pake…. daleman aja”

Deg!! Jadi ini alasan adikku menghalangi cahaya masuk ke penjuru rumah kami…

Sambil berbalik ke arahku, adikku perlahan melepaskan pakaiannya hingga sekarang dia hanya mengenakan bra merah & cd biru. Aku masih melongo dengan kelakuannya sambil sesekali menenggak ludah. Tubuh adikku sungguh mudah menggoda iman & membakar nafsu, kulit coklatnya tampak berkilat dalam keremangan suasana rumah kami.

Belum lagi suasana gelap seperti ini menimbulkan sugesti pengap sehingga kulit adikku terlihat semakin eksotis oleh kilatan keringat. Perlahan dia berjalan ke arahku lalu duduk dipangkuanku.

Tanpa basa-basi dia mengecup keningku sehingga wajahku tepat berada dibelahan dadanya yg mengganyung indah pada tubuhnya. Tampak bulir-bulir kecil keringatnya menghiasi kulit payudara adikku. Penisku telah berontak, kini kedua kelamin kami berhadapan hanya terhalang cd & boxerku serta cd Hana.

Adikku mengecup mesra keningku sambil membelai kepala serta daguku, aku membalas dengan membelai kepala & punggungnya. Tak lama adikku mengarahkan tanganku ke atas, lalu menyingkap bajuku hingga kini tubuh bagian atasku telah telanjang.

Setelah membuang bajuku ke lantai dapur, dia memagut lembut bibirku. Aku tak kuasa untuk memulai permainan lidah kami yg sudah cukup lama aku rindukan, sekian lama aku & Hana melakukan hubungan tabu ini, adikku sudah jauh lebih mahir.

Aku ingat awal-awal percintaan kami dulu, saat itu lidahku yg harus agresif mengajak lidah Hana bertaut dalam mulutnya, namun kini lidahnya & lidahku berdansa bersama. Payudara adikku yg lembut & kenyal menekan lembut dadaku, menambah gairahku yg terbakar.

Tanganku perlahan meraih kait bra adikku, mulut, bibir, lidah, gigi & tanganku sudah tak sabar bermain-main pada kedua bukit kembarnya. Namun saat aku mencoba melepas kaitannya Hana menahan tanganku sambil melepas pagutannya.

“Sabar mas, kita masih punya banyak waktu” katanya, wajah kami dekat sekali, aku bisa merasakan nafasnya berhembus pada wajahku, dahi kami beradu pelan.

Lalu Hana bangkit, dia berjalan keluar dapur perlahan. Sambil berjalan tangannya membelai pipiku seolah mengajakku untuk mengikutinya. Hana masuk ke kamarnya lalu menutup pintunya, meninggalkanku yg tengah dilanda birahi.

Aku menenangkan diriku sebentar, sambil mengatur nafas, aku bersiap menyusul Hana ke kamarnya. Namun baru aku berdiri adikku sudah keluar kamarnya, dia melingkarkan selimut tipis ketubuhnya layknya memakai kemben.

“Mas, sejak kita belum pernah main dikamar kamu ya. Hari ini boleh gak kita ngelakuinnya dikamar kamu?” adikku berkata sambil menunduk, entah ekspresi wajahnya seperti apa aku tak bisa melihatnya karena suasana rumah yg sungguh remang.

“Oooh.. Iya dek, boleh..” kataku tergagap. Benar juga, kami tak pernah melakukannya dikamarku. Aku membuka pintu kamarku, tampak lah kamar acak-acakkan khas cowok.

“maaf dek acak-acakkan” Hana hanya tersenyum mengejek melihat kamarku. Namun dia masuk & segera duduk ditepi ranjangku lalu merebahkan dirinya.

Aku sudah tak sabar lagi, tak mau menunggu lagi aku segera melepas boxer & cd ku. Hana yg sudah siap dalam pembaringannya segera saja kutindih sambil memagut lagi bibirnya, kini tanganku langsung meremas kedua buah dadanya yg kenyal & empuk.

Aku tak bosan memuji keindahan payudaranya, benar-benar mahakarya sang pencipta payudara seperti ini bisa tersembunyi pada pribadi sopan adikku, & aku kakak kandungnya adalah laki-laki beruntung bisa menikmati setiap inci dari payudaranya. Penisku sengaja kugesek-gesekan pada vagina’a yg masih tertutup cd.

Hana sendiri menyambut segala permainanku pada tubuhnya. Lidahnya menari-nari bersama lidahku, tubuhnya melik-liuk dibawah dekapan tubuhku, pun dengan pinggulnya, seolah kami saling berpacu untuk membakar gairah kami. Perlahan nafas kami semakin memburu, & dapat kurasa keringatku mulai membasahi tubuhku, adikku pun demikian.

Tanganku sudah tak sabar lagi menyentuh kulit payudara Hana, maka segera saja aku menyingkap cup bra adikku, & tanpa menunggu waktu lagi kini bukit daging kenyal nan menggoda tersebut sudah berada dalam remasan tanganku.

Tubuh adikku tampak agak terangkat ketika kulit tanganku menjamah kulit payudaranya. Inilah kelemahan atau titik birahi terbesar adikku, terutama putingnya yg sebelah kiri.

“eemmffhhhh” lenguh adikku dalam pagutan mulutku saat payudaranya sudah dalam jamahaanku.

Tanganku meremas, & milin-milin puting kedua payudaranya secara bergantian, kini tubuh Hana tampak meliuk-liuk lebih liar. Nafasnya jauh lebih memburu & pinggulnya agak berkedut-kedut, terasa menekan-nekan batang penisku.

Mulutku melepas pagutan kami, lalu aku menciumi seluruh bagian wajah adikku yg telah berpeluh keringat, lalu turun & mulai mencumbu leher adikku, tanganku masih dimanjakan oleh payudaranya.

Tak lama, aku merasakan goyangan pinggul adikku semakin liar, sempat terdiam sesaat namun selanjutnya tubuh adikku menggelinjang disertai kedutan keras pada pinggulnya, tampaknya Hana sudah orgasme. Aku menyudahi cumbuanku, aku ingin menikmati wajah khas adikku saat orgasme.

Saat orgasme wajah Hana merona merah, matanya sayu, mulutnya megap-megap seperti ikan didaratan & yg paling menggoda adalah entah kenapa bibirnya jadi terlihat jauh lebih tebal & ranum.

Aku tersenyum sambil menatapnya, adikku membalas senyumanku. Pandanganku turun kebawah tubuh adikku, tampak cd’a yg sudah basah oleh cairan cintanya, pinggulnya masih berkedut pelan.

“dek, udah basah. Dibuka aja ya” kataku. Adikku hanya mengangguk pelan membalas perkataanku, jelas sekali tubuhnya telah dilanda birahi hebat.

Dengan perlahan aku meloloskan cd Hana dari tubuhnya, kini vaginanya yg tebal & harum tampak memanjakan mataku. Dulu biasanya setelah aku membuka cd & menikmati pemandangan vaginanya pasti adikku mencoba menutupinya dengan paha atau tangannya, kini dia seolah membiarkan aku menikmati sepuasnya vaginanya yg indah.

Walau adikku tetap tak bisa menyembunyikan kerisihannya, terlihat sekali dari gerak-gerik tubuhnya yg gelisah. Tak ingin berlama-lama membuat Hana tak nyaman, segera saja aku mengarahkan mulutku ke vaginanya. Sentuhan awal lidahku pada bibir vaginanya membuat pinggulnya terangkat,

“zzzhhhhhhhrrrhhhhhh…!!!!” adikku melenguh.

Tampak dia membuang kepalanya ke atas, & tangannya mencengkeram seprai kasurku.

Vagina Hana sungguh bersih dari bulu & harum, aroma inilah yg menghilangkan rasa jijikku hingga lidah serta mulutku betah berlama-lama mempermainkan vaginanya. Lidahku menyapu lembut belahan bibir vagiananya dari atas kebawah, bawah ke atas sambil sesekali menyentuh klitorisnya

Menerima serangan dari lidahku tubuh Hana meliuk-liuk liar, kepalanya menoleh ke kanan & kekiri, tangannya membelai sesekali menjambak kepalaku saat kenikmatannya naik.

“sssrhhh….ourrrghhhh….mmhhaazzzz….oooohhhhh…..” lenguhan adikku, tampak dia leluasa melenguh sekeras mungkin karena memang hanya ada kami berdua dirumah.

Sungguh sudah lama kami tak bermain sebebas ini. Sejak aku diterima bekerja diluar kota & hanya bisa pulang di akhir pekan, ayah & ibu kami selalu ada dirumah. Berbeda saat aku masih jadi pengangguran dulu.

Pagi sampai sore aku & Hana bisa bebas melakukannya tanpa ada orangtua kami yg sibuk bekerja,. Jadi keadaan yg sudah lama tak kami alami ini menimbulkan sensasi rindu tersendiri buatku, aku yakin adikku juga demikian.

Sambil terus menjilat vaginanya, kedua tanganku masih aktif bermain-main pada payudara adikku. Lenguhannya semakin membakar gairah pada diriku, jadi aku mencoba merubah posisi kami. Aku bangkit melepas cd ku, hingga batang penisku yg sedari tadi telah berontak dalam celanaku kini bebas menantang dunia.

Adikku hanya tersenyum memandang penisku, sebelum akhirnya aku kembali menjatuhkan tubuhku ke atas tubuhnya, & kembali memagut mesra bibirnya. Tangan kananku membelai kepalanya sedangkan tangan kiriku bermain-main pada vaginanya.

Aku mengawali permainan tanganku dengan membelai belahan vaginanya, lalu mencari klitorisnya & memijat-mijat bagian sensitive tersebut dengan lembut. Tubuh adikku menggelinjang hebat dalam permainanku.

Pinggulnya bergoyang bak penyanyi dangdut koplo menerima serangan dari tanganku, sementara tanganku sungguh menikmati vaginanya, rasanya tak kalah menyenangkan seperti saat memainkan dada Hana.

Tak memerlukan waktu lama bagi adikku untuk orgasme yg kedua kalinya siang itu, karena lima menit kemudian aku merasakan tanganku basah, bibirku digigitnya lembut sedangkan lenganku dicengkeram erat oleh adikku, hingga terdengar lenguhan panjang dari bibirnya.

“eeeemmmmmmhhhhhh” untuk kesekian kalinya adikku melenguh dalam pagutan mulutku. Entah kenapa aku senang sekali mendengar lenguhan tertahan darinya, rasanya terdengar sensual & lebih menggairahkan buatku.

Kini aku merasakan tubuh adikku menggelinjang hebat, pinggulnya berkedut-kedut & saat aku melepaskan pagutan bibirku, adikku berteriak hebat. Tangan kirinya menutup wajah bagian atasnya sedangkan tangan lainnya masih mencengkeram erat lenganku.

“eeerrrrgggghhhhh…..!!!!!” sambil vaginannya memuntahkan cairan kewanitaan cukup banyak hingga membasahi kasurku.

Ada sekitar tiga kali muncratan kulihat keluar dari vaginanya sampai pinggul adikku terangkat, sebelum akhirnya pinggulnya jatuh bersamaan dengan berakhirnya orgasme Hana.

Kini wajah Hana yg makin merona merah menatap wajahku dengan sayu, dia mengingit bibir bawahnya. Aku benar-benar hafal bahwa itu adalah ekspresi dimana adikku menginginkan lebih jauh. Rasanya dia benar-benar merindukan sentuhan tubuhku pada setiap inci tubuhnya.

Terhitung sudah dua minggu setelah keluarga kami mendeklarasikan persiapan lamaran untuk Yunda, kami cuti melakukan ini. Ditambah fakta bahwa dia sudah mengetahui perjodohan aku & Yunda, aku merasa dia jadi agak segan padaku, bahkan terkesan mulai menjaga jarak. Namun hari ini, dihari terakhir permainan kami, aku berniat melupakan Yunda untuk sesaat & ingin memberi kenangan termanis untuk Hana adikku tersayang.

Tampak Hana masih mengatur nafasnya, tubuhnya tampak basah bermandikan keringat birahi, aku menyukai pemandangan ini karena tubuh adikku tampak jadi semakin menggoda. Sadar tubuhnya memanjakan mata kakaknya.

Hana bangkit & mendorongku hingga kini tubuh yg gentian rebah dikasurku & tanpa menunggu reaksiku adikku sudah memposisikan batang penisku di antara kedua payudaranya.

Aku yg masih kaget, & tiba-tiba merasakan dua benda kenyal mengapit batang penisku hanya bisa tersentak, tak perlu waktu lama birahiku untuk naik sedemikian cepatnya. Yang tak bisa kulukiskan adalah betapa nikmat rasa kulit kenyal bukit kembar adikku, penisku terasa benar-benar hangat & entah apa itu namanya yg pasti itu adalah sensasi kenikmata tiada tara buatku.

Kini tubuh adikku sudah melonjak-lonjak membuat kedua payudaranya seolah mengocok, memijat & menggesek-gesek penisku. Rasa nikmat tersebut ditambah oleh kecupan sesekali mulut Hana pada ujung batang penisku saat lonjakan tubuhnya jatuh kebawah.

Aku sungguh terbang keawang-awang, Nampak jelas adikku ingin membalas orgasme yg tadi sudah kuberikan padanya & tampak jelas dia telah berhasil, karena kini aku merasakan ujung penisku telah panas & wajahku meringis tertahan. Aku mencengkeram seprai, melihat ekspresiku yg tampaknya akan menuju klimaks Hana langsung memasukan batang penisku ke mulutnya.

Aku tak kuasa lagi menggambarkan rasanya saat lidah adikku menari-nari dengan batang penisku dalam mulutnya, ditambah sentuhan dagu yg sesekali menghantam zakarku membuatku tak bisa menahan muncratan sperma dari tubuhku. Pinggangku berkedut hebat, tubuhku bergelinjang dahsyat, aku berteriak keras… “oooouuuhhhhh deeekkkkk!!!!” adikku melepaskan kulumannya.

Aku merasakan aliran deras sperma terlontar dari penisku, & terlihat kini muncrat deras membasahi kasur & wajah Hana. Dia tersenyum puas melihatku mencapai puncak kenikmatan. Kini adikku rebah disebelahku sambil mengelap sperma diwajahnya dengan selimut tipis yg dia bawa.

Aku masih mengatur nafas setelah orgasme tadi, namun Hana telah merapatkan tubuhnya pada tubuhku, kami berdua masih telanjang bulat. Ooh atau bra adikku masih melekat pada tubuhnya, namun tak menutupi kedua bukit kembarnya.

“Mas pokoknya seharian ini, Cuma kita berdua aja ya” kata adikku agak berbisik pada telingaku.

“Iya adikku sayang, hari ini mas jadi punya mu.. terserah kamu mau apa dari mas. Minta apa aja, kalo mas sanggup penuhin pasti bakal mas kasih” kataku.

Entah apa yg salah dari kata-kataku, namun tiba-tiba air mata sudah mengalir membasahi pipinya yg masih bermandi peluh.

“Ada satu yg meski adek minta dari mas, tapi gak akan mungkin mas kasih ke adek..” katanya mulai terisak pelan.

Awalnya aku kaget, namun tak perlu waktu lama buatku untuk memahami maksudnya.

“Andai kita gak pernah punya hubungan darah dek, udah jelas mas bakal kasih hati mas Cuma buat kamu” kataku sungguh-sungguh.

Hana hanya diam, tampak isakannya berubah jadi tangis pelan, lalu dia membalikan badannya hingga memunggungiku. Aku mencoba menghampiri tubuhnya, aku paham kenapa dia menangis. Sudah jelas dia terluka karena hari-hari yg kami lalui akan segera berakhir.

Walau saat dipantai dulu dia bilang inilah saat yg tepat untuk mengakhiri permainan cinta kami selama ini namun saat ini berakhir aku sudah punya pelabuhan baru pada Yunda, sedangkan Hana? Dia masih juga belum mendapat pekerjaan, walau hari-harinya disibukan dengan membantu ibuku dibutik namun apalah artinya ijazah cum lauda sarjana teknik industrinya.

Dan yg paling membuatku berdosa adalah setelah ini berakhir status Hana masih sendiri, dia tak punya sandaran hati. Mungkinkah aku kakak paling kejam didunia ini?

“dek maafin mas kalo mas nyakitin kamu” kataku sambil mencium bahunya dari belakang, aku mencoba membelai lengannya.

“harusnya kita udah gak bahas ini lagi kan yah?” kata adikku sesenggukan.

“harusnya dihari terakhir ini kita cukup ngelakuin hal-hal yg bikin kita seneng aja mas, kita bisa ngelakuin ini bebas gak ada ibu sama ayah.. harusnya hari ini aku kasih yg terbaik buat mas. Bukan malah nangis kaya sekarang..”

Aku hanya diam mendengar kata-kata adikku diwarnai tangisnya.

“harusnya aku yg minta maaf”

“dek gak gitu..”

Belum selesai aku bicara Adikku bangkit, membalikan tubuhnya & memegang pipiku. Nampak dia mencoba tersenyum kendati air mata masih membasahi wajahnya.

“kita masih punya seharian mas.. pokoknya hari ini jadi punya kita berdua.. udahlah yg itu gak usah dibahas lagi”

Lalu dia bangkit, melilitkan selimutnya selayaknya kemben & menuju pintu. “I love u mas”

Katanya, lalu dia keluar dari kamarku.

Hari itu benar-benar menjadi milik kami berdua, seharian aku & adikku tersayang hanya memakai pakaian dalam yg ternyata bertujuan untuk memudahkan permainan cinta kami dimana saja. Seolah kami sepakat, hari ini kami ingin memuaskan birahi kami sepuasnya, karena hari ini mungkin jadi terakhir kalinya dinding sekandung yg kami miliki bisa hilang untuk sesaat.

Setelah permainan pertama dikamarku tadi, kami melanjutkan percintaan kami. Waktu makan siang ketika adikku sedang menyiapkan mie untuk kami berdua aku memeluk tubuhnya dari belakang, & kami melakukan percintaan kami dimeja makan tanpa memperdulikan mie yg sedang direbus oleh Hana.

Aku ingat dulu menuang selai coklat ke tubuh bugil adikku, terutama diputing payudaranya, lalu menjilati sekujur tubuh yg dilewati selai coklat. Saat itu adikku menggelinjang hebat & memuncratkan cairan cintanya sampai mengenai perutku. Kini aku ingin mengulanginya lagi, namun selai coklat kuganti dengan madu asli yg ada dimeja makan.

Aku menarik tubuh adikku setelah mematikan kompor, dia menggelayutkan tangannya pada leherku sebelum kududukan dia dipinggir meja makan kami. Lalu aku meraih madu & menuangkannya ditubuh Hana, aku memulai dari belahan dadanya lalu secara horizontal melewati kedua bukit payudaranya, turun keperut & berakhir tepat pada pusatnya.

Ketika lidahku dengan lembut menjilati jalur madu yg membentang pada tubuhnya yg indah, Hana bergidik hebat, tampak susah payah dia menahan geli & nikmat yg lidahku berikan untuknya.

“eeerrrgghhhh……eeehhhmmmmm…..” mulutnya meracau. Tangannya hanya bisa membelai rambutku. Aku ingat saat itu aku benar-benar menikmati setiap gerak tubuhnya & setiap nafas serta lenguhannya. Sungguh aku tak bisa membohongi betapa sensualnya tubuh adikku ini, mudah sekali gairahku terbakar hanya dengan menikmati inci demi inci tubuhnya.

Permainan kami dimeja makan diakhiri dengan mengocok penisku pada belahan pantatnya, sambil tanganku memainkan payudara serta vaginanya dari belakang, & kami mencapai klimaks bersama-sama.

Sore harinya kami bercumbu diruang tamu, saat itu penisku dijepit oleh kedua paha Hana sambil dikocok oleh jemarinya yg lentik. Aku membalasnya dengan mengocok vaginanya sampai dia orgasme.

Saat mandi sore kami saling menyabuni daerah nikmat masing-masing, kami saling mengocok alat kelamin kami sampai orgasme bersamaan. Lalu menyiramkan air ketubuh kami sambil berpagutan & merapatkan kedua tubuh telanjang kami.

Sejujurnya, seharian itu penis & gairahku mendapatkan godaan hebat karena sebenarnya saat saling pantat adikku mengocok penisku dimeja makan, hampr saja aku mengikuti syahwat terdalamku untuk merobek mahkota adikku.

Namun sayangnya atau untungnya saat itu ponselku yg kutaruh dimeja makan berdering, Yunda menelponku menanyakan kabar karena sejak pagi aku tidak menghubunginya. Walau aku tak memperdulikan panggilan tersebut karena sudah komit mendedikasikan hari ini hanya untuk Hana, namun melihat nama Yunda pada layar ponselku membuatku tersadar sedikit.

Lepas senja menuju malam, kami menikmati teh hangat buatan Hana sambil mengobrol santai diruang TV. Walau dibilang mengobrol santai namun gairah kami tetap membara, karena kami mengobrol dengan posisi aku berselonjor sambil memangku tubuh Hana.

Adikku sendiri tubuhnya menghadap tubuhku, tangannya memeluk leherku hingga kulit perut kami saling bersentuhan, payudara Hana menekan ke dadaku & jarak wajah kami kurang dari 10 senti. Penisku sudah sangat berontak sampai menyembul keluar dari cd ku & ikut menyentuh kulit perut adikku.

Aku sebenarnya sudah sangat menahan birahi ku saat itu, namun aku ingin menghargai Hana dengan mendengarkan setiap curhatannya. Dalam obrolan kami, Hana dengan sungguh-sungguh diselingi isakan kecil mengatakan bahwa dia sungguh-sungguh menyayangiku, namun tetap saja fakta bahwa kami adalah saudara sekandung merupakan sesuatu yg mutlak & tak bisa dibantah.

“maafin adek mas, tapi mau gimana juga kita ini adik kakak. Hubungan kita gak akan pernah nemu titik temu mau dipaksa kaya gimana juga” katanya sambil terisak kecil.

“dek, sebenernya mas yg harus minta maaf ke kamu, jangan lupa mas yg awalnya mulai nyium bibir kamu dulu. Jadi keterusan sampe sekarang. Maafin mas dek, harusnya badan kamu ini Cuma buat cowok yg cinta sama kamu, kamu juga cinta sama dia”

Adikku tampak mencoba tersenyum dalam raut wajah sedihnya

“Mas sayang kan sama adek?” Aku hanya mengangguk.

“adek juga sayang sama kamu Mas.. walau rasanya emang aneh badanku dipegang-pegang sama kamu mas… tapi… adek harus jujur adek nikmatin setiap permainan kamu dibadan ini..”

Wajah adikku merah padam ketika mengatakan ini.

“Mas terimakasih yah kamu masih jaga perawanku sampe sekarang ini. Jujur aja, dulunya aku pikir nanti mas bakal maksa aku ngasih perawanku buat mas..” Kali ini air mata adikku sudah tumpah..

“tapi mas bisa nahan diri, walau aku yakin mas sebenernya pasti sering gak bisa nahan diri buat ngambil perawanku.. hiks..hikss..” Aku hanya terdiam memandang wajah sendu Hana.

“Mas bener-bener kakak yg terbaik buat aku.. makasih udah biarin aku masih jd perawan buat aku kasih ke suami ku nanti..”

“Justru kamu adek terbaik dek.. makasih udah nemenin mas dulu pas masih nganggur, kalo dulu gak ada kamu mungkin mas udah gila kali..” Adikku tersenyum tipis

“Dek, andai kita bukan sodara kandung pasti mas bakal milih kamu daripada mbak Yunda, sebenernya kamu itu lebih..” Belum selesai aku bicara Adikku langsung memotong kata-kataku.

“Mas pliss.. gak boleh kita nyalahin takdir mas.. Mbak Yunda itu cewek yg baik, adek kenal banget sama dia.. & menurutku dia yg terbaik buat mas..” tampak jelas adikku mencoba tegar saat mengucapkan ini..

“Mas, mau janji gak ke aku?”

“Apa aja dek”

“Mas harus cinta sepenuh hati sama mbak Yunda, mas harus ngejaga dia lebih dari mas jagain aku.. Terus….” Tampak air matanya tumpah semakin deras.

“walau kita udah jadi adek kakak yg normal lagi nanti.. jangan lupain hal yg pernah kita lakuin ini ya mas” dia langsung memelukku erat sambil sesenggukan.

Aku tak bisa tidak sedih mendengarnya. Yah benar, sampai saat ini aku masih mengutuki takdir, mengapa Hana harus terlahir menjadi adikku, atau boleh saja aku memiliki adik tetapi mengapa harus Hana? Dia memang bukan wanita bepenampilan menarik, namun dia berhasil menutupinya dengan kepribadian sempurna sbg wanita.

Jujur, menurutku satu-satunya kekurangan dari adikku adalah dia terlalu tertutup. Namun itu bukan masalah besar sepertinya, dia tetap wanita sejati, tipe wanita yg pasti akan dicari pria manapun yg butuh pendamping hidup yg baik.

Aku hanya bisa tergugu, aku bingung mau menyalahkan siapa lagi, andai aku bisa setegar Hana menerima kenyataan ini, namun pribadiku selalu cenderung mencari kambing hitam. Dari dulu aku berfikir, andai ini cerita-cerita seks sedarah kakak adik yg sering aku baca.

Dimana kakak-adik tersebut bisa meneruskan hubungan seks mereka dengan cara entah itu pergi ketempat baru yg asing sehingga mereka bisa menyamar sbg pasangan suami-istri, atau terang-terangan pada keluarga mereka sekalipun,

namun kalau aku & Hana nekat mau berbuat seperti itu, berapa orang yg tersakiti? Kami pasti membuat malu orangtua kami, tak mungkin kami mengedepankan nafsu lalu melempar kotoran ke wajah mereka berdua, tidak mungkin. Mereka berdua yg telah membanting tulang membesarkan kami, tentu saja kami tak ingin menyakiti mereka. Belum lagi aib bagi keluarga besar serta lingkungan kami.

Mungkin memang jalan ini yg terbaik, namun tetap saja ada pengorbanan besar yg harus dilakukan, & pahitnya pengorbanan ini harus dilakukan oleh Hana, adikku tersayang. Saat ini semua berakhir aku bisa langsung berpaling ke Yunda, calon istriku.

Hana? Dia yg masih pusing luntang-lantung mencari pekerjaan, dia yg masih belum memiliki teman pria yg bisa mengerti dirinya, & setelah ini semua berakhir, otomatis aka nada rasa canggung & jurang diantara aku & adikku nanti. Walau pasti akan kucoba bersikap sebiasa mungkin, namun tetap saja kenangan-kenangan permainan seks kami bisa jadi boomerang dalam hubungan persaudaraan kami kedepannya.

***

Kami berdua beranjak ke kamar Hana, untuk melakukan seks terakhir kalinya. Disana dia kami melakukan berbagai posisi sampai orgasme berkali-kali. Setiap inci tubuh kami disentuh nafsu, peluh membasahi tubuh kami, nafas kami terpacu, entah sudah berapa tetes cairan sperma keluar dari alat vital kami.

Aku sendiri ingin menikmati payudara adikku untuk terakhir kalinya. Payudara yg selalu membuatku jatuh cinta, payudara yg berbentuk melon serta puting cerinya yg indah. Jari & lidahku berdansa dengannya untuk terakhir kali.

Jam sudah menunjukan pukul 12 malam. Kami yg masih diliputi kelelahan setelah berpacu dalam birahi hanya berbaring lemah.

“Mas, udah jam 12” kata adikku memecah hening. Aku menengok pelan ke arahnya.

“Begitu mas keluar dari pintu itu, kita jadi adek kakak normal lagi”

Tubuhku dingin seolah membatu tak mau beranjak, ada perasaan berat melepas semua kenikamatan yg diberikan adikku. Jauh dilubuk hatiku ini seperti melepas hal yg berharga & membiarkannya pergi tepat didepan mata kita. Tak terasa mataku berkaca-kaca.

“Dek.. mas..”

“Keluar mas.. kalo gak aku bakal teriak mas mau merkosa aku”

Sontak aku kaget, namun melihat wajahnya yg sudah basah oleh air mata aku jadi mengerti, aku harus menghargai kebesaran hati & pengorbanannya. Setetes air mata sudah mengalir dari sudut mataku, sambil bangkit lalu merapihkan cd serta boxerku, aku menuju pintu. Aku meraih kenop & bersiap melangkah keluar, sebelum “Adek sayang sama kamu Mas” suara Hana ditengah tangisnya.

Kali ini air mataku tumpah, namun sekali lagi demi menghargainya tanpa menoleh aku keluar kamarnya & menutup pintu kamar Hana. Tak bisa tak kutangisi, & betapa aku menyesal bahwa semua ini harus berakhir dengan pengorbanan besar dari Hana adikku tercinta. Betapa kamu wanita yg sempurna adikku

“Cam… cami… heyy…!!” teriakan Yunda membuyarkan lamunanku. Andai saja dia tak memukul-mukul pelan pipiku mungkin aku masih larut dalam pikiranku.

“eh iya bi.. kenapa tadi?” Kataku saat tersadar.

“kamu ngelamunin apa sih? Tumben amat kamu ngelamun kaya gitu. Semenjak kemaren loh aku liat kamu ngelamun. Kenapa? Nyesel udah lamaran?” interogasi kecurigaan khas wanita yg penasaran oleh Yunda.

“Enggaklah.. mana ada aku nyesel. Aku Cuma rada grogi aja bi. Abis lamaran kemaren, aku kepikiran nanti kalo kita udah resmi jd suami istri, apa aku bakal siap jadi kepala rumah tangga yg baik, terus kalo amit-amit nanti misalnya kondisi kita lagi gak bagus, aku takut gak siap ngehadepinnya” kataku meyakinkan, walau aku memang merasa demikian namun hal itu bukanlah alasan lamunanku tadi. Jadi sebenarnya aku sedang mencoba mengelak.

“ooh gitu.. iya juga sih cam. Aku juga rada grogi. Takut gak bisa jd istri yg baik buat kamu cam.

Tapi kamu mau tau gak alesan kenapa kita harus tetep ngelangkah maju?” Kata Yunda. Aku hanya menggeleng pelan.

“karena di kehidupan rumah tangga nanti, kamu gak akan ngehadepinnya sendirian cami ku, tapi kita berdua. Kita bersama yg bakal ngalamin pahit manisnya nanti. Aku gak khawatir, karena aku punya kamu & kamu jg gak usah khawatir karena nanti aku selalu ada buat kamu cam. Pokoknya kayak aku jadi pakaian kamu, kamu jadi pakaian aku” Yunda bicara sambil memeluk lenganku & menyandarkan kepalanya dibahuku.

“emmmmmhhh… so sweet deh kamu bi..” kataku membelai kepalanya.

Aku sedang berada di gazebo halaman belakang rumah Yunda saat ini. Hari ini hari sabtu, Kamis malam yg lalu adalah momen paling membahagiakan buat keluarga kami karena malam itu ayahku resmi meminang Yunda untuk menjadi calon istriku.

Kejadian itu masih terekam jelas dalam benakku. Keluargaku sampai dirumah Yunda tepat pukul setengah Sembilan & langsung disambut hangat oleh Om Deden sekeluarga lengkap ku lihat ada kak hendi kakak Yunda hadir bersama istrinya teh Ela & anaknya yg baru berumur setahun Endra, minus Genta yg masih di Jogja.

Tak ada penyambutan besar-besaran, karena memang hanya dua keluarga inti yg hadir dalam acara lamaran ini. Kami datang membawa sekotak besar donat & satu Tupperware besar berisi kebab beku yg dibuat spesial oleh Ibu & Hana.

Sedangkan keluarga Om Deden menjamu kami dengan cemilan-cemilan ringan seperti keripik pisang, kacang & roti bakar coklat hangat yg kata Bu Vera asli buatan Yunda. Sebenarnya Bu Vera sudah bilang pada ibu ku untuk tidak perlu repot membawa sesuatu yg sifatnya seperti “seserahan” buat lamaran ini, tapi ibu ngotot, beliau bilang malu kalau datang tanpa buah tangan.

Saat Yunda & Hana saling bercipika-cipiki itulah kesedihanku bangkit kembali, aku memikirkan adikku lagi. Saat itu adikku memakai gamis merah tua dibalut oleh kerudung jingganya, manis sekali.

“Hana apa kabar, makin cantik yah kamu”

“Aku sehat mbak, ah ada juga mbak Yunda makin cantik. Tuh buktinya mas ku kesengsem sama mbak. Hehehehe”

Walau dalam getir aku masih mencoba tersenyum. Aku ingat saat SMP mereka berdua adalah duet maut yg sering mengharumkan sekolah kami dalam berbagai lomba di tingkat provinsi. Dua perempuan genius dengan segala pesona masing-masing yg keduanya mengahangatkan hatiku & mewarnai hidupku dengan caranya masing-masing.

Dalam hati aku bingung juga, betapa beruntungnya aku bisa dikelilingi mereka berdua. Disaat jones-jones diluar sana berjuang mati-matian mencari pujaan hati, Hana & Yunda justru mampir begitu saja dalam hidupku.

Walau memang selama sebulan aku menjalin hubungan dengan Yunda, aku belum sempat mempertemukannya dengan Hana. Untungnya Yunda sendiri belum pernah merengek minta d ajak kerumah ku.

Selama sebulan lebih berpacaran kami lebih sering di rumah Yunda saja, menikmati hidangan yg disajikan olehnya, makan malam bersama keluarga Om Deden lalu menikmati minuman hangat Yunda sambil bersenda gurau di gazebo belakang rumahnya. Selain sehat tentu irit biaya. Hehehehe..

Acara lamaran berlangsung santai tanpa formalitas, Yunda Nampak sangat anggun dalam balutan Jilbab panjang keperakan & gamis biru mudanya, Nampak serasi dengan baju koko biru muda ku. Memang sudah jauh-jauh hari Yunda menyiapkan pakaian ini untuk kami berdua, “biar kita couple-an Cam” kata Yunda dibutik waktu itu.

Setelah basa-basi sebentar Ayahku langsung menyampaikan maksud & tujuan kedatangan keluarga kami, sambil memohon maaf kalau kami tidak sopan atau lancing, beliau secara resmi meminta Yunda untuk dijadikan menantunya.

Om Deden sendiri tak keberatan dengan lamaran dari Ayahku, namun sbg ayah yg tak mau memaksakan kehendak beliau mempersilahkan Yunda sendiri yg menentukan jawabannya. Aku ingat ekspresi Yunda tertunduk dalam saat itu, ada setetes air mata mengalir dari matanya, lalu perlahan dia membuka mulutnya.

“Bismilliahirrahmanirrohim, dengan mengharap ridho Nya, lamaran dari keluarga pak Irul (Samaran Ayahku) saya terima” Kata Yunda sambil terisak.

“Alhamdulillah” kata kedua belah keluarga kami secara bersamaan.

Bu Vera langsung memeluk Yunda sambil berkaca-kaca, Ibu ku juga langsung memegang tanganku erat. Sedang Hana, dia tampak menunduk dalam di Sofa ujung. Sejujurnya aku tak mampu mebayangkan perasaannya saat itu.

Memikirkan bagaimana nasib Hana kedepannya, itulah alasan mengapa aku melamun walau ada Yunda disebelahku saat itu. Tapi terlepas dari perasaan Hana yg jadi misteri saat itu, keluarga kami sepakat menetapkan bahwa akad serta resepsi pernikahanku & Yunda akan diselenggarakan pada bulan Januari tahun depan.

***

“Haah..? Masak sih Hana masih jomblo Cam?” kata Yunda setengah berteriak tak percaya.

“Iya bi. Serius. Kasian dia.. aku sih pengennya bantu dia nyari cowok gitu. Kamu ada ide gak?” Kataku.

“kamu tau kan aku sama Hana Cuma beda setahun doang. Dia cewek lagi, aku takut dia telat umur. Pengennya sih abis kita nikah, tahun depannya Hana langsung nyusul. Gitu bi”

“kamu perhatian banget sih sama adek kamu.. makin cinta deh cam” Yunda mendelik manja.

Akhirnya memang aku harus menumpahkan kegelisahanku pada Yunda, walau dengan cara yg seolah mencuci tangan & menutupi kebenarannya mengapa aku gelisah soal Hana.

Aku sendiri setelah acara lamaran tersebut belum berani mengajak adikku ngobrol lagi. Yang jelas aku tak lagi melihat senyum di wajah manisnya. & lebih parah terlihat jelas dia mencoba menghindariku.

Saat berpapasan dirumah saja dia membuang wajahnya, menumbuh suburkan perasaan tak enak & bersalahku padanya. Aku bisa mengerti sebenarnya, kendati dia sudah berbesar hati melepaskan hubungan selama ini, namun ekspresi karena perasaan wanita tak mungkin dibohongi.

Saat ini jelas adikku sedang dimakan perasaannya. Aku sungguh tak kuat melihatnya, terlebih lagi dia memendam kesakitan itu sendirian, hatiku yg harusnya berbunga-bunga justru semakin hancur. Makanya aku coba berinisiatif mencarikan teman pria untuk Hana.

“Kamu ada temen gak yg kira-kira cocok gitu buat Hana bi?”

“eemmmhhh… Coba deh nanti aku bantu cari” Kata Yunda masih menyandarkan kepalanya pada pundak ku.

Sore itu langit agak mendung, matahari enggan menampakan sinarnya yg hangat untuk penduduk bumi. Namun matahari disebelahku saat ini sudah lebih dari cukup untuk menentramkan batin ku yg sering kacau belakangan ini. Aku benar-benar memikirkan perasaan Hana.

Malam itu untuk kedua kalinya aku menemani Yunda yg sendirian di rumah. Om Deden sedang dinas malam, sedangkan Bu Vera harus menghadiri kegiatan ibu-ibu PKK di luar kota. Kami menghabiskan waktu dengan menonton film favorit Yunda, dia penggemar berat actor Tom Cruise, jadi selepas maghrib kami menikmati Mission Impossible sampai Edge of Tomorrow.

Untungnya aku juga penikmat film action jadi tak terlalu bermasalah dengan selera film Yunda ini, hingga tak terasa waktu menunjukan pukul 11.30 malam. Seperti dulu, Yunda memintaku untuk menyanyikan lagu romantis sebagai pengantar tidurnya.

Setelah berganti pakaian tidur dia mengambil gitar dari kamar Genta & mempersilahkan aku masuk ke kamarnya. Aku sudah mempersiapkan lagu Celine Dion-My Heart Will Go On atau Lea Salonga-We Could Be In Love sebagai lagu pengantar tidurnya.

Di dalam kamarnya Yunda yg Nampak memakai celana basket selutut & kaos oblong hijau langsung naik ke ranjangnya & menutupi tubuhnya dengan selimut. Aku sendiri tersenyum, pakaian yg dikenakan Yunda membuat tubuh montoknya tercetak sempura, disisi lain jakunku naik turun, walau aku yakin bisa menahan birahiku sebenarnya.

Toh dengan Hana sebenarnya sudah beberapa kali aku hampir khilaf merobek selaput daranya, namun bisa ku tahan juga akhirnya.

Aku baru saja duduk dipinggir kasurnya untuk memulai permainan gitarku, namun Yunda menahanku, dia memintaku untuk duduk disebelahnya yg sedang berbaring. Agak terkejut juga memang, mungkin dia berfikir status kami yg sudah resmi bertunangan melonggarkan dinding yg membatasi kami. Dengan canggung & gugup aku duduk di sebelah Yunda yg sengaja menggeser badannya demi menyisakan ruang buatku.

Petikan gitarku mengiringi lantunan suaraku yg menyanyikan lagu ost Titanic ini. Seperti sebelumnya, Yunda menyimak nyanyianku sambil tersenyum tipis dalam wajahnya yg diselimuti kantuk. Memang dia tipe orang yg cepat tertidur sebenarnya.

Namun entah kenapa sampai lagu ini selesai dia belum tertidur juga, aku lanjutkan dengan menyanyikan lagu Lea Salonga sampai selesai bukannya makin sayu mata Yunda malah semakin terbuka. Saat lagu kedua berakhir inilah dia tiba-tiba bangkit lalu menyandarkan tubuhnya disebelahku.

“Cam, kamu mau tau gak?”

“Kenapa bi?”

“Kemaren, abis keluarga kamu pulang waktu lamaran, malemnya aku….” Tampak Yunda menyembunyikan sesuatu, entah apa itu yg pasti wajahnya merah padam. Aku jadi penasaran.

“Malemnya kamu kenapa bi? Kamu mimpiin aku ya? Hehehe” kataku mencoba bercanda.

“iya aku mimpiin kamu cam” aku tertawa renyah mendengarnya.

“hehehehe.. udah cinta mati nih yee” kataku meledeknya, Karena wajah Yunda tampak semakin memerah menahan malu.

“Tapi aku mimpiin kamu lagi…. Hubungan sex sama aku cam. Kita lagi berhubungan suami istri.. iiiih tuh kan aku cerita. Malu banget sebenernya.. hheeemmmhhh”

Mendengar pengakuan Yunda sontak tawaku hilang, tawa lenyap bangkitlah gairah ku yg tiba-tiba saja terbakar. Penisku tau-tau terasa menegang dalam celana boxer ku yg untungnya masih ditutupi jeans.

“Kamu mimpi basah? Sama aku?” kataku dengan nada bego, tak percaya dengan kata-katanya barusan.

“aaah.. udahlah ga usah dibahas lagi, malu tau.. Lagian kok aku bodoh banget sih sampe cerita-cerita.. haaaaahhh” Yunda tampak sangat menyesal, namun nada bicaranya yg manja malah menambah gairahku.

“udah gak usah malu bi.. aku gak akan ngetawain kamu kok”

“bener yah, awas kalo ketawa. Aku cubit nanti perut kamu” dia mengeluarkan ancamannya. menurutku cubitan tangan Yunda ini super duper sekali sakitnya. Dulu waktu SMP saat aku tak sengaja membuatnya kesal karena usil menyembunyikan sepatu Hana di mushola sampai dia menangis, Yunda langsung perutku sampai kulitku memerah.

Jujur, sakit sekali cubitannya, ditambah dia mencubit sambil memelintir tangannya, Arnold Schwarzaneger pun belum tentu kuat menahan cubitan Yunda. & tampaknya ancaman mencubit perutku tadi sengaja dia lakukan demi mengingat kenangan pahit cubitannya waktu SMP dulu. Hehehehe.

“aduuh apalagi pake di ancem kaya gitu. Suer deh aku gak akan ngetawain” Kataku agak ngeri.

Wajah Yunda yg tadinya agak mirip Suzanna kini kembali teduh seperti sedia kala, dia tersenyum tipis lalu merebahkan kepalanya dipundakku lagi.

Sunyi untuk beberapa saat, sebelum aku bertanya lagi padanya.

“Gak ngantuk bi?”

“Gak tau kenapa aku gak bisa tidur cam”

“lagunya kurang enak ya buat tidur. Kamu request gih”

“Enggak bukan masalah itu.. aku… belakangan ini emang agak susah tidur. Kayaknya terlalu excited aja bakalan nikah sama kamu cam..”

Aku tersenyum haru mendengar kata-kata Yunda. Tak mampu lagi aku menahan hasrat ingin memagut bibirnya yg tebal & ranum, aku meraih dagunya lalu mendaratkan bibirku pada bibirnya, Yunda menyambut pagutanku dengan lembut.

Sebenarnya gairahku sudah sangat terbakar waktu itu, jujur saja tanganku sudah hamper nekad merebahkan tubuh Yunda & langsung menindihnya entah dia suka atau tidak. Namun ditengah pagutan kami aku teringat pesan WA Hana padaku tadi siang saat aku baru tiba dirumah Yunda.

“Mas, aku pamit dulu ya. Aku mau ke rumah Sofa temen kostan ku dulu di kampus di Ci*nj*r.

Adek jujur aja Mas, aku gak kuat deket-deket mas yg lagi bahagia. Bukan, bukan berarti aku gak bisa ikut bahagia buat kamu, tapi yah mas tau lah sebabnya kenapa. Mohon ngertiin perasaan adek ya mas. Semoga aku bisa cepet nerima keadaan ini, & kita bisa jadi adek kakak normal lagi sesuai janji kita.

Aku udah Wa mbak Yunda juga mas, aku udah nitipin mas ke dia. Mas harus inget janji kamu ya, Mas harus bisa cinta sama mbak Yunda ngelebihin cinta Mas ke adek, & Mas harus jagain dia ngelebihin mas jagain adek.

Terakhir, mas harus inget, kita wanita bukan sekedar mainan pelampiasan nafsu, tapi kita individu yg tercipta buat ngelengkapin kalian para pria. Adek bersyukur dulu mas memperlakukan aku seperti itu. Enjoy ya mas, salam buat mbak Yunda”

Rangkaian pesan panjang yg dia kirimkan siang tadi. Hana adikku sayang terpaksa mengungsi demi memberikan ruang kebahagiaan buatku. Dia tak ingin aku terus memikirkan perasaannya & memaksaku hanya memiliki Yunda saat dia tak ada.

Dia pergi ke C*anj*r dengan alasan mendapat panggilan interview seingatku saat ku Tanya pada ibuku. Ooh Hana, wanita macam apa kamu ini, hati mu sungguh mulia, tapi mengapa kamu biarkan kakak mu ini sempat menorehkan noda dalam hati serta hidup mu. Perasaan bersalah & berdosa itu muncul kembali. Tak terasa air mataku meleleh setelah memagut bibir Yunda tadi. Aku sungguh merindukan Hana saat it.

“Cam, kamu nangis? Kenapa cam?” Yunda menatapku heran, namun penuh perhatian.

Aku mencoba tersenyum dalam sendu, aku bertekad memenuhi amanat Hana, yaitu mencintai Yunda sepenuh hatiku. Dan pesan dari Hana itulah yg memadamkan birahiku, hatiku tiba-tiba hangat seolah dipenuhi perasaan & harapan dari adikku. Aku bernjanji akan memperlakukan Yunda dengan cinta, bukan dengan nafsu, hanya demi kamu, adikku tersayang. Hana.

END

Teruntuk Adikku tercinta “RL” yg sedang berjuang meraih hidup baru di Tanah perantauannya..

Mas kangen sekali dengan mu. Semoga kamu sehat & baik-baik saja disana dek.