Agen Bola Terminal Bandar Bola Terpercaya
LAPAKDEWA LAPAKPOKER

Lupa Ingatan Part 6

Part 1Part 2Part 3Part 4Part 5
Part 6Part 7Part 8Part 9Tamat

Putri Diah Pitaloka yang akrab dipanggil Uti adalah bunga terindah yang dimiliki desa Sirnalaya. Dia merupakan satu-satu sarjana di desa itu. Meski pun begitu, semua orang juga tahu kalau kehidupan yang harus dijalani Putri tidaklah mudah.

Dia pernah diperkosa oleh orang yang tak dikenal sehingga hamil. Dan akhirnya terpaksa menikah dengan Budiman, anak kepala Desa Sukalaya. Selama 15 tahun menikah dengan Budiman, mereka tidak dikarunia anak. Mereka juga sering bertengkar karena Budiman tidak mau bekerja secara serius dan bersikap sok menjadi juragan.

Selain itu, Budiman juga mata keranjang. Budiman melakukan perselingkuhan secara sembunyi-sembunyi dengan sejumlah janda-janda di Desa Sirnalaya; tapi dia tertangkap basah justru di desanya sendiri di rumah selingkuhannya dengan Sri Muliani.

Mereka bercerai ketika Putri berusia 36 tahun.

Usai lulus kuliah tahun 2001, Putri bekerja di PT Supplier Indonesia dan berhasil menduduki jabatan sebagai manajer. Karirnya menanjak dengan cepat dan dia menjadi salah satu kandidat sebagai Kepala Sub Divisi Region Kabupaten Bandung.

Namun, ketika CEO PT Supplier Indonesia mengadakan rapat terbatas secara mendadak; tiba-tiba saja Putri dipanggil di forum rapat dan langsung dipecat! Direktur keuangan secara secara jelas, tegas dan meyakinkan, memperlihatkan tas kerja Putri yang berisi uang Rp. 250 juta; yang merupakan uang perusahaan.

Putri dituduh dan terbukti di arena forum rapat sedang dan akan melakukan penggelapan uang.

Pada saat itu Putri hanya bisa menangis. Dia yakin dia telah dijebak oleh Direktur Keuangan dan rekan kerjanya. Akhirnya dia fokus membangun desa dan kemudian mengikuti kontestasi Pilkades dan menang secara mutlak.

Putri menjadi Kepala Desa pada usia 35 tahun.

***​

Menjadi Kepala Desa, Janda dan orangtua tunggal bagi anak perempuannya, Dian Maharani; tidaklah mudah. Bahkan sulit. Lebih sulit lagi ketika dia dikejar oleh usia yang merangkak tua dan tak pernah yakin akan sanggup menemukan figur lelaki yang cocok untuk dirinya. Figur lelaki yang tepat sebagai suami, partner dan teman berdebat yang akan mendongkrak wawasannya. Juga figur sebagai ayah.

Malam-malam dilaluinya dengan rasa gelisah dan kesunyian yang mencekam. Kebutuhannya akan belaian dan sentuhan lelaki yang lembut tapi keras; membuatnya meringkuk kejang dengan jari di jepitan selangkangannya. Dia beronanti tapi itu tidak pernah benar-benar memenuhi kebutuhannya.

Ketika dia mendengar berita mengenai ditemukannya seorang pemuda yang jatuh ke sungai, dia langsung mengkonfirmasinya karena penasaran. Tapi sayang tidak bertemu. Pertemuan itu datang justru pada saat yang tidak diduganya. Pemuda itu datang ke Waserba yang dia kembangkan bersama orangtuanya sejak 15 tahun lalu di pinggir kantor desa.

Pemuda itu sangat anggun, tenang dan memiliki tatapan yang meluluhkan gadis-gadis mana saja. Termasuk anaknya sendiri, Dian. Dia merasa yakin kalau pemuda itu bukanlah orang sembarangan.

Sikapnya dan kata-katanya mengingatkan dia kepada bos besarnya dulu di PT Supplier Indonesia, CEO Soeria Dibrata, yang dengan sangat menyesal melakukan pemecatan kepada dirinya berdasarkan bukti-bukti yang tak bisa dibantah; bukti-bukti yang diajukan oleh direktur keuangan, Herman Tan dan rekan kerjanya Melani Wulandari.

Putri langsung meleleh mendengar kata-kata gombalnya namun Dian merecokinya. Bahkan setelah pemuda itu pergi, mereka sedikit bertengkar.
“Mamah terlalu tua untuk Kang Ijan.” Kata Dian dengan nada kesal. Dan Putri tahu apa yang dikatakan anaknya itu betul. Dia tidak bisa membantahnya.

Putri tahu dia sudah menjanda selama 3 tahun, namun sesungguhnya dia merasa selama 7 tahun tidak pernah merasakan kenikmatan sex.

***​

Siang itu menjelang sore, usai melaksanakan rapat di Kecamatan, Putri langsung menuju rumah Bah Dadeng. Dia tidak terkejut jika janda-janda itu berkerumun di sana dan menggodai Lamsijan. Anak muda itu terlihat sangat rikuh dan Putri merasa senang.

Jelas sekali di mata Putri, anak muda itu bukan lak-laki mata keranjang. Satu hal yang tak disangkanya adalah situasi di rumah Bah Dadeng tiba-tiba berkembang menjadi semacam pesta.

Dengan uang Rp. 450 ribu yang dia dapat dari pemuda itu (sebenarnya 500 ribu, tapi 50 ribu dia berikan kepada Bidan Vero) dia menyuntik RT Aep dan RW Odang serta Mang Uko untuk memeriahkan suasana. Dia sendiri pulang dan berganti pakaian dengan baju terusan model longdress. Perasaan Putri menggebu-gebu saat dia memutuskan untuk tidak memaki celana dalam.

“Di tengah pesta, aku akan menikmati pemuda itu yang besar dan kuat. He he he…” Bisiknya dalam hati.

***​

Malam hangat dan cerah, langit biru dan bintang-bintang bertaburan. Pak Dasuki, ayahnya, menegur Putri ketika dia menyalakan motor maticnya di teras.

“Mau ke mana malam-malam begini Uti?”

“Sebentar, Pak, ke rumah Bah Dadeng, ada sedikit perayaan kecil di sana.”

“Oh. Jangan terlalu malam ya pulangnya, angin malam kurang baik untuk kesehatanmu.”

“I ya, Pak. Dian lagi apa, Pak?”

“Lagi nonton sambil main HP.”

“Ya, udah. Permisi, Pak.”

Dia meluncur ke rumah Bah Dadeng dan menemukan warga sedang asik berpesta. Dia tersenyum dan memarkir motor di rumah tetangga Bah Dadeng, lalu pelahan menyelinap di antara kerumunan orang dan masuk ke dalam rumah yang sepi.

“Ah, akhirnya.” Bisiknya dalam hati. “Setelah sekian lama, kini aku akan merasakannya.” Kata Putri dalam hatinya, dia masuk ke dalam kamar dan merasa bersalah atas tindakannya tadi sore; yang membuat pemuda itu pingsan.

“Kang Ijan…” Putri berkata dengan lembut dan manja.

“Maafin Teteh ya, Teteh tidak bermaksud…”

“Teteh… teteh… ” Suara Lamsijan terdengar seperti mengigau. Putri tersenyum dan menatap wajah pemuda ganteng itu.

“Ya Kang…”

“Enak Teh.” Kata Lamsijan. Putri menduga bahwa kecupan yang dilakukannya sore tadi sebelum dia pergi, disukai oleh pemuda itu.

“Enak apa akang… sayang.” Bisik Putri.

“Aahh… teteh… mah… akang suka sama Teteh di…em…”

“Ssssstttt… Teteh juga suka.” Kata Putri sambil menutup bibir pemuda itu dengan telunjuknya.

“Lagi Teteh lagi… akang suka…” Pemuda itu berkata seperti orang ngelindur.

Putri kemudian melepaskan sandalnya dan dia naik ke atas dipan. Dia menarik celana pendek pemuda itu hingga lutut dan menemukan batangnya sudah mengacung tinggi.

“Gagah sekali!” Bisik Putri sambil mengangkanginya. Dia melebarkan roknya hingga membuka dan menduduki batang panas itu persis di belahan bibir-bibir miliknya.

“Akhhhhkhhh…. Teteh….”

“Mhhmhh…” Putri mendesah ketika dia menggeser pinggulnya maju mundur dan merasakan sentuhan pergesekan yang memabukkan itu mengucurkan lendir kenikmatan dalam dirinya. Dia melihat pemuda itu memejamkan matanya dan mengerang dengan keras.

Putri merasa meledak ketika dia merasakan ujung kepala itu menyundul ujung klitorisnya yang sangat sensitif.

Srrrr…. srrrrr…..

“Ougkhhkh….” Rintih Putri.

Dia menahan pinggulnya selama beberapa saat dan menikmati letupan-letupan yang mendenyar di bawah perutnya.

“Aduuuhh… enak sekali.” Bisiknya dalam hati.

“Aku harus memasukkannya.” Katanya dalam hatinya sambil terus bertahan dengan posisinya.

Setelah denyaran kenikmatan itu pelahan-lahan lenyap entah ke mana, dia lalu mengangkat pinggulnya dan membiarkan beberapa tetes cairan jatuh membasahi paha pemuda itu. Dia menahan batang penis yang berdiri tegak bagai monas dengan dua jarinya agar diam. Sementara secara intuitif Putri mempertemukan kepala itu dengan liang vulvanya yang tengah menganga sambil mengiler oleh cairan lendir.

“Agkhhh…. Teteeeeehhhh….” Pemuda itu mengerang ketika glandula itu tersangkut di dalam mulut vulva yang lembut dan hangat.

“Kang… enak sayang?”

“Enak, Teh…. ougkhkhkh…”

Putri tersenyum.

Dia menekan pinggulnya beberapa centimeter ke bawah dengan tekanan yang cukup kuat.
ZZZLLLEEBBBBS!!!

“Agkh!”

“Aiiihhhhkh…” Desis Putri,

“koq susah.” Bisiknya. Dia menekan lagi, ssssleb!!!

“Ougkh!”

“Mmppfffhhh…” Putri menahan nafas. Dia telah tersumbat dan merasa sangat penuh. Padahal itu mungkin baru kepalanya saja.

“Aih, enaknya.” Bisik Putri, dia menunggu sebuah denyaran menyemprot lagi dalam dirinya dan mempertahankan posisinya.

Dia merasakan aliran setrum yang membuatnya kesemutan namun sangat enak tak terlukiskan di dalam vulvanya.

“Mungkin harus sedikit digoyang biar bisa masuk semuanya.” Kata Putri dalam hatinya dan dia merasa geli karena pikirannya itu.

Namun dia menggoyangkannya juga dengan pelahan dalam sebuah putaran goyangan melingkar 360 derajat. Hanya saja Putri tidak menduga efeknya ternyata sangat dahsyat. Begitu dia melakukan putaran, seluruh dinding-dinding vulva bagian dalamnya berreaksi dengan sangat gila.

Ribuan syaraf kenikmatan yang langsung terhubung dengan otak seketika terbangkitkan dan menimbulkan ekstasi yang luar biasa nikmatnya.  Putri setengah menjerit. Sebuah ledakan yang sangat mendadak menyemprot dari liang vulvanya tanpa bisa ditahan oleh apa pun juga.

Srrr…. crot….srrrr… crotttt… crottt….crottttt…. akhkhhhhh….

“Te… teeeehkh….” Putri mendengar pemuda itu mengerang seperti orang terkena demam tinggi. Tapi Putri tak mempedulikannya. Dia hanya berkonsentrasi pada vaginanya yang

“mengamuk” dahsyat dan memuntahkan puluhan mililiter cairan lendir.

“Oh Tuhan… oh Tuhan…. ougkhkh….” Erang Putri sambil menahan posisinya agar tidak berubah. Pada saat itu dia merasa melayang-layang di angkasa biru yang tak bertepi.

Putri tak bisa membayangkan bagaimana ekspresi wajahnya saat itu, tapi dia sadar dia tengah menggigit bibirnya dengan keras. Selama beberapa menit Putri menikmati semuanya dengan sepenuhnya, dia lupa kalau di luar, pesta dadakan itu berubah menjadi ricuh.

Seseorang memanggil-manggil namanya dari luar dengan suara keras.

“Ceu Kades! Ceu Kades Uti! Ini ada perkelahian!”

“Ceu Kades! Ada yang berantem!!!” Suara lain menimpali.

Suara teriakan itu membangunkan Putri dari ekstasi kenikmatannya. Dia cepat melepaskan diri dari batang yang menembus di dalam dirinya untuk mengeluarkan sebuah bunyi

“plop” dan kemudian berdiri. Turun dari dipan dan mengenakan sandalnya, lalu dengan setengah berlari dia ke luar lewat jalan belakang.

“Hey! Hentikan!” Teriaknya, dari arah samping. “Hentikan!”

Pada saat itu Memey ke luar dari kolong dipan dan menatap nanar batang penis yang berdiri tegak mengacung ke langit-langit itu.

“He he he… giliran aku dong!” Katanya sambil melepaskan celana panjangnya sekaligus dengan celana dalamnya.

***​

Rasa sakit di kepalanya berdenyut pelahan dan mulai mereda ketika dia meminum parasetamol dan obat pengencer darah. Sebuah kejutan kecil diterimanya berupa kecupan di bibir. Ah, dia tidak pernah ingat kalau dia pernah dikecup bibirnya seperti itu. Pemuda itu merasa senang dan nyaman, lalu terlelap.

Dalam lelapnya dia bermimpi bahwa dia memiliki seorang kekasih. Namanya Sherly. Dia cantik dan keibuan. Memiliki tahi lalat kecil yang tipis di cuping hidungnya. Memakai kacamata minus satu setengah di sebelah kiri dan sebelah kanan minus satu seperempat.

Dia ingat persis bagaimana secara diam-diam dia membeli kacamata dengan minus yang sama sebagai hadiah ulang tahun. Soalnya, Sherly beberapa kali mengeluh kacamatanya sudah longgar dan tidak enak.

Sore itu, dia sengaja pulang kerja lebih siang dari biasanya dan mengendarai mobilnya –oh, aku bisa nyetir– ke tempat kost Sherly. Untuk menjaga kejutan, dia memarkir mobilnya agak jauh. Lalu dia masuk ke rumah kost itu dan langsung naik ke lantai dua di mana kamar kost Sherly berada.

Dia ingin membuat kejutan tapi justru dia yang dikejutkan.

Dia membuka pintu kost yang tak terkunci itu secara mendadak dan melihat bagaimana pipi Sherly menempel di kasur dan kedua tangannya menahan dengan kuat di permukaan kasur. Sepasang susunya bergoyang-goyang. Tubuhnya menungging dan Hans sedang menusuk-nusuknya vaginanya dengan penisnya.

“Maaf!” Katanya. Lalu ke luar lagi dari kamar kost itu dan duduk menunggu di kursi teras balkon. Sherly kemudian ke luar dari kamar dengan mengenakan daster terusan.

“Kamu kenapa enggak ngetuk pintu dulu.” Kata Sherly.

“Kamu juga kenapa pintunya tidak dikunci?”

“Kamu mau apa sih?”

“Aku cuma mau ngasih kado ulang tahun.”

Kemudian dia pergi dari rumah kost itu. Hujan turun dan dia merasakan sakit hati yang sangat perih. Tapi entah bagaimana dia bertemu lagi dengan Sherly di ruang kerjanya. Gadis itu setengah merengek memintanya untuk mengantar ke sebuah kafe. Dia merasa enggan tapi dia merasa kasihan sekali. Saat itu dia tahu mereka sudah lagi tidak berpacaran.

Kafe itu cukup jauh dan selama perjalanan Sherly merayunya. Tapi hatinya sudah berubah menjadi es batu. Dia tak menginginkan Sherly.

Tiba di kafe yang terpencil itu, dia merasa dirinya terancam. Lalu sebuah pukulan membuat kepalanya berdenyut kesakitan dan dia pingsan. Sherly menghilang dan dia meringkuk di sebuah kamar yang gelap, sepi dan bau busuk.

Dia terbangun. Benar-benar terbangun. Kepalanya berdenyut-denyut namun ada sesuatu yang nikmat pada ujung kepala penisnya. Sesuatu yang sangat lembut, hangat dan basah.

“Ougkhkh…” Dia mengerang karena rasa nikmat itu. Lalu tiba-tiba Ceu Kades Uti datang.

“Kang Ijan…” Ceu Kades berkata. “Maafin Teteh ya, Teteh tidak bermaksud…”

“Teteh… teteh… ” Dia berkata dengan rasa sakit dan rasa nikmat bergabung menjadi satu.

“Ya Kang…”

“Enak Teh.” Katanya.

“Enak apa akang… sayang.” Bisik Ceu Kades.

“Aahh… teteh… mah… akang suka sama Teteh di…em…” Dia berkata namun bibirnya ditutup oleh jari telunjuk Teh Putri.

“Ssssstttt… Teteh juga suka.” Kata Ceu Kades

“Lagi Teteh lagi… akang suka…” Dia berkata dan menginginkan Ceu Kades melakukan hal yang sama pada kepala penisnya sekali lagi.

Namun apa yang terjadi, dia sungguh tidak menyangka. Teh Uti mendudukinya dan belahan bibir-bibir lembut yang basah itu menyusuri sepanjang batangnya hingga ke glandulanya.

“Akhhhhkhhh…. Teteh….” Dia mengerang menikmati sensasi yang seumur hidupnya belum pernah dirasakannya.

Apalagi ketika Teh Uti menggeser-geser maju mundur bibir-bibir basah nan licin itu, dia benar-benar merasakan gesekan yang sangat enak dan nyaman. Pada saat yang bersamaan rasa sakit di kepalanya datang lagi. Dia mengejang.

Rasa sakit itu datang dari atas sedangkan rasa nikmat datang dari bawah; dia mengeluarkan tenaga menahan terjangan rasa enak dan rasa sakit yang berkecamuk sekaligus, dia merasakan perutnya seperti kram. Namun ketika kepalanya seperti terselip masuk ke dalam liang yang basah, dia tak sanggup lagi menahan erangannya. Dia mengejan.

“Kang… enak sayang?” Tanya Teh Uti dengan penuh kelembutan.

“Enak, Teh…. ougkhkhkh…”

Pada saat itu, dia merasakan dorongan liang itu seakan-akan melahapnya hingga dia merasakan kepalanya berada dalam dekapan lembut yang luarbiasa nikmat.

ZZZLLLEEBBBBS!!!

“Agkh!”

Lalu sebuah tekanan lain membuatnya melenguh lagi… ssssleb!!!

“Ougkh!”

“Mmppfffhhh…” Dia mendengar Teh Uti seperti menahan nafas karena dicekik. Lalu tiba-tiba saja kepala penisnya seperti dikocok dengan gerakan mengocok yang berputar. Dia gemetar dan menahan kejang pada tubuhnya.

Suara jeritan tertahan itu dia dengar terlontar dari Teh Uti. Lalu suatu cairan yang hangat membanjiri area paha dan selangkangannya.

“Te… teeeehkh….” Dia mengerang. Tapi Teh Uti tidak menjawabnya dia malah ikut juga mengerang.

“Oh Tuhan… oh Tuhan…. ougkhkh….” Erang Teh Uti sambil menahan posisinya sehingga kepala penisnya masih tersangkut di dalam liang yang basah dan hangat itu. Teh Uti menahannya selama beberapa menit sementara rasa sakit secara tiba-tiba datang lagi menerjang dalam kepalanya.

Dia mungkin pingsan mungkin juga tidak, ketika lubang hangat yang menjepitnya itu melepaskannya sehingga menimbulkan bunyi “plop”. Dan dia merasa sangat menderita sekali. Batang penisnya mengacung-acung sendirian dan kedinginan.

Saat dia mendengar suara Teh Uti berteriak di luar rumah dengan suara keras, “Hey! Hentikan!” Suara itu terdengar dari arah samping rumah. “Hentikan!!!” Teriak Teh Uti, pada saat itu juga dia merasakan dengan sadar dia sedang memasuki celah hangat lain yang tak kalah nikmatnya.

Kali ini, seluruh batangnya malah menyelusup masuk dan mendapatkan sebuah pembekapan yang sensasional. Seluruh batangnya dicekik oleh sebuah selubung terhangat dan terlembut yang tak pernah dia rasakan selama hidupnya.

SRRRTTTTT ………. JLEB!!!!

“Akh!”

“Oukh!!!!” Dia mendengar sebuah lenguhan yang bukan merupakan suara Teh Uti. Dia membuka matanya dan melihat Memey tengah berada di atasnya.

“Me…mey…”

“Kang Ijan… maaf.”

“Eee…naaakkk…. meeyy…”

“Memey kocok ya kang.”

“Akhhhh…. Memeyy…. enaaakkkkk sekali…..terusssshh….. akh… akh…akh…akh….”

Srrrrttt…. srrrttt… srttttt…

“Aduh, Kang. Mmmmhhh… aduuh… kang….”

“Terussh Mey… kocok terushhh… Aaaaaaakhhhhhh…..”

“Addduuuhhhh…. kaaaannngg…. Memey sudah enggak kuat….”

“Memey… memey…. memey…. memeeeeeeeeeyyyyyyyyyyyyy!!!!!!!!”

Dia merasakan rasa sakit di kepalanya itu datang seperti gelombang tsunami yang sangat dahsyat sementara di sisi lain dia juga merasakan sebuah peluncuran lahar dari dalam dirinya yang juga sangat dahsyat.

Dia merasakan kedua tangan Memey yang mungil itu meremas pantatnya dan menariknya ke atas sementara tangan dia sendiri hinggap di pinggul Memey dan menariknya ke bawah. Mereka berkutat saling tarik menarik sehingga menimbulkan sebuah pemampatan yang sangat padat dan keras.

Dia merasakan bagaimana selangkangannya menempel rapat dengan selangkangan Memey.

Sebuah ledakan peluncuran roket di dalam batang penisnya menggelegar seiring dengan membanjirnya aliran lahar itu melewati saluran kemihnya. Meluncur dari dalam perutnya dengan sangat cepat.

Berlari dengan kecepatan tinggi menyusuri sepanjang vulva kemihnya lalu dengan bebas memuncrat ke luar melalui mulut penisnya; Muncrat dan menyemprot seperti semprotan selang blangwir Pemadam Kebakaran.

Sssssrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrr…….. CROT!!!!!!!!!!!!

Dia mengejang keras. Sangat keras!

Sakit kepala yang dirasakannya tiba-tiba tersedot ke dalam perutnya dan lalu secara ajaib ikut masuk terbawa ke dalam aliran lahar yang terus mengalir dengan kecepatan sangat tinggi itu.

Sssssrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrr…….. CROT!!!!!!!!!!!!
Sssssrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrr…….. CROT!!!!!!!!!!!!
Sssssrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrr…….. CROT!!!!!!!!!!!!
Sssssrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrr…….. CROT!!!!!!!!!!!!
Sssssrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrr…….. CROT!!!!!!!!!!!!
Sssssrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrr…….. CROT!!!!!!!!!!!!
Sssssrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrr…….. CROT!!!!!!!!!!!!

Dia tidak sadar dan tidak tahu berapa kali dia menyemprotkan lahar panas dalam perutnya. Dia hanya merasakan seakan-akan seluruh tubuhnya dihisap oleh kekuatan yang sangat raksasa, yang menghempaskannya ke sebuah lubang hitam yang berputar bagai gasing.

Dia berputar oleh kisaran lubang hitam itu dengan sangat cepat. Dia terbang, melayang, berputar seperti gasing dan terhisap ke sebuah dimensi yang tak bisa dipahaminya.

PUTRI DIAH PITALOKA 2

Memey bertahan dengan posisinya. Kedua tangannya masih menahan pantat Lamsijan dan tak membiarkannya lepas. Sementara kedua tangan Lamsijan sendiri tergolek lemah ke permukaan dipan.

Memey hanya mengocoknya beberapa menit dengan genjotan berkecepatan sedang, namun dampak yang ditimbulkannya sungguh luar biasa. Dia merasa sangat penuh dan pengap. Dia merasakan ujung glandula itu menyentuh-nyentuh dinding rahimnya.

Benda yang dimiliki Lamsijan sungguh langka, selubung bagian dalam vulvanya berdenyar kesemutan nikmat. Dan ketika Kang Ijan menyembur muntah di dalam dirinya, semburan yang hangat dan lama itu justru membuatnya merasa bahagia.

Sangat bahagia. Dia seperti merasa disiram oleh air hangat ke sekujur tubuhnya, yang membuat dirinya merasa nyaman dan segar. Nikmat.

Memey terdiam, menatap wajah ganteng itu tanpa kesip. Nafas Kang Ijan teratur, dadanya naik turun dengan tenang. Si ganteng itu tengah terlelap dalam nyenyak tidur yang melenakan. Pelahan namun pasti akhirnya denyaran nikmat itu pun menghilang.

Memey meraih batang sosis yang lembut itu dengan tangannya, menariknya pelahan-lahan agar ke luar dari dalam kuburan vulvanya yang kini terpuaskan. Dia kemudian mengenakan celananya dan membenahi celana Kang Ijan, lalu mengendap-endap ke luar melalui pintu belakang.

Suasana pesta dadakan itu ternyata sedikit mereda. Memey sekilas melihat Ceu Kades Uti sedang menasehati Nyi Iin dan Nyi Aan serta Ceu Popon yang terlibat perkelahian; sementara Bah Dadeng duduk bersila di tanah sambil mengisap rokok. Wajah Bah Dadeng tampak beriak.

Memey tidak tertarik untuk mengikuti bagaimana kasus itu diselesaikan oleh Ceu Kades Uti, dia hanya ingin secepatnya pulang dan tidur. Sambil tersenyum-senyum sendirian Memey melangkah pulang.

Dia tak mungkin melupakan pengalaman malam ini dengan Kang Ijan demikian juga dia merasa yakin Kang Ijan tak mungkin melupakannya.

“Mustahil dia melupakan aku.” Bisik Memey dalam hatinya sambil berbaring di ranjangnya yang sunyi. Dia memejamkan mata dengan senyum terus saja menghiasi ujung bibirnya,

“aku yakin dia masih perjaka tulen dan aku orang yang beruntung bisa menampung spermanya di dalam rahimku. Akh… seandainya aku tidak mandul, aku pasti punya anak dari Kang Ijan.” Katanya dalam hati sambil menarik selimut. “Tapi setidak-tidaknya akulah yang memperjakainya. Bukan Ceu Kades Uti… he he he….”

Beberapa menit kemudian Meymey pun terlelap.
Zzzzzzz…. zzzzzz….

***​

Suara ngorok yang berasal dari kerongkongan Bah Dadeng membangunkan pemuda itu.

“Aku bukan Lamsijan.” Katanya pada tembok batako lembab yang sudah sangat kusam,

“tapi aku bisa menjadi dia… he he he… ya aku bisa menjadi orang baru bernama Lamsijan.” Katanya lagi dengan wajah cerah.

Dia bangkit dari dipan dan meraih handuk yang digantung di kamar tengah, lalu mengambil sabun, odol dan shampo yang disimpan di dalam gayung.

“Aku berhutang budi sama Memey dan Teh Uti.” Katanya sambil melangkah melewati dapur dan menuju halaman belakang.

Sebuah bak penampungan air berukuran 1 X 1 meter yang dibedeng dengan anyaman bambu setinggi 1 meter itu membuatnya nyengir. Ditambah dengan kloset jongkok yang warnanya mengingatkan siapa pun pada apa yang ditampungnya, membuat pemuda itu benar-benar tak sanggup menahan rasa geli.

Tapi seburuk dan sejelek apa pun tempat ini; sejorok dan sebau apa pun; jauh lebih baik daripada kamar dingin yang gelap tempat di mana dia disiksa secara fisik dan mental.

“Aku akan ingat orang-orang itu.” Katanya sambil memijit tube alumunium itu dan membiarkan permukaan sikat giginya dipenuhi odol.

“Aku akan memberi pelajaran.”

Matahari bersinar terang ketika pemuda itu menelanjangi dirinya sendiri. Rambut ikalnya yang panjang tampak menggembung oleh busa shampo. Bagian-bagian tubuhnya dari pundak, sebagian pangkal lengan, dada, perut, selangkangan dan paha, berwarna putih; sisanya berwarna kuning kecoklatan.

Dia mandi dengan santai dan memahami betul bahwa tubuhnya kini telah berubah. Sisa-sisa perut buncitnya masih terlihat agak menyendul dan pinggangnya masih memiliki gelambir. Tapi itu tidak masalah, dia bisa melakukan sedot lemak atau ke gym.

“Langkah pertama yang harus aku lakukan adalah memiliki KTP. Ini adalah awal dari segalanya.” Dia berkata sambil tersenyum kepada matahari yang bersinar terang dan langit pagi yang biru jernih.

***​

Kades Putri Diah Pitaloka masih terbuat oleh mimpi ketika pintu kamarnya diketuk Dian, putrinya.

“Mamah bangun! Sudah siang!”

“Iya iya.” Jawabnya sambil menggeliat.

“Dian udah bikin sarapan nasi goreng, mau enggak?”

“Mau.” Katanya lalu menebah selimut. Dia duduk di bibir ranjang, merentangkan ke dua tangan dan menghabiskan sisa-sisa kuap di ujung kantuknya.

Sepasang bukit kembarnya yang membusung nampak menegang. Daster tipis yang dikenakannya sia-sia saja menutupi sepasang puting yang mengeras karena kain katun itu mencetaknya dengan jelas. Setiap bangun pagi, selalu saja mengeras seperti mendambakan remasan.

Dia berdiri.

Sepasang betis mulus dan setengah pahanya yang putih kekuningan cemerlang oleh cahaya matahari yang menyemprot dari jendela kaca tanpa tirai. Dia memakai daster gaun pendek saat ke luar kamar dan terhuyung-huyung ke kamar mandi. Langsung melakukan upacara jongkok di kloset: menyemburkan urine dan tinja. Cebok. Gosok gigi dan cuci muka.

Ke luar dari kamar mandi, menuju ruang makan untuk menemukan Dian yang sudah menyelesaikan sarapannya dan sudah rapi.

“Wah, anak mamah pagi-pagi begini udah rapi dan cantik. Mau ke mana neng?” Tanyanya sambil duduk menghadapi nasi goreng yang masih hangat.

“Mah, Dian pinjem motor ya. Mau ke rumah temen, sekalian lihat-lihat hasil UMPTN.”

“Kan bisa lihat online di internet, neng.”

“I ya, Mah. Tapi di sini mana ada sinyal. Sebentar ya, Mah.”

“Ya, udah. Pulangnya jam berapa?”

“Sebentar, siang juga pulang.” Berkata begitu Dian setengah berlari ke teras dan langsung menyalakan motor. Dan pergi.

Kades Putri menarik nafas. Dia menyuap nasi gorengnya sambil memeriksa pesan WA. Baru satu suap, ada pembeli di luar yang datang padahal warung belum buka.

“Punten… permisi… sampurasun.” Terdengar suara ngebass di luar. Kades Putri segera bangkit dari duduknya dan membuka pintu.

“Warung belum bu…”

Pemuda itu menoleh, tersenyum hangat seperti cahaya matahari.

“Teh, maaf mengganggu. Lagi sarapan ya?”

“Kang Ijan, sini masuk.” Kata Kades Putri dengan nada melonjak gembira.

“Uti! Di luar ada yang bilang punten.” Terdengar suara ibunya dari halaman belakang.

“Udah, Mak.” Kata Kades Putri,

“mau ikut sarapan, kang?” katanya sambil menarik tangan pemuda itu masuk ke dalam rumah.

“Tapi cuma nasi goreng, enggak apa-apa, kan? Teteh belum masak.”

Pemuda yang disebut Lamsijan itu tersenyum. Dia menatap Kades Putri dengan sepasang matanya yang dalam dan alisnya yang tebal.

“Ya, sarapan pagi tentu saja.” Kata Lamsijan.

“Tapi bukan nasi goreng.” Berkata begitu, kedua tangan Lamsijan melingkar ke pinggang Kades Putri, menariknya dengan kekuatan seorang lelaki yang tahu persis apa yang diinginkannya hingga tubuh mereka menjadi rapat. Kades Putri yang masih belum terbebas dari kerasnya puting ketika bangun, langsung meleleh saat pemuda itu memagut bibirnya.

“Ini sarapan aku.” Kata Lamsijan.

Kades Putri tidak menjawab, dia hanya tersenyum senang dan mengalungkan kedua tangannya pada leher Lamsijan, membalas pagutan singkat yang dilakukan oleh pemuda itu. Buah dadanya yang mengacung dengan pentil mengeras, menusuk dada pemuda itu yang dibalut kaos tipis sedangkan selangkangannya menekan selangkangan pemuda itu.

Kades Uti tahu, dia tak memakai apa-apa lagi di balik daster tipisnya.

Dia mengerang ketika sepasang jari jemari Lamsijan meremas buah pantatnya, meminta dan menginginkan lebih. Tangan Kades Uti yang mungil secara nakal turun dan masuk ke dalam celana pendek Lamsijan dan menemukan batang penis itu sudah mengeras.

“Kang, di kamar yuk.”

“Teteh serius?”

“Mau enggak?”

“Ya, mau. Kan semalem Teteh juga…” Kalimat Lamsijan dipotong dengan telunjuk yang ditempelkan ke bibir pemuda itu.

“Sssttt! Teteh masih pengen.” Katanya.

Kades Putri menarik tangan Lamsijan dan membawa pemuda itu masuk ke dalam kamarnya. Setelah mengunci pintu dan menutup tirai jendela, Kades Putri langsung memeluk pemuda itu dan memberondongnya dengan ciuman.

Mereka terguling di ranjang dengan kasur busa yang tebal dan empuk, saling menelanjangi tanpa permisi dan saling menggesek kulit tubuh tanpa basa-basi.

Seperti tak puas, Kades Putri terus saja memamah pipi dan leher pemuda itu. Lalu mengemut kuping dan kembali ke bibir pemuda itu. Posisi Kades Putri berada di atas dan menikmati sepasang payudaranya menggencet dada pemuda itu yang berbulu halus.

Pinggulnya bergerak naik turun dan menjadikan batang penis pemuda itu sebagai kereta sedang belahan bibir labia mayoranya sebagai monorel yang bersimbah oli pelumas berwarna bening.

Sebagai seorang wanita, Kades Putri menyadari kalau tindakannya ini terlalu berlebihan. Bahkan terlalu agresif. Tapi tubuhnya sudah tak tahan menginginkan pemuda itu walau pun dia juga tahu, pemuda itu adalah burung yang tersesat yang sewaktu-waktu akan terbang dan tak mungkin dikejar lagi. Tak mungkin kembali lagi.

Tapi hari ini, saat ini, pemuda ini adalah miliknya sepenuhnya.

“Kang, pengen dimasukkan sekarang.” Bisik Kades Putri, wajahnya tampak kemerahan karena syahwat yang sudah tiba di ubun-ubun.
“Mau di atas mau di bawah?” Bisik Pemuda itu.

Kades Putri tidak menjawab, dia hanya tersenyum dan menggulingkan dirinya dari atas tubuh pemuda itu. Berbaring telentang dengan kedua paha direntang lebar. Matanya menatap mata pemuda itu ketika Lamsijan menempelkan glandulanya di mulut vulvanya.

Kades Putri nyengir ketika Lamsijan menekan glandula berbentuk helm jerman itu masuk dan menyelam ke dalam tabung vulva elastis yang mengucurkan suatu cairan lendir bening. Bahkan Kades Putri sempat memonyongkan mulutnya dan berbisik, “kurang dalem.”

Lamsijan sepertinya ragu menekan batang penisnya untuk jauh menyelam lebih dalam. Dia merasa tidak berpengalaman, tetapi entah naluri apa yang membuatnya terus menyelam jauh dan menggowes batangnya hingga naik turun. Memuncratkan cairan berwarna putih di sekitar mulut vulva itu.

Ketika rasa sakit kepala itu tiba-tiba muncul, Lamsijan mempercepat genjotannya tanpa mempedulikan Teh Uti yang mengerang-erang. Suara erangannya terdengar oleh ibunya di halaman belakang.
“Uti!!! Kamu kenapa?”

Kades Putri tidak menjawab pertanyaan emaknya, dia mendadak menahan pantat Lamsijan dengan kedua tangannya sehingga pemuda itu menghentikan genjotannya.
“Teteh ke luar, Kang.” Bisik Kades Putri. “Sebaiknya akang juga cepat ke luarin.”

Sebetulnya, Lamsijan masih betah menggenjot liang vulva itu; tapi apa daya, Teh Uti memintanya cepat ke luar. Akhirnya, Lamsijan berkonsentrasi pada sakit kepalanya yang menusuk-nusuk, lalu ketika dia menyemburkan lahar itu, rasa sakit kepala itu seperti mengikuti aliran lahar panas dari saluran spermanya.

Lamsijan merasakan rasa panas pada ujung mulut glandulanya ketika lahar itu mengalir, namun pelahan rasa sakit di kepalanya berngangsur -angsur hilang.

***​