Agen Bola Terminal Bandar Bola Terpercaya
LAPAKDEWA LAPAKPOKER

Lupa Ingatan Part 5

Part 1Part 2Part 3Part 4Part 5
Part 6Part 7Part 8Part 9Tamat
LAMSIJAN 4

Dia terjaga untuk yang ke sekian kalinya pagi itu. Rasa sakit di kepalanya mulai mereda dan dia berpikir untuk mengingat sesuatu. Tapi tidak bisa. Sulit. Hanya saja kali ini dia berhasil menyimpan bayangan seorang lelaki setengah baya yang menatapnya lembut dan mengusap kepalanya berkali-kali.

Lalu ada seorang perempuan mencium pipinya. “Anak bunda koq ganteng sekali.” Kata Perempuan itu sambil menciuminya sekali lagi.

Bayangan kedua orang itu selalu datang dalam kilatan yang sangat cepat. Teramat sangat cepat. Seperseribu detik. Namun meski begitu, dia jadi merasa hangat; hatinya merasa tentram. Kedua orang itu membuatnya merasa nyaman.

Mungkinkah mereka adalah ayah dan ibunya? Dia berpikir. Berpikir. Berpikir. Siapakah ayah dan ibunya? Siapa nama mereka? Tiba-tiba rasa sakit itu datang lagi. Kepalanya berdenyut sangat keras dan terus berdenyut semakin keras; rasa sakit itu menjengkit hingga ke titik puncak yang paling sakit. Kepalanya seperti meledak.

Dia pun pingsan lagi.

***​

Setelah mengenakan celana pendeknya, Bah Dadeng ke luar dari kandang domba itu dan membiarkan Nyi Iin berbaring dengan mata tertutup dan nafas teratur. Dia tertidur. Seulas senyum tersungging di sudut bibirnya.

Sebelum pergi meninggalkan kandang domba itu, sempat-sempatnya Bah Dadeng memandangi kemaluan mamah muda itu sekali lagi selama beberapa detik.

“Dasar si lezat!” Katanya sambil terkekeh.

Bah Dadeng melangkah riang menuju kebun ubinya. Memeriksa kebun dengan malas dan membersihkan gubuknya secara asal. Dia kemudian pulang untuk mengambil joran, koja dan umpan yang disimpan di halaman belakang.

Dia menduga Lamsijan sudah bangun dan karena itu dia berteriak-teriak dari luar.

“Jan! Mau ikut ke sungai tidak?” Katanya. Karena tidak ada jawaban, Bah Dadeng masuk ke dalam rumah dan melihat pemuda itu sedang tertidur dengan kedua hidung mengucurkan darah.

“Jan… jan…” Kata Bah Dadeng dengan suara khawatir,

“kamu kenapa?” Tangannya menggoyang-goyang tubuh anak muda itu dengan keras.

“Lamsijan! Bangun! Hidungmu kenapa berdarah?” Tanya Bah Dadeng ketika anak muda itu membuka matanya.

“Lamsijan? Siapa dia?” Tanya anak muda itu.

“Kamu kan kuberi nama Lamsijan, ingat?”

“Oh, eh, ya… aku, aku Lamsijan ya?”

“I ya. Kamu Lamsijan. Kenapa hidung kamu berdarah?”

“Enggak tahu, Bah. Mungkin tadi terjatuh.”

“Kepalamu masih sering sakit?”

“Sering, Bah.”

“Itu karena gara-gara kamu terlalu banyak mikir. Udah sekarang ikut abah ke sungai nyari ikan.”

“Entahlah, Bah. Kepala ini masih sakit.”

“Sakit kepala mah jangan dimanja, nanti tambah sakit. Hayu, ikut abah ke sungai. Kamu bisa sekalian lihat-lihat lagi siapa tahu masih ada barang-barang kamu yang tertinggal di sana.” Kata Bah Dadeng dengan penuh semangat.

“Ya, udah kalau begitu. Yuk kita pergi.”

“He he he… bagus, itu baru namanya Lamsijan.” Kata Bah Dadeng terkekeh.

***

AKU ADALAH LAMSIJAN: LUCU SEKALI!​

Ingatan pertama yang dapat kupahami dan membuatku menjadi sangat stress adalah bahwa aku telah kehilangan seluruh pekerjaanku. Saat aku mengikuti langkah lelaki setengah baya itu, yang bernama Bah Dadeng, sebuah tombak menusuk ubun-ubun kepalaku dan tiba-tiba ingatan itu muncul.

Aku berjalan terhuyung di belakangnya, mengikuti jalan setapak yang menanjak dan berlika-liku di tengah sebuah hutan yang sama sekali tidak aku kenal. Satu hal yang kuanggap ajaib adalah aku merasa ringan dan tak terengah-engah.

Aku merasakan kakiku menjadi panjang dan selangkanganku rasanya bertambah berat.

Setelah melewati jalan setapak itu, kami tiba di sebuah tebing curam yang di dasarnya terdapat sebuah sungai yang mengalir cukup deras. Aku ingat tebing ini. Kemiringannya sekitar 60 derajat dan di sepanjang tanah miringnya ditumbuhi pohon-pohon jambu batu.

Sungai itu lebarnya 2 meter dengan kedalaman setengah hingga satu meter. Pada musim kemarau, kata Bah Dadeng, sungai itu akan menyusut menjadi satu atau satu setengah meter lebarnya dengan kedalaman 20 cm hingga 60 cm.

Kami menuruni tebing dan aku ingat aku pernah diseret naik oleh Bah Dadeng dari sungai itu. Dia mungkin melakukannya dengan susah payah. Dia adalah penyelamatku dan aku berhutang budi sebesar gunung kepadanya.

Aku berharap, jika suatu saat ingatanku kembali sepenuhnya; aku bisa membayar lunas seluruh hutang budiku. Asal aku sanggup melakukannya, aku akan melakukan apa saja yang dimintanya.

Aku berjanji.

***​

Bah Dadeng mencari spot untuk memancing dan aku minta izin untuk menyusuri sungai, melawan arus. Abah berkata bahwa dia akan menunggguku, jadi dia harap aku tidak terlalu jauh menembus hutan melalui pinggiran sungai. Aku bilang oke. Aku tidak akan lama.

Setelah beberapa kali menyelusuri sungai ini, mataku menjadi terbiasa dan karena itu aku menjadi lebih awas. Namun, meskipun begitu, aku tidak menemukan benda apa pun lagi yang kupikir berkaitan dengan diriku.

Hingga tiba di ceruk pinggir sungai di mana aku mengubur Beni Lukito –demikianlah nama mayat itu menurut KTPnya– aku merasa pencarianku sudah cukup. Aku tak ingin pergi lebih jauh karena medan yang harus dilewati sangat sulit dan aku tidak ingin Bah Dadeng menunggu lebih lama.

Jadi, aku balik kanan dan melangkah untuk menuju di mana Bah Dadeng sedang memancing. Beberapa saat setelah aku melangkah, tiba-tiba aku mendengar bunyi batu-batu bergelindingan di belakangku. Aku menoleh dan melihat batu-batu itu berasal dari atas tebing yang agak jauh.

Kupikir, batu-batu itu tidak mungkin jatuh dan bergelindingan tanpa ada suatu sebab tertentu. Jadi aku menghentikan langkah dan mengawasi atas tebing itu. Lalu kulihat ada dua bayangan orang yang kelihatannya merasa kesal dan menendangi batu-batu itu hingga jatuh menggelnding.

Oke, aku tahu ke dua orang itu.

“Sialan!” Kata salah seorang di antara mereka,

“sudah, Din, kita pergi dari sini. Aku yakin kedua mayat itu telah jatuh ke sungai dan terbawa banjir waktu hujan kemarin lalu. Kita fokus saja cari di Cilebak, siapa tahu mayat itu terbawa sampai sana.”

“Terserah kamulah Bud, kamu kan ketuanya.” Jawab orang yang satunya lagi. Mereka berbicara dengan keras seakan-akan di hutan itu cuma ada mereka berdua.

Mereka kemudian menghilang di balik pepohonan. Selama beberapa menit aku menunggu sambil berpikir –tepatnya, memikirkan sesuatu. Kemudian, samar-samar kudengar suara motor dinyalakan. Menggeram di kejauhan lalu pelahan-lahan suara raungan motor itu pun menghilang.

Aku sebenarnya ingin pergi ke atas tebing itu, tapi aku takut waktuku tidak cukup. Aku takut Bah Dadeng pulang duluan dan aku terpaksa harus pulang sendirian.

Aku sebenarnya tidak takut pulang sendirian tapi aku belum mengenal seluk beluk hutan ini seperti Bah Dadeng. Dia tahu jalan pulang dengan rute terpendek, sedangkan aku tidak. Aku harus berkeliling menyusur sungai untuk pulang dan itu cukup jauh serta memakan waktu yang lama.

***​

Kami pulang sekitar pukul dua sore dan Bah Dadeng membawa ikan banyak sekali. Dia tidak ingin menjual atau menukar ikan-ikan itu dengan tetangga atau siapapun. Jadi selama dia menunggu aku.

Dia membersihkan dan membuang jeroan perut ikan-ikan tersebut hingga siap untuk dimasak nanti di rumah. Bah Dadeng tidak lupa juga memetik beberapa puluh butir buah jambu yang sudah matang.

Bah Dadeng berjalan di depanku dengan langkah yang cepat. Dia memiliki kegesitan dan stamina yang bagus. Kulitnya kecoklatan dengan tinggi sedang, sekitar 155 cm. Itu artinya 22 cm lebih pendek dariku.

Sekitar pukul setengah tiga, kami tiba di depan rumah dan Bah Dadeng langsung menyalakan tungku. Aku meletakkan keranjang bambu berisi buah jambu di atas meja dan mendengar suara-suara perempuan di luar rumah. Salah seorang di antara mereka ada yang mengucapkan sampurasun dan membukakan pintu. Aku menoleh dan melihat seorang ABG berusia sekitar 17 tahun menongol di ambang pintu.

“Kang Ijan yah?” Tebaknya. Sepasang matanya mengerjap-ngerjap menatapku dan aku menjawabnya dengan senyum menyeringai.

“Kang, abah ada?” Tanyanya.

“Ada.” Jawabku,

“lagi di dapur, bakar ikan.”

“Owh.” Katanya pendek.

“Di luar koq sepertinya banyak orang. Ada apa ya?” Tanyaku.

“Ah, biasa Kang, mau nuker ikan. Abah pulang mancing kan?”

“I ya, kami baru saja pulang.” Jawabku.

“Uut juga mau nuker ikan hasil pancingan abah.” Katanya megatakan tujuanya. Oke, jadi namanya Uut. Aku kira Uut itu adalah nama panggilan, nama lengkapnya mungkin Utari.

“Silahkan langsung ke abah saja.” Kataku.

“Kang henpon yang hilang teh udah ketemu?”

“Udah. Koq tahu henpon aku hilang?”

“Abah yang bilang. Lihat dong HPnya?”

“Mmm, masih mati. Kayaknya kena air, akang keringkan di belakang kalau pengen lihat.” Kataku.

“Yuk, ke belakang yuk.” Ajaknya.

Aku belum sempat menjawab ajakan itu ketika beberapa perempuan memasuki rumah yang kecil ini secara serabutan. Mereka berseru huuu kepada Uut yang sedang berbincang denganku.

“Disuruh nyari abah malah ngegodain cowok ganteng.” Kata seorang perempuan berusia 30-an yang sangat manis.

“Iihhh, Teh Lilis mah gitu. Cuma nanyain henponnya udah ketemu belum, masa dibilang ngegodain?”

“Ah, masa?” Kata seorang perempuan yang lain,

“Pak Otang Guru mau di kemanain, Ut?”

“Eh, apaan ih! Ceu Susi aja yang suka sama Pak Otang, dia mah udah tua. Jelek lagi.” Kata Uut.

“Biar jelek tapi duitnya banyak.” Kata yang lain.

Rumah Bah Dadeng ini kecil dan sederhana. Hanya terdiri dari sebuah ruangan serbaguna dan satu kamar. Sedangkan dapur terpisah karena terbuat dari material kayu ala kadarnya dan lantainya beralaskan tanah. Tetapi dapur inilah ruangan yang paling luas.

Ada 5 orang perempuan yang memasuki rumah dan mengerumuniku. Semuanya manis-manis. Aku kira, yang paling muda tentulah Uut dan yang paling tua adalah Susi. Usianya mungkin sekitar 35 tahun. Sedangkan Lilis, Reni dan Memey kemungkinan ada di antara 25 s/d 30 tahun-an.

Kalau boleh jujur, seumur hidup aku belum pernah merasa dikeroyok oleh 5 orang perempuan sekaligus. Bahkan, kalau boleh aku mengatakan yang lebih sejujur-jujurnya; aku merasa aku belum pernah merasa diinginkan seperti sekarang ini.

Dalam ingatanku yang samar, selama hidupku aku selalu menginginkan perhatian dari seorang perempuan, terutama dari perempuan yang aku suka; tapi entah mengapa aku jarus berjuang sangat keras untuk mendapatkannya. Bahkan aku berkali-kali gagal dalam mendapatkannya.

Ya, aku sebenarnya hanya lelaki biasa. Sama seperti yang lelaki yang lain. Yang ingin dicintai dengan tulus.

Ke lima orang perempuan desa yang manis-manis itu secara diam-diam saling bersaing memperebutkan perhatianku. Aku tahu. Dan aku gugup dengan situasi itu, yang bagiku ternyata adalah merupakan sesuatu yang baru.

Mereka berceloteh riang dengan segala macam celotehan yang sebagiannya aku tak paham dengan jelas. Di antara mereka, yang paling menarik perhatianku adalah Memey. Dia mengingatkan aku kepada seseorang yang aku lupa siapa namanya, kapan bertemunya, di mana –tapi suatu saat aku pasti mengingatnya.

Memey memiliki kulit yang putih pucat, mata agak sipit dan rambut ikal pendek yang dia jepit ke belakang pada kedua sisinya. Di antara mereka, dia adalah yang paling pendiam, yang paling kurus dan paling tinggi.

Dia hanya senyam-senyum saja menanggapi celotehan teman-temannya yang lain. Bahkan dialah yang pertama pergi ke dapur dan membantu Bah Dadeng membakar ikan. Sementara yang lain masih sibuk mencari perhatianku.

Karena keriuhan celotehan, mereka tidak mendengar suara motor matic berhenti di depan rumah. Aku mendengarnya walau agak terlambat, tiba-tiba saja Ceu Kades Uti sudah berdiri di ambang pintu yang terbuka dan berdehem dengan sangat keras. Aku merasa geli ketika perempuan-perempuan itu sedikit terkejut dan saling cengengesan ketika Ceu Kades menegur.

“Kalian pada ngapain di sini?” Katanya dengan penuh wibawa,

“tolong ya jangan ganggu Kang Ijan yang lagi tetirah.” Lalu dia menoleh kepadaku dan tersenyum. Ah, senyum Ceu Kades ini memang manis. Seakan-akan dengan senyum itu dia ingin mengatakan kepadaku… kamu enggak usah kuatir, semuanya akan baik-baik saja.

Aku membalas senyumnya dan menatap sorot matanya yang menentramkan.

“Teteh ke sini mau ngurusin persyaratan administrasinya akang.” Katanya dengan lembut.

“Maksudnya, Teh?”

“Maksudnya, pertama, kang Ijan kan datang ke desa kami belum lapor, nah Teteh ke sini membawa formulir isiannya. Sekalian teteh bantu pengisiannya.”

“Tapi Teh…”

“Enggak pake tapi-tapi. Mau kapan lagi akang mematuhi peraturan kalau enggak dari sekarang?”

“Anu, Teh, saya… saya… enggak bawa surat-surat.”

“Teteh juga tahu. Akang kan kecelakaan jatuh ke sungai, tentu saja surat-surat untuk kelengkapannya enggak ada; mungkin jatuh atau tercecer entah di mana. Makanya Teteh sekarang mau bantu… akang tinggal jawab pertanyaan yang Teteh ajukan, nanti Teteh tulis di formulir… eh, kalian kenapa masih berkerumun di sini?” Kata Ceu Kades dengan suara yang keras dan tegas. Aku merasa geli ketika mereka membubarkan diri dan semuanya masuk ke dapur.

“Nah, Kang, jawab ya, nama lengkap dan tempat tanggal lahir.” Katanya.

“Nama? Nama lengkap? Nama saya…”

Ngiiiiinnnngggg…. sebuah denging yang sangat tajam menombak kepalaku. Aku tak ingin mengeluh, apalagi mengaduh. Aku menahan rasa sakit itu sekuatku.

“Namaku… namaku… aku…”

Rasa sakit itu datang merayap dari bagian belakang kepala, terus naik ke ubun-ubun. Lalu, saat tiba di ubun-ubun rasa sakit itu menjengkit dan meledak. Pada saat meledak, aku biasanya tak sadarkan diri.

***​

“Kang Ijan… kang Ijan…” Suara itu demikian lembut membelai telingaku. Suara Ceu Kades Uti.

“Lamsijan, bangun nak.” Itu adalah suara Bah Dadeng.

“Teteh… teteh… maafkan saya… maafkan…”

“Enggak apa-apa, Kang. Kepalanya masih sakit ya?”

“Saya lupa tanggal dan bulannya… tapi tahunnya 1995…” Kataku sambil membuka mata.

Wajah cantik berhidung runcing itu berbayang menjadia 3 atau 4 bayangan dalam penglihatanku. Aku merasakan dengingan itu sekali lagi. Rasa sakit di kepala mulai berkurang dan aku sangat mengantuk. Aku tertidur. Dalam tidurku aku bisa merasakan dengusan nafas Ceu Kades yang sangat dekat.

“Ya sudah, akang adalah Lamsijan.” Bisiknya.

Aku? Aku adalah Lamsijan. Ha ha ha. Lucu sekali.

Bukan, aku bukan Lamsijan. Tapi aku tak tahu siapa namaku. Aku telah kehilangan pekerjaan dan aku merasa ada orang yang ingin membunuhku.

***​

PUTRI DIAH PITALOKA​

Ceu Kades Uti sangat terkejut ketika lelaki muda itu tiba-tiba roboh dan menimpa dirinya. Semula Ceu Kades menyangka pemuda itu cuma pura-pura namun ketika mengetahui hidungnya meneteskan darah. Ceu Kades panik dan menjerit minta tolong. Segera saja rombongan perempuan yang sedang bergerombol di dapur bermunculan dan menolong Ceu Kades dari tindihan Lamsijan yang badannya kaku.

Mereka menggotong Ijan dan membawanya ke dalam kamar, membaringkannya di dipan yang ada alas kasurnya. Sementara ceu Kades masih terduduk di kursi kayu yang reyot dengan rasa kejut yang belum hilang. Tangan Ceu Kades yang tak sengaja menyentuh selangkangan pemuda itu terlihat gemetar.

“Tidak mungkin.” Bisik Ceu Kades dalam hatinya,

“tak mungkin sebesar itu.”

Dia menarik nafas panjang untuk menghilangkan pias di wajahnya lalu memanggil Bah Dadeng untuk meminta keterangan apakah Lamsijan sering mengalami itu. Bah Dadeng mengiyakan. Tanpa pikir panjang lagi Ceu Kades menelpon Bidan Vero untuk secepatnya datang ke rumah Bah Dadeng.

Selesai menelpon bidan Vero, Ceu Kades Uti mengisi formulir itu sesuai dengan perkiraannya sendiri. Dia meminta Kartu Keluarga Bah Dadeng dan memasukkan Lamsijan sebagai nama anak Bah Dadeng. Lalu memanggil Pak RT Aep dan Pak RW Odang untuk menandatangani formulir tersebut.

“Ya sudah akang adalah Lamsijan.” Kata Ceu Kades Uti setengah berbisik di telinga Lamsijan.

***​

Bidan Vero yang sedang gabut karena tidak ada pasien, langsung menaiki motor maticnya dengan membawa sejumlah peralatan dan obat-obatan. 15 menit kemudian dia muncul di ujung gang. Dan memasuki gang diikuti beberapa emak-emak yang tinggal di sekitar RT 07 yang penasaran dengan berita pingsannya Lamsijan.

Entah bagaimana caranya berita itu menyebar ke pelosok RT dan kemudian RW. Bahwa Ceu Kades Uti menginterograsi saudaranya Bah Dadeng yang bernama Lamsijan. sehingga pemuda itu pingsan. Tak ada yang tahu.

Namun kemungkinan besar hal tersebut berawal dari Nyi Iin yang datang ke rumah itu. Dan tak sengaja melihat seorang pemuda terjatuh dalam pelukan Ceu Kades itu setelah ditanyai nama dan tempat tanggal lahirnya. Nyi Iin yang kecewa karena hanya ingin bertemu dengan Bah Dadeng, segera balik kanan dan bertemu dengan Wak Epoh di jalan desa.

Nyi Iin menceritakan bahwa dia melihat saudaranya Bah Dadeng pingsan setelah ditanyai ole Ceu Kades Uti. Wak Epoh kemudian pulang ke rumahnya dan menceritakannya kembali kepada Nyi Cicih, Mang Ocid dan Dudung. Sebelum bidan Vero datang, cerita itu sudah menyebar ke seluruh RW. Kira-kira begitulah kemungkinan cara menyebarnya hoaks tersebut.

Rumah Bah Dadeng pun dikerumuni oleh massa yang ingin tahu apa yanga sebenarnya terjadi.

Bah Dadeng sendiri menjadi rikuh. Banyak sekali orang yang mendatangi rumahnya. Tapi dia tetap merasa senang karena dia memiliki banyak ikan. Ceu Popon yang merasa dirinya paling dekat dekat Bah Dadeng tiba-tiba mengusulkan untuk masak nasi dan membuat sambel. Emak-emak pun setuju.

“Ini banyak Mie Instant di sini, Ceu. Bagaimana kalau kita bikin saja semuanya terus tambahin cabe biar pedesnya berasa, setuju tidak? Lumayan buat ngejamu orang yang segini banyaknya.” Usul Uut. Semua ternyata setuju.

Tiba-tiba saja suasana rumah Bah Dadeng menjadi hiruk pikuk oleh kesibukan emak-emak memasak. Sementara itu di kamar, Bidan Vero didampingi Ceu Kades Uti memeriksa Lamsijan yang mulai siuman.

“Kang Ijan mengalami gejala pembekuan darah.” Kata Bidan Vero dengan lagak seperti dokter,

“tapi jangan khawatir, itu hanya sementara. Nanti juga sembuh koq. Saya kasih obat pengencer darah dan parasetamol untuk sakit kepalanya.” Kata Bida Vero dengan nada yang meyakinkan.

“Berapa semua biayanya, dok?” Tanya Lamsijan.

Wajah Bidan Vero merah karena jengah ketika dipanggil dokter.

“Ah, tidak usah. Semuanya sudah ditanggung Ceu Kades.” Katanya sambil meninggalkan kamar.

Lamsijan melirik ke arah Ceu Kades Uti dan berkata,

“teh, ambil uang secukupnya di dompet ini.” Kata anak muda itu sambil menyerahkan sebuah dompet.

Melihat dompet itu Ceu Kades Uti yang semula cemberut tiba-tiba tersenyum. Dia membuka dompet itu dan tambah tersenyum melihat duit yang sangat banyak.

“Mungkin ada sekitar 6 atau 7 juta, aku ambil 500 ribu saja ah.” Kata Ceu Kades Uti dalam hatinya dan mengambil uang 5 lembar seratus ribuan. Kemudian dia mengembalikan dompet itu kepada Lamsijan.

“Nah, sekarang Kang Ijan istirahat dulu ya, saya mau ke luar sebentar.” Katanya setelah mengantongi uang 500 ribu rupiah tersebut.

“I ya, Teh. Makasih ya Teh.”

“Teteh yang makasih.” Kata Ceu Kades Uti dengan senyum cerah, dia kemudian celingukan sebentar.

Lalu tanpa tedeng aling-aling Ceu Kades Uti mencipok bibir Lamsijan dengan sekali cipokan yang cepat; sementara tangannya secara lembut hinggap di atas selangkangan Lamsijan dan meremas batang itu dari luar celananya.

“Aakhh… Teteh… ”

“Sssttt… jangan bilang-bilang.”

Ceu Kades Uti kemudian ke luar dan terkejut oleh banyaknya orang. Beberapa bapak-bapak sedang mengumpulkan kayu bakar untuk membuat api unggun sekaligus untuk membuat ayam bakar. Demikian kata mereka ketika Ceu Kades bertanya.

Ceu Kades Uti tiba-tiba tersenyum. Akalnya yang cerdik segera terbit untuk memanfaatkan situasi tersebut.

“Hm, anggap saja ini perayaan menyambut kehadiran warga baru.” Katanya dalam hati.

Lalu menelpon Mang Uko dan kawan-kawan dari RW 01 untuk datang dengan membawa kendang dan peralatan seni lainnya sebagai pengisi hiburan.

“Malam ini kita akan berpesta.” Katanya dalam hati sambil tersenyum gembira.

Kepala Desa Sirnalaya, Putri Diah Pitaloka yang cerdik, di ruang kerjanya.

***​

Entah bagaimana mulainya, mendadak saja halaman depan rumah Bah Dadeng dipenuhi orang dari seluruh penjuru desa. Mang Uko dan kawan-kawan memainkan kendang. Gong dan terompet untuk membawakan lagu-lagu tradisional sunda dicampur dengan lagu-lagu dangdut. Orang-orang yang datang pun menari-nari dengan gembira.

Melihat suasana yang gembira itu. Pak RW Odang diam-diam mengambil Bambu Air Lahang yang berasal dari pohon kawung (enau/aren) yang sudah dia fermentasikan selama bertahun-tahun di belakang rumahnya dibantu oleh Koman.

Lalu membagikannya kepada setiap orang sebanyak setengah gelas plastik bekas air minum kemasan. Orang-orang pun menenggaknya dan suasana pesta dadakan pun menjadi lebih meriah.

Di tengah keramaian pesta yang tak direncanakan itu, Memey mengendap-endap masuk ke dalam kamar dan menemukan Lamsijan tengah terlelap. Cahaya dari luar dan suara musik dan orang-orang yang bersorak, menemani jantung Memey yang berdegup kencang.

“Aku ingin melihatnya dari dekat.” Katanya dalam hati. Dia pernah tak sengaja melihat pemuda itu mandi di halaman belakang rumah Ceu Popon dan dia tidak percaya dengan apa yang dilihatnya.

Dengan hati-hati dia menyingkap celana pendek Lamsijan dan meliha sebuah kepala berbentuk helm jerman yang bermata satu tengah terpejam; seakan ikut majikannya sama-sama tertidur lelap.

Memey mendekatkan wajahnya dan menghirup aroma yang lezat itu. Daging hidup yang bersih, yang dirawat dan dijaga dengan baik dari sisa-sisa urine dan keringat lembab yang penuh bakteri. Membuat lidahnya melelet-lelet menahan godaan untuk merasakan kekenyalan dan kelembutannya.

Walau Memey baru berusia 27 tahun, tapi dia sudah menjanda 3 kali.

Memey memiliki tubuh ramping tinggi kecil khas sunda. Rambutnya setengah keriting berwarna kecoklatan alami. Kulitnya kuning langsat, hidung bangir dan sepasang mata yang agak sipit. Dia menikah ketika berusia 17 tahun dengan teman kerjanya di Pabrik Tekstil.

Setelah dua tahun mengarungi biduk rumah tangga, pabrik di mana mereka bekerja mengalami kebangkrutan. Suaminya kemudian mencari kerja di kawasan Industri di Karawang. Memey sendiri mendapat pekerjaan di toko baju di Cicadas, Bandung. Selama hidup terpisah jauh, mereka saling berselingkuh dan kemudian sama-sama setuju untuk bercerai secara baik-baik.

Memey kemudian menikahi selingkuhannya yang merupakan manajer toko. Tapi pernikahannya tidak berjalan mulus karena ternyata si manajer sudah mempunyai anak dan istri. Pada suatu hari, istri si manajer mendatangi rumah kontrakan mereka dan mengamuk. Istri tua yang marah itu mengancam Memey dengan pisau dan akan membunuhnya.

Memey ketakutan dan lari, dia bersembunyi di sebuah rumah yang sedang direnovasi. Mandor yang bernama Pak Jono melindungi Memey dari kejaran istri tua yang kalap itu. Beberapa bulan kemudian, Memey dan Pak Jojo menikah. Memey diajak tinggal di rumah Pak Jono yang terletak di Desa Sirnalaya, RT 05 RW 07.

Dua tahun menikah, Pak Jojo meninggal dunia karena kecelakaan kerja di Jakarta. Ibunya Jojo yang masih hidup, meminta Memey untuk tetap tinggal karena dia merasa kesepian. Di rumah itu, hanya tinggal mereka berdua.

Sampai dengan saat ini, Memey sudah lebih dari 2 tahun menjanda. Dia sudah merasakan perbedaan dan persamaan tiga penis laki-laki. Semuanya enak tapi bau dan jorok. Besar dan panjangnya pun rata-rata. Namun untuk yang satu ini, yang saat ini sedang ditatapnya tanpa kesip, dia benar-benar sangat penasaran.

Rasa penasaran itulah yang membuat lidahnya menjulur dan menjilat ujung kepala botak itu. Ternyata benar, halus dan gurih.

“Ougkhkh…” pemuda itu mengeluh ketika Memey mengulumnya pelahan. Janda itu tersenyum melihat reaksinya. Ketika dia berniat mengocok dengan mulutnya, tiba-tiba pintu terbuka dan suara musik terdengar lebih keras.

Saat pintu ditutup dan dikunci, suara musik dari luar terdengar mengecil kembali.

Memey terkejut. Dia melihat Ceu Kades Uti masuk ke dalam rumah dan melangkah menuju kamar. Tanpa pikir panjang lagi, Memey cepat bersembunyi di kolong dipan. Jantungnya berdegup kencang karena takut ketahuan atas apa yang telah dilakukannya.

“Kang Ijan…” Suara Ceu Kades Uti terdengar lembut dan manja.

“Maafin Teteh ya, Teteh tidak bermaksud…”

“Teteh… teteh… ” Suara Lamsijan terdengar seperti mengigau.

“Ya Kang…”

“Enak Teh.” Kata Lamsijan.

“Enak apa akang… sayang.”

“Aahh… teteh… mah… akang suka sama Teteh di…em…”

“Ssssstttt… Teteh juga suka.”

“Lagi Teteh lagi… akang suka…”

Jantung Memey semakin berdegup kencang ketika Ceu Kades Uti melepaskan sandalnya dan naik ke atas dipan. Memey menahan nafas dan menunggu apa-apa kira-kira selanjutnya yang akan terjadi.

Bersambung