Agen Bola Terminal Bandar Bola Terpercaya
LAPAKDEWA LAPAKPOKER

Kesetiaan Yang DiHancurkan

Perkenalkan, namaku Sofie, seorang istri berumur 34 tahun dari suamiku, Anandya, yang berumur 2 tahun lebih tua dariku. Kami sudah dikaruniai seorang anak perempuan yang sekarang berumur 6 tahun dan seorang anak laki-laki yang berumur 2 tahun.

Pernikahan kami cenderung langgeng. Yang namanya konflik dan berantem itu sudah biasa dalam rumah tangga, tapi kami selalu bisa mengatasinya, dan ujung-ujungnya kami bisa berbaikan jika ada masalah.

Urusan finansial? Terbukti aman, karena suamiku mempunyai penghasilan yang cukup mapan. Ditambah lagi, aku juga bekerja. Penghasilan yang mapan dari suamiku, ditambah dengan sebagian besar persenan dari gajiku, tentu saja kita lebih dari cukup untuk menghidupi kehidupan keluarga kami. Pokoknya untuk urusan finansial, kami jarang sekali mengalami krisis moneter dalam keluarga.

Urusan ranjang? Boleh dibilang cukup aman. Suamiku tipikal laki-laki dengan tubuh biasa. Tidak bisa dikatakan atletis, tapi tidak juga bisa dikatakan gemuk. Ukuran penisnya pun ukuran standar orang Indonesia, yaitu sekitar empat belas sentimeter.

Aku sendiri adalah wanita bertubuh seksi, bertubuh langsing, berdada cukup besar, sekitar 34C, dan berkulit coklat. Kata para temanku yang pria, aku sangat mirip dengan model majalah Gress yang bernama Ratu Kirana. Hmmm, jika kulihat, memang wajah dan tubuhku memiliki banyak kemiripan dengannya sih.

Yang berbeda, hanyalah umur kami yang berbeda enam tahun. Akan tetapi, selebihnya sangat mirip. Kok bisa ya? Hahaha. Eh, malah jadi membicarakan diriku, deh. Yah, dengan spesifikasi tubuh yang kusebutkan tadi, sangat mungkin jika aku menguasai hubungan diatas ranjang.

Akan tetapi, boleh dibilang kami itu cukup imbang. Malam ini, suamiku menang, malam besok, aku menang. Sesekali, aku bisa mendominasi sampai dua sampai tiga malam. Yah intinya, kebutuhan biologisku cukup terpenuhi oleh suamiku.

Apalagi menurutku, inti dari suatu pernikahan bukanlah seks. Seks hanyalah sebagai salah satu cara untuk mengungkapkan perasaan cinta masing-masing. Itulah pandanganku tentang seks, karena itu aku tidak pernah menuntut banyak tentang seks.

Di rumah, kami memiliki cukup banyak asisten rumah tangga. Ada kepala asisten rumah tangga yang bertugas dalam mengkoordinasi seluruh kegiatan asisten rumah tangga bawahannya, ada asisten rumah tangga yang bertugas mengurusi kerjaan rumah, ada asisten rumah tangga yang bertugas keluar rumah, dan beberapa asisten rumah tangga untuk menjaga anak-anak kami.

Seluruh asisten rumah tangga yang bekerja di rumahku adalah orang yang telah bekerja pada keluarga suamiku sejak suamiku bahkan belum lahir, karena memang keluarga suamiku adalah keluarga yang sangat kaya. Dengan demikian, kami sangat mempercayai mereka. Track record mereka pun sangat bagus, kesetiaan dan kejujuran mereka tidak tertandingi oleh siapapun menurutku. Oleh karena itu, aku mempercayakan anak-anak kepada mereka.

Mengapa mempercayakan anak-anak pada mereka? Padahal, dengan penghasilan suamiku saja, aku yakin untuk menghidupi keluarga kami ini lebih dari cukup. Disinilah permasalahannya. Sebagai wanita, aku merupakan seseorang yang sangat mengejar karir. Aku terbukti lebih berprestasi di dunia karir dibandingkan menjadi ibu rumah tangga.

Gairah hidupku pun terletak pada dunia karir. Meskipun demikian, tidak mengurangi waktu bahagia untuk suami dan anak-anakku. Boleh dikatakan, sebagai wanita yang sangat mengejar karir, keluargaku tetap tidak terabaikan. Aku mengatakan bahwa kehidupanku dalam keluarga ini sangat sempurna.

Apa permasalahan utama bagi seorang istri yang mengejar karir? Menurut teman-teman dan artikel, yaitu perselingkuhan. Betulkah demikian yang terjadi padaku? Alhamdullilah, dalam umur pernikahan kami yang ke-sepuluh ini, aku selalu berhasil menjaga kesetiaanku.

Jangankan tertarik pada lawan jenis, memikirkan lawan jenis selain suamiku untuk semenit saja sudah tabu bagiku. Yah untung deh, karena aku ingin menjadi istri yang setia kepada suami. Kesetiaan inilah yang selalu kubanggakan dalam diriku.

Suatu hari, aku ditugaskan oleh kantorku untuk training manajemen ke Jakarta selama enam bulan. Inilah yang menjadi permasalahanku. Di satu sisi, aku sangat ingin mengikuti training itu karena training itu sangat bagus untuk karirku kedepannya, dan juga untuk pengembangan diriku. Akan tetapi di sisi lain, berarti aku harus meninggalkan keluargaku selama enam bulan. Jujur, hatiku berkecamuk.

“Nggak usah kuatir, sayang. Rumah dan anak-anak aman kok. Lihat para asisten-asisten yang sangat handal. Aku jamin, tidak akan ada masalah yang berarti. Kamu ikut saja training itu.” Kata suamiku.

“Ta… tapi, sayang…” Kataku.

“Nggak usah bohongin aku. Kamu tuh ga pinter berbohong, sayang.” Kata suamiku sambil tersenyum.

Ah, terbaca ya? Iya, memang betul aku sangat ingin mengikuti training itu. Akan tetapi, memang aku terjepit oleh kewajibanku sebagai istri. Suamiku orang yang sangat pengertian. Ia mampu membaca bahwa aku sangat ingin mengikuti training itu. Dia juga merelakan kepergianku selama enam bulan semata-mata demi aku yang ingin mengejar karir. Terima kasih, sayang.

Dengan seizin suamiku, akhirnya aku berangkat ke Jakarta dari Bandara Sultan Hasanuddin. Sebelum berangkat, aku dan suamiku sempat mengucapkan salam perpisahan sementara. Aku juga meyakinkan suamiku bahwa aku tidak akan main serong, karena kesetiaanku sudah terbukti selama sepuluh tahun menikah. Suamiku hanya tersenyum mendengar perkataanku.

Setelah perjalanan yang panjang, akhirnya pesawat Garuda Indonesia yang kunaiki mendarat di Bandara International Soekarno-Hatta, Jakarta. Sesampainya keluar bandara, aku langsung dijemput oleh pihak hotel yang sudah dipesan oleh perusahaanku.

Tempat training sekaligus aku menginap selama enam bulan adalah hotel bernama Fave Hotel di kawasan Tanah Abang. Supir yang menjemputku itu mengantarku ke hotel itu.

Kami sampai di Fave Hotel Tanah Abang pada pukul 11.57 siang. Aku langsung turun dan langsung ke resepsionis.

“Selamat siang, namaku Sofie, dari PT Alixa Management. Aku mengikuti training Better Management for Better Performance di hotel ini. Apakah namaku sudah terdaftar?” Tanyaku.

“Selamat siang, Ibu Sofie. Sebentar, kami cek terlebih dahulu.” Kata resepsionis sambil mengetik-ngetik komputernya.

Sambil menunggu, aku perhatikan hotel ini ternyata cukup bagus. Aku tidak tahu kategori hotel ini, tapi aku taksir sekitar hotel bintang empat sepertinya.

“Terima kasih sudah menunggu, Ibu Sofie. Betul, nama Ibu Sofie terdaftar dalam sistem kami untuk mengikuti training Better Management for Better Performance yang akan diselenggarakan selama enam bulan di Fave Hotel ini. Kamar ibu juga sudah dipesankan dan seluruh biaya sudah dibayarkan di muka oleh PT Alixa Management.” Kata resepsionis.

“Oke, terima kasih ya, Mbak.” Kataku.

“Mohon maaf, bu. Peserta training diwajibkan untuk berkumpul terlebih dahulu di Skye Room. Silakan bu, staff kami akan mengantarkan ibu ke Skye Room. Koper ibu boleh ibu titipkan di kami, nanti akan kami antar ke kamar ibu sekalian.” Kata resepsionis.

“Oke, terima kasih ya, Mbak.” Kataku sambil kemudian mengikuti salah satu staff hotel ini menuju Skye Room.

Sesampainya di Skye Room, para peserta training sudah berkumpul. Ada sekitar tiga puluh lima orang yang mengikuti training ini, dan mungkin akan bertambah lagi jumlahnya.

“Selamat siang, betul dengan Ibu Sofie Annisa?” Kata seorang pria cukup tampan dan berpakaian rapi dengan jas yang tiba-tiba mendatangiku.

“Iya betul, saya sendiri.” Kataku.

“Terima kasih bu atas kedatangannya. Ibu orang terakhir yang kami tunggu. Silakan mengambil tempat duduk di tempat yang sudah disediakan, bu.” Kata pria itu.

“Wah, maaf, aku terlambat ya. Maaf ya sudah membuat kalian semua menunggu jadinya.” Kataku kepada semua orang di ruangan.

“Tidak, bu. Ibu datang lebih cepat dari waktu yang dijadwalkan. Tapi, kebetulan orang-orang ini datang lebih cepat dari ibu. Ibu tidak terlambat sama sekali kok.” Kata pria itu sambil tersenyum.

“Ah, syukurlah.” Kataku sambil kemudian mengambil tempat duduk di meja yang bertuliskan namaku.

Ruangan ini cukup besar, dengan kapasitas sekitar empat puluh orang. Meja dan kursi sudah diatur sedemikian rupa seperti ruang kelas. Dalam satu meja, aku duduk bersama empat orang lainnya, dua laki-laki dan dua wanita.

“Selamat siang, bapak dan ibu sekalian. Perkenalkan, nama saya Ibnu Baroqah. Saya akan membawakan training Better Management for Better Performance pada sesi pertama dan kedua yang akan diselenggarakan selama empat bulan.

Untuk sesi ketiga pada bulan kelima dan keenam akan dibawakan oleh rekan saya yang lain. Terima kasih sudah memilih PT Management Training Indonesia sebagai partner anda semua untuk membawakan training ini. Pertama-tama, saya absen dulu ya.” Kata pria bernama Ibnu itu.

“Albert Chen dari PT Mitra Andalan Utama.” Kata Ibnu.

Kemudian, seorang pria tinggi bertubuh besar dan berkebangsaan Chinese di tengah ruangan mengangkat tangannya.

“Hapsari Siti dari PT Alimata.” Kata Ibnu.

Kemudian, seorang wanita muda berjilbab yang duduk di ujung kanan ruangan mengangkat tangannya.

Ibnu terus memanggil nama-nama orang yang ada di ruangan. Sampai akhirnya, namaku pun dipanggil dan aku mengangkat tanganku. Akhirnya, Ibnu telah selesai mengabsen semua orang di ruangan ini. Aku menghitung, dari tiga puluh lima peserta training, dua puluh laki-laki, dan lima belas perempuan.

“Oke, sekarang tolong perhatikan nomor yang tertulis di bawah nama kalian semua.” Kata Ibnu.

Aku melihat nomor yang tertera dibawah namaku di meja, dan melihat nomor tujuh. Aha, angka keberuntunganku.

“Nomor itu merupakan anggota grup kalian dalam berdiskusi. Tidak perlu mencari anggota grup kalian, karena sesama anggota grup duduk dalam satu meja.” Kata Ibnu.

Aku segera melihat kekiri dan kanan untuk melihat anggota grupku. Aku duduk kedua dari kiri. Sebelah kiriku adalah seorang wanita cantik berjilbab dan berkulit putih. Sebelah kananku adalah wanita berkebangsaan Chinese berambut panjang dan berkulit putih.

Sedangkan yang duduk di ujung kanan adalah seorang pria bertubuh tinggi dan besar berkulit coklat, dan yang duduk disebelahnya adalah seorang pria kecil berkulit putih dan berkacamata.

“Silakan gunakan waktu selama satu jam untuk berkenalan dengan anggota grup kalian, sekaligus sharing tentang pengalaman kalian.” Kata Ibnu.

Kemudian, kami saling berkenalan.

“Rida.” Kata wanita berjilbab disebelahku.

“Sofie.” Kataku sambil menjabat tangannya.

“Amel.” Kata wanita chinese di sebelah kananku.

“Sofie.” Kataku sambil menjabat tangannya.

“Indra.” Kata pria bertubuh tinggi yang duduk di ujung kanan.

“Sofie.” Kataku sambil menjabat tangannya.

Wow, jabatan tangannya kuat dan kokoh sekali, seolah-olah tidak akan dilepaskan dari tanganku. Sepertinya pria bernama Indra ini adalah orang yang berpendirian kuat.

“Reza.” Kata orang yang duduk disebelah Indra.

Tangannya hangat, jabatan tangannya tidak terlalu kuat, tapi tidak loyo juga. Sepertinya pria bernama Reza ini adalah orang yang memiliki visi yang bagus.

“Sofie.” Kataku sambil menjabat tangannya.

Singkat cerita, kami saling berkenalan dan berbagi pengalaman tentang pengalaman kami di perusahaan masing-masing. Lama kelamaan, omongan kami berubah menjadi masalah pribadi dan obrolan ringan.

Ternyata, keempat rekanku yang lain pun juga sudah menikah, dan mereka juga sama denganku, meninggalkan keluarga mereka masing-masing di kota mereka masing-masing selama enam bulan. Hingga akhirnya, satu jam pun berlalu.

“Oke. Terima kasih atas kerjasama kalian semua. Sekarang, kita tutup sesi kita hari ini, dan silakan beristirahat di kamar kalian masing-masing. Kita bertemu lagi besok di tempat ini tepat pada pukul 08.00.” Kata Ibnu.

Kemudian, kami segera beres-beres, dan keluar dari ruangan ini. Karena kami sudah banyak mengobrol, otomatis kami berlima tetap berjalan bersama. Di tengah perjalanan, kami pun juga mengobrol sebatas obrolan ringan saja.

“Pram, sini!” Kata Rida.

Kemudian, seorang pria bertubuh besar dan berkulit coklat mendatangi kami.

“Eh kenalin, ini teman kantorku.” Kata Rida.

Kemudian, pria bernama Pram itu menyalami kami semua. Hmmm, jabatan tangannya biasa-biasa saja, tapi terkandung banyak kekuatan didalamnya. Sepertinya Pram ini orang yang sangat setia pada pasangannya.

Kamu terus berjalan menuju kamar masing-masing, dan berpisah. Aku segera masuk ke kamarku. Kamar yang menurutku cukup bagus dengan view keluar. Aku segera merebahkan diriku di tempat tidur, dan mempersiapkan diriku untuk hari esok.

Tepat sebulan sudah training ini berlangsung. Masing-masing sudah mulai memperlihatkan wajah mereka yang sebenarnya. Ada yang betul-betul tulus baik, ada yang betul-betul menyebalkan, ada yang sangat cari muka, pokoknya bermacam-macam deh.

Bagaimana dengan anggota grupku? Bisa kubilang mengerikan. Mereka sih sebetulnya sangat baik-baik semua, tidak ada yang jahat. Tapiiii… Obrolan mereka tidak pernah jauh-jauh dari seks. Mereka selalu membicarakan hubungan seks mereka dengan pasangan hidup mereka masing-masing.

Biasanya laki-laki lebih semangat dalam membicarakan seks, tapi tidak halnya di grupku. Dua wanita di grupku sangat aktif membicarakan seks. Rida suka membuka pembicaraan, tetapi Amel yang sangat menjiwai dalam menceritakan hubungan seks nya dengan suaminya. Sampai-sampai orgasme pun dipraktekan.

“Oooooohhhhhh…. Auuuugggggghhhhhh…. Eeeeeehhhhhh….” Begitulah erangan orgasma yang sangat suka dipraktekan oleh Amel.

Tentu saja, hal ini aku yakin malah jadi bahan fantasi para lelaki di grupku, yaitu Reza, Indra, dan Pram. Meskipun Pram bukan salah satu anggota grupku, tapi ia sangat sering bergabung dengan kami karena kebetulan ia dan Rida cukup dekat sebagai teman kantor.

Memang, terpisah jauh dari keluarga untuk waktu yang lama adalah hal yang sangat rawan perselingkuhan bagi orang yang sudah menikah. Aku melihat orang-orang training lain pun sudah mulai berpasang-pasangan.

Kemana-mana berdua, makan berdua, balik ke kamar pun berdua sebelum masuk ke kamar masing-masing. Bahkan trainer kita, Pak Ibnu, itu pun juga sepertinya cukup genit, sehingga ada saja satu dua wanita yang tergoda olehnya. Padahal, mereka semua sudah menikah.

Tidak ada satupun peserta training kali ini yang belum menikah. Untungnya bagiku, aku kemana-mana selalu berenam. Baik Rida, Amel, Indra, Reza, maupun Pram tidak genit pada orang lain. Sebaiknya aku terus bersama-sama mereka terus.

Suatu ketika, aku sedang berjalan di lorong kamar hendak menuju kamarku. Lorong ini sangat tenang, sehingga ada suara sedikitpun langsung terdengar.

“Teruusss… Aku nggaakk kuaattt…” Tiba-tiba, sayup-sayup terdengar suara orang yang seperti mendesah.

Eh? Darimana suara orang ini? Aku mencoba mencari-cari suara itu. Akhirnya, aku sangat dekat dengan suara itu. Asalnya dari pintu kamar yang ada didepanku ini. Ah, kamarnya tidak terkunci. Aku betul-betul dipenuhi oleh rasa penasaran dengan suara mirip desahan yang kudengar ini. Maka, aku membuka pintu kamar didepanku ini pelan-pelan dan tanpa suara.

Saat aku bisa melihat kedalam… Astaga!! Bukan main jantungku berdegup sangat kencang melihat adegan yang ada didepanku. Aku melihat seorang pria yang telanjang sedang menindih seorang wanita berkulit putih yang juga telanjang. Tidak hanya menindih, tapi pria itu juga mendorong-dorong pantatnya.

Akhirnya aku menyadari bahwa pria itu sedang menyetubuhi wanita yang ada dibawahnya. Tunggu, pria itu sepertinya wajahnya tidak asing. Ya ampun, itu kan Indra!!! Siapa wanita yang sedang disetubuhi itu? Indra dan wanita itu tampak sangat menikmati adegan yang mereka lakukan itu.

“Ndraaa…. Akuu udaah maoo orgasmee…” Erang wanita itu.

Mendengar hal itu, Indra semakin kuat menghujam-hujamkan batang penisnya yang cukup besar itu ke lubang vagina wanita itu.

“Ayoohh,, jangan ditahaan-tahaann… Ridaah sayaanggg…” Erang Indra.

Eh? Rida? Ah, betul juga. Rida itu mengenakan jilbab, jadi aku tidak tahu wajah aslinya. Aku melihat kearah karpet yang menutupi lantai kamar hotel ini. Ya ampun, betul. Baju dan kerudung yang ada di karpet itu, adalah baju dan kerudung yang sama dengan yang Rida kenakan hari ini. Apa itu artinya, Indra dan Rida sedang terjebak dalam perselingkuhan??!

“Oouuuhhhh…. Akuu orgaassmeee Nddraaaa….” Erang Rida sambil terus memutar-mutar pantatnya.

Mendapat serangan orgasme dari Rida, Indra tampak tidak bisa mengendalikan dirinya. Indra makin kencang memompa batang penisnya ke lubang vagina Rida. Indra pun juga menciumi bibir dan buah dada Rida yang bulat dan bergoyang terus akibat hentakan batang penis Indra.

“Ridaaa sayaanggg… Akuu maoo keluaaarrrr…” Erang Indra.

Melihat Indra yang hampir ejakulasi, Rida memeluk tubuh Indra dengan kuat. Pantatnya juga ia putar-putar dengan kecepatan tinggi.

“Ayoohhh keluaarriinnn Ndraaa… Keluarriin di daleemm biar anggeeettt…” Erang Rida.

Heh? Apa Rida serius dengan ucapannya?

“Uooogggghhhhhh… Oooooohhhhh…” Indra mengerang dengan kencang. Ia pun juga mendorong pantatnya sekencang-kencangnya.

“Oooohhhhhhh….” Rida pun juga mengerang. Tampaknya ia merasa nikmat dengan semprotan sperma milik Indra dalam liang vaginanya.

Kemudian, aku keluar dengan menutup kembali pintunya tanpa suara. Kemudian, aku menyandarkan tubuhku ke tembok. Haah… Seperti itukah pemikiran seorang suami dan seorang istri yang jauh dari keluarganya.

“Menyedihkan ya?” Terdengar suara seorang laki-laki yang membuyarkan pikiranku.

Oh, ternyata Reza.

“Reza, kamu tahu selama ini?” Tanyaku.

“Iya, tahu kok. Sering aku memergoki mereka sedang asik memuaskan birahi masing-masing.” Kata Reza.

Whaat??! Berarti bukan hanya sekali saja mereka melakukan hal itu?

“Jangan kaget, seks itu memang kebutuhan manusia, salah satu kebutuhan utama.” Kata Reza.

“Menurutku nggak. Seks itu adalah salah satu cara pengungkapan rasa cinta kita kepada pasangan. Cara pengungkapan rasa cinta kita kepada pasangan, nggak harus dengan seks kan?” Kataku.

“Seks adalah salah satu cara pengungkapan rasa cinta kita kepada pasangan kata kamu?” Tanya Reza.

“Iya.” Kataku.

“Hmmm, itu malah lebih bahaya, Sofie.” Kata Reza sambil berjalan menjauhiku.

“Eh, bahaya kenapa?” Tanyaku.

Akan tetapi, Reza tidak menjawab. Ia terus saja berjalan. Hmmm, jujur aku tidak mengerti ucapan Reza.

Hari-hari keesokannya, kami berenam tidak lagi akrab. Tidak, mungkin aku yang menjauh dari teman-temanku. Aku betul-betul masih belum menerima apa yang Indra dan Rida lakukan. Seringkali, Indra mengajakku makan bersama yang lain. Akan tetapi, aku menolaknya dan malah makan sendirian.

Yang lainnya sepertinya bingung dengan tingkahku, kecuali Reza. Bahkan dalam diskusi kelompok pun, aku tidak banyak bicara. Bahkan, aku melihat Indra dan Rida dengan tatapan jijik.

Suatu saat, aku sedang berbaring di kamarku karena kebetulan sesi training hari itu sudah selesai. Tiba-tiba, hp-ku bunyi tanda sms masuk.

“Sof, lo marah sama gue ya?” SMS dari Rida.

Aku tidak mempedulikan sms itu. Kemudian, bel kamarku berbunyi. Ah, tidak puas meng-SMS, dia sekarang malah mendatangiku. Aku segera membuka kamarku.

“Lu mao apa sih pake kesini segala?” Bentakku.

“Eh, Sof. Sorry, ga tepat ya waktunya?” Tanya Pram.

Lho, rupanya Pram toh. Kupikir Rida.

“Eh, sorry Pram. Gua pikir Rida.” Kataku.

“Oh, bener ya kamu lagi slek sama Rida?” Tanya Pram.

Yah, sial aku keceplosan.

“Ngopi yuk.” Kata Pram.

Hmmm, ajakannya boleh juga sih. Tapi…

“Kamu doang kan?” Tanyaku.

“Iya.” Kata Pram.

“Oke, yuk.” Kataku.

Kemudian, kami berjalan bersama menuju cafe untuk ngopi. Sesampainya di cafe, aku memesan capuccino, sementara Indra memesan espresso.

“Kenapa antara kamu dan Rida?” Tanya Pram.

“Udah, ngomongin yang lain aja ah.” Kataku.

“Apa karena dia bercinta-cintaan melulu sama Indra?” Tanya Pram.

“Lho? Kamu juga tahu ya?” Tanyaku.

“Tahu lah.” Kata Pram.

“Oh. Terus, menurut kamu gimana, Pram?” Tanyaku.

“Kenapa kamu nanya sama aku?” Tanya Pram.

“Aku tahu Pram. Kamu kan juga tipe orang yang setia sama istri.” Kataku.

“Hmmm, mungkin. Tapi justru karena selama ini aku setia, aku malah mempertanyakan kesetiaanku kedepannya nanti.” Kata Pram.

“Hmmm, maksudnya?” Tanyaku dengan bingung.

“Hari ini orang baik, besok jadi orang jahat. Nggak jarang kan dengar pernyataan seperti itu?” Tanya Pram.

Aku tidak menjawabnya.

“Tadinya aku juga menjauh dari Albert dan Rida. Tapi dipikir-pikir, justru aku memutuskan untuk tetap mengamati mereka, agar aku bisa mempertahankan kesetiaan aku sama istri.” Kata Pram.

“Hah? Apa hubungannya, Pram?” Tanyaku.

“Mungkin dengan melihat tingkah laku mereka, aku bisa analisis apa yang menjadi penyebab awal perselingkuhan, dan bisa mencegahnya. Dan juga, dengan melihat efek setelah perselingkuhan itu, akan membuat kita berpikir dua kali untuk selingkuh.” Kata Pram.

Hmmm, deduksi yang cukup aneh. Tapi harus kuakui bahwa itu benar.

“Pram, apa menurut kamu, perselingkuhan mereka itu akan berkepanjangan?” Tanyaku.

“Menurutku nggak.” Kata Pram.

“Kenapa begitu?” Tanyaku.

“Perselingkuhan mereka berawal dari haus birahi. Kebetulan sekali Indra bisa masuk ke kehidupan Rida, dan masuk terlalu dalam, sampai akhirnya mereka bersetubuh. Perselingkuhan macam ini, yang hanya didasarkan atas dasar kepuasan birahi, biasanya tidak berlangsung lama.

Kecuali jika perselingkuhan ini berlanjut ke tumbuhnya rasa cinta diantara mereka. Tapi itu pun relatif mudah disembuhkan. Lain halnya jika…” Kata Pram.

“Perselingkuhan dimulai dari rasa cinta dalam hati.” Kataku.

“Betul sekali, Sof. Yang kaya gitu bakalan susah nyembuhinnya.” Kata Pram.

“Tapi aku heran deh. Bukannya kalo perselingkuhan berdasarkan nafsu birahi, itu harusnya bisa ditekan ya? Aku tidak mengerti.” Tanyaku.

“Justru kamu harus ngerti, Sof.” Kata Pram.

“Iya, aku paham. Tapi nggak bakal lah aku jatuh dalam perselingkuhan macam gitu. Aku orangnya setia kok. Terbukti selama umur pernikahanku selama sepuluh tahun.” Kataku.

“Oke, aku ngerti, Sof. Tapi hati-hati aja, Sof. Semakin kita meyakini bahwa kita setia, semakin besar pula godaan yang akan datang, dan semakin lengah kita akan menjadi.” Kata Pram.

“Iya, aku ngerti.” Kataku.

“Apalagi kamu orangnya cantik dan seksi begitu. Aku yakin nggak sedikit kan orang yang godain kamu selama masa training ini.” Kata Pram.

Hmmm, memang tidak sedikit sih. Tidak jarang aku tiba-tiba mendapatkan SMS yang berisi godaan-godaan gombal rendahan.

“Yah, intinya kita sama-sama berjuang, Sof.” Kata Pram sambil tersenyum.

“Iya.” Kataku juga sambil tersenyum.

Kemudian, kami sama-sama menghabiskan kopi kami ini. Ternyata, Pram itu orangnya selain setia, juga berpandangan luas dan berkepala dingin. Jika boleh jujur, Pram itu orangnya tampan kok, lebih tampan dari suamiku malah. Beruntung juga istrinya mendapatkan pria seperti Pram.

“Oke deh, yuk say.” Kata Pram.

“Jah, mulai gombal kamu juga.” Kataku.

“Hahahaha. Susah sih. Abis Sof itu terlalu susah. Say lebih gampang hahaha.” Kata Pram.

Mendengar itu, aku mencubit lengan Pram dengan kencang.

“Sss… sakiitt wooyyy… Lepasiin saaayyy” Kata Pram.

Grrgghhh, say… say… say… say… Emangnya aku istrinya? Aku mencubitnya makin keras.

“Say… say… say… say… Makan nih!!” Kataku.

“Yaudah… yaaudah… Yang penting bisa manggil kamu say… Cubit lebih keras lagi juga gapapa, say.” Kata Pram sambil tertawa.

Heeehh, sialan. Aku segera melepaskan cubitannya. Kemudian, kami kembali ke kamar kami masing-masing.

“Sof, besok mulai jam berapa ya?” Tiba-tiba, aku mendapatkan SMS dari Pram.

“Jam delapan.” Balasku singkat.

Keesokan harinya, kami semua berkumpul di Skye Room jam delapan pagi. Aku memutuskan untuk mengurangi kejauhan antara dengan Rida dan Indra, karena begitu-begitu mereka juga grup diskusi aku. Masalah mereka ya masalah mereka deh, aku tidak mau ambil pusing lagi. Akhirnya, lama-lama kami berenam menjadi klop lagi.

Dibandingkan dengan mereka, aku lebih sering menghabiskan waktu bersama Pram. Aku dan Pram sangat suka berdiskusi masalah cinta. Pandangannya tentang cinta itu lebih luas dari siapapun yang kukenal.

“Emang kamu tuh profesor cinta. Ambil jurusan apa dulu?” Tanyaku.

“Ga tau. Yang bikin jurusannya kan kamu, professor sayang.” Kata Pram.

Gombal. Dasar, pria dimana saja pun sama. Suka menggombali wanita. Akan tetapi, gombalan Pram itu tidak terlalu parah. Lagian, aku percaya sih padanya, karena kami sama-sama setia.

Kami pun juga saling mengingatkan satu sama lain ketika kami berbuat kesalahan.

“Paha sih emang bagus, tapi jangan ditontonin. Tar banyak orang yang ngeliatin.” Kata Pram.

Itu terjadi karena kebetulan celanaku naik akibat posisi dudukku tidak benar.

“Sorry, profesor sayang. Jangan kebanyakan nunduk. Itu buah dada kamu kelihatan.” Kata Pram.

“Oops, sorry.” Kataku sambil kemudian menutup kerah bajuku dengan tanganku.

“Tapi buah dada kamu gede ya. Kalo boleh tahu berapa ukurannya, say?” Tanya Pram.

“Eh, kurang ajar kamu ya, profesor cinta. Nanyanya nggak kira-kira.” Kataku.

“Yaah maaf deh. Siapa tahu kamu keceplosan hehehe.” Kata Pram.

“Tapi, emang bagus ya, Pram?” Tanyaku.

“Iya, bagus kok.” Kata Pram.

Hahahahaha. Kejujuran dan kepolosannya ini membuatku tertawa. Akan tetapi, begitu-begitu aku mulai deg-degan mendapat pujian seperti itu. Ya, Pram itu tidak menggombal seperti pria-pria lain lakukan. Apa yang dikatakan Pram, seolah-olah semuanya murni dan apa adanya.

Selalu saja setiap hari ada kesempatan dimana dia bisa mengungkapkan apa yang dipikirkannya secara blak-blakan. Dan itu terus membuat jantungku semakin berdegup kencang. Gawat, apakah hatiku diam-diam mulai mencintai Pram? TIDAK. Tidak… Tidak… Tidak… Aku tidak boleh membiarkan ini berkepanjangan.

“Profesor sayang.” Kata Pram.

“Heh. Apa?” Tanyaku.

“Aku cinta sama kamu.” Kata Pram.

JEGGEEERRRR!!!! Bagaikan disambar petir, aku tidak percaya mendengarkan perkataan itu. Mengapa aku yakin bahwa ia tidak bohong? Karena dia tidak pernah berbohong. Semua yang dikatakan olehnya itu murni dari hatinya, tanpa filter sedikitpun. Jujur, aku pun juga sebetulnya ada yang lain di hatiku, tidak seperti biasanya.

“Kamu itu begitu indah.” Kata Pram.

Indah? Kata indah yang keluar, dan bukan cantik ataupun seksi. Ah, gawat.

“Pram… tunggu Pram. Kita itu sudah bersuami dan beristri.” Kataku.

“Memang. Tapi, apakah rasa cinta itu bisa dihalangi oleh istriku? Ga, say. Perasaan cinta itu muncul begitu saja, tanpa bisa kita cegah.” Kata Pram.

Ukh, lagi-lagi apa yang diucapkannya benar. Iya betul, selama ini aku tidak memiliki gairah nafsu birahi apapun terhadap Pram. Akan tetapi, rasa cinta ini? Muncul begitu saja, dan sangat sulit dibendung. Tidak, kalau mau membendungnya, sekarang lah saatnya. Aku tidak boleh meretakkan kesetiaanku terhadap suamiku.

Maka, aku segera berdiri, dan berusaha meninggalkan tempat itu. Ketika sudah berjalan cukup jauh, tiba-tiba ada yang menangkap pergelangan tanganku. Saat aku menoleh, ternyata Pram yang menangkap pergelangan tanganku.

Wajah Pram begitu dekat dengan wajahku. Degub yang kencang didadaku ini betul-betul tidak bisa dibendung. Seolah-olah, degupan ini menyebar ke seluruh tubuhku, membuat seluruh tubuhku kaku dan panas.

“Kenapa kamu lari tanpa berkata apapun? Apa kamu berusaha membendung rasa cinta yang ada di hati kamu? Jangan ditolak, say. Hadapin aja, kalo kamu tolak, malah rasa cinta itu semakin kuat menyebar ke seluruh hati kamu.” Kata Pram.

“SAY!!! SAY!!! Nggak malukah kamu memanggilku dengan sebutan itu??!!!” Kataku.

“Ga, sama sekali ga. Ini perasaan ku yang sesungguhnya. Ngapain aku mesti malu mengutarakan perasaan indah yang aku miliki ke kamu?” Tanya Pram.

Urgghh, kata-katanya begitu menghipnotis. Begitu indah, dan begitu mempesona. Cinta memang perasaan yang indah, tapi sayangnya suka muncul disaat yang tidak tepat. Kurang ajar!!!! Arrrggghhh!!!! Aku berusaha kuat menahan perasaan cinta yang sebetulnya sudah berbunga dalam hatiku ini. Sulit sekali menahan laju perasaan yang bernama cinta ini.

“Oke. Apa yang kamu pengen, Pram?” Tanyaku.

“Kamu, say.” Kata Pram.

“Lalu, gimana dengan suamiku?” Tanyaku.

“Apa artinya, kalo suami kamu nggak ada, kamu menerima cinta aku?” Tanya Pram.

“Ah…” Kataku.

Sial, aku benar-benar termakan oleh keadaan.

“Suami kamu nggak ada disini sekarang. Izinkan aku yang mencintai kamu dengan sepenuh hati aku, izinkan aku yang menjadi tempatmu bersandar.” Kata Pram.

Ah, dia benar-benar sudah gila. Akan tetapi, aku juga sama gilanya. Untuk sesaat, aku sempat memikirkan bagaimana jika aku mengizinkannya untuk mencintaiku dengan sepenuh hatinya. Dia ini orangnya tampan dan baik, kurang apa lagi? Aahh, aku segera membuang jauh-jauh perasaan itu.

“Cukup. Aku ga nyangka kamu telah jatuh sedalam itu. Sebagai profesor cinta, kamu itu betul-betul memalukan.” Kataku.

“Aku ga peduli apakah aku terlihat memalukan ato ga. Buatku, perasaanku ke kamu lebih penting daripada harga diriku.” Kata Pram.

“Cukup. Lepasin tanganku. Aku mao balik ke kamar.” Kataku sambil menatapnya dengan tajam.

Pram pun menuruti perintahku. Ia melepaskan tanganku. Seketika itu juga, aku langsung berlari sekencang-kencangnya. Aku betul-betul takut akan menodai perasaan cintaku kepada suamiku jika aku berlama-lama disitu. Dalam sekejap, aku sudah sampai kamar.

Kebetulan, hari sudah malam. Aku segera mandi. Saat sedang mandi, aku merenung dibawah siraman shower yang deras. Merenung tentang perasaanku kepada Pram, yang aku akui adalah cinta yang siap untuk meledak. Ini gawat, mulai besok, sebaiknnya aku menjauh darinya. Aku tidak mau menodai cintaku kepada suamiku.

Seselesainya aku mandi, aku segera mengenakan pakaianku, dan langsung berbaring di tempat tidur. Kemudian, aku mendengar ada SMS masuk ke HP-ku. Aku pun membuka pesan masuk di HP-ku.

“Tidur yang nyenyak, sayang. – Professor Cinta –“ SMS dari Pram.

Aku langsung menutup HP-ku, dan berusaha tidur. Akan tetapi, sudah hampir sejam pun aku tidak juga bisa tidur. Entah kenapa, perasaanku sangat didorong untuk membalas SMS cinta dari Pram itu. Ah, kalau begini terus, aku tidak akan bisa tidur. Baiklah, akan kubalas SMS cinta dari Pram itu.

Tapi sekali ini saja. Kumohon, maafkan aku, suamiku. Hanya sekali ini saja, aku menyatakan cinta kepada laki-laki lain selain dirimu. Setelah itu, akan kututup hatiku untuk pria lain selain dirimu. Aku segera mengambil HP-ku, kemudian membalas SMS cinta dari Pram.

“Kamu juga tidur yang nyenyak, profesor cinta. – Professor Sayang –“ Balasku.

Kemudian, aku segera mematikan HP-ku. Entah kenapa, aku merasa sangat senang setelah membalas SMS itu. Aku senyum-senyum sendiri, dan sambil senyum-senyum sendiri pula, aku tertidur.

Sudah seminggu berlalu sejak kejadian itu. Ada yang berubah. Sejak hari itu, Pram tidak pernah bicara kepadaku. Aku pun juga tidak pernah bicara kepadanya. Biasanya kami saling mengobrol dan diskusi dalam banyak hal, terutama cinta.

Sekarang kok rasanya hidupku hambar ya? Mungkinkah karena disini aku merasa seperti kesepian karena tidak ada keluargaku, sehingga mengandalkan Pram untuk menjadi teman curhatku? Ataukah memang cinta kepada Pram mulai bertumbuh di hatiku? Entahlah, aku juga tidak mau ambil pusing.

TUUTT… TUUTT… Ada SMS masuk di HP-ku. Sudah malam jam sepuluh begini, siapa ya? Ah, mungkin dari suamiku. Aku segera membuka SMS di HP-ku.

“Hai, sayang. Lagi apa?” SMS dari Pram.

Ah, akhirnya dia SMS juga. Haduuh, pake sayang-sayangan segala pula. Dasar.

“Hai, cinta. Lagi tiduran aja di kamar. Kamu?” Balasku.

Eh, gawat. Mengapa aku tanpa sadar membalas SMS-nya menggunakan panggilan cinta? Sungguh, ini diluar kehendakku. Tok… Tok… Tok… Ada yang mengetuk pintu kamarku. Aku segera membukakan pintu kamarku. Ternyata Pram.

Waduh, kenapa Pram datang kesini? Seorang pria tampan, bertubuh besar, dan berkulit coklat yang ada dihadapanku ini adalah seorang yang sudah memenuhi sebagian hatiku sekarang. Hatiku sungguh berdebar-debar hanya dengan berdiri di hadapannya.

“Eeh… P… Pram… Ngapain… kamu kesini?” Tanyaku dengan terbata-bata.

“Hmmm. Kangen. Udah seminggu sih kita ga ngobrol.” Kata Pram dengan datar.

Deegg… Hatiku begitu berdebar-debar mendengar kata kangen dari Pram. Tidak hanya berdebar-debar, aku juga bisa merasakan perasaan senang yang mengamuk dihatiku, dan aku tidak bisa mengontrolnya.

“Ngopi yuk.” Kata Pram.

Aku hanya bisa menganggukkan kepalaku, itupun aku merasa diluar kesadaranku. Tidak salah lagi, gejala ini… memang cinta sudah mulai menguasai diriku. Gawat, entah kenapa pikiran dan tubuhku tidak mendengarkan perintahku. Aku keluar bersama Pram menuju kafe tempat biasa kami ngopi bareng.

Pram pun menggandeng tanganku. Lagi-lagi perasaan berdebar-debar kembali berdegup di jantungku. Aku pun juga tidak kuasa menolak gandengan tangan dari Pram. Kami terus bergandengan tangan sampai cafe.

Kebetulan cafe yang kami datangi itu buka 24 jam, sehingga walau jam 22.30 begini pun masih buka. Cafe ini tidak ramai, mungkin karena ini hari Senin, dan besok hari Selasa yang adalah hari kerja. Pram segera memesankan capuccino untukku, sedangkan dia memesan espresso.

“Espresso melulu. Nggak bosen apa?” Tanyaku.

“Lah, kamu sendiri capuccino melulu.” Kata Pram.

“Kan kamu yang pesenin.” Kataku.

“Habis kamu cuma suka capuccino. Mana mungkin aku lupa tentang minuman favorit orang yang kusayangi.” Kata Pram.

Aih, gombal teruusss… Tapi harus kuakui, dari dulu sampai sekarang, pemilihan kata yang digunakan oleh gombalannya itu tidak pernah salah. Tidak pernah sekalipun jantungku tidak berdebar-debar mendengarkan gombalannya. Singkat kata, kami terus mengobrol. Obrolan kami hanya sebatas obrolan ringan saja.

Pram selalu menyisipkan kata-kata gombalan di obrolan kami setiap ada kesempatan. Lama-lama, aku pun jadi terbiasa dengan gombalannya. Yah, entah terbiasa, atau aku sudah mulai terjerat dengan cinta akibat digombali terus menerus.

“Emang kamu yakin Pram cinta sama aku? Kamu kan udah punya istri.” Kataku.

“Yakin kok.” Kata Pram.

“Dasar, nggak setia kamu.” Kataku.

“Tapi, kalo aku menyangkal diriku sendiri, artinya aku ga setia sama rasa cintaku kepada kamu dong? Dengan demikian, sama aja ga setia.” Kata Pram.

“Beda lah.” Kataku.

“Aku juga baru nyadar sih belakangan ini, say. Kita itu setia pada cinta kita, bukan pada pasangan hidup kita. Mengapa terlihat seperti seolah-olah kita setia pada pasangan hidup kita? Karena kita setia pada cinta terhadap pasangan, bukan kepada pasangan. Dalam hal ini, aku tidak menyangkal rasa cintaku kepada kamu.

Tetap saja aku setia pada rasa cintaku. Masalah dengan pasangan hidup kita, sebuah integritaslah yang kita pertahankan, yaitu integritas kepada diri kita sendiri untuk tidak menyakiti perasaan pasangan hidup kita. Jadi, aku ga akan bilang bahwa aku ga setia, tapi ga berintegritas.” Kata Pram.

Hahaha. Pernyataan yang sangat aneh dari seorang profesor cinta. Memang profesor itu aneh semua. Tapi, memang ada benarnya juga sih kuakui. Yang ini, adalah sesuatu yang baru dan kuakui benar.

“Gimana dengan kamu? Apakah kamu setia?” Tanya Pram.

“Setia lah, Pram.” Kataku.

“Berarti, kamu mengakui juga bahwa kamu mencintai aku?” Tanya Pram.

“Heeh, siapa yang bilang?” Tanyaku.

“Aku ga minta kamu jawab sih. Aku minta kamu merenungkan.” Kata Pram.

Ah, pernyataan paling menyebalkan. Memang, dengan merenungkan dengan diri kita sendiri, kita jadi sulit untuk berbohong karena kita mengetahui seluk beluk isi hati kita, entah kita mengakui kebenarannya atau tidak. Dalam hal ini, aku sendiri pun juga mengakui bahwa aku telah mencintai Pram. Dan betul selama ini aku menyangkalnya.

Dengan demikian, memang aku telah tidak setia pada perasaan cintaku kepadanya. Aku yang selama ini mengaku setia, ternyata tidak juga. Aku tidak setia terhadap cintaku kepada Pram, terlebih itu juga aku tidak memiliki integritas terhadap diriku sendiri untuk tidak menyakiti suamiku.

Walaupun ujung-ujungnya aku menyangkal perasaan cintaku kepada Pram, tetap saja aku telah menodai sumpah pernikahan yang aku dan suamiku ucapkan, karena kondisiku sekarang ini sudah bisa dikategorikan sebagai perselingkuhan. Walau tidak berselingkuh secara berat, tapi yang namanya berselingkuh yah tetap saja berselingkuh.

Inikah yang dimaksud dengan perkataan Reza tempo hari dulu?

“Udah yuk.” Kata Pram sambil berdiri dari kursinya.

“Eh, tunggu. Bentar, aku bayar dulu.” Kataku.

“Halo, sayang. Kemana aja kamu? Aku udah bayar tadi barusan.” Kata Pram.

“Eh? Udah ya? Sorry-sorry, kayanya aku bengong.” Kataku.

“Hmmm, mikirin aku ya?” Tanya Pram.

“Ih, mao tau aja.” Kataku.

“Berarti bener hehehe.” Kata Pram.

Aku tidak berkata apa-apa. Kemudian, kami berdua kembali ke hotel. Dalam beberapa menit saja, kami sudah sampai di lobby hotel. Tangan kami pun masih bergandengan.

“Sayang, aku punya kejutan nih buat kamu.” Kata Pram.

“Apa tuh?” Tanyaku.

“Ada deh. Mata kamu aku tutup dulu ya, say.” Kata Pram.

“Halah, klise. Abis mataku ditutup, terus kamu mao nyium bibirku ya?” Tanyaku.

“Ah, itu mah terlalu klise. Mana mungkin.” Kata Pram.

“Emang kamu nggak tertarik mencium bibirku. Aku jago berciuman, lho.” Godaku.

Pram tampak menelan ludahnya.

“Ah, ga. Pokoknya ga kok. Udah, nih aku tutup mata kamu pake kain ya.” Kata Pram sambil mengeluarkan kain dari kantong celananya.

Aku tidak menolaknya dan membiarkan Pram menutup mataku dengan kain. Kemudian, Pram menuntunku berjalan karena sekarang aku tidak bisa melihat apa-apa. Kemudian, kami berhenti. Setelah itu, terdengar suara lift.

“Pram, aku mao dibawa kemana?” Tanyaku.

“Bukan kejutan dong kalo dikasihtau.” Kata Pram.

Kemudian, aku mendengar pintu lift terbuka. Kemudian, Pram menuntunku masuk. Kemudian, pintu lift pun tertutup. Setelah itu, pintu lift pun terbuka kembali. Kemudian, Pram kembali menuntunku berjalan. Aku betul-betul tidak tahu sekarang ada dimana, selain daripada bahwa kami masih berada di hotel.

“Tunggu sini sebentar.” Kata Pram.

“Jangan lama-lama.” Kataku.

“Ga sampe dua puluh detik.” Kata Pram.

Kemudian, aku merasakan Pram menjauhiku. Betul saja, tidak sampai dua puluh detik, ia sudah kembali menggenggam pergelangan tanganku dan menuntunku kembali. Setelah berjalan selama beberapa menit, akhirnya kami berhenti disuatu tempat. Kemudian, tiba-tiba kain yang ada dimataku terbuka.

Kini, aku berada disebuah kamar hotel, kamar yang sama dengan kamarku, tetapi aku tahu bukan kamarku. Dihadapanku, adalah puluhan lampu kecil yang disusun sedemikian rupa dan menyala dengan indahnya secara berganti-gantian.

Oh, bukan main indahnya. Kemudian, lampu-lampu kecil itu mulai mati satu demi satu hingga akhirnya kamar ini pun gelap. Tetapi, kemudian ada satu lampu berwarna-warni yang terang yang tiba-tiba menyala, dan bertuliskan

“HAPPY BIRTHDAY, SAYANG”

“Happy birthday, sayang.” Kata Pram yang kemudian tiba-tiba berdiri dihadapanku.

Ya ampun, aku baru sadar bahwa hari ini hari ulang tahunku. Saking aku terlalu banyak pikiran karena masalah Pram, aku sampai-sampai lupa tanggal. Akan tetapi, ini betul-betul kejutan pertama yang kudapat di hari ulang tahunku di tahun ini.

Tidak kusangka, aku akan mendapatkan kejutan seindah ini dari orang yang mulai mengisi hatiku selama aku training di Jakarta. Tanpa sadar, aku mulai tersenyum karena kagum oleh kejutan yang indah ini.

“Nah, sekarang aku mao kasih hadiah.” Kata Pram.

“Eh, masih ada lagi?” Tanyaku.

“Aku sumpah bingung banget mao beliin apa buat kamu. Tapi setelah aku mikir-mikir, akhirnya aku tahu mao ngasih apa. Harganya sih ga seberapa, tapi ini betul-betul tulus dari hatiku.” Kata Pram.

Kemudian, Pram menarik tanganku sehingga kini aku berada dalam pelukannya. Ohh, baru kali ini aku merasakan pelukan laki-laki lain selain suamiku. Begitu hangat dan kokoh rasanya. Kemudian, ia mengangkat daguku sehingga kini aku menatap wajahnya.

Kemudian, Pram menutup matanya dan mendekatkan wajahnya ke wajahku. Oh, tidak. Aku tahu bahwa ia hendak mencium bibirku. Aku tahu, jika aku menerimanya, berarti aku sudah semakin jatuh lagi ke dalam perselingkuhan yang lebih dalam.

Akan tetapi, perasaan senang yang kudapat ini betul-betul membuat cintaku semakin berbunga. Perasaan cintaku yang semakin berbunga ini betul-betul membuyarkan akal sehatku. Dan akhirnya, aku pun pasrah dan menutup mataku, bersiap untuk menerima ciumannya.

Tidak lama kemudian, aku merasakan adanya benda kenyal yang menempel di bibirku. Kemudian, benda kenyal itu pun mulai melumat bibirku. Rasanya begitu hangat, kuat, lembut, dan pasti. Aku pun terhanyut dalam gelora cinta yang mengombang-ambingkan diriku.

Aku pun membalas melumat bibirnya dengan lembut. Aku bisa merasakan bahwa kami berdua sedang terombang-ambing oleh gelora cinta. Saling melumat, dimulai dengan bibir Pram melumat bibirku dengan dua lumatan, kemudian aku balas melumat bibirnya dengan satu lumatan saat ia berhenti.

Dan entah setelah berapa lama kami saling melumat bibir masing-masing, kami saling melepaskan diri dari lumatan bibir masing-masing. Kemudian, kami saling menatap wajah masing-masing.

“Matamu indah sekali, sayang.” Kata Pram.

“Ternyata kamu jago berciuman, cinta.” Kataku.

“Ternyata kamu ga bohong kalo kamu jago berciuman.” Kata Pram sambil tersenyum.

Aku pun hanya tersenyum mendengar pernyataannya. Kemudian, Pram menggandeng tanganku, dan mendudukkan aku di tepi kasur. Ia pun kemudian duduk disampingku.

“Gimana kadonya? Suka?” Tanya Pram.

“Hmmmm…” Kataku sambil pura-pura bingung.

“Hmmmm…” Kata Pram sambil mengikutiku.

“Suka nggak yaa?” Kataku.

“Yaudah, aku rubah pertanyaannya. Mao lagi ga kadonya?” Tanya Pram.

Jujur, jika aku boleh jujur, aku akan menjawab bahwa aku mau lagi. Ya, sebagian besar perasaanku sudah mengiyakan itu. Akan tetapi, mungkin sebagian kecil perasaanku yang menyatakan bahwa ini salah masih tersisa. Akibatnya, aku hanya menggerak-gerakan bola mataku, tetapi sambil tersenyum.

“Kalo mao lagi, hadap sini dong.” Kata Pram.

“Ih, masa aku yang disuruh madep situ.” Kataku.

“Oh, jadi mao lagi toh. Yaudah.” Kata Pram sambil kemudian merangkul pundak kiriku, dan menghadapkan tubuhku kearah tubuhnya.

Sekarang, kami sudah berhadap-hadapan. Kini, ia kembali memajukan wajahnya kearah wajahku. Cleepp… Kali ini pun bibirnya berhasil melumat bibirku kembali tanpa miss sedikitpun. Aku pun juga balas melumat bibirnya, kali ini sedikit lebih intens dari yang pertama.

Tidak hanya melumat bibirku, lidah Pram pun mulai ikut masuk dan menggelitik rongga mulutku. Oohh, aku bisa merasakan kelembutan dari lidah Pram yang bermain-main dalam mulutku. Lidahku pun terkadang ikut menyambutnya, sehingga kadang bertabrakan dengan lidah Pram.

Aku memejamkan mataku karena tidak kuasa menahan seluruh gelora cinta yang mengombang-ambingkan perasaanku. Sesekali aku membuka mataku, dan terlihat wajah Pram yang begitu tampan. Ia betul-betul jadi orang yang paling tampan bagiku, paling tidak aku merasa demikian pada malam ini.

Kemudian, Pram pun melepaskan bibirku. Akan tetapi, ciumannya tidak berhenti sampai disitu karena ia kini mulai menciumi pipi dan telingaku. Sambil menciumi telingaku, ia pun menghembuskan napas ke lubang telingaku.

“Aku cinta kamu, sayang.” Bisiknya sambil menghembuskan napasnya ke telingaku.

“Ssshhhh… Aku juga cinta kamu, cinta.” Desisku karena hembusan napas Pram seolah-olah menjalar keseluruh tubuhku melalui telingaku, membuatku seluruh tubuhku merasa bergetar karena geli.

Kemudian, Pram juga mulai mencium keningku dengan lembut.

“Kamu begitu indah malam ini, sayang.” Kata Pram sambil mencium keningku sekali lagi.

Oohh, pujian Pram betul-betul membuat cinta dalam hatiku ini semakin berbunga-bunga. Hatiku betul-betul sudah jatuh ke dalam pelukan cinta Pram. Secara lembut namun pasti, Pram merangkul tubuhku hingga kini tubuhku tertidur di tempat tidur dalam posisi miring. Pram pun juga ikut berbaring secara miring, sehingga tubuh kami sekarang saling berhadapan.

Pram kini kembali memajukan wajahnya ke wajahku, dan bibir kami kembali berciuman dengan lembut dan mesra. Saling melumat… cllpp… cllppp… cllpp… Begitulah suara bibir kami yang terdengar. Tangan kanan Pram pun mulai membelai rambutku dengan halus.

“Rambut ini juga sangat indah. Cocok sekali dengan wajahmu yang indah.” Kata Pram.

“Gombal atau serius?” Tanyaku sambil tersenyum.

“Gombal atau serius tidak penting, yang penting memang itu kenyataannya.” Kata Pram sambil tersenyum.

Aku tidak berkata apa-apa lagi, melainkan hanya menutup mataku dan tersenyum, sementara ia kembali mengusap-usap rambutku dan mencium bibirku dengan lembut. Tidak lama kemudian, ciumannya pun berkelana menuruni daguku, hingga sampai leherku.

Oohh, perasaan yang bergelora dalam tubuhku semakin mengamuk ketika bibir dan lidah Pram mulai berjalan-jalan dileherku. Aku tidak tahu apakah ini cinta atau nafsu. Emosinya positif seperti cinta, rasanya nikmat seperti nafsu. Mungkin kedua perasaan itu sudah bersatu dan melahirkan suatu perasaan baru yang sedang mengamuk dalam diriku.

Pram terus menjilati leherku dengan lembut. Permainannya sungguh lembut, membuat diriku semakin rileks dan tenang. Ketika perasaanku benar-benar rileks dan tenang, tiba-tiba aku merasakan kedua tangan Pram sudah menggenggam kedua buah dadaku. Aku betul-betul kaget dan terkejut.

Selain itu, jantungku betul-betul berdegup dengan kencang karena ini pertama kalinya ada laki-laki yang menggenggam buah dadaku selain suamiku. Kemudian, Pram memijat-mijat dua buah dadaku.

Berputar-putar… searah jarum jam… dari bawah naik keatas… berputar dengan arah yang berlawanan… Semua itu dilakukannya dengan lembut. Aku tidak percaya dalam waktu sesempit itu, pijatannya di buah dadaku berhasil membuatku rileks dan tenang kembali.

“Maaf, aku lancang.” Kata Pram sambil tetap memijat buah dadaku.

“Memang kamu lancang.” Kataku sambil tersenyum.

“Susah, sayang. Habisnya aku sangat ingin mengungkapkan cintaku padamu.” Kata Pram sambil tetap memijat-mijat buah dadaku.

“Memangnya harus seperti ini?” Tanyaku.

“Tidak harus seperti ini, tetapi ini salah satu caranya.” Kata Pram sambil tersenyum.

“Heh, dasar.” Kataku sambil tersenyum.

“Boleh lihat?” Tanya Pram sambil tersenyum.

“Lihat apa?” Tanyaku.

“Tentu saja kedua pusaka gunung kembarmu itu.” Kata Pram sambil tersenyum.

Aish, suatu pertanyaan yang sangat tidak sopan, tetapi jauh lebih sopan dari orang-orang kurang ajar yang biasanya akan langsung menelanjangi bajuku tanpa pamit terlebih dahulu. Normalnya, tentu saja aku akan menolaknya.

Akan tetapi, entah kenapa ada keinginan yang kuat untuk mempertontonkan kedua pusakaku yang kututupi ini kepada Pram. Perasaan ini, sangat mirip dengan perasaan yang kumiliki saat malam pertama dengan suamiku, saat pertama kalinya aku ingin memperlihatkan buah dadaku kepada seorang laki-laki. Oohh, apakah tandanya aku betul-betul jatuh cinta kepada Pram?

“Lihat saja?” Tanyaku.

Pram hanya mengangguk sambil tersenyum. Kemudian, aku mengangguk tanda memberinya izin untuk melihatnya. Tanpa membuang waktu sebelum aku berubah pikiran, Pram langsung melepaskan kancing kemeja merahku dengan cepat dan cekatan.

Cekatan sekali, dalam waktu kurang dari sepuluh detik, seluruh kancing kemejaku sudah terlepas semuanya. Ia pun langsung melepaskan kemejaku dari tubuhku dan meletakannya di lantai.

Tanpa membuang-buang waktu juga, ia langsung menelusupkan tangannya kebalik punggungku untuk mencari tali pengait BH pink-ku. Saat sudah menemukannya, ia langsung melepasnya dengan cekatan, dan kemudian juga ia menyingkirkan BH pink yang kukenakan itu dari tubuhku.

Kini, dihadapan Pram buah dadaku terpampang tanpa dilindungi sehelai benang pun. Pram pun tampak berusaha menyembunyikan keterpesonaannya dengan berusaha tetap tenang. Akan tetapi, napas dan pergerakan tubuhnya tidak bisa ia kendalikan sepertinya. Aku merasa sangat bangga bisa membuat Pram terpesona seperti itu.

“Indah sekali, sayang.” Kata Pram.

“Tentu saja.” Kataku dengan senyum menggoda.

“Berapa ukurannya, sayang?” Tanya Pram.

Haduuh, orang ini kelewat polos ato kelewat kurang ajar sih. Sudah dua kali ia melempar pertanyaan yang betul-betul tidak sopan. Akan tetapi walaupun begitu, entah kenapa aku tidak tersinggung sama sekali. Malah, ada keinginan kuat dalam diriku untuk menjawab pertanyaan Pram yang polos itu.

“34C…” Kataku singkat.

“Oh, begitu. Betul-betul indah sekali, sayang.” Kata Pram tanpa mengalihkan pandangannya dari dua bukit kembar yang menggoda dihadapannya.

Kemudian, Pram langsung membungkukkan badannya, dan bibirnnya langsung menyambar puting susu buah dada kananku yang berwarna coklat, sementara tangan kanannya langsung meremas-remas buah dada kiriku dan juga memuntir-muntir puting susu buah dadaku.

“Ma.. maaf sayangg… aku tidak bisa menahannya… buah dada milikmu… sungguh bulaat dan… indaahh…” Kata Pram dengan nada terputus-putus.

Ooohhh, pujian dan rangsangan yang Pram berikan betul-betul membuat rasa geli dan nikmat menjalar dengan mulusnya ke seluruh tubuhku. Aku betul-betul menggeliat saking tidak kuatnya menahan kenikmatan dan geli ini. Praam… katamu hanya lihat saja, tetapi mengapa kamu melakukan ini?? Itulah pertanyaan yang hendak keluar dari hati nuraniku.

Akan tetapi, sebagian besar hatiku sudah dibakar oleh kenikmatan yang Pram berikan ini. Bibir dan lidahnya yang begitu hangat betul-betul menggesek puting susu buah dada kananku, sementara tangannya yang kokoh terus bermain-main di buah dada kiriku. Terasa sekali bagaimana kenikmatan birahi ini mulai lambat laun membakar hati nuraniku.

“Hhhhh…. Prr… Praaammm…” Desahku.

Pram terus melanjutkan mengulum dan meremas-remas buah dadaku dengan napas yang mulai memburu. Kendati demikian, kelembutannya dalam memperlakukan buah dadaku tidak juga hilang. Rasa rileks dan tenang akibat kelembutan permainannya, bercampur dengan rasa nikmat yang kudapatkan dari rangsangannya. Perasaan ini betul-betul menagih, aku sampai tidak kuat dibikinnya.

Kemudian tanpa kuduga, Pram melepaskan kedua buah dadaku. Akan tetapi, dengan cepat ia langsung menarik celana dan celana dalamku dalam sekali tarikan. Kini di hadapannya, aku betul-betul telanjang.

Bukan hanya dua buah dadaku yang terekspos di hadapannya, tetapi juga rambut-rambut daerah vitalku yang cukup tebal, yang mengelilingi gua kewanitaan tempat batang kejantanan laki-laki bertengger.

Kali ini, ia tidak punya waktu untuk mengagumi keindahan tubuhku. Ia kembali melumat buah dadaku, kali ini buah dadaku yang kiri. Semua itu dilakukan, sementara tangan kanannya meremas-remas buah dada kananku, dan tangan kirinya mulai mengelus-elus paha dan selangkanganku.

Aku tahu bahwa Pram betul-betul sudah dibakar oleh nafsu birahi. Kelembutan permainannya yang menjadi kekhasan dirinya masih bisa kurasakan, tetapi gerakannya menjadi sedikit lebih cepat, tanda bahwa nafsu birahi sudah mulai menguasai dirinya.

“Oooohhh… Praaammmm… cintaaaa….” Desahku yang juga mulai dikuasai oleh nafsu birahi.

Kemudian, Pram melepaskanku dan berdiri dihadapanku. Kemudian, ia mulai membuka pakaiannya satu per satu, dari baju hingga celananya. Sekarang, Pram pun sama denganku, telanjang tanpa dilindungi oleh sehelai benang pun.

Aku betul-betul terpesona dengan apa yang ada dihadapanku ini, sampai-sampai mulutku menganga sedikit saking kagumnya dengan tubuh Pram yang telanjang itu. Seluruh otot-otot tangan, bahu, dadanya terbentuk dengan sempurna.

Perutnya pun sangat bidang, dengan memperlihatkan otot six-packnya yang tertata rapi. Paha dan kakinya pun terlihat kokoh. Dan terakhir yang paling menggoda adalah… batang kejantanan panjang, besar, dan kokoh yang sudah mengacung dengan sempurna dengan dilindungi oleh rambut-rambut yang cukup tebal.

Jika kulakukan dengan presisiku sendiri, kira-kira batang penisnya sepanjang 17cm dan berdiameter 5cm. Sungguh aku tidak kuasa menahan diri melihat pemandangan yang mempesona ini.

“Kenapa sayaang?” Goda Pram.

“Eh… Ti… tidak apa-apa…” Kataku dengan terbata-bata.

“Kagum?” Goda Pram kembali.

“Yaa… emang bagus sih badan kamu… Mungkin semua wanita akan kagum…” Kataku sambil berdalih.

“Aku tidak butuh dikagumi oleh semua wanita. Malam ini, aku hanya butuh kamu yang kagum, yang lainnya tidak penting.” Kata Pram.

Glek. Aku menelan ludah. Memang tidak bisa dipungkiri kalau aku betul mengagumi tubuhnya yang sangat bagus itu. Ditambah dengan pujiannya, jujur saja aku merasa terbang ke langit karena aku begitu disanjung, aku begitu dianggap tinggi olehnya.

Kemudian, Pram mulai merangkak dan menjatuhkan tubuhnya pelan-pelan keatas tubuhku sehingga kini ia menindihku. Ooohhh, aku merasakan tubuhnya yang kekar itu bersentuhan dengan tubuhku.

Dadaku menempel dengan dada bidangnya, perutku pun juga menempel dengan perutnya, dan pahaku pun persis menopang paha Pram yang berada diatas pahaku. Sungguh hangat dan kokoh. Aku merasakan rangsangan tersendiri yang membuat jantungku semakin berdegup dengan cepat.

Dalam posisi itu, Pram menciumi bibirku dengan sangat lembut. Telapak tangan kanannya menggenggam telapak tangan kiriku, sementara tangan kirinya memeluk leherku. Aku pun juga membalas ciumannya yang lembut itu.

Batang penisnya yang keras dan kokoh itu pun sekarang mengganjal di selangkanganku. Oohh, sensasi yang kudapatkan ini tidak bisa kujelaskan dengan kata-kata. Aku betul-betul sudah terombang-ambing dalam gabungan perasaan cinta dan nafsu birahi.

Aku merasa tubuhku sangat panas akibat degupan jantung yang sangat kencang itu. Lama-kelamaan, bulir-bulir keringat pun mulai mengalir dari keningku, dan mengalir terus sampai ke pipinya. Aku juga merasakan bulir-bulir keringat mengalir dari leher Pram, dan terus mengalir sampai ke dadaku.

Tidak butuh waktu terlalu lama, sampai akhirnya tubuh kami dibasahi oleh keringat, dimana keringat di tubuh kami ini merupakan keringat campuran dari keringat kita sendiri dan keringat lawan kita. Bibir kami pun masih terus berpagutan dengan lembutnya.

Tidak lama kemudian, Pram pun melepaskan ciumannya. Kali ini ia menatap wajahku dengan serius. Aku pun berusaha mengatur napasku yang terengah-engah.

“Sayang… Sekarang sudah saatnya aku mengungkapkan cintaku yang paling dalam kepadamu. Maukah kamu menerimanya dan melancarkan jalan masuknya cintaku kedalam tubuhmu?” Tanya Pram dengan napas terengah-engah.

Haaah, sampai akhirpun masih tetap polos ya… atau mungkin sopan? Percuma saja, aku yang sudah dibakar oleh nafsu cinta dan birahi ini, tentu saja tidak kuasa menolaknya. Tubuhku betul-betul menginginkan cinta dari Pram yang paling dalam.

Akhirnya, aku yang sudah tidak bisa mengendalikan pikiranku, mulai membuka pahaku sekitar 45 derajat, sehingga selankangan Pram berada dibawah selangkanganku.

Pram pun mulai menggunakan tangan kanannya untuk mengarahkan batang kejantanannya menuju lubang gua kewanitaanku. Aku melihat Pram mulai memajukan pantatnya sehingga jarak antara batang kejantanan dan lubang kemaluanku. Aku betul-betul berdebar-debar dengan hebat. Perasaanku bercampur baur antara kepingin, ngeri, dan takut.

Sepertinya, Pram menyadari kegundahanku. Kemudian, ia mencium pipiku, sambil kemudian memijat-mijat dua buah dadaku.

“Santai, sayang. Tidak akan terasa sakit, cintaku ini betul-betul murni kepadamu, tidak mungkin cintaku menyakitimu, sayang.” Kata Pram dengan lembut sambil memijat-mijat dua buah dadaku.

Pikiranku segera memproses kata-katanya yang lembut dan rangsangan pijatan di buah dadaku. Semuanya terjadi begitu cepat, sehingga rasa takut yang kudapat itu dalam sekejap berubah menjadi rasa rileks dan tenang.

Aahh, aku betul-betul tenang sekali sekarang. Aku merasa bahwa lubang kemaluanku sudah siap untuk menjadi pusat persinggahan batang kejantanan Pram. Kemudian, aku mengangkat punggungku untuk mencium bibirnya, dan juga melepaskan tangan Pram dari buah dadaku.

“Cinta, aku sudah siap… aku siap menerima cintamu yang dalam itu… Lakukanlah.” Kataku sambil tersenyum.

Aku tidak percaya bahwa aku sudah mengatakan hal itu. Ya, pertahananku yang terakhir sudah berhasil ditembus oleh Pram. Aku tidak percaya bahwa Pram berhasil menaklukan pertahananku dengan caranya yang begitu lembut.

Aku pun menelentangkan badanku diatas ranjang dan menutup mataku. Aku bisa merasakan bahwa Pram sedang mengatur posisinya. Tidak sampai empat detik, aku sudah merasakan kepala batang penis Pram yang sudah menempel dengan bibir lubang vaginaku.

“Aku cinta kamu, Sofie sayangku.” Kata Pram.

“Aku juga cintaa kamu, Pram cintaku.” Kataku.

Kemudian, batang kejantanan Pram yang begitu kokoh menerobos masuk kedalam lubang kemaluanku. Bless… Ooohh, sangat terasa sekali batang penis Pram yang berotot dan keras itu menggesek seluruh dinding lubang vaginaku.

“Ooohhh… Aku merasakan cintamuu… Pram cintakuu…” Desahku.

“Beluum sayaangg.. Cintaku barulah mendekati sempurna ketika batang kejantananku sudah masuk, dan rambut kemaluan kita saling bertemu…” Desah Pram sambil terus mendorong-dorong pantatnya.

Karena kekuatan dorongan pantat Pram, akhirnya batang kejantanan yang besar dan kokoh itu masuk sepenuhnya kedalam lubang kemaluanku. Rambut kemaluan kami pun saling bergesekan, membuat rasa geli dan nikmat mengalir ke seluruh tubuhku ketika rambut kemaluan Pram bersentuhan dengan kulit dan akar rambut kemaluanku.

Kemudian, Pram mulai memaju-mundurkan pantatnya dengan perlahan. Aku pun juga mengimbangi hujaman batang penis Pram dengan menggoyang-goyang pantatku. Ketika batang kejantanan Pram maju, aku mendorong pantatku, sehingga menciptakan bunyi PLOOKK karena selangkangan kami bertabrakan.

Semakin lama, irama genjotan Pram pun semakin cepat. Aku semakin merasa nikmat merasakan gesekan otot batang kejantanan Pram dengan dinding lubang vaginaku.

“Ooohhh… Teruuusss Praaammmm…. Teruussss…” Erangku karena tidak kuat menahan kenikmatan yang membakar tubuhku.

Sungguh, ini betul-betul kenikmatan yang tidak ada duanya. Bukan hanya nafsu birahi yang kurasakan saat ini, tetapi juga perasaan cintaku kepada Pram yang menyatu dengan nafsu birahiku. Dan karena tubuh kami sudah bersatu, aku merasakan seolah-olah cinta Pram padaku juga ikut mengalir kedalam tubuhku, dan mengamuk bersama dengan perasaan yang sedang mengombang-ambing tubuhku.

Cleepp.. cleepp… ceplookk… plookk… plookkk… Sambil menggoyangkan pantatku, aku juga mengintip kearah sumber kenikmatan yang sedang bergelora dalam tubuhku. Ooohh, aku tidak percaya bahwa sekarang lubang vaginaku sedang digodok oleh penis berukuran jumbo begitu, dan penis itu bukan milik penis suamiku. Ooohhh, makin lama, kesadaranku mulai hilang sepenuhnya.

Setelah kenikmatan bertubi-tubi yang menghajarku, tiba-tiba aku merasakan adanya kenikmatan puncak yang akan segera datang. Maka, tubuhku pun bereaksi dengan menggoyang pantatku semakin cepat dan mencium bibir Pram dengan liar.

“Ooohhh Praammm cintaaakuuu… Akuu sepertiinyaa sudah tidak kuaaatttt….” Erangku.

Mendengar perkataanku, Pram menghentikan laju genjotannya. Ia memasukkan batang penisnya sampai maksimal ke dalam lubang kemaluanku. Kemudian, ia menggesek-gesekkan dengan lembut lubang kemaluanku menggunakan batang penis miliknya yang besar itu.

“Sofiee sayaangg… Biarlah cintaku membawamu kepada kenikmatan yang tinggi… Jangan ditahan-tahan… Nikmatilah cinta yang kuberikan ini…” Kata Pram sambil terus menggesek-gesekan penisnya dengan perlahan.

Ooohhh… Gesekan pangkal penis di lubang kemaluanku, dan juga rambut kemaluan Pram yang dari tadi menggelitiki akar rambut lubang kemaluanku betul-betul membuat kenikmatan yang kudapat itu menanjak tajam. Akhirnya, aku tidak bertahan lama. Seakan-akan tidak terbendung, kenikmatan itu serasa keluar dengan deras dari seluruh tubuhku.

“Guuugggggghhhhhhh…. Oooooooohhhhhhhh….. Auuuuuhhhhhhhhhhh….” Erangku sekencang-kencangnya tidak kuat menahan orgasme yang begitu deras itu.

Aku merasa seluruh tubuhku betul-betul kejang, dan ada denyutan yang sangat kuat di lubang kemaluanku, dimana denyutan itu aku merasakan memijat-mijat batang penis milik Pram yang sedang bertengger dalam lubang vaginaku.

Aku betul-betul menikmati kenikmatan klimaks yang kudapatkan itu. Sementara, Pram memeluk tubuhku dengan erat dan menciumi bibirku. Ooohh, perlakuannya yang lembut itu betul-betul membuat puncak kenikmatanku semakin lengkap.

“Ooohhhh…. Auuuhhhhh…” Desahku ketika kenikmatan klimaks itu pun selesai.

Aku tidak menyangka akan mendapatkan klimaks seperti ini. Ini betul-betul orgasme paling hebat yang pernah kudapatkan. Ini adalah orgasme yang kudapatkan akibat dari perasaan cintaku, cinta Pram, dan nafsu birahiku. Betul-betul tidak ada duanya.

Akhirnya setelah kenikmatan puncak itu, seluruh tubuhku melemas dengan sendirinya. Aku pun berusaha mengatur napasku yang ngos-ngosan. Sementara, Pram masih menciumi bibirku dengan lembut.

Tubuhnya masih menindih tubuhku, dan batang kejantanannya masih mengacung dengan keras didalam lubang kewanitaanku. Karena ia menciumi bibirku dengan begitu lembut, aku pun membalas menciumi bibirnya dengan lembut juga.

Sambil menciumi bibirku dengan lembut, tangannya pun membelai seluruh tubuhku dengan lembut juga. Mulai dari rambut, turun ke pipi, leher, bahu dan tangan, sampai ke buah dadaku. Di buah dadaku, tangannya terus bermain-main dengan manja. Mengelus… menekannya sedikit… melepaskannya… kembali mengelus… memainkan puting susuku…

Ooohh, aku betul-betul merasa nyaman dan sangat dicintai oleh Pram. Tangan kiriku pun mulai memeluk punggungnya dengan erat, sementara tangan kananku mulai mengelus-elus rambutnya.

Kemudian, Pram mencabut batang kejantanannya dari lubang kewanitaanku, dan kemudian ia berguling ke sampingku. Ia pun menarik dan mengguling tubuhku sehingga kini aku berada diatas tubuh Pram. Oohh, bukan main sensasinya.

Sekarang ini tubuhku sedang menindih tubuh Pram, atau mungkin lebih tepatnya tubuhku sedang bertumpu pada Pram. Kemudian, ia kembali mencium bibirku dengan lembut. Aku pun juga ikut mencium bibirnya dengan lembut, dan memeluk lehernya. Sungguh, ciuman kami ini sangat lembut dan mesraTidak lama kemudian, Pram pun melepaskan ciumannya.

“Sayang, rasanya daritadi aku terlalu egois, maafkan aku. Itu semua karena kamu begitu indah.” Kata Pram.

“Jadi salahku?” Tanyaku sambil tersenyum.

“Iya. Kamu sih terlalu indah.” Kata Pram sambil tersenyum.

“Dasar. Bisa aja kamu. Yaudah, salahku deh.” Kataku sambil mencubit pipinya.

“Sekarang gantian dong, aku juga ingin merasakan dalamnya cintamu.” Kata Pram dengan manja.

Ah dasar lelaki, semua sama saja, kalau sudah di ranjang… manja. Akan tetapi, aku sendiri pun sudah mengebu-ngebu, gantian ingin membuat Pram puas. Ingin sekali aku melayani dan memuaskannya malam ini. Maka, aku melepaskan tindihan tubuhku terhadap tubuhnya dan bergerak mundur.

Kini, aku berposisi merangkak dan kepalaku menghadap batang kejantanan Pram yang masih mengacung dengan sempurna itu. Perlahan-lahan, tangan kananku mulai membelai-belai batang kejantanan itu dengan lembut.

Ooohh, baru kali ini aku memegangnya dengan tanganku. Meskipun rongga dalam vaginaku sudah merasakannya, tetapi tanganku baru pertama kali memegangnya. Begitu keras, kokoh, dan kuat. Begitu banyak kekuatan yang terkandung didalamnya. Aku menjadi mengerti mengapa batang ini bisa membuatku kejang-kejang orgasme hebat.

Setelah membelai-belainya, aku mulai menggenggamnya dengan lembut dan mulai mengocok-ngocok batang kejantanan itu dengan telaten. Sambil mengocok naik-turun, aku juga memainkan jari-jemariku untuk menggelitiki batang kejantanan yang kokoh itu.

Sementara aku melihat, Pram mulai melenguh sambil menutup matanya. Sambil mengocok batang kejantanannya dengan telaten, aku terus melihat matanya yang tertutup itu sampai akhirnya ia membuka matanya. Aku melancarkan senyuman nakal kearahnya, yang juga dibalas dengan senyuman yang dipaksakan akibat ia harus berusaha keras untuk menahan kenikmatan yang kuberikan ini.

“Kenapa, cinta. Ini belum seberapa.” Godaku.

“Belum seberapa? Kalau begitu… gawat…” Kata Pram sambil tersenyum.

Kemudian, aku mulai mengangkat pantatku dan menggoyang-goyangkannya. Kugoyang kekiri… kenanan… kudong kebelakang…kudorong kebelakang… kemudian kuputar-putar. Aku tidak menyangka bahwa aku akan menggodanya sampai seperti ini. Pram pun hanya melongo, tidak percaya dengan apa yang kulihat. Aahh, begitu bangga rasanya diriku bisa membuat Pram sampai ternganga begitu.

Aku merasakan bahwa Pram terkadang hendak memberontak karena tidak kuat menahan sensasi ini. Akan tetapi, aku tidak membiarkannya. Aku terus mengocok-ngocok batang kejantanan itu, sambil mendorong-dorong pantatku kebelakang. Napas Pram pun mulai tidak teratur, matanya mulai ia pejamkan dengan kuat karena menahan kenikmatan ini.

Sementara, aku sendiri mulai terangsang akibat gabungan dari sensasi memegang batang penis Pram yang daritadi masih mengacung dengan kuat, dan melihat Pram yang tidak berdaya mendapatkan serangan ini.

Aku mulai merasakan adanya dorongan untuk memberikan kenikmatan lebih kepada Pram, dan juga dorongan untuk merasakan kembali batang cinta Pram itu. Maka, aku menghentikan kocokanku, dan aku kembali merangkak kearah kepalanya hingga kepalaku sudah berhadapan dengan kepalanya. Lalu, aku kembali menciumi bibirnya dengan lembut. Mendapat ciuman yang lembut itu, Pram langsung membalasnya dengan ciuman yang liar.

Sepertinya, nafsu birahinya sudah tidak terbendung lagi. Aku pun segera melepaskan ciumanku, dan langsung berjongkok dihadapannya.

“Gantian, cinta. Sekarang, aku akan membuktikan seberapa cintaku padamu.” Godaku.

Pram tidak menjawab apa-apa, melainkan hanya tersenyum sambil menutup matanya. Kemudian, aku menggenggam batang cinta milik Pram, dan mengarahkannya persis ke lubang kemaluanku. Setelah kurasa sudah pas, aku langsung mendorong pantatku kebawah, sehingga lubang kemaluanku langsung melahap batang penis Pram sepenuhnya.

Guoohhh, betul-betul nikmat sekali sensasi yang kudapatkan ketika batang penis Pram kembali bergesekan dengan rongga vaginaku.

“Ooohhh…” Pram pun tampak melenguh saat merasakannya.

Pram pun mulai membuka matanya.

“Tubuhmu itu… seksi sekali, Sofie sayang.” Kata Pram sambil tersenyum.

“Kok sekarang pake seksi? Nggak indah lagi?” Tanyaku sambil tersenyum.

“Ga. Kali ini betul-betul seksi.” Kata Pram sambil tersenyum.

Aku betul-betul tersanjung setinggi langit mendapatkan pujian begitu dari Pram. Maka, aku mulai memutar-mutar pantatku untuk mengocok-ngocok batang penis milik Pram yang masih mengacung dalam lubang vaginaku. Kedua tanganku berusaha mencari tumpuan, akan tetapi kedua tanganku tidak bisa mencapai kasur.

Melihat itu, Pram langsung menempelkan kedua tangannya di kedua buah dadaku. Ooohh, aku pun juga memegang kedua pergelangan tangan Pram sebagai tumpuan. Selagi aku memutar-mutar pantatku, tangan Pram pun memijat-mijat kedua buah dadaku. Birahi yang kudapatkan ini betul-betul tidak terbendung. Rasanya terus menyetrum-nyetrum tubuhku dengan begitu derasnya.

Kemudian, Pram mengangkat tubuhnya sehingga kini kepalanya tepat berada dihadapan kedua bukit kembarku. Pram pun langsung mengulum buah dada kananku, sementara tangan kanannya meremas-remas buah dada kiriku.

Ooohh, rangsangan yang kudapat ini betul-betul membuyarkan pikiranku. Aku pun mengubah gerakan pantatku menjadi naik-turun dengan cepat. Tidak ada kata-kata yang keluar dari mulut kami, hanya ada desahan-desahan yang memenuhi ruangan ini.

“Ooohhhh…. Eeehhhhhh…” Desahku sambil menghujam-hujamkan pantatku untuk memompa batang kejantanan Pram.

“Oooohhhh…. Sooff… Soffiee sayaanggg….” Desah Pram sambil menikmati hujaman lubang kewanitaanku ini.

Aku terus memompa pantatku, hingga akhirnya seluruh kenikmatan yang ada ditubuhku itu berkumpul di selangkanganku.

“Praammm cintaakuuu… Aku sudah mauuu… sampaaaiiii laggiiiiiiii…” Erangku tidak kuat.

Melihat aku hampir orgasme lagi, Pram segera mengangkat tubuhku sehingga kuluman lubang kewanitaanku lepas dari batang kejantanannya. Kemudian, ia membaringkan tubuhku di ranjang, dan dengan cepat ia langsung menindihku dan memompa penisnya ke lubang vaginaku. Gerakan menggenjot Pram sangat cepat, wajahnya pun dipenuhi dengan nafsu birahi.

“Praaammm cintaakuuu… peluuukk akuuuu…” Erangku tidak kuat menahan kenikmatan ini.

Tanpa mengurangi kecepatan genjotannya, Pram memeluk tubuhku dengan erat. Oohh, aku merasa sangat nyaman dalam dekapan Pram ini, sementara genjotan batang penis Pram di lubang vaginaku semakin lama semakin menjebol pertahananku.

Hingga akhirnya, kenikmatan puncak itu pun serasa diujung kepalaku, dan tubuhku tinggal menunggu perintah dari otakku untuk melepaskan seluruh kenikmatan itu. Aku mengambil napas panjang, kemudian aku melepaskan seluruh kenikmatan puncak yang sudah berkumpul di tubuhku.

“Oooohhhh…. Praaaamm… Akuu orgassmee lagiiii….” Erangku ketika kenikmatan puncak itu pun datang.

Seluruh tubuhku betul-betul merasa kejang, seolah melepaskan kenikmatan yang begitu besar. Aku merasakan denyutan yang kencang di vaginaku, sementara Pram masih terus memompa selangkanganku dengan cepat. Aku merasakan napasnya mulai mendengus-dengus, dan pelukannya pun semakin erat.

“Sofiiee sayaanngg… puncaak cintaakuuu…. akan segera dataanggg….” Erang Pram.

Aku tahu bahwa Pram akan segera keluar. Sok puitis dasar, puncak cinta segala. Akan tetapi, biar kuterima puncak cintamu, cinta. Aku pun memutar-mutar pantatku dengan cepat, sementara kedua tanganku memeluk tubuhnya dengan erat, dan bibirku menciumi bibirnya dengan liar.

“Praam cintaakuuu… Aku cinta kamuu… aku siap menerima puncak cintaamuuu…” Desahku sambil melakukan semua itu.

Kemudian, Pram memajukan pantatnya sekuat tenaga, sehingga kini batang kejantanannya betul-betul menancap maksimal ke dasar lubang vaginaku.

“Uuuggghhhhhh.” Crott…

“Uurrrgggghhhhh…” Croottt…

“Uuuuhhhhhh…” Croott…

“Aaahhhhhh….” Croott.. Croott.. Crot…

Saat itu juga, Pram mengerang berkali-kali, dan disetiap erangannya, aku merasakan adanya semprotan cairan kental yang hangat dalam lubang vaginaku. Beberapa kali batang kejantanan Pram itu berdenyut dan menyemprotkan sperma yang deras ke dalam lubang vaginaku. Setelah semuanya selesai, tubuh Pram pun melemas diatas tubuhku. Aku kembali mencium bibirnya dengan liar.

Saat itu juga, penis Pram menyemprotkan sisa-sisa sperma yang tersisa dalam penisnya. Gila, sperma milik Pram luar biasa banyaknya. Seluruh lubang vaginaku terasa hangat dan basah kuyup akibat sperma yang ditembakkan Pram itu. Aku terus mencium bibirnya dengan mesra, sambil mengusap-usap rambutnya. Sementara, kami masih berusaha mengatur napas masing-masing.

Setelah napas kami kembali normal, Pram berguling kesampingku sehingga kini kami sama-sama telentang menatap langit-langit.

“Maaf, Sofie. Aku tidak bisa membendung cintaku kepadamu.” Kata Pram.

“Kenapa minta maaf? Bukankah kamu cinta padaku?” Tanyaku.

“Betul.” Kata Pram sambil menarik tubuhku kedalam pelukannya.

Dalam pelukan Pram, aku merasa begitu nyaman. Ya, sama nyamannya ketika aku berada dalam pelukan suamiku. Pram pun mengelus-elus rambutku. Saking nyamannya, aku pun tertidur dalam pelukan Pram yang kokoh itu.

Ya, selama ini aku merasa bahwa perselingkuhan itu selalu berdasarkan nafsu birahi. Akan tetapi, pengalamanku sekarang ini telah membuktikan bahwa perselingkuhan tidak selalu sepenuhnya dikuasai oleh birahi.

Ketika kita mencintai seseorang yang bukan pasangan hidup kita, secara otomatis kita akan berusaha untuk mendekat kepada orang itu. Dalam kasus terparahnya, sama seperti diriku, begitu rela membiarkan tubuh kita dimiliki oleh orang itu.

Dan lebih gawatnya lagi, penyesalan cenderung lebih sedikit diakibatkan cinta yang menguasai pikiran kita. Aku mengerti sekarang, inilah yang dimaksudkan oleh Reza pada waktu itu. Mungkinkah Indra dan Rida juga mengalami hal yang sama?

Telah beberapa bulan sejak perselingkuhanku dengan Pram yang betul-betul nyata itu terjadi. Akan tetapi, perselingkuhan itu tidak berhenti di hari itu saja, melainkan terus berlanjut. Sesekali, Pram yang datang ke kamarku, dan sesekali aku yang mendatangi kamar Pram.

Semuanya kami lakukan di malam hari setelah training. Bukannya menyesal, tapi malah kami melakukannya dengan semakin bersemangat, dan saling mengekspos diri satu sama lain dan mencoba hal yang baru bagi kami.

Memang jika dipikir-pikir, kesetiaan itu betul-betul hal yang aneh. Disatu sisi, kita ingin setia kepada pasangan kita. Akan tetapi, di sisi lain, kita pun setia pada perasaan kita yang mencintai orang lain selain pasangan hidup kita. Betul kata Pram, kita selalu setia kepada perasaan kita.

Kesetiaan pada pasangan hidup kita, bukanlah kesetiaan karena jika kita menyangkal hati kita yang juga mencintai orang lain, namanya berarti kita bukan setia. Kesetiaan pada pasangan hidup kita itu adalah integritas, yaitu integritas untuk tidak melukai perasaan pasangan hidup kita.

Tidak melukai perasaan pasangan hidup kita tentunya adalah bagian dari cinta. Dengan demikian, apakah kita tidak setia terhadap cinta kepada pasangan hidup kita? Hah, dipikirkan jadi pusing. Kesetiaan itu memang hal yang rumit.

Hari ini adalah hari terakhir kita training di Jakarta. Besok, pesawat kami masing-masing akan berangkat menuju kota kami masing-masing. Pesawatku besok berangkat jam 7.15, sedangkan pesawat Pram berangkat jam 5.30. Aku sekarang sedang merenung. Besok, aku akan kembali bertemu dengan keluargaku.

Akan tetapi, dengan perselingkuhan yang telah kulaksanakan itu, masih pantaskah aku bertemu dengan mereka? Aduuh, memikirkan itu malah jadi eneg sendiri. Entah kenapa aku sudah tiga hari ini merasa eneg.

Kemungkinan besar diakibatkan oleh aku dan Pram selalu begadang demi mengungkapkan cinta kami masing-masing. Sudah tiga hari ini kami sangat intens bersetubuh, bahkan sampai dua sampai tiga ronde. Akibatnya tentu saja kami jadi kurang tidur.

Pintu kamar mandi pun terbuka, dan Pram keluar dari kamar mandi tanpa mengenakan handuknya sama sekali. Ia baru saja selesai mandi. Tubuh kekar dan wajah tampannya tetap tidak berkurang sejak pertama kali kami mengungkapkan cinta kami, bahkan sekarang ia terlihat lebih tampan. Memang tidak salah lagi, aku betul-betul telah jatuh cinta kepadanya, positif.

Ia pun duduk disebelahku, dan kemudian mencium bibirku. Setelah melepaskan ciumannya di bibirku, ia merangkul pundakku.

“Mikirin apa, sayang?” Tanya Pram.

“Nggak. Besok pulang ya.” Kataku.

“Iya. Kita kayanya ga bisa ketemu lagi ya.” Kata Pram.

“Iya, sebaiknya begitu. Demi kebaikan keluarga kita berdua.” Kataku.

“Aku akan kangen sama kamu, sayang.” Kata Pram.

“Hahaha.” Tawaku singkat.

“Emang kamu ga akan kangen sama aku?” Tanya Pram.

“Ngapain kangen sama orang yang suka bugil kaya kamu? Baju aja nggak dipake-pake daritadi.” Kataku.

“Yaudah, aku pake baju deh ya.” Kata Pram.

“Eh tunggu. Emangnya…” Kataku.

“”Kita ga mau bercinta dulu”. Begitu?” Tanya Pram.

“Yeh, Siapa yang mau?” Tanyaku.

“Kalau begitu aku yang mau deh.” Kata Pram sambil kemudian mendorong tubuhku ke ranjang.

Kini, aku sudah telentang di ranjang. Pram yang daritadi sudah telanjang pun langsung menindih tubuhku dan mencium bibirku. Aku pun juga ikut balas mencium bibirnya. Ooohh, bukan main, ciumannya yang lembut tapi pasti ini lama-lama mulai memanaskan tubuhku. Lambat laun, nafsu birahiku pun kembali naik. Kemudian, Pram melepaskan ciumannya di bibirku.

“Jadi, tetep ga mau nih?” Tanya Pram.

“Udah nggak usah bertele-tele. Mau ya mau, nggak ya nggak.” Kataku.

Pram pun mulai tersenyum dengan senyum kemenangan. Ia pun mulai melucuti pakaianku satu-satu. Aku pun mengangkat tubuhku untuk mempermudah Pram melepaskan seluruh pakaianku. Dari bajuku, celanaku, BH-ku, sampai celana dalamku, hingga akhirnya aku pun sudah telanjang.

“Aku ga pernah bosan ngelihat tubuh telanjang kamu, Sofie sayang.” Kata Pram.

“Hmmm… Dilihatin doang nih?” Kataku sambil senyum menggoda.

“Ah, mintanya dicintain melulu kamu mah. Gantian dong kamu yang aktif duluan.” Kata Pram dengan manja.

Ah dasar lelaki. Kalau sudah didepan wanita aja, maunya bermanja-manja. Ya sudah deh, hari terakhir gini. Kapan lagi aku bisa aktif duluan hehehe.

“Yaudah. Ayo tiduran, Pram cintaku.” Kataku.

Tanpa berkata apa-apa, Pram pun langsung tiduran disampingku. Kemudian, aku setengah membangunkan tubuhku sehingga aku terduduk dihadapannya. Aku mulai menggenggam batang penisnya yang sudah mengacung dan kokoh itu.

Kemudian, lambat tapi pasti, aku mulai mengocok-ngocok batang penisnya dengan telaten. Sambil melakukan itu, aku juga mengusap-usap rambut Pram dengan lembut, dan juga mencium bibirnya dengan penuh kelembutan.

Aku bisa merasakan napas Pram yang mulai memburu. Ditengah-tengah ciuman kami, aku membuka mataku dan melihat bahwa Pram pun sudah tidak berdaya mendapatkan kenikmatan yang kuberikan ini.

“Ssshhh… Ahhh…” Pram mulai mengeluarkan desahannya.

Aku pun mulai mempercepat irama mengocok batang kejantanannya. Desahannya pun juga semakin cepat. Kemudian, aku segera mengarahkan pantatku kearah batang kejantanannya, kemudian kudorong keras-keras sehingga kini lubang kemaluanku sudah melahap seluruh batang kemaluannya.

Ooohh, aku merasakan lubang kemaluanku begitu sesak akibat batang penisnya yang sudah masuk sepenuhnya.

Tidak berhenti sampai disitu, aku pun memutar-mutar pantatku. Searah jarum jam… kemudian berlawanan jarum jam… maju… mundur… maju… mundur… Lidahku pun juga tidak tinggal diam, melainkan langsung menjilat-jilat dada bidang Pram dan juga lehernya. Pram tampak hanya merem melek mendapatkan kenikmatan yang kuberikan ini.

“Aahhh… Tubuh seksimuu… Emang selalu bikin aku merem-meleek….” Desah Pram sambil tersenyum kepadaku.

Aiihh, ia tahu saja cara membuatku semakin terangsang. Pujian itu tentu saja membuat seluruh tubuhku makin terangsang. Aku pun mempercepat irama putaran pantatku itu. Pram pun juga tidak tinggal diam, ia segera meremas-remas buah dadaku dengan kuat.

Aahh, sensasi yang kudapatkan saat ini betul-betul luar biasa. Aku yang semakin tidak tahan lagi, sekarang sudah menghujam-hujamkan lubang kewanitaanku dengan cepat.

Lama-kelamaan, aku merasakan bahwa kenikmatan puncak tiada tara sudah dekat. Aku pun semakin cepat lagi menghujam-hujamkan lubang kemaluanku ke batang penisnya.

“Cintaakuuu… Akuu udah maoo kelimaakss….” Erangku.

Mendengar bahwa aku hampir klimaks, Pram segera memegang pinggangku. Lalu, ia menaik-turunkan pinggangku dengan cepat. Aiihhh, aku yang biasa harus menggerakan otot pantatku untuk mendapatkan kenikmatan, kali ini tidak perlu bergerak untuk mendapatkan kenikmatan.

Tenaga Pram begitu kuat, aku pun bergerak naik turun dengan cepat hanya karena tenaga milik Pram. Dengan begini, aku betul-betul bisa lebih fokus merasakan kenikmatan puncak ini.

“Ooouuuhhhh…. Aaauuggghhhh… Akuu keluaarr cintaaaa….” Erangku.

Aaahh, aku merasakan seluruh tubuhku berdenyut-denyut mengeluarkan kenikmatan yang daritadi ditimbun ditubuhku oleh Pram. Akan tetapi, Pram tidak serta merta menghentikan gerakannya begitu saja. Ia malah terus menaik-turunkan pinggangku semakin cepat. Napasnya pun semakin memburu, sementara matanya terus merem-melek.

“Soffiee sayaaannggg…. Akuu jugaa maauuuu niihhh….” Erang Pram.

Sementara Pram menaik-turunkan tubuhku, aku juga mengkombinasikannya dengan putaran pantatku. Aku pun sangat liar memutar-mutar pantatku, aku berharap ia bisa mendapatkan kenikmatan puncak yang sangat nikmat.

“Uoogggghhhhhh….” Croott croott crottt…

Aku merasakan tembakan sperma miliknya yang begitu deras dari bawah keatas. Ooohh, kenikmatan puncakku betul-betul lengkap dengan adanya tembakan cairan kental miliknya yang begitu deras dan hangat.

Setelah kira-kira sepuluh detik Pram mengerang, akhirnya tembakan sperma yang begitu nikmat itu berhenti. Aku merasa vaginaku sudah penuh dan basah kuyup oleh sperma Pram yang begitu banyak. Kemudian, kami sama-sama mengatur napas kami masing-masing.

“Kok tumben cepet, cinta?” Tanyaku dengan nakal.

“Salah sendiri punya badan seksi banget. Ga kuat tau.” Kata Pram sambil senyum-senyum.

Kemudian, aku segera membaringkan tubuhnya di dadanya.

“Iiihh… Gombaal…” Kataku sambil mencubit pipinya.

“Hehehe. Biarin.” Kata Pram sambil mencium bibirku.

Kemudian, aku terbaring lama dalam pelukannya di dadanya. Tangannya pun masih membelai-belai rambut dan tubuhku dengan lembut. Sementara, aku hanya memejamkan mataku untuk menghayati pelukan tubuhnya yang begitu kokoh dan belaian tangannya yang begitu lembut. Tidak lama kemudian, aku pun tertidur.

KRIING… KRIINGGG….

Alarmku yang kuset jam setengah lima pagi berbunyi. Kini, aku tinggal sendirian di kamar. Aku melihat sebuah catatan di meja hotel. “Maaf sayang, aku tidak membangunkan kamu. Kamu tidur begitu pulas dan indah, aku tidak tega membangunkan kamu. Ya, kita berpisah disini saja.

Tidak perlu kata-kata perpisahan yang panjang, karena aku takut berat melepasmu. Satu hal yang pasti adalah, aku tidak akan pernah melupakan cinta yang telah mekar dalam hati kita masing-masing.” Haah, cukup puitis untuk seorang laki-laki. Aku segera beberes untuk segera berangkat ke bandara karena waktuku tidak banyak.

Singkat kata, tanpa sempat berpamitan kepada yang lain, aku sudah sampai di Bandara Soekarno-Hatta untuk check-in. Walau aku masih harus menunggu sekitar satu jam, tetapi pengalaman-pengalaman yang sudah terjadi selama aku training di Jakarta ini betul-betul menghanyutkan pikiranku.

Satu jam pun berlalu, dan tanpa sadar, pesawat yang kunaiki ini sudah mengudara. Entah kenapa, aku tidak bisa menghilangkan keresahan yang ada di pikiranku. Padahal, apa yang kujalani bersama Pram itu didasarkan atas dasar suka sama suka dan mau sama mau.

Mengapa pada akhirnya hatiku dirundung oleh rasa resah? Apakah aku menyesal telah melakukan semua itu?

Akhirnya, pesawat yang kunaiki itu mendarat. Aku langsung mengambil bagasiku, dan kemudian memanggil taksi dan pulang ke rumah. Dalam beberapa lama saja, aku telah sampai di rumah. Betul-betul rumah yang sudah kurindukan.

Di rumah, aku kembali bertemu dengan para asisten rumah tangga dan anak-anakku yang begitu menyambut kehadiranku dengan riang gembira. Aku hanya bisa tersenyum sedikit dipaksakan. Aku tidak menyangka, aku sudah melakukan perbuatan yang sangat kejam kepada keluargaku ini. Saat mereka berjuang masing-masing untuk keluarga ini, aku malah main serong diluar sana.

Setelah mengobrol sebentar, aku masuk kekamarku untuk beristirahat. Saat aku tidur di ranjang yang biasa aku tidur bersama dengan suamiku, aku pun merasa sangat hina. Akan tetapi tiba-tiba, aku merasa sangat mual dan eneg. A

ku pun tidak tahan lagi, aku langsung berlari ke kamar mandi dan muntah. Ukh, aku pernah merasakan sensasi ini, waktu aku hamil anakku yang kedua. Apakah jangan-jangan aku hamil akibat perselingkuhanku dengan Pram? Aku segera mengambil testpack dan mengujinya.

Ah, firasat burukku pun terjadi. Hasil test pack menunjukkan hasil positif. Waduh, bagaimana ini? Haruskah aku mengatur strategi agar semuanya tidak ketahuan? Ah, tidak. Rasanya terlalu kejam. Baiklah, tenang dulu. Aku sebaiknya beristirahat dahulu, siapa tahu nanti aku dapat ide setelah tidur.

Setelah keluar kamar mandi, aku begitu kaget melihat suamiku yang sudah berdiri dihadapanku. Aku begitu kaget melihatnya. Bukankah ini masih siang? Mengapa suamiku sudah ada di rumah?

“Hai.” Kata Mas Anan.

“Hai, sayang. Udah pulang?” Tanyaku.

“Ga boleh?” Tanya Mas Anan.

Waduh, kok jawabannya seperti itu?

“Lho? Kok jawabannya seperti itu?” Tanyaku.

“Yaah, kamu harusnya tahu kenapa lah.” Kata suamiku sambil senyum.

Aku hanya terdiam mendengarnya. Secepat itukah suamiku tahu? Secepat itukah kejahatanku terbongkar?

“Masuk yuk, aku ga pengen semua orang denger.” Kata suamiku sambil mempersilakan aku masuk ke kamar.

Aku pun menarik napas panjang, kemudian berjalan masuk ke kamar, yang kemudian disusul suamiku. Kemudian, suamiku mengunci pintu. Aku pun hanya bisa berdiri mematung.

“Duduk.” Kata suamiku sambil mempersilakan aku duduk di ranjang.

Aku pun tidak mengatakan apa-apa, dan langsung duduk di ranjang. Kemudian, suamiku pun ikut duduk di ranjang di sebelahku.

“Kok, ini bisa terjadi?” Tanya suamiku.

Pertanyaan yang sebetulnya juga membuatku bingung. Jujur, aku sendiri pun tidak tahu mengapa ini bisa terjadi. Tiba-tiba saja, rasa cinta tumbuh dengan cepat di hatiku, sampai akhirnya semuanya terjadi.

“Jika kamu bisa muter balik waktu, apakah kira-kira kamu bisa ngubah apa yang akan terjadi?” Tanya suamiku.

Aku pun kembali diam mendengar pertanyaan suamiku itu. Sungguh, sebetulnya itu pertanyaan yang sangat mudah dijawab. Akan tetapi, kenapa aku begitu kesulitan menjawabnya?

“Hhhhh…. Ternyata gawat, dan ketakutanku pun terjadi.” Kata suamiku sambil menghela napas.

“Eh, maksud kamu apa, sayang?” Tanyaku.

“Begini. Dari dulu, aku selalu khawatir sama kamu. Kamu begitu bangga akan diri kamu sendiri, yang bisa mempertahankan kesetiaan cinta kamu selama sepuluh tahun. Kamu begitu bangga akan kesetiaan kamu, kamu menganggap orang-orang yang tidak setia itu sangat rendah, dan kamu merasa bahwa cintamu itu hanya untukku saja.” Kata suamiku.

“Maaf. Tapi aku nggak ngerti dimana salahnya.” Kataku.

“Tentu saja. Dengar, Sofie. Kamu itu sudah sombong terhadap dirimu sendiri. Kamu merasa bahwa kamu bisa mengalahkan godaan yang menjadi batu sandungan bagi cintamu terhadapku. Kesombongan itulah yang berbahaya, yang membuat pertahananmu semakin lemah.” Kata suamiku.

Deg. Jantungku begitu berdegup kencang karena perkataannya. Betulkah apa yang dikatakan oleh suamiku ini? Hati kecilku pun mengakui bahwa itu benar.

“Kamu tidak mau mengakui bahwa ada hal buruk dalam dirimu.” Kata suamiku.

“Apa itu?” Tanyaku.

“Kamu sama seperti wanita… tidak, manusia pada umumnya, termasuk diriku. Yaitu, kamu mendambakan seks. Akan tetapi, kamu malu mengakuinya, dan selalu menutupinya dengan menganggap bahwa seks adalah sebuah ungkapan cinta.

Dengan demikian, kamu selalu meredam nafsu birahimu, yang akhirnya meledak disaat itu tidak bisa disalurkan. Selingkuhanmu mungkin juga berpikiran sama sepertimu, hingga hal itu terjadi tanpa adanya rasa penyesalan dari kalian.” Kata suamiku.

Ah, persis seperti yang dikatakan oleh Reza, Cuma bedanya Reza berbicara dengan bahasa visioner, sedangkan suamiku menyatakannya dengan detail. Ah sial, andai saja aku memahaminya lebih cepat.

Aku hanya bisa tertunduk mendengar perkataan suamiku itu. Aku betul-betul sudah bersalah terhadapnya dan terhadap keluargaku ini. Padahal, Tuhan sudah memberiku keluarga yang begitu sempurna.

Anak-anak yang begitu lucu dan pintar, para asisten rumah tangga yang begitu baik pada kami, dan juga suamiku yang begitu pengertian. Akan tetapi, aku telah menyia-nyiakan semuanya. Tanpa sadar, air mataku pun mulai mengalir.

“Apakah tangisan mendahului minta maaf?” Tanya suamiku.

“Sayang, kalau boleh jujur… Aku tidak punya keberanian untuk meminta maaf kepadamu…” Kataku.

“Oke, itu tidak penting. Yang lebih penting adalah, apa yang akan kamu lakukan terhadap anak di perutmu itu?” Tanya suamiku.

Hah? Dia sudah tahu sampai sejauh itukah? Akan tetapi, tidak ada gunanya menyangkal, tidak ada gunanya berbohong, tidak ada gunanya mempertanyakan darimana dia tahu. Walaupun tahu darimanapun dia, itu tetaplah fakta yang tidak terbantahkan.

“Kamu maunya, gimana?” Tanyaku.

“Aku tanya apa yang akan kamu lakukan?” Tanya suamiku.

“Aku sendiri juga bingung. Haruskah aku menggugurkannya?” Tanyaku.

“Tidak takut dosa?” Tanya suamiku.

“Sayang, dari awal, aku sudah berdosa terhadap dirimu. Kali ini, biarlah aku menanggung dosa yang lebih berat lagi, sebagai salah satu penebusanku.” Kataku.

Suamiku hanya menghela napas.

“Tidak ada yang menebus dosa dengan cara melakukan dosa yang lebih berat lagi.” Kata suamiku.

“Sayang, aku sungguh bingung. Apa yang sebaiknya aku lakukan?” Tanyaku.

“Kalau kamu masih menganggap aku suamimu, dengarkan aku.” Kata suamiku dengan serius.

Walaupun masih menangis, aku serius mendengarkannya.

“Dengar, anak yang ada diperutmu itu sama sekali tidak bersalah. Walaupun ia datang ke dunia ini akibat perbuatanmu yang hina dan penuh dosa itu, tetapi anak itu tetap murni dan tidak berdosa. Camkan itu!” Kata Suamiku.

Mendengar hal itu, emosiku semakin menguasaiku. Air mataku pun makin banyak menetes. Akan tetapi, aku tetap membiarkan emosi itu tetap terkumpul dalam diriku. Aku begitu tidak percaya bahwa aku mendengar hal yang begitu hebat darinya.

“Jadi, katamu aku harus merawatnya?” Tanyaku.

“Menjaga dan melahirkan dia ke dunia ini adalah tanggung jawabmu, karena dia tetap memiliki kesempatan itu.” Kata suamiku.

“Tetapi, jangan salah. Ketika anak itu sudah lahir, kamu juga harus memastikan bahwa anak itu hidup bahagia. Jadikanlah itu sebagai penebusan atas dosamu.” Kata suamiku.

“Baik, akan kupastikan dia hidup bahagia.” Kataku.

“Satu hal, aku tidak mau anak itu berada dalam rumah ini. Tidak baik bagi dirinya, dan juga bagi kita. Biar bagaimanapun juga, anak itu adalah hasil perselingkuhanmu. Pastilah anak itu juga membawa dampak yang negatif bagi keluarga ini.” Kata suamiku.

“Iya. Walau bagaimana pun juga, dia adalah anak haram.” Kataku.

Mendengar hal itu, suamiku langsung menamparku dengan keras. Keras sekali, sampai-sampai aku terjatuh.

“Jangan katakan dia anak haram! Yang haram adalah perbuatanmu! Anak itu tidak berhak menanggung status haram hanya karena perbuatanmu yang haram itu! Ingat baik-baik, dosa ini adalah tanggunganmu seorang. Anak itu tidak berdosa sama sekali!” Kata suamiku dengan garang.

Jujur, baru kali ini aku melihat suamiku yang begitu marah. Biasanya, dia selalu baik dan lembut. Aku kemudian berdiri dan menatapnya.

“Sayang, apakah kamu akan menceraikanku?” Tanyaku.

“Menurutmu?” Tanya suamiku.

“Jujur, aku tidak akan meminta banyak darimu. Jika kamu berniat menceraikanku, kalau itu demi kebaikan kamu sendiri, aku rela. Paling tidak, mungkin cuma itu yang bisa aku lakukan untuk kamu.” Kataku.

“Oh, terima kasih sudah begitu memikirkanku. Sekarang aku tanya, siapkah kamu menanggung beban yang lebih berat dari perceraian?” Tanya suamiku.

“Baiklah, aku siap. Jika ini memang bisa menebus kesalahanku.” Kataku.

“Aku tidak tahu apakah ini lebih berat atau tidak. Aku tidak akan menceraikanmu, karena aku memikirkan anak-anak kita. Aku tidak ingin anak-anak kita memiliki pengalaman pahit tentang orang tuanya bercerai.

Bersikaplah layaknya sebagai seorang istri dan ibu di depan anak-anak kita. Bahagiakanlah mereka, dan antarlah mereka sampai kehidupan mereka yang mandiri. Ingat pepatah karena nila setitik, rusak susu sebelangga?

Jangan sampai kamu menjadi nila setitik yang merusak semuanya. Sekali lagi ingat, kesalahanmu itu adalah tanggunganmu sendiri. Oh iya, kamu tidak perlu lagi melayani aku sebagai seorang istri.” Kata suamiku.

“Hmmm, apakah maksudnya kamu akan pergi?” Tanyaku.

“Hmmm, iya dan tidak. Fisikku akan berada disini, tetapi hatiku tidak akan pernah lagi ada dihatimu. Hatiku sekarang hanya akan berada pada anak-anak.” Kata suamiku.

Oh, aku mengerti. Betul-betul hukuman yang sangat berat menurutku, jauh lebih berat dari perceraian itu sendiri. Jadi intinya, aku harus menebus semua kesalahanku yang begitu berat, tanpa adanya dukungan dari suamiku.

Siapa yang bisa? Aku harus terus berpura-pura tersenyum didepan semua orang, padahal dalam hati aku merasa sangat sakit dan bersalah. Aku tidak mengerti, apakah suamiku itu sangat baik atau sangat kejam. Untuk orang yang perasaannya sensitif sepertiku, hukuman seperti ini tentulah sangat berat.

“Sayang, kenapa kamu memberi hukuman ini padaku? Apakah dengan demikian, kamu akan memaafkanku?” Tanyaku.

“Akan sulit buatku untuk memaafkan dirimu. Akan tetapi, kebencian yang timbul akibat perbuatanmu, jangan engkau sebarkan kepada orang lain. Cukup aku yang menanggungnya.

Dan meskipun perbuatanmu itu hina, cobalah untuk bertobat dan berubah. Biarlah orang lain melihatmu sebagai pribadi yang baik. Perbuatanmu yang hina itu sudah terjadi di masa lalu, tidak perlu orang mengungkit-ungkit masa lalumu, dan tidak perlu juga hidupmu berantakan karena masa lalumu.” Kata suamiku.

Apa? Ternyata, dia tidak memberiku hukuman, melainkan dia berusaha membersihkan namaku, dan menanggung semua kebobrokanku.

“Sa… sadarkah kamu apa yang kamu katakan?” Tanyaku.

“Aku sadar.” Kata suamiku.

“Tidak bisakah aku membantumu dalam menanggung kebencian yang akan kamu tanggung?” Tanyaku.

“Tidak, tidak mungkin. Kebencianku padamu sudah tidak terbendung lagi. Kalau bukan karena anak-anak, aku tidak mengerti apa yang akan terjadi. Semakin dekat diri kita, pastilah semakin meluap kebencianku ini.” Kata suamiku.

“Lalu, kenapa harus kamu yang menanggung semuanya?! Aku merasa ini tidak adil! Tadi kamu bilang bahwa anak di perutku ini tidak berhak menanggung dosa-dosaku. Kesalahanku haruslah aku yang menanggung semuanya. Lalu, mengapa kamu sekarang menanggung segala kebencian yang timbul dari perbuatanku ini? Tahukah kamu bahwa dengan cara seperti itu, kamu pun akan sendirian menanggung semuanya!” Kataku.

“Karena, itulah tugasku sebagai seorang suami, yaitu memastikan bahwa istrinya hidup bahagia, dan membuat orang lain memiliki pandangan yang baik tentang dirimu. Juga tugasku sebagai seorang ayah, untuk memastikan bahwa anak-anaknya bahagia, karena tidak ada yang bisa memberikan kebahagian sejati yang paling tinggi, selain daripada Tuhan dan ibunya.” Kata suamiku.

Jreg. Kakiku langsung lemas begitu mendengar perkataan suamiku. Ini… suatu bentuk kesetiaan… integritas yang sangat tinggi. Ini… betulkah ini bentuk kesetiaan yang sesungguhnya? Jauh tidak ada apa-apanya dibandingkan dengan kesetiaan yang selalu kugembor-gemborkan.

“Tidak perlu ada kata-kata lagi mulai dari sekarang. Ucapkanlah kata-kata kepadaku ketika didepan anak-anak kita, layaknya sebagai seorang suami istri yang bahagia.” Kata suamiku tanpa melihat kearahku.

Ia pun keluar dari kamar ini. Aku tidak percaya, aku sudah membuat hatinya begitu sakit. Seorang suami dan ayah yang begitu berintegritas tinggi terhadap keluarganya, sampai rela menanggung semua sakit akibat perbuatanku ini sendirian.

Itukah tugas seorang laki-laki yang sebenarnya? Jujur, jika memang itu jawabannya, aku sangat bersyukur terlahir sebagai wanita, yang menurutku memiliki beban yang jauh lebih ringan. Beban rasa sakit melahirkan? Beban membesarkan anak? Beban menghidupi keluarga? Semuanya itu tidak ada bandingannya dengan beban yang suamiku tanggung. Itu pendapatku pribadi.

Sekarang, sudah lima tahun sejak kejadian itu. Anak yang terlahir dari Pram dan aku diadopsi oleh temanku yang kebetulan tidak bisa memiliki keturunan. Sepertinya, anak itu pun tumbuh dengan sehat dan bahagia di keluarga temanku itu. Syukurlah. Ketahuilah nak, bahwa ayah tirimu, yaitu suamiku, itu adalah orang yang hebat, dialah satu-satunya orang yang membelamu.

Hiduplah bahagia, karena kamu lahir ke dunia ini tanpa dosa. Jangan khawatir, seperti kata ayah tirimu, engkau bukanlah anak haram karena engkau tidak pantas menanggung status dan dosa yang diakibatkan oleh ibu biologismu ini.

Anakku yang perempuan sudah berumur 11 tahun, sudah duduk di bangku SD kelas 5. Adapun anakku yang laki-laki sudah berumur 7 tahun, sudah duduk di bangku SD kelas 1. Mereka tumbuh menjadi anak yang baik dan juga sehat. Mereka pun sangat menyanyangi aku dan suamiku, begitu juga aku dan suamiku pun demikian terhadap mereka.

Sampai sekarang, mereka tidak tahu apa yang sebetulnya terjadi antara ayah dan ibunya. Suamiku dulu memberitahuku bahwa kami dilarang keras menyinggung hal pahit itu didepan anak-anak kami. Akan tetapi, maaf suamiku. Kelak jika mereka sudah besar nanti, akan kuberitahu mereka apa yang sebetulnya terjadi.

Aku harap mereka bisa menggantikan tugasku untuk menemanimu sampai akhir hayat. Mereka pun harus tahu bahwa engkaulah orang tua yang begitu hebat, yang jauh lebih hebat melebihiku. Anak-anakku, aku yakin dengan adanya ayah kalian yang begitu hebat, kalian akan tumbuh menjadi anak yang hebat.

Suamiku sampai sekarang pun masih terpukul. Kalau sudah malam dan anak-anakku sudah tidur, ia tidak lagi menjadi suami yang baik dan penyayang. Meskipun begitu, ia juga tidak pernah kasar terhadapku. Ia pun juga tetap menafkahi keluarga yang telah kusia-siakan ini.

Jika melihat suamiku yang terpukul itu, jujur hatiku sangat tersayat-sayat. Seharusnya, dalam situasi seperti ini, akulah yang harusnya membantunya keluar dari keterpurukan. Tapi, apa yang bisa kulakukan? Aku yang menyebabkan semua penderitaan yang ada dihatinya, malah makin memperlebar luka di hatinya.

Aku tahu sebetulnya suamiku sangat ingin pergi meninggalkanku. Akan tetapi, demi anak-anak dia tidak melakukannya. Aku, yang terbuai pada nafsu dan perasaan yang tidak bisa kukendalikan ini, tidak pernah memikirkan nasib anak-anak, hingga akhirnya suamiku yang harus sakit hati demi menanggung luka yang kusebabkan.

Maaf suamiku, saat kamu seperti ini, aku hanya bisa berdiam diri. Aku hanya bisa mendoakan semoga suatu saat nanti, kamu menemukan kebahagiaanmu yang sejati. Tidak seperti diriku, engkau adalah orang tua yang begitu hebat bagi anak-anakmu.

Engkau adalah seorang suami yang begitu hebat bagi istrimu. Dan engkau adalah seorang majikan yang begitu hebat bagi para asisten rumah tanggamu. Engkau pantas bahagia, suatu saat nanti, aku berjanji bahwa aku akan mengantarkanmu ke gerbang kebahagiaan yang murni.

Aku sendiri? Ya, beginilah aku. Disaat aku tidak kehilangan orang yang paling kucintai, tapi sebetulnya aku telah kehilangan dia. Aku memang tidak kehilangan anak-anakku. Akan tetapi saat melihat wajah mereka yang begitu polos dan suci, aku merasa sangat malu terhadap diriku yang sangat hina ini.

Aku yang seharusnya menjadi kebanggaan keluarga ini, malah menjadi aib terbesarnya. Semua karena kesalahanku sendiri. Cinta… Memang bukan suatu hal kecil yang sepele. Kita mengira bahwa kita selama ini berada dalam kedok kesetiaan, bisa mengendalikan cinta.

Akan tetapi aku baru tahu bahwa itu salah. Integritas lah yang mempertahankan cinta kita. Karena aku mengenakan jubah yang salah dan begitu sombong akan hal itu, maka aku diberikan godaan yang tidak tertahankan dan jatuh ke dalamnya.

Ya, hal yang biasa kita sebut dengan kesetiaan, bukanlah hal yang perlu kita sombongkan. Berbahagialah jika engkau diberikan kesetiaan… bukan, integritas… yang tinggi.

Berbahagialah jika engkau diberikan sesuatu yang baik, dan pertahankanlah hal itu dengan sekuat tenagamu. Terakhir, berhati-hatilah, karena sekuat apapun integritas kita, kita tetaplah makhluk lemah yang membutuhkan cinta dan seks.

TAMAT