Agen Bola Terminal Bandar Bola Terpercaya
LAPAKDEWA LAPAKPOKER

Kakakku Sexy Part 2

Part 1Part 2Part 3Part 4Part 5
Part 6Part 7Part 8

Saat itu kakakku (baru) berusia 17 tahun. Aku ingat persis karena itu saat liburan kenaikan kelas. Oleh karena itu siang itu kami berada di toko. Sementara mereka usianya sekitar pertengahan dua puluhan bahkan mungkin ada yang hampir tiga puluh tahun.

Namun kakakku tak terlihat takut. Bahkan ketika orang yang mendekatinya itu akan meraba pipinya, dengan cepat ia menyibakkan tangan orang itu. Seolah tak sudi orang itu menjamah dirinya.

“Aduh cantiknya dan mulusnya…”.

Plakkk! Belum sampai tangan iseng itu menyentuh wajah kakakku, telah tersibak oleh tangan kakakku yang menampelnya dengan sekuat tenaga.

“Eh, kurang ajar kamu yah. Berani melawan!” tatapnya dengan pandangan marah. Membuat jantungku seketika berdegup keras. Karena kemungkinan terburuk dapat terjadi.

“Aku telanjangi disini baru tau rasa kamu!” hardik orang itu.

“Pingin diperkosa kamu yah didepan ayah dan adikmu!” tambahnya lagi sambil memandang dada kakakku sebelum menatap matanya lagi.

Orang itu terlihat marah sekali. Matanya melotot seolah ingin menerkamnya.
Sementara kakakku juga tak terlihat takut. Ditatapnya balik orang itu dengan muka marah.
Untungnya, meskipun terlihat sangat marah, orang itu tak melakukan ancamannya atau melakukan sesuatu.

“Mas, tenang Mas. Ini khan masalah uang setoran. Kok jadinya mas mengancam putri saya yang masih anak-anak,” kata Papa yang di saat kritis maju dan menengahi.

“Stefany, kamu masuk dulu,” katanya ke kakakku yang segera dituruti olehnya.

Sementara itu keributan ini rupanya mengundang perhatian orang di luar. Terlihat sejumlah orang menonton namun tak ada satupun yang masuk ke dalam atau berani ikut campur.

Entah karena merasa tak enak atau mungkin karena dilihat banyak orang, akhirnya mereka jadi agak melunak.

“Baiklah Koh, untuk minggu ini sementara segini cukup,” kata pemimpinnya sambil meraih uang itu.

“Tapi minggu depan setorannya harus dobel. Ingat itu! Dan awas! Jangan berani macam-macam kalau ga ingin sesuatu terjadi kepada anak-anak Engkoh!” ancamnya.

“Kita tahu dimana rumah Engkoh. Juga dimana sekolah anak-anak Engkoh. Jangan sampai anak gadis Engkoh tahu-tahu disakiti orang,” tambahnya lagi.

“Minggu depan kalau ga bisa bayar, kita telanjangi aja anak gadisnya di tengah jalan biar dilihat oleh semua orang!”

“Mending kita perkosa aja rame-rame. Lumayan tuh nyicipin anak juragan Cina.”

“Hahahaha….”

“Yuk, kita cabut,” kata pemimpinnya.

“Minggu depan anakmu tak encuk*!” kata laki-laki yang merusaha menjamah kakakku tadi sambil mengangkat jari tengahnya. Lalu ia melakukan gerakan memaju-mundurkan pinggangnya seperti sedang menggagahi wanita dengan senyum mengejek ke arah Papa.

“Hahahahaha,” teman-temannya tertawa melihat tindakan dan ekspresi wajahnya.
(*encuk = disetubuhi, tak encuk artinya aku setubuhi)

Brakkk!!! Sambil berjalan keluar mereka mengayunkan tangannya sehingga barang-barang yang dipajang di etalase banyak yang jatuh berantakan.

Itulah kejadian enam tahun lalu dan penyebab kami secara mendadak dikirim ke ibukota. Mungkin mereka hanya melakukan gertak sambal. Namun Papa tak ingin mengambil resiko terutama ancaman terhadap kakakku mengingat fatalnya konsekuensinya apabila sungguh terjadi.

Dua hari setelah itu, hari Minggunya aku dan kakakku meninggalkan kota kami dan menjejakkan kaki di ibukota yang amat asing bagi kami.

Sejak itu kami menetap di ibukota dan meneruskan sekolah dan kuliah kami. Sampai akhirnya kakakku lulus awal tahun lalu. Dengan kecemerlangannya ia mampu menyelesaikan kuliahnya satu semester lebih awal. Sehingga ketika lulus ia baru berusia 22 tahun. Tak lama kemudian ia bekerja. Sementara kini aku masuk ke tingkat tiga untuk kuliahku.

Balik ke kota asal kami, tak lama setelah kejadian itu Papa menjual seluruh usaha, toko dan rumah kami. Awalnya Papa menuruti kemauan mereka dengan membayar “uang keamanan” itu setiap minggunya meski dengan demikian usahanya jadi tekor.

Namun rupanya mereka seperti sengaja mencari gara-gara. Setoran mingguan itu terus dinaikkan semaunya. Lalu Papa disuruh membuat surat pernyataan dengan meterai. Saat ditolak mereka mulai meneror rumah kami.

Beberapa kali muncul sekumpulan orang saat malam atau dini hari yang bikin ribut-ribut di depan rumah. Sementara aparat keamanan seolah tak mampu berbuat apa-apa. Hal ini makin lama mempengaruhi tingkat stress dan kesehatan Papa.

Akhirnya diputuskan untuk menjual seluruhnya dan pindah ke ibukota propinsi dengan membeli rumah yang agak kecil. Oleh karena penjualan dilakukan secara buru-buru maka harga jualnya juga tidak terlalu bagus.

Tapi yang penting sekarang tidak ada lagi teror-teror malam atau pemalakan mingguan uang keamanan. Jadi hidup Papa kini lebih tenang. Selain itu juga ia tinggal tak jauh dari beberapa kerabat kami lainnya.

Namun kondisi keuangan kami secara jangka panjangnya jadi kurang baik. Dengan kami berdua tinggal di ibukota, pengeluaran jadi meningkat. Sementara penghasilan boleh dikata hampir tak ada.

Dan keadaan semakin diperparah dengan diagnosa dokter bahwa Papa terkena diabetes dan darah tinggi yang memerlukan perawatan rutin dengan biaya cukup besar setiap bulannya. Akibatnya, sisa uang yang ada dengan cepat tergerus habis dengan berjalannya waktu.

Untungnya sembari kuliah kakakku mampu mendapatkan penghasilan tambahan. Ngakunya menjalankan “bisnis MLM”. Jujur saja, bisnis MLM apa itu aku tidak tahu. Karena ia sama sekali tak pernah melibatkanku. Ia cuman selalu bilang supaya aku fokus di sekolah dan kuliahku saja. Biarlah dia saja yang menyambi mencari penghasilan tambahan.

Mulanya aku tak terlalu ngeh dengan maksud sebenarnya ucapannya itu. Sementara aku sungguh-sungguh menuruti perkataaannya itu. Seperti kusebutkan sebelumnya, aku betul-betul kalah wibawa darinya.

Apa pun omongan dia, cenderung kuikuti dan kuterima at face value. Apalagi kini Papa jauh dari kami. Jadi boleh dikata ia adalah pengambil keputusan di antara kita bahkan belakangan malah kakakku menjadi tulang punggung keluarga kami.

Namun semua ini juga ada dampaknya. Aku mengamati adanya perubahan besar dari cara hidupnya. Dulu waktu masih SMU dan di tahun pertama kuliah, ia selalu pulang rumah dengan cepat.

Semenjak ada “bisnis MLM” itu, ia jadi sering pulang terlambat bahkan sampai larut malam. Beberapa kali malah pulang dini hari. Penjelasannya selalu kalau tidak karena tugas kuliah, ya sibuk menjalankan “bisnis MLM-nya” itu.

Meski awalnya aku menerima semua perkataannya, namun lambat laun aku jadi curiga. Apalagi beberapa kali kudapati saat ia pulang larut malam, kucium bau rokok yang cukup kuat. Aku tidak merokok. Dia juga tidak.

Lalu darimana bau kuat rokok itu berasal? Meski tak terlalu sering keluar malam, namun beberapa kali aku juga pernah datang ke tempat dugem. Dan bau-baunya mirip seperti saat habis dari tempat-tempat seperti itu.

Akhirnya aku tak tahan dengan rasa penasaranku dan secara iseng kutanyakan. Ia bilang memang kadang pergi ke tempat dugem. Namun ia selalu pergi dengan teman-teman ceweknya dan itupun juga rame-rame.

Katanya sekedar refreshing aja sambil mendengarkan live music. Ia sama sekali tak minum alkohol atau merokok. Akhirnya aku tak menanyakan lebih lanjut (karena segan juga sih sebenarnya).

Yang pasti, sejak ia kuliah tingkat dua semua kebutuhan hidup kami disini sehari-harinya jadi bersumber pada penghasilannya. Papa sudah tak mengirim uang lagi. Justru sebaliknya belakangan malah kakakku yang mengirim uang ke Papa setiap bulan, setelah uang tabungannya menurun tajam.

Sementara itu gaya hidup kakakku jadi semakin mewah. Sedari kecil memang ia terbiasa hidup mewah karena dulu dimanja oleh kakekku sebagai cucu perempuan satu-satunya. Namun dengan berjalannya waktu, oleh karena keadaan ekonomi keluarga yang tidak super berlebihan bahkan cenderung merosot, kebiasaan mewah itu jadi ikut tertekan ke bawah.

Pernah ketika kita ngobrol santai saat-saat ia baru masuk kuliah kakakku berkata kalau ia ingin mengembalikan gaya hidup keluarga kita yang lama seperti jaman kakekku dulu. Rupanya ia betul-betul termotivasi ke arah sana. Karena kini setelah mampu menghasilkan uang sendiri, gaya hidupnya jadi kembali ke preferensi lamanya.

Kini bahkan untuk menjaga kebugaran fisiknya, ia menjadi anggota fitness centre kelas elit, yang hampir semua yang datang kesana (kecuali kami) adalah golongan elit papan atas. Barang-barangnya kini branded semuanya.

Smart-phonenya, ia selalu mengikuti iPhone model paling baru. Demikian pula dengan bajunya, tasnya, sepatunya. Semuanya adalah brand-brand yang terkenal dan mahal. Bahkan underwear-nya pun juga bukan sembarangan. Merknya La Perla. Sebuah merk yang sebelumnya tak pernah kudengar namanya.

Yang aku tahu hanyalah Triumph dan Victoria Secret untuk merk pakaian dalam wanita kelas atas. Setelah aku googling, ternyata itu adalah Italian brand yang kelasnya jauh diatas keduanya. Harga sepotongnya minimal $100. Malah rata-rata diatas $200 atau bahkan lebih.

Dan itu hanya untuk bra doang, cd-nya terpisah lagi. Kadang aku bertanya-tanya, memang penghasilan dari “bisnis MLM”nya itu sebesar apa? Sampai-sampai seorang mahasiswi seperti dia menganggap penting memakai pakaian dalam yang harga totalnya kalau keduanya digabung bisa mencapai 5 juta!

Ada hal aneh lain yang juga terpapar dari jawabannya ketika kutanya tentang dugem waktu itu. Bahwa dirinya termasuk cantik dan menarik, mungkin itu sebuah pernyataan yang sangat understatement.

Namun mengapa selama ini aku tak pernah melihat ia punya cowok? Dulu saat kami masih tinggal di rumah lama, mungkin ia masih terlalu muda. Sebenarnya waktu itu ia pernah punya cowok teman sekelasnya tapi itu cuman pacaran “haha-hihi” bukan serius. Paling cowoknya datang maen ke rumah. Gitu aja.

Di tahun pertama kami pindah kemari, ok mungkin ia belum berpikiran kesana. Apalagi saat itu adalah masa-masa sulit bagi kami. Namun selama ia kuliah, tak pernah sekalipun ia pacaran. Tak hanya itu, bahkan tak ada teman cowoknya yang main ke rumah.

Mungkin ada beberapa kali saat awal-awal kuliah. Namun sejak itu sama sekali tak ada. Nol. Padahal bukankah kampus itu tempat paling tepat untuk mencari pacar? Dan kampus tempat kuliahnya adalah kampus elit yang tentunya pasti banyak cowok-cowok keren disitu.

Dengan penampilannya, sungguh mustahil tak ada satupun teman-teman cowoknya yang tertarik kepadanya. Juga setelah ia lulus kuliah dan mulai bekerja pun, tak pernah ada cowok yang menjadi pacarnya. Bahkan diriku yang cuman begini-begini saja, belakangan sempat pula merasakan pacaran meski harus sembunyi-sembunyi.

Juga, kakakku termasuk orang yang suka bergaul dan ia selalu mengatakan sibuk macam-macam. Namun selama ini tak ada teman-temannya yang datang ke rumah. Semua kegiatan dan pergaulannya itu dilakukan di luar rumah.

Saat aku iseng-iseng bertanya tentang pacar, jawabannya selalu mau fokus di kuliahnya dan “bisnis”nya dulu. Lagipula katanya, dengan keadaan sulit dalam keluarga kami setelah Papa sakit-sakitan, ia masih belum terpikir untuk pacaran.

Memang sih keluarga kami terutama Papa membutuhkan biaya cukup besar. Namun bukankah penghasilan dari “bisnis”nya selama ini sudah mampu mencukupi semuanya. Dengan begitu, tidakkah masalah finansial keluarga kami sebenarnya telah selesai dan ia bisa mulai memikirkan masa depannya sendiri?

Hal tambahan namun krusial yang membuat rasa penasaranku bertambah, bukankah yang namanya bisnis MLM itu biasanya selalu menarik orang sebanyak mungkin? Sementara kakakku ini, boro-boro minta dukungan untuk “memprospek” teman-temanku, bahkan aku pun sama sekali tak pernah dilibatkan.

Sepertinya ada bagian kehidupan yang misterius dan sengaja disembunyikan dari kakakku Stefany yang cantik dan sexy ini. Dan rasa-rasanya “bisnis”nya ini ada pengaruh besar kalau bukan kunci dari semuanya. Honestly, I don’t like all these. There is something fishy going on.

Aktivitas kakakku secara umum bisa dibagi menjadi tiga bagian: 1). Kuliah, yang kemudian dilanjut kerja, 2). Sehari-hari (keluar makan, nonton, belanja sehari-hari, nge-gym, dll), 3). “Bisnis MLM”-nya.

Yang nomor 1, tak ada keraguan. Pastinya betul-betul legitimate. Hanya saja kita beda kampus jadi aku tak terlalu mengetahui detil kegiatannya. Begitu pula dengan kerjanya.

Yang nomor 2 sungguh transparan sekali bagiku. Mungkin karena ia belum punya cowok jadi ia selalu memintaku untuk menemaninya pada banyak hal-hal sehari-hari.

Berbanding kontras, nomor 3 sama sekali gelap bagiku. Termasuk juga dengan belanja mewahnya dimana aku sama sekali tak pernah diajaknya. Tiba-tiba tahu-tahu barang-barang itu sudah ada dan dipakainya. Mungkin ia tak mengira aku sedemikian kepo ngecek barang-barangnya. Juga mungkin dikiranya aku tak tahu apa-apa tentang pakaian dan pernak-pernik wanita.

(Catatan penulis: peristiwa berikut adalah flashback sedikit ke belakang ketika kakakku masih kuliah semester empat dan saat ia berusia 20 tahun).
Minggu sore itu aku diajak menemaninya ke tempat fitness, yang belakangan aku dijadikan member juga olehnya supaya bisa menemaninya saat diperlukan.

Seperti biasa, kostumnya membuatnya terlihat sexy dan “mengundang” dengan celana sporty super pendek dan ketat yang membuat pantatnya terlihat bulat menonjol dan sport bra yang hanya menutupi sekitar payudaranya saja.

Rambutnya diikat dan digulung ke atas sehingga keseluruhan leher putihnya juga terlihat jelas. Sebenarnya aku agak merasa risih dengan penampilannya. Saat itu boleh dikata ia ¾ telanjang dan terekspos bagi siapapun yang ingin melihatnya.

Kulit putih, paha mulus, postur tubuh langsing sementara payudaranya membusung padat berisi dan pantatnya yang bulat ditambah dengan wajah cantiknya seketika membuat ia menjadi pusat perhatian banyak orang. Sementara ia datang bersamaku, adik cowoknya yang hanya bisa terdiam saja melihat kakaknya jadi pusat perhatian hampir seluruh laki-laki di ruangan itu.

Saat itu suasana cukup ramai. Pengunjungnya pun cukup beragam. Kaum prianya mulai dari eksekutif muda, pengusaha, dan ada juga beberapa yang bertampang pejabat. Tatapan mata mereka pun juga beragam. Ada yang menyasar paha mulusnya. Ada yang menatap pantatnya yang menonjol di balik celana pendek ketatnya.

Ada yang terpana mengagumi wajah cantiknya. Ada yang tanpa sungkan memelototi payudaranya yang menonjol dengan belahan atasnya sebagian terlihat terutama saat menunduk.

Ada yang menatap tajam bagian depan celananya, seakan memiliki mata Superman yang mampu menembus bahan celananya untuk dan melihat isi dalamnya. Ada pula yang melakukan “scanning” ke seluruh bagian tubuhnya dan menikmati pemandangan indah itu secara keseluruhan.

Sementara kakakku sama sekali tak mempedulikan mereka. Nampak ia terlalu sibuk dan konsentrasi dengan latihannya. Saat break, ada beberapa pria yang rupanya cukup bernyali mendatanginya secara bergantian ingin mengajaknya kenalan.

Namun sepertinya mereka semua harus kecewa. Karena kakakku hanya menanggapi mereka untuk sesaat. Setelah itu ia kembali tenggelam dengan kegiatannya.

Memang salah satu kelebihan kakakku lainnya yaitu orangnya selalu fokus dan all-out dalam mengerjakan sesuatu. Tak terkecuali dan terutama dalam menjaga bentuk dan kebugaran tubuhnya.

Padahal menurutku kondisi tubuhnya saat ini sudah amat ideal dan kebugarannya prima. Namun saat itu ia terus menggenjot fisiknya. Seolah semua lemak yang tak diinginkan yang ada pada tubuhnya ingin dihilangkannya semua.

Bahkan aku yang laki-laki pun jadi ngos-ngosan saat mengikuti programnya. Memang pada dasarnya aku bukan tipe orang yang suka olahraga. Hanya karena diajak saja (atau tepatnya disuruh menemani) maka aku ikut dengannya. Bagaimana pun, kita tak bisa terlalu membangkang dari orang yang membiayai hidup kita, bukan?

Karena kecapean, akhirnya aku menyerah dan duduk menepi. Saat itu aku jadi dapat lebih memperhatikan orang-orang yang berada disana, dari yang malu-malu dan mencuri-curi pandang sampai yang tak sungkan-sungkan memandanginya tak berkedip. Namun ada pula beberapa (laki-laki) yang terlihat tak terpengaruh oleh kehadiran kakakku.

Dari semua yang ada disitu, bisa kupastikan hampir semuanya adalah bystanders atau figuran saja. Dalam artian mereka semua adalah random visitors yang secara kebetulan berada di tempat kejadian.

Namanya laki-laki, melihat gadis cantik muda dan sexy apalagi dengan busana minim, pasti matanya akan tertuju kepadanya. Beberapa diantaranya mencoba mengajaknya kenalan, sukur-sukur bisa dapat nomor HP-nya. Tapi hanya itu saja. Tak lebih.

Perhatianku justru tertarik kepada mereka (laki-laki) yang kelihatan tak terpengaruh dengan kehadiran kakakku. Ada dua orang yang dari penampilannya jelas terlihat gay. Ada yang betul-betul fokus dengan apa yang dilakukannya. Sepertinya ia adalah orang yang sangat teguh imannya.

Dari sekian banyak orang disini ada satu yang menarik perhatianku. Orang ini berusia sekitar pertengahan 40-an, berkulit sawo matang dan berkumis tipis. Penampilan dan pembawaannya seperti seorang pejabat. Tubuhnya terlihat cukup terlatih meski perutnya sedikit membuncit.

Namun untuk orang seusianya, apalagi kalau memang ia seorang pejabat yang terbiasa hidup makmur dan dilayani, bapak ini termasuk cukup menjaga kebugaran fisik dan vitalitasnya. Ia adalah orang pribumi yang – ini hanya sekilas pikiran saja – hal pertama terlintas dalam benakku sepertinya ia cocok kalo dibilang dari sekitaran daerah tapal kuda sepertiku.

Sekilas bapak ini terlihat tak peduli dengan kehadiran kakakku. Namun aku bisa merasakan perhatiannya kepadanya. Di saat-saat awal tadi ia termasuk orang yang melihat ke kakakku. Jadi ia mengetahui kehadirannya. Namun berbeda dengan yang lain, bapak ini hanya melihat kakakku sekilas. Lalu ia kembali fokus dengan kegiatannya. Sama sekali bukan jenis pandangan mata jelalatan.

Namun beberapa kali kulihat setelah itu ia melihat ke arah kakakku lagi. Lagi-lagi hanya sekilas. Lalu kembali dengan kegiatannya. Begitu seterusnya. Tak terlalu sering namun hal itu dilakukannya secara periodik. Seolah seperti ia memantau kakakku.

Menurutku ini agak aneh. Kalau tertarik, ia akan memandang lebih lama dari hanya sekedar sekilas. Sebaliknya kalau tidak, mengapa ia melakukan itu secara periodik.
Dan ketika kakakku berpindah tempat dan melakukan exercise yang lain, tatapannya berpindah ke tempat yang baru. Jadi jelas kalau bapak ini punya interest tertentu terhadap kakakku.

Yang aneh lagi, cara tatapannya itu seperti tatapan yang penuh keyakinan. Dalam artian, apapun yang diinginkannya dari kakakku, ia merasa yakin pasti akan mendapatkannya.

Juga beberapa kali kulihat ia juga mengetahui reaksi orang-orang yang ada kepada kakakku. Dan sepertinya bapak ini menganggap reaksi mereka itu menarik.

Saat itu aku harus bersikap hati-hati untuk tak menimbulkan kecurigaannya. Dalam dunia spionase dan kontra spionase, mata-mata terbaik adalah mereka yang mampu memantau pihak lawan tanpa terdeteksi. Apabila lawan mengetahui dirinya diawasi, maka bisa dibilang sebagian dari misi kita telah gagal.

Demikian pula dengan diriku saat itu. Aku tak bisa terlalu memperhatikan bapak itu sampai mengundang perhatiannya. Karena aku tak tahu siapa dia. Sementara hubunganku dan kakakku begitu jelas dan tak bisa ditutupi seandainya ia betul mengenal kakakku.

Untungnya bapak itu tak “melihat” diriku. Bahkan sesaat kemudian, dalam waktu secepat kedipan mata secara tak disangka-sangka ia “memberikan informasi tambahan”. Satu hal yang mungkin tak terlihat bermakna bagi banyak orang namun sebenarnya berbicara banyak.

Saat itu kulihat ekspresinya yang memberikan sikap acknowledgement dengan apa yang sedang dilakukan kakakku saat itu pada kegiatan olahraganya. Bukan, hal itu tak ditujukan kepada kakakku (karena ia terlalu fokus dan tak melihat bapak ini). Tapi gesturnya itu lebih ditujukan kepada dirinya sendiri.

Dari itu semua kini aku bisa mengambil beberapa kesimpulan. 1). Bapak ini mengenal kakakku. Gestur acknowledgement-nya itu adalah kuncinya. Ditambah pula dengan sikapnya yang pura-pura tak memperhatikan namun secara periodik memantaunya.

Apapun bentuk perkenalan itu, 2). Perkenalannya sifatnya rahasia. Seandainya kenalan biasa, misalnya ia dosen kakakku, tentu ia akan segera mendatangi dan menyapanya. Toh tak ada yang salah dengan sekedar menyapa mahasiswinya atau kenalannya di tempat umum, terlepas dari penampilan sexy dari gadis yang disapanya itu.

Justru hal itu adalah good excuse. Sementara kalau ia dosen pervert yang diam-diam punya hasrat namun tak berani terang-terangan, atau kalau di dekat situ ada istrinya, pasti ia akan mencuri-curi pandang saat istrinya lengah dan memandangi lebih lama daripada hanya sekedar sekilas.

Jadi jelas bahwa bapak ini tak ingin menunjukkan hubungannya dengan kakakku di tempat umum apalagi sampai diketahui banyak orang.

Tak hanya sekedar mengenal, namun 3). Bapak ini punya interest tertentu terhadap kakakku. Apapun itu, sepertinya bapak ini cukup yakin untuk bisa mendapatkannya. Bahkan mungkin ia malah telah mendapatkan itu.

Ada satu pertanyaan yang masih mengganjal dalam diriku. Yaitu aku tak tahu pasti seberapa besar hal-hal ini berlaku sebaliknya? Bahwa A mengenal B dan punya interest terhadapnya, tak berarti bahwa hal sebaliknya pasti akan berlaku bukan?

Bisa jadi ternyata B sama sekali tak (atau belum) mengenal A. Seperti misalnya, A akan merampok rumah B dan ia tahu persis apa yang dilakukan B sehari-hari. Namun B sama sekali tak mengenal A sampai ia betul-betul telah dirampok.

Tentu jawaban dari pertanyaanku ini hanya bisa kudapat dengan mengamati sikap kakakku. Saat ini tak ada yang bisa kudapat karena ia masih sangat fokus dengan exercise-nya. Sementara itu dari bapak ini rasanya tak ada informasi lain yang bisa kuperoleh lagi. Sehingga akhirnya aku berjalan keluar untuk memesan minuman sambil menunggu kakakku selesai.

Tak lama kemudian selesailah kakakku dengan seluruh programnya hari ini. Ia berjalan menghampiriku sambil mengelap keringat pada tubuhnya dengan handuk kecil. Ia duduk denganku untuk istirahat sejenak. Setelah itu kami berjalan menuju ruang ganti.

Aku sengaja berjalan agak di belakangnya supaya bisa mengamati gerak-geriknya dengan ekor mataku. Karena kami akan berjalan melewati tempat bapak itu berada. Dan, apa yang terjadi sungguh membuat jantungku berdebar kencang.

Karena saat itu kakakku sempat menoleh dan melirik ke arah bapak itu dan juga sebaliknya. Tak lama memang. Mungkin hanya 1-2 detik saja mereka beradu pandang. Sekilas nampak seperti random glancing. Setelah itu ia meneruskan langkahnya ke ruang ganti cewek meninggalkanku yang berjalan ke ruang ganti cowok.

Hal ini nampak seperti hal biasa dimana dua orang tak dikenal secara random saling melihat untuk sesaat. Juga, tak ada perubahan raut wajah kakakku. Namun bagiku ini terasa cukup aneh.

Secara fisik bapak ini tak bisa dikatakan ganteng, atau bertubuh atletis, atau punya sesuatu yang secara visual mampu membuat wanita apalagi gadis muda seperti kakakku untuk menoleh ke arahnya.

Dari sekian banyak orang yang ada, kakakku justru menoleh ke arahnya dan sekilas mereka sempat beradu pandang. Yang jelas, ada komunikasi saling berbalas diantara keduanya meski tak ada satu kata yang terucap.

Jadi kesimpulannya, 1). Kakakku mengenal bapak itu. Sama seperti bapak itu, 2). Kakakku pun juga tak ingin perkenalannya diketahui orang.

Di dalam ruang shower, sambil mandi aku melakukan rekonstruksi semua hal-hal aneh yang barusan terjadi untuk mengambil benang merahnya. Hasilnya sungguh tak membuatku gembira. Karena satu-satunya kemungkinan yang masuk akal yaitu kakakku adalah cewek simpanan bapak itu!

Dan, dengan kesimpulan itu semua keanehan-keanehan di seputaran diri kakakku selama ini jadi masuk akal semuanya.

Dengan menjadi gadis simpanan bapak itu (yang menurut dugaanku adalah pejabat korup dengan kedudukan cukup tinggi), tak heran kakakku bisa mendapat uang berlimpah untuk membiayai kehidupan mewahnya. “Bisnis MLM” itu hanya bikinan saja untuk dijadikan alasan saat ia harus melayani kebutuhan bapak itu terutama kebutuhan di atas ranjang.

Karena itu ia tak pernah melibatkanku atau orang-orang lain. Yang benar sesungguh adalah “bisnis ML”. Namun instead of jual “eceran”, ia jualan secara “grosir” dengan hanya melayani satu orang customer saja yaitu bapak itu. Bisnis MLM yang sesungguhnya tentu butuh waktu lama disamping harus “menarik” banyak orang. Itu juga kalau memang beneran bisnis bukan abal-abal.

Bisa jadi sesekali memang betul kakakku pergi dugem dengan teman-temannya untuk refreshing. Bisa dimengerti dengan statusnya sebagai simpanan seorang pejabat, tentu hal itu kadang bisa menjadikan stress.

Apalagi saat diminta melayani padahal sebenarnya tak terlalu mood. Itu kenapa kadang pakaiannya bau rokok. Atau mungkin bapak itu juga seorang perokok. Disela-sela jeda saat bercinta, mungkin ia banyak merokok.

Dan terjawab juga kenapa ia begitu terobsesi dengan olahraga untuk menjaga tubuh idealnya. Karena sebenarnya dulunya walau ia memang suka olahraga tapi juga gak terlalu tergila-gila amat seperti belakangan ini.

Nah kalo sekarang, karena itu adalah aset utamanya! Disamping juga untuk meningkatkan kebugaran fisiknya sehingga dapat lebih enerjik dalam melayani di tempat tidur. Hal ini masuk dengan karakter dirinya yang, sekali lagi, selalu all-out dan tak mau setengah-setengah dalam mengerjakan sesuatu.

Dan bisa jadi di dunia seperti itu, pasti ada “kompetisi yang cukup tinggi”. Sehingga “modal awal” saja seringkali tak cukup untuk dapat menjadi simpanan tetap pejabat kaya.

Terjawab juga mengapa kakakku tak pernah pacaran dengan cowok seusianya atau bahkan tak pernah terlihat ada niat untuk meladeni mereka yang melakukan pdkt kepadanya. Karena memang sebenarnya statusnya “not available” dengan telah menjadi simpanan bapak itu.

Hal ini klop pula dengan jawaban spontan yang keluar dari mulutnya waktu itu ketika ia bilang tak mau pacaran dulu saat keluarga masih dalam keadaan sulit. Padahal katanya punya penghasilan cukup melimpah dari “bisnis MLM”-nya.

Saat itu juga aku menangkap ada nada sendu dari ucapannya itu. Dengan berpacaran dengan cowok lain, tentu ada resiko ketahuan dan bapak itu bisa marah kepadanya lalu men-stop seluruh aliran dananya yang bergulir selama ini.

Terjawab juga sikap dan gestur bapak itu tadi saat ia pura-pura tak mengenal kakakku dan juga sebaliknya namun sebenarnya diam-diam saling bertukar sapa. Tentu hubungan semacam ini pasti akan dirahasiakan.

Demikian pula sikap confident bapak itu. Di saat mereka yang lain celingukan mencuri-curi pandang, bapak ini telah mendapatkan apa yang menjadi keinginan semua laki-laki itu dari diri kakakku. Setiap saat ia bisa meminta kakakku melepas seluruh bajunya (termasuk pakaian dalamnya yang berharga jutaan itu), untuk lalu melayani dirinya sesuai keinginannya.

Dan, terkait dengan poin diatas itulah mengapa bapak itu berada di tempat yang sama dengan kakakku saat ini. Menurutku pasti mereka janjian. Bapak itu sengaja datang disini untuk menyaksikan langsung betapa tingginya daya tarik seksual gadis simpanannya sehingga menjadi pusat perhatian orang.

Namun mereka semua hanya bisa melihat dari kejauhan. Hanya dia seorang yang punya “full akses” terhadap diri kakakku. Tentu hal itu membangkitkan ego laki-lakinya.

Kakakku sepertinya agak merasa kurang confident dengan settingan ini semua. Namun ia tak berani melawan permintaan bapak itu. Bagaimana pun, kita tak bisa terlalu membangkang dari orang yang membiayai hidup kita, bukan?

Untuk itu ia mengajakku menemaninya. Bagiku ya tak ada pilihan lain. Karena susah untuk menolak permintaannya secara eksplisit dengan alasan yang sama seperti ia tak mampu menolak permintaan bapak itu.

Satu hal yang tentunya diluar dugaan kakakku, ia sama sekali tak mengira bahwa aku, adiknya yang sehari-harinya dianggap agak tolol ini, mampu mempelajari situasi sekitar dan mengamati hal-hal yang mungkin tak terlihat jelas bagi orang kebanyakan. Dan dari itu semua, membuat satu analisa yang tajam dan lugas tentang satu bagian kehidupannya yang selama ini dirahasiakannya.

Sejak aku kecil, di saat-saat pertemuan keluarga, ketika seringnya selalu diabaikan, saat itu aku diam-diam banyak mengamati raut wajah, cara bicara, gestur, bahasa tubuh, dan hal-hal lain yang tak nampak secara eksplisit dari mereka yang ada disitu.

Belakangan setelah agak besaran dikit, aku selalu mampu memprediksi kira-kira apa yang ada dalam pikiran om atau tanteku yang ini atau yang itu. Dan biasanya prediksiku selalu tepat terbukti dari apa yang kemudian diomongkan atau dari sikapnya.

Hal ini tentu sama sekali tak diketahui oleh kakakku. Karena pada saat-saat seperti itu ia terlalu sibuk mendengar puji-pujian dari atau menceritakan prestasi yang dicapainya kepada mereka.

Kemudian, kemampuanku ini makin terasah ketika mengamati berbagai macam orang yang datang ke toko dan berbicara dengan Papa. Juga di sekolah, dan suasana-suasana lainnya. Saat di toko biasanya aku hanya duduk di meja di samping sambil mengerjakan PR sekolahku.

Jadi aku bisa dengan leluasa mengamati orang-orang yang datang. Pernah satu kali ada orang yang tinggal tak jauh dari rumah mengeluh ke Papa dan minta bantuan. Saat itu dalam hatiku aku merasa orang ini bohong. Namun oleh Papa orang itu dikasih uang. Tak lama kemudian, terbukti kalau orang itu memang betul berbohong. Padahal saat itu aku baru berusia 12 tahun.

OK, sepertinya hal tentang diriku tak terlalu menarik untuk diceritakan. Jadi, balik mengenai kakakku…
Ada kalanya tak tahu itu lebih baik dibanding tahu. Karena dengan tahu, maka kini muncul pertanyaan penting yang perlu untuk dijawab… now what?

Dari dulu memang kakakku selalu mendambakan kehidupan mewah. Namun pada kenyataannya, kehidupan keluarga kami sangat jauh di bawah harapannya itu. Oleh karena itu demi mendapatkan kemewahan hidup ia rela menjadi simpanan seorang bapak pejabat dan menggunakan tubuhnya untuk mendapatkan semua idamannya itu.

Dan semua itu dilakukan secara total! Meski dulu ia pernah pacaran, aku cukup yakin ia tak pernah sampai melakukan ML dengan mantan cowoknya itu. Bahkan, melihat karakter kakakku bisa jadi cowok itu juga “tak terlalu dapat banyak” saat itu.

Apalagi itu saat-saat dimana kesempatan berduaan agak terbatas karena cukup banyak orang di rumah. Jadi hampir dipastikan kakakku masih perawan saat kami pindah ke ibukota. Lalu sejak itu ia tak pernah pacaran dengan cowok manapun.

Jadi sepertinya ia bahkan rela memberikan kegadisannya untuk direnggut dan dinikmati oleh bapak itu. Dengan demikian, bapak itu mendapatkan kakakku secara “full package”.

Kini dengan semuanya terkuak lebar (mungkin selebar saat “liang”nya ditembus oleh batang kejantanan bapak itu – sigh), tentu aku merasa kecewa. Kakakku Stefany yang begitu cantik dan sexy serta banyak kelebihan lainnya pada akhirnya rela dijadikan gadis simpanan seorang bapak yang usianya cocok untuk menjadi ayahnya.

Padahal dalam keluarga besar kami selama ini terdapat rasa kebanggaan diri yang cukup tinggi. Mungkin karena asal usul keluarga kami yang merupakan keluarga super kaya di jamannya.

Meski saat bisnis Papa jauh menurun pun, tak pernah sekalipun terbayang kalau hal seperti ini suatu saat akan terjadi. Ini adalah hal yang sangat tabu bahkan merupakan aib menurut standar keluarga kami. Dari sejak dulu, di keluarga besar kami meski ada yang secara ekonomi pas-pasan namun tak ada yang menjadi istri muda, simpanan, atau apa pun namanya itu.

Ditambah pula, kakakku kini menjadi simpanan seorang pejabat yang secara adat dan sosio-kultural sangat berbeda bahkan sebagian diantaranya cukup asing dengan yang selama ini berlaku dalam keluarga besarku.

Seperti misalnya, aku menduga-duga jangan-jangan kakakku ini telah dinikah siri oleh bapak itu. Aku tak terlalu mengerti apa artinya itu namun istilah itu sering kubaca di berita-berita infotainment saat ada artis yang menjadi simpanan seorang pejabat. Satu hal yang tentunya asing dalam keluarga kami.

Tiba-tiba telponku berbunyi…
Kakakku. Rupa-rupanya aku terlalu lama larut dalam pikiranku di dalam, sehingga kini ia telah menunggu di depan. Terdengar nada tak sabar dari dirinya. Well, reality sets in. Buru-buru aku berkemas dan keluar. Bagaimana pun, kita tak bisa terlalu membangkang dari orang yang membiayai hidup kita, bukan?

Saat berjalan keluar, kami melewati bapak itu yang kini sedang duduk dan memainkan gadget-nya. Seperti yang kuperkirakan, mereka tak saling bertegur sapa. Namun aku dapat merasakan interaksi energi diantara keduanya.

Bapak itu lagi-lagi casually menatap ke arah kakakku untuk beberapa saat. Saat itu kakakku memakai blouse warna merah yang biasa tak terlalu ketat dengan bawahan celana putih. Namun blouse itu tak mampu menyembunyikan gundukan payudaranya secara total sehingga membuat keduanya terlihat cukup menonjol di balik kain blouse itu.

Tentu itu cukup membuat penis bapak itu menegang, sambil membayangkan menikmatinya di saat pertemuan berikutnya dengan kakakku, yang kuperkirakan akan terjadi tak lama dari sekarang.

Namun tidak hari ini! Satu poin kelebihan yang mampu kulihat dari bapak itu, terlepas dari apa yang telah dilakukannya terhadap kakakku, orang ini cukup tenang, selalu terukur, dan mampu mengendalikan emosinya dengan baik.

Termasuk mengendalikan nafsu birahinya apabila situasi dan kondisinya tak kondusif. Baginya, lebih baik menundanya di saat yang tepat kemudian “hajar habis-habisan” dibanding buru-buru melangkah namun hasil yang didapat tidak maksimal.

Bapak itu hanya melihat sekilas lalu kembali sibuk dengan gadget-nya. Sampai akhirnya kami berdua meninggalkan tempat itu.

Di dalam mobil aku kembali larut dalam pikiranku. … now what?
Kuakui secara jujur, memang aku sering membayangkan kakakku ML dengan pria-pria yang sebenarnya kurang pantas melakukan itu dengannya.

Namun membayangkan fantasi seksual adalah satu hal, mendapatinya dalam kehidupan nyata adalah hal yang sangat berbeda! Kini aku bagai mendapat “karma” dari apa yang selama ini jadi obyek fantasiku. Di satu sisi, ada niat dalam diriku untuk “meluruskan” hal yang selama ini berjalan tak sebagaimana mestinya.

Namun disisi lain, tak dapat dipungkiri bahwa seluruh biaya hidupku termasuk kuliahku (dan juga kini biaya pengobatan Papa) semuanya berasal darinya, yang tentunya itu didapat dari hasil melayani kebutuhan batiniah bapak itu, terutama di dalam kamar tidur.

Aku tak tahu apakah niatku “meluruskan” itu akan benar-benar dapat meluruskan atau justru malah merusak harmonisasi status quo saat ini, meskipun mungkin semua ini adalah harmonisasi semu. Sementara, kakakku sendiri waktu itu pernah bilang supaya aku sungguh-sungguh fokus ke kuliah.

Biar dia saja yang mencari penghasilan tambahan. Secara tersirat, ia mengatakan kalau dirinya memang mau (atau bahkan memilih) menjalani ini semua. Selain itu, aku juga tak bisa membayangkan apa reaksi Papa ketika mengetahui anak gadis satu-satunya (dan juga anak kesayangannya) ternyata telah menjadi simpanan pria yang seumuran dengannya.

Ditambah dengan segala macam atribut pada diri pria tersebut yang pasti sulit diterima.

Sepanjang sore itu, pikiranku terus berkecamuk di persimpangan jalan antara dua pilihan.
Memilih niat baik namun membuat suasana kacau?
Memilih niat kacau namun keadaan tetap baik?

Sampai akhirnya…
Saat makan malam aku mengatakan sesuatu kepada kakakku.
I chose the dark side.

Bersambung