Agen Bola Terminal Bandar Bola Terpercaya
LAPAKDEWA LAPAKPOKER

Kakakku Sexy Part 1

Part 1Part 2Part 3Part 4Part 5
Part 6Part 7Part 8

Namaku Rico. Mahasiswa, dan salah satu dari sekian banyak manusia yang merantau ke ibukota. Daerah asalku adalah satu kota menengah di bagian timur pulau. Atau sering disebut daerah tapal kuda oleh banyak orang. Tanpa terasa, kini telah 6 tahun lamanya aku tinggal di ibukota negara yang penuh dengan segala hingar-bingar serta drama kehidupan yang begitu beraneka ragam ini.

Pertama kali menjejakkan kakiku disini adalah saat usiaku belum genap 15 tahun. Ketika aku dan kakakku dikirim oleh Papa untuk meneruskan pendidikan kami di ibukota. Saat itu aku baru akan masuk kelas 3 SMP. Sementara kakakku, yang juga merupakan saudara kandungku satu-satunya, akan masuk kelas 3 SMA. Usia kami terpaut hampir tepat 3 tahun. Kami lahir di bulan yang sama dengan tanggal selisih beberapa hari.

Di saat-saat awal kami tinggal di rumah Tante, sepupu jauh dari Papa. Dulunya keluarga tanteku agak kekurangan dan mereka sering dibantu oleh kakek dan papaku. Mungkin karena itu maka tanteku langsung menyanggupi untuk menerima kami. Apalagi kini mereka sangatlah berkecukupan bahkan jauh melebihi keluarga kami.

Namun rupanya lain dulu lain sekarang. Saat-saat awal, mereka sekeluarga mulai dari tanteku, suaminya, dan anak-anaknya menerima kami dengan baik dan ramah. Namun hal itu hanya berlangsung beberapa bulan saja.

Setelah itu tanteku jadi sering memarahi kami untuk urusan sepele. Sementara anak-anaknya yang usianya jauh lebih muda dibanding kami juga sering mencari gara-gara lalu mengadu ke orangtuanya.

Yang lebih parah lagi, situasi jadi bertambah sulit karena diam-diam suami tanteku tergiur oleh kecantikan dan daya tarik kakakku. Di usianya antara 17-18 tahun kakakku ibarat bunga yang baru tumbuh mekar sempurna. Di usianya yang 40 tahunan, sepertinya si oom ini sedang memasuki masa puber kedua laki-laki.

Sementara tanteku di usia yang sama sedang memasuki masa-masa krisis bagi seorang wanita. Secara fisik, tentu agak challenging untuk bersaing dengan gadis usia remaja dalam hal daya tarik. Tanpa berupaya kesana sedikitpun, seringkali kehadiran kakakku membuat si oom jadi sexually attracted kepadanya.

Apalagi kita tinggal serumah. Tentu ada saat-saat dimana interaksi terjadi kerika kakakku memakai pakaian tidur atau daster yang agak tipis atau juga baju rumah yang membuatnya terlihat sexy tanpa bermaksud untuk tampil sexy apalagi menggoda. Terlebih, memang kakakku punya “asset”.

Sejauh yang kutahu memang tak pernah terjadi si oom melakukan tindakan yang nyata ataupun pendekatan secara eksplisit seperti memaksa atau merayu kakakku. Namun dari sikapnya selama ini terutama cara pandang dan sorot matanya jelas menunjukkan ketertarikan kalau tak ingin disebut nafsu birahi.

Hal ini tentu juga dirasakan oleh tanteku. Sebagai wanita paruh baya dan seorang istri, tentu ia lebih sensitif akan hal-hal seperti ini dibanding orang lain. Bahkan hal yang tak ada pun bisa “diada-adakan” dan dicemburuin setengah mati.

Satu hal yang pasti, ia tak pernah membiarkan suaminya lama-lama dengan kakakku. Apalagi sampai sendirian berdua di rumah. Sebenarnya hal ini bagus juga buat kami. Karena dengan demikian kakakku jadi lebih aman.

Soalnya aku pun kadang juga agak kuatir kalau-kalau si oom sampai lupa daratan lalu terjadi hal-hal yang tak diinginkan. Tentu pihak perempuanlah yang nantinya akan menanggung kerugian. Termasuk aku, sebagai adik laki-lakinya. Paling tidak, tentu korban perasaan saat kakak perempuan kita dijadikan permainan oleh laki-laki yang bukan pasangannya.

Well, apapun itu, yang pasti situasi jadi kurang kondusif dimana “perang dingin” dan prasangka selalu terjadi tiap hari. Ditambah dengan sikap marah-marah tante kepada kami. Makin lama kata-kata yang keluar dari mulutnya semakin menyakitkan hati.

Puncaknya, malam itu tante dan kakakku saling “berbalas kata”. Gara-gara tante yang memarahi kakakku karena urusan sepele. Karena tak merasa bersalah, kakakku membela diri. Hal itu membuat kemarahan tante jadi meluap. Lalu keluarlah kata-kata yang intinya mengatakan “kalo kayak gini terus lama-lama kakakku akan jadi seorang pe*ek”.

Tak terima dikatakan begitu, kakak mengatai balik yang rupanya sangat menyentuh ego tante. Puncaknya, tante menelpon papa. Intinya, kami berdua disuruh keluar dari rumahnya dalam waktu 1×24 jam. Hanya karena mengingat hubungan saudara saja maka kami tidak langsung diusir malam itu juga.

Setelah sempat tinggal di hotel melati beberapa hari, untungnya kami akhirnya bisa dapat rumah kontrakan. Untungnya juga, saat itu kakakku baru saja melewati ultah-nya yang ke-18. Sehingga secara teknis telah dianggap dewasa dan bisa menandatangi kontrak.

Itupun juga pemilik rumahnya mulanya curiga. Dikiranya kami lari dari rumah atau sedang bermasalah. Hanya setelah berbicara dengan papa lewat telpon saja akhirnya ia percaya dengan keadaan kami yang sesungguhnya.

(Saat kami tinggal di hotel melati itu juga ada beberapa kejadian menarik dimana keberadaan kami terlihat menyolok, terutama kakakku, yang mana mengundang perhatian berlebih dari penjaga hotel dan terutama para tamu lainnya yang kebanyakan laki-laki. Mungkin hal ini akan kuceritakan di lain waktu).

Sejak itu, kami tinggal berdua selama bertahun-tahun di rumah kontrakan tersebut.

Kalau kejadian diputar ulang dan dilihat secara obyektif, baik oom dan tanteku sebenarnya tak bisa disalahkan juga. Tak dapat dipungkiri kehadiran kami di dalam rumah mereka membuat suasana sehari-hari keluarga mereka berubah.

Sehingga solusi terbaik bagi semuanya memang dengan keluarnya kami dari rumah mereka. Meskipun hal itu cukup berat bagi kami berdua yang masih berusia muda. Apalagi sebelumnya kami harus keluar dari rumah dan tempat tinggal kami berasal.

Meski sumber masalah tak hanya melulu disebabkan oleh seksualitas kakakku, tak dapat dipungkiri hal itu merupakan faktor yang cukup berpengaruh. Sebagai seorang laki-laki muda, aku sedikit banyak dapat memaklumi gejolak dalam diri si oom terhadap kakakku.

Apalagi diantara mereka tak ada hubungan darah. Adanya pertalian keluarga adalah karena ia menikah dengan tanteku. Meski aku memahami namun bukan berarti aku menyetujui sikapnya. Apalagi kalau sampai terjadi affair beneran dengan kakakku (amit-amit aja kalau hal itu sampai terjadi!).

Khusus tentang kakakku, bahkan aku sebagai adiknya pun juga sedikit banyak merasakan dan menyadari daya tarik kewanitaannya yang cukup kuat terpancar dari dirinya. Sejak kecil dulu, banyak kerabat, kenalan orang tua atau bahkan tak jarang orang yang berpapasan dengan kami menyampaikan pujiannya terhadap kakakku sebagai seorang gadis cilik yang cantik dan menawan kepada orangtuaku.

Aku yang selalu tinggal bersamanya juga merasakan perkembangan dirinya yang berangsur tumbuh menjadi seorang gadis cantik. Saat ia berusia 16 tahun, kakakku telah menjelma menjadi gadis muda dengan wajah cantik dan tubuh yang begitu indah. Sejak itu apabila keluar bersamanya, kudapati banyak orang yang memalingkan wajah mereka ke arahnya terutama kaum laki-laki.

Paras mukanya memang secara alamiah sungguh cantik dan elegan terutama bagi mereka penggemar tipe oriental. Bahkan menurutku ia tak kalah cantiknya dengan artis-artis Korea Jepang atau Mandarin, ditambah… kakakku tak pernah melakukan operasi plastik baik di wajah ataupun tubuh. Sebagai gadis keturunan Tionghoa dari suku Hakka, tentu kulitnya putih bersih. Tubuhnya cukup proporsional, dengan tinggi 165 cm dan postur tubuh langsing.

Sementara pinggulnya cukup padat berisi apalagi kalau memakai celana pendek. Dan, another major plus point darinya (mohon maaf ya Cie kalau adikmu ini bicara terus terang): payudaranya lumayan padat berisi namun kencang dan tak turun. Ukuran bra yang dipakainya 34C. Jadi kalau memakai baju atasan agak ketat (satu hal yang cukup sering dilakukannya) tentu hal itu cukup menggoda pandangan kaum lelaki.

Aku masih ingat saat itu, ketika kami masih tinggal di rumah lama kami. Saat itu ada pekerja honorer, seorang pemuda setempat yang membersihkan halaman rumah. Saat itu pas kebetulan kakakku keluar ke halaman samping untuk mengambil handuk yang dijemur disitu.

Tempat tak jauh dari cowok itu berada. Begitu melihat kakakku, ia terdiam melongo dan terpana menatap kakakkku. Sementara pekerjaannya seketika terhenti. Usia cowok itu kelihatan lebih dewasa dibanding kakakku. Mungkin sekitar 18 tahunan. Sementara kakakku saat itu 16 tahun.

Memang saat itu pakaian yang dikenakan kakakku mungkin agak terlalu sexy. Ia memakai celana pendek dan kaus tanktop yang agak pendek dan ketat. Kaus pendeknya itu tak sanggup menutupi bagian pinggangnya memuat bagian pusarnya kelihatan.

Bagian tengahnya agak naik keatas disebabkan karena ukuran payudaranya yang lumayan menonjol. Kulitnya yang putih mulus terlihat begitu nyata terutama pahanya. Sementara dadanya begitu menonjol dan menggiurkan dengan belahan atasnya sebagian terlihat. Mungkin the view is too much for him.

Sebagai pemuda pinggiran yang baru pertama kalinya melihat gadis keturunan Tionghoa belia yang putih cantik sexy dengan pakaian minim di depan matanya. Tentu hal ini membangkitkan gejolak muda dan gairah laki-lakinya. Tatapan serta ekspresi wajahnya kepada kakakku saat itu sungguh priceless! Tatapan penuh gairah birahi laki-laki pada puncaknya!

Kejadian itu tak terlupakan olehku sampai kini. Saat pertama kali aku ngeh akan tingginya daya tarik seksual kakakku serta reaksi orang sebagai akibatnya. Kini, setelah tujuh tahun berlalu, ia masih tetap selalu menjadi pusat perhatian laki-laki.

Daya tariknya tak hanya mengandalkan modal awal wajah cantik dan tubuh indah saja. Namun ia juga rajin menjaganya. Tak lama semenjak kuliah, ia selalu berolahraga secara rutin di fitness centre yang cukup punya nama. Bahkan kadang mungkin menurutku agak too much ya.

Disamping itu juga ia selalu menjaga pola makannya. Sehingga bagian perutnya sama sekali rata tak ada lemak sama sekali (meski, ehem, bagian tubuh tertentunya terlihat cukup menonjol).

Kalau kulihat, boleh dibilang pancaran kecantikan dan daya tarik seksualnya justru semakin meningkat seiring dengan bertambahnya usia. Pembawaannya jadi semakin matang dan lebih percaya diri. Tubuhnya jadi semakin indah karena terlatih dan terawat. Juga ia jadi semakin berani tampil sexy (apalagi semenjak kuliah).

Bahkan kadang aku merasa ia seperti sengaja menggoda kaum lelaki dengan pakaian-pakaiannya yang cukup menunjukkan lekuk liku keindahan tubuhnya.

Lalu bagaimana dengan aku, sebagai adik laki-lakinya yang tinggal serumah dengannya? Jujur saja, bahkan aku pun kadang sering dibuat “senat senut” oleh kakakku ini. Di dalam rumah saat kita sendirian, pada umumnya ia cukup cuek dalam berpakaian. Dari celana pendek dan kaus tanktop sampai daster tidur yang tipis menerawang, menjadi pemandangan sehari-hari bagiku.

Kadang sepulang dari kuliah (dan belakangan setelah ia kerja), rok / celana bawahannya dilepas. Ia seliweran atau duduk lama nonton TV hanya dengan cd di bagian bawah dan pakaian atasan lengkap seperti itu. Sikapnya biasa saja seperti tak ada yang aneh.

Saat menjelang tidur, kadang piyamanya terjuntai sampai ke pangkal paha tanpa bawahan. Kalau pas duduk seringnya cd-nya kelihatan and she doesn’t bother that. Sikapnya biasa-biasa saja. Saat selesai mandi, kadang aku melihat dia keluar dengan tubuh hanya terbalut handuk saja.

Ketika malam menjelang tidur cukup sering aku melihat ia braless di balik daster / piyama / baju kausnya. Membuat payudaranya yang memang lumayan padat berisi itu bergoyang-goyang di baliknya. Kadang malah puting payudaranya terlihat menyembul keluar.

Meski kadang aku suka penasaran membayangkan bagaimana seluruh tubuhnya saat ia fully naked, namun aku tak pernah melakukan tindakan atau bahkan membayangkan berbuat tak senonoh dengannya. Anyway, dia adalah kakakku sendiri.

Juga, jujur kuakui, sebagai kakak yang 3 tahun lebih tua dariku, aku sungguh kalah wibawa dengannya dalam segala hal. Selain itu, ia punya segala kelebihan dibanding diriku. Sejak kecil semua orang selalu memuji-muji kecantikannya ditambah dengan pembawaannya yang cenderung disukai banyak orang, juga prestasinya di sekolah cukup cemerlang, dan bla bla bla.

Sebaliknyanya aku, wajahku biasa-biasa saja dan kulitku tak seputih dia. Aku cenderung agak kuper dan tak suka bersosialisasi. Prestasiku di sekolah biasa-biasa saja bahkan aku cenderung suka melamun dan larut dalam duniaku sendiri. Dalam pertemuan keluarga, kakakku selalu dibicarakan dan menjadi pusat perhatian semua orang.

Sementara aku biasanya hanya diam menyendiri di tepi. Kadang aku justru lebih suka duduk di luar dan bermain-main dengan anjing selama berjam-jam. Biasanya, tak ada orang yang notice ketidakhadiranku sampai saat menjelang pulang. (Maaf, kok jadi curhat ya).

Balik ke topik, dengan keadaan psikis seperti itu, boro-boro perbuatan nyata.. aku bahkan gak punya nyali untuk berfantasi membayangkan aku berbuat sesuatu dengan dia. Namun tak dapat kupungkiri ada pikiran lain yang secara konstan menyeruak dalam diriku dan semakin lama semakin kuat intensinya.

Aku jadi semacam “little cuckold” dengan suka membayangkan kakakku “digituin” oleh orang-orang yang kujumpai di dunia nyata yang terlihat mupeng kepadanya. Entahlah apakah ini adalah pelampiasan dari hasrat terpendam yang kutahu pasti tak akan terwujud.

Atau ini adalah akibat terlalu seringnya aku melihat reaksi orang-orang di dunia nyata terhadap kakakku, atau karena tingkat kepercayaan diri yang amat rendah dalam diriku, atau kombinasi semuanya.

Yang pasti, ada rasa kepuasan tersendiri saat aku masturbasi membayangkan kakakku berhubungan seksual dengan orang-orang tak dikenal itu. Semakin rendah / tua / tak pantas / tak sepadan orang itu dengan kakakku, justru semakin nikmat rasanya.

“Siang Koh. Bisnis lancar?” beberapa anggota organisasi preman setempat tiba-tiba masuk ke dalam toko kami dan menghampiri Papaku yang duduk di belakang meja.

“Ya lumayanlah,” jawab Papa sambil mengeluarkan segepok uang dari laci meja.

“Makasih Koh,” kata mereka yang kemudian berjalan keluar.

“Koh, minta ini satu ya,” kata salah seorang.

Tanpa menunggu jawaban langsung diraih dan dibawanya satu kaleng cat warna krem.

Demikianlah kejadian rutin yang telah berlangsung lama. Setiap Jumat siang mereka selalu datang minta uang keamanan. Bagi pedagang / pengusaha kecil seperti Papaku ini, kepastian berusaha sangatlah penting. Untuk itu, ia tak segan mengeluarkan uang ekstra.

Toh selama ini cuan yang ada masih mampu meng-cover itu semua. Suka tak suka, stigma “pedagang Cina” terlanjur kental dengan harta melimpah sehingga sering jadi sasaran permintaan sumbangan sana sini, baik yang resmi, semi resmi, atau uang keamanan seperti ini.

Keluarga kami bukanlah kelompok elit atau orang super kaya di kota kami. Namun kami termasuk kelompok menengah ataslah disini. Kami punya toko di jalan utama yang harga tanahnya sekarang cukup tinggi. Selain itu, kami tinggal di rumah yang cukup besar yang letaknya agak di pinggir kota.

Sehari-harinya aku dan kakakku naik kendaraan antar jemput ke sekolah. Di rumah kami ada dua orang pembantu perempuan. Papa dan Mama bercerai saat kami masih agak kecil. Sesekali kami bertemu Mama yang telah menikah lagi dengan orang Singapura dan sekarang tinggal disana. Sementara sampai sekarang Papa tak menikah lagi.

Keluarga Papaku dulunya adalah orang yang kaya raya disini. Ayah dari kakekku adalah pedagang besar hasil bumi di jaman Belanda dan konon kabarnya adalah orang terkaya di kota ini. Namun sebagian hartanya dirampas ketika Jepang masuk.

Ketika jaman proklamasi, ia adalah simpatisan kaum pejuang. Sejak dulu memang ia banyak berteman dengan semua golongan termasuk kalangan pejuang. Saat itu ia memiliki banyak rumah sepanjang jalan utama dan banyak dari rumah-rumah tersebut disumbangkan ke pemerintah setempat yang lalu dijadikan kantor pemerintahan dan markas militer.

Setelah meninggal, harta dan usaha dibagi ke anak-anaknya yang sebagian jatuh ke kakekku. Kalau menurut cerita yang kudengar, kakekku hanya mewarisi sebagian kecil saja sementara sebagian besar jatuh ke kakaknya yang paling sulung. Kini, toko yang sekarang dijadikan tempat usaha oleh Papa adalah sisa rumah yang diwariskan dulu.

Dulu waktu kecil aku sering mendengar kata-kata kakek,” Kondisi sekarang ini sebenarnya nggak jauh beda dengan jaman Belanda. Kalau dulu golongan pertama adalah orang-orang Belanda, golongan kedua adalah kita-kita ini orang Timur Asing, Arab, Yahudi dan dll, golongan ketiga adalah kelompok pribumi.

Sekarang, golongan pertama adalah pejabat-pejabat pribumi yang berkuasa. Kita masih tetap menjadi golongan kedua. Golongan ketiga masih sama yaitu mayoritas orang-orang pribumi yang tidak mampu. Kita adalah golongan menengah yang tidak punya akar kuat ke bawah juga tak punya sandaran kuat ke atas.

Seringkali kita jadi sasaran kebencian kalangan bawah. Sementara bagi orang kalangan atas, kita hanya dijadikan alat saja. Mereka membela kita selama kita ada manfaatnya. Disaat sudah tidak berguna lagi, mereka tak peduli dengan nasib kita. Oleh karena itu, supaya bisa eksis kita harus kuat secara ekonomi disamping membina hubungan baik dengan semua pihak. Apabila kita kekurangan maka kita tidak akan dihargai bahkan dihina oleh semua orang.”

Masa krusial bagi keluarga kami adalah saat tahun 60-an ketika paham komunis tumbuh berkembang di kota-kota kecil dan menengah, dan awal Orde baru. Karena saat itu keluarga kami diincar oleh kedua belah pihak.

Saat kaum komunis mendapat angin, mereka memusuhi orang-orang seperti kami yang dianggapnya kaum kapitalis. Selain itu juga mereka memusuhi banyak pemuka-pemuka desa yang memiliki tanah dan sawah luas yang beberapa diantaranya adalah relasi bisnis kakekku.

Setelah Orde Baru berkuasa, situasi berubah 180 derajat. Kaum komunis yang dulunya memburu jadi balik diburu. Pada jaman itu keluarga kami kembali dicurigai sebagai antek komunis karena ras kami sebagai orang-orang Tionghoa. Meski mungkin ujung-ujungnya sebenarnya adalah urusan harta saja.

Untungnya sebelumnya kakek menolong beberapa pemuka-pemuka desa yang cukup punya pengaruh saat mereka dulu dikejar-kejar kaum komunis. Dan kini mereka balik menolong kakek. Pada akhirnya keluarga besar kami tak pernah diganggu-ganggu lagi apalagi setelah kakek memberi sumbangan sukarela kepada penguasa setempat.

Jaman akan selalu berubah. Demikian pula dengan peruntungan kita. Hal itu terjadi pada keluarga kami. Sejak dari masa ayah kakekku sampai ke ayahku sekarang ini, boleh dikata terjadi trend yang menurun bagi peruntungan ekonomi keluarga kami.

Kakekku bisa dibilang termasuk cukup kaya, namun kalah jauh dibanding ayahnya. Demikian pula dengan ayahku yang cukup lumayan namun beda level dibandingkan kakekku. Belakangan, dengan jaman yang serba digital dan online serta adanya perubahan lalu lintas di jalan tempat toko kami, usaha toko konvensional Papa semakin lama semakin menurun. Hal ini sangat mengubah gaya hidup keluarga kami.

“Koh, mana uang setorannya!” beberapa orang anggota organisasi preman yang sama masuk ke dalam toko dan berbicara dengan nada setengah membentak kepada Papaku yang duduk di belakang meja. Sikap mereka kini jauh berbeda dibanding dulu ketika kami membayar secara rutin.

“Jangan bilang bisnis sepi lagi ya Koh. Itu bukan urusan kita.”

“Wah tapi memang bisnis belakangan ini sepi banget. Hari ini aja ga ada satu pun orang beli.”

“Kita ga mau tahu!” kata pimpinannya sambil menggebrak meja.

“Pokoknya mana uangnya!”

“Ok,” jawab Papa sambil pasrah. Lalu dikeluarkannya segepok uang dari lacinya.

“Lho apa-apaan ini! Masa jumlahnya cuman segini! Engkoh jangan main-main dengan kelompok kami ya!”

“Memang saat ini adanya cuman segitu. Lihat nih, ga ada duit sama sekali, cuman recehan,” kata Papa sambil membuka lebar lacinya.

“Khan bisa ambil duit dari ATM. Atau Engkoh pengin kita obrak-abrik tempat ini!”

“Atau… kita gebukin anakmu itu,” kata yang lain sambil menunjuk tangannya ke arahku. Aku yang saat itu berumur 14 tahun sungguh ketakutan.

“Hahahaha… kayaknya anakmu ini penakut ya. Ayo kamu berani ga berkelahi,” kata salah seorang menantang dengan tatapan mengejek ke arahku.

“Pasti ga berani lah. Wong tampangnya kayak banci penakut gitu.”

“Hahahaha..”

Saat itu terjadilah hal yang tak kami harapkan. Karena tiba-tiba kakakku muncul dari dalam. Rupanya ia tak sadar adanya kehadiran orang-orang itu disini.

“Eh, liat tuh.”

“Wow!”

“Suitt.. suitt.”

“Stefany, kamu masuk!” kata Papa.

Namun terlambat!
Salah seorang dari mereka telah berjalan mendekati kakakku.

“Ini anaknya ya Koh? Wah ternyata cantik juga ya anaknya. Heheheh.”

“Bodinya sexy lagi.”

“Dan dadanya montok.”

“Hahahaha,” mereka berlima tertawa terbahak-bahak. Mata mereka berlima menatap sekujur tubuh kakakku seperti menelanjanginya.

Saat itu kakakku memakai pakaian yang biasa saja sebenarnya. Celana selutut dan baju kaos biasa. Namun memang wajahnya yang cantik dan kulitnya yang putih tak dapat ditiadakan daya tariknya.

Juga kaosnya, meski tak terlalu ketat namun tak dapat menyembunyikan payudaranya yang memang lumayan berisi. Tentunya hal ini membuat orang-orang yang sebenarnya berjiwa bejat itu jadi semakin liar.