Agen Bola Terminal Bandar Bola Terpercaya
LAPAKDEWA LAPAKPOKER

Istri Binal Part 11

Part 1Part 2Part 3Part 4Part 5
Part 6Part 7Part 8Part 9Part 10
Part 11Part 12Part 13
Bukkake dan Ekshibisionis Pertama

Tak perlu menunggu waktu lama, Citra dan Prawoto segera bergegas ke mata air di kaki bukit. Dengan hanya mengenakan daster tipis hasil pinjaman dan sendal jepit, Citra mengikuti arah lelaki kurus itu melangkah. Keluar dari kawasan desa dan masuk jauh menembus hutan. Sekitar 20 menit perjalanan, kolam pemandian itupun segera terlihat.

Kepulan kabut terlihat tipis, mengambang santai di permukaan tanah. Hangat, pengap dan tercium bau pekat yang seketika membuat dada Citra sedikit berat dan terasa sesak.

“Baunya menyengat banget ya Bang…”

“Ini pemandian air panas mbak… Karena mengandung belerang jadinya agak-agak pengap gini…” Jelas Prawoto sok pintar,

“Kalo mbak sering mandi di air belerang gini, badan mbak bakal selalu sehat loh… Semua penyakit dijamin bakalan cepet minggat deh…”

“Wah… Cocok tuh buat kamu Bang…”

“Loh kok cocok…?”

“Iya… cocok buat ngobatin otakmu yang keseringan mesum… Hihihi….” Canda Citra.

“Siaaalaaannn….Berani ya nghina aku…Nih rasain kemesumanku… ” Balas Prawoto sambil meremas payudara citra keras-keras.

“Ampuun bang.. Ampuuunn… Hihihihi…”

Area pemandian itu terdiri dari banyak kolam alami berbagai ukuran. Dan kesemuanya merupakan sumber air panas.

“Di kolam sebelah sana aja gimana Bang… ?” Usul Citra menunjuk ke sebuah kolam yang agak jauh namun agak lebih tertutup daripada kolam-kolam lainnya.

” Disana banyak bebatuan besarnya.. Jadi sepertinya lumayan aman…”

“Aman dari apaan… Emang disini kampung perampok….”

“Ya aman aja Bang… Aman kalo nanti tau-tau kamu minta aku buat ngelakuin hal yang mesum-mesum… Hihihihi…”

“Hmmm… Mancing-mancing yaaa…”

“Hihihi…

“Woiy Woto.. Siapa tuh…?” Celetuk salah seorang penduduk desa yang juga sedang berendam di kolam pemandian.

“Kenalin dong…” Balas penduduk lainnya.

” Bening bener…”

“Suuuit suiiiittt…. Ayu tenan Woto… ”

“Badannya suuemooookk tenaaaann…. Hahahaha….”

Seketika pemandian kolam air panas itu langsung riuh renyah, membahas wanita yang diajak mandi oleh Prawoto.

“Bang… Kamu terkenal juga ya disini….” Tanya Citra.

“Hehehe.. Maklum… Kalo orang ngganteng ya gini…”

“Iddiiiiihhhh….. Tapi kok disini banyak orang ya…?” Heran Citra.”Trus mereka berendamnya campur gitu…?”

“Namanya juga pemandian umum mbak… Ya wajarlah rame gini…” Jelas Prawoto,

“Memangnya kenapa mbak kalo campur….? Malu yaa…? Hehehe….”Goda Prawoto

“Hmmm…. Enggak malu sih…. Cuman nggak biasa aja mandi bareng orang laen…”

“Halah… Tenang aja mbak…. Mereka udah biasa kok mbak mandi bareng-bareng… Yah anggep aja saudara… Hehehe…” Jelas Prawoto,

“Yuk mbak… Buruan kesana… Pengen cepet-cepet nyebur…”

Cepat-cepat Prawoto lalu menggandeng tangan Citra, melewati beberapa kolam air panas yang sudah terisi. Dan setibanya di kolam tujuan, tanpa rasa malu sedikitpun, lelaki kurus itu segera melucuti semua pakaiannya dengan santai dan menggantikannya dengan sebuah celana kolor ketat yang terlihat kekecilan. Tak peduli dengan banyaknya orang yang bisa saja melihat ketelanjangan dirinya.

Benar juga. Di sekitar tempat Citra berada, banyak juga pasangan yang mandi secara berkelompok. Tua muda,anak-anak hingga dewasa, pria wanita, semua mandi dengan tenang. Seolah telah terbiasa, tak satupun dari mereka yang terlihat malu-malu untuk memperlihatkan tubuh mereka.

Anak anak kecil berlarian kesana kemari dengan riangnya, para remaja saling becanda sambil melempar guyonan-guyonan segar, para orang tua yang sibuk menggosip atau mencuci pakaian. Semua terlihat begitu biasa, bercanda dan tertawa, tanpa memperdulikan rasa malu diantara mereka.

“Ayo sini… Nggak usah malu-malu… Aku kenal mereka semua kok mbak…” Ucap Prawoto meyakinkan.

“Itu yang disana Pak Paul, Pak Usep, Pak Panjul ama Pak Yusup… Yang disana Diki, Sopran, Kirun, Projo ama Raden…” Absen Prawoto,

” Trus yang disana Mbok Murti, ama anaknya Siti, Mbok Sari ama adiknya Neng Rosa… Trus itu Yuli, Mutya, Surti….”

“Iya iya.. Udah …. Stop absennya… Lama-lama kamu kaya petugas sensus penduduk aja..”

“Habisan kamu lama bener nyemplungnya… Udah nggak tahan nih….”

“Lah.. mau ngapain..?”

“Mau remes-remes tetekmu laaah…. Hahaha…” Canda Prawoto genit.

“Hihihihi…. Dasar otak mesum…”

“Ayo mbak… Buruan nyemplung…” Ajak Prawoto sambil menciprat-cipratkan air kolam ke arah Citra.

“Hmmm… Sepertinya… Air kolamnya panas deh Bang.. ”

“Hadeeehhh… Masih panasan tubuh kamu kok mbak… Yuk buruan masuk sini… Ntar keburu siang nih…”

“Emangnya kenapa sih kalo siang….”

“Khan aku mau buka warung cantiiiikk… Harus jualan buat menyambung hidup….”

“Oalaaahh… Hihihi….”

“Yaudah gih buruan ganti dasternya…”

“Iya deh…”

“Bang… Disini nggak ada kamar ganti ya…?” Tanya Citra malu-malu.

“Hahahahaha…. Ya nggak adalah Neng… Wong ini khan pemandian alami… ” Jawab Prawoto sambil menjelaskan,

“Kalo mau, Mbak bisa ganti dibalik batu besar itu….”

Tak ada jalan lain, akhirnya Citra menuruti saran Prawoto. Ia segera berjalan ke balik batu yang ada di samping bibir kolam. Dengan perasaan kikuk, Citra celingak-celinguk memperhatikan situasi sekelilingnya. Namun tetap saja ia tak menemukan lokasi yang lebih baik untuk ia pakai sebagai tempat ganti.

“Yaudahlah… terpaksa ganti disini…” Kata Citra sambil mulai melonggarkan ikatan kain dasternya dan menggantinya dengan kain sarung.

Namun, begitu ia akan melepas kain daster yang ia kenakan, mendadak suasana pemandian yang semula hiruk pikuk menjadi hening. Sunyi karena tatapan hampir semua mata para pria yang ada disekitar Citra, menatap tajam kearahnya.

Ternyata, batu itu tak cukup besar. Walau tingginya sampai sepinggang orang dewasa, batu itu tetap saja tak mampu menyembunyikan tubuh Citra dengan sempurna. Mendadak sebuah perasaan aneh muncul dari dalam hatinya.

“Kok aku jadi pengen memperlihatkan keseksian tubuhku ke mereka ya…?” Batin Citra yang tiba-tiba merasakan sebuah sensasi aneh muncul dari dalam dirinya. Antara was-was, deg-degan, penasaran, hingga takjub, semua bercampur menjadi satu.

“Woto… Bantuin tuh… Si Neng kelihatannya malu-malu ganti bajunya… ” Celetuk salah seorang bapak-bapak yang sedari tadi memperhatikan Citra.

“Hehehehe… Biarin aja pak.. Dia udah gedhe ini… udah bisa ganti baju sendiri…” Jawab Prawoto santai.

“Iya neng… Gausah malu… Anggep aja kita disini satu saudara… “Sahut salah satu dari mereka

“Betul sekali itu Neng… Lagian… Kami semua sudah biasa liat perempuan telanjang…”

“Aaaah… Yaudahlah… Masa bodo kalo mereka melihat ketelanjanganku….” kata Citra lagi dalam hati sambil bergerak kesamping batu besar, sengaja menampakkan dirinya dihadapan mata-mata penuh rasa penasaran itu.

Dengan gerakan super lambat, Citra lalu menaikkan kain daster tipisnya. Sambil melirik kearah para lelaki disekelilingnya yang sangat berharap-harap cemas untuk dapat segera melihat ketelanjangan tubuhnya.

“Bapak-bapak sekalian… Silakan nikmati keindahan tubuhku….” Ucap Citra dalam hati sambil tersenyum genit kearah mereka.

Pelan-pelan, bawahan daster itu naik dari betis hingga setinggi lutut. Aksi nakalnya itu sontak membuat detak jantung Citra meningkat, berdetak lebih cepat dari biasanya.

“Lucu sekali perasaan ini. Deg-degannya membuat geli di ulu hatiku….” Kata Citra yang merasa begitu takjub dengan niatan untuk menelanjangi dirinya sendiri.

Setelah itu, bawahan daster Citra naik lagi hingga setinggi paha, memamerkan kulitnya yang putih mulus. Membuat muka wanita cantik itu mulai bersemu merah. Detak jantungnya pun terasa jauh lebih cepat lagi.

“Kulitku merinding…. Dan putingku mengeras…” Kata Citra yang perlahan mulai merasakan gelombang birahinya muncul ditengah-tengah ketelanjangan dirinya.

Semakin menggoda, Citra lalu menaikkan lagi bawahan kain dasternya hingga setinggi pusar, memamerkan vagina gundul dan pantat bulat indahnya. “Wuooohh…. Aku sudah mulai telanjang…” Kata Citra lagi dengan nafas mulai tak beraturan. Wajahnya mendadak terasa panas, dan detak jantungnya menjadi sangat tak beraturan. Vaginanya pun mulai membecek dan berdenyut-denyut.

“Tinggal satu gerakan lagi… Mata lelaki-lelaki mesum itu bisa menikmati ketelanjangan diriku…” Kata Citra dalam hati yang entah kenapa, tiba-tiba tersenyum sambil merasakan sensasi bertelanjang.

Sambil menghirup nafas dalam-dalam, Citra lalu menyelesaikan gerakan terakhirnya. Wanita cantik itu lalu mengangkat kain daster lusuhnya hingga melewati kepala. Membebaskan kain penutup tubuhnya yang terakhir, untuk memamerkan keindahan payudara besarnya. “Pasti wajahku sekarang seperti kepiting rebus saking malunya..” Tutup Citra sambil melipat daster itu dengan gerakan super lambat.

Tak disitu saja, Citra tiba-tiba ingin menggoda nafsu para lelaki itu lebih jauh lagi. Sambil membelakangi penduduk desa itu, ia sengaja menjatuhkan dasternya.

“Yah jatuuuhh…” Kata Citra pura-pura kaget. Lalu tanpa menekuk lututnya ia membungkukkan badannya kedepan dan memamerkan celah vagina basahnya secara frontal kearah penduduk desa.

“Suit suit… Seksinyaaaa…. “Celetuk salah seorang lelaki tak jauh dari tempat Citra berdiri.

“Cantik sekalo woooiyyy… Bikin kolam mandinya makin panas aja….! ” Sahut bapak lainnya.

“Eh mbaak… Memekmu kelihatan tuuh…” Teriak Prawoto lantang, berusaha mengingatkan Citra tentang keteledorannya, “Buruan pake sarungnya mbak…. Sebelum diterkam bandot-bandot tua disanaaa…!”

“Haaa? Kenapa Bang….?” Tanya Citra pura-pura tidak dengar. Alih-alih segera mengenakan kain sarungnya, wanita cantik itu malah berbalik arah dan menanyakan kembali apa yang baru saja dikatakan Prawoto.

“WUUUIIIIHHH…. Teteknya Wooot…. Menggairahkan…” Celetuk salah bapak-bapak yang masih mengawasi Citra dari kejauhan.

“Enak tuh diremes-remes…” Sahut bapak lainnya.

“Woiy-woiy… Sudah….Ayo sana lanjutin mandinya… Dasar wong gebleeek kabeh….” Celetuk Prawoto sambil buru-buru keluar dari kolam pemandian dan merentangkan tangan untuk menutup tubuh telanjang citra dengan tubuh kurusnya.

“Hahaha… Woiy Woto… Masa sama saudara sendiri kontolnya ngaceng…?” Teriak salah seorang bapak sambil menunjuk arah selangkangannya.

Benar saja. Ketika Prawoto keluar dari pemandian, bagian depan celana kolornya menjendol besar, terdorong maju oleh batang penisnya yang sudah keras menjulang.

“Hahaha… Bener… Woto ngaceng tuh…. Hahahaha ” Sambung mereka lagi.

“Hahahaha…. ” Tawa mereka hampir bersamaan

Lucu juga melihat mereka yang walau sudah konak, namun masih mau bercanda.

“Hush hush hush… Geblek kabeh….” Kata Prawoto menimpali,

“Halaaah… Dasar Kutu kampret sok munafik… … Aku berani tarohan kalo kalian semua juga pasti pada ngaceng… HAHAHAHA….” Balas Prawoto sambil berusaha menurunkan penisnya yang sudah terlanjur tegang berdiri. Namun walau sudah berkali-kali ia mencoba menurunkan batang penisnya, tetap saja tonjolan di celana kolornya itu tak kunjung turun.

“Mbak buruan pake kain sarungnya… Nggak malu apa dilihatin ama penduduk kampung…?” Ucap Prawoto sambil terus merentangkan tangannya.

“Eh iya-iya… Bentar…. Aku mau melipat daster dulu….”

“Udaaahh… Nggak usah dilipat… taruh aja diatas batu… toh dasternya udah basah, nggak mungkin nanti bakal dipake lagi…” Saran Prawoto

“Iya bentaran….” Kata Citra yang masih sibuk saja melipat daster basahnya. Melenggak-lenggok seolah kebingungan, tanpa menghiraukan tatapan-tatapan mesum para penduduk desa.

“GILAAAAAA…. AKU TELANJANG BULAT DI TEMPAT UMUM…. “Kata Citra dalam hati seolah takjub akan keberanian dirinya.

Betapa tidak, baru kali ini ia berada ditengah-tengah tempat umum dengan tanpa mengenakan sehelai pakaianpun. Terlebih hampir semua mata lelaki yang ada disini melihat langsung kearah dirinya berada.

“Mbak… Kok nggak cepet-cepet pake sarung sih…? Jangan-jangan….? Kamu memang suka memamerkan tubuh telanjangmu ke orang lain ya mbak…?”

“Iiiihhh.. ngaco deh….” Elak citra.

“Iya… Kamu suka memamerkan tubuh telanjangmu ya mbaaak.. ?” Kata Prawoto sambil menganalisa tubuh Citra.

“Apaan sih…?”

“Tuh lihat… Pentilmu mengeras… ” Ucap prawoto sambil mencubit kedua putting payudara Citra.

“Ini khan gara-gara kedinginan Bang…” kata Citra membela diri.

“Masa…? Kalo kedinginan, lalu ini apa…?” Tanya Prawoto yang tiba-tiba mengusapkan telapak tangannya kearah vagina Citra.

“Kedinginan mah nggak bakal bikin lendir memekmu keluar banyak begini mbak… Kamu horny ya…?”

“Ehh… Eee… Enggak kok…”

“Iya kamu horny ya mbak…? Hehehe… Ngaku aja mbak…. Kamu suka bertelanjang badan sambil dilihatin banyak orang..?”

Tanpa menunggu jawaban Citra, Prawoto buru-buru mengambil daster dan kain sarung Citra, lalu berlari menjauh.

“Kalo nggak mau ngaku, mbak nggak bakalan pulang memakai baju…Hehehe…” Goda Prawoto.

“Baaang… Balikiiinnn…” Teriak Citra yang pura-pura panik. Sambil masih bertelanjang badan, Citra segera berlari-lari mengejar prawoto. Berusaha merebut daster dan kain sarungnya dari tangan tukang sate itu.

Lucu sekali, mereka berdua bertingkah bak anak kecil, saling kejar dan saling tangkap. Prawoto dengan penis tegangnya berlarian kesana kemari, tak peduli jika tonjolan kelaminnya yang menjendol besar itu terlihat oleh penduduk desa. Begitupun dengan Citra, ia sama sekali tak mempedulikan ketelanjangan tubuh indahnya.

Walau masih bersembunyi-sembunyi dibalik bongkahan-bongkahan batu besar, tetap saja tubuh bugil Citra masih dapat terlihat begitu jelas oleh para penduduk desa. Payudaranya yang menjuntai indah, bergoyang berlompatan kesana kemari seiring langkah kakinya.

Vaginanya yang basah, terlihat mengkilap terkena pantulan sinar matahari. Dan pantatnya yang bulat mampu membuat semua mata lelaki yang ada disana menatap tajam tanpa berkedip sedikitpun.

Hingga akhirnya, pengejaran Citra berakhir sebelum ia berhasil mendapatkan apa yang ia inginkan. Telapak kakinya salah menapak di batu yang licin. sehingga mengakibatkan dirinya kehilangan keseimbangan.

GEDEBLUK.

“ADUUUHHH…. ! ” Teriak Citra kesakitan. Tubuhnya berguling, jatuh kecebur ke kolam.

KCEEBBBUUURRR…

Buru-buru Prawoto segera beranjak mendekat kearah Citra jatuh,

“Wah mbak…. Kamu nggak apa-apa…?” Tanya Prawoto panik. Ia tak mengira jika cara bercandanya berakibat fatal.

“Aduh Bang… Kakiku sakit..” Erang Citra sambil menyeka wajah cantiknya yang basah. Sambil meringis kesakitan, wanita cantuk itu terduduk diam di dalam kolam.

“Maaf mbak… Aku nggak ada maksud mencelakai kakimu…” Ucap Prawoto yang buru-buru memeriksa kondisi tubuh Citra yang sudah basah kuyup tercebur ke kolam. Merabai seluruh permukaan tubuh wanita cantik itu.

“AAAAAWWWWW….” Teriak Citra tiba-tiba ketika tangan Prawoto menyentuh pergelangan kaki kanannya, “SAKIT BAAANG….”

“Sepertinya kaki kamu terkilir mbak…. Keseleo…”

Benar saja, ketika Prawoto mengangkat pergelangan kaki kanan Citra dari dalam air, kaki mulus itu terlihat agak bengkak, dengan kulit merona merah.

“Kenapa Wot..?” Tanya seorang lelaki setengah telanjang yang tiba-tiba muncul di samping kolam.

“Sepertinya barusan ada yang berteriak kesakitan..?” Tanya lelaki satunya.

“Eh Pak Panjul, Pak Yusup… Kebetulan… Ini pak…. Kayaknya mbak Citra keseleo… ” Kata prawoto mencoba menjelaskan.

“Sepertinya harus cepat-cepat diurut ya Pak… ?” Tanya Prawoto.

“Coba lihat apa yang sakit…” Pinta Pak Panjul

Buru-buru Prawoto kemudian mengangkat pergelangan kaki Citra untuk diperlihatkan ke mereka.

“Ssshh… Pelan-pelan Bang…. Saaakittt…” Erang Citra.

“Wuuiiiihhh…. Udah bengkak itu Wot…” Ucap Pak Yusup.

“Jadi gimana pak..? Pak Pajul bisa mbantu ngurut kaki mbak Citra…?” Tanya Prawoto cemas.

Namun kecemasan Prawoto sama sekali tak didengar oleh Pak Panjul, karena ia sepertinya sedang asyik sendiri melihat ketelanjangan Citra yang ada didalam kolam. Lelaki tua itu berulang kali berusaha menelan ludah melihat payudara Citra yang mengambang bergoyang-goyang di permukaan air kolam.

“Gede tenan yo Sup..” Ceplos Pak Panjul reflek pada Pak Yusup yang ada disampingnya.

“Iyo Pak… gundal-gandul…” Kata Pak Yusup menimpali.

“Putih bener itu susunya Sup…. Uratnya aja sampe keliatan jelas…”

“Pentile yo imut banget Pak… Warnanya pink.. Wuenak banget itu kalo diisep-isep…”

Mendengar bisikan-bisikan mesum kedua bapak tua itu, membuat Citra buru-buru tersadar jika sedari tadi, tubuh indahnya masih telanjang. Segera saja, ia mencoba menutupi kedua bulatan payudara besarnya dengan tangan.

“Bang… Mana kain sarungnya…. Malu nihhh… tetekku diliatin bapak-bapak ini mulu…” Bisik Citra melas.

“Eh iya Neng… Bentar ya…” Kata Prawoto yang segera membungkus atasan tubuh Citra dengan kain sarung.

“Wooiy… Pak… Woiy…” Panggil Prawoto sambil melambai-lambaikan tangannya, berusaha menyadarkan kedua orang desa ini dari lamunan joroknya.

“Piye iki….? Bisa nolongin nggak….?”

“Eeeh… Ehh… Iya iya… Bisa kok…” Jawab Pak Panjul terbata-bata, “Waduuuhh… Kok bisa jadi seperti itu Neng….?” Tanya Pak Panjul yang buru-buru jongkok ditepi kolam didepan Citra.

“Kepleset pak… Ehhmmff….” Jawab Citra sambil terus meringis-meringis kesakitan.

“Bengkaknya sih tak begitu besar sih mbak… Tapi bakal membuat susah ketika dipake berjalan…” Kata Pak Panjul,

“Kalo mau… Saya bisa kok nyembuhin sakitnya….”

“Eh betul juga…. Mbak… Pak Panjul ini tukang urut handal… Dia pasti bisa nyembuhin kakimu….” Jelas Prawoto,

“Gimana mbak…? Diurut aja ya…? Aku jadi merasa bersalah nih… Gara-gara aku, kakimu jadi kesakitan gini…”

“Ssshh…. Aadduuuhhh… Iya deh Bang… Yang penting kakiku nggak sakit lagi….”

“Pak Panjul… Tolong ya pak… ” Pinta Prawoto yang kemudian menyerahkan kaki Citra kepada Pak Panjul

“Aduh aduh… Pelan pelan bang…”

“Permisi ya mbak…” Kata Pak Panjul berusaha sopan lalu memegang pergelangan kaki Citra.

“I… Iya pak… Sshhh…. ”

“Kakinya diselonjorin kesini neng… Kepaha bapak… ” Pinta Pak Panjul lagi sambil menepuk-tepuk kearah pahanya.

“Permisi ya pak… ” Ucap Citra berusaha sopan.

“Busyet nih kaki… Nggak ada bulunya… ” batin Pak Panjul begitu menyentuh kulit halus Citra. “Ehhmmmfff…. Pelan-pelan paaakk…”

Dengan perasaan gemetar, lelaki tua itu mulai mengusap mata kaki Citra.

“Ck ck ck Mulus beneeeer nih kaakiii…. Kaga ada bulunya sama sekali….. Belum lagi pahanya…. Bener-bener licin… !” Puji Pak Panjul dalam hati,

“Kakinya aja semulus ini… Apalagi dalemannya…” pikir Pak Panjul mesum sambil mencoba melirik kearah selangkangan Citra.

“Ssshhh… Paaaak pelan pelan paaak… Ngiluuu… ” Desah Citra sambil mengejang-kejang menahan sakit.

Mendengar erangan-erangan Citra, membuat lelaki-lelaki yang ada disekitarnya itu berpikiran kotor. Ketiga lelaki mesum itu tiba-tiba saling berpandangan antara satu dengan lainnya. Seolah mampu membaca isi yang ada diotak masing-masing, mereka bertiga lalu tersenyum lebar.

“Aaaauuw… Pelan paak…”

“Tahan neng… Pak Panjul ini jago ngurut kok… Bentar lagi pasti kaki mulus neng bakalan sembuh…” Celetuk Pak Yusup sembari terus-terusan mengintip ke arah payudara besar Citra.

“Aduh paaak…. Sakiiittt…. Gelijang Citra lagi dengan tenaga lebih keras. Membuat tubuh rampingnya menggelepar-gelepar kesakitan. Menggeliat kekiri dan kekanan.

“Ssshh.. Pelan pak… Masih ngiluu… ” Erang Citra.

“Sabar ya neng… Tahan bentar… Sedikit lagi pasti terasa enakan….” kata Pak Panjul.

“Aduuuhhh…Sakit paaakk…” Erang citra lagi sambil menarik kakinya menjauh dari pijatan tangan Pak Panjul. “Udahan aja ya paak… Sakitnya nggak ketulungan…”

“Loooh kok udahan….?” Celetuk Prawoto,

“Kaki Neng itu harus segera diurut cepet-cepet itu… Kalo nggak, ntar malah jadi makin bengkak lagi loh….”

“Tapi sakit banget Bang…” sedih Citra.

“Tahan aja bentaran Neng… Biar cepet sembuh…” Timpal Pak Panjul.

“Iya bener Neng… Ga lucu khan kalo wanita secantik Neng ini jalannya pincang…” Sahut Pak Yusup.

“Yaudah… Kita lanjutin lagi pak…” Kata Citra yang lagi-lagi Citra melonjorkan kakinya kearah Pak Panjul, “Tapi, pelan-pelan ya pak….”

“Hehehe… Iya Neeeng…” Jawab lelaki tua itu sambil memajukan duduknya lalu menekan keras pergelangan kaki kanan Citra..

“ADUUUUHHH… ” Teriak Citra lagi sambil reflek menggeleparkan kakinya. ” SAKIT BANGET PAK..!”

“Wah Neng… Bapak nggak bisa mbantu ngobatin kalo Neng sendiri nggak bisa rileks….” Ucap Pak Panjul dengan nada serius, ” Neng mau sembuh nggak…?”
Citra tak menjawab, ia hanya berdiam diri sambil berulang kali menggigit bibir bawahnya. Seksi sekali.

“Sekarang… Terserah Neng sih… Mau diterusin apa nggak… Toh yang ngerasain sakit bukan saya…” Kata Pak Panjul berusaha memecah pikiran Citra.

“Mau pak… Tapi sakitnya ituloh yang aku nggak kuat….” Rintih Citra, sambil mengelus-eles lututnya.

“Itu memang resikonya untuk bisa sembuh Neng…” Kata Pak Panjul dengan nada jual mahal. Tanpa sepengetahuan Citra, Pak Panjul tiba-tiba mengedipkan sebelah matanya, seolah memberi kode kepada Prawoto dan Pak Yusup.

Prawoto yang tiba-tiba bergeser ke belakang tubuh Citra lalu memijat-pijat pundak wanita cantik itu,

“Tahan bentaran aja ya Mbak… Biar kakimu cepet sembuh…”

“Yak bener begitu Woto… Bikin Neng ini supaya santai.. ” Kata Pak Panjul ,

“Yudah deh… Sup… Kamu bantu aku juga deh…” Kata Pak Panjul sambil menyuruh Pak Yusup masuk kedalam kolam,

“Tolong kamu pikit juga kaki kiri Neng ini… Sekalian pegangin, biar badannya nggak goyang-goyang.. ” Pinta Pak Panjul

“Siap bosss… Permisi ya neng…” Kata Pak Yusup yang segera ikutan nyemplung kedalam kolam dan langsung memegang pergelangan kaki kiri Citra.

Sejenak, Citra merasakan sedikit kejanggalan yang terjadi disini. Kaki kanan Dipegang Pak Panjul, kaki kiri dipegang Pak Yusup, dan tubuhnya didekap Prawoto erat-erat.

“Sepertinya ini terlalu berlebihan deh…. Masa mau dipijat saja harus seperti ini…?” Tanya Citra dalam hati. Namun karena keinginannya untuk sembuh begitu besar, Citra akhirnya membebaskan rasa curiga itu.

“Rileks mbak….” Kata Pak Panjul sambil memajukan duduknya lagi hingga kaki hingga kaki Citra menyentuh perutnya yang keras.

“Santai ajaa…” Kata Pak Panjul lagi sambil memulai pijatan tangannya.

“Yusup… Kamu bantuin aku bikin Neng ini rileks…. Kaki yang ditanganmu dipijit-pijit juga ya…”

Perlahan, Citra mulai merasakan enaknya pijatan tangan lelaki tua itu. Dengan tekanan yang tak terlalu kuat, jemari Pak Panjul mampu membawa kenikmatan tersendiri, terlebih ketika tangannya mengusap lembut jempol dan telapak kakinya, membuat wanita cantik itu mulai terlena oleh sensasi geli-geli nikmat.

“Hmmm..Enak banget pak… ” Desah Citra sambil menahan sakit pada kaki kanannya

“Rileks mbaak…” Pinta Pak Panjul lagi.

“Sshhh… Mmmfff….” Erang Citra pelan.

Tiba-tiba, Pak Panjul mencengkram erat kaki Citra lalu memuntirnya keras-keras.

“KLETEK…”

“AAAWWW…. “Teriak Citra melengking keras.

“SAKIT PAAAAKK….!”

“Hehehe…. Sakit ya…?” Kata Pak Panjul malah berganti nanya.

“Udah-udah pak…Sepertinya nggak usah pijit-pijit lagi…. ” Erang Citra sambil menarik kakinya dari tangan Pak Panjul.

“Hehehe…. Iya-iya… Nggak dipijit lagi kok… Sekarang coba gerakkan kakinya mbak…”

“Loohh…?” Ucap Citra heran.

“Gimana…? Udah enakan…?” Tanya Pak Panjul.

“Eeeh iya loh… Kakiku udah enakan… Udah nggak sakit lagi….” Girang Citra.

“Hebaaat khaaannn….? Pak Panjul emang jagonya mbenerin gitu-gituan….” Ucap Pak Yusup

“Hehehe…. Iya… Bapak Hebat…. ”

“Yaudah kalo gitu… Sini kakinya lagi… Bapak mau nerusin ngurutnya…”

“Loh…? Masih belum selesai Pak…?”

“Eehmm… Belum Neng… Ada syaraf-syaraf Neng yang sepertinya harus dibenerin sampe atas..” Jelas Pak Panjul mengada-ada.

“Soalnya kalo nggak, besok-besok bakal bisa kambuh lagi….”

“Oooowww.. Gitu ya pak… Yaudah deh… Pijit lagi aja ya…. Hihihihi..” Tanpa rasa curiga, Citra kembali memejamkan matanya dan mencoba menikmati pijatan tangan lelaki renta itu.

“Enak sekali pak pijitanmu…” Desah Citra pelan,

“Seperti pijat refleksi….”

“Hehehe… Nikmati aja ya Neng…” Kata Pak Panjul dengan senyum penuh arti.

Perlahan, tangan renta itu mulai mengusap-usap seluruh telapak kaki citra. Memijitnya satu persatu jari kaki wanita cantik itu dengan santai.

“Sekarang pasti lebih enak lagi Neng….” Kata Pak Panjul yang tiba-tiba memusatkan pijatannya di ibu jari dan telapak kaki Citra.

“Hmmmfff… Iya pak…. Enak banget… Sshhh…” Desah Citra pelan.

Perlahan, pijatan Pak Panjul itu berubah menjadi pijatan penuh birahi. Karena tak lama kemudian, entah kenapa, vagina citra menjadi lebih hangat dari biasanya. Lebih basah. Bukan karena ia sedang berendam di kolam air panas, namun basah karena gejolak birahinya mulai meluap.

“Ooohmm…. Enak banget paaakk…” Erang Citra tak henti-hentinya. Dari pijatan lelaki renta itu, ia merasa tubuhnya semakin lama semakin panas, detak jantungnya kembali berdetak cepat, dan nafasnya mulai memburu.

“Enak khan Neng pijatan bapak…?” Tanya Pak Panjul

“Hiya paak… Eehhmm… terus paakk…. Enak banget….”

“Terus… Terus ngapain Neng…?” Tanya Pak Panjul lagi.

“Terus mijatnyalah paaak… ”

“Ooooww… Mijatnya…. Kirain Neng minta diapa-apain… Hehehehe…”

“Hihihihi….Emang bapak-bapak mau ngapain…?” Goda Citra.

“Pengen kenal lebih deket ama Neng….”

“Hihihihi…. bapak-bapak genit ah…. Aku udah punya suami loh….”

“Ya emang kalo udah punya suami si Neng nggak boleh diapa-apain…?”

“Idih… Bapak-bapak ini mesum banget dah ah… Hihihihi… Ooohhh…”

Berulang kali Pak Panjul mempermainkan pijatan tangannya pada titik erotis tubuh Citra. Membuat tubuh wanita cantik itu menggeliat-geliat keenakan. Sebagai seorang ahli pijat kawakan, melampiaskan birahi wanita melalui pijatan bukanlah sebuah perkara sulit baginya. Dan itulah yang sedang ia lakukan saat ini. Menggoda nafsu birahi Citra hingga ia mencapai orgasmenya.

“Kamu horny mbak…?” Bisik Prawoto dari belakang tubuhnya.

“Eehhmm.. Iya bang.. Nggak tahu kenapa… Dipijit bapak ini memek aku basah…” Jawab Citra lirih.

“Hehehe.. Dasar bini nakal…” Kata Prawoto yang tiba-tiba memajukan tubuhnya hingga penisnya menempel di pantat Citra.

“Aku tambahin deh… Biar makin horny lagi…” Kata Prawoto yang langsung menjauhkan kain sarung yang menutup payudara Citra dan menjulurkan kedua tangannya menjelajahi tubuh wanita cantik itu. Satu tangan meremas payudara Citra, dan satu tangan lagi mengkobel vaginanya.

Melihat tubuh Citra yang kembali telanjang, membuat mata kedua bapak-bapak itu seolah mau loncat keluar. Mulutnya menganga dan matanya tak berkedip sedikitpun.

“Looh.. Neng.. Ko…Kok malah bugil…?” Tanya Pak Panjul gagap.

“Iya pak.. Ini mbak Citra mau berterima kasih buat jasa urut kakinya yang tadi sakit….” Jawab Prawoto.

“Ooohhh…. BAAANG…. Apa yang kamu lakuin…?” Bisik Citra pelan sambil berusaha menutup kembali aurat-aurat tubuhnya dari jamahan tangan-tangan nakal Prawoto. Namun, karena prawoto semakin mempergencar pelintiran puting dan kilikan klitorisnya, perlawanan Citra menjadi tak berarti.

“Oooohhwww….” Desah Citra kembali sambil memejamkan mata. Saking enaknya perlakuan mesum tukang sate itu pada tubuhnya, sampai-sampai membuat mulut mungil Citra megap-megap seperti ikan.

“Be… Bener tuh Neng…?” Tanya Pak Panjul yang juga ketularan gagap melihat gelijang-gelijang tubuh indah wanita cantik dihadapannya..

“Ayo jawab Mbak… Biar kamu makin puas memamerkan tubuh telanjangmu….”

“Apaan sih Bang… Siniin sarungnya… Aku malu nih….”

“Hehehe….Malu kok memeknya licin gini mbak….” Goda Prawoto,

“Ayo jawab…”

“Ssshh… Ampun Bannng…. Jangan siksa aku seperti ini… Aku maluuuu….”

“Makanya buruan mbakku yang cantiiiikkk… Jawab aja pertanyaan pak Panjul tadiiii….. ”

Merasa tak mampu menahan gejolak orgasmenya yang keburu datang, Citra buru-buru mengangguk. Bahkan ia meng-iya-kan jika dirinya sangat menikmati ketelanjangannya ketika dilihat orang lain.

“Kenapa kamu ngangguk mbak…?” Goda Prawoto lagi, “Jelasin ke bapak-bapak ini donk…” Tambah lelaki kurus itu sambil mulai mencolok-colokkan jemarinya kedalam vagina Citra..

“Ooooohhh…. Iii… Iya pak… Bener… Nikmatin aja tubuh telanjangku pak…. Anggap aja ini bayaran dariku… ” Erang Citra keenakan.

“Sini pak….Liat lebih dekat lagi sini…”

“Mereka masih malu-malu tuh mbak…. Ayo ngajaknya lebih seksi lagi…. Hehehe….”

“Oooohhh… Baaanggg.. Ammmpuuun baaang… Jangan bikin aku lebih malu lagiiii…”

“Hahahaha.. Udah ah mbak… Nggak usah pura-pura nolak… Aku ini malah mbantuin kamu supaya bisa mewujudkan keinginan mesummu loh…” Kata Prawoto yang tak henti-hentinya mengocok vagina Citra.

“Aaahhhh…. Ngentot ka….Kau Bang… Bikin aku ma… Maalu aja… Ooohhhhwww….” Racau Citra sambil mulai menggoyangkan-goyangkan pinggulnya keenakan.

“Hehehe… Ayo mbak… Ajak mereka supaya melihat tubuh indahmu ini lebih dekat lagi…. Eh kalo nggak… Gimana kalo kamu ajak mereka supaya bisa menikmati memek sempitmu ini…. Pasti seru banget tuh mbak…” Celetuk mesum Prawoto.

“Gimana pak… Pada mau nggak…?”

“Boo…Boooleh Neng…?” Tanya Pak Yusup antusias.

“Jangan Baaang… Jangaaan… Aaammpuuun baaang…. ” Jawab Citra sambil menggeleng-gelengkan kepalanya.

” Ampuuunnn….”

“Yaaah…. Nggak bo… Boleh ya Neng…?” Ucap Pak Yusup kecewa.

“Kalo mbantu bapak coli aja gimana Neng…?” Tanya Pak Panjul mencoba mencari alternatif

“Hehehehe… Boleh nggak mbak….?” Sahut Prawoto,

“Kasihan tuh bapak-bapak ini mbak… Mereka pasti belum pernah dibantuin coli oleh wanita secantik kamu….”

“Iya Neenng… Boleh yaaa…?” Tanya Pak Panjul lagi.

“Udah kemeng nih kontol bapak liat kecantikanmu Neng…”

“Ssshhhh…. Oooohhh….” Desah Citra tak menjawab, ia hanya melirik kearah selangkangan kedua lelaki desa yang ada didepannya.

“Mbak… Ditanyain tuh…. Jawab dooonk…” kata Prawoto yang buru-buru meremas payudara Citra kuat-kuat sembari semakin mempercepat kobelan tangannya pada lembah kenikmatan Citra.

CPAK CPAK CPAK
Suara cipratan air yang berulang kali terdengar seiring kocokan jemari Prawoto ke vagina Citra.

“Iyah iyah iyaaahhh…Ssshh…. Paaakk….Siniii….” Kata Citra yang sudah tak mau berpikir panjang karena terbakar birahi.

“Lakuin apa aja yang kalian suka pak…. Aku sudah mau keluaar… Ssshh….”

“Tuh paaak… Denger nggak jawaban mbakku…. ” Tanya Prawoto,

“Sini mendekat… Sok liatin nih tubuh mbakku yang seksi ini…” Tambahnya lagi sambil terus-terusan mengobel vagina Citra.

CPAK CPAK CPAK

“Sssh… Baaang…. Ampun Baaang…” Erang Citra.

Mendengar lampu hijau dari Citra, buru-buru kedua lelaki desa ini melepaskan kolor bututnya dan mulai mengocok penis-penis hitamnya keras-keras.

“Bu… Buset Wot… Mbakmu seksi tenan…” Kata Pak Panjul sembari membetoti batang kejantanannya keras-keras.

“Pasti enak bener ya jadi suaminya….”

“Ssshh… Iya loh Wot… Kayanya wuenak banget ya kalo bisa ngentotin perempuan seksi koyo mbakmu itu….” Sahut pak Yusup yang juga tak kalah serunya menarik urut batang di selangkangannya.

“Hehehe… Iyalah pak… Wuenak banget…. Hehehehe….” Jawab Prawoto bangga. “Teteknya aja lembut gini… Apalagi memeknya…. ”

“Masa Wot…?” Tanya Pak Yusup penasaran.”

“Yaah… Nggak percaya….Nih…Coba rasain aja nih teteknya…” Kata Prawoto santai sambil menyodorkan payudara Citra kepada Pak Yusup.

“Wuih… Iya loh Pak…. Susune lembut bener….” Kata Pak Yusup yang dengan gemes mulai merabai dan meremasi payudara kiri Citra.

“Serius Sup…?” Tanya Pak Panjul yang juga buru-buru meraih payudara kanan wanita cantik itu sambil mencubiti putingnya.

“Busyeeet… Bener loh… Baru kali ini aku megang susu selembut ini…”

“Sssh…. Ampun paaak… Jangan mainin tetekku…. Ngilu…. Oooohhhh….”

“Ngilu apa doyan mbak..? Hehehe….”

“Oooooohhh… Ohhh ohh ohh….”

CPAK CPAK CPAK

Mendengarkan desahan Citra yang enak ditelinga itu, malah membuat kedua lelaki desa itu bertindak semakin jauh. Tak henti-hentinya mereka meremas payudara montok Citra sambil terus membetoti batang penisnya kuat-kuat.

“Nakal banget mbakmu iki Wot….Hehehehe…” Celetuk Pak Panjul.

“Wuaah… Ga ketulungan pak…. Makanya aku harus sering-sering ngajarin terus pak… Hehehe… ”

“Ngajarin opo ngentotin…? Hahahaha…”

“Pasti wenak banget yo tempik’e…?”

“Wuah…. Bukan cuman tempik’e aja yang enak pak… Tapi bo’olnya juga…. Sempitnya ngalah-ngalahin memek perawan… Lubang depan, lubang belakang, semuanya NGEMPRUT abisss….Hahahaha…”

CPAK CPAK CPAK

“Ahhh ah ah ah…. Tipuuu….” Ucap Pak Panjul tak percaya,

” Nggak mungkin Neng ini pernah dientotin kamu… Ssshh…..”

“Hehehehe… Mbak… Ayo bilang ke mereka tentang hubungan kita Mbak….” Kata Prawoto sambil mencolok-colokkan jemarinya ke vagina sempit Citra dengan kecepatan tinggi. “Bilang mbaaakk…”

CPAK CPAK CPAK

“SSSHHH…NGENNTTOOOTTTT…..Iya Pak… Iya…. Aku udah DIENTOTIN bang Woto…. Ooooohhh wueeenaknyaaa…. “Jerit Citra tanpa malu sedikitpun dengan diselingi tubuhnya yang menggelepar-gelepar.

” Huuooohhh….. NGENTOOOOTTTT….. AKU UDAH NGGAK TAHAN LAGI BANG…. AKU MAU KELUAAAARRR…. AAAARRRRGGGHH….. ”

CRET CRET CREETCEETT…

Tubuh Citra menggelijang-gelijang hebat. Matanya mendelik keatas, dan mulutnya megap-megap.

Melihat wanita cantik didepannya orgasme dengan hebatnya, membuat kedua lelaki desa itu ikut-ikutan orgasme.

“Kampret kowe Wooott… Enak banget… Aku yo pengeeen Wooot….. Sesuk ajak-ajak yooooo…” Teriak Pak Panjul dan Pak Yusup bersahut-sahutan. Tubuh keduanya pun ikut-ikutan bergetar hingga akhirnya,

CROT CROT CROOOCOT…

Lahar-lahar panas bermuncratan dengan deras dan kuat. Menyembur kencang dari mulut penis kedua lelaki desa itu dan mendarat di wajah, rambut dan payudara Citra. Tak menghindar, wanita cantik yang masih lemas karena orgasmenya itu hanya bisa bersandar diam di tubuh Prawoto sambil menerima tembakan-tembakan sperma hangat di tubuhnya.

“Wuuooooohhh… Wueeenaaaak beneeerr Neng…” Ucap Pak Panjul keenakan sambil merem melek.

“Makasih ya Neng….” Sahut Pak Panjul.

Tak menjawab, Citra hanya bisa tersenyum sambil mengangguk lembut.

“Hahaha… Kalian pada cupuuuu… Baru megang teteknya aja udah moncrot…. Hahahaha….”

“Hehehe… Iya ya… Abisan mbakmu seksi banget Wot… Aku jadi nggak kuat…” Ucap Pak Yusup beralasan sambil mengibas-kibaskan penisnya yang sudah lunglai ke arah tubuh Citra.

“Iyo Wot.. Megang susunya mbakmu aja aku udah puas… Hahaha…” Tambah Pak Panjul.

“Aku jadi penasaran… Gimana ya rasanya kalo kontolku ini sampe nyodok-nyodok tempik’e… Pasti rasanya kaya disurga… Hehehehe…”

“Mbakku ini memang surga dunia Pak…” Puji Prawoto sambil mengusap rambut hitam Citra.

“Ya khan mbak…. Kamu emang surga duniaku….”

“Apaan sih bang…. Hihihi….” Jawab Citra malu-malu sambil membilas wajah dan rambutnya, sekedar membersihkan cipratan-cipratan sperma Pak Panjul dan Pak Yusup. “Bisa aja kamu….”

“Hehehe… Iya bener loh Neng… Bapak sampe penasaran gimana ya rasanya ngentoti saudara sendiri… Apalagi kalo saudara bapak bentuknya kaya kamu.. Pasti rasanya wuuuuuoooohhh….”

“Enak banget ya pak…?” Tambah Pak Yusup.

“Emang kalo mbakku mau ngasih, kalian mau nyicipin rasanya pak…?” Tanya Prawoto tiba-tiba.

“Nga… Ngasih opo Wot…?” Tanya Pak Panjul kaget.

“Mbak… Tolong dong mbak… Bantuin bapak-bapak ini buat mbersihin kontol-kontolnya…. ” Pinta Prawoto dengan nada santai

“A… Apa Bang…?” Tanya Citra yang tak kalah kagetnya.

“Iya… Tolong kamu sepongin kontol-kontol mereka mbak….”

Dengan tatapan bingung, Citra berulang kali melihat kearah tukang sayur dan kedua lelaki desa itu.

“Isep mbak… Isep kontol mereka….” Kata Prawoto sambil memperagakan tangannya seperti sedang menggosok gigi.

Heran namun menurut. Citra lalu beranjak mendekat kearah Pak Panjul dan Pak Yusup berada. Wanita cantik itu tak habis pikir dengan apa yang tubuhnya ini selalu lakukan setiap kali ia mendengar kalimat-kalimat mesum Prawoto. Seolah dihipnotis, tapi sadar. Seolah dipaksa, tapi sukarela.

Dengan lihai, Citra meraih batang-batang hitam milik kedua lelaki desa itu. Lalu dengan jemari lentiknya ia mulai meremas-remas perlahan sambil sesekali mengocoknya.

HAAAP

Balutan hangat dan basah segera terasa menyelimuti batang penis Pak Panjul.

“Wuoooohhhh… Wotoooo…. Beneeerrr… ENAK BENEEERRR….”

Tak disitu saja, Citra segera menjilati sambil menyucup pelan lubang penis Pak Panjul kuat-kuat, hingga membuat tubuh tukang pijat itu merinding kelojotan.

“Sumpah Sup… Rasa kenyotan mulutnya Neng ini enak bener… Rasanya kaya disurga…” Puji Pak Panjul sambil meringis-meringis keenakan.

“Apanya yang rasanya kaya disurga Pak…?” Kata Pak Usep yang tiba-tiba sudah muncul dari balik batu besar disamping kolam pemandian Citra dan Prawoto. Diikuti oleh Diki, Projo dan Kirun di belakangnya.

“Eh… Anu pak…. Itu…”

Bersambung