Agen Bola Terminal Bandar Bola Terpercaya
LAPAKDEWA LAPAKPOKER

I Miss Simplicity Part 5

Part 1Part 2Part 3Part 4Part 5
Part 6Part 7Part 8Part 9Part 10
Part 11Part 12Part 13Part 14Part 15
Part 16Part 17
Why You Give Your Evil?​

Tiga bulan telah ku lalui di kota ini, atau tepatnya dua bulan setelah kejadian penamparan Gita di depan kelas waktu itu. Kecuali hubungan ku dengannya, semuanya berjalan baik-baik saja. Kuliah ku lancar. Marahnya mba Endang kepada ku waktu itu juga tidak berlangsung lama. Semuanya sudah kembali normal.

Seminggu sekali aku rutin menelpon bapak dan ibuk di kampung. Tentu melalui hp mas Yoga atau de Binar. Ya, kedua orang tua ku memang tidak memiliki hp sendiri. Dulu pernah mau dibelikan mba Endang tapi mereka berdua menolaknya.

Katanya tidak bisa mengoperasikannya. Padahal kalau niat mah bisa belajar, tapi kadang namanya orang tua, dibujuk seperti apa juga ngeyel nya melebihi balita. Ops!!

Hubungan ku dengan Diah juga masih berlanjut. Sekarang dia bekerja di sebuah mall di kota Jogja. Hanya bermodalkan sebuah Ijaza SMA, bisa bekerja di mall seperti itu sudah sangat beruntung. Aku tidak mempermasalahkannya. Bagiku Diah tetap lah Diah. Yang akan menjadi nyonya Alfian kelak. Harpaan terbesar ku saat ini.

Bisnis mas Rizal juga semakin lancar. Baru sebulan ini dia membeli sebuah mobil, meskipun mobil bekas keluaran awal tahun dua ribu an. Mas Rizal memang orang yang sangat gigih. Dia tidak perduli mau gagal atau berhasil.

Yang penting adalah mencoba. Beberapa kali dia pernah kena tipu, tapi dia tidak langsung menyerah. Dia gunakan kegagalannya itu sebagai pembelajaran. Semangatnya tidak kunjung berkurang, bahkan justru semakin bertambah.

Salah satu hal yang aku suka darinya adalah kata-kata motivasi yang sering diucapkannya pada ku. Sederhana tapi mengena. Contohnya beberapa tahun yang lalu ketika dia kena tipu. Barang yang dibelinya adalah barang baru yang paling harga pasarannya kisaran ratusan ribu. Padahal untuk mendapatkannya dia harus mengeluarkan duit belasan juta. Apa reaksinya?

“Anggap saja itu rezeki orang yang nipu itu lewat aku, rezeki orang ga akan ketuker, usaha aja terus. Aanggap saja itu ongkos untuk belajar bisnis.”

Dan alhamdulillah berkat usaha dan keikhlasannya, ikhlas mencari nafkah untuk keluarga kecilnya, dan bahkan untuk keluarga besar ku juga, karena tak jarang mas Rizal membantu perekonomian keluarga besar kami, sekarang dia mulai menikmati hasilnya.

Sebagai imbas dari semakin majunya usahanya ini, sekarang semua urusan pembuatan hardcase diberikan sepenuhnya pada ku. Semuanya. Modal dari aku, dan semua keuntungan juga diserahkan pada ku. Tempat dan peralatan katanya pakai saja ga perlu kasih apa apa ke dia. Yang penting usaha ini terus berjalan. Baik banget kan?

Untuk masalah modal, awalnya dia mau meminjami ku. Tapi aku menolaknya karena aku masih ada dari hasil pekerjaan sebelumnya. Itu karena aku memang tidak terlalu boros. Makan, gratis di rumah ini. Aku hanya perlu mengerjakan tugas rumah ku.

Paling hanya untuk ongkos ke kampus dan beli pulsa. Atau mungkin sesekali ikut jalan dengan teman teman kelas. Sesekali aku pernah ikut mereka ke mall, atau kadang main futsal. Tapi itu tidak seberapa.

Prinsip ku adalah dimana aku berada, disitu aku harus menyesuaikan diri. Aku tidak mau jadi anak yang kuper-kuper banget. Tapi aku juga masih mampu menahan untuk tidak ikut terbawa derasnya arus pergaulan bebas. Beberapa kali pernah aku diajak clubing atau semacamnya. Jelas saja aku menolak dengan berbagai macam alasan. Karena itu bukan jiwa ku.

Kembali ke mas Rizal, dia juga mulai mengenalkan ku pada langganannya. Dia bilang untuk urusan order sekarang langsung ke aku. Awalnya aku agak sungkan karena rata rata mereka orang kaya. Tapi kata mas Rizal cuek aja. Sama-sama makan nasi ini. Imbasnya aku semakin banyak relasi. Wawasan ku sekarang juga jadi lebih update dari sebelumnya.

Siang ini aku ada kuliah hingga sore. Kalau jadwalnya begini aku sampai rumahnya bisa sampai jam tujuh malam dan biasanya sudah capek. Maka pagi pagi tadi aku sudah menyelesaikan kewajiban ku, nyapu ngepel. Sekalian olahraga.

“Weeeiii si juragan datang,” sapa Doni saat melihat kedatangan ku di gazebo kampus. Disana juga sudah ada Kiki, dan mahasiswa lainnya. Di gazebo ini adalah salah satu fasilitas kampus yang merupakan salah satu titik hotspot.

Jam-jam seperti ini memang selalu ramai oleh mahasiswa yang ingin memanfaatkan fasilitas internet gratisan baik itu untuk mengerjakan tugas, atau sekedar berselancar di dunia maya. Bahkan tak jarang juga yang memanfaatkannya untuk mendownload film. Tapi bukan film dewasa tentunya.

“Apaan sih juragan-juragan?” balas ku sewot.

“Kamu itu di doain kok malah sewot sih, mbok ya aamiin gitu,” nasehat Kiki.

“Eh, iya aamiin, hehe.”

“Tuh dengerin nasehat bu Haji Nur.”

“Iyaaa aamiin bu Haji dan pak Haji, eh masa pak hajinya model begini?” canda ku yang melihat dandanan Doni yang lebih mirip seorang anak geng motor.

PLAK!!!

“Aduh, sakit kiii!”

“Dibilang jangan panggil aku Nur ngeyel ya!”

“Siapa suruh bandel!”

“Kalau yang bandel Ian lu biasa aja, giliran gue pasti langsung dijitak.”

“Eh aku bandel apa ya?”

“Perlu gue jelasin?”

“Hehehe,” aku nyengir. Sebenarnya aku mengerti dengan maksud Doni. Ini menyangkut masalah Gita.

Ya, aku akhirnya menyanggupi permintaan pak Weily. Tapi yang perlu digaris bawahi adalah aku melakukan semua ini tidak mengharapkan imbalan apapun. Dan tidak ada batasan waktu nya. Aku hanya akan mencobanya.

Meskipun aku sendiri belum tau akan memulainya dari mana. Entahlah. Semoga yang maha kuasa memberiku jalan untuk niat baik ku ini. Aku hanya akan menyoba mendekatinya, mengenalnya, dan mencari tahu apa yang membuatnya menjadi wanita yang galak dan judes seperti itu.

“Siapa bilang aku biasa aja? Ian udah aku omel-omelin tapi dasar orangnya aja keras kepala ya sudah. Biarin aja. Kemarin kan baru digampar, mungkin ntar kalau udah ditabokin baru kapok.”

“Hahaha, ndak segitunya juga kali Ki, aku tau Gita sebenarnya baik.”

“Belain aja teruuus!!”

“Beneran kok Ki…”

“Sok tau lu, kaya pernah ngobrol aja. Orang gitanya liat lu aja langsung buang muka gitu hahaha,” giliran Doni memanasi.

“Hmm….ya ya, Gita memang orang baik,” ucap Kiki akhirnya, namun dengan nada sarkastik.

“Jangan liat orang dari luarnya aja don.”

“Jadi maksud lu gue harus liat dalemannya Gita gitu? Boleh tuh hahaha.”

PLAK!!!

“Aduh!”

“Hahaha, rasain! Maksud ku itu ndak ada orang yang bener-bener jahat. Pasti masih ada sedikit kebaikan di hatinya biar kata cuma secuil, percaya saja,” ucap ku menjelaskan.

“Bukan begitu bu Kiki?” lanjut ku.

“Mudah-mudahan, tapi kalau sampai kejadian waktu itu terulang lagi, aku ndak ikutan.”

“Insyaallah endak ki,” senyum ku pada mereka berdua.

Semoga keyakinan ku kali ini memang benar. Aku yakin tidak ada manusia yang benar-benar jahat. Yang ada adalah tingkat keimanan mereka yang naik dan turun. Ingatan ku kemudian kembali ke peristiwa beberapa hari yang lalu. Sesuatu yang mengubah pandangan ku terhdap seorang wanita, yang baru saja kami bicarakan. Suatu sore hari saat aku pulang kuliah.

“Ian, bareng ga kedepan?” tanya Kiki saat perkuliahan selesai. Kiki mengajak ku jalan bareng ke depan.

“Kamu duluan aja Ki, perut ku mules nih, hehe,” balas ku nyengir sambil tergesa-gesa memasukan buku ke dalam tas.

“Oh, ya udah. Aku duluan ya, Don aku duluan ya.”

“Oke, hati hati nur,” canda Doni. Padahal Kiki paling tidak mau kalau dipanggil Nur. Kiki hanya melotot karena percuma mengingatkan Doni. Doni pun hanya nyengir.

“Don aku duluan ya, mules nih.”

“Oke bray…ati-ati. Tu toilet konon katanya ada penunggunnya lho,” candanya.

“Bagus deh, biar ga sepi ya haha,” balas ku ngasal. Aku memang tidak terlalu takut dengan yang begituan, bukan karena sok berani atau apa, tapi aku lebih takut sama begal, rampok, atau teman-teman nya.

Aku lalu meninggalkan Doni di kelas. Dia masih sibuk merapikan buku-bukunya. Anak-anak yang lain sebagian sudah ada yang pulang, sebagian lagi masih di kelas juga seperti Doni. Aku setengah berlari menuju toilet yang letaknya paling dekat dengan ruang kelas ku. Untungnya kosong semua, kalau jam segini memang sudah sepi.

***

Setelah selesai membuang hajat, aku lalu bergegas menuju jalan raya depan kampus untuk menunggu angkutan dan pulang. Saat ini suasana kampus sudah benar-benar sepi. Berbeda sekali dengan siang hari. Kampus ku ini memang terkenal dengan jumlah mahasiswanya yang sangat banyak. Sampai ada yang bilang tidak perduli dengan kualitasnya, yang penting lulusannya banyak.

Untuk menuju gerbang depan kampus, aku harus melalui parkiran mobil. Sama seperti penghuninya, sore ini mobil yang ada juga tinggal beberapa saja. Tidak seperti siang hari yang selalu penuh. Baru melewati beberapa meter di area parkir itu tiba-tiba aku mendengar suara tangisan seorang bocah.

“Huuu…huuu…huuu…”

Aku lalu teringat dengan mitos di kampung ku yang katanya kalau sore-sore mendengar suara anak kecil/bayi menangis itu tandanya disitu ada…

Bulu kuduk ku tiba-tiba berdiri. Sekujur tubuh ku merinding. Bayanganbayangan horor dan mistis sekilas muncul di kepala ku. Tapi, masa iya di kota seperti ini dan di area terbuka seperti ini ada hantunya? Yang ada malah jadi tontonan nanti tuh makhluk halus.

Tidak-tidak. Pasti bukan hantu. Kubuang jauh-jauh pikirin negatif itu. Orang bilang kalau kita semakin takut maka akan membuat si hantu semakin kuat, entah bener atau tidak. Aku lalu mencari sumber suara itu.

Dapat. Oh ternyata itu beneran suara anak kecil yang sedang menangis. Seorang bocah laki-laki. Mungkin umurnya sekitar sepuluh tahunan. Tanpa pikir panjang aku lalu berjalan kearahnya. Tapi baru setengah jalan langkah ku terhenti. Ada seseorang yang mendahului ku. Seorang wanita yang aku kenal.

“Ade kenapaaah? Kok nangiiis,” tanya wanita itu lembut. Si bocah sekarang posisinya duduk di pelataran parkir memeluk lututnya sendiri dengan kening menempel ke lututnya. Wanita itu mencoba menggoyangkan lengan si bocah.

Posisinya tepat berada di depan sebuah mobil. Sedangkan aku bersembunyi di samping mobil yang terparkir tidak jauh dari mobil itu. Sambil mengawasi, aku mendengarkan suara wanita itu, tapi dia tidak bisa melihat ku.

“Huuu…u-ang ku di a-ambil kak…huuu…”

“Eh, diambil siapah?” tanya wanita itu lagi dengan lembut.

Tidak ada jawaban. Hanya gelengan kepala. Anak itu sudah mengangkat kepalanya. Itu kan anak yang biasa mulung di sekitar kampus ini. Siapa ya yang tega ngambil uang anak itu? Preman sekitar sini? Mungkin saja. Sedikit banyak aku tau kerasnya dunia jalanan dari cerita beberapa teman ku. Tapi itu hanya kemungkinan karena aku tidak tau pasti.

Wanita itu sekilas nampak bingung. Tapi lalu tersenyum pada si anak. Lalu merogoh tas nya, mengambil dompet dan mengambil tiga lembar uang seratus ribuan.

“Ya sudah, ade jangan nangis lagi. Ini kakak ganti ya uangnya. Yang di ambil orang itu ikhlasin aja yah…”

“Ta-tapi ini banyak banget kak.”

“Gapapa, anggep aja buat gantinya. Emang uangnya mau buat apa de?”

“Bu-buat beli makan ade ku sama ibu di rumah.”

Aku terkejut mendengarnya. Ternyata anak sekecil ini sudah menjadi tulang punggung keluarganya. Meskipun aku tidak tau apakah anak ini memulung hanya sebagai tambahan, tapi jujur aku sangat malu. Anak sekecil itu sudah bisa memberi makan adik dan ibu nya. Sedangkan aku?

“Maafin Ian buk belum bisa bahagiain ibuk,” batin ku.

“Ya sudah ade tunggu sini bentar yah, jangan kemana-mana, nanti kakak balik lagi, okeh!” ucap wanita itu yang kemudian pergi meninggalkan si anak kecil.

“I-iya kak,” balas anak itu nurut.

Wanita itu kemudian pergi meninggalkan si anak kecil. Kalau dari arahnya, kemungkinan dia menuju kantin. Tapi mau ngapain? Bukannya jam segini sudah tutup? Sedikit banyak aku kuatir juga. Aku pun lalu mengikutinya dari belakang.

Dengan diam-diam tentunya. Hingga akhirnya aku bersembunyi dibalik gedung terdekat dengan kantin. Benar, dia memang ke kantin. Suasana kantin sekarang sudah gelap. Meskipun ada lampu, tapi hanya lampu ala kadarnya. Para penjual makanan pun sudah merapikan lapaknya pertanda akan segera pulang.

Posisi ku dengan kantin itu cukup jauh, tapi pandangan ku masih bisa menjangkaunya. Namun sayangnya aku tidak bisa mendengar percakapan wanita itu dengan salah seorang penjual makanan.

Setelah beberapa saat aku melihat seperti ada sedikit perdebatan. Ada apa ya? Kok aku jadi kuatir ya? Apalagi lawan bicara wanita itu adalah seorang bapak-bapak. Meskipun aku tau dia adalah salah satu penjual di kantin, tapi tetap saja aku tidak bisa menghilangkan ke kuatiran ku. Baru aku mau menghampiri mereka, tiba-tiba si wanita tersenyum dengan sumringah.

Si bapak lalu masuk kedalam. Tidak lama kemudian dia keluar lagi dengan sebuah kantong plastik. Entah apa isinya. Yang pasti lalu diserahkan ke si wanita. Setelah menyerahkan sesuatu pada bapak itu, si wanita langsung pergi meninggalkan kantin dan kembali ke parkiran. Sama seperti saat pertama tadi, aku mengikuti wanita ini dengan sembunyi-sembunyi.

“De, ini kakak beliin makan buat kamu, sama buat adik dan mama mu juga. Tapi langsung pulang yaaah, udah malem.”

“Tapi kak, ini…”

“Udah gapapa, gih pulang, atau mau kakak anter?”

“Eh, ga usah kak, aku bisa pulang sendiri kok, hehe, tapi bener kak ini buat aku semua?”

“Iyaah buat kamu semua.”

“Makasih banyak kak.”

“Iya, sama-sama. Nah gitu dong, jangan nangis lagi yah, masa anak cowok nangis sih? Cowok itu ga boleh nangis, dan harus kuat, hihihi.”

“Hehe, iya kak, ga nangis lagi kok.”

“Ya udah sana pulang.”

“Iya kak, kakak hati-hati ya pulangnya.”

“Iyah, makasiii,” balas wanita itu sambil tersenyum manis. Iya, manis sekali.

Wanita itu berdiri. Memandangi si anak yang meninggalkannya dari kejauhan hingga si anak tidak terlihat. Setelah itu si wanita langsung menuju mobilnya yang terparkir tidak jauh dari tempat itu. Aku masih memperhatikannya.

Ya Tuhan, jujur hamba malu. Pertama, apa yang sudah dilakukan anak itu sudah jauh melebihi apa yang sudah aku lakukan, khususnya untuk keluarga ku. Kedua, sepertinya aku telah salah menilai wanita tadi.

Aku hanya melihat luarnya saja. Tapi aku sudah berani menilainya luar dalam. Hati wanita ini sungguh jauh lebih mulia dari ku. Orang yang kadang merasa menjadi manusia paling benar, padahal bisa jadi justru aku lah manusia paling salah di dunia ini hanya karena ketidak tahuan ku.

Ku ambil hp ku, ku cari nomer kontak seseorang dan menghubunginya.

“Ya, halo pak.”

“Malam juga.”

“Baik pak, bapak apa kabar?”

“Alhamdulillah, besok bisa ketemu pak?”

“Baik pak, selesai kuliah saya kesana.”

“Sama sama pak.”

Aku berbalik, dan mobil si wanita tadi ternyata sudah pergi. Aku lalu melanjutkan perjalanan ku ke gerbang kampus. Menunggu angkutan. Lalu pulang.

“Ian? Woiii,” Doni menyenggolku. Membuyarkan lamunan ku.

“Bengong aja lu.”

“Hehe, ganggu aja kamu…”

“Yeee, ntar kesambet lo.”

“Haha, endak. Eh kamu jadi ikut apa Don?”

“Apaan?”

“Organisasi…”

“Pecinta alam mungkin. Lu?”

“Belum tau, kamu Ki?”

“Rohis,” jawab Kiki singkat tanpa mengalihkan pandangannya. Dia masih fokus dengan laptop nya.

“Lu ikut gua aja, seru tau pecinta alam.”

“Dibilang belum tau, lagi pula kalau pecinta alam, yaah Don, hidup ku sudah sembilan belas tahun selalu berhubungan dengan alam, kalau pecinta alam lagi ndak seru ah, liat ntar deh,” canda ku pada Doni merujuk kehidupan ku di kampung yang memang tidak jauh dari alam, kebon maksud nya, hahaha.

Doni hanya mengangkat bahunya. Kemudian memperhatikan Kiki yang masih juga sibuk mengerjakan tugas kelompok sendirian. Hahaha, aku tertawa dalam hati. Selama ini memang begitu.

Untuk ide, kita bertiga memang ikut andil, tapi eksekusinya alias yang mengetik dan lain-lain, selalu Kiki. Dia sih mau-mau saja meskipun sebelumnya ngomel-ngomel dulu. Biasa, mungkin semua wanita seperti itu.

Tiba-tiba pandangan ku teralihkan oleh seseorang yang berjalan dari arah depan ku duduk. Cukup jauh tapi ku masih bisa mengenalinya. Posisinya berada di arah kiri Doni dan belakang Kiki.

“BEM,” ucap ku lumayan keras.

“Hah?” respon Doni kaget. Kiki mengangkat kepalanya. Mereka berdua menoleh ke arah ku.

Aku tidak langsung menjawab mereka. Masih terus memperhatikan wanita yang sekarang berada di stand pendaftaran itu. Tidak lama kemudian wanita itu pergi sambil membawa selembar kertas.

“Aku, sepertinya mau masuk BEM saja.”

“Owh, kirain apaan, ngagetin aja lu,” protes Doni sambil menoyor kepala ku. Kiki hanya memasang ekspresi datar. Kalau sudah begitu biasanya dia sudah mulai jengkel dengan tingkah ku dan Doni. Aku merespon mereka dengan sebuah cengiran. Aku lalu berdiri.

“Aku ke stand itu dulu ya, ntar balik sini lagi,” ucap ku sedikit tergesa-gesa ke mereka.

“Iya.”

“Iye.”

***

“Maaf mas, cewek yang barusan tadi daftar juga ya?” tanya ku ke penjaga stand.

“Iya, kenapa mas? Mau daftar juga?”

“Emang tingkat satu udah boleh daftar ya mas?”

“Justru untuk anggota baru kita ngambilnya dari tingkat satu dan dua mas.”

“Owh begitu, trus syaratnya apa?”

“Ga ada sih, yang penting mahasiswa aktif aja, paling isi formulir, kasih cv dan copy data diri, standar lah.”

“Trus seleksinya ngapain aja mas?”

“Paling wawancara, trus bikin kaya rencana kedepan untuk BEM.”

“Owh begitu, ok mas, aku mau dong formulirnya.”

“Boleh, nih. Ga harus diisi sekarang. Kalau bener minat mas nya bisa balikin formulir yang udah diisi plus persyaratannya minggu depan ke sini. Disitu sudah ada list yang harus di lampirin. Oiya untuk seleksinya sekitar dua minggu lagi,” jelas mas-mas penjaga stand itu.

“Siap mas,” balas ku semangat.

Setelah menerima formulir itu aku balik ke tempat kiki dan Doni berada.

“Gimana? Jadi?”

“Jadi lah, nih aku udah ambil formulir pendaftarannya.”

“Bagus deh, moga lolos ye.”

“Aamiin.”

“Tugas udah selesai?” tanya ku tanpa rasa berdosa.

“Udah dong, ya udah yuk ke kelas. Nih gantinya kamu bawain laptop aku. Yuk don,” balas kiki sambil berdiri dan meninggalkan ku begitu saja. Doni hanya senyum-senyum. Mau tidak mau aku jadi porter buat Kiki. Gapapa, yang penting tugas selesai. Nilai pun terjamin. Bukan kah itu yang terpenting bagi seorang mahasiswa? Hahaha.

Dan aku sendiri, masih belum terlalu paham kenapa aku tadi tiba-tiba mengambil formulir pendaftaran. Untuk bisa mendekati wanita itu? Tentu saja, tapi, apa yang harus aku lakukan setelahnya, aku sendiri masih tidak tau.

Dan yang pasti, aku tidak punya pengalaman apapun dengan organisasi. Entahlah kedepannya akan bagaimana. Semoga niat baik ini ada jalannya.

Bersambung