Agen Bola Terminal Bandar Bola Terpercaya
LAPAKDEWA LAPAKPOKER

I Miss Simplicity Part 4

Part 1Part 2Part 3Part 4Part 5
Part 6Part 7Part 8Part 9Part 10
Part 11
Sebuah Kisah Masa Lalu, Kita Sama-Sama Pernah Hidup Susah​

Kami semua berkumpul di ruang tamu, berenam. Mas Rizal duduk di kursi sofa single. Pak Weily dan nona besar Gita duduk berdampingan di sofa panjang. Mba Endang memangku Tiara di sofa single satunya.

Sedangkan aku, mengambil kursi di meja makan untuk duduk. Awalnya aku ingin nerusin kerjaan saja, tapi malah diajak pak Weily untuk gabung. Ada apa ya? Sidang? Jangan-jangan Gita ngadu macem macem lagi sama bapaknya. Tapi, pak Weily gelagatnya adem ayem aja. Mungkin ada hal lain yang ingin dibicarakan.

Tapi yang sedikit membuat ku heran adalah saat aku, mas Rizal, dan pak Weily masuk kedalam rumah adalah sikap Gita yang ramah banget sama mba Endang. Selain itu aku juga melihat wajahnya yang ceria banget saat bercanda dengan Tiara. Beda banget dengan di kampus. Ah paling itu acting doang dia, batin ku. Dasar wanita bermuka dua. Cuih!!

“Baiklah, mungkin langsung saja ya Zal, dan juga Endang,” ucap pak Weily mengambil alih pembicaraan.

“Jadi kedatangan ku dan Gita kesini selain untuk bersilaturahmi adalah untuk meluruskan masalah yang sudah dibuat oleh anak ku Gita. Kalian berdua pasti bingung karena aku yakin Ian ga cerita, kan? Tidak usa dijawab karena aku sudah tau jawabannya. Sebenarnya masalah ini sudah selesai karena kebesaran hati Ian.

Tapi karena aku menghargaimu Zal, sebagaimana kamu yang juga selalu menghargaiku, dan aku tidak mau masalah ini jadi kesalah-pahaman di kemudian hari, aku datang kesini untuk meminta maaf atas nama anak ku, Gita, kepada kalian.”

“Ini ada apa ya pak? Maaf kenapa?” mas Rizal nampak bingung.

Pak Weily menarik nafas panjang lalu menghembuskannya. Dia lalu menceritakan insiden kecil sebulan lalu saat aku datang ke rumahnya. Penjelasannya sangat detail dan sesuai dengan fakta yang sebenarnya.

“Jadi begitu, aku harap kalian berdua mau memaafkan dan memaklumi kecerobohan anak ku.”

“Ian, betul yang pak Weily bilang?”

“Iya mba, hehe.”

“Tapi kamu gapapa kan? Kok ga cerita?” tanya mba endang lagi. Sekilas aku bisa melihat perubahan di raut wajahnya. Ada sesuatu yang ditahan oleh nya, emosi.

“Akunya kan ga kenapa-napa mba, ya aku pikir ndak ada masalah yang perlu diceritakan,” jawab ku agak lesu. Ini pasti bakalan jadi panjang setelah ini.

“Kamu ga mau minta maaf sama Ian Git?” ucap pak Weily sambil menyenggol lengan putrinya itu. Gita sendiri semenjak pak Weily bercerita panjang lebar tadi lebih banyak menunduk.

“I-iya, Gita minta maaf ya Ian, mba, mas, Gita salah waktu itu nabrak Ian, tapi Cuma pelann kok…,” ucapnya pelan.

“Walaupun pelan, tetap saja namanya nabrak ya nabrak, pake mobil lagi, urusannya sama nyawa, tapi ya sudahlah yang penting ian gapapa,” sela mba Endang.

Aduh. Nada-nadanya udah mulai ga enak. Gimana ini?

“Mah!” bisik mas Rizal pelan ke mba Endang. Seperti nya dia juga merasa tidak enak dengan pak Weily.

“Gapapa Zal, akupun pasti akan bereaksi seperti Endang kalau Gita kenapa-napa.”

“Jangan salah paham ya pak Weily, saya sekedar mengingatkan saja supaya Gita lain kali lebih hati-hati. Bukan karena Ian yang kali ini jadi korban, tapi ke pengguna jalan lain juga. Gita jangan tersinggung atau salah paham ya,” ucap mba Endang sambil tersenyum. Tapi senyum yang menyindir. Gita mengangguk pelan.

“Maah!!” mas Rizal berusaha mengerem perkataan mba endang lagi. Tapi sudah terlanjur blong.

“Iya mba, Gita nyesel dan lain kali bakal lebih hati hati.”

“Nah, kalau gini kan semuanya jelas dan aku harap tidak akan ada kesalah-pahaman dikemudian hari.”

“Pak Weily ini ngomong apa sih? salah-paham apa? Ga ada. Yang penting Ian nya ga kenapa-napa kan,” balas mas Rizal.

“Ian mau maafin Gita kan,” tanya pak Weily.

“Saya sudah maafin Gita dari hari itu juga kok pak,” jawab ku berdiplomasi, tidak mau memperpanjang masalah. Aslinya mah aku masih sakit hati. Tapi ya sudah lah. Itu biar jadi masalah pribadi ku dengan Gita.

Aku ga mau hubungan mas Rizal dan pak Weily bermasalah. Bisa dibilang pak Weily adalah salah satu pelanggan mas Rizal. Kalau hubungan mereka sampai bermasalah, tentu akan berpengaruh ke bisnis mas Rizal.

“Ya sudah kalau gitu, kita pamit pulang dulu Zal, Ndang. Masih lanjut kerja kamu ian?”

“Kok buru buru pak, masih sore ini,” tanya mas Rizal basa-basi.

“Hehe, nanti lain kali kita mampir lagi. Atau gantian kalian lah yang main ke rumah ku.”

“Ya boleh pak, kapan-kapan pasti main kok.”

Aku lalu melongok ke jam dinding.

“Masih pak, yaaa paling 2-3 jam lagi lah, lumayan dari pada bengong ngelamunin Gita, ntar orangnya keselek, hahaha,” canda ku. Pak Weily dan mas Rizal tertawa. Mba Endang diam saja tidak ada respon. Gita, sempat menoleh ke arah ku namun kemudian menunduk lagi.

“Hahaha, bisa aja kamu. Tapi bagus lah, mumpung masih muda harus semangat. Oke deh, Git, kamu masih ada yang mau diomongin?”

Gita tidak menjawab. Hanya sebuah gelengan kepala.

“Sekali lagi aku minta maaf ya Zal, Endang.”

“Iya pak weily, tenang aja.”

Kami semua sudah sama-sama berdiri dan hendak mengantarkan pak Weily dan Gita ke gerbang rumah. Kecuali mba Endang, yang lebih memilih menunggu di dalam rumah, entah peralatan rumah tangga apa yang nanti akan dia gunakan untuk menghajar ku. Wes lah pasrah saja.

“Jangan kapok ya pak main kesini nya,” mas Rizal basa-basi.

“Pastinya Zal, aku harap hubungan bisnis kita masih bisa terus berlanjut.”

“Aamiin pak, saya juga berharap begitu.”

“Oke, aku pulang dulu.”

“Hati-hati pak.”

Aku dan mas rizal sama sama melambaikan tangan pada mobil pak Weily yang mulai bergerak menjauh. Setelah itu kami berdua masuk. Bersiap menghadapi segala kemungkinan yang akan terjadi.

***

“Ma, kamu tadi seharusnya bisa sedikit menahan diri lah, ga enak aku sama pak Weily, dan ada Tiara juga kan,” kami bertiga kembali duduk di ruang tamu. Tiara sekarang nonton tv di ruang tengah. Untung dia pergi. Paling tidak dia tidak akan mendengarkan perdebatan orang dewasa ini.

“Trus maksud kamu aku harus diem aja gitu adik ku ditabrak pakai mobil?”

“Ya tapi kan Ian nya gapapa, dan yang penting hargailah sedikit etikat baik pak Weily mau datang kesini buat minta maaf.”

“Aku menghargai pak Weily, tapi tidak untuk anak nya!”

“Tapi maah…Ian nya kan…”

“Iya Ian sekarang gapapa, tapi kedepannya mana aku tau. Awas aja, kalau sampai Ian kenapa-napa nanti sama tu anak, aku sendiri yang maju. Ga perduli aku hubungan mu dengan pak Weily. Rezeki bukan dari dia doang kok, mentang-mentang anak orang kaya. Awalnya aja tadi manis di depan ku sama tiara. Taunya kaya gitu kelakuannya.”

“Mbaaa, permasalahannya ndak serumit itu lho, aku ndak cerita karena ya memang aku ndak kenapa-napa.”

“Kamu juga, ada-apa apa gitu diem aja. Kamu ga nganggep aku lagi? Aku ini kakak mu. Aku di sini jadi gantinya bapak sama ibuk. Kamu tanggung jawab ku. Kalau kamu sampai kenapa-napa aku yang harus tanggung jawab. Aku yang salah,” ucapnya menasehati ku sambil mengusap air mata di pipinya. Mba Endang menangis. Dan sekarang mata ku ikutan memerah.

“Aku cuma ndak mau hubungan mas Rizal sama pak Weily renggang karena aku.”

“Mending ga usah punya hubungan sama sekali dari pada nyawa jadi taruhannya. Pokoknya awas kamu ya kalau ada apa-apa lagi tapi ga cerita ke aku!” ucapnya dengan tegas.

“Iya mba, maaf.”

Mba Endang kemudian bangkit dan pindah ke ruang tengah. Mengajak tiara tidur mungkin. Tidak mungkin aku menahannya. Emosinya sedang tidak stabil.

“Mas, mba Endang…”

“Sudah, biarin tenang aja dulu, wajar lah dia bersikap begitu, naluri seorang kakak.”

“Tapi aku jadi ga enak sama mas Rizal.”

“Udah ga usah dipikirin. Mba mu emang gitu kalau lagi emosi, hehe. Ya sudah mending kamu sekarang istirahat saja. Pasti ga fokus kalau lanjut kerja. Lanjutin kerjanya besok aja. Eh tapi besok kuliah? Memangnya kamu ada masalah apa sih sebenarnya sama Gita?”

“Enghh…hanya kesalah-pahaman saja sih mas. Iya kuliah mas, pagi sampai siang doang sih.”

“Ya sudah kalau begitu, lain kali kalau ada masalah atau salah paham sama orang itu di luruskan, biar ga berkepanjangan, oke?”

“Siap mas.”

Aku menuruti perintah mas Rizal. Aku kemudian ke samping untuk merapikan peralatan kerja ku. Lalu bersih-bersih badan. Setelah itu bergegas menuju kamar untuk istirahat. Mempersiapkan tenaga untuk besok pagi.

***

Pagi ini aku bangun dengan berat sekali. Bukan karena males atau capek. Aku hanya masih ga enak dengan mba Endang. Tapi, gimanapun aku harus menghadapinya.

“Pagi mba, mas, pagi Tiara sayaaang, rajin banget sih jam segini udah rapi.”

“Iya dong rajin, emang om…weeek.”

“Kamu itu rese banget sih ama om? Hehe. Om juga udah rapi tauuu, mau sekolah juga kaya Tiara, Tiara sekolahnya yang rajin ya, tos dulu dong…”

“PLAK”

“Oke om ian jeyeeek.”

“Sarapan dulu ian!” perintah mba Endang. Datar. Dan tegas.

“Iya mba,” balas ku.

Aku melirik ke mas Rizal, dianya malah senyum senyum. Kocak juga ni abang ipar.

Selesai sarapan aku langsung berangkat. Pagi ini tidak ke kantin dulu tapi langsung ke kelas. Karena tadi sarapan dulu, aku sampai kampusnya jadi agak siangan. Tapi masih belum telat. Di depan ruang kelas sudah bergerombol beberapa anak anak kelas. Terlihat juga beberapa orang yang aku ga kenal.

Mungkin anak kelas sebelah. Entahlah. Aku lalu bergabung dengan mereka. Rata rata aku sudah berkenalan dengan mereka kemarin. Tapi ya masih belum hafal nama masing masing. Beberapa masih ketuker dengan yang lainnya.

Dari yang aku dengar, rata rata obrolan mereka tidak jauh jauh dari seputar pergaulan anak jaman sekarang. Film, musik, cafe yang oke buat nongkrong, bahkan diskotik diskotik apa itu aku ga ngerti. Aku hanya jadi pendengar saja. Aku membuka hp untuk melihat jam.

Masih ada lima belasan menit sebelum kuliah dimulai. Doni dan Kiki mana ya kok belum keliatan? Pandangan ku kembali ke arah mereka lagi. Lalu tiba tiba sesuatu yang tak terduga terjadi. Aku masih sangat kaget hingga sulit sekali mencerna apa yang sebenarnya terjadi.

Sebuah telapak tangan mungil nan lembut, aku akui sangat lembut tapi tenaganya lumayan kuat, menarik paksa lengan kanan ku. Tidak ada perlawanan dari ku. Aku masih bingung dengan maksudnya menarik paksa tangan ku. Lalu tepat di tengah koridor antar kelas itu sebuah tamparan keras mengenai pipi ku.

“PLAK!!”

“HEH ORANG KAMPUNG! MAKSUD LO APA SIH NGADU KE BOKAP GUE? MAU LO APA? HAH? CARI MUKA?”

“Maksudnya apa sih Git? Ngadu apa?”

“ALAH… GA USAH BELAGAK BEGO DEH!! OH GUA TAU. ORANG KAMPUNG MACAM LO INI MEMANG BEGO SEMUA.”

Aku masih mencoba menahan emosi ku. Aku benar-benar ga ngerti dengan maksud perkataannya. Semalem dia dan ayahnya datang ke rumah baik baik, tapi sekarang marah-marah dan bahkan menampar ku.

“NGAKU GA LO? NGOMONG APA LO SAMA BOKAP GUA? HAH?” teriaknya lagi membentak ku. Semua mata yang ada di tempat itu menatap kami berdua. Sial. Aku harus gimana?

“Demi Tuhan aku ga ngomong apa-apa, justru aku merahasiakannya dari kakak…”

“ALAH. ORANG KAMPUNG KAYA LO MANA BISA DIPERCAYA.”

Gita memotong kalimat ku. Tangan kanannya mulai melayang lagi kearah wajah ku. Entah kenapa aku tidak bisa mengelak. Aku pasrah. Percuma melawan wanita seperti gita. Apalagi dalam kondisi seperti sekarang. Aku benar-benar diam. Pasrah menunggu jari jemari lembutnya membelai pipi ku.

“Tap!!”

“Eh?”

Aku menoleh dan ternyata ada seseorang menahan tangan gita. Kiki?

“Jaga bicara mu mba Gita!! Kami memang dari kampung, tapi kamu salah besar kalau menilai kami seperti itu. Justru kalian orang kota yang ga tau sopan santun!!”

“Lu kan? Ngapain lu ikut campur urusan gua? Lepasin tangan gua! Arrgg…”

“Dia sahabat ku, kalau kamu ada masalah dengannya berarti kamu ada masalah dengan ku juga!”

Dan terjadilah adu mulut antara dua wanita ini. Ampun. Ini baru hari ke dua aku kuliah, dan sudah ada dua wanita cantic beradu mulut karena aku. Kenapa jadi runyam begini sih?

Kiki lalu melepaskan genggamannya pada lengan gita dengan sedikit membuangnya ke samping. Gita nampak meringis kesakitan. Mukanya sangat merah. Entah karena sakit atau karena menahan emosi.

“URUSAN KITA BELUM SELESAI!! TERUTAMA SAMA LO!!” bentak Gita sambil menunjuk tepat ke wajahku. Lalu dia pergi begitu saja meninggalkan ku dan Kiki.

Tidak lama setelah itu si Doni datang. Dengan muka bego dan penasarannya dia tengak tengok kiri kanan sambil bertanya tanya?

“Apa ada yang gue lewatin di sini?”

Tidak ada jawaban. Anak-anak yang lain sepertinya juga tidak kalah shocknya dengan aku. Tapi itu tidak lama karena setelah itu ada beberapa anak yang inisiatif mengingatkan yang lainnya agar tidak memperhatikan kami lagi. Tiba-tiba Kiki menarik tangan ku. Entah aku akan dibawa kemana. Aku hanya mengikuti langkahnya.

“Hei, kalian mau kemana?”

“Ayok kalau mau ikut!!!” jawab kiki datar tanpa menoleh kebelakang. Dan ternyata Doni mengikuti kami. Masih dengan wajah bingungnya.

***

Ternyata kiki membawa ku kantin. Dia menyuruh ku duduk dan pergi lagi untuk memesan minuman. Tidak lama berselang dia suda kembali dengan dua gelas teh manis dan satu gelas air putih.

“Ini minum dulu air putihnya, biar tenang,” perintahnya yang langsung aku turuti.

Doni baru saja sampai dan hendak mencomot salah satu teh yang ada. Tapi buru buru ditepis oleh kiki.

“Pesan sendiri!!” perintah kiki. Galak. Tegas. Dan sambil melotot.

“Lah ini buat siapa?”

“Ian.”

Doni lalu bangkit dan memesan minuman tanpa berkomentar.

“Gimana? Sudah tenang?” tanyanya lagi lembut. Beda banget sikapnya terhadap ku dan Doni tadi.

“Iya mendingan, makasih buat yang tadi.”

“Kamu udah jelas-jelas dimaki, dibentak dan ditampar gitu masih diem aja?”

Aku mencoba mencerna kalimatnya. Kok posisinya jadi sama seperti dengan mba Endang semalem ya?

“Maksud kamu?”

“Iya kamu udah dihina gitu msih diem saja.”

“Trus aku harus gimana? Menurut kamu aku harus ngelawan cewek gitu?”

“Ya ndak gitu juga, paling ndak cari pembelaan apa gitu, jangan diem aja!”

“Susah.”

Doni sudah balik lagi dengan sebotol minuman dan beberapa cemilan.

“Apanya yang susah?”

“Susah ngadepin orang macem Gita. Diem salah. Dilawan malah akan jadi tambah masalah.”

“Emang masalahnya apa sih? Kok gua ga tau?” sela Doni.

“Panjang, dan ribet, aku juga bingung kenapa semuanya bisa terjadi.”

“Maksud lu, lu udah…”

“Bukan waktunya mikir jorok don!!”

“Hehe.”

“Cerita!! Atau anggep aja kita ga saling kenal!!” ancam Kiki.

“Iya cerita!! atau jangan anggep gue sahabat lu lagi!!” ucap Doni ikut-ikutan.

“Ga usah ikut ikutan!!” kiki menoyor kepala doni.

Aku bimbang. Haruskah aku menceritakannya? Jujur aku ga mau mereka terlibat. Biarin aja ini jadi urusan ku sendiri. Tapi disisi lain aku senang. Walaupun kami belum lama kenal tapi mereka sangat peduli dengan ku. Ku pandangi wajah mereka satu persatu.

Aku melihat adanya ketulusan di mata mereka. Sepertinya aku memang harus membagi masalah ku ini kepada mereka. Bukan kah sahabat adalah tempat untuk berbagi susah maupun senang?

Aku lalu menceritakan awal mula pertemuan ku dengan gita. Dari waktu pendaftaran. Lalu saat aku hampir tertabrak olehnya. Kemudian saat doni menggodanya di kantin. Hingga saat aku harus kerumahnya dan dia entah sengaja atau tidak menabrak ku meski tidak sampai membuat ku terluka. Dan terakhir kejadian semalam saat pak weily datang ke rumah.

“Njirrr, jadi lo udah tau rumahnya gita?”

“Itu beda konteks dengan permasalahan ku Don.”

“Iya sih, sorry.”

“Trus tanggepan kedua kakak mu gimana?”

“Mas Rizal sih lebih bisa menerima. Mba Endang yang sepertinya ndak terima. Dia juga sempat menasehati Gita dengan kata-kata yang menurut ku agak dalem, mungkin itu yang bikin Gita ndak terima.”

“Pantes”

“Hah?”

“Kayanya si Gita sakit hati itu dan mikir kamu yang ngadu ke bokapnya. Padahal bokapnya udah tau kan sebelumnya?” tanya Kiki.

“Iya udah tau pak Weilynya.”

“Tapi kok menurut ku aneh ya. Kamu kan udah ikhlas ga ngemasalahinnya, ngapain bokap Gita pake ngomong sih?” tanya Doni.

“Terlalu jujur kali orangnya.”

“Ya udah nanti aku coba ngomong sama Gita deh.”

“Ngomong apa Ki? Ga usah cari gara-gara lah,” larangku.

“Ya menjelaskan semuanya kalau ini tu hanya salah paham.”

“Jangan lah Ki, nanti malah jadi masalah baru. Ntar aku dikira ngadu ke kamu. Jangan ya!!”

“Iya sih, ya udah liat nanti deh. Eh kalian masih mau masuk kelas?”

“Menurut gue sih ga usah dulu. Kalian yakin bisa konsen setelah kejadian tadi? Belum lagi dengan temen-temen lainnya yang pasti akan bertanya-tanya. Hari ini cabs aja dulu. Besok baru masuk.”

“Kamu yakin don?” aku rada bimbang. Tapi perkataan Doni ada benarnya juga. Tapi masa kuliah baru hari ke dua sudah bolos?

“Trus kita kemana? Ga mungkin pulang kan. Kakak ku bisa nanya macem-macem.”

Doni lalu melirik kearah Kiki. Kiki yang sadar lalu mengerti.

“Mau ke kosan aku lagi? Ayoook.”

Setelah sepakat, akhirnya kami memutuskan untuk ke kosan Kiki saja. Nenangin pikiran. Pak, buk, mba Endang, maafin aku ya

***

Beruntung sekali aku punya teman seperti mereka berdua. Kiki bahkan sampai pasang badan ngadepin Gita. Doni, meskipun tidak tau apa apa dan tidak terlibat, tapi mau ikut ke kosan gita. Katanya itu bentuk solidaritas. Haha. Solidaritas mbah mu Don. Paling juga kamunya aja yang pengen bolos. Aku tertawa dalam hati. Tapi aku menghargainya.

Waktu berjalan dengan cepat. Tidak terasa sudah menjelang siang. Dari pagi tadi, waktu kami isi dengan ngobrol dan bercanda di ruang tamu kosan Kiki. Kita ngobrol apa aja. Mulai dari keluarga masing masing. Dari situ aku tau Doni dan keluarganya seperti apa. Begitu juga dengan Kiki. Dia cerita tentang kehidupannya di kampung. Tidak jauh berbeda dengan keluarga ku.

Dan aku, menceritakan juga tentang keluarga ku. Kakak dan adik ku. Orang tua ku. Dan, aku menceritakan tentang Diah juga. Dari situ doni langsung semangat. Katanya peluangnya dapetin Gita jadi terbuka lebar. Haha. Ambil don. Aku ga tertarik juga.

Intinya dari pagi hingga menjelang siang ini kami isi dengan ngobrol, bercanda, curhat, semuanya. jam sudah menunjukkan pukul 11. Aku pikir kalau pulang sekarang mba Endang ga akan curiga. Aku lalu pamit pada mereka berdua.

Aku pikir Doni masih ntar-ntaran pulang. Ternyata dia mau cabut juga. Ga enak katanya kalau hanya berdua. Tumben nih anak bener mikirnya. Akhirnya aku dan dia bareng meninggalkan kos Kiki.

Doni ke arah parkiran motor. Sedangkan aku ke arah depan kampus untuk menunggu angkutan. Tapi saat diperjalanan aku mendadak ingat dengan perkataan Kiki.

“Hanya salah paham.”

Masuk akal juga pikir ku. Apa aku bicara dengan pak Weily saja ya. Feeling ku mengatakan pak Weily menegur atau memarahi atau semacamnya pada Gita dan Gita beranggapan aku yang mengadukannya. Ya, aku harus bicara dengan pak Weily agar tidak semakin berlarut-larut permasalahan ini.

“Halo pak, lagi sibuk?”

“Enggak sih pak, ehmm tapi kalau ga sibuk saya boleh minta waktunya sebentar?”

“Maksud saya kita ketemu.”

“Saya di kampus pak, baru saja selesai kelas, bapak dimana?”

“Baik pak, saya kesana sekarang.”

Akhirnya aku jadi bertemu dengan pak Weily. Membicarakan permasalahan gita. Aku langsung menghentikan taxi kosong yang lewat. Sesuai anjuran pak Weily, aku disuruh naik taxi saja, nanti ongkosnya akan diganti. Lagipula kalau naik angkutan akan lama.

***

Setelah membayar ongkos taxi, aku langsung turun. Alamat yang diberikan pak Weily ternyata sebuah restoran mewah. Aduh. Aku belum pernah ke tempat seperti ini. Jujur aku minder. Tapi mau gimana lagi.

“Halo, pak, saya sudah sampai, bapak dimana?”

“Baik pak, saya langsung masuk.”

Pak weily sudah di dalam. Dia menyuruh ku langsung masuk dan bilang ke dormen nya mau ke meja pesanan pak Weily. Dormen nya melayani ku dengan ramah dan dengan sigap mengarahkan ku ke tempat pak Weily berada.

“Halo anak muda, gimana perjalanan tadi,” tanya nya saat menyambut kedatangan ku. Dia lalu berdiri dan menjabat tangan ku. Ramah. Beda sekali dengan anaknya.

“Yang pasti macet, hehe, maaf kalau pak Weily jadi nunggu lama.”

“No problem, aku punya banyak waktu. Silahkan duduk. Mau makan apa?”

“Saya ndak ngerti makanan disini pak, mungkin pak Weily bisa pesenin yang pas buat saya. Pasti saya makan.”

“Hahaha, kamu polos sekali, tapi okelah.”

Pak Weily lalu memanggil pelayan dan memesankan aku beberapa jenis makanan. Aku ga tau makanan apa saja itu. Mudah mudahan ga sakit perut aku makan makanan orang kaya.

“Jadi ada apa kamu mengajak ku ketemu? Kalau nanya ada ga barang yang mau dibuatin hardcase, belum ada, haha.”

“Haha, bapak bisa aja, itu mah urusannya mas Rizal, saya mah masih tukang. Ada yang lebih penting pak, soal Gita.”

“Gita ya? Diapain lagi kamu sama dia?”

“Ga diapa-apain kok…”

“Jangan bohong, aku sudah tau semua, cerita aja, ga usah takut.”

“Pak Weily sudah tau?” tanya ku bingung.

“Aku punya banyak orang di kampus mu,” jawab nya enteng.

“Bapak memata-matai gita?”

“Lebih tepatnya mengawasinya.”

Aku mengernyitkan dahi, terkejut dengan pengakuannya.

“Ga usah heran gitu, kamu nanti akan ngerti kalau kamu sudah punya seorang anak gadis.”

“Segitu perlunya kah?”

“Selain untuk keamanan Gita, juga untuk mengawasi kelakuannya, aku pikir kamu sudah tau karakter dan sifat Gita.”

“Ya, sedikit banyak saya sudah tau.”

“Jadi apa tujuan mu mengajakku ketemu?”

Aku tidak langsung menjawabnya. Melainkan menatap wajahnya yang sudah ada sedikit keriput tapi tidak mengurangi kharisma dan kewibaannya. Berfikir sebentar lalu menjawabnya.

“Selain mengajaknya ke rumah semalam, pak Weily ngapain Gita?”

“Maksud mu?”

“Maksud saya, pak Weily ngomong apa ke Gita? Sampai nekad dengan, maaf, ulahnya tadi di kampus?”

“Tidak ada. Menasehatinya seperti biasa. Layaknya ayah ke anaknya. Sebenarnya aku sedikit berjudi juga dengan kedatangan kami semalam. Kamu pasti berfikir aku cari gara-gara. Tapi percayalah, aku sangat memandang Rizal, aku sangat menghargainya.

Aku tidak mau ada yang aku tutupi dari nya. Apalagi masalah yang menyangkut adiknya. Tapi selain itu sebenarnya aku juga ingin mengetes Gita. Dan ternyata aku gagal. Dan maaf kalau kamu kena imbasnya.”

“Tunggu-tunggu, dari cerita bapak barusan, sepertinya pak Weily punya hubungan cukup dekat dengan mas Rizal?”

“Sangat dekat. Dia mengingatkan ku pada masa muda ku dulu. Kami sama-sama pernah hidup susah. Kamu pasti tidak percaya kalau aku bilang aku ini hanya tamatan SMP.”

“Hah?”

“Ya, aku hanya lulusan SMP.”

“Lalu semua kekayaan dan bisnis bapak ini?”

“Aku mendapatkannya dari usaha dan kerja keras. Tingkat kesuksesan tidak tergantung pada tingkat pendidikan. Tapi kalau kita punya pendidikan yang tinggi akan jadi nilai tambah. Kamu punya peluang untuk mendapatkan keduannya, jangan sia-siakan.”

“Saya?”

“Iya, dan aku mau kamu tidak terpengaruh dengan perlakuan Gita. Aku minta maaf untuk itu. Kuliahlah dengan benar. Tapi kamu juga harus mulai menempa mental bisnis mu. Jangan hanya mau jadi pekerja. Mulailah berfikir untuk jadi bos. Belajarlah dari Rizal. Aku, Rizal, dan mungkin kamu pernah merasakan bagaimana hidup susah.

Mulailah membayangkan bagaimana senang nya jika kamu bisa mencukupi kebutuhan orang tua mu di masa tua nya. Bayangkan saja dulu gapapa. Lalu berusahalah untuk mewujudkannya. Aku yakin kamu pasti bisa. Aku melihat ada semangat pada diri mu,” nasehatnya. Luar biasa. Aku pikir dia bisa menjadi seorang motivator.

“Eh, sorry aku jadi ngomong panjang lebar ya, hehehe,” lanjutnya sambil tersenyum.

“Nda apa-apa pak, makasih nasehatnya.”

“Oiya, ayo di makan,” perintahnya pada ku. Aku masih mendiamkan makanan itu karena fokus mendengar ceritanya tadi.

“Hehe, iya pak, mari makan.”

Aku dan pak weily mulai makan makanan yang terhidang. Rasanya, enak sih tapi masih enakan masakan ibu atau mba Endang. Payah nih. Mahal doang pasti pikir ku. Rasanya ndak istimewa-istimewa banget.

“Terus, ada lagi ga yang ingin kamu katakan tentang Gita?”

“Ga ada. Eh ga tau pak. Pak Weily sudah tau semua kan? bingung saya gimana kasih penjelasan ke Gita nya?”

“Aku minta maaf.”

“Bukan salah bapak.”

“Salah ku. Gita dulu tidak seperti itu.”

“Maksud pak weily?”

Dia menarik nafas panjang lagi.

“Semua berawal dari tujuh tahun yang lalu ketika aku menikah lagi. Ibu kandungnya Gita meninggal satu tahun sebelumnya. Waktu itu aku tidak mengindahkan pendapatnya yang tidak setuju aku menikah lagi. Dan parahnya aku menikah dengan orang yang salah.”

Pak Weily diam sejenak. Aku masih diam menunggu kelanjutan ceritanya.

“Istri baru ku ternyata bukan figure yang baik. Dia tidak berlaku baik pada Gita dan kakaknya. Dan dia juga ternyata hanya mengincar harta ku. Untungnya aku cepat mengetahuinya. Walaupun bisa dikatakan telat juga karena Gita sudah terlanjur berubah dan masih tetap begitu hingga sekarang.”

“Jadi maksud pak weily…”

“Iya, Gita berubah menjadi pemarah, suka membentak, tempramen. Pembantu di rumah yang paling sering kena bentakan nya.”

“Tidak ada kata terlambat pak.”

“Maksud mu.”

“Ndak tau, tapi saya pikir Gita masih bisa kembali menjadi Gita yang dulu.”

Sekarang gantian beliau yang mengernyitkan dahi.

“Jangan heran gitu pak, anak sendiri itu, hehe. Lagipula ndak ada yang bisa mengukur dalam nya hati seorang wanita, kan?”

“Hahaha, bisa aja kamu anak muda, tapi aku setuju, aku suka dengan kata kata mu,” ucapnya sambil tertawa.

“Bagaimana kalau kamu yang merubahnya?” lanjutnya.

“Saya? Haha, yang benar saja pak. Sekarang saja dia menganggap ku ndak lebih seperti sampah.”

“Bukannya kamu tadi yang bilang kalau dalam nya isi hati wanita ga ada yang tahu,” ucapnya. “Aku akan memberimu imbalan kalau kamu bisa merubah perilakunya,” lanjutnya.

“Haha, apa yang mau bapak tawarkan?” aku tertawa mendengar penawarannya.

“Apapun yang kamu mau, aku serius, akan ku berikan apapun asal dia bisa berubah.”

Aku terdiam. Kami saling pandang. Aku dapat melihat pak Weily sangat berharap pada ku. Entah apa yang istimewa dari diri ku sehingga dia bisa berfikir aku bisa merubah karakter Gita.

“Saya menghargai penawaran pak Weily, tapi maaf, saya tidak bisa menerimanya. Saya dari kecil di didik untuk tidak mengharapkan imbalan atas apapun.”

“Jadi kamu menerima penawaran ku tanpa mengharapkan imbalan?”

“Tidak juga, maksud saya, saya hanya akan melakukan apa yang menurut saya benar dan kalau Gita berubah, itu bonus nya.”

“Kalau begitu lakukan lah bukan untuk ku, tapi untuk Gita.”

“Saya tidak tau pak, lagi pula untuk sekarang ini sepertinya lebih baik saya menjaga jarak dulu dengan Gita.”

“Aku tidak meminta mu sekarang-sekarang ini juga. Yang penting ada niat dari mu.”

“Kita lihat nanti saja pak, dan saya tidak mau berjanji juga.”

“Oke, thanks. Ayo lanjutin makannya.”

Aku dan pak Weily pun melanjutkan acara makan ini. Aku bingung. Sekarang aku malah diminta untuk membantu merubah karakter anaknya. Entah kenapa aku tidak bisa mengatakan tidak padanya. Padahal sebelum ini aku sangat sangat kesal dengan Gita.

Aku ga tau kenapa malah jadi iba dengan Gita. Apalagi setelah mendengar cerita pak Weily tentang masa lalunya. Kasihan juga tu anak. Tapi aku jadi bersyukur. Beruntungnya aku kedua orang tua ku masih lengkap. Dan sangat menyayangi ku.

[Bersambung]