Agen Bola Terminal Bandar Bola Terpercaya
LAPAKDEWA LAPAKPOKER

I Miss Simplicity Part 37

Part 1Part 2Part 3Part 4Part 5
Part 6Part 7Part 8Part 9Part 10
Part 11Part 12Part 13Part 14Part 15
Part 16Part 17Part 18Part 19Part 20
Part 21Part 22Part 23Part 24Part 25
Part 26Part 27Part 28Part 29Part 30
Part 31Part 32Part 33Part 34Part 35
Part 36Part 37Part 38Part 39Part 40
Merajut Kembali, Satu Di Antara Tiga, Atau Tiga Menjadi Satu?​

Sekarang aku sudah tidak tinggal di kontrakan lagi. Tidak mungkin aku bisa merawat Adipati seorang diri, atau meminta mba Endang yang pindah ke kontrakan. Tidak mungkin. Mau tidak mau aku dan Adipati lah yang akhirnya boyongan ke rumah mba Endang.

Tapi ini justru malah membuat keluarga kecil itu bahagia, terutama si kecil Tiara. Eh bukan sikecil lagi deng. Karena sekarang Adipatilah yang paling pantas disebut sikecil. Sedangkan Tiara tahun ini sudah berumur sepuluh tahun. Sudah kelas empat SD.

Ya, Tiara menjadi orang yang paling bahagia dengan kedatangan ku dan Adipati. Ada beberapa hal yang membuatnya bahagia. Pertama, sebenarnya dia masih merasa kehilangan saat aku pindah dari rumah ini setelah menikah dulu.

Itu karena kedekatan kami dulu dimana aku sudah dianggapnya sebagai kakak sendiri. Kedua, tentu saja keberadaan Adipati. Sudah sejak lama Tiara menginginkan adanya seorang adik. Namun apa daya, apa yang diharapkannya itu tak kunjung tiba.

Sebenarnya bukan karena mba Endang atau mas Rizal tidak mau nambah anak, mereka tidak menahannya, tapi ya mungkin mereka ditakdirkan hanya memiliki satu anak, atau mungkin memang belum waktunya. Tidak ada yang tau takdir Tuhan.

Tapi pada intinya, sosok adik itu kini hadir pada diri Adipati. Bahkan Tiara sudah berikrar bahwa Adipati sudah di “paten” kan olehnya sebagai adiknya. Yah, apa kata Tiara saja lah pikir ku. Aku sih seneng-seneng aja asal mereka semua bahagia.

Kadang aku merasa waktu berjalan dengan begitu cepat. Rasanya baru kemarin, saat aku datang ke rumah ini, dan ke kota ini tentunya, sebagai seorang pendatang. Padahal itu sudah berlalu lima tahun lamanya. Banyak sekali kenangan yang tersimpan di dalamnya. Bagaimana ketika awal-awal aku tinggal di sini. Saat pertama belajar membuat hardcase. Saat-saat aku mendaftar kuliah. Awal-awal kuliah. Awal mula pertemuan dengan Gita. Dan segudang masalah yang kamu ciptakan bersama.

Ah, Gita ya? Bagaimana ya kabar anak itu. Kadang aku ngerasa kangen juga. Kangen dengan sifat manja dan jahilnya. Hehehe. Tapi semua itu tinggal masa lalu. Kabar Kiki dan Doni bagaimana juga ya? Gita dan Kiki sudah jelas tidak di Indonesia lagi. Kalau Doni? Parah juga sih itu anak ga ada kabar sama sekali sampai sekarang.

Padahal kemarin saat aku mendapatkan musibah itu, beberapa teman seangkatan kuliah dulu pada ngelayat. Sedangkan Doni, menanyakan kabar saja tidak. Dan tidak mungkin juga dia tidak mendengar kabar tentang meninggalnya istri ku. Tapi ya sudah lah.

Aku sudah dua minggu tinggal di rumah ini. Dan artinya Adipati sudah berumur tiga minggu. Dan sampai saat ini aku belum bisa mengurus Adipati sendiri. Mulai dari memandikannya, mengganti popok nya, semu dikerjakan sendiri oleh mba Endang. Sejauh ini aku hanya bisa membantu membelikannya susu dan kebutuhan bayi lainnya. Tidak lebih.

Sebenarnya aku merasa tidak enak. Khawatir akan merepotkannya. Tapi mba Endang selalu berkata kalau bagi seorang Ibu sepertinya, tidak ada yang namanya merepotkan bila mengurus anak. Justru dia merasa sangat senang karena bisa mengurus bayi lagi. Sesuatu yang sangat dia harapkan sejak lama. Apalagi ini kan anak ku, katanya itu sama saja seperti anaknya sendiri.

Beberapa hari ini aku juga berkomunikasi secara intens dengan Diah. Kami saling berkabar. Menanyakan keadaan masing-masing. Sedikitpun kami tidak pernah membayangkan status kami berdua yang seperti sekarang ini. Keadaan kami yang secara tidak langsung bernasib sama. Janda dan duda, meskipun dengan cerita yang berbeda.

Dan satu hal lagi, dia sudah tau dengan perihal pesan yang Ayu wasiatkan sebelum dia menghembuskan nafas terakhirnya. Ya, aku menceritakannya juga, tapi aku berpesan tidak ada yang tau kecuali dia. Reaksinya? Biasa saja. Ya, Diah adalah tipe orang yang melakukan sesuatu, atau mengambil suatu keputusan tidak bergantung pada apa atau kemauan dari orang lain.

Bila dia ingin, maka dia akan melakukannya. Tapi dari hatinya sendiri. Bukan karena paksaan, kecuali paksaan dari bapaknya dulu mungkin, tapi itu aku bisa mengerti karena begitu besar rasa sayangnya kepada bapaknya. Termasuk apabila nantinya aku dan dia akan menyambung sebuah kisah lama yang sempat terputus, maka itu akan kami lakukan dari hati, bukan karena wasiat Ayu. Itu apabila kami menginginkannya.

Dan kami pun sepakat. Apapun yang terjadi nanti, kita akan menjalaninya saja dulu apa adanya. Seperti air sungai yang mengalir. Biarkan saja mengalir sesuai dengan kehendak ilahi. Apakah akan bersama melewati celah bebatuan yang sama, atau akan terpisah lagi karena melewati celah batu yang berbeda.

Atau bahkan mungkin bisa saja akan terpisah selamanya oleh aliran sungai yang bercabang, dan mengambil jalan sendiri-sendiri. Tidak ada yang tahu. Yang aku tahu, aku wajib menjalaninya dengan penuh rasa syukur. Seperti sore ini saat kami berlima berkumpul dan santai di rumah. Lengkap dengan Adipati, yang kebetulan habis dimandikan dan sekarang sudah rapi. Tampan sekali anak ini. Mewarisi ketampanan bapaknya. Hahaha.

“Dedek Adi ganteng ya mah?” celetuk Tiara kepada kami semua. Baru saja aku membatinnya.

“Itu masih bayi lho Tiara, ga kebayang nanti gedenya kaya gimana, pasti seganteng ayahnya,” aku menimpali. Tiara yang mendengar balasan ku langsung memberikan ekspresi anehnya. Mulut monyong dengan mata yang berputar-putar seperti mau muntah, mungkin.

“Hiisshh…kalau dedek Adi udah gede mah om Ian ga ada apa-apanya, lewat…” ejeknya tanpa melihat ku. Pandangannya fokus pada Adipati yang sedang tertidur pulas. Seperti layaknya anak bayi seumurnya, abis mandi, minum susu, dan bobo. Indah sekali pikir ku. Sedangkan mba Endang dan mas Rizal yang ada disekitar kami hanya tersenyum mendengar ledekan dan candaan antara aku dan Tiara.

“Mba, aku bener-bener makasih banget mba Endang mau bantuin ngerawat Adipati.”

“Halaaah, kalau bukan aku siapa lagi? Lagipula aku juga seneng kok. Udah lama ga ngurusin bayi, rasanya kangen. Ga terasa juga Tiara udah segede itu.”

“Iya kamu tenang aja, tuh lihat aja Tiara juga seneng banget punya temen baru,” mas Rizal menambahkan.

“Makasih mas, mba, aku ga tau mesti bilang apa lagi. Dulu, empat tahun aku nunpang disini, sekarang, lagi-lagi aku cuma bisa ngrepotin. Dengan beban yang lebih berar lagi.”

“Heh! Ngomong apa sih? Dibilangin ga usah ngerasa ga enak juga. Kamu dan Adipati bukan beban di keluarga ini. Kamu sudah bisa cari duit sendiri. Masalah repot, aku suka dan seneng-seneng aja ngerawat anak kamu ini. Tapi, kalau kamu bisa segera mencari pengganti Ayu, mungkin akan lebih baik. Biar kamu ada pendamping juga.”

“Diah apa kabar?” tanya mas Rizal tiba-tiba.

“Ehm…” jujur aku bingung mau menjawab apa, karena aku yakin ada maksud tersirat dari pertanyaan mas Rizal. Ya, baik mas Rizal maupun mba Endang tau kalau dulu aku pernah ada hubungan khusus dengan Diah, namun kandas di tengah jalan.

Tapi ya hanya sebatas tau kalau Diah dulu dijodohkan, mereka tidak sampai tau tentang insiden penghinaan keluarga itu. Dan baru-baru ini mereka juga tau kalau pernikahaannya juga sudah berakhir. Itu semua mereka tau dari aku tentu saja dengan adanya beberapa hal yang aku saring, yang aku rasa mereka tidak perlu tau ya aku tidak ceritakan.

“Diah baik mas, hehee…”

“Ga nyoba melakukan pendekatan lagi kalian?”

“Eh, ehm…dibilang lagi pendekatan enggak, dibilang enggak tapi ya kita lagi menjalaninya.”

“Kalau kalian masih ada rasa, ya jalanin aja ga apa-apa.”

“Hahaha, aku sih juga begitu mas. Jalanin aja dulu.”

“Om Ian kenapa ga sama tante Kiki aja sih?” tanya Tiara tiba-tiba tanpa menoleh ke arah ku. Pandangannya masih fokus pada Adipati.

Hahaha. Si Tiara masih saja ngarepin si Kiki. Seandainya dia tau kalau Kiki sendiri juga punya perasaan terhadap ku, mungkin dia akan semakin memaksa ku untuk dengan Kiki.

“Lha kamu sendiri kenapa ngebet banget gitu ngejodohin om dengan tante Kiki?” tanya ku balik dengan nada bercanda.

“Iihh…om Ian mah dodol, masa pake nanya kenapa? Tante Kiki kan baik, perhatian, keibuan, dan cantik. Kurang apa lagi?”

“Hahaha, nanti kalau kamu udah gede kamu akan tau kurangnya apa.”

“Yeee, Tiara kan udah gedeee,” balas Tiara dengan gemas.

“Iya Tiara udah gede, tolong ambilin kotak susu dan botol nya dede Adi dong,” ucap mba Endang tiba-tiba. Yang disuruh pun dengan sigap langsung bangun dan segera menuju dapur untuk mengambil apa yang diperintahkan.

“Ian,” panggil mba Endang.

“Ya?”

“Mba juga setuju sama Tiara,” balas mba Endang.

“Maksudnya?”

“Enggak, semua keputusan ada di tangan mu sih. Tapi mba lebih sreg kalau kamu sama Kiki. Tiara bener.”

“Oh itu, aku ngerti mba. Tapi kembali lagi, ini kan masalah hati. Aku tidak bilang seratus persen akan kembali dengan Diah. Tapi untuk sekarang ini juga tidak mungkin aku dengan Kiki.”

“Kenapa?”

“Dia sudah ga di Indonesia.”

“Dimana?”

“Mesir.”

“Ngapain?”

“Kuliah S2…”

“Oooo…”

“Kalau Gita?” dan sekarang ganti mas Rizal yang menanyakan Gita.

“Kenapa tiba-tiba nanya Gita deh mas?”

“Sama kaya mba mu, mas lebih sreg kalau kamu sama Gita.”

“Kenapa?” tanya mba Endang spontan.

“Ya kan kalau Ian sama Gita kita bisa jadi keluarga sama pak Weily…”

“Wooo, dasar…tetep aja ya urusan kerjaan ujung-ujungnya.”

“Hahaha,” aku tertawa.

“Jadi gimana?”

“Sama kaya Kiki, dia lagi ga di Indonesia.”

“Dimana?”

“Australia.”

“Ngapain?”

“Ikut kakaknya yang di sana…”

“Oooo…”

“Kalau soal perasaan?” tanya mas Rizal lagi.

“Aaahhh pada kepo nih,” balas ku.

“Ya kan kali aja kamu pengen curhat…”

“Aku ga tau mas kalau sekarang. Masih belum bisa melepaskan Ayu mungkin.”

“Ngerti…yaa untuk sekarang ini sih memang masih sulit. Tapi kan kalau nanti bisa aja kan?”

“Mungkin, aku juga ga tau. Semoga saja. Bisa dengan salah satu dari mereka bertiga, atau bisa juga dengan orang lain. Tidak ada yang tau mas.”

“Kenapa ga dengan ketiga nya aja?” celetuk mas Rizal sambil cengar-cengir.

Buugghh…!

Sebuah bantal melayang ke arah kepala mas Rizal dan tepat mengenainya. Sebuah lemparan yang tepat sasaran dari mba Endang.

“Jangan ngajarin yang enggak-enggak!!” bentak mba Endang pelan dengan muka juteknya. Mas Rizal malah makin nyengir. Dan kami pun tertawa bersama. Berbarengan dengan kembalinya Tiara yang dengan polosnya bertanya kenapa.

“Kenapa?”

“Enggaaaaak…” jawab kami bertiga kompak. Dan kami bertiga kembali tertawa meledek Tiara yang kebingungan. Dan kami ga sadar suara kami telah membuat Adipati terbangun.

“Opss…”

•••

“Ian?”

“Ya mas?”

Aku dan mas Rizal sedang duduk berdua di teras samping rumah. Tempat yang dulu kita gunakan untuk membuat hardcase, kantor pertama ku. Tempat ini sekarang sudah tidak digunakan untuk membuat hardcase lagi. Ya karena usaha itu sudah tidak lanjut. Selain karena memang aku sudah tidak ada waktu lagi, aku sudah tidak mood untuk melanjutkannya setelah kepergian Gita dan Doni. Sekarang jadi taman layaknya pekarangan rumah biasa.

“Siapapun yang kamu pilih, kita semua tetep mendukung.”

“Maksudnya?”

“Jangan terpengaruh dengan pilihan ku, mba mu, apalagi Tiara. Pilihlah yang akan menjadi pendamping hidup mu sesuai dengan pilihan hati mu.”

“Mas ini ngomongnya kaya aku tinggal nyomot aja, hahaha.”

“Hahaha, namanya juga laki, sejelek-jelek nya kita, kita masih bisa milih.”

“Hahaha, bener juga sih. Tapi kan ga tinggal milih juga. Belum tentu yang dipilih mau kan? Dan yang dua di luar, ada konflik pribadi yang rumit yang ga bisa aku aku ceritakan.”

“Bener, belum tentu langsung mau, tapi kalau kamu berusaha, gampang kok ngeluluhin hati cewek tuh. Dan yang namanya konflik, pasti ada kok jalan keluarnya.”

“Pengalaman ya mas ngeluluhin hati mba Endang? Hehehe,” tanya ku iseng. Mas Rizal langsung sedikit menoleh ke arah depan. Lalu tersenyum nyengir kepada ku. Hahaha. Kayanya bener pengalaman pribadi nih dulu bisa ngeluluhin hati mba Endang.

“Jadi, kamu mau memperjuangkan yang mana nih? Yang dewasa dan sabar? Atau yang ceria dan manja? Atau yang penyayang dan keibuan?”

“Mungkin kalau ketiga-tiganya sekaligus akan jadi pendamping hidup yang lengkap kali ya mas? Hahaha,” seloroh ku lalu tertawa. Mas Rizal malah manggut-manggut sambil mengacungkan jempolnya.

***

Tidak terasa sudah tiga bulan waktu berlalu dan sangat cepat. Besok aku akan ijin cuti untuk pulang kampung karena malam nya akan ada tahlilan seratus hari meninggalnya Ayu. Ya, sudah tiga bulan lebih Ayu meninggal. Meninggalkan kami semua, aku, Adipati, dan keluarga besar kami.

Kondisi ku sekarang sudah kembali seperti dulu. Meskipun masih menyisakan duka yang mendalam, tapi aku terus berusaha menguburnya jauh-jauh. Yang sekarang harus aku lakukan adalah menyongsong masa depan demi anak ku.

Di tempat kerja pun aku juga sudah bekerja seperti biasanya. Hari-hari aku lalui dengan biasa. Normal layaknya karyawana biasa. Masuk jam delapan pulang jam lima. Bila dulu ada Ayu yang bisa mengobati rasa lelah ku setelah seharian bekerja di kantor, sekarang tawa dan tangis Adipati di rumah lah yang selalu membuat rasa lelah ku hilang. Tawa dan tangis yang selalu membuat ku rindu untuk segera pulang ke rumah.

Tidak terasa juga umur Adipati sudah mengginjak bulan ke empat. Alhamdulillah tumbuh kembang nya normal layaknya bayi pada umumnya. Sehat tidak kurang satu apapun. Walaupun sayang, ada satu hal yang belum dan tidak akan pernah dia rasakan. Air Susu dari ibu kandung nya. Sesuatu yang tidak akan pernah dia dapatkan dalam hidupnya. Tapi bagaimanapun juga, aku tetap bersyukur atas apa yang aku dan Adipati dapatkan hingga hari ini. Yang aku yakini adalah yang terbaik bagi kami.

Besok aku mengambil penerbangan pagi. Aku akan mengambil cuti sehari dan karena kebetulan besok hari jum’at, aku akan di kampung sampai hari minggu. Lumayan tiga hari, selain untuk tujuan utama ikut tahlilan, aku juga bisa melepas kangen dengan kedua orang tua ku, mas Yoga dan keluarga kecilnya, dan tentu saja Binar, adik semata wayang ku. Dan mungkin bila ada waktu, aku juga bisa bertemu dengan Diah.

Diah sekarang tinggal bersama saudaranya. Setelah bapak nya meninggal, dan proses perceraian nya beres, kini dia hanya berdua dengan anaknya. Dan untuk menghindari fitnah, dia lebih memilih tingggal dengan saudaranya itu yang masih tidak jauh dari rumah nya yang dulu dan rumah ku juga. Hanya berbeda desa saja.

Komunikasi ku dengannya sekarang semakin intens. Masuk akal karena hati kita sebelumnya memang sudah pernah terhubung oleh jalinan kasih yang dekat meskipun akhirnya kandas di tengah jalan. Yang sebenarnya kandasnya juga bukan karena kemauan kami. Tapi ya sudahlah, itu cerita masa lalu. Dan sekarang mungkin kami akan menjalin atau memulai cerita baru lagi.

Dan selain itu, beberapa waktu lalu aku sempat mendapat sebuah wejangan dari salah seorang rekan kerja ku, tepatnya senior ku. Seorang bapak-bapak. Entah dimulai darimana, waktu itu aku bisa menceritakan semua jalan cerita yang aku alami dalam hidup ku ini kepadanya. Semuanya. Termasuk tentang Diah, Gita, dan Kiki. Tidak kurang dan tidak lebih.

Termasuk niatan ku yang ingin mencari pendamping hidup yang baru. Bukan karena apa-apa, tapi semata-mata karena Adipati. Karena tidak akan mungkin aku selamanya mengandalkan mba Endang untuk merawat Adipati. Dan tidak mungkin juga aku bisa merawat Adipati dari nol seperti sekarang ini sendirian. Dan ada satu nasehat yang melekat erat dalam kepala ku.

“Jika kamu memang berniat mencari pendamping lagi, carilah orang yang selain bisa bermanfaat bagi mu, kamu juga bisa bermanfaat bagi nya. Atau dengan kata lain kamu bisa memberikan kebaikan untuknya lebih dari untuk orang lain”

Namun dalam hal ini, asumsi ku adalah bahwa Gita dan Kiki masih memiliki perasaan yang sama terhadap ku. Karena sekali lagi aku tegaskan, aku tidak tahu isi hati mereka. Aku tidak mau GR. Bisa saja sekarang mereka menemukan tambatan hati yang jauh lebih baik dari ku. Siapa yang tau? Sedangkan untuk Diah, bukan bermaksud GR, tapi aku hampir pasti tau isi hatinya.

Dan atas nasehat dari bapak itu, pilihan terbesar ku kembali jatuh ke Diah. Ada banyak alasan yang membuat ku berat kepadanya. Pertama, kami sudah sama-sama saling mengerti hati masing-masing. Kedua, kami memiliki status yang bisa dibilang mirip. Janda dan duda. Dan inilah yang mungkin senior ku itu maksud, pilihan yang bisa memberikan kebaikan untuknya juga, tidak hanya untuk ku.

Maksud nya di sini adalah sembilan puluh sembilan persen Diah pasti bisa merawat Adipati. Sedangkan Gita dan Kiki, belum tentu. Belum tentu bisa, dan belum tentu mau juga. Dan pasti akan menjadi tekanan psikologis juga bagi mereka bila mereka menikah dengan duda anak satu. Dan harus langsung merawat anaknya dari bayi. Aku rasa akan berat bagi mereka berdua. Dan sekali lagi, ini dengan asumsi mereka mau. Karena aku tidak yakin mereka akan mau menerima ku dengan status ku yang sekarang.

Alasan terakhir, bila Diah bisa merawat Adipati seperti anaknya sendiri, maka aku juga bisa menjadi sosok suami dan ayah bagi anak perempuannya, Kayla. Bagaimanapun juga, umur kayla yang masih belum genap tiga tahun masih sangat membutuhkan sosok seorang Ayah. Dan Insyaallah, dengan niat baik ku ini aku yakin dan berjanji bisa dan akan menjadi sosok ayah yang baik yang dibutuhkan oleh Kayla. Dan menurut ku, sepertinya bukan keputusan yang berat bagi Diah untuk bisa menerima duda seperti ku.

Tapi kembali lagi ke pilihan kami berdua beberapa waktu yang lalu. Ini bukan keputusan final. Kami hanya akan menjalaninya terlebih dahulu hingga beberapa waktu ke depan. Mungkin, paling tidak hingga seratus hari nya Ayu besok. Mungkin akan ada keputusan besar yang akan kami ambil.

Dan semua itu akan kami kembalikan lagi kepada yang maha kuasa. Kami hanya manusia biasa yang hanya bisa merencanakan, selanjutnya Tuhan lah yang akan menentukan. Akan dibawa kemana arah tujuan hidup kami selanjutnya. Tapi apapun yang terjadi, aku yakin itulah yang terbaik.

***

Aku terbang dari cengkareng pukul sembilan pagi, dan tidak sampai jam sepuluh sudah mendarat di Adi Sucipto. Ya, hanya sejam, singkat banget memang. Padahal perjalanan dari sawangan ke cengkarang sendiri hampir dua jam, dan dari Adi Sucipto ke Wonosari juga satu jam lebih.

Jadi total waktu perjalanan ku tidak sampai enam jam. Hahaha. Beda banget dengan dulu yang selalu hampir lima belas jam perjalanan darat dari Jogja ke Jakarta, atau sebaliknya. Ahamdulillah ada peningkatan pikir ku.

Dari Adisucipto aku naik taksi online. Padahal belum lama ini baru saja terjadi kasus penganiayaan terhadap sopir taksi online di bandara ini. Tapi bodolah pikir ku, toh masih ada yang narik di sini. Dan yang pasti jauh lebih murah, bisa setengah harga dari taksi konvensional. Apalagi taksi yang sistem nya tembak. Sama kaya harga sewa mobil seharian.

Sampai di rumah, aku disambut dengan hangat oleh anggota keluarga ku. Tidak hanya keluarga inti, tapi juga keluarga dan kerabat jauh yang ikut berkumpul di rumah membantu menyiapkan segala sesuatu untuk acara tahlilan nanti malam. Bahkan tidak hanya kerabat, tetangga dekat pun juga ada yang menbantu. Sifat gotong royong dan kekeluargaan di tempat ini memang masih terasa kental.

Dan satu hal lagi yang membuat ku senang adalah orang tua dari almarhum Ayu yang juga datang jauh-jauh dari semarang. Selain untuk mengikuti selametan ini tentu saja mereka ini nyekar juga ke makam Ayu. Tidak tega sebenarnya melihat mereka berdua mau nyekar ke makam anak mereka sendiri saja harus pergi jauh dari semarang ke wonosari. Tapi apa boleh buat, itu adalah salah satu wasiat Ayu.

Oiya, satu hal yang mungkin belum sering aku ceritakan adalah sekarang ini keponakan ku tidak hanya satu, melainkan dua. Ya, mas Yoga sekarang sudah memiliki anak hasil dari pernikahannya dengan mba Laras. Umurnya sekarang sembilan bulan. Saat aku menikah dulu usia kandungannya sudah delapan bulan. Makanya waktu itu mereka berdua tidak hadir. Sedangkan saat aku dan Ayu menikah, kandungan Ayu sudah jalan delapan mingu atau masuk bulan ke tiga. Dan Adipati lahir saat Praditya, anak dari mas Yoga dan mba Laras, berumur enam bulan.

Sesampainya rumah, sama seperti biasanya, ibuk selalu yang paling gembira bila melihat kedatangan anaknya ini. Dan layaknya aku ini masih anak kecil, ibuk selalu menanyakan banyak hal pada ku. Masih ingat bagaimana rasanya ibu mu menanyakan kegiatan mu di sekolah seharian tadi? Seperti itu lah rasanya. Hingga setelah beliau kehabisan kata-kata dan pertanyaan, aku di suruhnya untuk istirahat. Dan aku pun istirahat.

***

Acara berlangsung dengan lancar dan khitmat. Dan hangat. Meskipun ada momen yang membuat ku tak mampu untuk menahan air mata ini. Saat ibuk dan ibu mertua ku berpelukan dan sama-sama menangis dengan haru. Aku yakin semua wanita yang ada di rumah ku malam ini, yang kebetulan berkumpul di dapur, ikut menangis saat melihat dan merasakan bagaimana kesedihan yang dirasakan ke dua ibu itu.

Mba Laras, Diah yang juga hadir, Binar, beberapa kerabat perempuan, dan juga tetangga dekat perempuan yang ikut membantu di dapur, semuanya menangis. Semuanya merasakan kesedihan itu. Ikut merasakan bagaimana dua ibu yang sedang berpelukan itu harus kehilangan anak dan menantu perempuan mereka dengan begitu cepat. Bahkan sangat cepat.

Dan aku yakin mereka berdua sedih bukan hanya karena Ayu. Tapi juga karena Adipati. Adipati lah yang membuat kesedihan mereka semakin mendalam. Bagaimana mereka harus mengetahui fakta bahwa cucu mereka akan tumbuh tanpa kasih sayang dari ibu kandungnya.

Tapi untungnya itu tidak berlangsung lama. Karena jujur aku sendiri juga tidak akan kuat bila harus melihatnya terlalu lama. Air mata ini memang sudah menetes, tapi akan semakin deras bila aku terus menyaksikannya.

Para wanita akhirnya membereskan makanan sisa dan bersibuk ria di dapur. Sedangkan yang pria nya menemani bapak-bapak tetangga yang ikut tahlilan yang masih ngobrol dan belum pulang. Aku sendiri memilih untuk duduk di bale di pekarangan rumah ku. Tidak etis memang, dimana aku tidak ikut mengobrol dengan para tamu tapi malah menyendiri. Tapi bapak sendiri yang menyuruh ku, bila aku membutuhkannya.

Angin malam ini terasa begitu segar. Tidak kencang namun tidak pelan juga. Hawanya sejuk, tapi tidak dingin. Dan membawa sedikit ketengan dalam jiwa ini. Pandangan ku menatap jauh ke atas. Ke langit atas nan jauh di sana. Langit yang bersih, tanpa awan sedikit pun. Hanya gemerlap miliaran bintang yang menghiasinya.

Dan kemudian aku melihat salah satu dari bintang itu tiba-tiba berubah menjadi wajah Ayu. Wajah itu tersenyum. Tersenyum dengan Ayu nya. Se Ayu namanya. Aku sangat bahagia bisa melihat senyuman itu lagi. Hingga sesaat kemudian aku tersadar bahwa senyuman itu hanyalah halusinasi ku saja. Tapi aku yakin, Ayu juga melihat ku dari atas sana. Menginginkan ku agar terus kuat. Agar terus menatap ke depan walapun tanpa nya.

“Malem-malem kok ngelamun to ya…” suara seorang perempuan mengagetkan ku. Diah. Sejak kapan dia ada di samping ku ya?

“Eh, Di, sejak kapan kamu ada di sini?”

“Udah dari tadi, kamu nya aja yang melamun sampai ndak sadar aku dateng.”

“Hehe, gitu toh. Maaf. Loh, trus kenapa kamu di sini?”

“Mba Laras tadi yang nyuruh, kuatir kamu kenapa-napa kali duduk sendirian di sini. Ntar dibawa kabur kolong wewe ndak ada yang tau lagi. Nah, kamu sendiri ngapain sendirian di sini? Bukannya ngobrol sama bapak-bapak?”

“Hahaha. Emangnya aku bocah dibawa kabur kolong wewe?Bapak yang nyuruh tadi, lagi pula aku juga pengen nyari udara seger setelah melihat ibuk sama mertua ku tadi nangis, rasanya kok nyesek banget. Kasian. Ndak tega.”

“Tapi kamu hebat lho Ian, bisa kuat ngejalaninnya.”

“Apa bedanya sama kamu Di?”

“Aku?”

“Iya kamu, aku rasa, beban yang harus kamu pikul selama ini jauh lebih berat dari yang aku jalani.”

“Itu karena keadaan Ian. Keadaan lah yang membuat kita kuat. Keadaan lah yang membuat kita terus berkembang dan menjadi pribadi yang lebih dewasa.”

“Sama juga kaya aku. Keadaan lah yang membuat ku harus kuat. Eh iya lupa, maaf lho aku semalem nda bisa hadir ke tahlilannya almarhum bapak mu, aku mau cuti dari kemarin tapi nda bisa, cuma dapet hari ini aja…”

“Ndak apa-apa Ian, namanya juga kerja. Emang aku yang ndak punya kesibukan apa-apa selain momong bocah. Hahaha,” tawa Diah dengan getir.

“Kamu ndak ada bayangan lanjut kuliah Di?”

“Hahaha, untuk apa?”

“Ya supaya ada kegiatan. Supaya kegiatannya ndak cuma momong bocah.”

“Aku bahagia kok Ian dengan status ku sekarang yang ibu rumah tangga. Eh salah, janda rumah tangga, haha,” canda nya. Aku ikut tersenyum kecut.

“Lagi pula kalau mau kuliah, dana dari mana Ian? Sekarang aja aku ngandelin sodara. Aku belum bisa mandiri. Belum punya penghasilan sendiri. Bagaimana aku mau kuliah?”

“Kalau aku menikahi mu dan membiayain kamu kuliah, bagaimana?”

Pertanyaan yang terlontar dengan tiba-tiba. Bukan hanya Diah, aku pun ikut kaget sesaat setelah ucapan itu keluar. Tapi aku mencoba untuk tenang.

“Hahaha,” Diah tertawa.

“Kenapa?”

“Emang kamu sudah yakin Ian? Kamu sudah yakin akan memilih ku? Janda anak satu. Kamu ndak takut jadi omongan orang?”

“Justru karena kamu janda…”

“Eh, maksud kamu?” Diah sempat kaget dan melotot saat mendengar kalimat ku yang terpotong hingga aku meneruskannya.

“Maksud ku, karena kamu janda, dan aku duda, seharusnya akan jadi sesuatu hal yang positif kan. Mungkin akan lebih menjadi omongan bila aku mencari istri lagi yang masih muda atau masih perawan. Atau mungkin kamu nyari suami lagi yang masih berondong atau malah om-om kaya raya. Ya to?”

“Iya sih, tapi maksud kalimat mu tadi yang akan jadi omongan kalau kamu dapet yang muda atau perawan itu maksudnya aku udah tua gitu?” tanya Diah dengan galak sambil melotot. Namun kemudian dia tersenyum dengan lebar dan kami tertawa bersama.

“Hahaha, endak kok Di, kita kan seumuran.”

“Hahaha, iya, aku juga bercanda kok tadi.”

“Tapi Di, maksud atau inti dari kalimat ku tadi adalah, selain karena perasaan kita masing-masing, aku tidak pernah ragu dengan itu, bila nantinya kita bersatu, itu akan menjadi sesuatu yang baik Di. Kamu bisa mengurus Adipati, dan aku bisa menjaga dan melindungi mu serta Kayla.”

“Aku ndak tau Ian kalau, jujur aku masih ragu. Tapi percayalah, perasan ku ke kamu ndak pernah berubah sedikitpun dari awal dulu aku mengenal mu. Mungkin aku akan meminta pendapat atau saran dulu dari saudara ku.”

“Aku juga punya rencana seperti itu. Aku akan meminta pendapat juga ke orang tua ku, dan ke dua mertua ku juga mungkin. Bagaimanapun juga mereka juga harus tau tentang rencana ku ini.”

“Betul. Mertua mu juga harus tau Ian. Baiklah. Kalau tanggapan mereka sama-sama positif, kita akan mencobanya. Bagaimana?”

“Setuju,” jawab ku dengan mantab.

Kami pun sama-sama tersenyum. Satu langkah lagi dan mungkin kami akan bisa bersatu. Merajut kembali mimpi-mimpi yang dulu pernah kami angankan. Semoga. Semoga mimpi-mimpi itu tidak lagi hanya akan menjadi mimpi. Karena kami berdua akan berusaha untuk mewujudkannya.

Bersambung