Agen Bola Terminal Bandar Bola Terpercaya
LAPAKDEWA LAPAKPOKER

I Miss Simplicity Part 36

Part 1Part 2Part 3Part 4Part 5
Part 6Part 7Part 8Part 9Part 10
Part 11Part 12Part 13Part 14Part 15
Part 16Part 17Part 18Part 19Part 20
Part 21Part 22Part 23Part 24Part 25
Part 26Part 27Part 28Part 29Part 30
Part 31Part 32Part 33Part 34Part 35
Part 36Part 37Part 38Part 39Part 40
Di Keabadian​

Begitu mendengar kabar dari mas Arman soal Ayu, aku langsung memacu motor ku secepat kilat menuju rumah sakit. Rumah sakit? Iya, rumah sakit. Yang dikabarkan oleh mas Arman tadi adalah mengenai Ayu yang katanya sudah mengeluh ada kontraksi di perutnya.

Ada kemungkinan akan melahirkan malam ini. Si dede sudah mau di launching. Tapi ini masih kemungkinan karena seharusnya jadwalnya adalah minggu depan. Tapi kapan pun itu, aku harus siap dan siaga.

Untungnya malam ini ada mereka berdua. Mba Yani dan Mas Arman. Mereka sekarang, termasuk Ayu, sedang dalam perjalanan menuju rumah sakit dengan menggunakan taksi. Alhamdulillah, Tuhan masih memberikan tetangga kontrakan yang baik dan mau menolong. Semoga semuanya berjalan dengan lancar. Tak henti-hentinya aku berdoa di sepanjang perjalanan.

***

Tidak butuh waktu satu jam untuk ku bisa sampai di rumah sakit. Rumah sakit nya sendiri masih di daerah lenteng agung. Begitu sampai, aku langsung menghubungi mas Arman dan menanyakan di kamar berapa Ayu tangani. Selama perjalanan dari parkiran motor pun aku juga mengabari keluarga ku.

Yang pertama tentu yang paling dekat, mba Endang dan mas Rizal. Aku tidak mengharapkan mereka datang malam ini, tapi kalau bisa sih akan membuat ku lebih tenang. Jujur, aku sangat grogi malam ini.

Yang selanjutnya aku hubungi adalah orang tua ku. Jam segini pasti mereka sudah pada tidur. Tapi tidak apa, aku tetap akan menelepon Binar dan memintanya mengabari bapak dan ibuk. Yang terakhir, tentu saja mengabari keluarga mertua ku di semarang.

Terus, setelah itu apa? Sejujurnya aku masih belum tau apa yang harus aku lakukan. Apa aku harus ikut masuk ke dalam ruang persalinan nantinya? Ikut mendampingi Ayu? Atau cukup menunggu di luar saja? Ah aku malah jadi tidak bisa berfikir dengan jernih.

Ini adalah momen paling menegangkan yang pernah aku alami. Tapi untungnya masih ada mba Yani dan mas Arman yang sudah berpengalaman tentunya. Aku lalu mempercepat langkah ku menuju ruang persalinan.

“Ayu gimana mas?” tanya ku dengan paniknya saat aku tiba di depan ruang persalinan. Ada mas Arman dan mba Yani yang menunggu di sana. Mereka berdua nampak tenang-tenang saja. Sangat berbeda dengan ku.

“Ada di dalam, sedang berjuang. Doain aja ya semoga persalinannya berjalan dengan lancar,” jawab mas Arman.

“Iya kamu tenang aja, hehe. Jangan panik gitu,” ledek mba Yani yang melihat kepanikan ku. Ledekannya memang wajar, aku memang terlihat sangat panik. Tapi itu juga wajar kan? Ini proses persalinan anak pertama kami.

“Hehe,” aku nyengir dengan garingnya. “Aku boleh ikut masuk ndak ya?” tanya ku lagi.

“Tadi bidan nya bilang jangan ada yang masuk dulu. Mungkin karena tidak dari awal takutnya nanti malah mengganggu konsentrasi yang di dalam,” jelas mas Arman.

“Dan kalau melihat wajah mu sekarang sih mending ga usah masuk deh. Takutnya juga malah jadi energi negatif ke yang ada di dalam, hehehe,” mba Yani menambahkan.

Aku langsung tertunduk lesu mendengar jawaban mereka berdua. Ya, aku memang terlihat panik. Salah, bukan terlihat, aku memang benar-benar panik. Sangat panik malah. Dan aku tidak bisa menutupinya. Akan sangat aneh jika nantinya aku ikut masuk ke dalam justru aku sendiri yang pingsan.

Ya, itu bisa saja terjadi karena aku tidak kuat bila aku harus melihat darah dalam jumlah banyak. Apalagi darah manusia. Saat inilah aku merasa menjadi orang paling payah sedunia. Walaupun sebenarnya aku sangat ingin masuk dan menemani Ayu. Tapi aku mencoba untuk realistis.

Panik. Iya aku panik. Menunggu dalam kecemasan adalah sesuatu hal yang sangat tidak mengenakkan. Apalagi ini menyangkut hidup dan mati orang yang sangat aku sayangi, istri dan calon anak ku. Akhirnya aku lebih memilih untuk duduk di sebuah bangku di lorong antar kamar. Kedua siku ku bertumpu paha ku. Sedangkan telapak tangan ku menutupi muka ku.

Aku hanya bisa menunggu dan menunggu. Sementara Ayu di dalam sana sedang berjuang sendirian melawan maut. Aaah. Rasanya pengen teriak sekencang-kencangnya untuk mengurangi rasa cemas ku ini. Dan sudah hampir setengah jam aku menunggu. Dan belum ada hasil. Ya Tuhan, semoga Engkau memberi kelancaran untuk istri hamba.

“Apa suami dari Nyonya Retno Ayu ada?” suara itu terdengar bersamaan denggan pintu yang terbuka dari kamar Ayu di tangani. Sontak aku menoleh dan langsung menghampiri sumber suara tadi. Rupanya sang bidan. Tapi…

Ada yang aneh. Wajahnya tidak menunjukkan kebahagiaan. Ada raut kesedihan. Ada apa? Apa yang terjadi?

***

“Mas, aku punya dua permintaan untuk mu,” bisik Ayu dalam ketidak berdayaannya. Namun aku masih bisa melihat senyum di wajahnya. Meskipun juga nampak terlihat sangat pucat. Ayu masih mencoba menutupinya dan menyembunyikannya dari ku. Tapi tidak bisa. Wajahnya sangat pucat dan lemas. Aku harus gimana ini?

Ini adalah jawaban dari pertanyaan ku tadi. Kondisi Ayu sesaat setelah melahirkan langsung melemah dan terus melemah dan menurun dengan drastis. Kebahagiaan yang baru saja aku rasakan tadi tiba-tiba pudar begitu saja begitu melihat kondisi Ayu. Dan aku tidak bisa berbuat apa-apa.

“Kamu ngomong apa sih? Kamu ndak akan kemana-mana sayang. Kita bakal besarin anak kita bareng-bareng.”

“Ga mas. Aku ga akan lama lagi. Aku bisa ngerasainnya. Hehe. Maafkan aku kalau selama ini aku banyak salah sama kamu…aku…”

“Ayu…” aku tidak bisa menahan air mata ku yang sudah mengalir membasahi pipi ku.

“Mas, jangan nangis. Nanti aku ikut sedih. Aku ga kenapa-napa kok. Aku senang. Aku bagagia. Kedekatan kita yang hanya singkat ini udah bikin aku seneng kok. Makasih kamu dulu udah mau menerima ku apa adanya. Dan hanya si kecil itu yang bisa aku berikan.”

“Bagi ku, kehadiran mu itu sudah lebih dari cukup,” balas ku.

“Hihihi, kamu memang selalu bisa membuat ku seneng mas,” ucap nya lagi dengan pelan. Suaranya semakin melemah. Aku pegang tangannya untuk memberi nya kekuatan. Memberikannya semangat, dorongan. Sudah tidak ada tenaga di tangannya.

“Soal permintaan ku tadi mas, apa kamu mau berjanji untuk mengabulkannya?” tanya nya.

“Demi Tuhan Yu, aku ndak suka kamu ngomong kaya gini, dok, tolong…”

“Tapi ini akan segera terjadi mas. Aku benar-benar sudah dekat. Berjanjilah mas, sebelum…”

“Yu…”

“Mas aku mohon…”

Aku tidak menjawab. Bila aku mengiyakan maka itu artinya aku menganggapnya benar-benar akan pergi. Aku tidak mau. Ayu akan tetap ada. Dia tidak akan kemana-mana. Dan aku hanya diam saja dengan permintaannya.

“Mas, sebelum aku pergi, aku punya dua permintaan…” lanjutnya. Dan aku semakin tidak bisa menahan air mata ku.

“Pertama, a-aku mau istirahat di tempat kamu di-la-hirkan, kamu bisa kan mengabulkannya?” tanya nya lemah. Aku hanya bisa mengeratkan pegangan ku pada tangannya.

“Ke-dua, a-ku mau kamu… dan Diah… yang membesarkan anak kita.”

Dan itulah kalimat terakhir yang keluar dari mulut Ayu. Sekaligus permintaan terakhirnya berbarengan dengan hembusan nafas terakhirnya. Diiringi dengan senyum yang terkembang dari wajahnya. Ayu telah pergi meninggalkan ku. Meninggalkan kami, aku dan anak kami.

Ya Tuhan kenapa secepat ini? Aku ingin menangis sekencang-kencangnya. Tapi aku tidak bisa. Aku harus ikhlas meskipun berat. Aku harus menerimanya. Aku sabar. Aku harus ikhlas. Tapi…tapi ini terlalu berat…aku…aku…semuanya mendadak menjadi gelap dan aku merasakan tubuh ini menjadi sangat lemah.

Aku mengenal dikau

Tak cukup lama separuh usia ku

Namun begitu banyak… pelajaran

Yang aku terima

Kau membuatku mengerti hidup ini

Kita terlahir bagai selembar kertas putih

Tinggal kulukis dengan tinta pesan damai

Kan terwujud Harmony

***

Aku tersadar ketika ada seseorang yang duduk di samping ku terbaring. Seorang wanita sepertinya aku mengenalinya. Mba Endang.

“Ian? Kamu udah sadar?” tanya mba Endang.

“Eh…engghh…mba?” jawab ku sambil berusaha bangun. Namun aku merasakan pusing dan kepala ku terasa sangat berat. Membuat ku reflek memegangi kepala ku.

“Sudah jangan bangun, kamu tiduran saja dulu”.

“Tapi mba, Ayu?” tanya ku karena aku langsung teringat dengan Ayu. Almarhum Ayu. Almarhum istri ku. Ya, aku menyadari nya. Aku menyadari apa yang telah terjadi pada Ayu. Dia sudah tiada.

“Hiks…Ayu…hiks…” dan sekarang mba Endang justru ikut menangis.

“Ayu mba, Ayu…”

“Iya, iya mba sudah tau. Kamu yang sabar ya sayang. Semua sudah menjadi suratan takdirnya. Kamu harus kuat. Kamu harus ikhlas.”

“Tapi kenapa harus secepat ini? Ian baru saja…”

“Iya mba tau, tapi kamu juga harus yakin ini adalah yang terbaik. Dan sekarang kamu mendapatkan amanah yang harus kamu jaga baik-baik.”

Ya, benar apa yang dikatakan mba Endang. Sekarang aku mendapatkan amanah yang harus aku jaga. Anak itu. Anak ku dan Ayu. Aku harus sabar, ikhlas dan tegar untuk menjaga dan merawatnya. Karena kalau bukan aku, siapa lagi? Tapi…tetap saja rasa sedih ini tidak akan bisa terobati atau hilang begitu saja. Aku hanyalah manusia biasa.

Aku juga punya hati yang bisa merasakan sakit atau sedih ketika orang yang aku sayangi pergi meninggalkan ku. Apalagi, dia pergi untuk selamanya.

“Tapi mba paham banget kalau kamu sedih. Mba bisa merasakannya. Sedihlah kalau memang kamu sedih. Menangis lah kalau kamu ingin menangis. Tapi jangan berlarut-larut yah. Masih ada aku, mas Rizal, Tiara, bapak dan ibuk, kami semua akan selalu ada di dekat mu untuk mendukung mu.”

Aku hanya termenung mendengar pesan dari mba Endang. Pandangan ku tertunduk. Kenapa? Kenapa harus seperti ini? Kenapa harus secepat ini? Kenapa disaat aku bisa mendapatkan seseorang, atau disaat ada seseorang yang mau dan bisa menerima ku apa adanya justru Tuhan memanggilnya secepat ini? Kenapa? Kenapa secepat ini? Dan aku hanya bisa menangis sesenggukan diatas pembaringan ini. Menerima takdir Tuhan yang katanya adalah yang terbaik untuk setiap umatnya.

“Satu lagi,” ucap mba Endang sambil merengkuh tubuh ku ke dalam pelukannya, meskipun tubuh ku jauh lebih besar dari tubuhnya.

“Memang benar kebersamaan mu dengan Ayu hanya sesingkat sekarang, tapi berdoalah semoga Ayu tenang disana. Diampuni segala dosanya. Di terima amal ibadahnya. Dilapangkan kubur nya. Dan, semoga dia lah yang akan menjadi pendamping mu di surga nanti. Dan mba Yakin Ayu sudah tenang di sana karena meninggalnya seorang wanita yang sedang melahirkan itu pahalanya setimpal dengan pahala mati syahid. Sekarang tugas mu adalah membesarkan anak kalian agar menjadi anak yang soleh, yang bisa menuntun mu menyusulnya di keabadian kelak nanti.”

Aku mengangguk. Ya, hanya itu yang bisa aku lakukan sekarang. Terus bersedih pun tidak ada gunanya. Lebih baik aku mendoakan yang baik-baik untuk Ayu. Dan yang paling penting adalah aku harus ikhlas. Aku tidak boleh terpuruk. Demi anak itu.

“Yang lain dimana mba?”

“Tiara lagi sama Yani di luar, kalau Arman dan mas Rizal lagi ngurus administrasi.”

“Bapak sama ibuk sudah dikabari?”

“Sudah, bapak sama ibuk mertua mu juga.”

“Bagaimana reaksi mereka?”

“Sedih pastinya. Mereka semua akan kesini besok pagi.”

“Ga perlu mba.”

“Ga perlu?”

“Iya,”

Aku lalu menceritakan salah satu permintaan terakhir Ayu sebelum menghembuskan nafas terakhirnya tadi. Permintaannya yang ingin beristirahat di tempat dimana aku dilahirkan. Di kampung halaman ku.

“Kalau begitu kamu ceritakan dulu ke mertua mu, bagaimanapun juga mereka juga orang tuanya. Kamu harus minta pendapat mereka juga,” pesan mba Endang.

“I-iya mba.”

Karena kondisi ku yang mulai agak tenang, aku memutuskan untuk keluar dari ruangan ini. Hal pertama yang ingin aku lakukan adalah menghubungi mertua ku untuk menyampaikan wasiat dari Ayu.

***

Setelah melewati perdebatan yang cukup alot antara bapak dan ibu nya, akhirnya mereka menyetujui Ayu di kebumikan di daerah tempat ku berasal. Meskipun aku bisa merasakan berat bagi salah satu dari mereka. Namun aku hanya bisa menyampaikan bahwa itu adalah permintaan terakhir Ayu. Dan ada saksi nya. Sehingga meminimalisir adanya prasangka dari mereka.

Namun begitu aku juga hanya menyampaikan permintaan Ayu yang pertama. Untuk permintaan Ayu yang kedua, aku rasa sekarang bukan lah waktu yang tepat untuk membahasnya. Dan belum tentu juga aku akan membahasnya suatu hari nanti.

Biarlah itu menjadi rahasia kami. Ya, rahasia kami. Aku sudah berpesan kepada semua yang mendengar wasiat Ayu tadi agar hanya mengakui permintaan yang pertama saja. Kalau aku salah, aku yang akan menanggungnya.

Dengan keputusan ini maka orang tua Ayu dan keluarganya tidak akan berangkat ke jakarta, melainkan dari semarang langsung ke wonosari. Sedangkan kami, kecuali mba Endang dan Tiara, malam ini juga akan langsung berangkat ke wonosari menggunakan ambulance agar besok jenazah Ayu bisa segera dikebumikan. Mba Endang memutuskan untuk tinggal di jakarta agar bisa merawat si kecil. Sikecil yang malang. Yang bahkan tidak akan pernah merasakan sekalipun pelukan hangat dari ibunya.

Berat. Sangat berat. Malam ini mungkin akan menjadi malam terberat dalam hidup ku.

***

Seminggu telah berlalu semenjak kepergian Ayu. Semalam adalah tujuh hariannya. Dan hari ini aku akan balik ke jakarta. Bersama dengan kedua orang tua ku yang ingin sekali melihat cucu ke tiga nya. Sedangkan aku sendiri waktu hari ke dua yang lalu sudah ke jakarta lebih dulu menggunakan pesawat, dan aku menginap satu malam di sana. Sebelum kemarin balik lagi kesini untuk pengajian tujuh harian. Dan hari ini akan balik ke jakarta lagi.

Mertua ku waktu itu menginap tiga malam disini sebelum balik ke semarang. Dan balik ke wonosari lagi kemarin. Dan rencananya hari ini akan ikut ke jakarta, dengan tujuan sama, melihat cucu pertamanya.

Diah, semalem datang ke rumah dan ikut pengajian. Dia ikut berduka cita atas kepergian Ayu. Dia juga menanyakan bagaimana kondisi anak ku. Dan menawarkan jika aku butuh bantuan, dia bersedia membantu ku untuk merawatnya.

Hitung-hitung sebagai teman anaknya, si Kayla. Tapi aku bilang itu nanti saja. Aku belum memikirkannya karena untuk sementara mba Endang lah yang akan membantu merawat anak ku.

Dan pada akhirnya sedikit demi sedikit kami sudah bisa melepas kepergian Ayu dengan lapang dada. Kami mulai bangkit dari kesedihan dan kembali tegar demi menyongsong masa depan si buah hati, anak ku, cucu mereka, yang ku beri nama Adipati Ageng Restu Kusuma.

Anak yang kami harapkan akan menjadi orang besar dan kuat. Sebesar harapan ku dan Ayu. Menjadi pelindung bagi sesamanya, dan berguna bagi semua orang.

Bersambung