Agen Bola Terminal Bandar Bola Terpercaya
LAPAKDEWA LAPAKPOKER

Ciuman Terakhir Part 23

Part 1Part 2Part 3Part 4Part 5
Part 6Part 7Part 8Part 9Part 10
Part 11Part 12Part 13Part 14Part 15
Part 16Part 17Part 18Part 19Part 20
Part 21Part 22Part 23Tamat
Sinar Mentari di Leith – Sekadar Epilog

Sepuluh bulan kemudian,

Akhirnya, Hara dan Nola dapat menikmati matahari terbit sambil berdiri di sekitar mercusuar Newhaven. Hanya saja, karena terlambat berangkat dari apartemen, saat mereka tiba, area tersebut sudah cukup ramai oleh pengunjung.

Namun, situasi tersebut tidak mengurangi keromantisan di antara mereka, saat menyaksikan matahari yang menyembul di garis horison. Menara penunjuk arah bagi para pelaut sebelum alat navigasi berkembang modern itu, terlihat bagai siluet saja.

“Sunshine on Leith,” gumam Nola, menyebutkan judul lagu milik The Proclaimers. “Indah ya, Kang?”

Hara mengangguk. “Jadi, The Proclaimers nggak berbohong di lagunya, ya?”

“Iya,” Nola tertawa kecil. “Dan aku juga nggak berbohong, kalau bilang bahwa aku bahagia bisa menyaksikan semua ini.”

Nola beringsut, menghadapi Hara.

“Nanti sore, Kang Hara jadi nonton The Hibs?” tanyanya.

Hara menjawab dengan anggukan kepala.

“Aku boleh ikut?” tanya Nola lagi.

“Kenapa mesti nggak boleh?” Hara balik bertanya. “Nggak ada aturan melarangmu menonton langsung The Hibs ke Easter Road.”

“Tapi…” gumam Nola. “Percuma aku ikut nonton. Nanti kita malah duduk berpisah!”

Hara menggeleng. “Kami belum pesan tiket, kok.”

“Ya udah, aku ikut,” putus Nola. “Semoga The Hibs menang. Jadi, kita bisa menyanyikan Sunshine on Leith di akhir pertandingan.”

Hara tersenyum. “Menyaksikan visi berbeda dari Sunshine on Leith, ya.”

“Iya,” Nola ikut tersenyum.

“Oya, kakakmu nggak akan marah kalau kamu menonton The Hibs bersamaku?” tanya Hara.

“Kenapa harus marah?” Nola balik bertanya. “Kakakku marah karena aku menonton The Hibs? Atau marah karena aku menontonnya bareng Kang Hara?”

“Kamu tahu jawabannya, ‘kan?” Hara tersenyum.

“Aku yakin, dia nggak akan marah,” ujar Nola yakin. “Kakak aku percaya Kang Hara, kok.”

“Syukurlah…” Hara menghela napas. “Jadi, kakakmu nggak akan cemberut.”

Nola tertawa.

“Hmm… kalau dipikirkan lagi, kenapa kita berdua harus takut pada kakakmu, sih?” keluh Hara.

Nola tertawa lagi.

***

Hara dan Nola telah kembali ke apartemen mereka di Lochlin Place. Nola memilih untuk nongkrong di kamar Hara, yang berada di lantai 2F. Kebetulan, Indra dan Mustafa, dua roommate sang lelaki, memiliki acara masing-masing.

Keduanya baru akan bergabung dengan Hara dan Nola, di The Mash Tun, sebuah kafe yang berlokasi 500 meter dari Easter Road, untuk kemudian sama-sama menonton laga kandang Hibernian F.C. melawan Kilmarnock.

Kamar Nola sendiri berada di lantai dasar alias GF, berbagi dengan Afika. Kamar tersebut berdampingan dengan kamar yang ditempati oleh Sally dan Nikmah. Memang hanya ada dua ruang tidur di lantai dasar, plus ruang duduk berukuran lumayan lebar, dapur serta ruang makan.

Sementara, di tiga lantai atas, masing-masing terdapat empat ruang kamar, tanpa ruangan lain. Bagaimana dengan kamar mandi? Setiap kamar dilengkapi toilet dalam.

​”Afika, Sally dan Nikmah ada di kamarnya?” tanya Hara.

Nola mengangguk. “Mereka nggak punya rencana bepergian, di akhir pekan ini.”

“Karena tahu bahwa The Hibs akan bertanding di kandang?” tebak Hara. “Nggak tahan dengan kemacetan yang akan terjadi?”

Nola mengangguk lagi.

“Mereka nggak tahu situasi sepakbola di sini,” Hara tertawa renyah. “Oh Say… suporter sepakbola di sini nggak akan bikin macet seperti penonton sepakbola di Indonesia. Mereka berjalan kaki, bukan berkendaraan.”

“Iya, sih,” tanggap Nola, juga sambil tertawa kecil.

“Padahal, mereka nggak perlu merasa terganggu dengan jadwal pertandingan kandang The Hibs,” lanjut Hara. “Para suporter…”

Kata-kata dari bibir Hara terhenti, saat ponselnya yang tergeletak di atas meja tulis, berdering. Ia bergegas bangkit dan mengambil smartphone-nya.

Yuri! pekiknya di dalam hati, ketika menyaksikan caller ID pada layar ponselnya, yang melakukan panggilan video.

Hara pun menjawabnya.

“Iya, Néng?” sapa Hara, begitu melihat wajah manis Yuri di layar.

“Apa kabar, Bang?” sapa balik Yuri. “Sehat?”

“Sehat,” jawab Hara, sambil tersenyum. “Kamu?”

“Sehat, Bang,” jawab Yuri. “Hmm… Bang?”

“Iya, Néng?” tanya Hara. “Ada apa?”

“Bang Hara percaya?” ujar Yuri. “Saat ini, aku sedang berada di kamar sebuah apartemen sewaan.”

“Iya,” tanggap Hara. “Lalu?”

“Nama apartemennya adalah Lochend Serviced Apartments,” jelas Yuri. “Lokasinya di…”

“Serius?” potong Hara. “Kamu sedang berada di Edinburgh, Néng?”

Terlihat Yuri mengangguk dengan penuh semangat.

“Di Edinburgh?” cetus Hara lagi. “Kamu di sini dengan…”

“Kita bisa bertemu, Bang?” sela Yuri. “Sore ini? Karena besok pagi, aku harus melanjutkan perjalanan menuju Shetland.”

“Ah… Shetland!” pekik Hara. “Kamu akan melihat burung puffin dari jarak dekat.”

Yuri tertawa.

“Rupanya kamu benar-benar terinspirasi cerita di serial Petualangan-nya Enid Blyton,” sambung Hara. “Seberapa besar?”

“Nanti aku ceritakan,” tanggap Yuri. “Aku akan bercerita tentang banyak hal. Nanti, ketika kita bertemu.”

Hara mengangguk.

“Jadi, sore ini kita bertemu, Bang?” tanya Yuri.

“Hmm… mungkin nanti malam,” jawab Hara. “Sore ini aku…”

“Ada rencana bepergian?” potong Yuri. “Ini ‘kan weekend.”

“Aku mau menonton pertandingan The Hibs,” jelas Hara. “Bareng teman-teman sesama TKI.”

“Téh Nola ikut?” tanya Yuri. “Atau…”

Hara mengangguk. “Nih… dia sedang duduk nggak jauh dariku.”

Hara menyerahkan ponselnya pada Nola. Wanita cantik itu bertanya tanpa suara,

“Yuri?”

Hara menjawab dengan anggukan kepala. Nola pun menerima sodoran ponsel sang lelaki.

Selanjutnya, Hara membiarkan Nola bicara dengan Yuri. Ia bangkit, dan melakukan sedikit persiapan untuk menonton The Hibs. Menyiapkan scarf dan sebuah topi pet. Sementara, untuk pakaian, Hara hanya menyiapkan sehelai jaket.

Tak ada atribut The Hibs tambahan, seperti jersey, misalnya. Ya, jersey bukanlah atribut ‘wajib’ para suporter di Eropa, meski tak sedikit pula yang mengenakannya kala menonton klub kebanggaannya secara langsung di stadion.

Kesibukan kecil itu membuat Hara tidak memerhatikan perbincangan via video call antara Nola dan Yuri. Ia terlalu asyik. Sebelum kemudian Nola mencolek lengan kirinya, dan menyerahkan ponselnya. Hara pun kembali bicara dengan Yuri.

“Bang…” ucap Yuri.

Hara melebarkan kelopak matanya, sambil bergumam dengan gestur bertanya.

“Kalian menonton The Hibs, berduaan aja?” tanya Yuri.

“Aku, Nola, dan dua rekanku,” jelas Hara. “Kedua rekan lelaki, sesama TKI.”

Bibir Yuri membulat.

“Sepulang dari stadion, kita janji bertemu, bagaimana?” tawar Hara. “Lokasi apartemenmu berjarak nggak terlalu jauh dari stadion.”

“Begitu, ya?” kening Yuri bergerak jenaka. “Aku, sih… terserah tuan rumah aja.”

Hara tergelak. “Kalau nggak menyerahkannya padaku, kamu akan tersesat di Edinburgh, Néng!”

“Iya,” Yuri ikut tertawa. “Jadi?”

“Akhiri dulu pembicaraan ini,” minta Hara. “Aku akan mengecek kafe terdekat dengan lokasimu. Nanti kukabari lagi, lewat chat. Gimana?”

Yuri melakukan gerakan menghormat, sembari tersenyum jahil. Lalu sambungan video pun usai.

***

Segera setelah Hara memutus sambungan video, Yuri meletakkan ponselnya begitu saja, di atas permukaan tempat tidur. Lalu menjatuhkan tubuhnya hingga telentang, menatap langit-langit kamar.

Jujur, aku cemburu, ketika tahu bahwa Bang Hara sedang berduaan dengan Téh Nola, batinnya. Karena, biar bagaimana pun, Téh Nola punya andil yang bikin aku makin jauh dengan Bang Hara.

Tapi, begitulah takdir. Mungkin semesta memang telah mengatur, bahwa ia takkan pernah bisa menautkan hatinya dengan hati Hara. Keberangkatan sang lelaki yang menurutnya terlalu mendadak, kesibukan kegiatan himpunan mahasiswa yang sempat menyita waktu, namun juga mengantarkannya berjumpa kembali dengan kawan lamanya, seorang lelaki yang baik hati, bagaikan rentetan pertanda bahwa takdir hidup Yuri bukanlah bersama Hara.

Iya, hidup aku saat ini udah sempurna, hati Yuri kembali berkata. Jauh lebih sempurna daripada semua yang pernah aku bayangkan akan terjadi. Apa lagi yang kurang?

Namun, apapun yang telah terjadi, Hara tetaplah lelaki yang berstatus ‘mantan’ dalam kehidupan Yuri. Sempat lama merasuk begitu dalam di hatinya. Rasanya, wajar jika ia merasa cemburu, meski sebersit saja, saat melihat lelaki itu tengah bersama wanita selain dirinya.

“Udah menghubungi Kang Hara?” tanya Puja, lelaki baik hati itu, membuyarkan lamunan Yuri.

Yuri menjawab dengan anggukan kepala.

“Apa katanya?” tanya Puja lagi.

“Iya, kami akan bertemu, nanti malam,” jawab Yuri. “Tempat dan waktu tepatnya, nanti diberitahukan Bang Hara.”

“Kenapa harus malam?” kejar Puja. “Nggak bisa sore, ya?”

“Nanti sore, Bang Hara berencana menonton The Hibs secara langsung di Easter Road,” jelas Yuri. “Sepulang dari stadion, barulah dia punya waktu untuk bertemu.”

“The Hibs…” gumam Puja. “Mmm… maksudnya, Hibernian F.C.?”

Yuri mengangguk. “Di hari-hari pertamanya bermukim di sini, Bang Hara memang sering bicara tentang keinginannya menonton The Hibs secara langsung. Ternyata, impian itu akhirnya tercapai.”

“Iya,” Puja tersenyum. “Kenapa kita nggak berjumpa Kang Hara di Easter Road aja?”

“Aku nggak mau,” Yuri menggeleng. “Aku kepingin tempat berjumpa yang lebih tenang, biar bisa mengobrol dengan nyaman. Kang Puja juga pasti kepingin berkenalan dengan Bang Hara dan istrinya dalam suasana yang nyaman, ‘kan?”

Puja mengangguk.

Sejenak tak ada obrolan di antara mereka, sebelum kemudian Puja kembali berkata,

“Kenapa kita nggak mengundang Kang Hara dan istrinya ke sini?”

Yuri menatap Puja dengan antusias.

“Kamu bisa memasak sesuatu, dari bahan-bahan yang kita peroleh dari supermarket terdekat,” sambung Puja. “Kamu ‘kan pandai memasak.”

Yuri menunduk tersipu.

***

Empat jam kemudian, Hara dan Nola kembali berkesempatan merasakan sensasi ‘sinar mentari di Leith’, dalam bentuk yang berbeda. Ya, di tribun Easter Road. Kemenangan Hibernian F.C. alias The Hibs atas Kilmarnock, membuat ‘ritual’ itu dilakukan para suporter di tribun belakang gawang, termasuk Hara dan Nola yang duduk di Famous 5 Upper Stand.

Panitia pelaksana pertandingan memutar lagu “Sunshine on Leith” milik The Proclaimers, dan para suporter menyanyikannya bersama, sambil berdiri dan membentangkan scarf.

Memang, sensasinya tidak sehebat aksi serupa yang dilakukan pendukung Liverpool saat melakukan koor lagu You’ll Never Walk Alone. Bahkan, bagi Hara, berada di tengah bobotoh Persib yang melakukan koor massal lagu milik Kuburan, We Will Stand Behind You, sensasinya jauh lebih menggetarkan jiwa.

Namun, tidak begitu menurut Nola. Baginya, yang sepanjang hidupnya sama sekali belum pernah menonton sebuah pertandingan sepakbola secara langsung di stadion, pemandangan tersebut sungguh mengagumkan.

Terlebih, koor yang dikumandangkan para pendukung The Hibs adalah lagu yang liriknya begitu relevan menceritakan keindahan Leith saat diterpa sinar matahari. Betapa The Proclaimers, para pendukung The Hibs, juga penduduk Leith secara umum, bersyukur atas anugerah alam tersebut.

“Konon, The Proclaimers memang menciptakan lagu ini untuk The Hibs,” ujar Hara, tak lama setelah koor suporter usai.

“Tapi, liriknya juga cocok untuk menceritakan rasa syukur atas keberadaan seseorang yang dicintai, Kang,” timpal Nola.

“Iya, sih,” Hara mengangguk setuju. “Memang bisa ditafsirkan untuk banyak hal. Tentang The Hibs, kekasih, fenomena alam, juga Tuhan.”

Nola tersenyum.

“Adakah lagu ini juga cocok untuk kamu berikan pada ‘someone special’-mu?” goda Hara, menatap Nola lekat-lekat.

Nola tersipu.

Kumpulan massa di stadion berangsur berkurang, termasuk para penonton yang duduk di tribun Famous 5 Stand. Kelompok suporter Kilmarnock yang ditempatkan di tribun belakang gawang berlawanan, malah sudah lebih dahulu meninggalkan tempat duduknya.

Panitia pelaksana pertandingan memang sengaja ‘menggiring’ mereka untuk lebih dulu keluar stadion dan menuju Edinburgh Waverley, stasiun kereta api terdekat. Hal tersebut untuk mengurangi potensi bentrokan antar suporter yang mungkin terjadi.

“Kang Hara jadi menemui Yuri?” tanya Nola.

Hara mengangguk.

“Di mana?” tanya Nola lagi.

“Di apartemen tempatnya menginap,” jawab Hara. “Katanya, dia akan memasakkan sesuatu untuk makan malam kami.”

Giliran Nola yang mengangguk.

“Kamu mau ikut?” tawar Hara.

“Nggak, ah!” Nola menggeleng cepat. “Aku nggak mau mengganggu kalian.”

“Mengganggu?” tukas Hara, sambil kemudian tertawa. “Adakah potensi bahwa kamu akan mengganggu pertemuan kami?”

Nola mengangkat bahu.

“Kakakmu aja nggak keberatan saat kuajak, lho!” lanjut Hara.

“Itu karena kakak aku percaya Kang Hara,” timpal Nola. “Sangat percaya Kang Hara.”

“Oh, berarti, kakakmu justru nggak percaya pada adiknya sendiri, ya?” seloroh Hara.

Nola tertawa.

“Jadi, selesai dari sini, kuantarkan kamu ke apartemen,” tutur Hara. “Setelah itu, barulah aku pergi menjemput kakakmu, lalu bersama-sama menuju apartemen tempat Yuri menginap.”

“Biar aku pulang bareng Indra dan Mustafa aja, Kang,” tolak Nola. “Apartemen itu, nggak jauh dari sini, ‘kan?”

Hara mengangguk.

“Makanya…” tanggap Nola. “Kalau Kang Hara mengantar aku ke apartemen dulu, rutenya jadi memutar. Kang Hara kehabisan waktu. Kasihan Yuri.”

“Ya udah…” gumam Nola. “Kalau maumu seperti itu.”

Nola mengangguk sambil tersenyum.

“Hati-hati dengan Indra dan Mustafa, ya,” sambung Hara. “Mereka penyamun.”

Dan tiba-tiba dua bilah telapak tangan milik dua lelaki berbeda, singgah secara tak sopan di punggung dan bahu kiri Hara.

“Sembarangan!” umpat Mustafa.

“Sesama penyamun dilarang saling mengejek,” tambah Indra.

Hara dan Nola tergelak.

***

Ya, mungkin Hara memang seorang penyamun. Namun, ia adalah jenis penyamun yang dicintai wanita. Kania dan Yuri adalah contohnya. Dan contoh ketiga, adalah Nena.

Bagi Nena, Hara adalah penyamun terbaik sepanjang masa. Pencuri hatinya.

Dan saat pintu kamarnya diketuk seseorang, Nena segera tahu bahwa sang penyamun terbaik sepanjang masanya itu telah tiba. Keyakinan tersebut membuatnya segera bangkit dari rebahan malas-malasannya. Dengan semangat, Nena menghampiri pintu dan membukanya.

Ya, sang penyamun berdiri di depan pintu, dengan senyum termanisnya.

“Kenapa kamu belum berhias?” tanya Hara heran. Pelan, ia melangkah memasuki kamar sang wanita.

Sekilas, Nena menatap tubuhnya yang masih mengenakan pakaian rumahan, lalu tersenyum. “Aku harus minta pendapat Aa soal busana yang akan aku kenakan.”

“Kamu…” Hara membelai pelan pipi kiri Nena dengan telapak tangan kanannya. “Tapi, kamu udah mandi, ‘kan?”

“Udah,” jawab Nena, sambil tersenyum. “Tinggal berganti pakaian.”

“Nggak usah menghias wajah,” ingat Hara. “Tokh, kecantikanmu alamiah, tanpa riasan apapun. Apalagi bahan pengawet.”

Nena tergelak.

​Hara duduk di tepi ranjang, sementara Nena melangkah menuju lemari pakaian. Memilih busana yang dirasanya tepat untuk dikenakan saat menemui Yuri dan suaminya.

“Nggak perlu pakai gaun, Néng,” ujar Hara. “Kasual aja, tapi tetap berkesan istimewa.”

“Aku mengerti,” Nena menoleh dan tersenyum. “Sekarang, izinkan aku memilih pakaian. Nanti, Aa menilai kepantasannya. Oke?”

Hara mengangguk.

Selama Nena memilih busana, Hara berkutat dengan ponselnya. Membuka laman media sosial. Sebelum dan sesudah pertandingan Hibernian F.C., linimasa media sosial memang dipenuhi posting tentang klub berjuluk The Hibs tersebut.

Fenomena yang sama, juga dialami Hara saat masih berada di Bandung, ketika hari pertandingan Persib. Bedanya, di sini, linimasa tidak dipenuhi bahasa hujatan dan saling ejek antarsuporter, meski hal itu pun tak sepenuhnya tiada.

Ya, di Britania Raya pun terdapat rivalitas antarsuporter, sama seperti di Indonesia. Namun, persaingan di antara mereka lebih ‘terarah’. Permusuhan dan bentrokan fisik terjalin hanya sebatas di kalangan para anggota firm garis keras masing-masing klub yang bermusuhan.

Di luar firm, rivalitas berlangsung wajar. Maka, hampir dipastikan, tidak akan ada korban salah sasaran di sini. Apalagi sampai jatuh korban akibat sweeping kartu identitas.

Masyarakat sepakbola di Britania Raya memang dewasa. Padahal, puluhan tahun lalu, mereka dikenal berperangai buruk akibat hooliganisme. Kerusuhan antarsuporter dengan korban hingga puluhan orang, begitu sering terjadi.

UEFA bahkan sempat melarang klub setempat untuk mengikuti kompetisi di tingkat benua Eropa. Tapi mereka pandai mengambil pelajaran. Setelah hukuman tersebut dicabut, stadion-stadion di Britania Raya menjelma jadi venue sepakbola teraman di dunia.

***

“Ada postingan menarik?” tanya Nena, tanpa berhenti memilih busana.

“Standar,” jawab Hara. “Kamu lebih menarik.”

“Gombal,” umpat Nena, lalu tertawa. “Pertandingan berjalan lancar, nggak ada insiden kontroversial dan The Hibs menang. Timeline di media sosial jadi nggak ramai, ya?”

Hara mengangguk.

“Adikku menikmati pengalaman pertamanya menonton sepakbola di stadion?” tanya Nena lagi.

“Kelihatannya begitu,” ujar Hara. “Apalagi ketika koor Sunshine on Leith. Jelas, Nola nggak bisa menyembunyikan rasa kagum.”

“Jangan heran kalau suatu saat dia akan merengek,” tanggap Nena. “Minta diajak menonton The Hibs lagi.”

“Dengan senang hati,” ujar Hara. “Aku, kamu dan Nola, menonton bersama di Easter Road.”

Hara merasa perlu untuk mengikutsertakan Nola di tengah kegiatan yang ia lakukan dengan Nena. Karena, biar bagaimana pun, Nola sangat berjasa dalam proses perjodohan Hara dan Nena. Tanpa Nola, maka Hara dan Nena mungkin takkan pernah berjumpa. Hara dan Nena berjodoh, dengan Nola sebagai pencetusnya.

Sungguh, Hara sempat memercayai ucapan Kang Dinan, pada masa-masa awal petualangannya di Edinburgh,

“Nola menyukai kamu, Hara. Aku yakin.”

Segala tindak-tanduk Nola terhadap dirinya, makin mempertegas dugaan Kang Dinan tersebut. Wanita itu hampir selalu ada di saat Hara membutuhkan seseorang. Hara dan Nola pun makin dekat. Nyatanya, wanita itu punya maksud lain perihal kedekatan tersebut. Nola berniat untuk menjodohkan Hara dengan Nena, kakak semata wayangnya, yang telah dua tahun lebih lama menjadi TKI di Edinburgh.

Ternyata, Nola menjadikan kedekatannya dengan Hara sebagai cara untuk menilai seberapa pantas lelaki itu untuk bersanding dengan kakaknya. Dan dari kedekatan itu, ia menilai,

“Belum pernah aku bertemu lelaki sebaik Kang Hara. Dan lelaki baik sangat pantas berjodoh dengan wanita sebaik Téh Nena.”

Dan gayung bersambut. Hara yang sejak awal memang tak punya perasaan khusus terhadap Nola, merasa cocok akan sosok Nena. Terlebih, meski secara fisik kalah oleh Nola, namun Nena punya kelebihan perihal kepekaan hati.

Empatinya sangat tinggi. Hara yang pergi meninggalkan Indonesia dengan berbekal kedukaan akibat kematian Kania, seolah menemukan sosok pengganti yang sangat tepat dalam diri Nena.

“Memangnya kamu nggak keberatan kalau kujadikan sebagai pengganti Kania?” tanya Hara, sedikit cemas. “Hanya sebagai pelarian?”

“Bukankah pelarian terbaik dari mantan kekasih, adalah kepada kekasih baru, Kang?” balas Nena.

“Kamu rela menjadi pelarian?” desak Hara.

“Aku nggak rela jika Kang Hara menyamakan aku dengan sosok wanita lain,” jawab Nena. “Hmm… kalau ‘pelarian’, tentu Kang Hara tetap mengakui dan memandang aku sebagai Nena, ‘kan?”

Usia Hara adalah 32 tahun, sementara Nena berumur 28 tahun. Usia yang sama-sama telah matang untuk membentuk rumah tangga. Maka, Hara berani melamar wanita cantik itu, meski kedekatan di antara mereka baru berlangsung selama tiga bulan saja. Hara tidak menemukan alasan yang dapat membuatnya ragu pada pilihannya terhadap Nena.

Apakah Nena terkejut? Tidak. Ketika pernyataan tentang rencana lamaran itu dilontarkan Hara, ia justru berucap,

“Aku udah menunggunya sejak beberapa pekan lalu, Kang.”

Tanpa perlu Nena berkata ‘ya’, Hara sudah tahu jawaban wanita itu.

Mama adalah orang pertama yang diberitahu Hara tentang rencana pernikahan itu. Lewat sambungan video, Hara dapat melihat air mata bahagia sang ibunda.

“Mama merestui, Nak,” ucapnya. “Tapi, maaf… Mama tidak akan bisa menghadirinya.”

“Aku mengerti, Ma,” tanggap Hara. “Ongkosnya mahal, ya?”

Meski tengah menangis, tak urung Mama tertawa geli juga, mendengar ucapan Hara.

“Sikap Mama yang merestui rencana kami, udah sangat membahagiakanku, Ma,” tutur Hara.

“Mama merestuinya, Nak,” terlihat Mama menyunggingkan senyum. “Entah kenapa, meskipun belum melihat sosok calon istrimu, tapi Mama yakin bahwa dia adalah sosok terbaik untukmu.”

Kening Hara berkerut. “Kok bisa?”

“Naluri seorang ibu, Nak,” Mama kembali terlihat tersenyum. “Dan Mama juga melihat kesungguhanmu. Sama seperti kesungguhanmu ketika berpamitan untuk pergi meninggalkan Indonesia, yang membuat Mama yakin. Hmm… kesungguhan yang sebelumnya hampir tidak pernah Mama lihat darimu.”

“Sekarang, kesungguhan itu terlihat, ya?” tanya Hara.

Terlihat Mama mengangguk. “Ternyata, anak Mama ini adalah pejuang tangguh. Maafkan Mama, karena pernah menghinakanmu.”

“Mama nggak perlu minta maaf,” ujar Hara, sembari menggeleng. “Mama nggak bersalah. Salahku yang nggak pernah merasa yakin pada diri sendiri.”

Mama hanya menatap sendu.

Satu demi satu, tindakan yang dilakukan Hara, berhasil meruntuhkan ‘dinding’ kekakuan yang selama ini melingkupi interaksinya dengan Mama. Dua keputusan besar terakhir yang diambilnya, terbukti tepat. Mama mendukung dua keputusan besar tersebut. Dan yang terpenting, Hara sama sekali tidak melihat sikap skeptis dari ibundanya itu.

Mungkin Mama memang bahagia dengan keputusan Hara.

Dan di bulan kelimanya bermukim di Edinburgh, Hara menikahi Nena. Acara sakral tersebut hanya dihadiri oleh rekan-rekan sesama TKI, baik rekan Hara maupun Nena. Tiga orang staf Kedutaan pun ikut hadir, dengan salah satunya menjadi wali Hara.

Lalu, siapakah wali dari Nena? Tentu saja, kedua orang tuanya, yang sengaja terbang ke Skotlandia. Karena syariat agama pun mengatur bahwa seorang wanita yang masih punya bapak, tidak boleh menikah tanpa disaksikan oleh ayahnya.

Sejak hari yang penuh keceriaan sekaligus keharuan itu, Hara dan Nena resmi menjadi sepasang suami istri. Hidup bersama, yang tentunya diharapkan akan berlangsung hingga maut menjemput.

Sayangnya, aturan Kedubes menetapkan bahwa seluruh TKI tidak boleh tinggal di luar apartemen yang ditunjuk, dalam setahun pertama. Nena telah melampaui waktu yang ditentukan, namun tidak dengan Hara. Alhasil, hingga bulan ketujuh pernikahan mereka, Hara dan Nena tetap harus tinggal berpisah.

“Nasib…” keluh Hara, kala itu. “Baru aja menikah, udah mesti pisah ranjang!”

Nena tertawa.

***

“Kalau berpakaian seperti ini, bagaimana, Aa?” tanya Nena, sambil berdiri dan sedikit berlenggok di hadapan Hara.

Busana yang dipilih Nena adalah gaun terusan berwarna hijau dengan lengan panjang dan rok menutupi tempurung lutut.

“Cantik dan anggun, Néng,” nilai Hara. “Tapi, kenapa hijau? Dalam rangka merayakan kemenangan The Hibs, ya?”

“Ya udah,” Nena cemberut. “Aku lepas lagi aja.”

“Jangan,” cegah Hara sambil bergegas bangkit dan memegangi lengan kiri Nena.

Nena menatap Hara tajam.

“Eh… boleh kamu lepas, deh!” ralat Hara. “Karena kita nggak mungkin melakukan ritual suami istri dengan pakaian lengkap, ‘kan?”

Nena merengek manja.

“Mau, Néng?” bujuk Hara.

“Nanti kita terlambat datang ke apartemen Yuri, Aa,” ingat Nena.

“Seks kilat aja,” saran Hara. “Nggak akan sampai sepuluh menit, kok!”

“Memangnya, selama ini Aa kuat ML lebih dari sepuluh menit?” seloroh Nena.

Giliran Hara yang cemberut.

“Bercanda,” bisik Nena, sambil mencubit kedua pipi Hara. “Selama ini, terbukti nggak butuh ML dalam waktu lama, kok, untuk Aa bisa bikin aku orgasme.”

***

Hara benar-benar salah tingkah ketika tiba-tiba Yuri mendekapnya erat. Ia langsung melirik ke kanan, ke arah Nena. Nyatanya, yang ditatap justru tersenyum penuh arti. Seolah tidak mempermasalahkan sikap wanita manis yang seenaknya memeluk suaminya itu.

Selanjutnya, Hara melirik lelaki yang berdiri sekira tiga meter di belakang Yuri. Serupa dengan Nena, tampaknya lelaki itu pun tidak mempermasalahkan sikap spontan sang istri.

“Aku benar-benar kangen Bang Hara,” bisik Yuri.

Hara tersenyum. “Tapi, kamu mesti tetap ingat keberadaan suamimu, Néng.”

“Eh, iya,” ucap Yuri, lalu segera melepaskan dekapannya. Ia mundur selangkah. “Aku terbawa suasana.”

Hara hanya tertawa kecil.

Selanjutnya, Yuri menyalami Nena, wanita cantik yang baru kali ini ditemuinya itu. Dan Nena membalasnya hangat.

“Bagaimana kabar Indonesia?” tanya Nena. “Baik-baik aja?”

Yuri tersenyum. “Sama seperti ketika Téh Nena meninggalkannya, mungkin?”

“Nggak ada perubahan?” tanya Nena lagi.

“Ada, tapi nggak signifikan,” jawab Yuri. “Kalau perubahannya terasa nyata, pasti Bang Hara nggak akan memutuskan merantau ke sini.”

Nena tertawa. Hara juga.

“Kalau Bang Hara nggak merantau ke sini,” lanjut Yuri, melirik Hara. “Téh Nena nggak akan menemukan suami sehebat ini.”

Hara melotot. “Kamu…”

Yuri mengajak Hara dan Nena untuk masuk. Alasannya,

“Aku udah menyiapkan makan malam untuk kalian.”

“Ide bagus,” tanggap Hara, disambut sikutan Nena.

Makan malam yang dimasak Yuri, seadanya saja. Keterbatasan bahan pangan yang bisa diperoleh di supermarket, yang cocok diolah menjadi masakan Indonesia, jadi alasannya. Beruntung, Yuri masih bisa mendapatkan labu siam dan jagung, hingga ia bisa memasak sayur lodeh sederhana.

Juga telur dan kentang untuk diolah menjadi perkedel. Yang membuat Hara dan Nena heran, dari mana Yuri memperoleh bumbu masaknya?

Jawaban Yuri adalah,

“Aku sengaja membawa bumbu masak dari Indonesia.”

Citarasa khas Indonesia dari masakan Yuri, membuat kerinduan Hara dan Nena pada Indonesia menjadi sedikit terobati.

Sepanjang acara makan malam, dua pasangan suami istri itu banyak berbincang. Yuri dan Puja bercerita tentang situasi di Tanah Air, sementara Hara dan Nena berkisah mengenai suka duka menjadi orang asing di Skotlandia. Khusus Hara, ia bertanya perihal keadaan Mama dan Brama.

“Bu Sala jadi sering berkunjung ke rumahku, Bang,” tutur Yuri. “Tanya aja Kang Puja.”

Hara menatap Puja, dan yang ditatap memberikan anggukan kepala.

“Bu Sala sering bercerita tentang kerinduannya pada Bang Hara,” lanjut Yuri.

“Serius?” tanya Hara tak percaya.

“Serius,” Yuri mengangguk yakin. “Kelihatan jelas bahwa Bu Sala bangga pada Bang Hara. Apalagi setelah Bang Hara menikah.”

Hara melirik Nena yang duduk di sisi kanannya, tepat berhadapan dengan Yuri itu. Sang istri tersipu.

“Bu Sala memuji Téh Nena,” sambung Yuri. “Memuji ketabahan Téh Nena, yang rela jadi istri seorang lelaki separah Bang Hara.”

Sontak Hara tergelak.

“Yaa… meskipun, Bu Sala mengucapkannya sambil tertawa,” tambah Yuri, sembari terkekeh. “Aku yakin, hatinya berkata sebaliknya. Aku yakin, Bang Hara nggak separah yang dibilang Bu Sala.”

“Aku tahu, Néng,” ucap Hara. “Aku sangat tahu, Mama menyayangiku. Mungkin, bertahun-tahun Mama bersikap skeptis akibat kehidupanku yang nggak kunjung berubah dan membaik. Lalu, ketika akhirnya aku melangkah ke arah yang lebih cerah, Mama nggak punya alasan lagi untuk terus bersikap skeptis. Yah… di malam keberangkatanku, Mama udah meminta maaf dan berkata jujur tentang rasa bangganya.”

“Mungkin, Aa memang harus pergi jauh dulu, untuk membuktikan kesungguhan Aa menghadapi dunia,” imbuh Nena.

“Iya,” Hara mengangguk. “Harus pergi jauh, untuk membuktikan kesungguhan, dan sekaligus menemukan jodoh terbaikku.”

“Menggombali istri di hadapan pihak luar, adalah pelanggaran berat,” kelakar Yuri, disambut tawa tiga rekan makan malamnya.

“Kang Hara dapat salam,” ujar Puja, ketika tawa mereka reda.

“Hmm… dari si Dédé?” tebak Hara.

“Tepat,” Puja mengacungkan ibu jari tangan kanannya.

“Bagaimana?” tanya Hara. “Repot mengurus anak itu?”

“Repot, Bang,” jawab Yuri, sambil tertawa. “Tapi, sekaligus sangat menyenangkan. Anak itu…”

“Selalu bisa menyegarkan suasana,” timpal Puja. “Melihat tingkahnya, bikin rasa lelah sontak meluntur.”

“Aku jadi nggak sabar,” Nena menanggapi. “Kepingin segera menemui si Dédé secara langsung.”

Hara merasa tidak perlu menanyakan kabar si Dédé, karena empat hari lalu baru saja menghubunginya melalui video call. Ya, sesuai janjinya sebelum meninggalkan Indonesia, Hara tetap intens mengabari si Dédé. Setiap periode tertentu, ia menelepon atau melakukan video call.

Namun, pada empat hari lalu itu, si Dédé sama sekali tidak memberitahunya perihal kesibukan Puja dan Yuri, orang tua angkatnya, yang mempersiapkan keberangkatannya untuk berbulan madu. Maka, wajar jika Hara terkejut ketika siang tadi Yuri mengabarinya soal posisi terkininya yang tengah berada di Edinburgh.

Mungkin, Puja dan Yuri memang merahasiakannya. Sama seperti dirinya yang menutup rapat rencana keberangkatannya pada Yuri, sepuluh bulan yang lalu itu. Tapi, Hara yakin, si Dédé tidak akan merajuk dan menandak marah seperti yang dulu dilakukan Yuri.

Setelah berbincang tentang si Dédé, obrolan sempat terhenti beberapa jenak. Jeda tersebut dimanfaatkan keempat orang itu untuk fokus pada sajian makan malam masing-masing. Hingga akhirnya Yuri kembali berkata,

“Aku mau minta izin kepada Téh Nena dan Kang Puja.”

“Izin?” seru Nena dan Puja serempak.

“Iya,” jawab Yuri. “Aku minta izin pada Téh Nena, untuk meminjam Bang Hara sebentar. Dan minta izin pada Kang Puja, untuk pergi keluar dengan Bang Hara. Boleh?”

Seolah tahu maksud dan tujuan Yuri, maka Nena dan Puja pun memberikan persetujuan, tanpa berpikir panjang lagi.

“Terima kasih,” ucap Yuri sambil tersenyum. Lalu menatap Hara. “Setelah makan malam, kita jalan-jalan sebentar ya, Bang?”

Hara mengangguk.

***

Sepeninggal Hara dan Yuri, tinggallah Nena dan Puja, duduk-duduk santai di ruang tengah apartemen sewaan itu, sambil menyaksikan program acara MasterChef: The Professionals yang sedang tayang di channel BBC Two.

“Acara apa yang biasanya kalian tonton di waktu seperti saat ini?” tanya Puja.

“Kadang aku menonton acara yang sama,” telunjuk kanan Nena mengarah pada layar televisi. “Kadang aku menonton Supergirl di channel lain. Hmm… kalau si Aa… sepertinya lebih suka menonton acara-acara di channel olahraga, deh.”

“Sepertinya?” Puja memberikan penekanan. “Téh Nena belum tahu acara favorit Kang Hara?”

“Yang pasti, acara olahraga,” Nena tersenyum. “Meskipun aku belum tahu, acara persisnya apa.”

Kening Puja berkerut.

Dan Nena tampaknya dapat menangkap kerutan tak mengerti di kening Puja.

“Kami udah menikah, tapi belum bisa tinggal satu atap,” jelasnya. “Karena masa tinggal si Aa di sini belum genap setahun, dia belum diizinkan untuk tinggal di luar apartemen yang ditentukan Kedubes.”

“Kalau Téh Nena, masih tinggal di apartemen yang ditentukan Kedubes?” tanya Puja. “Masa tinggal Téh Nena udah lebih dari setahun, ‘kan?”

“Aku memang udah boleh tinggal di apartemen lain,” jawab Nena. “Tapi, apa gunanya, kalau harus aku diami sendiri, tanpa si Aa.”

Puja tersenyum sambil mengangguk.

“Si Aa bercerita, bahwa proses kamu berjodoh dengan Yuri berlangsung sangat singkat,” ucap Nena. “Apa iya?”

Puja tertawa tertahan, sebelum kemudian mengangguk. “Singkat. Tapi aku yakin, lebih singkat proses perjodohan kalian, deh.”

“Iya, sih…” Nena nyengir. “Tiga bulan kenal, si Aa melamarku. Sebulan kemudian, kami menikah.”

Puja mengangguk.

“Cerita tentang kalian, bagaimana?” tanya Nena.

“Nggak sesingkat proses kalian,” jawab Puja. “Aku dan Yuri memang udah lama kenal dan berteman.”

“Sama dengan lamanya kamu menyukai Yuri, ya?” goda Nena.

Puja tertawa. “Kami udah lama berteman, tapi lumayan lama juga nggak terjalin kontak di antara kami. Lalu, suatu hari, kami bertemu di kampus Yuri, dan akhirnya kembali dekat. Aku sempat heran, tapi Yuri bilang, ‘Aku lagi kesepian, baru ditinggal pergi kakak terbaik’. Aku nggak tahu, siapa…”

“Si Aa,” potong Nena. “Kakak terbaik yang dimaksud adalah Si Aa.”

“Iya,” Puja tersenyum lagi. “Di kemudian hari, Yuri jujur bercerita tentang posisi Kang Hara di hatinya. Bukan sekadar kakak terbaik.”

“Dan itu bukan masalah untuk kamu?” selidik Nena.

“Pertanyaan yang sama, layak untuk aku tanyakan pada Téh Nena,” balas Puja.

Nena tertawa.

“Kami akhirnya jadi dekat,” Puja melanjutkan ceritanya. “Aku bahagia, karena memang punya rasa suka terhadap Yuri, sejak lama. Tapi, aku nggak mengira, kalau ternyata Yuri seolah mendesakku untuk segera membawa kedekatan itu menuju hal yang serius. Setelah sekitar sebulan berhubungan intens, aku memberanikan diri untuk melamarnya. Dan… nggak sampai tiga pekan, kami menikah.”

“Ya, singkat sekali,” Nena tersenyum. “Persiapannya hanya tiga pekan. Sementara, kami butuh waktu hingga tiga kali lipat lebih lama.”

“Kalian betah tinggal di sini?” tanya Puja.

“Harus betah, karena kami butuh,” jawab Nena, sembari nyengir.

Puja tertawa.

“Ketika si Aa mengabari aku, bahwa kalian sedang berada di Edinburgh,” tutur Nena. “Jujur, aku iri.”

“Iri?” tanya Puja heran. “Kenapa harus iri, Téh? Justru kami yang semestinya iri kepada kalian. Kami hanya punya kesempatan menikmati Skotlandia selama sepekan. Kalian?”

“Tapi, kalian berbulan madu,” timpal Nena. “Nah, kami?”

Giliran Puja yang nyengir.

​”Satu hal,” ucap Nena. “Dari ribuan lokasi eksotis di seluruh dunia, kenapa kalian memilih Skotlandia, sebagai lokasi bulan madu?”

“Karena Yuri tergila-gila pada novel Petualangan di Laut Sunyi, karya Enid Blyton,” jawab Puja. “Dan aku adalah seorang ornitologis.”

Nena mengangkat telapak tangan kanannya hingga sebatas telinga. “Jujur, aku nggak mengerti. Oke, aku tahu Enid Blyton. Tapi, yang pernah kubaca adalah serial Malory Towers.”

“Ornitologis adalah sebutan bagi pakar zoologi yang memfokuskan pada hewan burung,” jelas Puja. “Sementara, novel Petualangan di Laut Sunyi membuat Yuri tahu tentang puffin.”

Nena tampak berpikir, sebelum akhirnya menyunggingkan senyum. “Tujuan kalian pasti ke Shetland. Atau… Orkney?”

“Keduanya,” ucap Puja, juga sambil tersenyum.

“Berbulan madu ke kedua pulau itu… wow!” pekik Nena. “Bulan madu kami, hanya bertetirah ke Loch Lomond. Itu pun hanya semalam.”

***

Hara dan Yuri berjalan berdampingan menyusuri ruas jalan Lochend Road, ke arah selatan, sambil berbincang. Suatu hal yang dulu sangat sering mereka lakukan, setiap keduanya punya waktu luang. Bahkan ketika masing-masing tengah dekat atau berpacaran dengan seseorang, Hara dan Yuri tetap kerap melakukannya.

Kini terbukti, bahwa kedekatan di antara mereka hanya terhenti di saat jarak memisahkan. Persetan dengan segala macam perasaan yang membalutnya, semua orang harus menyatakan salut atas kentalnya kedekatan mereka.

Hara mengajak Yuri menyusuri koridor di dalam sebuah taman. Hara yakin, Yuri telah berkali-kali memandang ke arah taman tersebut, dari jendela kamar apartemennya yang memang menghadap ke arah jalan tersebut.

Meski langit telah gelap, namun taman tersebut terlihat tetap aman dan nyaman untuk dilewati. Sepanjang masa, rasanya belum pernah mereka merasa seaman itu saat menyambangi belasan taman tematik yang ada di Bandung, pada malam hari.

“Ini adalah Lochend Park,” beritahu Hara, meski Yuri tidak bertanya. “Dan selama sepuluh bulan tinggal di Edinburgh, baru kali ini aku menginjakkan kaki di sini.”

“Serius, Bang?” tukas Yuri, lalu tertawa. “Kok bisa?”

“Yaa… kasusnya sama seperti banyak orang Bandung yang seumur hidup belum pernah mendatangi Tangkuban Parahu,” ujar Hara. “Alasannya sederhana, ‘Kapan-kapan juga bisa’. Tapi kapan?”

Yuri tertawa lagi. “Mestinya Bang Hara berpikir seperti ini, ‘Mumpung sedang ada di Edinburgh’. Manfaatkan atuh, Bang!”

“Ketika kamu mendatangi suatu tempat baru untuk bekerja,” tanggap Hara. “Opini seperti itu tiba-tiba menguap, Néng. Yah… meskipun, pasti ada juga orang-orang yang pandai memanfaatkannya.”

“Bang Hara nggak termasuk di antara orang-orang tersebut, ya?” tanya Yuri.

“Iya,” Hara meringis. “Aku terlalu fokus berusaha untuk bekerja secara baik, sampai nggak bisa membagi perhatian untuk hal lain.”

“Bang Hara berhasil membagi perhatian untuk mencari jodoh, kok!” tandas Yuri, sembari tersenyum. “See? Istri Bang Hara istimewa. Iya, ‘kan?”

Hara menyetujui ucapan Yuri, karenanya ia menganggukkan kepala.

Lochend Park ditata mengelilingi sebuah danau kecil. Ya, mungkin itulah alasan mengapa daerah tersebut dinamai Lochend, karena dalam bahasa Scot, ‘danau’ disebut dengan ‘loch. Selain danau sebagai atraksi utama, di area Lochend Park juga terdapat daya tarik lain, seperti sarana olahraga, area bermain anak dan beberapa bangunan bersejarah, misalnya stasiun pompa tua untuk kepentingan suplai air di wilayah Leith, dan bangunan batu bernama doocot.

“Itu apa, Bang?” tanya Yuri, sambil menunjuk sebuah kubah batu setinggi kira-kira enam meter, dengan pintu teralis besi hitam dan sebuah lubang kecil di bagian atasnya.

Hara menoleh, mengikuti arah tunjukan tangan Yuri. “Oh, itu dovecote. Orang Scot melafalkannya dengan doocot.”

“Dovecote…” gumam Yuri. “Sarang burung merpati, maksudnya?”

“Secara harfiah, seperti itu,” jawab Hara. “Sarang merpati liar, bukan peliharaan di dalam kurungan bambu.”

“Kalau di Indonesia, seperti sarang burung walet, ya?” tebak Yuri. “Orang-orang sengaja bikin ruangan di bawah atap rumah, dengan harapan akan dijadikan sarang oleh walet liar.”

Hara mengangguk. “Menurut catatan sejarah, konon merpati adalah komoditas penting bagi masyarakat di Eropa bagian barat, termasuk Britania Raya. Daging dan telurnya untuk dikonsumsi, sementara kotorannya digunakan untuk bahan membuat pupuk.”

“Aku mengerti,” Yuri tersenyum. “Hmm… Bang Hara udah banyak tahu tentang Edinburgh, ya.”

“Menyontek dari wik*pe*ia, Néng,” timpal Hara, disambut tawa geli Yuri.

​Lochend Park juga menjadi habitat bagi beberapa spesies unggas liar seperti angsa dan bangau, aquatic bird semisal moorhen, atau itik ‘lokal’ yang disebut mallard. Dewan kota Edinburgh sengaja membuat platform pengamatan hewan-hewan liar tersebut di sekeliling danau, dengan media berupa rumput tebal nan empuk. Alhasil, di siang hari, taman tersebut sering dipenuhi rombongan anak sekolah setempat, yang berniat mempelajari kehidupan satwa liar.

“Seperti Kang Puja,” ujar Yuri. “Selain berbulan madu, tujuan sampingannya mengajak aku berwisata ke Shetland dan Orkney Island adalah untuk sekaligus mengamati kehidupan burung-burung liar di sana.”

“Termasuk puffin, pastinya,” tebak Hara.

Yuri mengangguk semangat.

Hara dan Yuri keluar dari taman, di sisi barat. Mereka segera bertemu ruas Lochend Butterfly Way, dan mengambil arah belok kiri menuju Albion Road.

“Apakah ada hubungannya dengan James Dunbar yang penulis filsuf itu, Bang?” tanya Yuri, sambil tangan kirinya menunjuk dinding bata di sisi kanan jalan.

Tatapan mata Hara mengikuti arah yang ditunjukkan Yuri. Ya, pada dinding bata merah tersebut, terdapat tulisan besar ‘JAMES DUNBAR’.

“Bekas kediaman James Dunbar, mungkin?” duga Yuri.

“Entahlah,” Hara mengangkat bahu dengan gestur putus asa. “Aku belum sempat menyontek tentang itu, dari wik*pe*ia, Néng.”

Yuri tergelak.

“Jadi, ketika tiba-tiba kamu menjadi sulit dihubungi, dan jarang menghubungi, itu karena kamu tengah dekat dengan Puja, ya?” ujar Hara.

Meski agak heran dengan arah pertanyaan Hara yang tiba-tiba berbelok tajam, Yuri tetap menjawabnya dengan anggukan kepala. “Bang Hara meminta aku untuk move on. Dan ketika itu, hal itulah yang sedang aku lakukan.”

“Dan berhasil, Néng,” tanggap Hara. “Seseorang yang kamu pilih sebagai sarana untuk bangkit, ternyata adalah seseorang yang terbaik untukmu.”

Yuri tersenyum. “Dan ketika aku melakukannya, ternyata Bang Hara juga berbuat serupa. Yah… meskipun aku sempat heran, Bang Hara justru menikah dengan Téh Nena. Bukan Téh Nola, yang pernah diceritakan sebagai seseorang yang selalu mendengarkan curhat Bang Hara di hari-hari pertama masa perantauan.

Nggak sesuai dengan penuturan Kang Dinan, saat tanpa sengaja kami bertemu di sebuah kafe, bahwa Bang Hara sedang dekat dengan wanita bernama Nola.”

“Aku sendiri juga heran, Néng,” Hara tertawa kecil. “Ternyata motif Nola dekat denganku adalah untuk mencari tahu kelayakanku sebagai jodoh kakaknya.”

“Tapi, tolong jawab dengan jujur,” ujar Yuri. “Dengan Téh Nola, memang nggak pernah ada bunyi ‘klik’ di hati Bang Hara, ya?”

“Iya,” Hara mengangguk. “Jujur, Nola bisa bikin aku nyaman. Tapi, aku nggak pernah merasakan sirat asing di hatiku.”

“Seperti kedekatan kita, Bang?” timpal Yuri. “Terjalin belasan tahun, sangat erat, tapi Bang Hara nyaris nggak pernah merasakan desir aneh di hati.”

“Kamu percaya?” ujar Hara. “Jantungku berdegup sangat kencang di kali pertama berjumpa Nena.”

Yuri menoleh, menatap Hara. “Oya?”

“Iya,” jawab Hara. “Awalnya, kukira itu hanyalah perasaan sesaat aja. Hanya karena belum terbiasa berjumpa dengan seseorang, yang… jujur aja, menurutku sangat menarik.”

“Nyatanya?” kejar Yuri.

“Di pertemuan kedua, ketiga, keempat dan bahkan hingga saat ini, degup jantung dengan intensitas meninggi itu tetap sering kurasakan,” tutur Hara. “Bayangkan, Néng. Jantungku berdegup kencang saat berjumpa dengan istri sendiri!”

“Bang Hara sangat mencintai Téh Nena, itulah penyebabnya,” ucap Yuri.

“Memang,” gumam Hara.

“Bang Hara jujur sekali,” seloroh Yuri.

Hara tertawa.

Mereka berjalan menyusuri Albion Road, ke arah barat. Melintasi deretan beberapa bangunan dengan jumlah lantai variatif, antara tiga hingga enam lantai, sebagai permukiman vertikal. Jajaran mobil terparkir di sisi kiri jalan, mungkin kendaraan para penghuni apartemen-apartemen tersebut.

Hingga akhirnya langkah Yuri terhenti, saat menyaksikan sebuah bangunan stadion sepakbola dengan warna dinding dan ornamen rangka baja bernuansa hijau.

“Saking majunya pemikiran masyarakat sepakbola di sini,” cetusnya. “Developer apartemen sampai nggak segan membangun permukiman tepat di hadapan stadion sepakbola.”

Hara tertawa.

“Tadi, Bang Hara menonton di sini?” tanya Yuri.

“Di sini,” jawab Hara. “Tapi di Famous 5 Stand, tribun sebelah utara. Nanti kita akan melintasi gerbang masuknya.”

Dua belas menit kemudian, setelah menyusuri ruas jalan Albion Terrace, belok kanan ke Brothwell Street, naik ke utara memasuki Easter Road, dan kembali menginjak sisi barat Albion Road, mereka tiba di depan gerbang masuk Famous Five Stand, tribun di mana Hara menyaksikan pertandingan The Hibs, empat jam lalu itu.

Lokasi gerbang berada tak jauh dari ticket office, yang menempati bagian bangunan lama. Serta tepat berdampingan dengan clubstore.

Secara geografis, letak gerbang Famous 5 Stand dan ticket office tersebut berada di Albion Place, yang tersambung dengan ruas Hawkhill Avenue. Ruas jalan yang disebutkan terakhir, akan bertemu dengan Lochend Road, tepat di depan apartemen di mana Yuri dan suaminya menginap.

“Ketika tadi Bang Hara menyebutkan Famous Five, aku kira dimaksudkan untuk Lima Sekawan-nya Enid Blyton,” ujar Yuri, saat melihat banner di atas pintu masuk tribun, yang bergambar lima lelaki. “Ternyata, gambar itu nggak disertai seekor anjing.”

Hara tergelak. “Famous Five yang dimaksudkan di sini, adalah lima pemain The Hibs bernaluri menyerang yang berjasa mengantarkan klub meraih juara Liga di tahun 1950an.”

“Begitu, tho…” Yuri ikut tertawa.

“Iya, Néng,” Hara mengangguk. “Tapi, jangan tanyakan siapa aja nama kelima pemain itu, ya.”

“Karena Bang Hara belum sempat menyonteknya dari wik*pe*ia, ‘kan?” tebak Yuri.

Hara mengangguk lesu, membuat Yuri kembali tertawa.

​Dan 40 menit kemudian, setelah berjalan kaki sejauh hampir satu setengah mil, Hara dan Yuri kembali tiba di depan apartemen. Mereka berhenti sejenak.

“Nyaris nggak ada obrolan penting sepanjang jalan kaki kita tadi, ya,” seloroh Hara.

Yuri tertawa, lalu mengangguk. “Tujuanku mengajak Bang Hara berjalan kaki, memang bukan untuk mengobrol hal penting, kok!”

“Lalu?” tanya Hara.

“Sekadar kepingin menghabiskan waktu berduaan dengan Bang Hara,” jawab Yuri. “Karena… ini akan menjadi kali terakhir dari kedekatan kita.”

“Kenapa?” tanya Hara lagi.

“Masing-masing kita udah berkeluarga,” alasan Yuri. “Fokus pada keluarga kita masing-masing, Bang. Oke, kita akan tetap menjadi sahabat, ketika Bang Hara pulang ke Indonesia. Tapi, biar bagaimana pun, kita harus menghargai pasangan kita masing-masing, Bang.”

“Aku mengerti,” ujar Hara, tersenyum.

Yuri ikut tersenyum.

“Kita masuk sekarang, Néng,” ajak Hara. “Kasihan para pasangan kita.”

Saat Hara dan Yuri masuk, Nena dan Puja tengah berbincang ringan, sambil menonton The MasterChef: The Professional. Dan perbincangan di antara mereka sontak terhenti, lalu serentak menatap ke arah ambang pintu masuk, yang sejak Hara dan Yuri pergi tadi, memang tidak ditutup lagi.

“Kenapa berhenti?” tanya Hara, menatap Nena.

“Kenapa lama?” tanya balik Nena, sambil bangkit dan beringsut mendekati Hara.

“Kamu kangen?” goda Hara.

Nena melotot. Tangan kanannya terulur, mencoba mencubit perut suaminya. Namun Hara berhasil berkelit.

“Pulang sekarang?” tanya Hara berbisik. “Kasihan mereka, harus beristirahat.”

“Santai aja, Bang,” cegah Yuri, menandakan bahwa ternyata bisikan Hara masih cukup nyaring.

“Si Aa benar,” imbuh Nena. “Kami harus segera pulang. Perjalanan kalian besok, akan panjang dan melelahkan, Néng.”

***

Bagi Nena dan Puja, perjumpaan disusul perpisahan ini mungkin hanya disikapi sebagai perkenalan biasa sekaligus bertambahnya saudara baru, secara kiasan. Namun, untuk Hara dan Yuri, kebersamaan mereka punya kesan mendalam.

Hara tidak lagi bisa menatap Yuri hanya sebatas putri tetangga sebelah rumah, yang telah diasuhnya sejak masih bayi itu. Takdir membuat wanita berwajah manis itu kini menjadi ibu asuh dari si Dédé, putri semata wayang Kania. Mau tidak mau, Yuri mengguratkan kesan tersendiri di hati Hara. Mengingat si Dédé, akan pula membuat Hara meningat Yuri sebagai orang tua barunya.

Sementara Yuri, mungkin, sampai kapan pun, akan selalu mengingat Hara sebagai seseorang yang bayang-bayangnya pernah hinggap di hati dan benaknya. Mengingat segala kebaikan hatinya, sebagai lelaki yang sangat pantas ia tahbiskan menjadi kakak dan sahabat yang baik.

Maka, dengan segala kesan di hati masing-masing terhadap satu sama lain, perjumpaan sekaligus perpisahan ini tentu akan menorehkan kenangan tersendiri.

Yuri menghadapi Hara, disaksikan Nena dan Puja, yang sama-sama menatap sepasang sahabat sejak kanak-kanak itu dengan penuh arti.

“Terima kasih untuk segalanya, Bang,” lirih Yuri. “Terima kasih karena Bang Hara udah mengajarkan aku tentang bagaimana mendapatkan pasangan hidup terbaik.”

“Aku bukan yang terbaik,” seloroh Hara.

“Bukan,” gumam Yuri. “Tapi, hampir seumur hidup mengenal Bang Hara, bikin aku tahu, seperti apa lelaki baik.”

“Dan kamu beruntung, mendapatkan suami yang lebih baik dariku,” Hara tersenyum. “Kamu bahagia dengannya, aku bisa melihat itu.”

Yuri ikut tersenyum, sambil mengangguk.

Kemudian Yuri mengalihkan perhatian pada Nena.

“Tétéh…” ucapnya. “Tolong jaga Bang Hara.”

“Pasti, Néng,” Nena tersenyum lembut. “Sejak kamu kecil, dia menjaga kamu, dengan penuh ketulusan. Tanpa meminta balasan. Dan mungkin inilah ganjaran dari Tuhan, lewat tangan aku.”

Yuri mengangguk setuju. “Téh Nena beruntung, mendapatkan suami sehebat Bang Hara. Jujur… belum pernah aku mengenal lelaki setahan banting Bang Hara. Hmm… pasti Téh Nena udah mendengar semua cerita miris kehidupan Bang Hara secara langsung, ‘kan?”

“Iya,” Nena kembali tersenyum.

“Dan aku yakin, sifat tahan banting itu juga akan diperlihatkan Bang Hara, ketika rumah tangga kalian diuji,” lanjut Yuri. “Kalian pasti akan langgeng sampai tua.”

“Aamiin…” imbuh Nena. “Kamu juga, Néng. Jangan pernah berhenti berdoa, berharap yang terbaik untuk rumah tangga dan kehidupan kalian.”

“Pasti, Téh,” Yuri tersenyum.

Interaksi antara Hara dan Puja berlangsung singkat saja. Kedua lelaki itu saling dekap dengan hangat. Disusul Hara yang berbisik,

“Jaga Yuri. Bahagiakan dia. Kelak, kamu akan merasa sangat bahagia, saat berhasil membuatnya bahagia. Dan… bersiaplah menghadapiku, andai hal tersebut gagal terwujud. Karena dia adikku.”

“Siap, Kang,” Puja mengangguk dengan gestur mantap. “Kebahagiaanku adalah taruhannya.”

***

Hara telah mengantarkan Nena dengan selamat, kembali ke apartemennya. Karena malam sudah cukup larut, Nena meminta sang suami untuk segera meninggalkan kediamannya selama 3 tahun menjadi TKI di Skotlandia itu.

“Nggak enak dengan penghuni lain,” ucap Nena. “Yah… meski semua orang di apartemen ini tahu bahwa Aa adalah suami aku. Tapi aturan harus tetap ditegakkan.”

Hara mengangguk sambil tersenyum. “Iya, aku mengerti.”

“Kabari aku, setibanya di Lochlin Place,” minta Nena.

“Pasti, Néng,” Hara mengedipkan kelopak mata kanannya.

Nena mengantar Hara sampai di ambang pintu.

“Kini aku tahu, kalau aku memang wanita istimewa,” ujar Nena.

“Ge-er, kamu!” kelakar Hara.

“Aku nggak ge-er,” bantah Nena. “Aa dekat dengan seseorang seistimewa Néng Yuri. Aa dicintai Néng Yuri. Tapi Aa malah mengabaikannya. Lalu, aku hadir di tengah kehidupan Aa. Dan Aa memilih aku sebagai pasangan hidup. Karena aku istimewa, ‘kan?”

“Bukan karena itu,” ujar Hara. “Kamu pernah kuberi tahu, bahwa aku nggak pernah memiliki kriteria tertentu dalam menentukan pasangan, ‘kan?”

“Aa hanya memilih wanita yang klop di hati Aa,” jawab Nena. “Bukan wanita yang punya kelebihan atau kriteria ini dan itu. Aa memilih wanita yang Aa cintai, sebagai pasangan hidup Aa.”

“Dan kamu, Néng, kupilih karena udah kucintai sejak perjumpaan pertama,” Hara tersenyum. “Dan ternyata kamu memang istimewa. Sangat istimewa. Kamu… kamu bisa bikin aku move on dari Kania, bahkan dengan begitu cepat. Fakta itu udah cukup untuk menjelaskan seberapa istimewa dirimu.”

Ya, Nena memang istimewa. Dan Hara sangat beruntung, dapat menjadi suaminya. Nena… sukses membuat Hara selalu bisa menikmati ‘sinar mentari’ di Leith. Sinar mentari yang tetap indah, meski terang langit beranjak pergi.

Tamat