Agen Bola Terminal Bandar Bola Terpercaya
LAPAKDEWA LAPAKPOKER

Cinta Yang Liar Part 8

Part 1Part 2Part 3Part 4Part 5
Part 6Part 7Part 8

Kudengar suara kaki Ayah melangkah menuju kamarnya tak ada lagi suara televisi lagi. Semua menjadii hening dan akupun kembali tidur dengan berjuta-juta pertanyaan dalam pikiranku. Kembali aku bermimpi kedua kerbau yang bertarung itu dan mimpi itu terulang dari kejadian awal hingga lelaki tua itu berbicara kepadaku dan diakhiri dengan goncangan yang mebuatku terbangun.

Ketika aku terbangun dengan kekagetan yang sangat amat membuatku berolah raga jantung dengan keringat yang mengucur dari kepalaku. Ternyata Ibu sudah berada di sampingku dan ketika aku bangun dan duduk Ibu langsung memelukku. Mengelus-elus kepalaku, kemudian memegang kedua pipiku dengan kedua tanganya dan mengecup keningku.

“Ada apa nak?kamu mimpi buruk?” tanya Ibuku

“Hah Hah hah… tidak bu hanya mimpi ada kerbau yang bertarung saling membunuh” jawabku, kemudian ku pegang tangan Ibu dan kuturunkan dan cup kukecup bibir Ibu. Kulihat Ibu mengenakan kebaya yang aku beli tadi siang, kebaya yang sangat seksi dengan belahan dada sangat rendah sehingga dapat terlihat belahan dada Ibu yang sangat menggairahkan.

“Ibu sangat cantik….” ucapku pelan sembari mengalihkan pembicaraan tentang mimpiku barusan.

“Sebenarnya Ibu kesini ingin mencoba pakaian-pakaian yang kamu beli tadi… ini baru nyoba satu, pas mau ngebangunin kamu malah kamunya mimpi buruk” jawab Ibu

“Bagus ya…” ucap Ibu yang beranjak dan berdiri sambil memutar tubuhnya dihadapanku.

Kebaya belahan dada rendah warna hitam dan jarit berwarna coklat gelap dengan motif batik khas daerah. Sangat indah, terlihat setiap lekuk tubuh Ibu yang masih langsing apa lagi dipadukan dengan susu Ibu yang tampak sangat membusung ke depan sebenarnya tidak proporsi jika dilihat dengan tubuh Ibu yang sangat langsing tetapi susu Ibu sangat besar.

“Bagus sayangku, apalagi kalau di buka…” ucapku yang kemudian melangkah menuju ke arahnya untuk memeluknya, tapi Ibu tiba-tiba mendorongku sehingga aku terjatuh kembali ke kasurku dan rebahan. Ibu kemudian telengkup di atasku.

“Sssssst…. malam ini kalau mau ya pakai ini saja ya hi hi hi” jawab Ibu sambil menunjukan bibir manisnya.

“Ya pengen semuanya bu….” jawabku manja meminta lebih

“Ibu sedang di datangi bulan sayangku kekasihku alias menstruasi…. hi hi hi ini barusan Ibu pakai “roti tawar” hi hi hi… ” ucap Ibu dan membuatku menepuk keningku.

“Makanya Ibu tadi kasih jatah kamu, karena perut Ibu teras mual seperti akan datang bulan” lanjut Ibu

“Ya sudah bu, akan Arya tahan walau sebenarnya tidak tahan….” ucapku

“Pakai ini tidak mau? Beneran?” goda Ibu

“Tidak bu, tapi dengan syarat Ibu harus coba semua pakaian yang Arya beli dihadapan Arya” jawabku

“Iya memang tujuan Ibu kesini mau coba baju yang dibelikan Arya” balas Ibu, yang kemudian berdiri dan melepas kebaya yang dipakai.

“Ayah kemana bu?” ucapku sambil mengangkat tubuhku dan duduk mengamati wanita setengah baya yang mulai terlihat kulit putihnya.

“Apa ndak denger ngoroknya Ayahmu dari sini?” ucap Ibu yang sedang melipat kebaya warna hitam dan kemudian mulai memakai kebaya warna putih.

Aku kemudian menundukan wajahku dan mulai mencoba berkonmsentrasi untuk bisa mendengar suara ngoroknya Ayah. Ya memang terdengar sangat jelas.

“Kok keras sekali ngoroknya?” ucapku kemudian aku mengarahkan pandanganku ke Ibu, aku sangat tertegun untuk kedua kalinya.

“Bagus tidak?” ucap Ibu

“Malah bengong….” lanjut Ibu

“Cantik bu, kapan-kapan pakai ini ya? Tapi jangan disobek karena ini hadiah dari kekasihku” ucapnya kepadaku.

“Ya ndak lah bu… ibu kekasihku tersayang” jawabku, terlihat seorang wanita menggunakan kebaya putih yang sama seksinya dengan sebelumnya walau kutang yang dipakai tidak diganti dengan pasangan kebaya putih ini.

Seharusnya Ibu memakai kutang warna putih juga tapi mungkin untuk mempercepat ganti pakaiannya. Ibu kemudian melangkah ke arahku dan memelukku diringi kecupan pada pipiku.

“Besok entah kapan, Ibu diajak jalan-jalan keluar kota ya, dimana tidak ada yang mengenal kita” ucap Ibu

“Ibu ingin memberikan semuanya ke kamu…. karena Ibu ingin sekali merasakan masa muda Ibu yang terbuang karena Ayahmu” lanjut Ibu, aku tertegun dan memandang Ibu, kemudian kukulum bibir Ibu dengan penuh semangat. Ibu melepaskan ciumannya dan beranjak melangkah untuk mencoba memakai pakaian yang lainnya lagi.

Satu persatu Ibu mencoba memakai pakaian yang aku belikan. Tampak seorang wanita sedang memilih-milih BH yang akan dipakai, dan mengesampingkan BH yang kekecailan dan kebesaran. Kemudian mulai mencoba pakaiannya satu persatu. Suatu eksotisme sendiri dihadapanku, melihat Ibu telanjang kemudian tertutupi pakaian lagi.

Pakaian pertama berwarna hitam, sebuah kaos ketat yang terbuat dari kain tipis dengan lebih tepatnya itu adalah tank-top kemudian dipakainya jaket sport hitam dari kain (bukan dari jeans) yang tidak ditutupnya pada bagian depan bertuliskan sebuah kesebelasan kesayanganku.

Bagian bawah Ibu memakai celana kain warna hitam yang sedikit cutbray, ketat hingga bagian lutut dan melebar sedikit dari lutut kebawah. Sangat kontras jika saja jaketnya tidak dipakai akan sangat terlihat kulit putih Ibu. Jujur Ibu tampak seperti berumur 28-an.

Pada pakaian kedua Ibu masih mengenakan celana jeans itu tapi sekarang memakai kaos ketat dengan belahan dada sangat rendah tetapi longgar pada bagian perutnya kebawah berwarna putih dengan lengan yang tertutupi hingga sikunya. Ibu tampak lebih seksi kali ini. Ibu tampak berjalan mondar-mandir ke kanan dan kekiriku memamerkan tubuhnya yang diselingi dengan canda gurau tapi pelan-pelan agar Ayah tidak bangun.

Lama sekali kami bersama, hingga Ibu melepas semua pakaian dan mentanya di dalam almari kemudian memakai pakaiann ya kembali. Kami akhiri kebersamaan kami dengan pelukan, remasan, ciuman hingga akhirnya aku rebah di pangkuan Ibu. Ibu mengelus-elus kepalaku hingga akhirnya aku tertidur.

Dalam tidur aku bermimpi tapi berbeda, tak tampak apapun hanya darah yang mengalir dari salah satu hewan yang sudah tak jelas lagi bentuk dan rupa dari hewan itu. Karena yang kulihat hanya bayangan hitam berbentuk hewan entah itu kerbau, sapi, atau bison. Mungkin kerbau tapi kali ini sangat terlihat lebih berbeda karena bentuknya lebih besar. Dan kemudian tampak gelap.

Aku terbangung pada 05.30, beraktifitas seperti sedia kala. Dan berkumpu dengan keluargaku pada pukul 06.30 untuk makan pagi. Aktifitas pagi yang selalu sama dengan yang sebelum-sebelumnya tapi sekarang Ayah dan Ibu yang terlebih dahulu berangkat sedangkan aku berangkat ke kampus setelahnya.

Ayah kemudian menyuruhku membuka pintu gerbang rumah dan pintu depan garasi. Ayah kemudian mengeluarkan mobilnya hingga di jalan. Ibu yang masih berada dalam rumah memanggilku, dan ciuman, remasan serta pelukan aku dapatkan. Nikmat……

Sepeninggalan Ayah dan Ibuku, Aku tutupi semua pintu rumah dan mempersiapkan diri untuk berangkat ke kampus. Ketika hendak berangkat aku mendapat telepon dari Rahman bahwa hari ini kuliah ditiadakan karena dosen yang mengajar sedang sakit cenggur eh salah meriang biasa katanya. Aku kemudian memutuskan untuk berangkat jam 08.00 dengan perkiraan sampai dikampus pukul 09.00.

Ya mau bagaimana lagi kuliah ditiadakan, daripada dirumah mending ngampus saja lagipula Rahman juga bilang kepadaku dia berada dikampus hari ini. Ku buat teh tarik kesukaanku, sambil menyulut Dunhill Mild kesukaanku aku duduk di ruang TV/Keluarga dan menyetel TV, seketika itu pula muncul sekilas berita dari salah satu stasiun televisi lokal daerahku yang menayangkan sebuah berita secara langsung.

Berita tentang kematian KS saksi ahli dari kasus korupsi di Instansi pemerintah tempat Ayahku bekerja yang dibunuh secara mengenaskan di jalan daerah rumahnya dan pelaku tidak diketemukan. Aku tersedak dan rokokku jatuh tepat di kaki kiriku.

“WADAAAAAAAAAOOOOOW….” teriakku, kemudian meletakan teh tarikku, ku ambil rokok aku mengelus-elus kakiku.

Aneh benar-benar aneh, semalam baru saja berita ini diturunkan dan KS sedang meminta bantuan perlindungan saksi tapi pagi ini dia sudah ditemukan mati terbunuh prakiraan waktu pembunuhan adalah malam hari tapi tepatnya tidak di sebutkan di berita. Aku mulai teringat percakapan ayah di telepon malam tadi, Ku ikuti berita itu, ternyata kejadian pembunuhan berada di sebelah timur laut universitasku sekitar 10 Km jaraknya.

Tak kuhiraukan lagi jam dinding yang berdetak, langsung ku siapkan diriku untuk menuju ke tempat kejadian, dan bret bret bret…. ceklek ceklek. Setelah semua pintu rumah terkunci dan semua aman, kupacu lansung REVI montok semokku menuju tempat kejadian tak lupa kupasang earphone dari HP-ku di telingaku dan ku stel lagu DEEP PURPLE-HIGHWAY STAR.

Dalam perjalanan musik yang sama terus berputar dan selama itu pula aku terus berpikir, alangkah lebih baiknya aku menemui Rahman terlebih dahulu di kampus agar dia tidak menunggu terlalu lama. Hingga akhirnya sampai di kampus terlebih dahulu, kutemui Rahman kami berbicang sebentar tanpa menjelaskan maksud dan tujuanku aku kemudian cabut dari kampus.

Tapi sialnya motorku tidak dapat keluar dari tempat parkir, akhirnya aku meminjam motor Rahman plus jaket plus helm cakil-nya (helm yang menutup seluruh kepala). Dan Rahman menyuruhkku mengembalikan motornya di kos Ajeng karena dia mau indehoy disana. Dengan style yang berbeda aku menuju tempat kejadian.

Selama perjalanan dari kampus menuju ke tempat kejadian, sekilas tampak bayangan Ayah di pikiranku. Apa ada hubungannya dengan Ayahku? Ah sial kenapa juga aku semalam mendengar percakapan Ayah, seandainya aku tidak mendengar mungkin aku tidak akan sepenasaran ini. Inilah yan membuat aku penasaran sehingga membuatku ingin kelokasi kejadian.

Ku pacu motor Rahman dengan sangat brutal, hingga aku sampai di sebuah gerbang bertuliskan “PERUMAHAN SEJUK ASRI ENAK (SAE)” (sae dalam bahasa indonesia memiliki arti “bagus”). Ketika masuk gerbang perumahan ini tak tampak satpam berjaga, aku masuk dan berjalan lurus kedepan.

Didepan kutemukan sebuah taman berbentuk persegi panjang dengan lapangan badminton dan basket kemudian disampingya terdapat sebuah kolam ikan yang kelihatannya dangkal, taman tersebut berjarak kurang lebih 200 meter dari pintu gerbang. Ketika aku akan membelok ke kenan terlihat sekali keramaian karena ada rekonstruksi kejadian.

Aku parkirkan motor dekat dengan kolam ikan dan dengan masih mengenakan jaket dan helm cakil aku berjalan ke arah keramaian itu. Jaraknya kurang lebih 50 meter. Sesampainya di sana, aku berada di belakang barisan orang-orang yang menonton tampak pula para reporter televisi sedang meliput kejadian. Di depanku berdiri 2 orang yang berpenampilan rapi berbaju hitam.

“Ada apa to mas?” tanyaku kepada orang yang berada di sebelah kiriku, dengan hanya membuka kaca helm saja.

“Pembunuhan jare mas, tapi aku rak ngerti sapa sing mateni, jare ora ketemu(pembunuhan katanya mas, tapi aku tidak tahu siapa yang membunuh, katanya pembunuhnya tidak ketemu)” ucap orang tersebut.

Aku hanya mengangguk dan tiba-tiba kedua orang berpakaian hitam itu bergerak mundur dan menabrakku hingga aku terjatuh terlentang membuat kaca helmku tertutup. Mereka hanya diam dan menoleh sebentar ke arahku serta mengacungkan jari tengahnya.

Aku tidak ingin mencari masalah, aku kemudian berdiri dan membungkuk-bungkukan tubuhku meminta maaf kepada mereka. Kulihat mereka berjalan acuh kepadaku, masuk ke mobil dan brrrrmmmm mereka pun pergi.

Aku kemudian kembali ke motorku, aku duduk di pinggir kolam ikan, tampak pula seorang reporter wanita dan kameramen televisi dari stasiun televisi sedang mengobrol. Kutarik keatas helm cakilku, kusulut rokok Dunhill mild sambil mendengarkan pembicaraan mereka.

“Wah kasihan sekali, padahal orang baik dia” ucap reporter wanita

“iya sih, mungkin konspirasi terasi di dalamnya” jawab kameramen

“Hmmm… sebentar ini waktu kejadiannya jam berapa tadi? Aku belum mencatatnya” sambung reporter wanita tersebut

“Wah kamu itu bagaiman kok tidak dicatat, Bukannya dini hari tadi sekitar 22.30?” jawab kameramen

“Oh iya he he he” jawab reporter wanita tersebut sambil terkekeh-kekeh

“Ah kamu itu selalu lupa ha ha ha” jawab kameramen dibarengi dengan tawa mereka bersama

Dari percakapan mereka akhirnya aku tahu, ternyata waktu kejadian adalah sekitar pukul setengah sebelas malam dan itu adalah waktu setelah aku mendengar perkataan Ayahku. Kuletakan rokok beserta korekku di pinngir kananku, sambil aku masih menikmati rokok dunhill, tiba-tiba bara api jatuh dari rokokku mengenai paha kiriku.

Aku gelagapan langsung menyapu bara itu apesnya sebungkus rokok dunhill terjatuh untung kolam ikan tidak dangkal dan rokoku masih mengambang.

“Mas Rokok sama koreknya jatuh itu” ucap kameramen telesvisi tersebut kepadaku

“Oh iya mas…” langsung aku ambil tanpa mempedulikan lengan jaketku.

“Lha HP-nya tidak diambil, rusak lho mas kalau tenggelam kelamaan” ucap kembali repoter wanita tersebut

Sebenarnya aku kebingungan ketika mereka mengatakan itu, karena HP ku berada di kantong bajuku yang tertutup oleh jaket. Segera aku melihat ke kolam tampak sebuah telepon cerdas merek asia dengan segera aku ambil HP itu walau jaket rahman menjadi korban.

HP? HP siapa? Saat itu pula aku ingin menyatakan kepada repoter dan kamera bahwa itu bukan HP-ku tapi mereka sudah keburu pergi. Ku lap HP tersebut dan kumasukan kedalam jaketku, tak ada seorang pun disini hanya aku sendiri, dari pada nantinya aku di takuti oleh hantu KS mending cabutlah.

Dalam perjalanan kembali ke kampus, tak ada pikiran apapun di dalam benakku. aku bahagia karena aku menemukan HP, ya semoga saja HP-nya masih bisa fungsi jika di perbaiki. Kupacu dan Ku arahkan motorku menuju ke konter langgananku di dekat kampus. Pemilik konter ini adalah temanku, biasa dia cari pekerjaan sampingan. Sampailah aku di konter HP temanku itu.

“Lagi sibuk Bro?” tanyaku

“Ya lumayanlah….” jawab Ronald, teman kuliahku

“Bro, bisa benerin HP yang kecelup dalam kolam?” tanyaku kepada ronald

“Waduh lagi banyak servisan HP ni, maafnya bro sibuk banget” jawab ronald

“Ayolah kawan, bantulah aku, Cuma konter ini kepercayaanku” jawabku memelas

“Dah gini, aja bro aku ajarin cara buka itu HP tak pinjami obeng khusus” ucap Ronald sembari menyerahkan satu set obeng khusus kepadaku

“setelah kamu buka kemudian kamu jemur saja sampe kering, kalau nanti bisa jalan lagi ya untung kamu, kalau tidak bisa jalan bawa kesini nanti aku perbaiki, tapi ya nunggu lama bro, Oke?” jawab Ronald.

Ronald kemudian mengajariku membuka HP yang aku temukan tadi, dengan menggunakan obeng-obeng tersebut. Setelah aku yakin aku bisa, aku tinggalkan konter menuju ke kos-an Ajeng.

“Selamat Siaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaang” teriakku, selang beberapa menit keluarlah seseorang.

“WOI! Kaya tamu penting aja ente!” teriak Rahman dari dalam kos, kos Ajeng berbentuk sebenarnya Rumah kontrakan, lengkap dengan pintu gerbang rumah, garasi. Tampak Rahman membukakan pintu gerbang rumah.

Aku masuk tanpa banyak basa-basi aku langsung meminta motorku kembali. Dengan sedikit memaksa Rahman mengajakku masuk, sekalian mengenalkan aku ke penghuni kos tersebut mungkin saja ada yang aku minati. Kucoba menolak, tapi apa mau dikata aku gagal menolak.

“Woi ladies, kenalin nih cowok keturunan jepang, ganteng minta ampun, masih jomblo, Arya!” teriak Rahman ketika memasuki pintu rumah, tampak 6 orang cewek yang sedang nonton TV salah satunya Ajeng.

Mereka kemudian menoleh kearahku, tapi namanya cewek sedikit jual mahal kepadaku. Ku dekati mereka dan memperkenalkan diriku ke mereka satu-satu. Ana, Dwi, Lestari, Septiani, Ina dan terakhir Ajeng.

Kami terlibat percakapan, sekedar gurauan-gurauan dan candaan. Tak ada satupun yang memikat hatiku walau dari mereka ada yang memandangku dengan something. Hingga semua merasa lelah akhirnya aku memutuskan pulang. Ajeng… dia menatapku aneh sekali sejak dia jadian dengan Rahman.

Aku pulang kerumah, aku menuju kekamarku, tak perlu istirahat aku langsung membuka HP yang aku temukan tadi. HP Original asyiiiiiik merek dari ASIA SUNGSANG, yes! HP Baru HP baru. Kenapa aku tahu ini HP asli, karena tadi temanku konter yang mengatakan kepadaku. Tapi tunggu bisa jalan tidak ini HP? He he he.

Aku buka bagian belakang HP, kulihat MMC dan SIM CARD Masih menempel di HP itu. Kusisihkan MMC dan SIM CARD HP tersebut. Kubuka satu persatu layaknya seorang ahli perHP-an. Kujemur di perkarangan rumah, kuletakan bagian-bagian HP tersebut pada sebuah nampan dan aku letakan di atas rumput yang terkena sinar matahari.

Kembali aku masuk ke dalam kamarku, kulhat waktu menunjukan 13.00. Penasaran juga dengan isi SIM CARD, kuambil FiturPon-ku (HP jadul) dengan merek NANIA 3150 dan kupasangkan SIM CARD di dalamnya. Ku charge terlebih dahulu dan kunyalakan Hpnya.

Sambil menunggu HP aktif sempurna, aku berandai-andai semoga saja isi smsnya, berisi sms dari wanita-wanita semok dan cantik he he he. Kubuka message HP walau sebenarnya belum aktif secara sempurna, sehingga tak tampak nama pengirimnya yang tampak hanya sebagian isi pesan, kucoba buka pesan pertama, agak sedikit lemot mungkin sedang melakukan sinkronisasi nomor kontak. Dan terbukalah isi smsnya

<some text missing> Antarkan sesuai perintahku
x/+-

“Yaelah ada text yang hilang nasib-nasib, apa maksudnya ini” bathinku, kemudian aku tekan kebawah.

Sender:
Romo Mahesa
Date :
Wednesday,1/03/20xx

DEG… DEG… DEG… DEG….

Jantungku berdetak sangat cepat, keringat mulai bercucuran. Kenapa nama Romo yang muncul di Hpku? Ya aku memang menyimpan nomor Romo di HP lama ataupun baru dengan nama Romo Mahesa. Di awal tadi tidak terlihat karena mungkin sinkronisasi kontak HP yang memakan waktu cukup lama.

Apa? Apa ini? ada kaitan apa Romo dengan si empunya HP ini? Apakah HP ini milik KS yang tercelup? bathinku

Ku raih telepon cerdaskku, kubuka website berita www.menitankoreng.com, kuilhat sebuah berita tentang kematian KS. Disitu tertuliskan,

KS mati terbunuh dengan perkiraan pembunuhan di taman perumahan SAE, Mayat KS kemungkinan sempat diseret dari taman menuju depan rumahnya. Terlihat bercak darah yang menuju dari taman menuju ke rumahnya. Kemungkinan KS mati ditusuk terlebih dahulu kemudian di tembak di bagian keningnya​

Keanehan terjadi, kenapa tadi tidak ada garis polisi di taman tepat di kolam ikan yang aku duduki? Padahal itu tempat terjadi pembunuhan. Kucoba kuingat-ingat lagi dan ternyata memang ada garis polisi di taman tetapi tidak pada bagian kolam ikan.

Aku rebahkan tubuhku di kasur kulihat jam dinding menunjukan pukul 14.00. Semua tampak buram, siapa sebenarnya Ayah?Apa yang telah dilakukannya selama ini? membuatku menjadi pusing tujuh keliling, apa lagi ada sms yang tersimpan di dalam SIM CARD ini menunjukan pengirimnya adalah Ayah. Kuletakan HP jadul-ku di kasur dan kutinggalkan.

Aku bangkit dari tempat tidurku, kemudian kulangkahkan kakiku menuju pekarangang rumah. Dengan asap yang mengepul dari mulutku layaknya sebua Lokomotoif, ditangan kiriku menggenggam telepon cerdasku. Aku duduk di tempat duduk santai, ku amati Telepon cerdas yang aku jemur tampak sudah kering karena teriknya matahari yang menyengat ini.

kepulan demi kepulan asap memngandung beribu-ribu pertanyaan yang membuat pikranku seolah-olah ditekan oleh batu 1 ton. Masa bodohlah… itu bukan urusanku. Ku mainkan sebuah lagu dari Band beraliran Galm Rock yang mendunia saat itu. Gun n Roses – Welcome To The Jungle. Setiap lirik aku coba dengarkan dan resapi, hingga pada sebuah lirik…

Ya learn to live like an animal in the jungle where we play​

Benarkah? Benarkah kita manusia tetapi hidup layaknya seekor binatang? Berebut kekuasaan, menindas yang lemah, bahkan membunuh mereka yang tidak sepaham dengan kita. Layaknya rimba hutan, dibutuhkan penguasa yang mampu memberi rasa takut kepada penduduk rimba. Bedanya, hewan lebih hebat seekor hewan dapat berkuasa dengan kekuatannya sendiri tetapi manusia memanfaatkan uang untuk menghancurkan pesaingnya.

Ahhhh… jika dipikir tidak akan ada habisnya. Yang aku tahu seperti kata Ibuku, manusia adalah tempat untuk berbagi, saling menyayangi dan menghormati tanpa harus meliha perbedaan.

Ahhh kenapa aku risau akan semua ini? yang terpenting aku harus bisa memposisikan diriku untuk bisa selalu diterima oleh masyarakat sekitar, tak akan kupedulikan apa kata orang. Intinya adalah aku harus bisa bersosialisasi dengan semua lapisan masyarakat. Hei? Kenapa aku seperti negarawan saja ha ha ha.

Pull me under pull me under pull me under im not afraid… bunyi panggilan pada telepon cerdasku. Kulihat nama Ibu tertera pada layar telepon cerdasku, segera ku angkat.

Sugeng Siang Ibu, bagaimana kabarnya? ucapku kepada Ibu di telepon

Iya… Arya sayang… kamu tidur dirumah kakek saja ya, Rumah kamu kunci semua saja daripada kamu tidur sendirian di rumah

Bawa juga pakaian secukupnya ya, biar nanti kalau mau ke rumah teman kamu itu bisa langsung dari sini ucap Ibu dari dalam telepon cerdasku

Arya tidur di rumah saja bu jawabku pendek

Apa ndak kangen Ibu to? Pokoknya ya kamu kesini titik jawab Ibu sedikit membentak dari dalam telepon

Kangen iya kangen, Ibunya kangen tidak sama Arya ledekku kepada Ibu

Iya kangen to, masa sama anak sendiri ndak kangen jawab Ibu

Kangen yang mana? He he he ledekku kembali

Hmm…. mau tidak?! terdengar bentak Ibu lagi

Iya bu iya… nanti jam empat sore, Arya berangkat dari rumah ucapku, kembali Ibu menjawab dengan sedikir obrolan-obrolan mengenai apa yang aku lakukan seharian. Kemudian Ib mengakhiri pembicaraan kami, dan dia menunggu aku di rumah kakek.

Kembali musik mp3 yang berada dalam telepon cerdasku berputar walau sempat berhenti karena panggilan telepon dari Ibu. Lagu kembali aku dengarkan sebuah lagu dari seorang solois bernama Bryan Adams Never give up. Ya aku tidak boleh menyerah dengan keadaan ini, tidak boleh aku harus menemukan jawabanku.

Lama aku melamun, lama pula aku mendengar lagu yang berputar. Kulihat jam pada telepon cerdasku menunjukan pukul 15.00, aku bangkit dan ku angkat telepon cerdas temuanku. Tampak sudah kering dan kerontang. Kubawa ke dalam kamar, kemudian aku pasangkan kembali MMC dan SIM cardnya. Kunyalakan, YES BISA!

Sambil menunggu Telepon cerdas menyala sempurna, kutinggalkan telepon cerdas itu diatas kasur. Kemudian aku menata semua keperluanku untuk menginap di rumah kakek. Setelah semua pakaianku beres, kuraih telepon cerdas temuan itu dan ternyata masih bisa berjalan dengan normal.

Kubuka pada bagian galeri foto, tampak foto-foto KS dengan keluarganya sedang tersenyum bahagia. Tapi apa benar ini foto KS? Ku coba browsing dengan menggunakan telepon cerdasku dan tuing memang benar HP ini adalah telepon cerdas KS.

Aku menunduk dan merasa terpukul, bagaimana bisa seorang kepala keluarga yang bahagia dibunuh hanya karena ingin membongkar kasus korupsi. Tampak telepon cerdas itu masih menyambung dengan koneksi datanya.

Kucoba buka pada menu SMSnya, tampak sebuah nama yang tidak asing lagi Mahesa. Ku sentuh bagian nama itu dan terlihat deretan text sms. Hanya terlihat 5 pesan berurutan yang tampak dari telepon cerdas yang ku temukan. Mungkin sms yang tadi aku baca berada pada bagian atas dan perlu ku scroll ke atas dulu. Tapi 5 pesan yang tampil ini sangat membuatku deg-degan.

Kenapa Bapak mengkambing hitamkan adik saya?
Padahal Bapak sendiri pelakunya
Monday, 28/8/20xx

Diam saja kamu
Jika kamu berani bicara di publik
Aku akan membunuhmu
Monday, 28/8/20xx

Tidak, akan saya akui kesalahan saya
Dan saya siap menerima hukuman dari pihak berwajib
Begitu pula dengan bapak
Monday, 28/8/20xx

DASAR BAJINGAN!
AKAN KU BUNUH KAMU!
Monday, 28/8/20xx

SAYA TIDAK TAKUT!
SAYAMEMINTA PERLINDUNGAN HUKUM!
Monday, 28/8/20xx

Apa maksdunya ini? Pull me under pull me under pull me under im not afraid… bunyi panggilan pada telepon cerdasku. Kulihat nama Ibu tertera pada layar telepon cerdasku lagi, segera ku angkat. Nampak Ibu memastikan aku untuk segera berangkat karena khawatir akan hujan deras, kulihat dari dalam kamar melewati jendela awan sangat gelap.

Segera aku mempersiapkan diriku, ku matikan telepon dari Ibu. Tak lupa pula aku matikan telepon cerdas temuanku, ketika hendak mematikan telepon cerdas terdengar bunyi tung… sebuah notifikasi dari Bau Badan Messenger (BBM), muncul sebuah nama MAHESA diikuti isi pesan MATI KAU HAHAHA!

Aku benar-benar kaget, ketika melihat notifikasi tersebut. Kucoba membuka aplikasi BBM melalui menu agar tidak membuka langsung pesan BBM tersebut karena jika aku buka pengirim akan tahu bahwa pesan itu telah di R. Dan kulihat kontak BBM tersebut dan benar itu kontak itu bernama MAHESA kusamakan dengan foto yang berada di BBM telepon cerdasku, ya itu sama persis.

Segera aku matikan telepon cerdas temuanku itu agar tidak dihubungi atau tidak diketahui oleh orang yang mencarinya. Setelah kupastikan mati total, aku sembunyikan di dalam kamarku yang bahkan semua orang tidak akan pernah tahu keberadaanya.

Segera aku angkat semua kebutuhanku yang berada dalam tas untuk menuju kerumah kakek, karena aku juga sangat kangen dengan Ibuku, kekasihku. Setelah semua kupastikan terkunci aku kemudian tunggangi REVI MONTOK SEMOK-ku.

Dalam perjalanan aku menuju rumah kakekku, aku memutuskan untuk tidak memberitahukan kepada siapapun atas apa yang aku alami dalam minggu ini. Minggu yang penuh dengan bermiliyar-miliyar pertanyaan dalam otakku. Kupacu dengan penuh semangat…… saatnya menuju ke barat menuju kerumah kakekku.

Nguuuuuuuuuuuuuuuuuuueeeeeeeeeeeeeeeengg………………

Setelah mendapatkan satu jam perjalanan, sejenak aku beristirahat di sebuah kedai nasi harimau. Makan secukupnya dan mulai berbaur dengan orang-orang yang berada di tempat itu. Bersendau gurau dan bercanda. Ya inilah bangsaku, bangsa yang benar-benar menghargai perbedaan. Setelah dua bang dunhill hilang menjadi asap aku melanjutkan kembali perjalanan, tepat pukul 19.00 aku sampai dirumah kakek.

Ibu menyambutku dengan penuh kebahagiaan seakan-akan sudah lama tak jumpa, Tante Ratna, Pak dhe (Paman) Andi semua berkumpul terlihat juga nenek Ayu dan Kakek Warno yang sedang bersendau gurau dengan adik-adikku dari tante ratna dan pak dhe Andi.

Tante Ratna memiliki 2 orang anak, cowok berumur 10 tahun dan yang cewek berumur 7 tahun sedangkan Pak Dheku memiliki Tiga orang anak, anak pertama berumur 11 tahun, anak kedua berumur 9 tahun dan anak ketiga berumur 5 tahun.

Ketika semua berkumpul tampak dari semuanya terlihat bahagia. Sedikit cerita, Ketika Pak dhe menikah dengan bu dhe bertemulah tanter ratna dengan Adik dari istri pak dhe, mereka saling jatuh cinta dan akhirnya mereka menikah juga. Jadi, Istri Pak dhe dan Suami Tante Ratna adalah kakak beradik.

Di sela-sela kebahagiaan itu muncul sebuah tanda tanya besar Kenapa aku tidak pernah bertemu dengan kakek dan nenek dari Ayah?. Pertanyaan muncul dan aku simpan dalam hati, pertanyaan yan muncul karena berbagai hal aneh yang terjadi di minggu ini. Kami berkumpul bercerita mengenai berbagai macam hal dari A hingga Z dai 0 hingga 9.

Arya, dah punya pacar belum? tanya tante ratna yang disampingnya duduk suaminya Om Andra Dwi Kuncoro dengan wajah yang ramah.

Iya nih, dah punya belum masa 20 tahun masih Jomblo? sambung pamanku yang di dadanya rebah kepala dari istrinya Ika Ana Kuncoro nan cantik yang juga tersenyum kepadaku.

Eeeeeeeeeee… Mas sama dik ratna itu bagaiman to biarkan Arya kuliah dulu baru nanti mencari pacar jawab Ibuku dari belakang sambil membawa senampan minuman hangat.

Belum Pak dhe, tante tidak laku aku ini… he he he ucapku yang dibarengi dengann tawa mereka semua.

Masa cowok seganteng kamu belum laku? Jangan-jangan….. ledek tante Ratna

Bener juga ya Rat, ada yang tidak beres sama Arya ucap Tante Ika menimpali Tante Ratna, belum juga aku menjawab giliran pak dhe dan Om Andra yang menimpali secara bersamaan.

Wah iya ini jangan-jangan Arya…. ledek kedua laki-laki di depanku

APAN SICH TANTE, OM SAMA PAK DHE ITU? AKU MASIH NORMAL YA…..

Ibu, belain aku to ya… ucap ku kepada Ibu

iiiih kakak udah gede masa minta di belain sama bu dhe ucap anak tante ratna

Sudah-sudah kaya kalian umur 20-an sudah punya pacar saja… bela Ibu

Yeee… tapi kan punya banyak fans dari lawan jenis, weeeek ketimbang Arya, emang punya fans? celetuk pak dhe-ku, belum sempat aku menimpali

Ooooo jadi bangga ya punya banyak fans? ucap Bu dhe Ika dengan tangan bersedekap memandang tajam ke arah pak dhe. Aku melihat itu semua kemudian tertawa terbahak-bahak, semua orang yang berada di situ awalnya heran dengan tingkahku kemudian mereka pun ikut menertawakan Pak dhe. Kakek dan Nenek hanya menggeleng-gelengkan kepala saja melihat tingkah laku anak dan cucu-cucunya.

EEEE AAAA EEEE AAAA EEEE AAAA…. ada yang marah tuh…. ledekku ke pak dhe.

Suasana tetap riang walaupun saling lempar ejekan dan gurauan. Hingga pukul 21.30 tampak wajah mereka sudah mengantuk dan mulai menguap satu per satu. Satu per satu mereka minta ijin untuk berangkat menuju ke kamar masing-masing.

Arya kamu tidur sama Ibu kamu saja, karena disini kamarnya cuma tiga ucap nenek kepadaku

Tidak mau nek, kan Arya sudah besar masa tidur sama Ibu, Arya tidur di ruang tamu saja jawabku

Hush, tidak boleh membantah nenek ucap pak dhe meniru aksen Kakekku, di iringi gelak tawa dari mereka semua. Kakekku hanya geleng-geleng kepala ketika melihat ulah pak dhe. Akhirnya aku menuruti perkataan nenekku, semua akhirnya masuk ke dalam kamar. Aku kemudian berjalan ke arah dapur untuk mengambil air putih.

Minggu ini benar-benar aneh, belum juga aku mengakhiri meinggu ini sudah banyak pertanyaan dari dalam otakku. Ah masa bodohlah… aku tak mau tahu. Kuhabiskan dua batang dunhill mild dan kuhabiskan pula segelas teh hangat.

Pintu belakang rumah kakek pintu tradisional, mirip dengan pintu gerbang tapi ukuran lebar hanya sekitar 2 meter kurang, disetiap pintu terdapat kaca-kaca yang berada dibagian tengahnya. Ketika aku hendak masuk tepat di depan pint itu aku melihat bayangan putih, ya itu adalah kakek dalam mimpiku.

Sampeyan kudu iso nglakoni kabeh, kabeh tergantung karo sampeyan ucap kakek tua itu.

Aku kaget setengah mati, aku menengok kebelakang dan tak ada satu orang pun di sana. Segera aku masuk mencuci muka dan masuk ke kamar Ibu. Ku kunci kamar Ibu dan langsung tengkurap di sebelah Ibu. Jujur aku takut setengah mati, apalagi ucapan pak dhe dan kakek memberiku seribu pertanyaan. Ibu yang kaget bangkit kemudian mengelus-elus kepalaku.

Ada apa to nak? tanya Ibuku, mendengar ucapan Ibu kemudian aku bangkit dari dan duduk menghadap ke Ibu. Kamar Ibu cukup luas dengan kamar mandi didalamnya. Kemudian kuceritakan semua kejadian yang menimpaku tadi ketika dipekarangan rumah.

Sudah-sudah, ndak papa, itu tandanya kamu adalah lelaki hebat ucap Ibu sambil tersenyum kepadaku,mencoba untuk menenangkan pikiranku. Aku kemudian memeluk Ibuku, kurebahkan kepalaku di susu Ibu.

Bu, Arya takut… ucapku,

Nak, seharusnya Ibu yang takut, kenapa malah kamu?

Bukannya, Arya yang selalu berjanji untuk melindungi Ibu? ucap Ibu kepadaku.

Malu, aku benar-benar malu ketika mendengar itu terucap dari mulut Ibu. Aku kemudian bangkit dari susu Ibu, dan tetap menundukan kepalaku sembari meminta maaf kepada Ibuku. diangkatnya kepalaku dengan kedua tangan Ibu, dan lidah lembutnya memaksa masuk ke dalam mulutku. Kubuka sedikit dan kamipun berciuman selayaknya sepasang kekasih. Aku kemudian mengarahkan kedua tanganku meremas susu Ibu, dan Ibu mulai mendesah sangat pelan menikmati sensasinya.

Bu Arya pengen…. ucapku

Pakai ini saja ya… balas Ibu sambil menunjukan bibirnya dan kubalas dengan anggukan.

Aku kemudian melepas kaos Ibu, dengan penuh semangat dan juga BH Ibu. Tampak susu Ibu yang sekal dan besar kembali aku lihat, sungguh indah. Tanpa babibu Ibu menarikkku kepinggir ranjang dan dia berlutut dihadapanku.

Ingat, No Sound, keep silent…. ucap Ibu kubalas dengan anggukan dan kecupan dikeningnya. Ya wajarlah seorang lulusan S2 berbicara dengan logat inggris yang fasih. Dan sleeeb….

Kuluman Ibu membuat aku kelojotan, setiap kuluman terdapat sapuan lidah. Dimasukan dedek arya kesamping kanan rongga mulutnya seakan-akan seperti orang yang sedang menggosok gigi. Dikembalikannya lagi ditengah kemudian disedotnya kuat-kuat.

Digesernya lagi dedek arya kekiri rongga mulutnya dimaju mundurkan kemudian dikembalikan ke tengah dan di sedotnya kuat-kuat. Lama ibu melakukan kuluman itu tapi sama sekali tidak membuatku merasa akan mengalami puncak.

Bu… bisiku sambil kulepaskan kuluman Ibu dari dedek Arya

Pakai susu Ibu saja…. lanjutku berbisik

Bagaimana caranya? Ibu belum pernah… di ajari ya sayang bisik Ibu sambil mengelus-elus dedek arya

Kemudian kumajukan sedikit duduku kutarik Ibu hingga mendekatiku dan kusuruh Ibu mengapit dedek arya dengan menggunakan susunya. Kusuruh Ibu menaik turunkan tubuhnya ah senasi yang benar-benar berbeda dari biasanya.

Kulihat setiap Ibu menurunkan tubuhnya tampak dedek arya menyentuh mulut Ibu. Susu Ibu yang besar tampak dengan mudah melahap dedek arya. Setiap kali Ibu menurunkan tubuhnya, dedek arya mendapat sensasi kuluman pada helmnya.

Bu, kassssih… lud… dah biar lancaarr…ah aha h rintih nikmatku yang sangat pelan, Ibu tersenyum kemudian meludahi dedek arya.

Tampak perjalanan dedek arya melewati lembah susu ibu semakin lancar. Semakin cepat Ibu melakukan permainan ini, semakin terasa sensitifitas pada dedek arya. Semakin lama aku semakin tidak kuat menahan lahar yang akan muntah dari mulut dedek arya. Dengan memajukan tubuhnya ibu memberi sedikit tekanan pada dedek arya.

Bu… Arya mah….hu kel…luhar…. bisiku, selang beberapa menit kemudian.

Bu Arya…. Keluaaaaaaaaaaaar….. rintihku tertahan, Dengan sigap, Ibu langsung mengulum dedek arya.

Croooot croooot croooot crooot croooot crooot crooot

Keluarlah semua cairan hangat itu di mulut Ibuku, setiap crootan dari dedek arya tampak langsung ditelan oleh Ibu. Setelah beberapa menit dan klimaksku telah berlalu, aku langsung angkat Ibu dan mencium bibirnya. Kupeluk erat tubuhnya dan akhirnya kami rebah di kasur. Permainan lidah kami berlangsung cukup lama.

Sudah istirahat ya… ucap Ibu, sembari mengecup bibirku

Iya bu… balasku sembari mengecup bibirnya

Ibu melangkah ke dalam kamar mandi dan membersihkan diri, dipakainya kembali kaosnya. Kemudian membersihkan dedek arya dengan menggunakan handuk basah dan dipakaikannya lagi celanaku. Aku yang terlalu lelah dengan berbagai macam perjalanan hari ini mulai mengantuk.

Kuposisikan diriku agar lebih nyaman untuk tidur, Ibu kemudian berbaring disampingku dan memeluk kepalaku di dadanya.

Ibu hebat kan nak? tanya Ibu

Pasti Bu… yang terhebat jawabku sambil memejamkan mata

Lindungi Ibu, dan jagalah keluarga ini… Ibu sangat menyayangimu ucap Ibu kemudian

Pasti bu, aku pasti melindung…. ngi…. mu….zzzzzzzz ucapku terputus dan tertidur

Tampak seorang Ibu yang sangat menyayangi anaknya, memluknya dengan erat. Dielus-elusnya kepala anak itu. Hingga anak itu terlelap dalam buaian kasih sayang dan mimpinya.

Pagi menjelang, tampak sinar matahari masuk melalui celah-celah ventilasi kamar Ibu, ya kamar ketika Ibu masih muda dulu. Ibu sudah bangun terlebih dahulu tanpa membangunkan aku. Ku bangung tepat pukul 05.30, beranjak dari tempat tidur kemudian aku mandi dan berberes kamar sebentar.

Tampak suara panggilan kakek dari luar kamarku mengajakku untuk makan pagi di pukul 06.00. Suasana kekluargaan dan kebersamaan memang selalu terpancar dari keluarga Ibu, memnag benar-benar lengkap walau tak ada Ayah disini aku tetap merasa bahagia.

Setelah selesai makan pagi, semua kembali ke ruang keluarga sedangkan aku membantu Bu dhe Ika dan Tante Ratna membersihkan piring. Terlihat Ibu masuk kamar karena perutnya sakit. Selama mencuci piring aku dan ke dua saudara Ibuku ini saling bercanda bahkan selalu mengejekku mengen pacar, pacar dan pacar. Tapi selalu bisa aku balas dengan ledekanku.

iiiiiiiiiiiih bikin gemes tante saja kamu itu….. ucap tante sambil mencubit pipi kiriku

iya nih bikin gemes saja…. ucap tanteku sambil mencubit pipi kananku

Eh apa-apan ini, anakku kalian apakan?! hardik Ibu dari belakang

Iiiiibuuuuuu…. aku tadi di pukuli sama bu dhe sama tante hiks hiks hiks aku di aniaya ucapku dengan nada memelas dan pura-pura menangis sembari melangkah ke belakang Ibu

Yeeee…. Lebay ucap mereka berdua secara bersamaan, yang kemudian tante dan bu dhe berlari ke arahku mencoba mencubit aku lagi, tapi aku masih bisa menghindar walaupun berikutnya tidak sama sekali.

Suasana menjadi ramai di dalam dapur, Ibu nampak kewalahan mengahdangi tante dan bu dhe ku. Hingga semua telah selesai dan kami kembali menuju dapur. Ibu kembali ke ruang keluarga terlebih dahulu, di susul tante dan bu dhe yang berjalan melewatiku.