Agen Bola Terminal Bandar Bola Terpercaya
LAPAKDEWA LAPAKPOKER

Aku Dan Pilihan Part 3

Part 1Part 2Part 3Part 4Part 5
Part 6Part 7Part 8Part 9

Beberapa bulan yang lalu.

Suasana sepi dan dingin menghinggapi malam yang larut itu. Suasana tersebut tidak menurunkan niat kedua orang ini untuk terus melaju menggunakan sepeda motor menuju suatu tempat.

“yakin ton bisa?” Ujar seorang pria satunya lagi yang sedang mengendarai motor.

“udah tenang mat, gue udah ngamatin dia dari sebulan yang lalu, dan hari ini biasanya dia baru balik dari kampus. Abis rapat kayaknya”

“waah jadi gasabar haha. Terus rumah kosong itu gimana?”

Pria itu merogoh kantong yang ada di bajunya dan memperlihatkan sebuah kunci.

“wah gila lu. Dapet dari mana dah hahaa”

“minta tukang kunci. Boong aja kalo kuncinya ilang dan gaada cadangannya”

“tapi rumah itu beneran kosong kan?”

“iyaa kosong. Gue udah beberapa kali ngecek dan emang gaada penghuninya”

Pria yang mengendarai motor langsung menarik tuas gasnya lebih kencang agar cepat sampai dengan tujuannya.

***

“makasih ya dev udah dianterin haha” ujar seorang wanita sambil turun dari sebuah sepeda motor di depan sebuah rumah kosan.

“oke yan. Hufftt. Rapat mulu ya. Ga nyangka aku kalo kuliah tuh kayak gini rasanya. Harus bisa bagi antara main, kuliah sama organisasi”

“hahaha iyaa ya dev. Capek tapi kita harus tetep semangat”

“iyaa kamu semangat. Ada Faza soalnya. Lah aku?”

“iihhhh apasih dev hahahaha. kan dia udah punyanya orang. mana cantik banget lagi pacarnya tuh. aku bukan pelakor lah ya hahaha. Kan banyak tuh Mas Jordi, Mas Jodi ganteng-ganteng semua. Lumayan kan buat cuci mata”

“cuci mata sih cuci mata, tapi kalo gabisa dimilikin ya percuma dong”

“hahahaha”

“heran aku. Apa bagusnya sih Faza sih? Ya sekarang sih emang dia udah mendingan daripada pas kita awal-awal ketemu”

“hahaha udahlah dev, aku ceritain juga kamu gaakan paham soalnya tipe cowok kita kan beda”

“hadeeh yaudah dehh. Terserah kamu aja yan”

“Virzha juga ganteng tuuh”

“iyaa ganteng tapi oon”

“hahahaha. kamu tuh nyari yang gimana sih”

“yang sempurna laah. Ganteng pinter ahhh yang sempurna pokoknya”

“mana ada yang begituan haha. Yaudah deh udah malem besok kuliah pagi kan”

“iyaa yan. Aku duluan yaa”

“iyaa hati-hati dev”

Motor yang dikendarai Devi melaju meninggalkan rumah kosan itu. Yanti melepas kepergian temannya itu sambil berdeham dan langsung menuju pintu pagar.

“yaampun dikunciin lagi. Perasaan aku udah pesen deh kalo aku bakalan pulang malem biar jangan dikunci dulu” Ia menggerutu sambil mengeluarkan HP-nya untuk menelfon seseorang.

Dua menit tiga menit empat menit. Semua panggilan yang ditujukan ke teman kosannya tidak ada yang diangkat. Ia sedikit pasrah dan ia melakukan panggilan terakhir. Jika panggilan ini tidak diangkatnya, mau tidak mau ia harus menelfon temannya yaitu Devi untuk segera kembali dan menjemputnya di rumah kosannya.

“HHEEEEEEMMMPPPHHHHH”

Seorang pria menyergap tubuh Yanti. Pria itu menarik tubuh Yanti menuju tempat temannya itu memarkirkan sepeda motornya. Pria itu sedikit kesulitan karena rontaan Yanti yang cukup kuat. Namun tenaga pria itu jauh lebih kuat sehingga pria itu masih sempat meredam rontaan Yanti sambil menarik tubuhnya.

“mat ada tali?”

“wah cepet juga. ada nih hahaha”

Mamat segera turun dari motor dan membantu temannya ‘menjinakkan’ Yanti. Kedua pria itu kemudian membopong tubuh Yanti dan menaikkannya ke atas motor. Tubuh masih kuat untuk meronta-ronta agar bisa lepas dari kedua orang itu. Namun apalah daya, tenaga kedua pria itu jauh lebih besar dari Yanti.

“susah ga nih bawa nya?” ujar Toni masih sambil membekap mulut Yanti dengan tangannya.

“tumpang tiga lah kita kalo begini ceritanya haha. Ceweknya tengah lau pegangin. Gue nyetir agak maju deh”

“okedeh”

Mamat naik ke atas motor dan diikuti Toni yang menarik tubuh Yanti. Toni berhasil menaikkan tubuh Yanti yang terus menangis.

“berisik” Ujar Toni sambil menjambak rambut Yanti yang masih terbungkus dengan kerudung.

Yanti hanya meringis kesakitan.

Mamatpun menjalankan motor menuju sebuah tujuan.

Sesampainya di tujuan yaitu sebuah rumah kosong yang kemungkinan sudah lama ditinggalkan oleh pemiliknya, Mamat memarkirkan motornya di halaman belakang rumah itu agar tidak terlihat mencurigakan. Toni langsung turun dari motor sambil menarik tubuh Yanti dengan kasar sehingga Yanti jatuh tersungkur.

“JAHANAM KALIAN” Ujar Yanti sambil menangis.

“Yanti, kita akan lanjutin hal yang dulu sempet ketunda”

Toni memegang rahang Yanti kemudian mencium bibir Yanti dengan cukup kasar.

Yanti yang tidak menduga hal itu, langsung panik dan tubuhnya kelonjotan.

“bro didalem aja. Nih udah gue bukain”

“oke bro siap”

Toni melepas ciumannya dan sekali lagi menyeret tubuh Yanti menuju dalam rumah dan Yanti hanya bisa menangis.

Di dalam rumah itu Toni langsung merebahkan tubuh Yanti di atas lantai yang dingin dan berdebu. Toni kemudian melucuti semua pakaian yang dikenakan oleh Yanti. Yanti hanya bisa pasrah karena tenaga Toni benar-benar besar saat menarik pakaiannya.

Bahkan beberapa kancing baju ada yang terlepas dan resleting celana sudah hampir lepas dari jahitannya. Rambut panjang Yanti yang dikuncir, langsung diuraikan oleh Toni sehingga menambah kesan cantik ke wajah Yanti.

Saat Toni sedang melepas semua pakaiannya, Yanti berusaha kabur dan keluar dari rumah. Namun ada Mamat yang sigap menghadang jalur kabur Yanti sambil merekam semua kejadian. Mamat menangkap Yanti lalu direbahkankannya lagi di lantai yang berdebu itu.

Ia terus merekam tubuh Yanti menggunakan kameranya dari ujung rambut hingga ujung kaki. Semua bagian tubuh Yanti tak ada yang luput dari kamera Mamat.

“mat gue duluan ya?”

“iyaa siap haha. Gue cameramen aja dulu”

Toni langsung bersiap menuju selangkangan Yanti dan mengurut penisnya agar cepat tegang. Beberapa saat kemudian, Toni merasa penisnya sudah cukup tegang dan mulai menggesek-gesekannya ke bibir vagina Yanti.

Hal itu membuat tubuh Yanti menjadi kegelian dan Yanti mulai mengeluarkan erangan. Yanti berusaha menutup mulut agar erangannya tidak terlalu terdengar keras, namun Toni pandai memainkan nafsu Yanti dengan memasukkan kepala penisnya ke dalam vagina Yanti kemudian mengeluarkannya lagi. Hal itu membuat mulut Yanti sesekali menganga karena vaginanya ‘hampir’ dimasuki benda asing.

Belasan menit Toni masih bermain-main dengan vagina Yanti, akhirnya ia memutuskan untuk memasukkan seluruh penisnya ke dalam vagina Yanti. Toni memegangi penisnya dan mengarahkannya persis ke lubang vagina.

Dengan sekali hentakan penis Toni masuk seluruhnya ke dalam vagina Yanti yang masih kering, membuat Yanti meringis kesakitan dan tubuhnya kelonjotan menahan rasa sakit.

Toni langsung menggenjot tubuh Yanti dengan cepat dan cukup kasar membuat Yanti berteriak-teriak minta ampun dan minta tolong kepada siapapun yang bisa mendengarnya.

Yanti tidak percaya bahwa kehormatannya direbut dengan paksa oleh orang yang dahulunya sudah melecehkannya.

Malam itu menjadi malam yang sangat menyedihkan bagi Yanti karena selain ia disetubuhi dengan kasar oleh Toni, ia juga disetubuhi oleh Mamat yang menyemprotkan spermanya di dalam vaginanya.

Persetubuhan itu berakhir saat fajar mulai naik menuju singasananya dan kondisi tubuh Yanti sangat memprihatinkan dengan bekas sperma kering di sekujur tubuhnya dan vagina yang menganga akibat benda asing yang keluar masuk dengan kasarnya.

***​

Aku bangun pukul 7 pagi. Itupun gara-gara Zakiyah yang membangunkanku. Katanya HP-ku berbunyi terus menerus. Para panitia tidak berani membangunkanku karena aku terlihat masih sangat pulas tidurnya. Saat aku memeriksa HP-ku, ternyata telefon dari bidadariku yang aku khianati tadi malam.

“haduuhhh, bakal berantem lagi deh ini” Aku bergumam.

Aku lalu menelfonnya balik dan ya seperti yang sudah aku duga. Ia tidak menjawab telefonku. Aku berkali-kali telefon namun tidak berbalas.

Aku kemudian menuju kamar mandi dan berpapasan dengan Nayla dan ia hanya tersenyum saat berpapasan. Aku segera mandi karena sepertinya aku orang terakhir yang bangun dan tinggal aku saja yang belum mandi pagi.

Setelah selesai mandi, aku memeriksa HP-ku lagi siapa tau ada respon dari Winda. Ya tentu saja tidak ada respon apa-apa dari Winda. Aku kemudian memutuskan untuk memeriksa kelompokku.

“mau kemana kamu za?” Zakiyah menyusulku.

“mau ngecek kelompok zak” Aku mencari-cari alas kaki yang akan kugunakan

“ehh, aku juga pengen dehh, sebentar za tunggu”

Setelah beberapa lama, kami menuju kelompok masing-masing. Kami berpisah di suatu persimpangan dan aku menuju induk semang kelompokku.

“kaa fazaaaaaaaaaa” Nura menyapaku. Ia bersama Wisti. Mereka berdua baru kembali dari lari paginya.

“oeettt nur. Abis jogging?”

“iyaa kakk. Masuk kak…..”

“iya iyaa makasih”

Aku masuk ke dalam rumah dan mendapati Hidan dan Narto sedang bermain laptop. Saat mereka melihatku, mereka langsung mematikan game tersebut dan langsung menyambutku.

“hari ini rencanya ngapain aja sebelum nanti perpisahan?”

“nanti ada acara kerja bakti kak dibalai desa, terus nanti siangnya Bu Adib ngadain syukuran anaknya dan rencana sih kami mau kesana kak?” Narto angkat bicara.

“buat ternak-ternak kemarin udah sehat semua kan?”

“kemarin aku sama Wisti sih udah meriksa kak, terus juga udah kami kasih obat-obat gitu. Belum tau sih ini ada efeknya apa engga. Nanti aku cek lagi” kali ini Hidan yang angkat suara.

“oke okee sippp. Berarti hari ini cuman ngikut acara warga aja ya?”

“iyaa kak, soalnya emang kami fokus kemarin aja. Buat hari ini niatnya emang mau istirahat heheh dan kalo ada acara warga ya kita ikut” Ayu tiba-tiba keluar kamar.

“ohhh oke dehh” Suasana lengang sejenak.

“gimana kalian, betah ga disini?” aku melanjutkan obrolan.

“betah ga betah sih kak hahaha. Baru juga 2 hari disini” Ujar Ayu.

“kalian ga ngapa-ngapain kan tadi malem? Awas kalo kalian macem-macem. Buat Hidan sama Narto harus bisa jagain Nura, Ayu sama Wisti. Jangan macem-macem. Karena kelompok ini bakal buat semua kegiatan selama kalian belum jadi pengurus. Jadi kalian harus kompak. Harus saling bantu satu sama lain. OKE??”

“OKE KAKKK” mereka bertiga menjawab kompak.

Tak lama setelahnya keluarlah Nura dan Wisti yang baru selesai mandi. Nura sangat santai melewatiku dan dua orang laki-laki dengan hanya menggunakan handuk sedangkan Wisti sudah menggunakan kaosnya.

“NURAAAA SEMBARANGAN KAMU YAA DARI KEMARIN UDAH DIBILANGIN JUGA” Ayu mencak-mencak ke Nura.

“gitu tuh kak si Nura. Untung kami masih bisa nahan hahahah” ujar Hidan.

Wisti dan Narto hanya tertawa.

“bagus dan, kamu harus bisa nahan. Itu juga suatu tantangan haaha”

“kakak juga dulu kyk gini?” kali ini Wisti yang bertanya

“iyalaah haha, apalagi aku laki-laki sendiri dulu. Tangan rasanya gatel”

Hidan dan Narto tertawa karena mengerti maksudku, sedangkan Wisti hanya tersenyum kecut karena tidak paham. Wisti memintaku menceritakan pengalamanku dulu dan akhirnya aku menceritakannya.

***​

Hari sudah mencapai titik klimaksnya. Matahari sudah berada persis diatas kepala. Akhirnya kegiatan organisasi telah usai, dan sekali lagi aku menyampaikan sambutan untuk perpisahan ke kepala desa dan beberapa warga di salah satu desa di kebumen.

Kami semua kemudian kembali ke kampus. Para peserta menggunakan truk besar sedangkan para panitia dan pengurus menggunakan kendaraan pribadinya masing-masing.

Sesampainya di kampus. Aku sedikit memberi petuah-petuah bagi para peserta yang baru saja kembali dari kegiatan agar selalu kompak karena mereka yang nantinya akan melanjutkan keberlangsungan organisasi ini.

Setelah selesai, rombongan bubar menuju kosan masing-masing dan kami para panitia dan pengurus melakukan evaluasi di sekretariat organisasi kami.

Cukup lama evaluasi kali ini karena panitia kurang menyiapkan dalam hal penginapan. Kami tidak tahu apa apa tentang pemilik asli rumah yang kami tinggali. Panitia kali ini cukup dapat pelajaran karena kami para pengurus benar-benar ‘mencela’ panitia.

Setelah evaluasi, aku teringat bahwa Winda ada kegiatan di kampus dan aku masuk ke dalam gedung kampus dan langsung menuju musholla kampus karena pasti kegiatannya di musholla.

Setibanya di musholla, aku memutuskan untuk menunaikan ibadah sholat dzuhur sambil menunggu Winda muncul di musholla.

Setelah selesai menunaikan ibadah. Aku menunggu di luar musholla untuk jaga-jaga siapa tau Winda kembali ke musholla.

5 menit, 10 menit, 15 menit, 20 menit belum ada tanda-tanda Winda bakal ke musholla. Selain itu juga tidak ada teman Winda yang aku tahu yang datang ke musholla. Aku memutuskan kembali ke kosan.

Aku kemudian berjalan menuju tempat parkir untuk mengambil motor. Selama perjalanan ke tempat parkir, aku masih terus mencoba menghubungi Winda namun tidak mendapatkan hasil. Jarang sekali Winda seperti ini. Biasanya walaupun ia sangat marah terhadapku, ia tetap membalas pesanku ataupun mengangkat telefonku dan berpura-pura tidak mengenaliku, namun kali ini perasaanku tidak enak.

“ZAAA, KAMU UDAH TAU?” Zakiyah datang menghampiriku saat berada di halaman parkir kampusku.

“tau apa zak?” Aku menjawab dengan tidak semangat.

“ITU WINDAAA” Zakiyah memasang raut wajah yang menakutkan.

“EHHH. KENAPA WINDA?” Aku yang melihat ekspresi Zakiyah seperti itu, perasaanku makin tak menentu.

“KAMU GIMANA SIH. UDAH LAH AYO BURUAN IKUT AKU” Zakiyah lalu menuju motornya dengan cepat. Aku menyusulnya.

Zakiyah membawa motor dengan sangat kencang cenderung grasak-grusuk. Aku yang melihatnya seperti itu makin memperkeruh suasana hatiku. Aku bergegas menyusul Zakiyah. Yang aku tahu akhirnya Zakiyah menuju kosan Winda, dan yang aku lihat adalah pemandangan banyak sekali tamu yang datang ke kosan Winda. Perasaanku makin tidak enak. Aku mulai berpikiran bahwa Winda mengalami hal yang tidak-tidak. Aku bergegas masuk ke kosan Winda dan langsung menuju kamar Winda menyusul Zakiyah.

Aku melihat kamar Winda ramai dengan orang. Aku memutuskan untuk masuk ke dalam kamar dan aku melihat orang-orang mengelilingi kasur Winda dengan sesosok tubuh ditutup selimut dan orang-orang disekitarnya memasang ekspresi prihatin.

“yang sabar ya zaa. Maaf aku gabisa jagain Winda tadi. MAAF banget zaaa” ujar salah satu temannya.

Ada juga laki-laki yang aku tau merupakan ketua dari organisasi Winda dan ia juga mengungkapkan rasa prihatin.

Aku mendekati kasur itu dan seketika itu juga orang-orang disekitarnya membuka jalan untukku. Aku tidak percaya hal ini terjadi. Aku setengah mati menahan air mata keluar dari mata ini.

Aku kemudian duduk di pinggiran kasur dan masih menatap sesosok tubuh yang aku tidak berani membukanya. Aku tidak mau melihat Wajah tidak bernyawa Winda dengan kondisi sekarang. Aku belum siap ditinggal seperti ini.

“Winda kenapa?” suaraku parau.

Suasana lengang seketika.

“isti, Winda kenapa?” Aku bertanya ke salah satu teman Winda yang ada disana.

Aku masih melihat sesosok tubuh ini dengan tidak percaya. Isti menceritakan bahwa tadi pagi, saat berangkat ke kampus untuk melaksanakan kegiatan, Winda diserempet mobil dan kepalanya terbentur batu lumayan tajam.

Sesaat kemudian mobil yang menyerempet langsung membawa kerumah sakit namun nyawanya tak tertolong dan langsung dibawa ke sini. Aku masih tidak bisa berpikir jernih. “tadi pagi?” Aku sadar bahwa mungkin itu adalah saat ia berusaha membangunkanku. Pecah sudah tangisku kali ini.

Pagi tadi adalah kesempatan terakhirku untuk mendengar suaranya, berkomunikasi dengannya. Andai saja aku tidak kecapean karena bersetubuh dengan Nayla, aku pasti masih bisa mendengar suaranya untuk terakhir kalinya.

“udah telfon orang tuanya?” Aku berusaha tegar.

“udah za, tadi pagi udah berangkat. Harusnya sekarang udah sampe, mungkin macet dijalan”

Aku masih menatap sesosok tubuh Winda yang sudah tak bernyawa lagi. Aku masih tidak percaya bahwa orang yang sangat aku cintai sudah tidak ada di dunia ini, dan lebih parahnya lagi aku melewatkan untuk terakhir kalinya mendengar suaranya. Aku makin tidak bisa menahan air mata yang berontak ingin dikeluarkan.

Tiba-tiba pintu kamar Winda menghentak terbuka

“HAPPY BIRTHDAY FAZAAAA HAPPY BIRTHDAY FAZAAAA” Winda masuk ke dalam kamar dengan membawa kue yang bertuliskan namaku diatasnya disusul dengan Zakiyah yang senyum senyum tanpa dosa.

Aku seakaan tidak percaya bahwa aku sedang dikerjai. Aku langsung membuka selimut yang membungkus sesosok tubuh diatas kasur Winda. Akhirnya ku ketahui adalah itu hanya guling. Aku sangat malu saat ini ditambah terharu karena Winda ingat ulang tahunku.

Aku memang tidak terbiasa mengingat hari-hari penting. Dan sejauh ini hari penting yang berhasil ku ingat adalah ulang tahun Winda dan tanggal jadian kita.

Tawa dan canda menghiasi kamar Winda saat ini. Aku langsung memeluk Winda di depan teman-teman organisasinya yang notabenenya adalah anak-anak rohis kampus. Aku tidak peduli karena Winda berhasil membuatku sangat malu kali ini.

Aku bahkan sudah mengeluarkan air mataku. COWOK MACAM APA YANG MENGELUARKAN AIR MATANYA DI DEPAN UMUM (HAHAHA).

“zaa udah zaa malu atuh hahaha, ini udah potong kuenya” Winda berusaha melepas pelukanku sambil masih terus membawa kue.

Aku melepas pelukanku dan mencak-mencak bercanda kepada semua orang yang berada di ruangan itu, tanpa terkecuali Winda dan Zakiyah, dan mereka hanya tertawa puas melihatku. Aku sempat menjitak kepala Zakiyah karena dialah dalang yang memperburuk suasana hatiku. Dan Zakiyah hanya mengaduh sambil masih tertawa terbahak-bahak.

“jahat kamu win huhuhu” Aku berusaha memotong kue yang diberikan oleh Winda.

“ayoo zaa kasih ke orang potongan pertama kuenya” Ujar salah satu teman Winda.

Aku memotong kue dan kemudian bingung mau kuberikan kepada siapa potongan pertama ini. Aku melihat Winda hanya mesem-mesem saja. Aku ingin sedikit membalas kejutannya dengan memberikan potongan pertama kepada Isti karena aktingnya yang sangat bagus tadi.

Suasana kamar Winda makin tidak kondusif dengan tawa saat kuberikan kue ke Isti dan mengutarakan alasannya. Winda kudengar mendengus kesal namun tetap menggemaskan. Potongan kedua aku berikan ke Winda sambil aku suapin kue tersebut ke Winda.

Seketika itu juga kondisi kamar meneriakkan kata-kata “CIEE CIEE”

Perayaan ulang tahunku berakhir saat matahari sudah hampir tenggelam. Teman-teman Winda pamit pulang dan mendoakan kami agar tetap romantic dan langgeng. Kamar Winda hanya menyisakkan aku, Winda, dan Zakiyah.

“hahahaha aku pamit juga deh ya zaa, winn. Sumpah ngakak banget tadi aku liat kamu zaa, apalagi tadi di kampus udah panik banget mukanya.

Kamu harus liat win, mukanya haahaha”

“sial kau zak, abisan mukanya meyakinkan banget ditambah dia ngebut banget tadi pas kesini” Winda kulihat mesem-mesem sendiri.

“hahaha kalo ga gitu nanti kamu gapercaya. Yaudah aku pulang dulu yaa. kalian jangan berantem lagi. Langgeng terus. Oiya za Tama ada di kosan?”

“gatau zak, coba aja kesana”

“oke deh. Sekali lagi, selamat ulang tahun ya zaa, langgeng sama Winda”

“iyaa zak, makasih yaaa”

Zakiyah meninggalkan kami berdua. Kami lalu membereskan kamar Winda yang cukup berantakan karena diisi oleh banyak orang tadi.

“kamu bisa iseng juga ya win ternyata huhuhu. Aku malu banget tau tadi. Aku udah nangis, jahat lah kamu hahaha” ujarku setelah kami selesai membereskan kamar Winda.

“hehehe maafin aku ya zaa, soalnya aku udah menduga kalo kamu bakal lupa sama ulang tahunmu, ditambah tadi pagi kamu ga ngangkat telefon. Pasti ga sholat subuh kan? yaudah makanya aku sekalian aja lah ngerjain kamu biar kapok hahaha. Maafin akuuuuu” Winda sangat menggemaskan kali ini.

Aku kemudian memeluk Winda dan Winda hanya terkekeh.

“za tidur sini yaa, sekali-kali kamu tidur disini hehehe” Ujarnya masih dengan posisi berpelukan.

“emang boleh ya win?”

“gapapa kook, kebetulan kosan lagi sepi juga. lagi pada pulang kan zaa. Minggu ini kan long weekend. Besok masih libur sampe selasa”

“eehh iya yaa baru sadar aku”

“yaampun. Kamu bener-bener lupa ya sekarang tanggal berapa?”

“hehehehe kan kamu tau wiin”

Kami masih berpelukan hingga akhirnya adzan maghrib berkumandang.

“win, aku masukkin motor dulu yaa ke kosan. Nanti aku balik lagi ke sini” Aku melepas pelukanku.

“SHOLAT DULU DISINI” Winda melotot ke arahku.

“hhhmmm iya deh win”. Aku lalu mengambil air wudhu di kamar mandi yang ada di dalam kamar Winda.

“loh kamu engga ikut sholat win?”

“aku lagi dapet hehehe”

“YAAAAHHHHHHHHH AKU KECEWA”

Winda hanya cekikan mengerti maksudku.

Selesai menunaikan ibadah. Aku pamit ke Winda untuk memasukkan motorku ke kosanku dan mengambil beberapa pakaian agar besok aku mandi di kamar Winda saja.

***​

Pukul 9 malam. Aku rebahan di kasur dan disebelahku ada Winda sedang menonton film di laptopnya.

“win, besok ke mana yukk”

Winda menghiraukanku karena sedang asyik menonton film yang aku tahu adalah film yang berasal dari negara Korea selatan.

“wiiinnnnnn”

“ehh kenapa za? Hehehe maaf aku lagi nonton” Winda mengehentikan sejenak kegiatan menontonnya.

“besok ke mana gituu yukk”

“eemmm kemana ya zaa, terserah aja deh. Aku ngikut aja. Zaa aku nonton dulu yaa hehehe. Kamu tidur aja. Capek kan baru pulang tadi”

“nyeeeh kamu tuh yaaa. Yaudah deh win, aku tidur yaa”

“hhh eemmm” Ia melanjutkan menonton film itu lagi.

Aku berusaha tidur namun tidak bisa. Aku sudah membolak-balikkan tubuhku ke kanan ke kiri. Telentang hingga tengkurap, tetap saja aku tidak bisa menuju alam tidurku. Winda kudengar cekikikan karena tingkahku. Aku akhirnya menyerah dan memutuskan untuk menggangu Winda saja.

Aku memainkan rambutnya, memelintirnya, mengusap-usapnya. Dia risih dan menggerakkan tangannya ke rambutnya seperti mengusir serangga yang mengganggu kepalanya namun tanpa mengucapkan sepatah kata apapun.

Aku berpindah ke pipinya yang lumayan chuby itu Aku menyentuhnya, mencubit-cubitnya bahkan sampai kedua tanganku mencubit kedua pipinya, namun dia tidak bergeming sama sekali. Aku baru sadar inilah “drakor power”.

Muncul ide jahilku. Tanganku lalu gerakkan menuju dadanya yang terjepit di kasurnya itu. Aku mulai menyentuhnya, ia tidak bergeming, aku mulai mengusap kaosnya, ia tetap tidak bergeming. Sampai akhirnya aku gemas dan meremasnya dengan cukup keras.

*PLAK*

“aduuuhhhh”

“eehh ehhh maaf zaaa, reflek beneran deehh” Winda menghentikan film itu sementara. “kamu jail sih abisan. Maafin zaaaa”

“abisan aku dicuekin. Padahal kamu yang nyuruh aku nginep disini. Ya jangan dianggurin akunya huhuhu”

“utuk utuk utuk. Ya kan aku mikirnya kamu capek zaa, jadinya ya aku nonton aja ehehe”

“iya sih aku capek, cuman aku gabisa tidur. Butuh kehangatan ekstra”

“hhhmmmmmm. Yaudah bentar. Aku buatin susu dulu dehh”

“maunya susunya kamu” Aku berkata asal.

“hheeemmm maunyaa” Winda meninggalkan kasur dan menuju pojok ruangan untuk mengambil satu sachet susu. Ia lalu keluar kamar. Setelah beberapa saat ia kembali dengan membawa satu gelas susu coklat hangat.

“nihh minum dulu. Bangun dulu. Aku gamau kasurku kecipratan susu” Winda menyerahkan segelas susu saat aku berdiri menuju tubuhnya.

“DUDUK MINUMNYA” Winda melotot kearahku saat aku ingin minum dengan posisi berdiri.

“katanya tadi gaboleh di kasur”

“ituu di meja belajarku kan bisa”

“HUFFF”

Aku menghabiskan susu pemberian Winda di meja belajarnya. Setelahnya, aku sedikit membuat berantakan mejanya karena penasaran dengan novel-novel yang tergeletak di meja itu. Aku memutuskan mengambil satu buku lalu menuju kasur dan merebahkan diri di sebelah Winda.

“Winda, bagus kan ini yaa. aku pinjem yaa”

“hhhh emmm” Ia tidak mengubah arah pandangannya.

Tanganku aku gerakan menuju kepalanya, kemudian aku arahkan kepala Winda dan aku mencium bibirnya cukup lama dan kemudian keningnya.

“ehh kenapa za?”

“gapapa, aku tidur dulu yaaa. Ehh ga tidur sih. Tapi aku baca buku ini”

Winda masih asik menonton film itu, dan aku sudah asik dengan novel romansa milik Winda.

Beberapa jam kemudian, aku makin tenggelam dengan jalan cerita novel ini. Namun dengan tiba-tiba Winda naik ke atas tubuhku kemudian ia mencium bibirku. Membuat novel terlempar jatuh ke lantai.

“Apasih win, gaenak kan dicuekin” Aku melepas ciumannya.

Winda hanya menekuk wajahnya gemas sekali. “I love you za” Ia menciumku bibirku lagi.

Cukup lama kami berciuman hingga aku sadar Winda ternyata sudah tertidur di atas tubuhku. Aku menghela nafas. Sedikit kesal rasanya namun ya mau bagaimana lagi. Dialah yang sudah mengisi hari-hariku 2 tahun terakhir ini. Aku memutuskan memeluk tubuhnya dan akhirnya aku berhasil menuju alam mimpiku.

Bersambung​