Agen Bola Terminal Bandar Bola Terpercaya
LAPAKDEWA LAPAKPOKER

Aku Dan Pilihan Part 2

Part 1Part 2Part 3Part 4Part 5
Part 6Part 7Part 8

Hari sabtu, lebih tepatnya hari dimana acara tahunan yang diselenggarakan oleh organisasiku dimulai. Aku diberi kepercayaan untuk memberikan sambutan-sambutan di depan peserta dan di depan masyarakat di salah satu desa yang ada di kabupaten kebumen.

Terdapat 20 peserta yang dibagi menjadi 4 kelompok untuk masing-masing menempati masing-masing dusun di desa tersebut.

Aku memberi sambutan dengan agak gugup. Tutur kata yang aku ucapkan sangat tidak baku untuk ukuran acara resmi. Walaupun sudah menghafal teks sambutan yang diberikan oleh Jordi pada saat itu, namun hal itu hanya sedikit membantu.

“latian lagi za hahaha” Zakiyah menghampiriku selepas aku memberikan sambutan.

Saat ini pembawa acara yaitu Nadya–angkatan dibawahku-sedang mengatur para peserta untuk berbaris sesuai dengan kelompoknya.

“Mas Jordi emang sembarangan milih pengganti huff”

“gapapa kali, itung-itung latihan” Zakiyah siap-siap untuk menuju kelompoknya untuk menjadi pendamping. Aku pun lalu menyusul menuju kelompok dampinganku.

Kegiatan diawali dengan masing-masing kelompok memaparkan program kerjanya masing-masing di depan masyarakat di balai desa. Beberapa masyarakat terlihat antusias dengan adanya program kerja yang di akan dilakukan oleh para peserta dan beberapa masyarakat juga bertanya kepada para peserta demi kelancaran kegiatan.

 ***

​Hari sudah siang saat kegiatan pertama selesai dilaksanakan. Sekarang masing-masing kelompok sedang menuju rumah penginapannya (induk semang) masing-masing di masing-masing dusun desa tersebut.

Aku bertugas mendampingi kelompok yang berisikan 3 perempuan dan 2 laki-laki. Anggota kelompokku adalah Wisti, Ayu, Nura, Hidan, dan Narto. Mereka adalah anggota baru organisasiku yang memiliki jarak 2 tahun dibawahku.

Tugasku sebenernya hanya bersifat menemani hingga mereka sampai ke induk semang, serta akan bertanggung jawab jika terjadi apa-apa diantara kelompokku dengan salah satu warga atau kelompok di desa itu.

“oke sekarang kalian beres-beres dulu. Mandi kalo pengen mandi. Yang perempuan nanti kamarnya yang gede di belakang, kemarin aku udah ngecek dan lumayan gede, kalo yang cowok tidur di bagian yang buat sholat yaa di belakang juga. Jadi kalian nanti kalo mau sholat ke musholla depan rumah aja. Biar akrab juga sama warga” ujarku setelah sampai ke induk semang kelompokku. “abis itu, kita hanya dua hari disini jadi jangan macem-macem ya kalian haha” lanjutku.

“nanti ka Faza dimana?” Nura bertanya.

“aku nanti ada di rumah deket balai desa. Semua panitia sama pengurus ada disana. Jadi kalo ada apa-apa bisa langsung hubungi aku atau bisa langsung ke rumah itu”

Suasana lengang seketika.

“oke udah yaa, aku cuman dampingin sampe sini aja. Kalian beres-beres abis itu lakuin kegiatan yang udah kalian susun. OKEE?”

“OKEEE KAAAA” jawab mereka serempak.

Aku kemudian duduk di teras rumah kemudian memeriksa HP-ku dan mendapati pesan dari Winda.

Pesan itu berisikan tentang apakah aku sudah sampai ke tujuan atau belum. Aku lalu membalas pesannya dan mengirim foto selfie-ku dengan latar pemandangan pedasaan yang khas.

Tak lama setelahnya, datang salah satu warga ke rumah dan kami mengobrol sedikit mengenai kegiatan, dan yang aku tahu orang tersebut pemilik rumah yang sedang kami tinggali. Orang tersebut yang aku tahu bernama Bu Masfufah.

Usianya terlihat sudah sepuh dengan keriput yang menghiasi wajahnya. Aku baru tau bahwa beliau adalah pemilik rumah ini karena pada prosesnya, kami hanya menemui Pak Kades dan beliau hanya menujuk rumah-rumah tanpa memberi tahu siapa pemiliknya. Bu Masfufah sementara tinggal di rumah anaknya yang tidak jauh dari rumah ini.

Tak lama kemudian Bu Masfufah pamit dan mendoakan kegiatan kami lancar dan semoga betah di desa ini.

Nura tiba-tiba keluar dari rumah saat Bu Masfufah telah berlalu.

“siapa kak?” Dia bertanya.

“Bu Masfufah nur, yang punya rumah ini”

“hah? Kok kita gatau?”

“iya emang aku juga baru tau tadi haha”

Suasana lengang dan aku kembali duduk di teras rumah dan Nura entah kenapa mengikuti.

“Ka Faza pacarnya Ka Winda ya?” Nura tiba-tiba bertanya.

“kenapa emang nur?”

“ya gapapa sih hehehe, cuman aku sering liat Ka Faza sama Ka Winda bareng terus pas berangkat. Aku juga kosannya deket situ kak”

“oohhh, iyaa nur udah jalan 2 tahun”

“waaaaahhh, langgeng yaaa”

“kamu udah beres-beres?” aku berusaha merubah arah obrolan.

“udah kak, tadi aku mandi duluan hehe. Udah ngapain aja kak dua tahun” dia berusaha memutar balik arah obrolan.

“maksudnya?”

“ya pasti udah ngapa-ngapain ka Winda kan. masa dua tahun gak ngapa-ngapain”

Aku mencoba menebak ke arah mana obrolan ini, sehingga aku diam seketika. Aku sedikit melirik Nura dan ia sedang mesem-mesem sendiri.

“yaudah aku tanya langsung aja deh ka, daripada bingung Ka Fazanya. Udah pernah ciuman sama Ka Winda ka?”

“oohh itu maksudnya. Pernah. Kenapa emangnya? Kamu udah pernah kan pasti?” aku mulai berani bertanya frontal karena ia duluan yang memulai.

“hehehehe, bahkan aku udah gak perawan kak”

*UHUKUHUKUHUK*

Aku tersedak karena ia dengan beraninya berbicara demikian. Aku hanya menatapnya dengan tidak percaya ia dengan mudahnya bicara seperti itu.

“hahahaha, pasti ka Faza mikir aneh-aneh dehh. Becanda kak aku hahahaa. Lucu banget Ka Faza” Nura langsung beranjak dan masuk ke dalam rumah.

“Gila dasar” aku membuka HP-ku untuk membalas pesan dari Winda. “win kuatkan aku disini” aku bergumam setelah membalas pesan Winda.

***

Anggota kelompokku sudah siap semua dan mereka langsung menuju tempat dimana kegiatan mereka akan dilakukan. Sedangkan aku, menuju ke tempat para panitia dan pengurus.

“zaaa kok lama amat?” Zakiyah menyapaku saat aku tiba di teras rumah.

“iyaa tadi sempet ada yang punya rumahnya makanya tadi ngobrol-ngobrol bentar”

Kemudian Mira, Devi, Yanti datang bergabung dengan kami.

“waah reuni kelompok makrab nih” Ujar Mira.

“ehh Yanti yaampun, aku baru liat kamu lagi masa hahaha” ujarku.

“hahaha iya zaa, aku gak becus banget jadi pengurus. Ilang-ilangan terus”

“ehh kenapa emang?” kali ini Devi angkat bicara.

“adalah dev, masalah haha. Aku sedih jadinya kalo inget-inget”

“udah udah udah. Apaan sih dev tanya-tanya jadi gaenak kan suasananya. Ganti topic ganti topic” Zakiyah mencak-mencak.

Suasana lengang sebentar. Sebenernya aku ingin menyinggung tentang “kurang Mamat dan Toni dalam reuni ini” namun kuurungkan karena Zakiyah berkata demikian. Aku jadi teringat kejadian-kejadian saat makrab tempo hari.

“zaa gimana sama Winda?” Mira kali ini angkat bicara.

“ya gak gimana-gimana sih mir haha. Ya masih normal laah. Mending jangan bahas aku sama Winda, tapi bahas Zakiyah sama Tama aja hahaha”

“ehhh Zakiyah sama Tama sekarang? kok aku gatau zak” Ujar Devi dengan sedikit terkejut.

Raut wajah Zakiyah seperti sebal terhadapku karena membahas wilayah privasinya.

Kami menutup siang itu dengan bersenda gurau.

Tidak tau kenapa aku kangen dengan kelompok ini. Padahal kami hanya dipertemukan selama 2 hari saat makrab ditambah beberapa kali menjadi satu divisi di kepanitiaan dan 2 hari menjadi peserta acara organisasi 2 tahun lalu.

Sore hari kami mendengar Adzan dari musholla yang ada di dekat rumah itu dan kami langsung menunaikan ibadah.

Tak lama setelah kami selesai melaksanakan ibadah. Mba Nayla mengajak untuk mengikuti senam sore hari yang berlangsung di halaman balai desa. Oiya aku belum cerita. Jordi merupakan ketua umum organisasi ini dan dibantu oleh Jodi sebagai sekretaris (re: wakil) dan aku merupakan bawahan langsung dari Jodi bersama Virzha. Sedangkan Mba Nayla merupakan koordinator Bendahara dan dibawahnya ada Mira dan Zakiyah sedangkan yang lain mengisi divisi-divisi lain di cabinet Jordi taun ini.

Kami mengikuti Mba Nayla menuju halaman balai desa. Disana sudah banyak peserta juga yang akan mengikuti kegiatan senam sore hari ini.

Aku melihat Mba Nayla sangat seksi sore hari ini. Ia menggunakan kaos longgar namun dadanya masih menonjol dengan santainya. “win kuatkan aku” aku bergumam.

Kami mulai bergerak mengikuti instruktur senam yang ada di depan dan kegiatan senam berakhir saat matahari tenggelam dan menunjukan pemandangan sunset yang sangat indah. Aku tak lupa mengabadikannya menggunakan kamera HP-ku lalu mengirimnya ke Winda.

Kami menuju ke penginapan dengan keringat yang cukup bercucuran. Pandanganku terkunci ke tengkuk Mira yang terlihat sangat seksi karena efek dari keringat. Mira mungkin sadar diperhatikan, kemudian dia menoleh kebelakang. Aku yang tersadar, belum sempat mengalihkan pandangan dan akhirnya tertangkap basah sedang memperhatian Mira.

“kenapa zaa ngeliatinnya gitu banget ahahaha. Aku lebih cantik dari Winda ya za? Hahaha” Mira menurunkan kecepatan jalannya sehingga kami berjalan beriringan.

“engga kok mir haha, lagi ngelamun aja”

“ngelamunin apa deh”

“tadi Mba Nayla seksi banget” tanpa tersadar aku berkata demikian.

Saat tersadar aku memasang ekspresi muka sangat bodoh, dan kini Mira tertawa terbahak-bahak mengakibatkan semua orang disekitar kami melihat ke kami.

“yaampun fazaa, kamu ya matanya nakal banget. Pantesan aja Winda nyuruh semua orang buat ngawasin kamu” Mira masih tertawa.

“hah? Maksudnya?”

“iyaa jadi kemarin sebelum berangkat. Aku ketemu sama Winda di kantin. Ada Zakiyah sama Devi juga. Aku disuruh gabung sama Zakiyah biar makin banyak yang ngawasin” Mira masih saja tertawa.

“yaampuun Winda -__-“

“kamu harusnya seneng punya pacar kayak gitu. Artinya dia sayang banget sama kamu”

“iyaasihh cuman kan gak gini banget hahaha. Kamu jangan bilang ke Winda ya apa yang aku bilang tadi. Nanti dia marah haha”

“iyaa tenang zaa, untung kamu keceplosannya sama aku. Tapi emang seksi banget sih. Aku juga kalo jadi cowok pasti bakal kyk kamu za. Dadanya segeda apa yaa” Mira kali ini melihat kebawah melihat dadanya.

“hahahaha kamu iri mir?”

“engga laah, enak yang ukurannya segini aja zaa. Gak gede gak kecil. Pas hahaha” Mira kini menunjuk dadanya.

Aku bingung mau bereaksi seperti apa. Mungkin jika Zahra yang berkata demikian aku bisa langsung bereaksi dengan mengatakan “boleh kupengang?” namun saat ini Mira yang mengatakan hal itu sehingga aku tidak tau apa yang harus aku katakan.

***

Malam hari. Sekitar pukul 8 malam. Aku duduk di teras penginapan para panitia. Aku berniat memeriksa kondisi kelompokku. Namun kuurungkan karena saat aku ingin beranjak pergi, Mba Nayla keluar dari rumah.

“ehh Faza, mau ngapain kamu?” Mba Nayla duduk di teras.

“mau ngecek kelompok mba”

“ngapain di cek zaa? Atau cuman modus aja nih mau ngeliat dedek gemes hahaha”

“engga lah mbaa haha”

Aku dengan sendirnya duduk di sebelah Mba Nayla.

“mba aku minta maaf yaa yang kemarin” aku membuka percakapan.

“yang kemarin kapan za?” kini duduk Mba Nayla sudah mengarahku.

“yang kemarin mba di kosan. Udah lama sih itu. Tapi aku mau minta maaf gadapet momennya”

“oohhh yang ituu hahaha. Sante aja zaa, emang aku kyk gitu. Kamu pasti udah banyak denger kan tentang aku dari si Tama?”

“iyaa udah mba” aku menjawab singkat.

“jangan bilang ke siapa-siapa yaa. cukup yang tau kalian berdua aja. Eh kamu masih nyimpen dalemanku?”

“masih mba hahaha”

“buat apa sama kamu? Kamu kan udah punya pacar bukannya. Kalo ketauan gapapa tuh?”

“sempet takut juga sih mba sebenernya haha. Besok aku balikin deh mba ya?”

‘hahaha gausah zaaa, kamu buang aja itu. palingan juga udah gamuat sama aku”

“eh?”

“iyaa za hahaha, makin gede nih dadaku. Sering diisep soalnya”

*DEG*

“kamu pasti mikir yang aneh aneh deh zaa hahaha. Udah berdiri belum? Mau kau bantuin keluarin ga? hahaha”

Aku tidak tau apa yang harus lakukan. Sekarang memang juniorku sudah mendesak ingin keluar dari sarangnya.

“atau mau yang kayak dulu lagi zaa?”

*DEG*

“emang mau mba?” aku memancingnya.

“hahahah. Kalo kamu mau. Nanti yaa tunggu yang lain udah tidur. Nanti ke halaman belakang. Ada kamar kecil disana. Nanti aku tunggu disana”

“serius mbaa?”

“iyaa serius. Kamu kan yang mau tadi haha, kasian juga itu adeknya. Kayaknya udah lama ga dikeluarin”

Aku hanya tersenyum tanpa mengeluarkan kata-kata.

“yaudah zaa, nanti aku tunggu disana yaa. aku mau masuk dulu”

“iyaa mba”

Mba Nayla masuk ke dalam rumah meninggalkan aku yang sedang bingung apa yang barusan terjadi (haha). Aku kemudian memutuskan untuk membeli jajanan di satu-satunya warung yang ada di dusun dimana rumah tersebut ada. Warung tersebut berada di sebelah balai desa dan aku beruntung karena sampai disana warung sedang bersiap-siap untuk tutup sehingga aku masih sempat membeli beberapa jajanan.

Pemilik warung sangat ramah dan kami sempat berbincang-bincang saat pemilik warung selesai menutup warungnya. Kami berdua duduk di depan warung tersebut hingga tak terasa sudah pukul 10 malam. Pemilik warung pamit karena malam sudah larut dan aku masih ingin menikmati waktuku sedikit lebih lama di depan warung ini.

Aku memutuskan untuk menelfon Winda. Sekitar 30 menit aku berada di depan warung tersebut. Winda pamit tidur karena esok hari dia juga ada kegiatan di organisasinya. Tak lama setelah aku menutup telfon. Aku mendengar sesuatu di dalam balai desa. Suaranya cukup keras hingga aku yang berada di depan warung bisa mendengarnya.

Aku awalnya ragu dan sedikit parno karena balai desa dalam kondisi gelap gulita. Namun, suara itu terdengar lagi sehingga rasa penasaranku mengalahkan rasa takutku.

Aku berjalan mengendap endap menuju balai desa dan suara itu makin jelas terdengar. Suara seperti orang terengah-engah. Sesampainya aku di depan pintu balai desa, aku mengintip lewat jendela-jendela yang ada di balai desa itu. Suara tersebut makin jelas terdengar.

Aku masih mencari-cari asal suara sampai akhirnya aku melihat seseorang wanita sedang di genjot oleh dua orang. Aku tidak bisa melihat dengan jelas karena kondisi cahaya yang kurang memadai. Akhirnya aku mencari-cari siapa yang ada disana dan mencari cara bagaimana masuk ke dalam. Aku mengitari balai desa namun tak mendapat hasil apapun. Akhirnya aku mencoba membuka pintu depan balai desa.

Aku tak menyangka bahwa pintunya tidak terkunci dan saat pintu terbuka dengan sempurna, barulah aku bisa melihat wajah seorang wanita yang sedang disiksa habis-habisan oleh dua orang bejat.

“YAAMPUUN YANTI” Aku langsung lari menuju tubuh Yanti.

Kedua pria tersebut terkejut dan mereka langsung lari dan seketika mengambil pakaian yang berserakan menuju bagian belakang balai desa. Aku sempat mengejar mereka namun mereka sangat gesit sehingga yang aku tahu mereka kabur lewat jendela yang cukup lebar. Sepertinya mereka benar-benar sudah merencanakan aksinya ini.

Aku berjalan menuju Yanti yang aku lihat telanjang dan menangis. Aku cukup tertegun dengan tubuh Yanti. Aku melihat ukuran payudara yanti standar, tidak besar tidak kecil namun yang membuatku kagum adalah puting merah muda dengan areola yang kecil membuat kesan imut ke payudaranya.

“yaampun yanti, kok bisa mereka?” Aku mencari-cari pakainnya yang berserakan dan mengambilnya.

Yanti masih terus menangis. Aku melihat vaginanya yang sudah sedikit ‘rusak’ karena adanya lipatan-lipatan yang keluar dari vaginanya.

“yanti maaf yaaa” ujarku sambil mengangkat tubuhnya sambil memakaikannya BH dan baju.

Tanpa sengaja aku menyentuh payudaranya, namun Yanti tidak bereaksi apa-apa dan hanya menangis.

Aku sedikit mengusap bagian sekitar vaginanya menggunakan celana dalamnya. Hal itu aku lakukan karena di derah itu sangat basah dan terkesan kotor terkena cairan-cairan sperma. Yanti hanya meringis saat aku lakukan itu.

Kemudian aku memakaikan celana trainingnya dan ia menggerakan tubuhnya seakan membantuku memakaikan celananya.

“makasih ya zaa” Akhirnya Yanti buka suara.

“iyaa yan. Untung aja aku nongkrong di warung itu. kamu bisa jalan? Kalo bisa yuk balik”

“bentar zaa, masih gemetaran kakiku” Yanti beranjak duduk. “jahat banget za mereka. Mereka alasanku ilang-ilangan selama ini” lanjutnya.

Yanti sudah mengehentikan tangisannya dan aku menunggu hingga Yanti sanggup untuk berdiri.

Beberapa saat telah berlalu.

“udah bisa berdiri?”

“hhhhhhhmmmppphhhh” Yanti berusaha berdiri dan ia berhasil berdiri.

Kami kemudian berjalan beriringan menuju rumah penginapan.

“zaa kamu jangan bilang siapa-siapa yaa”

“iyaa tapi ada bayarannya ya yan hahaha”

“hhhhh dasar. Yaudah iyaa tapi nanti yaa”

“asyikkk hahahaha”

Kami sampai di rumah dan disambut oleh Mira dan Devi. Mereka menanyakan kami dari mana. Aku menjawab dari rumah kelompok dampingku sedangkan Yanti dari warung yang ada di dekat balai desa. Mereka sempat khawatir karena Yanti tidak ada dan mereka menudingku melakukan sesuatu terhadap Yanti.

Kami kemudian masuk ke dalam rumah dan para perempuan langsung masuk ke dalam kamar untuk tidur sedangkan aku tidur di ruang tamu rumah itu. Karena memang pembagiannya seperti itu. Semua perempuan masuk kedalam kamar, sedangkan para laki-laki tidur di ruang tengah dan ruang tamu rumah itu.

Aku kemudian merebahkan diri dan memainkan HP-ku. Aku kemudian mematikan lampu ruangan ini agar dapat tidur lebih cepat Aku merasa aku melupakan sesuatu tapi aku tidak tahu apa. Aku masih membuka berbagai aplikasi HP-ku namun aku masih tidak ingat apa yang kulewatkan. Aku menatap sekelilingku dan melihat para panita laki-laki sudah tidur karena mungkin kecapean karena sudah bekerja seharian.

“yaampuuunn” aku memukul dahiku karena sangat bodoh akan melewatkan kesempatan bersama Mba Nayla malam ini.

Aku berjalan mengendap-endap ditengah-tengah kegelapan takut menginjak seseorang. Selewatnya ruang tengah. Aku lalu leluasa untuk berjalan menuju halaman belakang dan tak butuh waktu yang lama aku menemukan ruangan yang dimaksud oleh Mba Nayla.

Aku mencoba mengetuk pintu namun kuurungkan. Aku lebih memilih langsung membuka daun pintu dengan perlahan. Aku lalu masuk mengendap-endap. Aku tak tahu mengapa aku mengendap-endap saat masuk ke dalam ruangan tersebut.

Aku mendapati kasur yang diatasnya sudah terbaring sesosok perempuan yang tersenyum sangat menggoda.

“udah pada tidur ya za di dalem?” ucap perempuan itu.

“kalo yang cowok-cowoknya sih udah mba, gatau kalo yang cewek-ceweknya. Oiya mba, mereka ga bingung mba kalo mba gaada?”

“engga lah zaa, kan aku bilang emang ini kamarku ke mereka haha. Mereka gaada yang mau disini padahal adem disini. Yaudah aku sendirian deh disini” Ia kemudian duduk di atas kasurnya. “udah siap kan za? Hahah” lanjutnya.

Aku mengangguk pelan. Aku lalu berjalan menuju kasur dan langsung naik ke kasur. Bibirnya bagaikan magnet bibirku. Aku langsung menciumnya dan kami rebahan dengan posisi aku berada di atasnya. Lidahku sudah aktif masuk ke dalam mulutnya membuat ia kelonjotan menerima lidahku di dalam mulutnya.

“hhhhhhhhh zaaaa hhhhh sabar zaaa hhhhhh” Ia melepaskan ciumanku. “makin jago kamu yaa haha. Pasti gara-gara Winda deh ini” lanjutnya.

“mbaa, please jangan sebut dia dulu. Nanti aku merasa bersalah haha” Aku mulai melepaskan pakaianku hingga aku telanjang bulat menampilkan juniorku yang sudah berdiri dengan gagah.

“waaahh kyaknya gedean deh za itu burungmu” Ia menunjuk penisku centil.

Ia masih dengan senyumannya yang seksi. Aku mendekatinya lagi dan melepas kaos yang dipakainya. Aku sedikit tertegun ternyata ia tidak menggunakan bra saat itu, sehingga saat kaos tersebut diangkat, payudaranya langsung menyembul keluar memperlihatkan puting yang berwarna coklat muda.

Aku masih bisa menahan gejolak untuk menikmati payudaranya. Aku melepaskan celana pendeknya terlebih dahulu sebelum berbuat lebih jauh. Aku jg dikagetkan bahwa ia tidak menggunakan celana dalam saat itu juga. Vaginanya masih sangat indah dengan bulu halus diatasnya, tidak seperti kondisi Yanti yang sudah terlihat sering “dipakai”.

Aku langsung menuju vaginanya dan memainkannya dengan lidahku. Aku mencari biji kecil pusat rangsangannya. Ia mendesah pelan sambil menjambak kecil rambutku. Lidahku masuk ke lubang vaginanya membuat ia makin kelonjotan bahkan kakinya mengunci kepalaku yang masih tenggelam di vaginanya.

“zaaa hhhhssss aaahhhsss mmmmhhhhhhsss” Desah Nayla sambil menjambak rambutku.

Aku masih terus menjilat-jilat vaginanya hingga aku disembur suatu cairan yang keluar dari vaginanya.

“mba juga kayaknya udah jarang deh hahaha, banjir banget” aku melepaskan diri dari vaginanya dan mempersiapkan penisku untuk masuk ke sarang baru.

Nayla masih terengah-engah pasca orgasmenya yang pertama. “hahaha, tau aja Faza. Pelan-pelan ya za. Aku tau skill kamu pasti udah pesat banget semenjak kita terakhir kali ngentot” Nayla mengatakannya dengan vulgar.

“aku sambil nyusu gapapa ya mba, bibir mba aku anggurin dulu”

Ia hanya tertawa.

Aku memegang penisku dan mengarahkan ke vaginanya. Penisku sampai di bibir vaginanya dan aku melihat wajahnya lagi seraya berkata “masukin yaa”.

Aku mendorong penisku dan penisku melesak masuk ke dalam vaginanya hingga mentok ke dinding rahimnya. Nayla mengerang karena dinding rahimnya tersentuh oleh benda asing.

“eeeeeemmmmmmhhhhhhhhhh” Erang Nayla sambil mencengkram tanganku.

Aku merasa seluruh dinding vaginanya memijit penisku. Enak sekali rasanya. Kepalaku langsung aku arahkan ke payudaranya sebelah kanan. Lidahku langsung memainkan putingnya hingga aku gigit kecil, sedangkan tanganku menyeimbangkan tubuh Nayla agar posisiku nyaman dalam menyetubuhinya.

“fazaaaaaaahhhhhhhsssss, eeemmmmmmhhhhhhhh”

Setelah beberapa lama, aku mulai memompa vaginanya dengan kecepatan tidak tentu, karena fokusku terbagi menjadi dua. Satu harus memompa vagina, dua juga aku bermain dengan payudara Nayla.

Sekitar 10 menit aku memompa vaginanya, erangan Nayla makin menjadi dan ia kini menjambak-jambak kepalaku yang berada di payudaranya. Aku sempat melirik ke wajahnya. Wajahnya mendongak ke atas merem melek menikmati persetubuhan ini.

Pompaanku sempat terhenti karena aku merasakan penisku di sembur oleh cairan hangat yang keluar dari vaginanya.

“eeeeeeeeeeemmmmmmmmmmhhhhhhhhhhhh aaaaaahhhhhhhhhhhhhhhhhh” perut Mba Nayla kelonjotan.

“mbaa masih kuat kan?” Aku melepas segala rangsanganku ke tubuhnya.

“masih zaa hhhh tenang ajaaa hhhhhhmmmpphh”

Aku melepas penisku dan kini aku rebahan. Nayla nampaknya tau apa maksudku, dan ia langsung bergerak ke atas tubuhku.

Ia lalu memegang penisku dan mengarahkannya ke dalam vaginanya. Ia lalu menggerakan tubuhnya naik turun membuat payudaranya naik-turun seirama dengan gerakannya. Aku tidak tahan dengan gerakan payudaranya sehingga aku langsung mengenggam payudaranya. Nayla terus mengerang karena remasanku ke payudaranya juga makin keras.

Kira-kira 15 menit kami dengan posisi ini dan aku merasakan penisku ingin mengeluarkan isinya. Aku memberi kode ke Nayla untuk segera berhenti karena aku takut akan mengeluarkan sperma di dalam vaginanya.

Nayla menghentikan gerakannya dan masih posisi Nayla diatas tubuhku, dengan satu hentakan, kami bertukar posisi aku menjadi di atas tubuh Nayla lagi membuat kasur berdecit.

“gila kamu za” Nayla shock dengan gerakan barusan.

“aku lupa mba kalo mba ga seringan Winda hahahah”

“apasihh palingan juga beda 5kg doang sama Winda”

“masa mba? Winda cuman 44kg lohh?”

“AKU CUMAN 54 KG ZAAA”

“tuhkan bedanya 10 kg bukan 5 kg hahahah”

“hufffff”

Aku melanjutkan pompaanku dan kini aku melihat wajah Nayla yang sangat seksi itu. Sekitar 5 menit aku memompa vagina Nayla, aku mendapat dorongan untuk mengeluarkan spermaku. Aku lalu mencabut penisku dari vaginanya dan mengocoknya diatas perut dan mengeluarkannya diatas perut Nayla.

“babak pertama selesai dengan skor 2-1 pemirsa” aku berkata seolah seperti komentator sepak bola.

Aku melirik wajahnya dan memperlihatkan senyuman yang sangat seksi itu lagi.

“mau berapa babak za?” Ia menantangku.

“mba kuat berapa?” Aku menantangnya balik.

“hahahah dasar. Yaudah sekali lagi yaa abis itu kamu balik buat istirahat”

“siap mba”

Setelah beberapa lama kami beristirahat, kami melanjutkan persetubuhan ini hingga tak terasa kami bersetubuh lebih dari 2 babak. Saat aku kembali ke ruang tamu. Aku merebahkan diri dan tak lama setelahnya terdengar Adzan subuh dan aku sangat puas dengan malam ini.

Maafkan aku ya Winda.

Bersambung